Anda di halaman 1dari 5

Kondisi Hutan Mangrove di wilayah Kerja BPDAS Kapuas

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kapuas merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (Ditjen RLPS), Departemen Kehutanan. Wilayah kerja BPDAS Kapuas meliputi Provinsi Kalimantan Barat.

A. Habitat Mangrove. Vegetasi mangrove di Propinsi Kalimantan Barat ditemukan tumbuh dengan baik pada sistem lahan PTG (Putting), KJP (Kajapah), dan KHY (Kahayan). Sistem lahan PTG dan KJP adalah sistem lahan yang menyebar pada daerah pesisir dimana sistem lahan PTG memiliki fisiografi pantai dan sistem lahan KJP memiliki fisiografi rawa pasang surut. Sedangkan sistem lahan KHY menyebar jauh ke arah darat terutama daerah dataran rendah yang basah dan tergenang air seperti pinggiran sungai atau danau, karena sistem lahan ini memiliki fisiografi dataran aluvial. Berdasarkan Peta Landsystem RePPProT Propinsi Kalimantan Barat luas total sistem lahan PTG, KJP dan KHY di Propinsi Kalimantan Barat adalah 847.425,2 Ha sedangkan luas sistem lahan PTG, KJP dan KHY di kabupatenkabupaten pesisir Propinsi Kalimantan Barat adalah 828.859,21 Ha dengan penyebaran sebagai berikut : Tabel 5.1 : Penyebaran dan luas Sistem Lahan PTG, KJP, KHY
NO 1 1 2 3 4 5 Sambas Bengkayang Singkawang Pontianak Ketapang TOTAL
Sumber: Peta Landsystem RePPProT

Kabupaten / Kota 2

Luas Sistem Lahan (Ha) PTG 3 18,052.39 195.43 11,163.35 29,411.17 KJP 4 10,587.81 246.07 166,413.73 52,780.59 230,028.20 KHY 5 171,867.07 16,204.23 8,712.10 225,286.28 147,350.17 569,419.84 TOTAL 6 200,507.27 16,204.23 8,958.18 391,895.43 211,294.11 828,859.21

1. Biofisik Sistem Lahan PTG (Putting) Sistem Lahan PTG memiliki bentuk bentang lahan dataran beting pantai berpasir dengan topografi datar (slope 0 8%) dan ketinggian 0 3 mdpl. Jenis tanah pada sistem lahan ini adalah Psammaquent dan Tropopsamment yang butiran tanahnya kasar sampai dengan halus. Berdasarkan litologi-nya PTG memiliki karakteristik endapan kasar aluvial laut; pasir kasar, kerikil; lunak. Karena letaknya yang berada di pinggiran muara sungai dengan topografi datar sistem lahan PTG memiliki air permukaan payau dan tawar. Kesuburan kimia dan fisik tanah rendah, kesuburan biologi sedang dan kesuburan klimatik tanah tinggi. Vegetasi yang umum tumbuh adalah vegetasi mangrove.

2. Biofisik Sistem Lahan KJP (Kajapah) Sistem Lahan KJP memiliki bentuk bentang lahan dataran pantai berlumpur dengan topografi datar (slope 0 3%) dan ketinggian 0 1 mdpl. Jenis tanah pada sistem lahan ini adalah Sulfaquent yang butiran tanahnya halus. Berdasarkan litologi-nya KJP memiliki karakteristik endapan aluvial laut; endapan aluvial estuarin baru; lunak. Karena letaknya yang berada di pinggiran pantai dengan topografi datar sistem lahan KJP memiliki air permukaan air asin. Kesuburan kimia tanah rendah sedang, kesuburan fisik tanah baik, kesuburan biologi dan kesuburan klimatik tanah baik. Vegetasi yang umum tumbuh adalah vegetasi mangrove. 3. Biofisik Sistem Lahan KHY (Kahayan) Sistem Lahan KHY memiliki bentuk bentang lahan dataran aluvial sungai dengan topografi datar (slope 0 3%) dan ketinggian 0 10 mdpl. Jenis tanah pada sistem lahan ini adalah Fluvaquents, Haplaquepts, dan

Tropohemist, yang butiran tanahnya halus s/d sedang. Berdasarkan litologinya KHY memiliki karakteristik endapan aluvial sungai; lunak. Sistem lahan KHY menyebar dari daerah pinggiran pantai ke arah darat pada daerah dataran rendah pinggiran sungai. Karena itu pada sistem lahan ini air permukaan yang mengalir padanya adalah air payau dan atau air tawar. Kesuburan kimia tanah sedang, kesuburan fisik tanah baik, kesuburan biologi baik dan kesuburan klimatik tanah sangat baik. Vegetasi yang umum tumbuh adalah vegetasi hutan riparian termasuk vegetasi mangrove. Sistem lahan KHY merupakan sistem lahan yang penyebarannya paling luas diantara sistem lahan PTG dan KJP, namun hanya sebagian dari sistem lahan ini yang benar benar merupakan habitat tumbuh vegetasi mangrove yaitu pada daerah pesisir pantai atau tepian sungai yang dipengaruhi salinitas air laut.

B. Vegetasi Mangrove Vegetasi mangrove di Propinsi Kalimantan Barat di temukan di 4 Kabupaten dan 1 Kota yaitu Kabupaten Sambas, Bengkayang, Pontianak,Ketapang dan Kota Singkawang. Total luas vegetasi mangrove berdasarkan interpretasi data citra satelit 7 ETM+ Tahun 2006 adalah seluas 138.869,65 Ha yang diklasifikasikan menjadi mangrove Primer, mangrove sekunder, dan mangrove jarang.

Mangrove primer adalah mangrove dengan kerapatan vegetasi tingkat pohon antara 500 1.000 pohon/ha, mangrove sekunder adalah mangrove dengan kerapatan vegetasi tingkat pohon antara 200 s/d 499 pohon/ha, sedangkan

mangrove jarang adalah mangrove dengan kerapatan vegetasi tingkat pohon di bawah 200 pohon/ha. Penyebaran vegetasi mangrove adalah sebagai berikut: Tabel 5.2 : Penyebaran Vegetasi Mangrove Propinsi Kalimantan Barat
Kabupaten/ Kota 2 Sambas Luas Vegetasi Mangrove (Ha) Mangrove Mangrove Mangrove Primer Sekunder jarang 3 4 5 9,209.50 -

NO 1 1

TOTAL 6 9,209.50

2 3 4 5

Bengkayang Singkawang Pontianak Ketapang TOTAL

845.60 845.60

1,013.08 95,000.22 32,145.61 137,368.40

655.65 655.65

1,013.08 655.65 95,845.82 32,145.61 138,869.65

Sumber: interpretasi data citra satelit 7ETM+ tahun 2006

Berdasarkan tabel 5.2 di atas terlihat bahwa di Kalimantan Barat kelas vegetasi mangrove terbanyak adalah kelas vegetasi mangrove sekunder yang menyebar di Kabupaten Sambas, Bengkayang, Pontianak dan Ketapang, sedangkan di Kota Singkawang hanya terdapat mangrove dengan kelas vegetasi mangrove jarang. Vegetasi mangrove primer hanya terdapat di Kabupaten Pontianak dengan luas 845,6 ha. Besarnya luasan Kelas vegetasi mangrove sekunder menunjukkan adanya gangguan terhadap vegetasi mangrove, karena secara umum mangrove adalah tegakan hutan yang selalu hijau yang tetap akan berada pada kondisi klimaksnya jika tidak mengalami gangguan. Untuk mengetahui kondisi vegetasi pada kelas vegetasi mangrove primer, mangrove sekunder dan mangrove jarang dilakukan analisis vegetasi dengan hasil sebagai berikut: 1. Kabupaten Sambas. Vegetasi mangrove di kabupaten sambas adalah vegetasi mangrove sekunder dengan kerapatan vegetasi 289,5 pohon/Ha, dimana jenis dominan untuk tingkat pohon adalah jenis Buta buta (Excoecaria sp.) dan jenis co-dominan adalah jenis Bakau (Rhizophora sp).

Excoecaria sp. adalah vegetasi

mangrove yang umumnya tumbuh di belakang formasi Rhizophora sp. Formasi yang ditumbuhi jenis excoecaria sp ini merupakan formasi yang mendekati daratan bersama sama dengan jenis Ceriops sp. dan Nypa sp. Kerapatan vegetasi mangrove pada tingkat pancang dan semai terlihat jauh berbeda dengan kerapatan vegetasi pada tingkat pohon. Pada tingkat pancang kerapatan vegetasi yang terukur adalah 42,25 ind/Ha sedangkan pada tingkat semai adalah 53,75 ind/Ha. Pada tingkat pancang dan semai jenis yang dominan adalah jenis Rhizophora sp. sedangkan jenis co-dominan pada tingkat pancang adalah jenis Tengar (Ceriops sp.) dan co-dominan pada tingkat semai adalah jenis Excoecaria sp. Perbedaan kerapatan vegetasi antara tingkat pohon dengan tingkat permudaan (pancang dan semai) menunjukkan bahwa terjadi ganguan yang belum lama terhadap kondisi klimaks, dimana vegetasi mangrove tingkat pohon berkurang jumlahnya secara cepat sementara vegetasi pada tingkat permudaan masih belum mengambil alih gap habitat yang terbuka akibat kehilangan vegetasi pohon. Vegetasi magrove merupakan vegetasi intoleran yang membutuhkan sinar matahari sehingga pada kondisi klimaks dengan tutupan tajuk sangat rapat hanya sedikit terdapat vegetasi tingkat permudaan.

2. Kabupaten Bengkayang Vegetasi mangrove di Kabupaten Bengkayang adalah vegetasi mangrove sekunder dengan kerapatan vegetasi tingkat pohon 249,75 pohon/Ha, dimana hanya terdapat 2 jenis vegetasi mangrove yaitu Api api (Avicennia

sp.) dan Bakau (Rhizophora sp). Jenis yang dominan adalah jenis Avicennia sp. dan jenis co-dominan adalah jenis Rhizophora sp. dominansi Avicennia sp sangat tinggi dengan kerapatan 226,5 pohon/Ha sedangkan Rhizophora sp. hanya 23,25 Pohon/Ha. Avicennia sp. merupakan jenis pioner dalam
komunitas mangrove, yang tahan terhadap salinitas ekstrim air laut pada saat pasang sehingga Avicennia sp. biasanya tumbuh di tepi pantai dan merupakan formasi terdepan dalam zona vegetasi mangrove. Pada tingkat permudaan (pancang dan semai) juga didominasi oleh jenis

Avicennia sp. dan co-dominansi oleh Rhizophora sp. Kerapatan individu jenis Avicennia sp. pada tingkat pancang dan semai juga jauh lebih tinggi daripada
kerapatan individu jenis Rhizophora sp. yaitu 558,5 ind/Ha untuk pancang dan 254,25 ind/Ha untuk semai. Tingkat kerapatan yang tinggi pada

vegetasi permudaan menunjukkan bahwa kondisi hutan mangrove tersebut merupakan mangrove sekunder yang sudah cukup lama bahkan

kemungkinan besar mengalami gangguan yang berulang sehingga vegetasi permudaan dapat berkembang mengisi ruang yang terbuka. Hal tersebut juga ditegaskan oleh jenis yang menguasai yaitu jenis Avicennia sp. yang merupakan jenis pioner dan tumbuh dipinggir pantai yang menunjukkan bahwa vegetasi mangrove yang ada merupakan vegetasi mangrove yang tipis yang hanya memiliki 1 2 formasi saja.

3. Kota Singkawang Vegetasi mangrove di Kota Singkawang adalah vegetasi mangrove jarang dengan kerapatan vegetasi tingkat pohon 156 pohon/Ha, dimana jenis yang dominan adalah jenis Avicennia sp. dan jenis co-dominan adalah jenis Excoecaria sp. Jenis Excoecaria sp. merupakan jenis yang terdapat pada formasi di belakang formasi Rhizophora sp. dan merupakan formasi yang mendekati daratan. Ditemukannya Avicennia sp. sebagai jenis dominan dan Excoecaria sp. sebagai jenis co-dominan menunjukkan bahwa kondisi vegetasi mangrove tersebut telah mengalami gangguan yang intensif dan berulang sehingga hanya tersisa formasi Pioner Avicennia sp. dan formasi asosiasi yang diwakili oleh jenis Excoecaria sp., yang ditegaskan oleh ditemukannya jenis jenis Terminalia catapa, Hibiscus tileaceus, dan Ficus sp. yang merupakan jenis vegetasi pembentuk hutan pantai. 4. Kabupaten Pontianak Vegetasi mangrove di Kabupaten Pontianak adalah terdiri dari vegetasi mangrove primer dan sekunder.

Vegetasi mangrove primer Kabupaten Pontianak dicirikan dengan kerapatan vegetasi tingkat pohon sangat tinggi yaitu 1708,5 pohon/Ha, dimana jenis yang dominan adalah jenis Rhizophora sp. dan jenis co-dominan adalah jenis Tumu (Bruguiera sp.) Dominansi Rhizophora sp. sangat tinggi dengan

kerapatan 1550,25 pohon/Ha dengan kerapatan co-dominannya 155,75 Pohon/Ha. Kerapatan vegetasi mangrove yang tinggi menunjukkan bahwa komunitas vegetasi tersebut berada pada kondisi klimaks tanpa gangguan yang berarti. Hal tersebut terlihat juga dari kondisi vegetasi tingkat permudaan (pancang dan semai) yang hanya terdiri dari jenis Rhizophora sp. dan Bruguiera sp. dengan kerapatan vegetasi tingkat pancang 60 ind/Ha untuk jenis Rhizophora sp. sebagai jenis yang dominan sedangkan codominannya adalah jenis Bruguiera sp. dengan kerapatan vegetasi tingkat pancang 38 ind/Ha. Pada tingkat semai dominansi juga ada pada jenis

Rhizophora sp. dengan kerapatan vegetasi 40 ind/Ha dan jenis codominannya jenis Bruguiera sp. dengan kerapatan vegetasi 38 ind/Ha. Pada tingkat vegetasi permudaan, jenis dominan dan co-dominan memiliki kerapatan yang tidak jauh berbeda, yang menunjukkan telah tercapainya kondisi stabil dari komunitas klimaks. 5. Kabupaten Ketapang Vegetasi mangrove di Kabupaten Ketapang adalah vegetasi mangrove sekunder yang dicirikan dengan kerapatan vegetasi tingkat pohon yang tidak rapat yaitu 208,75 Phn/Ha, dimana jenis yang dominan adalah jenis Bruguiera sp dan jenis co-dominan adalah jenis Rhizophora sp., Bruguiera

sp. memiliki kerapatan vegetasi 108,75 phn/Ha sedangkan Rhizophora sp.


memiliki kerapatan 97,50 phn/Ha. Kerapatan vegetasi mangrove pada tingkat pancang dan semai terlihat jauh berbeda dengan kerapatan vegetasi pada tingkat pohon. Pada tingkat pancang kerapatan vegetasi yang terukur adalah 18,50 ind/Ha sedangkan pada tingkat semai adalah 75,00 ind/Ha, dan hanya ditemukan satu jenis saja yaitu jenis Rhizophora sp. Perbedaan kerapatan vegetasi antara tingkat pohon dengan tingkat permudaan (pancang dan semai) menunjukkan bahwa terjadi ganguan yang belum lama terhadap kondisi klimaks, dimana vegetasi mangrove tingkat pohon berkurang jumlahnya secara cepat sementara vegetasi pada tingkat permudaan masih belum mengambil alih gap habitat yang terbuka akibat kehilangan vegetasi pohon. Vegetasi magrove

merupakan vegetasi intoleran yang membutuhkan sinar matahari sehingga pada kondisi klimaks dengan tutupan tajuk sangat rapat hanya sedikit terdapat vegetasi tingkat permudaan.