P. 1
Penyakit Merupakan Outcome Dari Adanya Interaksi Antara Host

Penyakit Merupakan Outcome Dari Adanya Interaksi Antara Host

|Views: 35|Likes:
Dipublikasikan oleh Putri Rahmawati

More info:

Published by: Putri Rahmawati on Nov 14, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/01/2012

pdf

text

original

Penyakit merupakan outcome dari adanya interaksi antara host, agent dan environment.

Dalam ilmu epidemiologi sering disebut dengan segitiga epidemiologi yakni hubungan timbal balik antara host (penjamu), agent (penyebab penyakit) dan environment (lingkungan). Penyakit terjadi karena adanya ketidak-seimbangan (inbalancing) dari ketiga komponen tersebut. Penyakit malaria sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat tak lepas dari unsure segitiga epidemiologi tersebut, dimana manusia sebagai host, parasit plasmodium sebagai agent dan kondisi lingkungan (environment) yang mendukung. Penyakit malaria masih merupakan masalah kesehatan di negara-negara tropis di dunia. Diperkirakan sekitar 40 persen penduduk dunia masih tinggal di daerah yang memiliki risiko tinggi untuk terkena infeksi malaria dengan 500 juta kasus klinis per tahun dan 1 juta kematian karena malaria (WHO, 2007). Jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 237 (BPS, 2010) dan 40 persen diantaranya tinggal di daerah dengan risiko penularan malaria atau lebih dari 100 juta orang hidup di daerah endemi malaria. Diperkirakan 15 juta kasus baru terjadi setiap tahun, dan hanya 20 persen diobati di sarana pelayanan kesehatan. Penyakit malaria berkaitan dengan keterbelakangan dan kemiskinan serta berdampak pada penurunan produktifitas kerja dan penurunan tingkat kecerdasan anak usia sekolah. Sampai saat ini malaria masih menjadi fokus perhatian utama dalam upaya penurunan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular baik regional maupun global dan penyakit ini masuk dalam kategori “re-emergency desease”. Hal ini dibuktikan dengan dimasukkannya upaya pengendalian malaria sebagai salah satu issu penting pencapaian millennium development goals (MDGs) atau tujuan pembangunan millennium. Penyakit malaria di Indonesia tersebar di seluruh pulau dengan tingkat endemisitas yang berbeda-beda. Spesies yang terbanyak dijumpai adalah P.vivax dan P.falciparum. Penularan malaria terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang mengandung Sporozoit. Dalam keadaan tertentu dapat terjadi penularan dengan bentuk Tropozoit, misalnya melalui transfuse darah, melalui plasenta dari ibu kepada bayinya dan penularan melalui jarum suntik yang terkontaminasi. Dari aspek epidemiologi, beberapa faktor yang berinteraksi dalam kejadian dan penularan penyakit malaria, antara lain: Faktor host (manusia); Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap orang dapat terkena penyakit malaria. Perbedaan prevalensi menurut umur dan jenis kelamin karena berkaitan dengan perbedaan tingkat kekebalan dan frekuensi keterpaparan gigitan nyamuk. Faktor Agent (plasmodium); Penyakit malaria adalah suatu penyakit akut atau sering kronis yang disebabkan oleh parasit genus plasmodium (Class Sporozoa). Pada manusia hanya 4 (empat) spesies yang dapat berkembang, yaitu P.falciparum, P.vivax, P.malariae, dan P.ovale (Bruce-Chwatt, 1980). Faktor Lingkungan; beberapa faktor lingkungan yang cukup ideal mendukung keberadaan penyakit malaria di Indonesia, antara lain: lingkungan fisik (suhu, kelembaban udara, curah hujan, ketinggian, angin), lingkungan biologik dan lingkungan socialbudaya. Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2090636pendekatan-epidemiologi-faktor-risiko-penyakit/#ixzz1ddpSmV5r

.

42.443 ./ 8.

20/.30 .9.3/ 0.

05/0244 5:-.9. 0.

9.947 784 503.   503/0.3 05/0244 1.9.

//5$2'7 .

 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->