Anda di halaman 1dari 7

Persiapkan Kematian dengan Paliatif

24 Oct 2010
O Opini
O Warta Kota
Keluarga Menjadi Kunci Utama
UMUR manusia adalah rahasia Sang Pencipta. Namun, kita sering mendengar kata-kata dari
kalangan medis kalau usia hanya menunggu hari saja karena sakit yang diderita tidak bisa
disembuhkan lagi. Tetapi itu bukan berarti harus pasrah terhadap vonis itu. Kematian bisa
dipersiapkan.
Apa iya kematian bisa dipersiapkan? Ya bisa saja. Tetapi bukan diartikan untuk menunda atau
memperpanjang usia. Pasien dan keluarga bisa mempersiapkan kematian dengan perawatan
paliatiI. Perawatan paliatlI, mungkin masih asing didengar dan banyak tidak diketahui orang.
ProI dr R Sunaryadi Terjawinata SpTHT mengatakan, perawatan paliatiI didasari oleh surat
keputusan dari Menteri Kesehatan RI tentang kebijakan perawatan paliatiI yang dikeluarkan
pada tahun 2007. Berdasarkan deIinisi yang dikeluarkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO)
yang dilansir pada tahun 2005. perawatan paliatiI merupakan perawatan terpadu yang bertujuan
untuk meningkatkan kualitas hidup.
Caranya dengan meringankan nyeri dan penderitaan lain yang dirasakan oleh pasien,
memberikan dukungan spritual dan psikososial mulai dari diagnosa awal hingga dukungan
keluarga yang berduka.
Awalnya perawatan paliatiI ditujukan untuk penderita kanker. Seiring perjalanan waktu
perawatan ini Juga diberikan kepada penderita parkinson, stroke. AIDS, hingga usia lanjut.
"Perawatan paliatiI merupakan perawatan tim yang melibatkan multidlsiplin Ilmu. Ada ahli
radioterapi. kemoterapl, gizi, psikiater, spiritual," kata Sunaryadi kepada wartawan saat seminar
"World Hosplce Palliative Care Day. Kamis (7/10).
Dokter spesialis Iisik dan rehabilitasi Siti Annisa Nuhonnl mengatakan, perawatan paliatiI
berpijak untuk meningkatkan kualitas hidup dan menganggap kematian sebagai proses yang
normal, tidak mempercepat atau menunda kemauan, menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang
mengganggu . hingga menjaga keseimbangan psikolgois dan spiritual.
Sayangnya, perkembangan perawatan paliatiI di Indonesia tidak terlalu berkembang. Sampai saat
ini baru tujuh rumah sakit di enam ibu kota propinsi yang menyelenggarakan perawatan paliatiI
itu. Di Jakarta baru ada di RS Dharmais dan RSCM.
Menurut Sunaryadi, keterbatasan SDM masih menjadi kendala untuk mengadakan perawatan
paliatiI dan masih sulitnya untuk merubah mindset tenaga medis.
"Saat dididik tugasnya menyembuhkan penyakit. Mereka tidak mau gagal berupaya
menyembuhkan. Namun untuk pasien yang tidak mungkin disembuhkan seperti kanker stadium
lanjut, harus dilihat sebagai manusia seutuhnya, bukan penyakit itu sendiri," kata Sunaryadi yang
juga menjadi penasehat Masyarakat PaliatiI Indonesia yang bertugas di RS DR Soetomo
Surabaya, JawaTimur itu.
Sunaryadi memberikan contoh pasien penderita kanker payudara stadium lanjut. Saat dilakukan
kemoterapl atau dibedah, pasien akan merasakan nyerinya, namun penyakitnya tidak sembuh.
Untukhal seperti itu, perlu dilakukan perawatan paliatiI.
Dukungan keluarga
Banyak pasien lebih memilih dirawat di rumah daripada di rumah sakit ketika menyadari
penyakitnya tidak sembuh dan lebih dekat akan kematian. Anggota keluarga yang akan merawat
harus disiapkan dan didampingi.
Anggota keluarga yang merawat juga harus juga mendapatkan perhatian dan didampingi karena
mereka yang terus menerus berada dekat pasien. Ketika pulang ke rumah, anggota keluarga akan
dibekali untuk mengatasi keluhan pasien.
Nyeri merupakan keluhan yang paling banyak dirasakan. Terutama penderita kanker terminal
(stadium lanjut). Penggunaan morIin untuk mengatasi nyeri juga diberikan kepada anggota
keluarga. "Sampai saat ini tidak ada satu pun kasus morIin pasien digunakan untuk keperluan
lain karena mengedepankan kasihan atau nuranl kepada pasien," kata Siti Annisa Nuhonnl.
Selain nyeri, ada gangguan lain di saluran pencernaan, mual, muntah, diare, gangguan kulit
kering, koreng, dan kelemahan secara umum. "Keluarga menjadi kunci makna hidup buat pasien
perawatan paliatiI." kata Nuhonni dengan tegas.
Tidak ada beda jika pasien Ingin dirawat di rumah, terpenting tetap melakukan koordinasi dan
estaIet perawatan. Sebelum dirawat di rumah, sudah harus dipersiapkan detail dan matang,
kesiapan mental dan Iisik anggota keluarga serta jaminan kemudahan komunikasi antara perawat
dan dokter.
Keluarga selalu menjadi orang terdekat pasien sehingga Juga yang akan mengalami dampak
akibat salah satu anggotanya terkena penyakit terminal.
Menurut ProI Dr dr Soehartati Gondho-wlardjo, jika ada satu keluarga yang kena penyakit, 4 - 5
anggota keluarga yang lainnya terkena dampak. Dampak yang ditimbulkan dapat mencakup
berbagai aspek, baik aspek Iisik, psikologis sosial* dan spiritual.
Keluarga akan mengalami kelelahan akibat perubahan peran dalam keluarga, nutrisi yang tidak
terpenuhi, kurangnya waktu tidur, waktu untuk olahraga, mengerjakanhobi, dan melakukan
kegiatan sehari-harinya. Keluarga juga berpotensi untuk mengalami stres psikologis, misalnya
melihat kemunduran kondisi pasien, ketidak pastian akan masa depan, berubahnya pengaturan
Iinansial dan prioritas keluarga.
Spiritual
Bicara kematian biasanya dekat dengan spiritual dan agama. Namun, spiritual tidak hanya agama
saja. Terpenting tetap memberikan spirit kepada pasien untuk tetap beraktivitas apa pun yang
terjadi. "Nuhonni mengatakan, penanganan spiritual bukan hanya soal agama saja, namun yang
terpenting spirit atau semangat untuk hidup. "Terpenting selama dan sesudah pengobatan
kualitas hidup pasien optimal sesuai dengan kondisi dan situasi yang dihadapinya," katanya.
Misalnya, pasien tetap bisa melakukan kewajiban agama yang dianutnya bagaimanapun
kondisinya. Ketika dokter tidak bisa menjawab pertanyaan pasien berkaitan agama, di perawatan
paliatiI biasanya jugamelibatkan rohaniawan. Seperti ada pertanyaan pasien kanker usus besar
yang harus membawa kantong yang berisi Ieses (Unja) di perutnya. Lalu dia bertanya apakah
wudhu dan salatnya akan sah sementara di perutnya tergantung kantong/eses.
Nuhonni mengatakan, baik anggota keluarga atau pasien yang menderita penyakit terminal
(parah) sangat rentan depresi. "Jangankan sudah terkena, baru memeriksakan ke laboratorium
saja dan mau melihat hasilnya, pasien begitu sangat takut dan stres. Dan, kondisi psikologis akan
terus berlangsung jika hasil dari lab positiI," katanya.
Pada penyakit terminal, terjadi berbagai perubahan- dalam kehidupan pasien baik sebagai
individu maupun dalam kehidupan berkeluarga. Berbagai perubahan tersebut dapat menjadi
Iaktor pencetus terjadinya depresi pada pasien maupun keluarganya.
Faktor pencetus ini dapat berupa peristiwa dukacita, perpisahan atau kehilangan orang yang
dicintai hingga kesulitan ekonomi, (lis)

Ringkasan Artikel Ini
aranya dengan meringankan nyeri dan penderitaan lain yang dirasakan oleh pasien,
memberikan dukungan spritual dan psikososial mulai dari diagnosa awal hingga
dukungan keluarga yang berduka. Dokter spesialis fisik dan rehabilitasi Siti Annisa
Nuhonnl mengatakan, perawatan paliatif berpijak untuk meningkatkan kualitas hidup
dan menganggap kematian sebagai proses yang normal, tidak mempercepat atau menunda
kemauan, menghilangkan nyeri dan keluhan lain yang mengganggu . Namun untuk pasien
yang tidak mungkin disembuhkan seperti kanker stadium lanjut, harus dilihat sebagai
manusia seutuhnya, bukan penyakit itu sendiri," kata Sunaryadi yang juga menjadi
penasehat Masyarakat Paliatif Indonesia yang bertugas di RS DR Soetomo Surabaya,
1awaTimur itu. Anggota keluarga yang merawat juga harus juga mendapatkan perhatian
dan didampingi karena mereka yang terus menerus berada dekat pasien. Menurut Prof Dr
dr Soehartati Gondho-wlardjo, jika ada satu keluarga yang kena penyakit, 4 - 5 anggota
keluarga yang lainnya terkena dampak. Keluarga akan mengalami kelelahan akibat
perubahan peran dalam keluarga, nutrisi yang tidak terpenuhi, kurangnya waktu tidur,
waktu untuk olahraga, mengerjakanhobi, dan melakukan kegiatan sehari-harinya.
"Terpenting selama dan sesudah pengobatan kualitas hidup pasien optimal sesuai dengan
kondisi dan situasi yang dihadapinya," katanya. Seperti ada pertanyaan pasien kanker
usus besar yang harus membawa kantong yang berisi feses (Unja) di perutnya.
hLLp//baLavlasecold/node/431280

Menurut data Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, soal perawatan menyeluruh pada
penderita penyakit terminal atau perawatan paliatiI menyumbang 75,5 persen masalah untuk
keluarga. Akarnya adalah ketidaktahuan akan konsep perawatan. "Selama ini kita biasa
mempersiapkan kelahiran, tapi tidak mempersiapkan kematian," kata dokter Siti Annisa Nuhonni
dari Departemen Rehabilitasi Medik RSCM seusai seminar yang merupakan rangkaian
peringatan Hari Hospis dan Perawatan PaliatiI Sedunia, Kamis dua pekan lalu.
Terkait dengan soal "mempersiapkan kematian" itulah tema peringatan tahun ini: "Peduli
Perawatan PaliatiI untuk Sesama". Tujuannya agar kesadaran akan pentingnya perawatan paliatiI
dapat meningkat sehingga meminimalisasi masalah seperti yang menimpa keluarga Hadi.
Perawatan paliatiI (dari bahasa Latin, palliare, yang artinya untuk menyelubungi) terutama
diberikan kepada penderita dengan status terminal atau sudah tidak dapat ditangani dengan
pengobatan kuratiI atau penyembuhan. Perawatan bertujuan meringankan beban penderita,
dengan membebaskannya dari nyeri akibat sakit, juga gangguan Iisik dan psikis lainnya.
"Sehingga ruas akhir kehidupan si pasien tetap berkualitas," kata ProIesor Sunaryadi
Tedjawinata, pembina Pusat Pengembangan PaliatiI dan Bebas Nyeri Rumah Sakit Umum
Daerah Dr Soetomo, Surabaya, sekaligus penasihat pengurus pusat Masyarakat PaliatiI
Indonesia.
Menurut Sunaryadi, perawatan paliatiI merupakan hakikat pengobatan itu sendiri, yakni berIokus
pada manusia seutuhnya, bukan semata penyakitnya. Nah, manusia yang sakit, terutama di
stadium terminal, niscaya mengalami kemerosotan Iisik, psikis, dan spiritual. Akumulasinya
mendatangkan penderitaan yang lebih berat dibanding penyakit utama.
Dari catatan Siti Annisa di RSCM, beberapa penderitaan yang umum dijumpai pada pasien
paliatiI adalah nyeri, gangguan saluran cerna, gangguan kulit (luka, stoma, dan dekubitus), tubuh
lemah, gangguan respirasi sesak batuk, gangguan saluran kemih, serta bingung. Persentase
paling tinggi: nyeri (68,9 persen) dan bingung yang mewakili gangguan psikis lain (35,6 persen).
Perawatan untuk mengurangi penderitaan itu idealnya dilakukan bersama pengobatan kuratiI
yang tengah berjalan. Perawatan paliatiI dilakukan terintegrasi, tidak hanya oleh dokter dan
perawat, juga terapis, petugas sosial medis, psikolog, rohaniwan, serta sukarelawan.
Lokasi perawatan paliatiI bisa di rumah sakit atau poliklinik khusus paliatiI, bisa juga di rumah
sendiri dengan perawat yang sesekali datang, atau di hospis jika di rumah tidak ada yang bisa
memberikan perawatan, sedangkan penderita membutuhkan suasana rumah. Hospis menjadi
rumah perawatan tanpa suasana rumah sakit.
Di Indonesia belum ada angka pasti kebutuhan perawatan paliatiI. "Penelitian bidang ini kurang
populer," kata Siti Annisa, salah satu Ketua Masyarakat PaliatiI Indonesia. Padahal, dengan
perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia, perawatan paliatiI sudah perlu ditingkatkan.
Sejauh ini perawatan paliatiI baru ditemukan di enam ibu kota provinsi: DKI Jakarta, Jawa Barat,
Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan. "Mengembang dengan merayap lambat,"
kata Sunaryadi.
Kebutuhan perawatan bisa dilihat dari pertumbuhan penderita penyakit mematikan. Prevalensi
kanker, misalnya, menurut data riset kesehatan 2007 di Indonesia, sudah mencapai 4,3 per 1.000
orang. HIV/AIDS, pada 2005, jumlah kumulatiI penderitanya 5.320 orang, dan per 30 Juni 2010
dilaporkan kasus 21.770 penderita yang tersebar di 32 provinsi. Selain itu, penduduk lanjut usia
yang membutuhkan perawatan paliatiI meningkat, sudah mencapai 7 persen penduduk dari 4,5
persen tiga dasawarsa lalu.

RAWATAN RSTORATIF

Sindroma gagal-pulih dianggap sebagai prediktor kejadian jatuh, hospitalisasi, disabilitas yang
memburuk dan kematian pada lanjut usia.14 Deteksi dini dan intervensi prevensi primer untuk
mengatasi gejala yang timbul dapat mencegah atau menunda timbulnya gagal-pulih. Bentuk
intervensi tersebut adalah metode perawatan restoratiI atau perawatan pemulihan (restorative
care). Perawatan restoratiI merupakan bentuk intervensi keperawatan yang berIokus pada upaya
membantu lanjut usia dalam proses pemulihan dan atau pemeliharaan kapasitas Iungsional
Iisiknya serta memberikan bantuan agar lanjut usia dapat mengkompensasikan kemunduran
Iungsional Iisiknya sehingga mampu mencapai derajat Iungsional yang optimal dan mampu
melakukan AKS secara mandiri, misalnya : mandi, memakai baju, berjalan, dan kegiatan
lainnya. Perawatan restoratiI sebenarnya telah dikembangkan di era 1950-an, namun mulai
diperbincangkan kembali dalam praktik keperawatan di Amerika Serikat pada tahun 1998 untuk
mengkalkulasi standar pembayaran jasa pelayanan keperawatan pada program pemulihan pasien
di rumah sakit maupun institusi pelayanan keperawatan lainnya. Perawatan restoratiI bukanlah
terapi yang bertujuan untuk mengurangi keterbatasan atau kecacatan (limitation) lanjut usia,
meskipun hasil dari upaya pemulihan kapasitas tidak sepenuhnya sama seperti kondisi sediakala.

Perawatan restoratiI menitikberatkan pada upaya preventiI terhadap meluasnya dampak
ketergantungan Iisik, menurunnya aktivitas dan keterbatasan mobilitas. Oleh karena itu,
perawatan restoratiI digunakan untuk memaksimalkan kemampuan lanjut usia (ability) melalui
peningkatan mekanisme selI-care, kemandirian, kualitas hidup, gambaran diri (selI-image) dan
harga diri (selI-esteem). Menurut Resnick (2004), terminologi perawatan restoratiI berbeda
dengan perawatan rehabilitasi (rehabilitation nursing). Perawatan rehabilitasi lebih berIokus pada
upaya rehabilitasi seseorang sebagai akibat dari terjadinya penyakit atau cedera, misalnya: strok,
Iraktur panggul, atau dislokasi sendi. Tujuan yang ingin dicapai melalui rehabilitasi ditetapkan
bersama oleh tim rehabilitasi yang terdiri dari banyak proIesi (misalnya: dokter, perawat,
psikolog, dokter gigi, Iisioterapis, okupasiterapis, prostetik dan ortetik, terapis wicara, dan ahli
gizi), namun target hasil intervensi sangat erat kaitannya dengan indikator medis.

Aplikasi perawatan restoratiI merupakan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas Iungsional dengan jalan melatih klien melakukan AKS secara mandiri
dan terstruktur. Berbagai studi intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan AKS
memperlihatkan bahwa penurunan kapasitas Iungsional lanjut usia dapat distabilkan atau
dikurangi meskipun tidak dapat pulih seperti sediakala. Hasil pemulihan kapasitas Iungsional
lanjut usia tergantung dari pola dan jenis intervensi perawatannya, oleh karenanya perlu
diberikan jenis intervensi yang spesiIik dan eIektiI sesuai dengan permasalahannya.

Kelebihan perawatan restoratiI adalah metode ini memiliki teknik yang sederhana dan mudah
dilakukan oleh siapapun. Sehingga perawatan restoratiI dapat dilakukan oleh asisten perawat,
keluarga atau orang-orang terdekat klien yang telah dilatih namun tetap dalam pengawasan
perawat. Sebuah penelitian telah mengkomparasikan manIaat model perawatan restoratiI yang
diberikan secara individu dengan pendekatan keperawatan pada umumnya. Penelitian tersebut
menunjukkan bahwa perawatan restoratiI memiliki kemungkinan lanjut usia untuk tetap tinggal
di rumah lebih besar (82 vs 71; odds ratio |OR| 1,99; 95CI 1,47-2,69), menurunkan
kemungkinan dirujuk ke unit gawat darurat (10 vs 20; OR 0,44; 95 CI 0,32-0,61), lama
perawatan di rumah lebih pendek (mean |SD| 24,8 |26,8| hari vs 34,3 |44,2| hari; p p "
0,07" p " 0,05" p " 0,02"~

Perawatan restoratiI memiliki manIaat yang lebih besar terhadap luaran kapasitas Iisik dan
psikologis lanjut usia dibandingkan dengan intervensi keperawatan yang konservatiI. Menurut
laporan Sacre, implementasi perawatan restoratiI telah meningkatkan kapasitas Iungsional
terhadap 86 lanjut usia yang dirawat di panti jompo pada dua minggu pertama perawatan
mereka. Tujuan utama perawatan restoratiI, adalah : (1) meningkatkan mobilitas Iisik yang
optimal, (2) meningkatkan atau menjaga kekuatan dan koordinasi otot, (3) meningkatkan
pengawasan diri, (4) mencegah kontraktur, (5) meningkatkan kemandirian AKS atau perawatan
diri, (6) mencegah terjadinya cedera, (7) meningkatkan aktivitas sosial, (8) meningkatkan
kepekaan terhadap pencapaian prestasi (sense oI accomplishment), (9) mencegah isolasi sosial
dan depresi, (10) meningkatkan kemampuan motorik, (11) meningkatkan kemampuan
berkomunikasi, (12) meningkatkan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang berarti, (13)
meningkatkan martabat dan peran sosial, dan (14) meningkatkan moralitas dan kepuasan dalam
bekerja.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh perawat di saat memberikan perawatan restoratiI,
adalah : (1) pahami bahwa setiap lanjut usia memiliki keunikan kapasitas dan keterbatasan Iisik,
kaji kapasitas dalam merawat diri, status mental, motivasi, dan dukungan keluarga; (2) prioritas
intervensi lebih diIokuskan pada kapasitas yang telah dimiliki atau yang lebih mudah untuk
dipulihkan; (3) sesuaikan waktu latihan dengan kebiasaan lanjut usia; (4) berikan
penghargaan/pujian apabila lanjut usia mampu melakukan latihan dengan lebih baik; (5)
pemberian latihan sesuaikan dengan kondisi penyebab gagal-pulih, apakah disebabkan disabilitas
Iisik atau disabilitas mental; (6) hindarkan adanya komplikasi atau hal-hal yang berisiko,
misalnya cedera, isolasi social, depresi); (7) dorong optimisme dengan harapan yang lebih baik
dan rasa humor; dan (8) upaya pemulihan sangat bergantung pada proses individu dan dukungan
tim kesehatan lainnya.

Disampaikan dalam Temu Ilmiah Geriatri Semarang pada harI Sabtu tanggal 29 |aret
2008 dI Hall nstalasI CerIatrI Lt. (Pav. Lanjut UsIa Prof. 8oedhI 0armojo) FS 0r.
KarIadI Semarang
posted by Bondan Palestin at 3.05 PM