Anda di halaman 1dari 2

T /Jurtem/2011 Aulia Laratika Rizal M.

Diaz Bonny Syahdino Pratama

Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia

Tenaga

Kerja

Indonesia (disingkat TKI) bekerja di luar

adalah negeri

sebutan

bagi

warga

negara Indonesia yang

(seperti Malaysia, Timur

Tengah, Taiwan, Australia dan Amerika Serikat) dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Namun demikian, istilah TKI seringkali dikonotasikan dengan pekerja kasar. TKI perempuan seringkali disebut Tenaga Kerja Wanita. TKI sering disebut sebagai pahlawan devisa karena dalam setahun bisa menghasilkan devisa 60 trilyun. Indonesia merupakan pemasok TKI terbanyak ke Malaysia. Di Malaysia TKI Indonesia banyak yang dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan dalam pemberitaan mengenai TKI di Malaysia, Malaysia menggunakan kata pembantu rumah. Namun ironinya pahlawan devisa Indonesia ini, banyak mendapatkan perlakuan yang tidak sesuai dengan seharusnya. Banyak terjadi kasus penganiyaan di Malaysia. Berdasarkan viva news.com KBRI menerima aduan mengenai kasus penganiayaan di Malaysia hingga 1001 per tahunnya. Di Indonesia pemberitaan mengenai Tenaga kerja yang di aniaya di Indonesia sangatlah gencar. Tak tanggung-tanggung jika ada TKI yang dipulangkan karena kasus penganiyaan , media akan memberitakan dengan detail, mulai dari sampainya mereka di Indonesia hingga memperlihatjan ke khalayak. Media di Indonesia seperti menjudge Malaysia lah yang salah atas terjadinya penganiayaan para TKI ini.

Seolah masalah TKI ini hanya dipandang lewat satu dimensi saja. Pemulangan dan penghentian TKI di Malaysia akhirnya berbuntut aksi unjuk rasa diberbagai daerah di Indonesia. Di Malaysia justru berbeda, salah satu media di sana memberitakan TKI dengan sebutan pembantu rumah dan mengatakan TKI merupakan rekan mereka dan harus diperlakukan secara layak. Tapi seperti yang kita tahu bahwa Malaysia merupakan Negara Monarki konstitusional federal. Untuk pemberitaan maka dimalaysia tak seperti Indonesia yang bebas mengkritisi pemerintah. Kondisi media di Malaysia saat ini sama halnya dengan kondisi media di era Orde Baru, dimana semua media dikuasai oleh pemerintah, dan dijadikan corong dan alat propaganda politik oleh pemerintah, media yang mencoba mengkritisi pemerintah, maka di breidel oleh pemerintah Orde Baru. Tapi di tahun 1998, media berperan besar dalam mendukung gerakan reformasi, sehingga gerakan people power menjadi efektif menggulingkan kekuasaan Rezim Orde Baru.