P. 1
Analisis Efisiensi Pemasaran Jeruk Di Kalsel

Analisis Efisiensi Pemasaran Jeruk Di Kalsel

|Views: 165|Likes:

More info:

Published by: Gustini Mutiara Caroline Simamora on Nov 13, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/20/2015

pdf

text

original

AGRITEK VOL. 17 NO.

6 NOPEMBER 2009

ISSN. 0852-5426

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN JERUK (Studi Kasus di Desa Karang Dukuh, Kecamatan Belawang Barito Kuala, Kalimantan Selatan) The Efficiency Analysis of Oranges Marketing (The Case Study in Karang Dukuh Village, Belawang District, Barito Kuala, South Kalimantan) Lina Suherty Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin Zaenal Fanani Dosen Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya Malang A.Wahib Muhaimin Dosen Fakultas Pertanian , Universitas Brawijaya Malang ABSTRACT This study analyze the efficiency of oranges which is grown in Barito Kuala Residence, where Karang Dukuh Village as the research location because it is the centre of orange producers. The aims of the study are knowing (1). the market structure of oranges marketing, (2). whether the oranges marketing is integrate or no, and (3). the marketing margin, the price share, the profit and cost ratio between marketing departments. Based on the result of the study, there are five marketing channels in Karang Dukuh Village, they are: first, farmer – district middleman – local retailer – local consumer; second, farmer – district middleman – residence middleman –local retailer – local consumer; third, farmer – residence middleman – local retailer – local consumer; fourth, farmer – residence middleman – province middleman - outside retailer – outside consumer; and fifth, farmer – province middleman - outside retailer – outside consumer. The S-C-P approach indicated that: 1. the market structure tend to imperfect competition market, it is of oligopsony measured by ratio concentration, and less than one price of elasticity transmission, 2. the market conduct of the price decision depend on the middleman who buy the oranges directly and also the cooperation between sellers, and there are still market level which hasn’t integrated yet based on the market integration analysis, 3. the market performance indicated that the market margin in all channels was enormous, the margin distribution hasn’t spread yet, the price share of farmers was still low, the profit and cost ratio was various. Keywords: Efficiency, orange, marketing. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis efisiensi pemasaran jeruk yang diusahakan di Desa Karang Dukuh, Barito Kuala. Lokasi ini merupakan sentra produksi jeruk di Kalimantan Selatan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui (1) struktur pasar dari sistem pemasaran jeruk, (2) integrasi pemasaran jeruk, dan (3) marjin pemasaran, pangsa harga, keuntungan dan rasio harga di antara lembaga pemasaran. Berdasarkan hasil penelitian, ada lima saluran pemasaran di lokasi penelitian, yaitu: (1) petani – pedagang kecamatan – pengecer lokal – konsumen lokal, (2) petani – pedagang kecamatan - pedagang kabupaten – pengecer lokal – konsumen lokal, (3) petani – pedagang kabupaten – pengecer lokal – konsumen lokal, (4) petani – pedagang kabupaten –

25

Hal ini merupakan tantangan dan peluang bagi petani. baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan krisis ekonomi. juga kelayakan pendapatan yang diterima petani maupun lembaga pemasaran yang terlibat dalam aktivitas pemasaran. 17 NO. Tujuan penelitian adalah untuk (1) mengetahui struktur pasar dari pemasaran jeruk di daerah penelitian. dan elastisitas harga kurang dari satu. karena melalui efisiensi pemasaran selain terlihat perbedaan harga yang diterima petani sampai barang tersebut dibayar oleh konsumen akhir. sektor pertanian yang memiliki local content relatif tinggi dibandingkan dengan komoditi manufaktur non pertanian. (5) petani – pedagang propinsi – pengecer luar daerah – konsumen luar daerah.676 ton. Sehubungan dengan hal tersebut dalam usaha untuk meningkatkan pendapatan petani. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. 1996). Di Indonesia jeruk merupakan komoditas buah-buahan terpenting ke tiga setelah pisang dan mangga. maka untuk mencapai sasaran tingkat konsumsi sebesar 3. (2) mengetahui terintegrasi atau tidak-nya pemasaran jeruk di daerah penelitian. share biaya dan keuntungan antara lembaga pemasaran. struktur pasar PENDAHULUAN Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam memajukan perekonomian masyarakat. Tanaman jeruk dikembangkan mengingat iklim yang sesuai untuk komoditi tersebut. dengan asumsi 30 persen buah rusak selama pasca panen (Soelarso. Pendekatan S-C-P menyatakan bahwa (1) struktur pasar cenderung sebagai pasar kompetisi tidak sempurna.829 kwintal pada tahun 2001 (Anonymous. dan masih ada tingkat pasar yang belum terintegrasi. 0852-5426 pedagang propinsi. jeruk. Besarnya jumlah produksi dan konsumsi belum mencerminkan sistem pemasaran yang efisien. METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian 26 . Dengan jumlah penduduk 180 juta jiwa.235. Berdasarkan uraian tersebut di atas. dan (3) mengetahui marjin pemasaran. produksi jeruk Indonesia pada tahun 1991 sebesar 353. distribusi marjin belum merata.20 kwintal pada tahun 2000 menjadi 120. dapat dijadikan sebagai katup penyelamat ekonomi masyarakat. Menurut Biro Pusat Statistik. 2002). pengecer luar daerah – konsumen luar daerah. merupakan pasar oligopsoni yang diukur oleh rasio konsentrasi. (2) keputusan harga tergantung pada pedagang antara yang membeli jeruk secara langsung dan juga kerjasama di antara pedagang.26 kg per kapita per tahun diperlukan buah jeruk sebanyak 745.AGRITEK VOL. keuntungan dan rasio harga juga beragam. share harga. (3) keragaan pasar menyatakan bahwa marjin pasar dalam semua saluran beragam. pengusaha jeruk dan pemerintah dalam usaha meningkatkan produksi jeruk. dilihat dari luas pertanaman dan jumlah produksi per tahun.011 ton. maka penelitian tentang efisiensi pemasaran jeruk perlu untuk dilakukan. pangsa harga petani masih rendah. Dengan demikian produksi jeruk di Indonesia belum mencukupi kebutuhan konsumsi jeruk dalam negeri. Perkembangan produk hortikultura di Kabupaten Barito Kuala Propinsi Kalimantan Selatan. menunjukkan bahwa jeruk mengalami peningkatan produksi dari 84. Dalam kondisi krisis ekonomi. Kata kunci: efisiensi pemasaran. perlu diimbangi dengan sistem pemasaran yang menguntungkan petani. Salah satu aspek pemasaran yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan arus barang dari produsen ke konsumen adalah efisiensi pemasaran.

Teknik Pengumpulan Data Observasi yaitu teknik pengum-pulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. No 1. Jumlah responden petani dan pedagang (orang) dalam pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang. Tabel 1. Secara matematis Hay dan Morris (1991) dalam Prasodjo (1997). mem-formulasikan sebagai berikut: Volume yang dibeli Kr = x 100 % Volume yang diperdagangkan Analisis Data Struktur Pasar (Market Structure) Pendekatan yang digunakan untuk mengetahui struktur pasar yang ada adalah dengan melihat: (1).AGRITEK VOL. Dari populasi petani jeruk yang ada di Desa Karang Dukuh sebanyak 130 orang diambil sebanyak 50 persen yaitu sejumlah 65 petani sampel. Sedangkan penentuan responden lembaga pemasaran yang terlibat dilakukan dengan cara snowballs sampling yaitu berdasarkan informasi dari petani kepada siapa komoditas tersebut dijual. (2). Responden Petani Pedagang pengumpul kecamatan Pedagang pengumpul kabupaten Pedagang pengumpul propinsi Pedagang pengecer lokal Pedagang pengecer luar daerah Populasi 130 Sampel 65 5 6 3 12 10 101 1. 3. 2. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. Teknik Pengambilan Sampel Penentuan petani responden dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) karena petani di daerah penelitian masing-masing memiliki lahan yang ditanami jeruk seluas 1 hektar dan memiliki tanaman jeruk masing-masing 200 pohon. 2. yang dinyatakan dalam persen. jumlah penjual dan pembeli dalam pasar Ketentuannya adalah sebagai berikut: 27 . ada atau tidaknya diferensiasi produk (3). Di samping itu analisis struktur pasar juga dilakukan dengan meng-gunakan: Konsentrasi Ratio (Kr) Konsentrasi ratio adalah ratio antara jumlah komoditi yang dibeli dengan jumlah yang diperdagangkan. 5. 17 NO. Studi kepustakaan yaitu teknik pengumpulan data dengan pene-laahan pustaka dan laporan-laporan yang berasal dari instansi yang terkait dengan penelitian. Wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada responden dengan berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya. 4. 6. besarnya hambatan untuk masuk pasar. 0852-5426 Penelitian ini dilaksanakan di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang Kabupaten Barito Kuala yang dipilih secara sengaja (purposive) karena merupakan salah satu desa yang sangat potensial dalam usaha pengembangan. 3.

β = koefisien. berarti harga pada petani dan konsumen tidak berintegrasi. Perilaku Pasar (Market Conduct) Dalam penelitian ini. berarti harga pada petani dan konsumen berintegrasi. Integrasi Pasar Model yang digunakan adalah sebagai berikut: Pf i (t) = b0 + b1 i Pr j (t) + et Keterangan: Pf i (t)=harga rata-rata di tingkat produsen ke i. dengan hipotesis sebagai berikut: H0 : β = 1 H1 : β ≠ 1 Pengujian hipotesis: β -1 thitung = SE (β ) Kaidah penerimaan atau penolakan hipotesis: Jika t hitung ≤ t tabel. b1i = parameter. maka pasar tersebut mengarah pada pasar monopsoni. untuk melihat hubungan elastisitas harga di tingkat petani dengan elastisitas harga di tingkat pengecer. Pr = harga di tingkat pengecer (Rp / kg). pada bulan ke t (Rp / kg). α = intersep. maka hipotetis yang menyatakan bahwa pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh tidak efisien ditolak (tolak H1 dan terima H0). 6 NOPEMBER 2009 ISSN. maka hipotetis yang menyatakan bahwa pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh tidak efisien diterima (terima H1 dan tolak H0).Ada tidaknya kerjasama antar pedagang Di samping analisis kualitatif juga digunakan analisis kuantitatif yaitu dengan pendekatan integrasi pasar. untuk melihat perilaku pasar digunakan analisis kualitatif yaitu dengan melihat: (1). Penampilan Pasar (Market Performance) Untuk menganalisis penampilan pasar dapat dilihat dari: Analisis Marjin Pemasaran MP = Pr – Pf Atau: 28 .AGRITEK VOL. j = tingkatan pembeli. Pr j (t)= harga rata-rata di tingkat pengecer (konsumen) ke j. Jika t hitung > t tabel. Jika t hitung > t tabel. e = error term. 0852-5426 Bila terdapat 1 (satu) pedagang yang memiliki Kr minimal 95 % . dilihat elastisitas transmisi harganya. maka pasar tersebut cenderung mengarah pada oligopsoni dengan konsentrasi tinggi. b0 = intersep. Pengujian parameter dilakukan dengan uji t. pada bulan ke t (Rp / kg). I = tingkatan produsen. maka pasar tersebut dikatakan berstruktur oligop-soni dengan konsentrasi sedang.Ada tidaknya praktek-praktek penentuan harga (2). Bila terdapat 8 (delapan) pedagang memiliki Kr minimal 80 %. Model yang digunakan adalah: Pf = α Pr β Kemudian model tersebut dirubah menjadi bentuk linear sebagai berikut: Ln Pf = Ln α + β Ln Pr Keterangan: Pf = harga di tingkat produsen (Rp / kg). Kaidah penerimaan atau penolakan hipotesis: Jika t hitung ≤ t tabel. Elastisitas Transmisi Harga Menurut Masyrofie (1994). Bila terdapat 4 (empat) pedagang memiliki Kr minimal 80 %. 17 NO.

Bpi = biaya lembaga pemasaran ke i(Rp/ kg). Dengan kriteria sebagai berikut: x 100 % Apabila perbandingan share keuntungan dari masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran merata. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. Adanya beberapa saluran pemasaran ini akan menye-babkan tingkat marjin.AGRITEK VOL. 0852-5426 n n MP = ∑ Bpi + ∑ Kpi i=1 i=1 n Bpi = ∑ bij i=1 n Kpi = Pij–Pbi . Share Harga Yang diterima Petani Pf SPf = Pr Keterangan: SPf = share harga di tingkat petani. pembagian keuntungan yang adil di antara pelaku dalam pemasaran sangat ditentukan oleh efisiensi pemasaran. Pr = harga konsumen (Rp/kg). Petani sudah melakukan grading ter-hadap jeruk yang dihasilkannya 29 . share biaya pemasaran dan share keuntungan dapat pula digunakan untuk meng-analisis efisiensi pemasaran dengan formulasi sebagai berikut: SKi = (Ki) / (Pr – Pf) x 100 % Sbi = (Bi) / (Pr – Pf) x 100 % keterangan: Ski = share keuntungan lembaga pemasaran ke i. 17 NO. Pf = harga produsen (Rp/kg). Pada umumnya para peda-gang pengumpul ini sudah mempunyai petani langganan. Share Biaya Pemasaran dan Share Keuntungan Menurut Alhusniduki (1991). biaya pemasaran dan keuntungan yang berbeda. maka sistem satuan berat yang ditetapkan adalah Rp/kg.∑ bij i=1 Keterangan: MP = marjin pemasaran (Rp/kg). Bij = biaya pemasaran lembaga pemasaran ke i dari berbagai jenis biaya dari biaya ke j = 1 sampai ke n. Kpi = keuntungan pemasaran ke i (Rp/ kg). Pij = harga jual lembaga pemasaran ke i (Rp/kg). maka sistem pemasarannya dikatakan efisien. Sbi = share biaya pemasaran ke i. HASIL DAN PEMBAHASAN Sistem Pemasaran Sistem pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang ini ada yang dilakukan dengan sistem satuan rupiah per biji (Rp/biji) dan ada yang dengan sistem satuan rupiah per kilogram (Rp/kg). Dari seluruh petani responden dalam penelitian ini. Untuk memudahkan proses perhitungan dalam penelitian ini. Pf = harga di tingkat petani. maka sistem pemasarannya dikatakan efisien. Saluran Pemasaran Ada beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran jeruk dari produsen atau petani di Desa Karang Dukuh hingga ke tangan konsumen. Pr = harga di tingkat konsumen. Pbi = harga beli lembaga pemasaran ke i (Rp/kg). Apabila perbandingan share keuntungan dengan biaya pemasaran masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran merata dan cukup logis. semuanya meng-gunakan jasa lembaga pemasaran untuk menyalurkan jeruk hingga sampai ke tangan konsumen. Mereka datang ke kebun petani secara berkala dan memetik sendiri jeruk dari pohonnya.

17 NO. 0852-5426 ber-dasarkan ukuran besar kecilnya buah jeruk yang dilakukan hanya dengan menggunakan perkiraan dan peng-alaman. Saluran II: Petani – pedagang pengumpul kecamatan – pedagang pengumpul kabupaten – pedagang pengecer lokal – konsumen lokal. Dengan analisa kualitatif dapat dilihat dari jumlah penjual dan pembeli. Petani PP kec PP kab PP prop I II PP kab III IV PP prop PPC LD V PPC lokal Konsumen lokal Konsumen LD Gambar 1. Saluran III: Petani – pedagang pengumpul kabupaten – pedagang pengecer lokal – konsumen lokal. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. 2. 3. Saluran IV: Petani – pedagang pengumpul kabupaten – pedagang pengumpul propinsi –pengecer luar daerah – konsumen luar daerah. Jeruk dari Desa Karang Dukuh ini ternyata lebih banyak dijual kepada konsumen luar daerah. sedangkan sisanya sebanyak 22. PP prop = pedagang pengumpul propinsi PPC lokal = pedagang pengecer lokal. Saluran I: Petani – pedagang pengumpul kecamatan – pedagang pengecer lokal – konsumen lokal.212.869 kg (26. Analisis Struktur Pasar Analisis struktur pasar dapat dianalisa secara kualitatif maupun kuantitatif.16 persen) yang dijual kepada konsumen lokal. Saluran pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang Keterangan : PP kec = pedagang pengumpul kecamatan PP kab = pedagang pengumpul kabupaten. diferensiasi 30 . Dari Gambar 1 di atas dapat dilihat bahwa pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang ini mempunyai 5 (lima) saluran pemasaran yaitu sebagai berikut: 1.AGRITEK VOL. Dari total produksi jeruk yang dihasilkan petani hanya sebanyak 7. 4.84 persen) dijual kepada konsumen luar daerah. Saluran V: Petani – pedagang pengumpul propinsi – pedagang pengecer luar daerah – konsumen luar daerah.5 kg (73. PPC LD = pedagang pengecer luar daerah Konsumen LD = konsumen luar daerah. 5.

hambatan keluar masuk pasar dan struktur pasar dalam pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang dapat dilihat pada Tabel 2. diferensiasi produk. menunjukkan bahwa 31 . karena beberapa tingkat pasar ini hampir semuanya mengarah pada pasar oligopsoni. 17 NO. maka pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang adalah tidak efisien.51 persen. Melihat jumlah penjual dan pembeli yang tidak sebanding. **) terdiri dari 4 orang PPC lokal dan 2 orang PP kab. Petani hanya menerima informasi harga dari sesama petani dan pedagang pengumpul yang langsung datang membeli jeruk kepada petani. hambatan keluar masuk pasar dan struktur pasar dalam pemasaran jeruk. diferensiasi produk. hanya satu tingkat pasar pada pasar luar daerah yang struktur pasarnya mengarah pada pasar monopsoni. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. menunjukkan bahwa struktur pasar cenderung mengarah pada pasar oligopsoni konsentrasi tinggi. Analisis Konsentrasi Ratio (Kr) Dari hasil perhitungan menghasilkan persentase Kr kumulatif pada 4 (empat) pedagang pengumpul kecamatan adalah 89. Persentase Kr kumulatif pada 4 (empat) pedagang pengumpul kabupaten adalah 87. Kondisi kekurangan modal ini juga dihadapi oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran jeruk. Jeruk yang dihasilkan petani seluruhnya dijual dalam bentuk buah segar baik kepada konsumen lokal maupun konsumen luar daerah. 4 orang PP kab dan 2 orang PP prop. Sedangkan analisa kuantitatif menggunakan analisa konsentrasi ratio dan elastisitas transmisi harga. Jumlah Penjual dan Pembeli Dalam Pasar Pasar yang bersaing sempurna ditandai oleh banyaknya jumlah penjual dan pembeli. Persentase Kr kumulatif pada 2 (dua) pedagang pengumpul propinsi adalah 84. sehingga masing-masing penjual dan pembeli tidak dapat menentukan harga.AGRITEK VOL. harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran (mekanisme pasar). Selain itu informasi harga yang diterima oleh petani juga kurang. Tingkat pasar Petani Pasar lokal PP kec PP kab Pasar luar daerah PP kab PP prop Jumlah penjual 65 5 3 3 3 Jumlah pembeli 11* 6** 8 1 10 Diferensiasi produk Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hambatan keluar masuk pasar Ada Ada Ada Ada Ada Struktur pasar Oligopsoni Oligopsoni Oligopsoni Monopsoni Oligopsoni Keterangan: *) terdiri dari 5 orang PP kec. 0852-5426 produk dan hambatan keluar masuk pasar. Diferensiasi Produk Tidak ada perubahan bentuk yang dapat menciptakan nilai tambah dari jeruk yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang. Jumlah penjual dan pembeli.47 persen. Tabel 2. Jumlah penjual dan pembeli.47 persen. Hambatan Keluar Masuk Pasar Pada umumnya hambatan yang dihadapi oleh sebagian besar petani adalah kurangnya modal dalam berusahatani sehingga berpengaruh terhadap pendapatan dan produktivitas petani. menunjukkan bahwa struktur pasar cenderung mengarah pada pasar oligopsoni konsentrasi tinggi.

Hasil regresi antara harga di tingkat produsen (petani) dengan harga di tingkat konsumen lokal. maka hipotesis yang menyatakan bahwa pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh tidak efisien diterima. maka elastisitas transmisi harga antara petani dengan konsumen lokal adalah sebesar koefisien regresi yaitu η = 0.98 persen.4 persen variasi harga di tingkat petani produsen dipengaruhi oleh variasi harga di tingkat konsumen lokal. 32 . selera.284 produsen karena perubahan harga di tingkat konsumen lokal adalah sebesar 0.AGRITEK VOL.564 lebih dari t α / 2 (Dajan.276* 0.284.907 424.05) = 2.042 Hasil perhitungan menunjukkan t hitung = 3. Variabel SE t β (constant) 1788. Bila terjadi perubahan harga jeruk di tingkat konsumen lokal sebesar 1 persen. 0852-5426 struktur pasar cenderung mengarah pada pasar oligopsoni konsentrasi tinggi.05 = 2. 17 NO. menunjukkan bahwa struktur pasar cenderung mengarah pada pasar oligopsoni konsentrasi sedang.211 Ln Pr 0.564 Keterangan: * signifikan pada α = 5 % . Untuk mengetahui respon harga jeruk di tingkat petani produsen karena perubahan harga di tingkat konsumen luar daerah dapat dilihat dari hasil regresi linear sederhana pada Tabel 4. respon harga jeruk di tingkat petani R2 0. Untuk mengetahui respon harga jeruk di tingkat petani produsen karena perubahan harga di tingkat konsumen lokal dapat dilihat dari hasil regresi linear sederhana pada Tabel 3. Dilihat dari koefisien determinasi (R2).078 3.6 persen dipengaruhi oleh faktor lain selain harga di tingkat konsumen lokal seperti pendapatan konsumen lokal.276 persen. berarti 28. Analisis Transmisi Harga Analisis transmisi harga dilakukan untuk mengetahui respon harga jeruk di tingkat petani produsen karena perubahan harga di tingkat konsumen. Tabel 3. Hasil analisis menunjukkan elastisitas transmisi harga tidak sama dengan satu. 6 NOPEMBER 2009 ISSN.867 4. Persamaan regresi linear sederhana dapat ditulis sebagai berikut: Ln Pf = α + β Ln Pr Ln Pf = 1788.276 Ln Pr Dari persamaan di atas.276 < 1 (in elastis).042. Persentase Kr kumulatif pada 8 (delapan) pedagang pengecer lokal adalah 87. t tabel 0.18 persen.907 + 0. maka harga jeruk di tingkat petani hanya berubah sebesar 0. Persentase Kr kumulatif pada 8 (delapan) pedagang pengecer luar daerah adalah 93. Dengan demikian H0 : β = 1 di tolak. sedangkan 71. menunjukkan bahwa struktur pasar cenderung mengarah pada pasar oligopsoni konsentrasi sedang. 1986) ( α = 0. harga buah substitusi lain dan jumlah penduduk.

05 = 2. selera.515 + 0. maka harga jeruk di tingkat petani hanya berubah sebesar 0. Untuk pendekatan kualitatif dapat dilihat dari penentuan harga dan kerjasama antar pedagang.494.3 persen dipengaruhi oleh faktor lain selain harga di tingkat konsumen luar daerah seperti pendapatan konsumen luar daerah.per kilogram. harga buah substitusi lain. 17 NO.515 1078.500. respon harga jeruk di tingkat petani produsen karena perubahan harga di tingkat konsumen luar daerah adalah sebesar 0.494.307 Untuk hasil-hasil pertanian umumnya η < 1 artinya apabila terjadi perubahan harga 1 persen di tingkat konsumen.571 persen. Hasil analisis menunjukkan elastisitas transmisi harga tidak sama dengan satu. Hasil perhitungan menunjukkan t hitung = 3.307.571 Ln Pr Dari persamaan di atas.045 Persamaan regresi linear sederhana dapat ditulis sebagai berikut : Ln Pf = α + β Ln Pr Ln Pf = .sampai dengan Rp 3.0. Keterkaitan harga pada berbagai tingkat pasar dalam penelitian ini dapat ditunjukkan melalui estimasi koefisien regresi linear sederhana seperti terlihat pada Tabel 5. Pada η < 1 berarti pasar berjalan tidak efisien (tidak bersaing sempurna). Bila terjadi perubahan harga jeruk di tingkat konsumen luar daerah sebesar 1 persen.585 Keterangan : * signifikan pada α = 5 % .571* 0. pedagang pengumpul kabupaten dan pedagang pengumpul propinsi. Untuk menganalisis integrasi pasar ini digunakan regresi linear sederhana. 6 NOPEMBER 2009 ISSN.159 3. Hasil regresi antara harga di tingkat produsen (petani) dengan harga di tingkat konsumen luar daerah. R2 0.571 < 1 (in elastis).045.AGRITEK VOL.585 lebih dari t α / 2 ( α = 0. Dilihat dari koefisien determinasi (R2).. Penentuan Harga Dalam penentuan harga jeruk. sedangkan 69. di mana harga jeruk di Desa Karang Dukuh berkisar antara Rp 3. 33 . Variabel SE t β (constant) .05) = 2. Analisis Integrasi Pasar Integrasi pasar vertikal dilakukan untuk menganalisis keterkaitan harga suatu pasar dengan harga pasar di bawahnya.000. Dengan demikian H0 : β = 1 di tolak. maka hipotesis yang menyatakan bahwa pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh tidak efisien diterima.7 persen variasi harga di tingkat petani produsen dipengaruhi oleh variasi harga di tingkat konsumen luar daerah. biaya transportasi dan jarak antara produsen dan konsumen. 0852-5426 Tabel 4. Analisis Perilaku Pasar Untuk menganalisis perilaku pasar dapat digunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.499 .459 Ln Pr 0. t tabel 0. Sedangkan pendekatan kuantitatif dilihat dari integrasi pasar. maka akan mengakibatkan perubahan harga yang kurang dari 1 persen di tingkat produsen. harga ditentukan oleh pedagang pengumpul yang terdiri dari pedagang pengumpul kecamatan. berarti 30. maka elastisitas transmisi harga antara petani dengan konsumen luar daerah adalah sebesar koefisien regresi yaitu η = 0.

0.ditransmisikan kepada pedagang pengumpul kecamatan sebesar Rp 0.153 0. Berdasarkan perhitungan. Maka tolak H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara petani dengan pedagang pengumpul propinsi tidak terintegrasi.897 7.1.ditransmisikan kepada pedagang pengumpul kecamatan sebesar Rp 0.091.732 < t tabel = 12.706.178 ≠ 1. Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang pengumpul kecamatan sebanyak Rp 1.500 ≠ 1.500.391 0. nilai t hitung = .298 > t tabel = -2.183 1.178 0.545 ≠ 1.065 > t tabel = 2.ditransmisikan kepada petani sebesar Rp 0.ditransmisikan kepada petani sebesar Rp 0.905 0.1. 17 NO. Integrasi harga antara pedagang pengumpul kecamatan dengan pedagang pengumpul kabupaten ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 0.065 3.663 0.303.923 0.545.793 0.183. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. Hasil regresi integrasi pasar pada berbagai saluran pemasaran. nilai t hitung = 1.000 < t tabel = 4.678 0. Maka terima H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara petani dengan pedagang pengumpul kecamatan terintegrasi.160.862 0.061 0. Integrasi harga antara petani dengan pedagang pengumpul propinsi ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 1.897 < t tabel = 2.286 t . Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang pengumpul kabupaten sebanyak Rp 1.545 0.183 ≠ 1.502 0. Maka terima H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara pedagang pengumpul kecamatan dengan pedagang pengumpul kabupaten terintegrasi. Berdasarkan perhitungan pada lampiran 11. nilai t hitung = 3. Integrasi harga antara petani dengan pedagang pengumpul kabupaten dapat ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 0. Tingkat pasar Ptn PP kec Ptn PP kab Ptn PP prop PP kec PPC lokal PP kec PP kab PP kab PPC lokal PP kab PP prop PP prop PPC LD Koefisien . 0852-5426 Tabel 5.ditransmisikan kepada petani sebesar Rp 1.500 0.871 R2 0.294 Integrasi harga antara petani dengan pedagang pengumpul kecamatan dapat ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 0. Integrasi harga antara pedagang pengumpul kabupaten dengan pedagang pengecer lokal ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 0..851 0.866 0.091 0. Maka terima H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara pedagang pengumpul kecamatan dengan pedagang pengecer lokal terintegrasi. Maka terima H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara petani dengan pedagang pengumpul kabupaten terintegrasi.000 1.750 0.087 R -0.732 5.AGRITEK VOL.298 1. nilai t hitung = 7.091 ≠ 1. Integrasi harga antara pedagang pengumpul kecamatan dengan pedagang pengecer lokal ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 0.247 0.929 0. Berdasarkan perhitungan pada lampiran 10.818 0.891 0. Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang 34 . Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang pengumpul kabupaten sebanyak Rp 1. Berdasarkan perhitungan pada lampiran 9. Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang pengumpul propinsi sebanyak Rp 1.086.056.678 ≠ 1.861 2. nilai t hitung = 1. Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang pengecer lokal sebanyak Rp 1.178. Berdasarkan perhitungan pada lampiran 12..

447.871 < t tabel = 2.286. karena tergantung pada panjang pendeknya saluran pemasaran dan aktivitas-aktivitas yang telah dilaksanakan serta keuntungan yang diharapkan oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran. Integrasi harga antara pedagang pengumpul kabupaten dengan pedagang pengumpul propinsi ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 0.286 ≠ 1. distribusi marjin. Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang pengumpul propinsi sebanyak Rp 1. 17 NO. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesa 2 tidak semuanya terbukti karena integrasi pasar secara vertikal pada berbagai saluran pemasaran terintegrasi (pasar berjalan efisien)..ditransmisikan kepada pedagang pengumpul kabupaten sebesar Rp 0. nilai t hitung = 5. Analisis Marjin Pemasaran Marjin pemasaran sering digunakan sebagai indikator efisiensi pemasaran. share harga yang diterima petani serta ratio keuntungan dan biaya dalam pemasaran jeruk. Dalam penelitian ini untuk mengetahui penampilan pasar dalam pemasaran jeruk digunakan analisis marjin pemasaran. 6 NOPEMBER 2009 ISSN.663. Maka terima H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara pedagang pengumpul propinsi dengan pedagang pengecer luar daerah terintegrasi.AGRITEK VOL.ditransmisikan kepada pedagang pengumpul propinsi sebesar Rp 0. dan antara pedagang pengumpul kabupaten dengan pedagang pengecer lokal. kecuali antara petani dengan pedagang pengumpul propinsi.663 ≠ 1. Berdasarkan perhitungan pada lampiran 14. Pada tabel berikut ini dapat dilihat hasil analisis marjin. Maka tolak H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara pedagang pengumpul kabupaten dengan pedagang pengecer lokal tidak terintegrasi. Maka terima H0 : b1 i = 1 berarti harga jeruk antara pedagang pengumpul kabupaten dengan pedagang pengumpul propinsi terintegrasi. Besarnya marjin pemasaran pada berbagai saluran pemasaran dapat berbeda.306. nilai t hitung = 2.678. 35 . serta ratio keuntungan dan biaya. 0852-5426 pengecer lokal sebanyak Rp 1. tidak terintegrasi (pasar berjalan tidak efisien).502 < t tabel = 12. Berdasarkan perhitungan pada lampiran 15. Hal ini mengindikasikan bahwa pasarnya mengarah pada pasar persaingan tidak sempurna. Berarti apabila terjadi perubahan harga pada pedagang pengecer luar daerah sebanyak Rp 1. nilai t hitung = 0.ditransmisikan kepada pedagang pengumpul kabupaten sebesar Rp 0. Berdasarkan perhitungan pada lampiran 13.706. distribusi marjin. Integrasi harga antara pedagang pengumpul propinsi dengan pedagang pengecer luar daerah ditunjukkan oleh koefisien regresi b1 = 0..861 > t tabel = 2. Analisis Penampilan Pasar Penampilan pasar adalah rangkaian analisa terakhir dari analisa S-C-P (Structure – Conduct – Performance). share harga yang diterima petani.

00 Distribusi marjin (%) Share (%) harga Ratio (K/B) 3.185 4.65 46.768 5.20 62.08 I 8.40 44.768 533 83 4.38 3. share harga yang diterima petani serta ratio keuntungan dan biaya dalam pemasaran jeruk.454 948 89 4.239 3.31 36 . 17 NO.600 83 3.04 100 60. Marjin pemasaran.412 4.66 4.021 812 3.73 100 9.91 4.20 10. Salur an Lembaga pemasaran Petani Biaya usahatani Harga jual Keuntungan PP kec Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan PPC lokal Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan Marjin Petani Biaya usahatani Harga jual Keuntungan PP kec Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan II PP kab Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan PPC lokal Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan Marjin Biaya dan Harga (Rp/kg) 812 3. 0852-5426 Tabel 6.71 35.AGRITEK VOL. distribusi marjin.651 800 2.454 5.600 94 3.64 10.71 30.82 2.80 3.433 890 2. 6 NOPEMBER 2009 ISSN.80 10.412 2.412 2.185 690 50 4.412 4.23 23.

distribusi marjin. 6 NOPEMBER 2009 ISSN.20 13. Marjin pemasaran.62 1. 17 NO.165 82 4.670 597 55 5.78 1.148 812 3.47 54.82 37.044 3.AGRITEK VOL.412 4.82 50.26 11.37 44.357 3.560 805 2. 0852-5426 Tabel 6.498 50 5.673 1.98 37 .20 12.412 2. share harga yang diterima petani serta ratio keuntungan dan biaya dalam pemasaran jeruk (lanjutan).600 113 3.769 1. Petani Biaya usahatani Harga jual Keuntungan PP kab Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan PPC lokal Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan Marjin Petani Biaya usahatani Harga jual Keuntungan PP kab Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan IV PP prop Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan PPC LD Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan Marjin 812 3.49 17.14 III 9.023 5.23 3.48 100 61.41 3.37 3.64 31.412 2.673 5.10 100 4.600 96 3.412 5.670 6.023 1.94 18.

78 persen) karena mereka membeli jeruk langsung dari petani.22 23. share harga yang diterima petani yang paling besar ada pada saluran kelima yaitu sebesar 51. Sedangkan pada saluran kedua. Ratio Keuntungan dan Biaya Untuk mengetahui besarnya ratio keuntungan dan biaya pemasaran pada masing-masing tingkat pasar di berbagai saluran pemasaran dapat dilihat pada Tabel 7.44 V 19. Sedangkan untuk pasar luar daerah.318 40 5. keuntungan pedagang pengumpul kabupaten pada saluran ketiga (54.871 2. Melihat kondisi seperti ini dapat dikatakan bahwa share harga yang diterima petani masih relatif kecil. distribusi marjin.69 100 51. Hal ini karena lembaga pemasaran yang terlibat pada saluran pemasaran jeruk ini lebih banyak dibandingkan dengan saluran pertama dan ketiga. semakin panjang saluran pemasaran. share harga yang diterima petani lebih kecil dibandingkan dengan saluran pertama dan ketiga. Untuk pasar lokal. Marjin pemasaran. untuk pasar lokal.78 1.AGRITEK VOL.600 141 3. Kemudian diikuti oleh saluran ketiga yaitu sebesar 61.20 16. 38 . 0852-5426 Tabel 6. Oleh karena itu harga di tingkat konsumen akan lebih mahal jika saluran pemasarannya semakin panjang.23 persen) yang juga membeli jeruk langsung dari petani.37 persen.412 5. share harga yang diterima petani serta ratio keuntungan dan biaya dalam pemasaran jeruk (lanjutan). Petani Biaya usahatani Harga jual Keuntungan PP prop Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan PPC LD Biaya pemasaran Harga beli Harga jual Keuntungan Marjin 812 3.02 3.687 776 3.40 Distribusi Marjin Pemasaran Keuntungan yang paling besar diterima oleh pedagang pengumpul propinsi pada saluran kelima (70. Kemudian pada urutan kedua.02 persen.31 70. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. Sedangkan untuk pasar luar daerah. semakin besar marjinnya. share harga yang diterima petani yang paling besar ada pada saluran pertama yaitu sebesar 62. 17 NO. marjin pemasaran yang paling besar adalah pada saluran kedua.80 persen. Dengan demikian dapat disimpulkan. marjin pemasaran yang paling besar adalah pada saluran keempat. Share Harga yang Diterima Petani Dari tabel 6 di atas dapat dilihat. hal ini juga disebabkan karena mereka membeli jeruk langsung dari petani.412 2.275 4.871 6.91 persen). Sedangkan pada urutan ketiga ditempati oleh keuntungan pedagang pengumpul kecamatan pada saluran pertama (46.

Ratio keuntungan dan biaya pada masing-masing tingkat pasar di berbagai saluran pemasaran jeruk. 2.66 12. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. ratio keuntungan dan biaya bervariasi. share harga yang diterima petani juga masih relatif rendah.40 Dari semua saluran tersebut. Untuk meningkatkan share harga yang diterima petani.26 11. kemudian diikuti oleh pedagang pengecer luar daerah pada saluran keempat. 3. Saran-saran 1.82 - PPC LD 18. 17 NO. Petani perlu melakukan diferensiasi produk seperti pembuatan sirup jeruk yang dapat memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Yang paling dominan dalam menentukan harga adalah pedagang pengumpul yang langsung membeli jeruk dari petani.98 19. petani hanya sebagai penerima harga (price taker). Berdasarkan analisis penampilan pasar.31 - PPC lokal 10. 3. Petani perlu mencari informasi harga di tingkat konsumen agar posisi petani dalam tawar-menawar lebih kuat.20 3.44 Petani 3.64 9. Dengan pendekatan konsentrasi ratio.20 karena meskipun keuntungan yang didapat banyak tetapi biaya usahataninya juga lebih banyak dibandingkan biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh para pedagang. pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Barito Kuala tidak efisien. Kerjasama antar pedagang terbatas pada informasi pasar tentang harga yang kurang terbuka. yang paling tinggi ratio keuntungan dan biayanya ada pada tingkat pasar pedagang pengecer luar daerah pada saluran kelima.20 3. Dari analisis penampilan pasar secara keseluruhan ternyata pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang. Rendahnya share harga yang diterima petani ini disebabkan karena harga ditentukan oleh pedagang pengumpul. Sedangkan ratio keuntungan dan biaya terendah ada pada tingkat petani pada semua saluran pemasaran yaitu sebesar 3. distribusi marjinnya belum merata. Dengan pendekatan transmisi harga menghasilkan η < 1 (in elastis).00 9. serta ratio keuntungan dan biaya pada petani juga masih rendah. Dari analisis integrasi pasar masih ada tingkat pasar yang belum terintegrasi.08 8. Hal ini dilihat dari marjin pemasaran pada semua saluran pemasaran besar. pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Barito Kuala tidak efisien karena struktur pasarnya mengarah pada pasar persaingan tidak sempurna. share harga yang diterima petani masih rendah.14 13. Saluran pemasaran I II III IV V Tingkat pasar PP kab PP prop 10. Hal ini bisa dilihat dari distribusi marjin yang belum merata. Berdasarkan analisis perilaku pasar.20 3.20 3. perlu diupayakan saluran pemasaran yang lebih pendek. belum berjalan efisien.94 16. Berdasarkan analisis struktur pasar. 2. pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Barito Kuala belum efisien. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. 39 .20 PP kec 10.AGRITEK VOL. 0852-5426 Tabel 7. struktur pasarnya mengarah pada pasar oligopsoni.

Pengantar Metode Statistik Jilid II. Wheat Market. Yayasan Obor Jakarta. 1979. Pemasaran Hasilhasil Pertanian. Kotler. Struktur. London. 0852-5426 DAFTAR PUSTAKA Anonymous. Alhusniduki. Purcell. L. p. The Integration of Falm Oil Market in Peninsular Malaysia. Testing Market Integration. Kristanto et al. 197 – 218. 1997. K. Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Barito Kuala. Soekartawi. Prasodjo. Perenca-naan. M. Azzaino. Profil Kabupaten Barito Kuala. Marketing of Agriculture Product. 1986. Uhl.Macmillan Publishing Kohls. W. There is Method in My Madness or Is It Vice Versa ? Measuring Agricultural Market Performance. Wayne D. Arshad. American Journal of Agricultural Economics. Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian: Teori dan Aplikasinya. Edisi ke 5. Rashid. . Manajemen Agribisnis (terjemahan Ir. 1993. Vol. Rochidayat Ganda S dan Alfonsus Sirait). Macmillan Publishing Company. 1979. Anto. 1994. Wade. Kumpulan Makalah Penataran Dosen dalam Rangka Peningkatan Mutu Bidang Pertanian Program Kajian Agribisnis. Inc. 1987. Richard L dan Joseph N. 1986. LP3ES. Stephen. 40 . Marketing Margins and Price Uncertainty: The Case of the U.A Chaudhry. Vol. 1989. Jakarta. PT Raja Grapindo Persada Jakarta. Cornell University Press. Marketing Efficiency In Theory and Practice. Industrial Economics : Economic Ana-lysis and Public Policy. 1980. Ak dan Ronny A Rusli SE. New York. Erlangga. Perilaku dan Keragaan Pasar Cabai Rawit di Kecamatan Sukowono Jember. Brorsen.M. 1973. 1980. Dirjen Dikti Jakarta. 1989. Collier International Editions. Vol. 521 – 528. Indian Journal of Agriculture Economic. AK). B. 57 No 4. Stifel. W dan Erickson. Lowa University Press. 102 – 109. New York. Kohls. Implementasi dan Kontrol (terjemahan Hendra Teguh SE. Hamin. Inc. Reston Publishing Company. Jakarta. 1986. Agricultural Product Prices. A Prentice Hall Company. 2002. Ames.S. p.G dan Robinson. 1982. Pengantar Ekonomi Pertanian. Downey. Pengantar Tataniaga Pertanian. Jakarta. Food Research Institute Studies.. 1997. 1997.45 No 1. F. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. American Journal of Agriculture Economics. Macmillan Publishing Co. Tomek. Vol. Zulkifli. 1985. Adi. Tesis Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang.L. XVII No 2 p. Mubyarto. LP3ES. Jakarta. Dajan.Harris. Diktat Pemasaran Hasil Pertanian. 1991. Ravallion. 17 NO. Depar-temen Pertanian Ilmu-ilmu Sisial Ekonomi Pertanian. 6 NOPEMBER 2009 ISSN. Coordination. 67 No 3 p. B. A dan M. Martin. 631 – 640. Marketing of Agricultural Product. American Journal of Agricultural Economics. Edisi Kedua. Tataniaga Pertanian. Vol. Reston Virginia. IPB Bogor.AGRITEK VOL. 1972. Richard L dan David Downey. 1975. Manajemen Pemasaran: Analisis. Agricultural Marketing : System. Philip. 68 No 1. Imperfect Competition in Vertical Market Network: The Case of Rubber in Thailand. Prenhallindo.D. Masyrofie. Cash and Future Prices.

6 NOPEMBER 2009 ISSN. 17 NO.AGRITEK VOL. 0852-5426 41 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->