Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN REGURGITASI AORTA

KONSEP DASAR MEDIS A. DEFINISI Regurgitasi Katup Aorta adalah kebocoran pada katup aorta yang terjadi setiap kali ventrikel mengalami relaksasi. C. ETIOLOGI Dulu penyebab utama dari regurgitasi katup aorta di Amerika Utara dan Eropa Barat adalah demam rematik dan sifilis. Sekarang kedua penyakit ini sudah jarang ditemukan karena antibiotik telah digunakan secara luas. Di wilayah lainnya, kerusakan katup akibat demam rematik masih sering terjadi. Selain demam rematik, penyebab lainnya yang paling sering ditemukan adalah: - Demam rematik - melemahnya katup bahan fibrosa akibat degenerasi miksomatous. Degenerasi

miksomatous merupakan kelainan jaringan ikat yang diturunkan, yang memperlemah jaringan katup jantung dan membuatnya meregang secara tidak normal dan kadang sobek. - kelainan bawaan - D. PATOFISIOLOGI - Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis penyakit jantung beban congenital. awal, Mekanisme akhir fisiologis atau yang menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan beban menurunkan kontraktilitas miokardium. Keadaan-keadaan yang meningkatkan

beban awal meliputi : regurgitasi aorta dan cacat septum ventrikel. Dan beban akhir meningkat pada keadaan dimana terjadi stenosis aorta dan hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium dapat menurun pada imfark miokardium dan kardiomiopati. - Faktor-faktor yang dapat memicu perkembangan gagal jantung melalui penekanan sirkulasi yang mendadak dapat berupa : aritmia, infeksi sistemik dan infeksi paru-paru dan emboli paru-paru. Pennganan yang efektif terhadap gagal jantung membutuhkan pengenalan faktor-faktor dan penanganan tidak memicu saja terhadap mekanisme Setiap fisiologis dan penykit yang mendasarinya, tetapi juga terhadap yang terjadinya gagal jantung. hambatan pada arah aliran (forward flow) dalam sirkulasi akan menimbulkan bendungan pada arah berlawanan dengan aliran (backward congestion). Hambatan pengaliran (forward failure) akan menimbulkan adanya gejala backward failure dalam sistim sirkulasi aliran darah. Mekanisme kompensasi jantung pada kegagalan jantung adalah upaya tubuh untuk mempertahankan peredaran darah dalam memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan. Mekanisme kompensasi yang terjadi pada gagal jantung ialah : dilatasi ventrikel, hipertrofi ventrikel, kenaikan rangsang simpatis berupa takikardi dan vasikonstriksi retensi garam perifer, dan peninggian cairan badan kadar dan katekolamin plasma,

peningkatan eksttraksi oksigen oleh jaringan. Bila jantung bagian kanan dan bagian kiri bersama-ama dalam keadaan gagal akibat gangguan aliran darah dan adanya bendungan, maka akan tampak tanda dan gejala gagal jantung pada sirkulasi sistemik dan sirkulasi paru. Keadaan ini disebut Gagal Jantung Kongestif (CHF). B. MANIFESTASI KLINIS Dengan regurgitasi aorta yang konsepnya bertahap, walaupun terdapat kebocoran yang berat biasanya tidak ada atau hanya ada sedikit gejala. Bila kebocoran katup bertambah, atau bila terjadi

dekompensasi ventrikel, bisa timbul dipsnue saat aktivitas, yang bila berat bisa terjadi saat istrahat. Denyut nadi menghilang dengan ventrikel kiri yang mengalami kelebihan beban volume (denyut apeks hiperdinamik) tekanan darah diastolic, yang berkaitan langsung dengan jumlah darah yang masuk kembali dari aorta keventrikel kiri, merupakan petunjuk yang baik untuk menententukan beratnya regurgitasi aorta kronis (tekanan darah diastolic rendah = AR berat). Tekanan nadi yang lebar bisa menyebabkab tanda corriga ( denyut karotis terlihat) tanda de musset (kepala terantuk-antuk mengikuti denyut) atau quinke (denyut pada bantalan kuku) murmur diastolic awal terdengar disepanjang garis sternalis kiri (bila pasien mencendongkan badan ke depan saat akhir ekspirasi) kecuali bila AR disebabkan oleh Aneurisme akar aorta. Dimana murmur akan terdengar paling keras disepnjang garis sternalis kanan. Murmur bisa terdengar sangat keras pada AR yang ringan. Dan bisa juga terdengar lembut pada AR yang sangat berat, atau bila kelainnanya akut, seperti pada endokarditis. Regurgitasi katup aorta yang ringan tidak menimbulkan gejala selain murmur jantung yang khas (setiap kali ventrikel kiri mengalami relaksasi), yang dapat didengar melalui stetoskop, Pada regurgitasi yang berat, ventrikel kiri mengalirkan sejumlah besar darah, yang menyebabkan pembesaran ventrikel dan akhirnya menjadi gagal jantung. Gagal jantung menyebabkan sesak nafas sewaktu melakukan aktivitas atau sewaktu berbaring telentang, terutama pada malam hari. Duduk tegak memungkinkan dialirkannya cairan dari paru-paru bagian atas sehingga pernafasan kembali normal. Penderita juga mungkin mengalami palpitasi (jantung berdebar) yang disebabkan oleh kontrasksi yang kuat dari ventrikel yang membesar. Bisa terjadi nyeri dada, terutama pada malam hari. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Radiologi: - Bayangan hili paru yang tebal dan melebar, kepadatan makin ke pinggir berkurang - Lapangan paru bercak-bercak karena edema paru - Distensi vena paru - Hidrothorak - Pembesaran jantung, Cardio-thoragic ratio meningkat EKG Dapat ditemukan kelainan primer jantung (iskemik, hipertropi ventrikel, gangguan irama) dan tanda-tanda faktor pencetus akut (infark miokard, emboli paru) Ekokardiografi Untuk deteksi gangguan fungsional serta anatomis yang menjadi penyebab gagal jantung. F. PENATALAKSANAAN Menurut prioritas terbagi atas 4 kategori : Memperbaiki kontraksi miokard/perfusi sistemik: a. Istirahat total/tirah baring dalam posisi semi fowler b. Memberikan terapi Oksigen sesuai dengan kebutuhan c. Memberikan terapi medik : digitalis untuk memperkuat kontraksi otot jantung. Menurunkan volume cairan yang berlebihan a. Memberikan terapi medik : diuretik untuk mengurangi cairan di jaringan b. Mencatat intake dan output c. Menimbang berat badan d. Restriksi garam/diet rendah garam

Mencegah terjadinya komplikasi a. Mengatur jadwal mobilisasi secara bertahap sesuai keadaan klien b. Mencegah terjadinya immobilisasi akibat tirah baring c. Merubah posisi tidur d. Memperhatikan efek samping pemberian medika mentosa; keracunan digitalis e. Memeriksa atau memonitor EKG Pengobatan pembedahan Komisurotomi Hanya pada regurgitasi aorta akibat infeksi aorta, reparasi katup aorta dapat dipertimbangkan Sedangkan pada regurgitasi aorta akibat penyakit lainnya umumnya harus diganti dengan katup artifisial. Indikasi pada keluhan sesak napas yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan symptomatik. Bila ekhokardiografi menunjukkan sistole ventrikel kiri 55 mm, atau fractional shortning 25% dipertimbangkan untuk tindakan operasi sebelum timbul gagal jantung. a. Pendidikan kesehatan, menyangkut penyakit, prognosis, pemakaian obatobatan serta mencegah kekambuhan b. Menjelaskan tentang perjalanan penyakit dan prognosisnya c. Menjelaskan tentang kegunaan obat-obat yang digunakan, serta

memberikan jadwal pemberian obat d. Merubah gaya hidup/ kebiasaan yang salah : merokok, stress, kerja berat, minum alkohol, makanan tinggi lemak dan kolesterol e. Menjelaskan tentang tanda-tanda serta gejala yang menyokong terjadinya gagal jantung, terutama yang berhubungan dengan kelelahan, lekas capai, berdebar-debar, sesak napas, anoreksia, keringat dingin f. Menganjurkan untuk kontrol semua secara teratur walaupun tanpa gejala

g. Memberikan dukungan mental; klien dapat menerima keadaan dirinya secara nyata/realitas akan dirinya baik G. Terapi Inhibitor enzim pengubah angiotensin (Ace) (mungkin juga vasodilator lain seperti bloker kanal kalsium) dan diuretic bisa mempertahankan gejala merupakan fungsi LU selama pergantian bertahun-tahun katup aorta. setelah Jika AR timbulnya AR signifikan. Meningkatnya ukuran LU dan timbulnya indikasi disebbkan oleh dilatasi akar aorta diperlukan penggantian katup dan akar aorta.

PATOFLODIAGRAM Demam melemahnya degenerasi kelainan rematik katup mikromatous bawaan Radang ketidakmampuan katup aorta lemahnya jaringan kelainan Jantung untuk katup fetus jantung fetus Kerusakan membuka/menutup katup jantung peregangan katup secara peningkatan beban kerja tidak normal Ventrikel robekan REGURGITASI AORTA aliran balik darah ke VS kebocoran katup aorta membutuhkan pengobatan Peningkatan volume VS dekonpensasi VS perubahan status kesehatan Aliran ventrikel kiri terhambat aliran balik AS krisis situasi

Menuru curah jantung Pola koping inefektif, kecemasan

Dekompensasi AS Aliran balik ke paru-paru Gangguan Pertukaran gas ketidakseimbangan Suplai O2 dan Kebutuhan Hipobentilasi Kelelahan/kelemahan

Pola napas in efektis Intoleransi aktifitas KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN Hal-hal yang dapat dikaji pada pasien regurgitasi aorta, meliputi : Riwayat kesehatan Riwayat kesehatan yang dikaji meliputi data saat ini dan masalah yang lalu. Data diperoleh dari klien,keluarga, berfokus kepada manifestasi klinik dari keluhan utama dan ditunjang oleh riwayat perawatan dahulu, riwayat keluarga dan riwayat psikososial. Riwayat kesehatan dimulai dari biografi klien, dimana aspek biografi yang sangat erat hubungannya jenis kelamin, dengan gangguan oksigenasi yang mencakup usia, pekerjaan (terutama

berhubungan dengan kondisi tempat kerja) dan tempat tinggal. Keadaan tempat tinggal mencakup kondisi tempat tinggal serta apakah klien tinggal sendiri atau dengan orang lain yang berguna bagi perencanaan pulang (Discharge Planning). Keluhan utama Keluhan utama akan menentukan prioritas intervensi dan mengkaji pengetahuan klien tentang kondisinya saat ini.

Aktivitas Gejala : kelemahan, kelelahan, pusing,rasa berdenyut, dispneu, palpitasi, gangguan tidur Tanda : takikardi, gangguan pada tekanan darah, pingsan karena kerja, takipnea, dispnea Sirkulasi Gejala : riwayat kondisi pencetus, riwayat murmur jantung,

palpitasi, Integritas ego Gejala : tanda kecemasan Makanan / cairan Gejala : perubahan berat badan Neurosensori Gejala : episode pusing/pingsan berkenaan dengan beban kerja Nyeri / kenyamanan Gejala : nyeri dada (nyeri angina / nyeri non angina) Pernapasan Gejala : dispnea, batuk menetap atau noktural, takipnea, gelisah / ketakutan 2. Diagnosa keperawatan 1. penurunnya curah jantung berhubungan dengan aliran ventrikel kiri yang terhambat.

Rencana Intervensi : - Pantau TD, nadi apical, nadi periver - Pantau irama jantung sesuai indikasi - Tingkat/dorong tirah baring dengan kepala tempat tidur ditinggikan 45 derajat - Kolaborasi dengan memberikan oksigen suplemen, pantau DGA/nadi oksimetri. - Kolaborasi pemberian obat 2. Pola napas inefektif berhubungan dengan gangguan pertukaran gas, hipoventilasi Rencana Intervensi : - Kaji frekuensi bunyi nafas, catat krekels, mengi - Latih pasien batuk efektif, dan tarik nafas dalam - Bantu pasien tiap kali dalam mengubah posisinya - Bantu pasien dengan posisi setengah duduk agar dapat memaksimalkan inflamasi paru - Pantau nadi oksimetri - Kolaborasi dengan memberikan tambahan oksigen - Kolaborasi pemberian obat 3. Intoleransi aktivitas berhungan dengan kelemahan, kelelahan Rencana Intervensi

- Catat frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas - Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktifitas seperti penurunan kelemahan/kelelahan, TD stabil/Frekuwensi nadi - Bantu pasien dalam melakukan aktivitasnya/perawatan diri - Bantu pasien dalam kebutuhannya seperti menggunakan kursi mandi, menyikat gigi /rambut dengan cara duduk dalam melakukan aktivitas tersebut - Rujuk program rehabilitasi jantung 4. Pola koping inefektif, kecemasan berhubungan dengan krisis situasi Rencana Intervensi - Pantau respons fisik - Berikan tindakan yang nyaman pada pasien dalam melakukan aktifitasnya - Berikan waktu istrahat yang cukup untuk kondisinya - Berikan semangat dan penjelasan tentang penyakit sehingga dalam pola kopingnya dan status kesehatannya tidak memburuk - Kaji keefektifan koping dengan stressor - Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan - Kolaborasi pemberian obat anticemas 3. Implementasi

Dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan, menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan pedoman atau prosedur teknis yang telah ditentukan. 4. Evaluasi Kriteria keberhasilan: Berhasil Tuliskan kriteria keberhasilannya dan tindakan dihentikan. Tidak berhasil Tuliskan mana yang belum berhasil dan lanjutkan tindakan.

PENYIMPANGAN KDM Demam melemahnya degenerasi kelainan rematik katup mikromatous bawaan Radang ketidakmampuan katup aorta lemahnya jaringan kelainan Jantung untuk katup fetus jantung fetus Kerusakan membuka/menutup katup jantung peregangan katup secara peningkatan beban kerja tidak normal Ventrikel REGURGITASI AORTA aliran balik darah ke VS kebocoran katup aorta Peningkatan volume VS dekonpensasi VS Aliran ventrikel kiri terhambat aliran balik AS

penurunan curah jantung


Dekompensasi AS

Aliran balik ke paru-paru Gangguan Pertukaran gas ketidakseimbangan Suplai O2 dan Kebutuhan Hipobentilasi Kelelahan/kelemahan

Pola napas in efektis Intoleransi aktifitas PENDAHULUAN Penyakit katup jantung dahulu dianggap sebagai penyakit yang hamper selalu disebaban oleh demam rematik.tetapi sekarang banyk ditemukan penyakit katup jantung yang diakibatkan karena degenerative, berkaitan dengan meningkatnya masa hidup pada orangorang di Negara berkembang, akan tetapi demam rematik masih merupakan penyebablajim deformias katup yang memerlukan intervensi bedah. Demam rematik timbul bila terjadi penurunan antibody namun patogensisnya belum diketahui.Pada kasus penyakit katup dibutuhkan pengantian katup, katup protese umuim dgunakan karena dapat bertahan lama, karena tidak tromogenik, tidak merusak komponen darah dan efek hemodinamik normal. Berdasarkan data di RS Jantung Harapan Kita, pembedahan katup menduduki urutan ketiga setelah bedah jantung kongenital dan CABG TINJAUAN TEORITIS A. DEFINISI Aorta stenosis adalah penyempitan pada lubang katup aorta yang menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta (Idrus Alwi,2005) Ada beberapa kondisi yang berakibat pada penyempitan dari klep aorta. Ketika derajat dari penyempitan menjadi cukup signifikan untuk menghalangi aliran darah dari bilik kiri ke arteri-arteri, maka persoalan-persoalan jantung mulai berkembang. B. ETIOLOGI Menurut Brunner&Suddarth (2005) ada beberapa kondisi yang menimbulkan terjadinya stenosis pada aorta yaitu : 1. Kalsifikasi senilis / degenerative Sering terjadi pada individu diatas usia 65 tahun oleh karena proses degenerative. 2. Rheumatic Heart Disease

Merupakan suatu penyakit inflamasi akut yang sering diawali dengan adanya peradangan pada faring (Saluran pernapasan atas) dan disebabkan oleh kuman Streptococcus Beta Hemolyticus Grup A.Selain oleh adanya kuman, juga disebabkan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh terhadap kuman tersebut. Demam reumatik dapat menyerang semua lapisan jantung dan katup karena Host pada jantung sama dengan saluran napas atas. 3. Kelainan Kongenital C. MANIFESTASI KLINIK 1. Pada tahap asimtomatik, stenosis aorta tidak menimbulkan gejala khas akan tetapi saat di aukultasi akan terdengar murmur sistolik di intercosta 2 dan intercosta 3 sebelah kanan sternum (paling keras terdengar di daerah apek dan aorta). 2. Pada tahap lanjut (simtomatik) maka aorta stenosis dapat menimbulkan gejala yang khas yaitu nyeri dada, syncope dan Dyspnea Dyspnea : merupakan dekompensasi ventrikel kiri terhadap adanya kongesti paru Syncope : Terjadi akibat menurunnya cardiac output sehingga perfusi ke otak berkurang Angina : timbul akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan oksigen miokard serta adanya pe urunan aliran darah koroner. Gejala lain yang timbul yaitu palpitasi yang disebabkan oleh karena ventrikel kiri meningkatkan kekuatan denyutan jantung untuk memompa darah lebih banyak.Pada tahap lanjut maka akan timbul Gagal jantung kiri, akibat peningkatan beban ventrikel kiri sehingga otot jantung kiri mengalami hipertropi sebagai respon terhadap besarnya obstruksi dan bila obstruksi semakin membesar makam mengakibatkan penurunan fungsi jantung kiri.

D. Pemeriksaan Diagnostik 1. Radiologi a. Pembesaran jantung ( CTR > 50%) b. Peningkatan Vaskularisasi Paru c. Kalsifikasi katup arota dapat terlihat pada pemeriksaan Flouroscopy d. Dilatasi aorta asenden dan dilatasi ventrikel kiri 2. Elektrokardiogram a. LVH ( Left Ventrikel Hypertropi) b. LBBB ( Left Bundle Branch Block) c. LAD ( Left axis Deviasi)

d. Atrial Fibrilasi 3. Echocardiografi Ditemukan adanya aorta stenosis, kalsifikasi pada daerah aorta, hipertropi ventrikel kiri dan atrium kiri membesar. 4. Kateterisasi a. Hemodinamik Pada hemodinamik terjadi peningkatan tekanan sistolik ventrikel kiri dan LVEDP selain itu juga terjadi peningkatan PCWP dan terdapat perbedaan gradient tekanan ventrikel kiri dan aorta lebih dari 50 mmHg. b. Kalkulasi area katup aorta Normal : 3.0 3.5 cm Midstenosis aorta : 1.0 1.5 cm Moderate stenosis aorta: 0.85 1.0 cm Severe stenosis aorta : < 0.85 cm E. KOMPLIKASI 1. Kematian mendadak oleh karena aritmia ventrikel 2. Gagal jantung kiri 3. Gangguna sistem konduksi 4. Emboli 5. Endokarditis F. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Paliatif Tindakan BAV ( Ballon Aortic Valvuloplasty) adalah memasukkan balon melalui septum atrial. Ballon dikembangkan dengan larutan angiografi cair dan lebih sering melalui aorta serta melintasi katup aorta dan ventrikel kiri. Ketika balon dikembangkan, katup aorta tidak akan menutup sama sekali sehingga memungkinkan aliran darah mengalir ke aorta. Namun prosedur ini tidak efektif, hampir 50% dalam 12 -15 bulan pasca BAV stenosis akan kambuh kembali (Brunner & Suddarth 2002). Prosedur ini bermanfaat sebagai tindakan jangka pendek / sementara, sebelum tindakan penggantian katup aorta.Tindakan ini akan meningkatkan ukuran dari katup aorta sekitar 0.5 0.8 cm (Susan L Wood,2005). Tindakan BAV dilakukan tergantung dari derajat (mid,moderate,severe) stenosis aorta, ada tidaknya penyakit penyerta (seperti vegetasi) dan usia.

2. Pembedahan a. Repair Proses Repair dibagi menjadi 2 yaitu anuloplasthy dan perbaikan bilah. a.1 Anuloplasty Anuloplasty adalah perbaikan annulus katup (jaringan yang menghubungkan antara bilahbilah katup dengan otot jantung). Anuloplasty menggunakan 2 cara yang berbeda salah satunya dengan menggunakan cincin anuloplasty dimana bilah katup dijahitkan ke cincin dan membentuk annulus dengan ukuran yang diinginkan. Cara lain yaitu dengan cara mengikat bilah katup ke atrium atau membuat kerutan untuk menengangkan annulus. a.2 Perbaikan Bilah Bilah katup jantung yang mengalami pemanjangan, bergelembung atau berlebihan maka akan dibuang atau dipotong kelebihan dari jaringan tersebut. Jaringan yang memanjang dapat dilipat balik dan dijahit diatas jaringan itu sendiri (Plikasi Bilah). Bilah yang pendek biasanya diperbaiki dengan Cordoplasty (Perbaikan corad tandinae). Selain itu dapat pula dilakukan insisi berbentuk baji pada bagian tengah bilah yang kemudian celah yang ada dijahit (Reseksi bilah). b. Replacement Penggantian katup merupakan cara yang efektif untuk mengatasi stenosis aorta tahap lanjut (Severe) yang disertai gejala-gejala stenosis aorta seperti angina, syncope dan heart failure. Penggantian katup tergantung pada status fungsional pasien, disfungsi ventrikel dan adanya vegetasi. Penggantian katup menggunakan 4 macam katup prostetik, yaitu : 1) Katup Mekanik Berbentuk bola dan cakram, lebih kuat dibandingkan dengan katup prostetik lainnya dan biasa digunakan pada pasien usia muda. Katup mekanik memerlukan antikoagulasi sepanjang hidup dengan pengencer darah seperti warfarin, untuk mencegah terjadinya tromboemboli.

Mechanical valve 2) Xenograf

Adalah katup jaringan (Bioprosthesis atau heterograft) biassanya berasal dari babi, tapi dapat pula berasal dari katup sapi, viabilitasnya bisa mencapai 7 10 tahun. Tidak menyebabkan thrombus sehingga tidak memerlukan antikoagulan, umumnya digunakan untuk pasien usia >70 tahun dengan riwayat ulkus peptikum dan kontraindikasi terhadap antikoagulan serta pada wanita usia subur. Tissue valve

3) Homograf (Katup dari manusia) Diperoleh dari donor, jaringan yang diambil dari katup aorta, katup pulmonal dan sebagian dari arteri pulmonalis yang disimpan secara kriogenik. Homograf sangat mahal dan tidak bersifat trombogenik. 4) Otograf Diperoleh dengan memotong katup pulmonal dan sebagian arteri pulmonalis sebagai pengganti katup aorta. Sumber ; Brunner & Suddarth, 2005. 3. Medikamentosa a. Nitrogliserin Oral ( sublingual ) diberika bila ada angina b. Diuretik dan Digitalis diberikan bila ada tanda gagal jantung c. Statin dianjurkan untuk mencegah kalsifikasi daun katup aorta d. Antikoagulan, pada pasien menggunakan katup mekanik penggunaan antikoagulan seumur hidup, sedangkan pada katup bioprostetik penggunaan antikoagulan selama fase awal saja biasanya selama 5 hari. Sementara untuk preventif penggunaan Heparin 3-4 bulan. e. Antibiotik digunakan untuk profilaksis diantaranya amoxilin, eritromicin, ampicilin, gentamizin, dan vancomicyn. f. Diet rendah garam g. Hindari aktivitas berat seperti mengangkat beban berat dan lari

( www. Mediastore .com ) G. ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian

Keadaan umum : pasien tampak lemah / tampak sesak, kesadaran composmentis, apatis, somnolen, sofor dan coma. Tanda-tanda vital : Berat Badan ( BB ) dan Tinggi Badan ( TB ) Pemeriksaan kepala dan leher : pasien tampak gelisah, wajah pucat, konjungtiva anemis, skelera ikterik, eksoptalmus, ptechie, bibir sianosis, hidung simetris, keluhan pusing, nyeri kepala dan pingsan.

Menilai arteri carotis : penurunan pulsasi arteri carotis, bising ( Bruit ) saat auskultasi. Pemeriksaan dada : obsrevasi gerakan pernafasan ( frekuensi, irama, kedalaman nafas), kesimetrisan dada, suara nafas vesikuler / ronchi, saat palpasi teraba thrill di daerah aorta, kaji bising stenosis aorta. ( suara paling keras, sepanjang atas sternum dan menjadi lemah di area afek dan aksila dan atau systolik yang kasar disela iga 2-3 sebelah kanan sternum.

Pemerikaaan abdomen : adanya bruit, atau bising pembuluh oleh karena stenosis yang menyangkut pembuluh-pembuluh cabang aorta, kesimetrsan bentuk abdomen ( asites, hepatomegali )

Pemerikasaan kulit / ekstremitas : akral hangat atau dingin , kulit lembab atau kering, sianosis, adanya edema Pemeriksaan kuku : sianosis perifer, cavilary refill

2. Diagnosa Keperawatan a. Penurunan curah jantung b.d gangguan fungsi katup aorta b. Gangguan rasa nyaman nyeri dada b.d penurunan suplai darah dan oksigen ke koroner c. Intoleran aktivitas b.d suplai dan kebutuhan oksigen tidak seimbang d. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya b.d kurangnya informasi 3. Intervensi Keperawatan a. Penurunan curah jantung b.d gangguan fungsi katup aorta

Observsi tanda- tanda vital Berikan posisi yang nyaman ; semi fowler Observasi terjadinya syncope Monitor capillary refile dan pulsasi arteri perifer Anjurkan untuk tirah baring total Bantu aktifitas sehar-hari sebagian atau seluruhnya Observasi tanda-tanda penurunan curah jantung (Mudah lelah, akral dingin, pucat) Kolaborasi dalam pemberian oksigen sesuai indikasi Kolaborasi dalam pemberian therapy digitalis Kaji lokasi, skala, durasi dan frekuensi nyeri Monitor tanda-tanda vital Batasi aktifitas klien Ajarkan tehnik relaksasi Rekam dan monitor EKG 12 lead Berikan posisi yang nyaman dan batasi pengunjung Kolaborasi dalam pemberian terapi nitrat dan oksigen sesuai indikasi Monitor tanda-tanda vital Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas Anjurkan pasien untuk istiraht Beri lingkungan yang nyaman dan tenang Berikan penjelasan untuk tidak mengunakan energy yang berlebihan seperi mengedan ketika BAB. Hentikan aktifitas bila pasien nyeri dada Kaji tingkat pengetahuan pasien akan kondisi kesehatannya Berikan informasi mengenai aktifitas yang boleh dilakukan selama sakit, intake nutrisi yang adekuat serta beberapa efek obat.
Definisi Stenosis Katup Aorta adalah penyempitan pada lubang katup aorta, yang menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta.

b. Gangguan rasa nyaman nyeri dada b.d penurunan suplai darah dan oksigen ke koroner

c. Intoleran aktivitas b.d suplai dan kebutuhan tidak seimbang

d. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya b.d kurangnya informasi

Stenosis aorta merupakan penyempitan abnormal katup aorta. Sejumlah persyaratan menyebabkan penyakit yang mengakibatkan penyempitan katup aorta. Ketika derajat penyempitan menjadi cukup signifikan untuk menghambat aliran darah dari ventrikel kiri ke arteri, masalah jantung berkembang. B. Etiologi 1. Kerusakan yang disebabkan oleh pemakaian yang progresif dari suatu klep bicuspid hadir sejak kelahiran (congenital). 2. Kerusakan yang disebabkan oleh pemakaian dari klep aortic pada kaum tua. 3. Luka parut dari klep aortic yang diseabkan oleh demam rhematik sebagai seorang anak atau dewasa muda C. Manifestasi Klinis Pada kasus stenosis aota tingkat sedang sampai berat, pasien mula-mula mengalami dispnu saat latihan, yang merupakan manifestasi dekompensasi ventrikel kiri terhadap kongesti paru. Tanda lainnya berupa pusing dan pingsan karena berkurangnya volume darah yang mengalir ke otak. Angina pektoris merupakan gejala yang sering timbul karena meningkatnya kebutuhan oksigen akibat meningkatnya beban kerja ventrikel kiri dan hipertrofi miokardium. Tekanan darah dapat turun tapi dapat juga normal; terkadang terjadi tekanan nadi yang rendah ( kurang dari 30 mmHg) karena berkurangnya aliran darah. Pada pemerikasaan fisik dapat terdengar murmur sistolik yang keras dan kasar di daerah aorta. Suara ini terdengar sebagai murmur sistolik kresendodekresendo, yang dapat menyebar ke arteri karotis dan ke apeks ventrikel kiri. Murmur ini bernada rendah kasar dan bergetar. Bila kita letakkan tangan pada dasar jantung maka akan terasa getaran yang paling kuat diantara semua bunyi jantung, dan menyerupai erangan seekor kucing. Suara ini berhubungan dengan turbulensi yang diakibatkan oleh aliran darah yang melalui lumen katup yang menyempit. Bukti adanya hipertrofi ventrikel kiri dapat terlihat dengan elektrokardiogram ( EKG ) 12 lead dan ekokardiogram. Kateterisasi jantung kiri perlu dilakukan untuk mengukur dengan akurat beratnya abnormalitas katup ini. Pengukuran tekanan diambil di ventrikel kiri dan dasar aorta. Tekanan sistolik ventrikel tentu saja lebih tinggi dari tekanan di aorta selama sistole. D. Patofisiologi Stenosis katub aorta adalah penyempitan lumen antara ventrikel kiri dan aorta. Pada orang dewasa stenosis bias merupakan kelainan bawaan atau dapat sebagai akibat dari endokarditis remaitik atau kalsifikasi kuspis dengan penyebab yang tidak di ketahui penyempitan terjadi secara progresif selama beberapa tahun atau beberapa puluh tahun. Bilah-bilah katup aorta saling menempel dan menutup sebagian lumen diantara jantung dan aorta. Ventrikel kiri mengatasi hambatan sirkulasi ini dengan berkontraksi lebih lambat tapi dengan energy yang lebih besar dari normal, mendorong darah melalui lumen yang sangat sempit. Mekanisme kompensasi jantung mulai gagal dan muncullah tanda-tanda klinis. Obstruksi jalur aliran aorta tersebut menambahkan beban tekanan ke ventrikel kiri, yang mengakibatkan penebalan dinding otot. Otot jantung menebal (hipertrofi) sebagai respon terhadap besarnya obstruksi; terjadilah gagal jantung bila obstruksinya terlalu berat. E. Pathway Malformasi katup stenosis kongenital,

Inflamasi rematik, kalsifikasi katup degeneratif Stenosis aorta Menghalangi aliran darah dari ventrikel kiri Ke aorta pada waktu sistolik curah jantung tekanan ventrikel kiri vasodilatasi aktivitas fisik hipotensi sistemis dilatasi dan kontraktilitas perasaan lelah dan lemah tekanan darah hipertrofi ventrikel kiri intoleransi aktivitas sinkop kebutuhan O2 hipoksia miokardium hipertensi ventrikel nyeri dada tekanan arteri koroner pernafasan menurun aliran darah koroner pola nafas tidak efektif Gagal jantung kiri Gangguan sirkulasi Gangguan perfusi jaringan Gangguan supply darah ke seluruh tubuh Suplai O2 otak Sinkop

F. Pemerikasaan Penunjang 1. Electrocardiogram (EKG): EKG adalah suatu perekaman dari aktivitas elektrik jantung. Pola-pola abnormal pada EKG dapat mencerminkan suatu otot jantung yang menebal dan menyarankan diagnosis dari aortic stenosis. Pada kejadiankejadian yang jarang, kelainan konduksi elektrik dapat juga terlihat. 2. Chest x-ray: chest x-ray (x-ray dada) biasanya menunjukan suatu bayangan jantung yang normal. Aorta diatas klep aortic seringkali membesar. Jika gagal jantung hadir, cairan di jaringan paru dan pembuluh-pembuluh darah yang lebih besar di daerah-daerah paru bagian atas seringkali terlihat. 3. Echocardiography: Echocardiography menggunakan gelombang-gelombang ultrasound untuk memperoleh gambar-gambar (images) dari ruang-ruang jantung, klep-klep, dan struktur-struktur yang mengelilinginya. Ii adalah suatu alat non-invasive yang berguna, yang membntu dokter-dokter mendiagnosa penyakit klep aortic. Suatu echocardiogram dapat menunjukan suatu klep aortic yang menebal dan kalsifikasi yang membuka dengan buruk. Ia dapat juga menunjukan ukuran dan kefungsian dari ruang-ruang jantung. Suatu teknik yang disebut Doppler dapat digunakan untuk menentukan perbedaan tekanan pada setiap sisi dari klep aortic dan untuk menaksir area klep aortic. 4. Cardiac catheterization: Cardiac catheterization adalah standar emas dalam mengevaluasi aortic stenosis. Tabung-tabung plastik berongga yang kecil (catheters) dimasukan dibawah tuntunan x-ray ke klep aortic dan kedalam ventricle kiri. Bersama tekanan-tekanan diukur pada kedua sisi dari klep aortic. Kecepatan dari aliran darah diseluruh klep aortic dapat juga diukur menggunakan suatu kateter khusus.

G. Komplikasi a. Gagal ventrikel kiri b. Aritmi-dapat mati mendadak c. Fibrilasi atrium d. Endokarditis infektif e. Sinkop H. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Terapi Umum 1. Istirahat Mengobati penyakit dasarnya Terapi gagal jantung dan angina Menghindari latihan berat. 2. Diet 3. Medikamentosa Obat pertama : Digoksin Antibiotik 4. Operasi Pergantian katup I. Pengkajian Keperawatan Pengkajian a. Aktivitas / Istirahat : Gejala : kelelahan, kelemahan. Tanda : takikardia, penurunan tekanan darah, dispnea dengan aktivitas. b. Sirkulasi : Gejala : riwayat demam rematik, penyakit jantung congenital, bedah jantung, palpitasi, jatuh pingsan. Tanda : takikardia, disritmia, perpindaha titik impuls maksimal. c. Eliminasi : Gejala : riwayat penyakit ginjal/gagal ginjal ; penurunan frekuensi/jumlah urine. Tanda : urin pekat gelap. d. Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri pada dada anterior (sedang sampai berat/tajam) diperberat oleh inspirasi, batuk, gerakkan menelan, berbaring. Tanda : perilaku distraksi, misalnya gelisah. e. Pernapasan Gejala : napas pendek Tanda : dispnea, batuk, pernapasan dangkal. f. Pemeriksaan fisik 1. Keadaan umum pasien tampak lemas dan wajahnya pucat. TD : 110/90 mmHg, suhu : 380C, RR : 26x/menit, nadi : 110x/menit 2. Pemeriksaan kepala Pada kepala berbentuk mesochepal, rambut klien tidak rontok, tidak lesi pada kulit kepala, tidak berketombe, dan tidak terdapat nyeri tekan pada kepala klien. 3. Pemeriksaan muka Muka klien terlihat pucat, tidak lesi pada wajah klien. 4. Pemeriksaan mata Bentuk mata simetris, sclera non ikterik, kornea jernih, pupilnya ishokor, konjungtiva anemis, palpebra normal tidak ada nyeri tekan.

5. Pemeriksaan hidung Hidung klien berbentuk simetris, tulang hidung tidak septum deviasi, tidak ada lesi, tidak terdapat hematom, tidak ada polip dan epistaksis. 6. Pemeriksaan mulut Mulut klien lembab, tidak ada stomatitis, tidak ada lesi. 7. Pemeriksaa leher klien Tidak ada pembesaran thyroid, tidak ada kaku kuduk, reflek menelan baik. 8. Pemeriksaan dada Inspeksi: Pergerakan pernafasan meningkat, tampak kelelahan. Palpasi: Terdapat thriil Perkusi: Terdengar keredupan pada daerah yang terinfeksi. Auskultasi: Terdapat bunyi murmur yang khas dan melemah pada bunyi jantung ke 2 9. Pemeriksaan abdomen Inspeksi : warna kulit abdomen normal yaitu kecoklatan lebih terang dari warna kulit lain, terlihat ada pembengkakan di perut Auskultasi : peristaltik usus 20 kali Palpasi : Saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan. Perkusi : terdengar timpani 10. Pengkajian ekstremitas Tidak ada edema, kekuatan otot lemah J. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan penyempitan, iskemia jaringan. 2. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan degenerasi otot jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan. 4. Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan peningkatan retensi cairan dan natrium. 5. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan. 6. kurang pengetahuan tentang kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan pada informasi tentang penyakit katup jantung. K. Rencana Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan penyempitan, iskemia jaringan. Tujuan : Nyeri hilang atau terkontrol. Kriteria Hasil: a. Nyeri berkurang atau hilang. b. Klien tampak tenang. Intervensi : 1) Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan faktor pemberat atau penurun. Perhatikan petunjuk nonverbal dari ketidaknyamanan, misalnya ; berbaring dengan diam/gelisah, tegangan otot, menangis. Rasionalisasi : Pada nyeri ini memburuk pada inspirasi dalam, gerakkan atau berbaring dan hilang dengan duduk tegak/membungkuk. 2) Berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan misalnya ; perubahan posisi, gosokkan punggung, dukungan emosional. Rasionalisasi : Tindakan ini dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dan emosional pasien. 3) Berikan aktivitas hiburan yang tepat. Rasionalisasi : Mengarahkan kembali perhatian, memberikan distraksi dalam tingkat aktivitas individu.

4) Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai indikasi (agen nonsteroid : aspirin, indocin ; antipiretik ; steroid). Rasionalisasi : Dapat menghilangkan nyeri, menurunkan demam ; steroid diberikan untuk gejala yang lebih berat. 5) Kolaborasi pemberian oksigen suplemen sesuai indikasi. Rasionalisasi : Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk menurunkan beban kerja jantung. 2. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan degenerasi otot jantung, penurunan/kontriksi fungsi ventrikel. Tujuan : mengidentifikasi perilaku untuk menurunkan beban kerja jantung. Kriteria Hasil : a. melaporkan/menunjukkan penurunan periode dispnea, angina, dan disritmia. b. memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil. Intervensi : 1) Pantau frekuensi/irama jantung, TD, dan frekuensi pernapasan sebelum dan setelah aktivitas dan selama diperlukan. Rasionalisasi : Membantu menentukan derajat dekompensasi jantung ,pulmonal. Penurunan TD, takikardia, disritmia, dan takipnea adalah indikatif dari kerusakan toleransi jantung terhadap aktivitas. 2) Pertahankan tirah baring dalam posisi semi-Fowler. Rasionalisasi : Menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung. 3) Auskultasi bunyi jantung. Perhatikan jarak/muffled tonus jantung, murmur, gallop S3 dan S4. Rasionalisasi : Memberikan deteksi dini dari terjadinya komplikasi misalnya : GJK, tamponade jantung. 4) Berikan tindakan kenyamanan misalnya; perubahan posisi, gosokkan punggung, dalam toleransi jantung Rasionalisasi : Meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian. 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan. Tujuan : Agar pasien tidak menunjukan stress pernapasan atau stress jantung Kriteria Hasil : a. Klien dapat istirahat dengan tenang. Intervensi : 1. Kaji frekuensi nadi, catat peningkatan TD, dispnea atau nyeri dada, kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsan Rasional : parameter menunjukkan respon fisiologis pasien terhadap stres aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja jantung. 2. Pertahankan lingkungan termal yang netral. Rasionalisasi : Hipotermia atau hipertermia akan meningkatkan kebutuhan oksigen. 3. Berikan periode istirahat dan hindari hal-hal yang melelahkan klien. Rasionalisasi : Untuk mengurangi atau memperkecil kerja jantung. 4. Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas Rasional : stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual. 4. Resiko tinggi terhadap kelebihan volume cairan berhubungan dengan peningkatan retensi cairan dan natrium. Tujuan : Menunjukkan keseimbangan masukan dan haluaran cairan Kriteria Hasil : 1. Berat badan stabil

2. Tanda vital dalam rentang norml 3. Tidak ada edema Intervensi : 1) Pantau pemasukan dan pengeluaran, catat keseimbangan cairan. Rasionalisasi : penting pada pengkajian jantung dan fungsi ginjal dan kefektifan terapi diuretik, keseimbangan cairan positif berlanjut (pemasukan lebih besar dari pengeluaran). 2) Timbang berat badan tiap hari. Rasionalisasi : berat badan meningkat menunjukkan makin buruknya gagal jantung. 3) Auskultasi bunyi nafas dan jantung. Rasionalisasi : tambahan bunyi nafas (krekels) dapat menunjukkan timbulnya edema paru akut atau GJK kronis. 4) Pantau tekanan darah. Rasionalisasi : peningkatan tekanan darah dapat menunjukkan kelebihan cairan 5) Jelaskan tujuan pembatasan cairan/natrium pada pasien. Rasionalisasi : memberikan beberapa rasa kontrol dalam menghadapi upaya pembatasan. 6) Berikan diuretik contohnya furosemid, asam etakrinik, sesuai indikasi. Rasionalisasi : menghambat reabsorpsi natium/klorida, yang meningkatkan ekskresi cairan dan menurunkan kelebihan cairantotal tubuh dan edema paru. 5. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan. Tujuan : Menyatakan kesadaran perasaan ansietas Kriteria Hasil : a. Penurunan ansietas b. Menunjukkan relaksasi c. Menunjukkan perilaku untuk menangani stres Intervensi : 1) Pantau respon fisik, contoh palpitasi, takikardi, gerakan berulang, gelisah. Rasionalisasi : membantu menentukan derajat cemas sesuai status jantung, penggunaan evaluasi seirama dengan respon verbal dan nonverbal. 2) Berikan tindakan kenyamanan. Rasionalisasi : membantu mengarahkan perhatian dan meningkatkan relaksasi, meningkatkan kemampuan koping. 3) Libatkan pasien/orang terdekat dalam rencana perawatan dan dorong partisipasi maksimum pad rencana pengobatan. Rasionalisasi : keterlibatan akan membantu memfokuskan perhatian pasien dalam arti positif dan memberikan rasa kontrol. 4) Anjurkan pasien melakukan relaksasi, contoh nafas dalam. Rasionalisasi : memberikan arti penghilangan respon ansietas, menurunkan perhatian, meningkatkan relaksasi, meningkatkan kemampuan koping. 6. kurang pengetahuan tentang kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan pada informasi tentang penyakit katup jantung. Tujuan : Menyatakan pemahaman proses penyakit. Kriteria Hasil : a. Mengidentifikasi perilaku pola hidup untuk mencegah komplikasi b. Mengenali kebutuhan untuk kerjasama dn mengikuti perawatan Intervensi : 1) Jelaskan dasar patoloi abnormalits katup. Rasionalisasi : pasien harus mempunyai dasar pemahaman tentang abnormalitas katupnya sendiri dan konsekuensi hemodinamik kerusakan sebagai dasar penjelasan rasional berbagai aspek pengobatan.

2) Anjurkan pasien untuk memantau respon fisiologisendiri terhadap aktivitas. Rasionalisasi : keterlibatan pasien dalam memantau toleransi terhadap aktivitasnya sendiri adalh penting untuk keamanan dan/atau mengubah aktivitas harian. 3) Tekankan pentingnya melaporkan rasa haus berlebihan, pusing berat, atau episode berdenyut. Rasionalisasi : dapat mengidentifikasi kebutuhan evaluasi status elektrolit (khususnya kalium) dan/atau gangguan program obat. 4) Diskusikan kebutuhan pasien untuk keseimbangan aktivitas dan istirahat. Rasionalisasi : program aktivitas bertahap yang konsisten dan tepat paling baik untuk meminimalkan kondisi dan kelemahan dan mencegah kelebihan kerja, yang dapat meningkatkan beban jantung/dekompensasi.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Kasus Tn.K berumur 45 tahun datang ke RS. Respati tanggal 28 Maret 2011. Klien mengatakan nyeri pada dadanya sambil memegang area dada. Nyeri hilang timbul dan timbul saat melakukan aktivitas dengan skala nyeri 7 dan klien mengatakan nyerinya terasa seperti ditusuk-tusuk. Klien juga mengatakan pernah mengalami gagal jantung sejak 1 tahun yang lalu, sehingga klien mengeluh mudah lelah atau lemah dan sesak saat bernafas. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik, wajah klien tampak meringis menahan sakit. Didapatkan TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit. Pada saat dilakukan auskultasi terdapat bunyi murmur yang khas dan melemah pada bunyi jantung ke 2 disertai thriil pada saat dipalpasi, saat dilakukan CRT kuku klien kembali lebih dari 2 detik. Pada saat dilakukan foto rotgen menunjukkan pembesaran ventrikel kiri dan fungsi sistole yang menurun. Saat difoto rotgen kembali dada tampak ada penebalan dinding jantung. Klien terlihat lemah dan pucat karena beban jantung yang semakin berat. Pada saat beraktivitas klien mengatakan selalu dibantu dengan keluarganya. B. Pengkajian Nama Perawat : Perawat Tanggal Pengkajian : 29 Maret 2011 Jam Pengkajian : 08.00 wib 1. Biodata : Identitas Klien Nama : Tn. K Umur : 45 tahun Alamat : Jl. Saren No. 14 Sleman Agama : Islam Pendidikan : SMA Pekerjaan : Wiraswasta Status perkawinan : Kawin Suku : Jawa

Tanggal MRS : 28 Maret 2010 Diagnosa masuk : Stenosis Aorta Penanggung Jawab Nama : Ny.M Umur : 38 tahun Alamat : Jl. Saren No. 14 Sleman Agama : Islam Pendidikan : SMA Pekerjaan : Wiraswasta Hubungan dengan klien : Istri 2. Keluhan Utama Klien mengatakan nyeri pada dadanya sambil memegang area dada 3. Riwayat Kesehatan a. Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri pada dadanya sambil memegang area dada. Nyeri timbul saat melakukan aktivitas dengan skala nyeri 7 b. Riwayat Penyakit Dahulu Klien juga mengatakan pernah mengalami gagal jantung sejak 1 tahun yang lalu, sehingga klien mudah lelah atau lemah dan sesak saat bernafas. c. Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga klien tidak ada riwayat penyakit stenosis aorta 4. Genogram

Ket : : laki laki : perempuan : klien ----- : tinggal 1 rumah 5. Basic Promoting physiology of Health 1. Aktivitas dan latihan Klien tidak bisa melakukan aktivitas yang berat karena klien mudah lelah atau lemah dan sesak nafas saat beraktivitas. 2. Tidur dan istirahat Klien tidur malam pukul 21.00 dan bangun pukul 05.00. Pada siang hari klien tidur siang sekitar 1 jam. 3. Kenyamanan dan nyeri P : saat beraktivitas Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk R : dada bagian dalam S:7 T : nyeri hilang timbul

4. Nutrisi Klien sering sarapan pagi pukul 08.00. Pada waktu siang pukul 12.00 dan malam pukul 20.00. 5. Cairan, elektrolit dan asam basa. Dalam sehari klien minum 7 glass/hari 1 glass = 200cc. 6. Oksigenasi Oksigenasi tidak terpasang oksigen 2 sampai 4 liter, RR klien 14x/menit. 7. Eliminasi fekal/bowel BAB klien dilakukan dengan normal, warna kuning kecoklatan, bau khas feses, dan tidak terdapat darah dalam feses. 8. Eliminasi urin Klien BAK sehari sebanyak 4x sehari dengan sekali BAK sebanyak 300ml, warna urin kuning jernih, berbau khas urin dan tidak ada darah dalam urin. 9. Sensori, persepsi dan kognitif Klien tidak menggunakan alat bantu kacamata dan klien juga tidak menggunakan alat bantu pendengaran. 6. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum pasien tampak lemas dan wajahnya pucat. TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit b. Pemeriksaan kepala Pada kepala berbentuk mesochepal, rambut klien tidak rontok, tidak lesi pada kulit kepala, tidak berketombe, dan tidak terdapat nyeri tekan pada kepala klien. c. Pemeriksaan muka Muka klien terlihat pucat, tidak lesi pada wajah klien. d. Pemeriksaan mata Bentuk mata simetris, sclera non ikterik, kornea jernih, pupilnya ishokor, konjungtiva anemis, palpebra normal tidak ada nyeri tekan. e. Pemeriksaan hidung Hidung klien berbentuk simetris, tulang hidung tidak septum deviasi, tidak ada lesi, tidak terdapat hematom, tidak ada polip dan epistaksis. f. Pemeriksaan mulut Mulut klien lembab, tidak ada stomatitis, tidak ada lesi. g. Pemeriksaa leher klien Tidak ada pembesaran thyroid, tidak ada kaku kuduk, reflek menelan baik. h. Pemeriksaan dada Inspeksi: Pergerakan pernafasan meningkat, tampak kelelahan. Palpasi: Terdapat thriil Perkusi: Terdengar keredupan pada daerah yang terinfeksi. Auskultasi: Terdapat bunyi murmur yang khas dan melemah pada bunyi jantung ke 2 i. Pemeriksaan abdomen Inspeksi : warna kulit abdomen normal yaitu kecoklatan lebih terang dari warna kulit lain, terlihat ada pembengkakan di perut Auskultasi : peristaltik usus 20 kali Palpasi : Saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan. Perkusi : terdengar timpani j. Pengkajian ekstremitas Tidak ada edema, kekuatan otot lemah 7. Pemeriksaan Penunjang : EKG : Menunjukkan pembesaran ventrikel kiri dan fungsi sistole yang menurun. Foto Rotgen : Dada tampak ada penebalan dinding jantung. C. Analisa Data

No Data Fokus Etiologi Problem 1 DS : Klien mengatakan nyeri pada dadanya sambil memegang area dada, skala nyeri 7 DO : wajah klien tampak meringis menahan sakit, TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit Agen injury biologi Nyeri akut 2 DS : klien mengeluh mudah lelah atau lemah dan sesak saat bernafas DO : TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit , saat dilakukan EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri dan fungsi sistole yang menurun, Saat difoto rotgen dada tampak ada penebalan dinding jantung, Klien terlihat lemah dan pucat, saat dilakukan CRT kuku klien kembali lebih dari 2 detik. Perubahan denyut atau irama jantung Penurunan curah jantung 3 DS : Pada saat beraktivitas klien mengatakan selalu dibantu dengan keluarganya. DO : Klien terlihat lemah dan pucat karena beban jantung yang semakin berat, TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit Ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan Oksigen Intoleransi aktivitas 4 DS : klien mengatakan sesak ketika bernafas DO : klien tampak kelelahan ketika bernafas, TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit, saat dilakukan CRT kuku klien kembali lebih dari 2 detik. nyeri Pola nafas efektif D. Diagnosa Prioritas 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan nyeri ditandai dengan klien mengatakan sesak ketika bernafas. Klien tampak kelelahan ketika bernafas, TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit, saat dilakukan CRT kuku klien kembali lebih dari 2 detik. 2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan denyut atau irama jantung ditandai dengan klien mengeluh mudah lelah atau lemah dan sesak saat bernafas, TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit, saat dilakukan EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri dan fungsi sistole yang menurun, Saat difoto rotgen dada tampak ada penebalan dinding jantung, Klien terlihat lemah dan pucat, saat dilakukan CRT kuku klien kembali lebih dari 2 detik.. 3. Nyeri berhubungan dengan agen injury biologi ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada dadanya sambil memegang area dada, skala nyeri 7, wajah klien tampak meringis menahan sakit, TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen ditandai dengan Pada saat beraktivitas klien mengatakan selalu dibantu dengan keluarganya, Klien terlihat lemah dan pucat karena beban jantung yang semakin berat, TD : 120/90 mmHg, s2hu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit.

E. Intervensi No Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasionalisasi TTD 1 Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan nyeri Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada klien selama 3 x 24 jam diharapkan Pola nafas tidak efektif berkurang dengan kriteria hasil: 1. kesulitan bernafas klien berkurang 2. Klien sudah jarang sesak ketika nafas 3. Klien sudah tidak terlihat cemas 4. Wajah klien sudah tidak terlihat pucat.

5. CRT kurang dari 2 detik. 6. TTV klien dalam rentang normal yaitu : TD : 110/70 120/80 mmHg RR : 16 24x/menit Nadi : 60 100x/menit Suhu : 36,5-37,50C 1. Kaji adanya pucat atau sianosis 2. Kaji kecepatan, irama, kedalaman dan usaha respirasi 3. Kaji respirasi yang berbunyi. 4. Posisikan klien untuk mengoptimalkan pernafasan 5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian oksigen 1. untuk mengetahui adanya gangguan sirkulasi oksigen didalam tubuh 2. untuk mengetahui seberapa besar klien inspirasi dan ekspirasi klien 3. untuk mengetahui adanya bunyi tambahan 4. Memberikan posisi yang nyaman kepada klien saat bernafas. 5. untuk memenuhi kebutuhan oksigen klien. Perawat Hijrah 2 Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan denyut atau irama jantung Setelah dilakukn tindakan keperawatan selama 3x24 jam pada Tn.K diharapkan curah jantung dapat kembali efektif dengan kriteria hasil : 1. Kien tidak merasa lelah dan sesak 2. TTV klien dalam rentang normal yaitu : TD : 110/70 120/80 mmHg RR : 16 24x/menit Nadi : 60 100x/menit Suhu : 36,5-37,50C 3. CRT kurang dari 2 detik. 1. Kaji TTV 2. Kaji status pernafasan dan tekanan darah klien 3. Anjurkan klien / keluarga untuk mengurangi stres / beban pikiran 4. Pindah posisi klien setiap 2 jam 5. Berikan terapi cairan infus 6. Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian O2 (bila diperlukan ) 1. Untuk mengetahui kondisi klien 2. Untuk mengetahui status pernafasan dan tekanan darah klien 3. Untuk mengurangi beban jantung / mengantisipasi adanya syok jantung akibat tekanan stresor yang mempengaruhi kerja jantung 4. Untuk menurunkan stasis sirkulasi perifer 5. untuk memenuhi cairan yang dibutuhkan klien 6. untuk membantu mengatasi kesulitan bernafas / sesak pada klien Perawat hijrah 3 Nyeri berhubungan dengan agen injury biologis Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pada Tn.K diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : 1. Klien mengatakan nyerinya berkurang dari skala 7 menjadi 4 2. Klien sudah tidak lagi menunujukkan ekspresi menahan nyeri, seperti memegang dada bila terasa nyeri 3. Wajah klien tampak tenang 4. TTV klien dalam rentang normal yaitu : TD : 110/70 120/80 mmHg RR : 16 24x/menit Nadi : 60 100x/menit Suhu : 36,5-37,50C 1. Kaji TTV

2. Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, frekuensi. 3. Ajarkan teknik relaksasi 4. Sediakan media pralihan nyeri ( seperti : TV, radio ) 5. Atur posisi klien senyaman mungkin (tergantung pada klien) 6. Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik 1. Untuk mengetahui kondisi klien 2. Untuk mengetahui tingkatan nyeri klien sehingga dapat dilakukan tindakan yang sesuai 3. Untuk memberikan kenyamanan klien dalam mengurangi nyeri 4. Untuk mengalihkan nyerinya 5. Supaya klien merasa nyaman dan tidak semakin merasa nyeri dengan posisi yang tidak nyaman 6. Untuk membantu meredakan nyeri dengan tekhnik farmakologi Perawat Hijrah 4 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pada Tn.K diharapkan dapat menunjukkan peningkatan aktivitas dengan kriteria hasil: 1. klien dapat beraktivitas dengan baik secara mandiri 2. klien dapat menyeimbangkan aktivitas dan istiraha sehingga klien tidak lemah 3. TTV klien dalam rentang normal yaitu : TD : 110/70 120/80 mmHg RR : 16 24x/menit Nadi : 60 100x/menit Suhu : 36,5-37,50C 1. Kaji TTV 2. Berikan informasi pada klien dan keluarga tentang kondisi penyakitnya 3. anjurkan klien untuk beraktivitas ringan dahulu 4. Anjurkan klien dan keluarga untuk menghindari menjadwalkan aktivitas perawatan selama periode istirahat 5. Anjurkan klien dan keluarga untuk mengatur pola istirahat yang benar 6. Bantu dan dampingi klien dalam beraktivitas sesuai kebutuhan 1. Untuk mengetahui status kesehatan klien 2. Agar klien dan keluarga tahu bagaimana seharusnya dapat membatasi aktivitas 3. Untuk menghindari adanya kelelahan pada klien 4. Agar klien dapat beristirahat dengan cukup 5. Agar klien dapat beristirahat dengan teratur sehingga kondisinya dapat stabil 6. Agar klien merasa diperhatikan dan jika klien mengalami kesulitan dalam suatu aktivitasnya dapat cepat dalam memberi bantuan Perawat Hijrah F. Implementasi Hari Pertama No Tanggal Waktu Implementasi Evaluasi TTD Dx.1 29 Maret 2011 08.00

08.00

08.00

08.55

09.15 1. Mengkaji adanya pucat atau sianosis S: klien mengatakan masih sesak pada saat bernafas O: pada kuku klien terdapat sianosis 2. Mengkaji kecepatan,irama,kedalaman dan usaha respirasi S: O: klien terlihat sesak pada saat bernafas 3. Mengkaji respirasi yang berbunyi. S: klien menanyakan frekuensi normal kepada klien O: klien terlihat diam 4. Memposisikan klien untuk mengoptimalkan pernafasan dengan posisi semi fowler S: klien mengatakan belum merasakan nyaman dengan posisi ini O: klien terlihat gelisah 5. Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian oksigen 29 Maret 2011 Pkl. 13.30 WIB S: Klien mengatakan masih sesak saat bernafas O: kuku klien masih terdapat sianosis, wajah klien masih pucat, TD : TD : 110/70 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit A: tujuan belum tercapai P: intervensi 1,2,3,4 dan 5 dilanjutkan Perawat Hijrah Dx.2 29 Maret 2011 08.00

08.00

08.35

08.55

09.15 09.15 1. Mengkaji TTV S : klien bersedia dilakukan pemeriksaan TTV

O : TD : 120/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 70x/menit, RR : 14x/menit 2. Mengkaji status pernafasan dan tekanan darah klien S :klien mengatakan dadanya sesak ketika bernafas O : TD : 110/90 mmHg, RR : 26x/menit 3. Menganjurkan klien / keluarga untuk mengurangi stres / beban pikiran S : klien mengatakan khawatir dengan keadaan penyakitnya O : klien tampak lemah 4. Memindah posisi klien setiap 2 jam S : klien mengatakan mau untuk melakukan pemindahan posisi O : klien mengikuti instruksi perawat dalam melakukan pemindahan posisi 5. Memberikan terapi cairan infus S :O : klien diberikan cairan NaCl 6. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian O2 (bila diperlukan ) S :O :klien diberikan oksigenasi 29 Maret 2011 Pkl. 13.30 WIB S : klien mengatakan masih sesak ketika bernafas O : klien masih tampak lemah dan terlihat kelelahan A : tujuan belum tercapai P : intervensi 1,2,3,4,5,6 dilanjutkan Perawat Hijrah Dx.3 29 Maret 2011 08:00

08.15

08.35

08.55

09.15 1. Melakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, frekuensi. S : klien mengatakan masih merasakan nyeri

O : wajah klien masih tampak meringis menahan sakit 2. Mengajarkan teknik relaksasi S : klien mengatakan sering menarik nafas dalam saat merasakan nyeri O : klien tampak sedikit tenang setelah melakukan teknik relaksasi 3. Menyediakan media peralihan nyeri ( seperti : TV, radio ) S: O: klien terlihat menghalihkan nyerinya dengan memanfaatkan media yang telah di sediakan. 4. Mengatur posisi klien senyaman mungkin( tergantung pada klien ) S: klien mengubah posisinya saat merasa nyeri O: klien terliahat mengubah posisinua saat merasakan sakit 5. Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik S: O: memberikan obat analgesic untuk mengurangi nyeri 29 Maret 2011 Pkl. 13.30 WIB S : klien mengatakan nyerinya masih terasa saat bernafas dan semakin terasa setelah beraktifitas yang berat O : klien masih terlihat meringis sambil memegang area dadanya menahan nyeri saat bernafas A : tujuan belum tercapai P : intervensi 1,2,4,5,6 dilanjutkan Perawat Hijrah Dx. 4 29 Maret 2011 08:00

08.15

08.35

08.55 1. Memberikan informasi pada klien dan keluarga tentang kondisi penyakitnya S: O : keluarga dan klien memperhatikan penjelasan dari perawat 2. Menganjurkan klien untuk beraktivitas ringan dahulu S : klien mengtakan nyeri setelah beraktivitas semakin nyerii bila aktivitas semakin berat O :klien melakukan aktivitas ringan 3. Menganjurkan klien dan keluarga untuk mengatur pola istirahat yang benar S : klien mengeluh susah beristirahat O : klien tampak lesu 4. Membantu dan dampingi klien dalam beraktivitas sesuai kebutuhan S : klien mengatakan keluarganya selalu membantunya dalam beraktivitas O :klien tampak kesulitan dalam melakukan aktivitas 29 Maret 2011 Pkl. 13.30 WIB S : klien mengatakan masih merasa kelelahan jika sering melakukan aktivitas dan setelah beraktivitas berat

O : klien terlihat kelelahan dan masih tergantung dengan keluarganya saat beraktivitas A : tujuan belum tercapai P : intervensi 1,2,3,4,5 dilanjutkan Perawat Hijrah

Hari Kedua No Tanggal Waktu Implementasi Evaluasi TTD Dx 1 30 Maret 2011 08.00

08.00

08.00

08.30

1. Memantau adanya pucat atau sianosis S :klien mengatakan masih sesak pada saat bernafas O: pada kuku klien terdapat sianosis 2. Memantau kecepatan,irama,kedalaman dan usaha respirasi S: O: klien terlihat sesak pada saat bernafas 3. Memantau respirasi yang berbunyi. S: klien menanyakan frekuensi normal kepada perawat O: klien terlihat diam 4. Memposisikan klien untuk mengoptimalkan pernafasan dengan posisi semi fowler S: klien mengatakan belum merasakan nyaman dengan posisi ini O: klien terlihat gelisah 30 Maret 2011 Pkl. 13.30 S : klien mengatakan masih sesak saat bernafas O : klien masih terlihat lemah dan gelisah A : tujuan belum tercapai P : intervensi 1,2,3, dan 4 dilanjutkan Perawat Hijrah Dx.2 30 Maret 2011 08.00

08.00

08.30

08.50

09.15 1. Memantau TTV S:O : dilakukan pemantauan TTV klien TD : 110/70 mmHg, suhu : 37,50C, nadi : 70x/menit, RR : 15x/menit 2. Memantau status pernafasan dan tekanan darah klien S:O : dilakukan pemantauan perkembangan status pernafasan dan tekanan darah klien 3. Membantu klien untuk mengubah posisi klien setiap 2 jam S : klien mengatakan lelah jika posisinya miring terus O : dilakukan perubahan posisi klien menjadi 4. Mengajak klien untuk refresing ke taman rumah sakit untuk mengurangi stress klien S : klien mengatakan jenuh dengan tindakan keperawatan diruangan O : klien terlihan murung posisi semi fowler 5. Memantau perkembangan pemberian cairan pada klien (terapi cairan infus) S:O : klien masih terlihat lemah 30 Maret 2011 Pkl. 13.30 S : klien mengatakan masih sesak ketika bernafas O : klien masih tampak lemah dan terlihat kelelahan, TD : 110/70 mmHg, suhu : 37,50C, nadi : 70x/menit, RR : 15x/menit A : tujuan belum tercapai P : intervensi 1,2,3,4,5,6 dilanjutkan Perawat Hijrah Dx.3 30 Maret 2011 08.00

08.00

08.00

08.30

08.30

09.15 1. Memantau TTV S:O : dilakukan pemantauan TTV klien TD : 110/70 mmHg, suhu : 37,50C, nadi : 70x/menit, RR : 15x/menit 2. Melakukan pengecekan perkembangan nyeri pada klien S : klien mengatakan nyerinya sudah tidak terlalu sakit O : klien tampak lebih nyaman 3. Memantau perkembangan nyeri klien dengan media peralihan nyeri S : klien mengatakan saat melihat televisi klien menjadi lebih baik O : klien terlihat lebih tenang 4. Mengevaluasi teknik relaksasi yang telah diajarkan sebelumnya S : klien mengatakan lebih nyaman setelah dilakukan teknik releksasi nafas dalam O : klien tampak lebih nyaman 5. Mengevaluasi posisi klien sebelumnya S : klien mengatakan lebih nyaman dengan posisi semi fowler atau posisi duduk 180 O :klien terlihat lebih baik dari sebelumnya 6. Memantau pemberian analgesic sebelumnya S:O : klien sudah terlihat jarang menunjukkan ekspresi kesakitan menahan nyeri 30 Maret 2011 Pkl. 13.30 S : klien mengatakan nyerinya masih terasa saat bernafas dan semakin terasa setelah beraktifitas yang berat O : klien masih terlihat meringis sambil memegang area dadanya menahan nyeri saat bernafas A : tujuan belum tercapai P : intervensi 1,2,4,5,6 dilanjutkan Perawat Hijrah Dx. 4 30 Maret 2011 08.00

08.30 08.30

08.30 08.50 1. Memantau TTV klien S:O : dilakukan pemantauan TTV klien TD : 110/70 mmHg, suhu : 37,50C, nadi : 70x/menit, RR : 15x/menit 2. Memantau aktivitas klien S:O : klien masih terlihat lemah 3. Memantau penjadwalan aktivitas klien S : klien mengatakan tidak terlalu kelelahan karena jadwal aktifitas yang tidak terlalu padat O : dilakukan pemantauan penjadwalan aktifitas klien 4. Memantau pola istirahat klien yang benar S :O : dilakukan pemantauan pola istirahat klien 5. Membantu dan mendampingi klien dalam beraktivitas sesuai kebutuhan S : klien mengatakan kelelahan jika sering beraktivitas sendiri O : klien masih tampak tergantung dengan keluarganya dalam beraktivitas 30 Maret 2011 Pkl. 13.30 S : klien mengatakan masih merasa kelelahan jika sering melakukan aktivitas dan setelah beraktivitas berat O : klien terlihat kelelahan dan masih tergantung dengan keluarganya saat beraktivitas A : tujuan belum tercapai P : intervensi 1,2,3,4,5 dilanjutkan Perawat Hijrah DAFTAR PUSTAKA diagnosis-dan-penatalaksanaan-pada-stenosis-aorta.html Diagnosis dan Penatalaksanaan Pada Stenosis Aorta H Panji Irawan.htm www.totalkesehatananda.com/aorticstenosis2.html stenosis-katup-aorta.html Penyebab Stenosis Katup Aorta (Aortic Stenosis) - SPESIALIS.INFO _ Cara Pengobatan Penyakit.htm Doenges, Marlynn E.2000.Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Oerawatan Pasien.Ed. 3.Jakarta : EGC. Brunner dan Suddrath ( alih bahasa Agung Waluyo, Monica Ester ).2001.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.edisi ke-8.Jakarta : EGC. Nanda, Nursing Diagnosis and Classification, Philadellphia: Lippincott. Judith M. Wilkinson( alih bahasa Widyawati, Eny Meiliya, Monica Ester ).2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC.edisi ke-7. Jakarta : EGC.

BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian Pada asuhan keperawatan di atas proses pengkajian yang dilakukan pada klien dengan diagnosa Stenosis Aorta, diperoleh penulis dengan melakukan wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik langsung kepada klien. Selain itu penulis mendapatkan keterangan dari keluarga.Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, akan tetapi juga disesuaikan dengan kondisi klien saat dikaji dan disesuikan dengan data untuk mendiagnosa penyakit. Pada saat dilakukan pengkajian klien dan keluarga cukup terbuka dan sudah terjalin hubungan trust antara klien dengan penulis sehingga mempermudahkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Hal ini dibuktikan dengan klien mau menjawab pertanyaan dan menerima saran yang diberikan oleh penulis. Data yang diperoleh dri pengkajian adalah Pada teori djelaskan bahwa pengkajian meliputi Aktivitas/istirahat, eliminasi, integritas ego, makanan/cairan, rasa nyeri/kenyamanan, pernafasan, keamanan. Semua pengkajian diatas dapat terkaji. B. Diagnosa Pada teori banyak diagnosa yang muncul pada penyakit Stenosis Aorta. Disini kita hanya mengambil diagnosa yang sesuai dengan pengkajian yang kita lakukan dan diagnosa yang dibuat merupakan diagnosa yang mungkin dapat menjadi prioritas utama/terpenting dalam penanganan klien dengan Stenosis Aorta. Diagnosa tersebut adalah : 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan nyeri ditandai dengan klien mengatakan sesak ketika bernafas. Klien tampak kelelahan ketika bernafas, TD : 110/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 110x/menit, RR : 26x/menit, saat dilakukan CRT kuku klien kembali kurang dari 2 detik. Dianosa ini kami angkat sebagai diognosa pertama karena dilihat dari kondisi klien dan tingkat kegawatannya. Pola nafas klien yang tidak efektif mengakibatkan klien tampak kelelahan saat bernafas sehingga harus mendapatkan penanganan segera untuk memperbaiki pola nafas klien menjadi efektif. 2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan denyut atau irama jantung ditandai dengan klien mengeluh mudah lelah atau lemah dan sesak saat bernafas, TD : 110/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 110x/menit, RR : 26x/menit, saat dilakukan EKG menunjukkan pembesaran ventrikel kiri dan fungsi sistole yang menurun, Saat difoto rotgen dada tampak ada penebalan dinding jantung, Klien terlihat lemah dan pucat. Diagnosa ini kami angkat sebagai diagnose kedua karena penurunan curah jantung ini membuat klien merasa sesak nafas karena denyut nadi yang cepat sehingga klien tampak lemah dan pucat. 3. Nyeri berhubungan dengan agen injury biologi ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada dadanya sambil memegang area dada, skala nyeri 7, wajah klien tampak meringis menahan sakit, TD : 110/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 110x/menit, RR : 26x/menit.

Diagnosa ini kami angkat sebagai diagnosa ketiga karena nyeri dapat membuat kesehatan klien terganggu dan membuat kesakitan pada klien. 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan ditandai dengan Pada saat beraktivitas klien mengatakan selalu dibantu dengan keluarganya, Klien terlihat lemah dan pucat karena beban jantung yang semakin berat, TD : 110/90 mmHg, suhu : 380C, nadi : 110x/menit, RR : 26x/menit Diagnosa ini kami gunakan sebagai prioritas diagnosa keempat karena diagnosa ini dapat mengganggu aktivitas klien sehari hari. Akibat beban jantung yang semakin berat membuat klien merasa kelemahan dan tidak kuat melakukan aktivitasnya. C. Intervensi dan Implementasi 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan nyeri, semua intervensi diimplementasikan pada hari pertama karena pada intervensi yang dilakukan akan dapat membantu klien memudahkan dalam bernafas. 2. Pada diagnosa kedua yaitu penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan denyut atau irama jantung, semua intervensi diimplementasikan pada hari pertama karena pada intervensi yang dilakukan akan dapat membantu klien untuk memperbaiki pemompaan jantung. Jika belum terjadi perubahan, pada hari kedua dan ketiga semua intervensi diimplementasikan. 3. Pada diagnosa kedua yaitu nyeri berhubungan dengan agen injury biologi, semua intervensi diimplementasikan pada hari pertama karena pada intervensi yang dilakukan dapat membantu klien dalam mengurangi nyeri. Jika belum terjadi perubahan, maka pada hari kedua dan ketiga semua intervensi diimplementasikan. 4. Pada diagnosa ketiga yaitu intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan, semua intervensi diimplementasikan pada hari pertama karena pada intervensi yang akan dilakukan akan dapat membantu klien dalam beraktivitas secara mandiri. Jika belum terjadi perubahan, maka pada hari kedua dan ketiga semua intervensi diimplementasikan. D. Faktor Pendukung dan Hambatan Implementasi Faktor pendukung dalam implementasi yaitu: 1. Beberapa implementasi yang melibatkan keluarga dapat terlaksana dalam sehari karena keluarga mau bekerjasama dengan perawat dalam melakukan tindakan keperawatan, klien juga menunjukkan sikap terbuka terlihat ketika dilakukan pengkajian pada klien, klien menjawab semua pertanyaan yang diajukan perawat. 2. Adanya kolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian terapi (analgetik, oksigenasi,cairan infus) Faktor penghambat dalam implementasi yaitu: 1. Klien mengalami nyeri yang hilang timbul, pada saat dilakukan tindakan keperawatan terkadang nyeri timbul tiba tiba sehingga menghambat tindakan keperawatan yang akan dilakukan. 2. Keterbatasan sumber referensi buku sebagai acuan penulis dan juga alat yang tersedia. Evaluasi Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan data objektif yang akan menunjukkan apakan tujuan asuhan keperawatan sudah tercapai sepenuhnya atau belum tercapai. Serta menentukan masalah apa yang perlu dikaji, direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali. Pada kasus Tn. K dengan stenosis aorta, setelah dilakukan pengkajian,

penetapan diagnosa keperawatan dan intervensi selama 3 hari pada diagnosa pertama, kedua dan ketiga serta implementasi selama 2 hari pada diagnosa pertama, kedua, ketiga dan keempat , maka dilakukan evaluasi dan diperoleh hasil : 1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan nyeri, tujuan belum tercapai karena klien masih terlihat sesak saat bernafas. 2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan denyut atau irama jantung, tujuan belum tercapai karena pemompaan jantung belum stabil, sehingga curah jantung belum normal. 3. Nyeri berhubungan dengan agen injury biologi, tujuan belum tercapai karena nyeri klien hilang timbul, sehingga menghambat tindakan keperawatan. 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan, tujuan belum tercapai karena klien masih merasa sesak ketika bernapas sehingga meningkatkan beban jantung dalam memompa darah dan mengakibatkan klien cepat lelah.