Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIKUM

MANA1EMEN BUDIDAYA PAYAU - LAUT






OLEH:
HENDRI SETIAWAN
08/265517/PN/11279

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERIKANAN
1URUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GAD1AH MADA
YOGYAKARTA
2011

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, akhirnya laporan ini dapat terselesaikan
sesuai dengan waktu yang ditentukan. Laporan ini kami susun sebagai syarat mengikuti mata
kuliah Manajemen Akuakultur payau dan Manajemen Marikultur serta sebagai
pertanggungjawaban kunjungan lapangan
Kiranya laporan ini tidak dapat selesai tanpa bimbingan, petunjuk dan peran serta dari
pihak lain. Untuk itu kami ucapakan terima kasih kepada :
1. apak Susilo udi Priyono selaku dosen pembimbing mata kuliah Manajemen
Akuakultur payau dan Manajemen Marikultur yang telah memberikan ilmu yang
berguna dalam perkuliahan dan penyusunan laporan ini
2. apak Sukardi, selaku dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Marikultur yang
telah memberikan ilmu yang bermanIaat dalam perkuliahan dan penyusunan
laporan ini
3. Mas Doni dan Mas Yuhdi, selaku asisten mata praktikum Manajemen Akuakultur
payau dan Manajemen Marikultur
4. Rekan-rekan mahasiswa yang senantiasa bersama dan memberikan dorongan
semangat sehingga dapat terselesaikanya laporan ini.

Penyusun dengan segala keterbatasannya menyadari bahwa laporan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Kritik dan saran dari pembaca serta rekanrekan yang siIatnya
membangun sangat kami harapkan untuk menyempurnakan laporan ini.
Harapan kami, semoga laporan ini dapat bermanIaat bagi pembaca atau rekan-rekan
yang memerlukan reIerensi tentang lembaga dan komoditas budidaya air laut dan payau.


Penyusun



I. PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Pengembangan dan pemanIaatan perairan laut untuk budidaya perikanan memiliki
prospek yang sangat cerah di masa mendatang. Perairan laut dan payau menjadi
habitat bagi banyak spesies akuatik dan sebagian besar memiliki nilai ekonomi tinggi.
Indonesia memiliki perairan laut yang luas dan dangkal, garis pantai panjang dan
banyak sungai, sehingga terdapat banyak perairan payau, perairan hangat, dan ombak
yang relatiI kecil. Untuk memanIaatkan potensi tersebut perlu dilakukan usaha
budidaya perairan sehingga dapat memberi kontribusi bagi pembangunan nasional.
Kondisi klimat dan geograIis laut Indonesia mendukung pengembangan usaha
budidaya perairan. Pengembangan budidaya mutlak membutuhkan inovasi teknologi
pada semua bidang yang berkaitan dengan budidaya perairan. Teknologi budidaya
dikaji dan dikembangkan oleh para peneliti dari pemerintah ataupun swasta.
Pemerintah Indonesia (dalam hal ini KKP) memiliki banyak pusat penelitian budidaya
untuk mereka-cipta teknologi budidaya dan mengembangkannya secara massive di
masyarakat.
alai esar Riset Perikanan udidaya Laut (RPL) Gondol merupakan unit
pelaksana teknis Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan tujuan utama
melakukan riset budidaya laut baik pembenihan, produksi benih dan pembesaran.
Fasilitas yang dimiliki RPL Gondol antara lain hatchery udang, hatchery tuna,
hatchery kepiting dan rajungan, hatchery multispesies dan hatchery produksi benih
ikan laut serta sejumlah laboratorium dan keramba jaring apung. Spesies yang telah
diteliti di RPL Gondol antara lain : bandeng, kerapu, napoleon, udang windu,
udang vaname, rajungan, cobia, tuna sirip kuning, dan clown fish.
alai udidaya Air Payau (AP) Situbondo merupakan pusat riset budidaya
komoditas air payau yang terletak di Jl. Pecaron, Panarukan Situbondo. AP
Situbondo banyak meneliti udang putih, kerapu, bawal bintang, bandeng, dan rumput
laut. Diharapkan AP Situbondo dapat memberikan inIormasi teknis dan scientiIic
mengenai perkembangan riset budidaya air payau di Indonesia karena lingkup gerak
AP tersebut tidak hanya di Jawa Timur, tetapi hingga Nusa Tenggara bahkan
Sulawesi.
Komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan di daerah Situbondo adalah Kerapu.
udidaya Kerapu dilakukan di dalam keramba jaring apung. Keramba jaring apung
(KJA) merupakan salah satu teknologi budidaya ikan yang sesuai untuk optimalisasi
pemanIaatan sumberdaya perairan di Indonesia, yang luasnya 2,1 juta hektar.
Pengembangan media budidaya tersebut berdampak positiI pada produksi ikan,
konsumsi ikan masyarakat, peluang usaha, kesempatan kerja dan pendapatan, serta
pemanIaatan sumberdaya perairan. Selain usaha pembesaran, di Situbondo juga mulai
merebak hatchery kerapu dan udang baik perorangan maupun oleh kelompok tani.
Pembenihan kerapu dilakukan di dalam bak-bak tembok di dalam ruangan.
Pembenihan kerapu masih memiliki survival rate yang rendah, dan kesulitan
mendapatkan telur dan sperma dari balai karena banyaknya permintaan.
PT Indokor angun Desa merupakan perusahaan yang pada awalnya bergerak dalam
bidang pembenihan dan pembesaran udang putih (itopenaeus vannamei), namun saat
ini perusahaan tersebut hanya bergerak dalam usaha pembesaran udang saja.
Perusahaan tersebut membeli benur udang itopenaeus vannamei dari balai benih atau
hatchery dan kemudian membesarkan udang tersebut. Perusahaan ini diharapkan
dapat memberikan gambaran mengenai usaha dan teknik pembesaran, serta
permasalahan yang terkait dengan usaha tersebut.

B. Tujuan
1. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang teknik budidaya air laut dan
payau secara praktis, seperti KJA, tambak, bak-bak dan budidaya pantai.
2. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengkaji permasalahan-
permasalahan yang sering timbul pada kegiatan budidaya air laut dan payau.
3. Memberikan wawasan dan pengenalan kepada mahasiswa mengenai teknologi
yang dikembangkan dan diterapkan oleh balai atau perusahaan yang dikunjungi

. Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui tentang teknik budidaya air laut secara nyata di
lapangan.
2. Mahasiswa dapat dan mampu mengkaji permasalahan-permasalahan yang timbul
pada kegiatan budidaya air laut sehingga diharapkan dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan yang muncul.
3. Untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Manajemen Marikultur dan
Manajemen Akuakultur Payau di Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas
Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

D. Waktu dan Tempat
Praktikum Manajemen Akuakultur Payau dan Manajemen Marikultur dilaksanakan
pada :
Hari : Sabtu
Waktu : 08.00 Selesai
Tanggal : 21 Mei 2011
Tempat : PT. Indokor angun Desa, Dusun Kuwaru, Desa Poncosari
Kecamatan Srandakan, Kabupaten antul.

Hari : Senin Selasa
Waktu : 08.00 selesai
Tanggal : 6 7 Juni 2011
Tempat : AP Situbondo (Pecaron), KJA Situbondo, Hatchery Pak Rahman,
Jatim; RPL Gondol, ali



















II. PEMBAHASAN

A.Keadaan Umum Lokasi
1)PT. Indokor angun Desa
PT. Indokor angun Desa merupakan suatu anak perusahaan yang dimiliki oleh
PT. Indokor Indonesia. PT. Indokor angun Desa dibangun tahun 1999 mulai
beroperasi pada tahun 2000. PT. Indokor angun Desa awalnya terdiri dari dua (2)
divisi, yaitu: divisi tambak dan divisi hatchery yang masing-masing divisi
dipegang oleh satu orang manajer. Divisi tambak memiliki 20 petak tambak besar
ukuran 60 x 60 meter dan 8 petak Np (petak kecil) dengan ukuran 12 x 21 meter,
sedangkan divisi hatchery memiliki 8 bak hatchery outdor ukuran 4 x 4 m,
hatchery indoor (2 kolam bulat diameter 6 m dan 8 kolam dengan ukuran 6 x 6 m).
Produk yang dahulu dikembangkan perusahaan ini yaitu udang windu, akan tetapi
setelah banyak penyakit yang menyerang udang windu serta lambatnya
pertumbuhan dan rendahnya padat tebar, maka perusahaan merubah jenis
komoditasnya menjadi udang vanamei.
Lokasi tambak PT. Indokor angun Desa terletak di tepi laut 35 km ke selatan
dari kota Jogja, yaitu tepatnya di Dusun Kuwaru, Desa Poncosari, Kecamatan
Srandakan, Kabupaten antul. Sebelah selatan berbatasan langsung dengan pantai
Samudera Indonesia, sebelah barat dan utara berbatasan dengan Dusun Kuwaru,
sebelah timur berbatasan dengan Dusun Cangkringan. Lokasi tambak berjarak 200
meter dari garis pantai dengan elevasi 5 meter dari permukaan air laut. Luas area
tambak 20 Ha dengan lahan yang sudah dimanIaatkan sebesar 7,5 Ha.
Lahan yang digunakan untuk usaha tambak berupa tanah pasir yang termasuk
dalam zona Sultan Ground (tanah milik Sultan Hamengkubuwono) yang
sebelumnya dumanIaatkan oleh penduduk untuk pertanian. Lahan garapan
penduduk yang sekarang dipakai perusahaan, diberi ganti rugi dari perusahaan atau
disebut magersari (sebesar 10 laba panen setiap tahunnya untuk bendahara desa
dan keluarga yang tergusur tanah garapannya). Konstruksi tambak disesuaikan
untuk tanah berpasir sehingga menjadi petak tambak yang tidak bisa menahan
badan air. Pembuatan konstruksi tambak juga memperhatikan siIat korosiI air laut,
sehingga teknik konstruksi yang digunakan dalam membuat petak tambak yaitu
konstruksi Biocrete. Konstruksi tersebut memadukan antara semen dan bambu.
ambu digunakan sebagai kerangka yang kemudian di beri semen sehingga
menjadi beton dan digunakan sebagai dinding tambak. agian dasar tambak dan
lapisan dinding tambak menggunakan plastik PE (!olyethilen) sehingga tidak
terjadi peresapan air laut ke darat.

2) alai Pecaron, Situbondo
alai udidaya Air Payau (AP) Situbondo yang beroperasi di bidang
pembenihan udang yang diresmikan tanggal 9 Mei 1987. Memiliki visi menjadi
instalasi pembenihan udang (hatchery), kerapu, bandeng dan jenis komoditas ikan
payau lainnya. yang senantiasa memproduksi benih bermutu demi keberlanjutan
budidaya perikanan. Kebijakan Mutu AP Situbondo antara lain:
Komitmen penuh untuk selalu memproduksi benur bermutu tinggi.
Melaksanakan perbaikan terus-menerus untuk kepuasan pelanggan.
Semakin meningkatnya permintaan ikan air payau dan udang vaname di Indonesia
maka para pembudidaya berusaha meningkatkan produksi komoditas ikan payau
dan udang vaname baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Akan tetapi hal
tersebut tidak didukung oleh kondisi komoditas iakn payau dan udang vaname
yang kurang cocok dibudidayakan di Indonesia,hal ini lebih ke karena udang
vaname bukan merupakan produk lokal. Maka para peneliti di alai udidaya Air
Payau (AP) Situbondo melakukan suatu inovasi baru untuk menghasilkan
udang vaname yang berkualitas agar cocok dibudidayakan di Indonesia yang
diharapkan nantinya dapat meningkatkan hasil produksi dengan mendirikan
multiplication center.
Multiplication center merupakan upaya perbanyakan calon induk udang lokal
dengan sistem RAS (Resirculation Aquaculture System) yang menekankan
biosecurity dan pemeliharaan yang terkontrol yang terdapat di AP (alai
udidaya Akuakultur Payau) Situbondo. Gen parental terdiri dari 3 gen induk
impor dengan 1 induk lokal, kemudian hasilnya diambil top ten yang terbaik dan di
uji coba dan selanjutnya dijadikan induk. Selanjutnya induk tersebut dikawinkan
dan hasil anakannya di perbanyak atau dipelihara dengan sistem RAS yang
nantinya dijadikan induk.
Selain udang, AP Situbondo juga meneliti dan mengembangkan rumput laut
kerapu, bawal bintang, kakap merah, dan beberapa jenis spesies lain.
3) KJA
Selain melakukan penelitian yang bersiIat dasar, AP juga melakukan aplikasi
budidaya di masyarakat. SiIat balai diprogram tepat sasaran dan berkomunikasi
dengan dinas/swasta) dan dipercayakan untuk proyek dari pusat.
Komoditas yang dibudidayakan meliputi kerapu macan, kerapu tikus, bandeng,
udang vannamei, udang windu, dan napoleon. Kemudian unit pelaksana teknis
DKP dibawah naungan dirjen perikanan budidaya.
Pengembangan budidaya ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) menjadi
alternatiI untuk mengatasi kendala penurunan produksi perikanan laut. Dengan
teknologi budidaya karamba ini, produksi ikan dapat meningkat dan dipasarkan
dalam keadaan hidup, dimana untuk pasaran ekspor ikan hidup nilainya bias lebih
mahal hingga mencapai 10 kali lipat dari pada ekspor ikan segar.
Karamba jaring apung terdiri dari unit-unit petak, yaitu berjumlah 24 petak dengan
ukuran berbeda-beda, yang lebih banyak berukuran 4 x 4 x 3 m. Pemasangan jaring
untuk untuk penebaran awal yaitu dengan jaring ukuran 3 x 6 m. Jaring
pembesaran dengan ukuran 3 x 4 m dengan mata jaring 1 inchi. Jaring pemanenan
ukuran mata jaringnya 10 cm.
Sarana dan prasarana yang digunakan di KJA Situbondo antara lain yaitu unit KJA
dan perahu motor sebagai alat transportasi. Sedangkan penggunaan alat berupa
gunting, jaring, ember dan perlengkapan tambahan lainnya
4) Hatchery Pak Rahman
Hatchery ini dibangun oleh perorangan untuk pembenihan kerapu. Hatchery milik
bapak Rahman ini terletak di daerah ungatan, Situbondo dengan luas sekitar 1000
m yang berbatasan langsung dengan laut. Usaha pembenihan ini telah memiliki
manajemen yang tertata dan beroperasi untuk mensupplai kebutuhan benih di
sekitar Situbondo. Hatchery milik Pak Rahman dibangun dalam bentuk bak-bak di
dalam ruangan dengan sumber air laut resapan (Sea Water Intake). Dalam proses
produksinya pak Rahman juga melakukan produksi akan alami untuk larva kerapu.
5) alai Gondol
alai esar Riset Perikanan udidaya Laut (RPL) merupakan unit pelaksana
teknis Departemen Kelautan dan Perikanan dengan mandat utama melaksanakan
riset budidaya laut termasuk pembenihan, produksi benih dan pembesaran.

.
RPL Gondol memiliki banyak Iasilitas untuk mendukung kinerja dan
produktivitasnya, yaitu meliputi :
Laboratorium
Patologi
Lingkungan
Kimia dan nutrisi
iologi
ioteknologi dan Genetika
Hatchery
Udang
Tuna
MSP
Multispesies hatchery
iosecurity
Ikan hias
KJA di teluk Pegametan
Tambak di Pejarakan (14,6 ha)
Fasilitas pendukung penelitian
Cold Storage
Processing
Pakan
engkel sarana
ak-bak riset (induk, larva dan pakan alami)
Fasilitas umum
Gedung administrasi
Perpustakaan
Auditorium
Guest House
Asrama
Sarana Peribadatan
Sarana Olahraga
Tenis lapangan
Tenis meja
'olly
ulu tangkis



B.Teknik dan Manajemen Budidaya Komoditas
1)PT. Indokor angun Desa
Sarana budidaya
Sarana budidaya yaitu sarana yang digunakan untuk menyediakan media
budidaya dalam hal ini air. Sarana tersebut antara lain yaitu: SWI (Sea Water
Intake) dan sumur dalam buatan (Deep Well). Jenis-jenis alat yang digunakan
pada SWI (Sea Water Intake) dan sumur dalam buatan (Deep Well) dapat dilihat
dalam tabel 1 dan 2.
Tabel 1. Karakteristik dan peralatan Sea Water Intake
No. Jenis alat yang digunakan
1
Pompa SentriIugal Ebara 3 inch Seri SQP 80 pipa 3 inch (12
meter), debit 4 l/detik motor penggerak 10 HP
2
Pompa SentriIugal Ebara 2 inch Seri SQP 50 pipa 2 inch (12
meter), debit 3 l/detik motor penggerak 5,5 HP
3
1 buah Pompa SentriIugal 'elalai besar Seri SQP 80 pipa
wilded 3 inch (45 meter), debit 10 l/detik motor penggerak 7,5 HP
4
2 buah Pompa SentriIugal 'elalai kecil Seri SQP 80 pipa
wilded 3 inch (40 meter), debit 10 l/detik motor penggerak 7 HP
5 Pipa P'C 10 inch 10 m (body sumur dalam SWI)
6 Pipa P'C 6 inch 35 m (pipa ke gorong-gorong)
7 2 buah pipa wilded 4 inch 35 m (pipa ke gorong-gorong)
8 5 buah Ioot klep 10 cm
9 Keni 7 cm
10 Pipa GalIanis 12 cm


Tabel 2. Karakteristik dan peralatan Deep Well
No. Jenis alat yang digunakan
1 Pompa submersible 6 inch debit 20 l/detik
2 Pipa wilded 6 inch 100 m
3 Pipa P'C 12 inch 60 m (body sumur)
4 Foot clep 10 cm dan saringan air

Prasarana pendukung budidaya
No. Jenis Sarana produksi Kegunaan
1 Rumah induk
Sebagai kantor, tempat pertemuan
dan mess teknisi
2 4 mess pegawai dan 1 manager
Sebagai tempat beristirahat ataupun
rumah pegawai
3 Gudang dan logistik
Menyimpan pakan dan peralatan
perusahaan.
4 1 pos satpam
Sebagai tempat mengawasi
keamanan dan izin keluar masuk
perusahaan
5
2 rumah Mekanik, Elektrik dan
Instrumentasi (maintenance)
Tempat perbaikan mesin dan
menyimpan Genzet (generator).
6 Jalan dan pematang 3 meter sebagai aksesibilitas
7 Unit pasca panen
Tempat sampling panen,
penimbangan, grading, pembersihan
udang dan pengepakan
8 Tanki solar
Menampung solar yang dibutuhkan
untuk keperluan maintenance
9 2 Gubuk tunggu
Tempat berteduh dan beristirahat
operator
10 4 buah rumah panel listrik
Melindungi panel kincir dan listrik
dari air dan korosiI
11 Laboratorium Untuk analisis kimia dan plankton
12 2 buah mobil
Sebagai transportasi pegawai dan
kebutuhan saprodi ke lapangan
13 Halaman parkir Sebagai tempat parkir kendaeraan

Komoditas
Produktivitas udang di PT. Indokor angun Desa dapat dikatakan sudah
berhasil karena dengan luas tambak 3600 m
2
dapat menghasilkan udang lebih dari 6
ton per siklus budidaya dengan presentase udang yang bagus (setelah disortir) lebih
dari 90 . Pada awal berdiri (tahun 2000) perusahaan ini membudidayakan udang
windu dan sejak tahun 2002 hingga sekarang komoditas pembesaran diganti udang
vaname karena produktivitas udang windu sangat rendah dan mudah terserang
penyakit sedangkan udang vaname tahan terhadap penyakit dan produktivitasnya
lebih tinggi.
KlasiIikasi vaname (itopenaeus vannamei) menurut Wyban dan Sweeney
(1991) adalah sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Malacostraca
Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobranchiata
InIraordo : Penaidea
SuperIamili : Penaeoidea
Famili : Penaidae
Genus : Penaeus
Subgenus : Litopenaeus
Spesies : 'annamei

Teknik dan Manajemen udidaya
Tambak budidaya harus dipersiapkan secara tepat dan benar sehingga ketika
akan dipakai atau selama proses budidaya tidak terjadi permasalahan, seperti adanya
klekap dalam tambak yang dapat mengganggu proses budidaya. Persiapan tambak
pembesaran yaitu meliputi:
a. Pengeringan tambak dan pencucian dasar tambak
Pengeringan dan pencucian tambak dilakukan untuk membersihkan dasar
tambak dan agar bakteri atau penyakit yang terdapat pada tambak mati. Pengeringan
dan pencucian tambak di lahan berpasir sangat mudah dilakukan dibandingkan
dengan lahan berlempung atau liat karena siIat tanah yang porus sehingga pergerakan
air lancar dan dasar tambak cepat kering.
b. Penyiangan tumbuhan yang tumbuh di dasar tambak
Penyiangan dilakukan jika rumput ataupun tumbuhan banyak tumbuh di dasar
tambak. Rumut atau tumbuhan liar yang muncul di dasar tambak dapat membuat
plastik dasar tambak bocor. Tambak yang lama terbengkalai setelah panen biasanya
ditumbuhi oleh rumput di dasar tambak.
c. Evaluasi plastik dasar tambak dan pematang tambak
Setelah panen plastik dasar tambak harus dievaluasi untuk mengetahui
kebocoran plastik ataupun kondisi plastik setelah dipakai selama budidaya dan akan
dipakai lagi. Lapisan plastik terdiri dari dua bagian, yaitu pada dasar dan pematang.
Apabila kebocoran terjadi maka akan mempengaruhi kebutuhan air budidaya karena
terjadi rembesan air yang cukup banyak(lahan pasiran). Kebocoran yang terjadi
biasanya diakibatkan oleh sobek atau tersingkapnya plastik karena umur pemakaian
plastik dan tekanan yang diberikan air dan kincir. Selain masalah plastik dasar
tambak, masalah lain yang kerap kali muncul yaitu longsornya pematang sehingga
plastik pematang tidak dapat berIungsi dengan baik. Masalah tersebut banyak terjadi
ketika musim hujan atau setelah gempa bumi terjadi.
d. Perataan pasir dasar tambak
Pasir digunakan untuk menutupi plastik dasar tambak sehingga tidak mudah
tersingkap dan mudah rembes. Kondisi pasir dasar tambak setelah digunakan untuk
budidaya biasanya mengalami pengikisan dan pemusatan pasir dan limbah pada
tengah tambak sekitar central drainage. Perpindahan pasir dan limbah ke tengah
tersebut disebabkan oleh penggunaan kincir air sebagai penggerak badan air dan
penambah oksigen terlarut. Perpindahan pasir dan limbah tersebut dapat
mempengaruhi kondisi plastik dasar tambak. Apabila pasir yang menutup plastik
habis, maka plastik dapat tersingkap sehingga terjadi kebocoran. iasanya pasir yang
berada di tepi kolam akan mengalami erosi dan berkumpul di tengah- tengah. Pasir
tersebut kemudian diratakan kembali dan digunakan untuk menutup bagian plastik
yang terbuka. Selain untuk menutup bagian plastik yang terbuka, perataan pasir dasar
tambak juga berguna dalam pembalikan pasir sehingga air dapat masuk ke dalam
pasir dan mencuci pasir. Adanya pembalikan pasir dasar tersebut dapat membantu
penyebaran bahan organik sehingga perombakan berlangsung secara merata dan
bagus.

e. Pembersihan dan penutupan caren
Caren merupakan bagian terpenting dalam tambak budidaya. Selain sebagai
pendukung dalam pengeringan kolam juga untuk mengumpulkan udang ketika
pemanenan sehingga dapat terkumpul dan keluar pada out put dan kemudian masuk
ke jaring kondom. Persiapan caren biasanya dengan membersihkan caren dari pasir
maupun limbah budidaya. Setelah kondisi caren bersih, kemudian caren ditutup
dengan balok semen sebagai penutup caren. Penutupan tidak dilakukan pada semua
badan caren. agian caren yang berhubungan dengan pemecah air yang berada pada
bawah input tidak ditutup karena sebagai jalur masuknya air ketika pengisian
sehingga ketika pengisian, air yang merendam bermula dari tengah tambak.
I. Pembenahan dan persiapan central drainage
Pembenahan dan persiapan central drainage dilakukan untuk mempermudah
sirkulasi air. Pipa paralon (matahari) biasanya ketika panen dilepas untuk dibersihkan
karena banyak bekas moultingan udang. Selain itu, pipa paralon biasanya juga
berlumpur dan berlumut sehingga apabila dibiarkan saja akan menyumbat paralon.
g. Pembenahan jembatan bambu
Jembatan bambu merupakan bagian penting dalam aksesibilitas ke central
drainage. Pembenahan jembatan bambu dilakukan secara situasional. Perbaikan
dilakukan apabila jembatan bambu tidak layak pakai lagi. Pembuatan atau perbaikan
jembatan bambu yaitu dengan menyusun empat buah bambu secara sejajar dan
mengikatnya. Perbaikan dilakukan di jalan pematang tambak maupun lahan yang luas.
Setelah rangkaian jembatan bambu jadi kemudian dipasang pada tiang penyangga
berbentuk huruI T yang terdapat pada tambak.
h. Pemasangan skat balk
Skat balk merupakan bagian yang penting dalam tambak karena berIungsi
sebagai pintu air dan pembendung air. Skat balk terdiri dari dua bagian (skat balk luar
dan dalam) dan tersusun atas beberapa bagian. agian dalam merupakan kayu skat
balk, kemudian dilapisi oleh plastik. Setelah pemberian plastik pada lapisan dalam
dan lapisan luar kemudian ditengah-tengah diberi pasir sehingga plastik yang berada
diantara skat balk luar dan dalam dapat tertekan sehingga rapat dan tidak terjadi
rembesan.
i. Pemasangan kincir air
Kincir air ketika panen biasanya ditepikan untuk mempermudah pemanenan.
Persiapan kincir air dilakukan dengan membersihkan kincir air dari lumut sehingga
kincir dapat berputar dengan baik. Kincir yang sudah dibersihkan kemudian dipasang
secara diagonal dan jarak sisi kincir sama sehingga air dapat bergerak memutar.
Pergerakan air dibuat sesuai dengan arah jarum jam sehingga plastik dasar tambak
tidak tersingkap. Pembenahan posisi kincir biasanya dilakukan setelah pengisian air
karena lebih mudah. Setiap petakan tambak biasanya terdapat delapan (8) kincir air.
Apabila dirasa kurang, maka ditambah dua (2) kincir lagi sehingga berjumlah sepuluh
(10).
j. Pemasangan screen/saringan pada pipa inlet
Screen/saringan yang terdapat pada bak tandon biasanya kurang rapat
sehingga ada benih ikan nila yang masuk kedalam perakan tambak. Lumut juga
biasanya tumbuh pada saluran irigasi sehingga dibutuhkan screen/saringan pada pipa
inlet. Saringan tersebut dipasang dan diikat pada pipa sehingga air yang masuk ke
petak tambak tidak membawa kotoran, klekap maupun ikan sehingga budidaya tidak
terganggu.
k. Pengapuran dan pemupukan dasar tambak
Pengapuran dan pemupukan dasar tambak dilakukan secara situasional.
Apabila kondisi dasar tambak kurang bagus maka dilakukan pengapuran dan
pemupukan, akan tetapi apabila kondisi dasar tambak masih bagus hanya dilakukan
pembalikan tanah. Pengapuran dan pemupukan awal biasanya menggunakan bahan
sebagai berikut:
l. Pengisian air pada petak tambak
Air merupakan media yang penting dalam usaha budidaya. Pengisian air
budidaya harus diperhatikan. Pengisian air biasanya membutuhkan waktu 2 3 hari
tergantung banyaknya stok air di reservoar dan penggunaan air ke tambak yang
lainnya. Semakin banyak stok air yang terdapat di reservoar dan semakin sedikit
penggunaan air ke tambak lainnya maka pengisian semakin cepat. Setiap pengisian air
setinggi 10 cm membutuhkan waktu 4 jam. Pengisian air pada tahap pengisian
pertama yaitu setinggi 0,8 m. Pengisian dilakukan biasanya ketika dekat waktu
penebaran. Apabila pengisian dilakukan jauh-jauh hari sebelum penebaran maka
ditakutkan akan tumbuh lumut dan terjadi drooping plankton.

Penyediaan dan Penebaran enur Udang
enur yang digunakan dalam usaha budidaya dibeli dari perusahaan hatchery.
Awal pembangunan sebenarnya ada divisi hatchery, tetapi karena masalah lingkungan
pembenihan hanya dapat dilakukan hingga nauplii saja. enur biasanya dibeli dari
PT. WAS Situbondo, TWM Anyer, LK Lampung atau PT Prima Larvae Lampung.
Ukuran benur yang dibeli biasanya PL 9 PL 15 dengan salinitas 27-30 ppt. enur
yang sudah datang kemudian dilakukan sampling. Sampling dilakukan dengan
membuka dua (2) buah plastik benur yang diambil secara acak dan dihitung jumlah
benur yang masih hidup sebagai estimasi banyaknya benur pada tiap kantong. Setelah
sampling kemudian dilakukan aklimatisasi benur sebelum ditebar dalam bak
penampungan. Aklimatisasi dimaksudkan untuk adaptasi suhu dan salinitas yang baru
sehingga tidak banyak benur yang mati. Proses aklimatisasi yaitu sebagai berikut:
Kantong benur diletakkan di air kolam dan dibiarkan mengambang dipermukaan
selama 30 menit tanpa membuka ikatan kantung.
Sambil menunggu melarutkan pakan artemia biomass (biasanya disertakan) 1 kg
dengan 10 liter air.
Setelah 30 menit buka ikatan kantong dan gulung bagian atas kantong serta
biarkan mengambang diatas permukaan air selama 30 menit.
Sambil menunggu, pakan artemia kemudian diberikan pada tiap-tiap kantong
sebanyak 50 m.
Kemudian memasukkan air kolam kedalam kantong sedikit demi sedikit dan
menjaga supaya kotoran dasar kolam tidak ikut tercmpur.
Setelah suhu di kantong larva sama dengan suhu di kolam kemudian semua benur
dimasukkan ke kolam/dilepas
Apabila semua benur sudah terlepas kemudian menyebarkan pakan kering
(biasanya disertakan) ke dalam kolam di sekitar benur dilepaskan.
iasanya salinitas benur tinggi berkisar antara 27 30 ppt sehingga perlu
dilakukan aklimatisasi sebelumnya karena salinitas air tambak berkisar antara 6 ppt.
Aklimatiasi dilakukan selama 7 11 hari tergantung salinitas benur apakah sudah
sesuai atau masih berbeda. Proses aklimatisasi dilakukan dengan cara pengenceran air
laut menggunakan air yang berasal dari reservoar yang nantinya digunakan sebagai
media hidup pada tambak. Aklimatisasi penurunan salinitas dilakukan pada bak
berukuran 4 x 4 meter dengan kedalaman air 90 cm. Sebelum digunakan untuk
aklimatisasi air kolam dipersiapkan dan di treatment sehingga subur dan tidak
membahayakan.
Setelah benur memiliki salinitas yang sama dengan salinitas tambak (biasanya
7-11 hari) maka dilakukan pemanenan benur. Pemanenan benur biasanya dilakukan
pada malam hari sehingga tingkat stress benur tidak terlalu besar dan Iluktuasi suhu
antara kolam aklimatisasi dan tambak tidak jauh berbeda. Sebelum dilakukan
pemanenan benur, level air diturunkan dengan cara membuang air dengan selang
ukuran 3 inch yang sudah diberi saringan sehingga benur tidak tersedot keluar.
Penurunan level air dilakukan hingga ketinggian 60 cm. Selain penurunan level air
juga dilakukan persiapan tempat untuk melakukan sampling dan pengepakan.
Setelah tempat packing benur disiapkan kemudian dilakukan proses
pemanenan. Proses pemanenan benur dilakukan sebagai berikut:
Memasang jaring kantong panen benur ke pipa outlet kolam pada bak panen.
Pipa outlet kemudian dibuka dan benur yang berada pada jaring kantong dijaring
kemudian dimasukkan kedalam ember yang berisi air kolam.
Mengangkut benur dalam ember dan memasukkan ke tempat penampungan benur
yang sudah dipersiapkan.
Setelah air kolam aklimatisasi kemudian dicuci dengan air yang berasal dari
reservoar sehingga benur yang terdapat dalam kolam tidak tersisa dan dipanen
semuanya.
Melakukan sampling jumlah benur dalam satu 'chanting sehingga dapat
mengetahui asumsi kisaran jumlah benur dalam tiap kantong packing dan dapat
menghitung jumlah total benur dan SR nya.
Packing atau memasukkan benur kedalam kantong kemudian diberi oksigen dan
di tali.
enur yang telah di packing kemudian diangkut ke petakan tambak yang akan
ditebari benur. Petakan tambak biasanya sudah dipersiapakan beberapa hari sebelum
tebar benur. enur dari area aklimatisasi ke area tambak diangkut dengan mobil pick
up. enur hasil panen berumur antara PL 16 PL 25. Padat penebaran tiap tambak
berbeda beda. enur yang sudah terdapat di area tambak kemudian siap ditebar.
Penebaran benur sebagai berikut:
a. Meletakkan plastik kantong benur kedalam air tambak.
b. Membiarkan plasti selama 5 menit.
c. Membuka plastik sekaligus memasukkan air tambak ke dalam plastik kemudian
menuang benur secara cepat sehingga tidak terdapat benur yang tertinggal dalam
plastik.

Manajemen Pemberian Pakan
Pakan yang digunakan dalam usaha budidaya merupakan pakan buatan yang
dibeli dari perusahaan Gold Coin. Setiap umur udang memiliki jenis pakan dan berat
pakan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Stok pakan disimpan
dalam gudang logistik. Pakan yang akan diberikan biasanya ditimbang pada hari
sebelum pemberian pakan. Misalkan saja pakan untuk hari kamis ditimbang pada hari
rabu. Penimbangan pakan dilakukan pada siang hari dan biasanya jam 13.30 wib.
Pakan ditimbang sesuai dengan kebutuhan udang dengan melihat tabel pemberian
pakan yang digunakan sebagai pedoman pemberian pakan. Pakan yang sudah
ditimbang kemudian diberi label atau kode tambak sehingga tahu pakan tersebut
untuk petakan mana. Setelah penimbangan, kemudian pakan didistribusikan ke mess
pegawai, gubuk tunggu ataupun rumah panel. Sehingga ketika pemberian pakan,
pakan siap diberikan.
Frekuensi pemberian pakan delakukan sebanyak 2-6 kali sesuai dengan umur
udang. Udang yang telah mencapai lebih dari satu (1) satu bulan Irekuensi pemberian
pakan ditingkatkan hingga 6 kali dengan selang waktu 4 jam (pukul 05.00, pukul
09.00, pukul 13.00, pukul 17.00, pukul 21.00 dan pukul 01.00 WI). Pemberian
pakan disesuaikan dengan tabel kebutuhan pakan udang yang digunakan sebagai
pedoman pemberian pakan. Pemberian pakan dikontrol dengan metode anco sehingga
pakan yang diberikan dapat diketahui apakah kurang ataupun sisa. Apabila kurang
pakan bisa ditambah lagi dan apabila sisa maka pakan dapat dikurangi sehingga
pemberian pakan eIektiI. Pengecekan anco dapat dilakukan setelah 30 menit hingga 2
jam sesuai dengan tabel pemeriksaan dan standar pakan sampel dalam anco yang
digunakan. Penggunaan metode anco dan tabel dilakukan setelah benur berumur 30
hari dalam petak tambak. Ketika benur berumur kurang dari 30 hari pemberian pakan
dilakukan dengan metode Iull Ieed. anyaknya pakan yang diberikan pada metode ini
sudah terdapat pada tabel kebutuhan pakan udang yang digunakan sebagai pedoman.

Manajemen Kualitas Air
Manajemen kualitas air merupakan kunci pokok budidaya udang karena udang
sangat sensitiI terhadap perubahan kualitas air. Manajemen kualitas air dilakukan
dengan beberapa hal, yaitu:
a. Penggunaan kincir
Kincir merupakan salah satu Iaktor produksi yang berperan dalam menjaga
kandungan oksigen dalam air tambak. Selain untuk menjaga ketersediaan oksigen
juga untuk mendiIusikan amonia ke udara serta untuk melokalisir lumpur sehingga
terkumpul di tengah central drainage.
b. Central drainage dan siphon
Central drainage sangat berguna dalam penyiponan. Lumpur dan limbah
produksi yang dihasilkan selama budidaya yang terkumpul disekitar central drainage
kemudian disiphon dengan selang siphon dan dibuang melalui central drainage.Usaha
untuk mencegah supaya udang tidak lepas ketika disiphon ataupun udang yang mati
bisa terkumpul yaitu pada pipa pembuangan di bak panen diberi jaring kondom
dengan ukuran kecil. Penyiphonan biasanya dilakukan beberapa jam setelah
pemberian pakan.
c. Penggunaan probiotik.
Probiotik sangat membantu merombak bahan organik dan amonia yang
terdapat dalam air tambak. Selain itu, probiotik juga membantu dalam memanajemen
plankton yang ada. Probiotik yang digunakan dalam usaha budidaya yaitu Super PS
dan Bio Bacter Type II. Pemberian Super PS dilakukan pada awal budidaya sampai
umur 2 bulan sebanyak 3 liter setiap seminggu satu kali. Ketika umur udang lebih dari
2 bulan penggunaan Super PS diganti dengan Bio Bacter Type II. Aplikasi pemberian
probiotik dilakukan sesuai kebutuhan tambak.
d. Pergantian air
Pergantian air dilakukan setiap hari supaya sisa bahan organik akibat pakan
dapat terbuang dan mencegah agar plankton yang terdapat dalam petak tambak tidak
blooming. Pergantian air juga dimaksudkan untuk menjaga kecerahan air. Pergantian
air dilakukan sebanyak 10 20 dari volume air tambak.
e. Pemupukan dan pengapuran.
Pemupukan dan pengapuran merupakan salah satu aplikasi budidaya yang
sangat berperan dalam manajemen kualitas air. Kapur dapat digunakan sebagai
pengontrol pH air dan juga sbagai nutrien bagi plankton. Kapur protech yang
digunakan dalam pemeliharaan selain sebagai pengontrol pH juga dapat berperan
sebagai nutrien bakteri nirtobacter sehingga bakteri tersebut dapat tumbuh dan
merombak nitrit yang ada dalam air budidaya. Pupuk digunakan sebagai nutrien
plankton sehingga kebutuhan plankton akan unsur hara terpenuhi. Adanya kontrol
unsur hara tersebut diharapkan plankton yang dapat tumbuh hanya jenis tertentu.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Manajemen kesehatan udang dilakukan secara situasional. Apabila terjadi
kematian besar besaran maka udang yang mati dan hidup dibawa ke AP Jepara
untuk dilakukan pengecekan penyakit. Pengecekan penyakit udang baru satu kali
dilakukan dan sampai saat ini belum dilakukan kembali. iasanya udang yang terlihat
sakit diberi aplikasi pemupukan dan pengapuran serta pemberian probiotik.
Pergantian air juga dilakukan untuk menangani masalah kematian yang banyak.
Sebenarnya bakteri vibrio banyak di perairan tersebut. Penggunaan probiotik dalam
budidaya sangat membantu mengontrol bakteri patogen yang tumbuh.
Manajemen kesehatan udang dititik beratkan pada plankton yang terdapat di
air budidaya. Pemeriksaan plankton dilakukan 2 minggu satu kali dan pengambilan
sampel plankton dilakukan pada pukul 10.00 WI. Plankton yang menyebabkan
kerugian merupakan plankton dari jenis GA dan DinoIlagella. Kontrol plankton
diakukan dengan pemupukan dan pemberian probiotik. Apabila terjadi blooming
plankton, selain melakukan pengenceran air/ganti air juga dengan pemberian saponin.

Manajemen Pertumbuhan Udang
Manajemen pertumbuhan udang dilakukan setiap satu minggu sekali pada hari
kamis pagi. Sampling pertumbuhan dilakukan ketika udang sudah berumur 40 hari di
tambak. Sampling pertumbuhan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
pertumbuhan dan pertambahan berat udang.
Langkah langkah yang dilakukan dalam sampling udang yaitu:
Menyiapkan alat sampling (ember, timbangan, alat tulis dan hitung, jala dan
kantong jaring)
Menangkap udang menggunakan jaring pada dua tiik sampel.
Menghitung udang yang tertangkap
Memasukkan udang ke dalam jaring kantong
Menimbang berat total udang.
Menghitung berat rerata atau verrage Body Weight (AW) udang
Pengamatan hasil sampling menunjukkan bahwa pemeliharaan udang selama 40
hari akan menghasilkan udang dengan berat rata rata 5 gram per ekor.

Pemanenan dan Penanganan Pasca Panen
Pemanenan udang dilakukan setelah umur pemeliharaan udang 100 hingga
120 hari atau sesuai dengan kebutuhan pembeli. Sebelum pemanenan dilakukan
sampling. Sampling ditujukan untuk melihat berat udang apakah sudah mencapai
target berat atau belum. Satu minggu sebelum pemanenan biasanya dilakukan
pengapuran. Pengapuran bermaksud untuk mencegah aktivitas moulting apabila
udang belum multing dan mempercepat moulting apabila udang sedang moulting
sehingga kualitas udang bagus dan udang lebih berat.
Sebelum dilakukan pemanenan dibentuk pembagian kerja atau panitia
pemanenan sehingga semua karyawan bekerja dan tahu posisi dimana dia harus
bekerja. Pemanenan petak besar GP (60 x 60 meter) membutuhkan waktu 4 jam
untuk tiap petakan. Panen biasanya dilakukan pada pagi hari, yaitu pukul 07.00 WI
hingga pukul 11.00 WI. Pemanenan dalam satu hari dapat dilakukan sebanyak 2 kali
pemanenan petak besar. Sebelum dilakukan pemanenan biasanya pada malam hari
sudah dilakukan pengurangan level air dengan membuka saluran central drainage
sehingga ketika akan panen air tambak sudah berkurang 60 .

Hasil pemanenan udang putih berkisar antara 5 hingga 7 ton dengan size 45
hingga 60 ekor per kilogram. Setelah sampai di pasca panen, penanganan udang
diserahkan kepada cold storage yang membeli. Ada cold storage yang memasukkan
udang ke dalam bak air sehingga udang tetap basah dan segar, adapula yang menaruh
udang pada lantai pasca panen. Udang udang tersebut kemudian dicuci dan
dilakukan sampling prosentase KM dan size udang. Proses sampling udang dilakukan
oleh cold storage yang diawasi oleh perusahaan.


2)AP Situbondo Pecaron
Pembenihan
Memiliki komoditas berupa udang vaname (itopenaeus vannamei),
kerapu,bandeng dan lainnya.. Sarana dan prasarana yang mendukung usaha
pembenihan udang vaname adalah :
Pompa air
Pompa air berdiameter 4 cm yang digunakan untuk mengalirkan air laut.
Ukuran pipa tersebut dalam hatchery pembenihan dianggap telah cukup untuk
memenuhi air dalam proses pembenihan.
lower
Kendala penggunaannya perlu dilakukan penyinaran dengan sinar U' untuk
standarisasi udara.
Kompresor
Fungsinya sebagai penstabil dalam penampungan air agar tidak naik turun.
Tandon air
Tandon air mengalami penyaringan, yaitu secara Iisik dan kimia. Perlakuan
Iisik menggunakan pasir butiran besar, batu apung dan pasir butiran halus.
Pasir yang digunakan diganti setiap minggu. Perlakuan kimiawi dengan
pemberian kaporit yang bertujuan untuk menghilangkan bakteri 'ibrio sp..
Tempat pemeliharaan induk
Memiliki banyak jendela dan terbuat dari tembok berIungsi supaya suhu lebih
stabil dan mudah diatur. Konstruksi bangunan sangat berpengaruh terhadap
kegiatan budidaya. Kesalahan dalam konstruksi akan berakibat Iatal terhadap
budidaya.
Tempat pemeliharaan larva
Digunakan untuk memelihara larva hingga berukuran PL
3
-PL
4
, dengan
kepadatan sekitar 1 juta dengan target SR 60.
Tempat kultur plankton
Plankton yang digunakan sebagai pakan alami adalah haetosteros sp.

Multiplication Center
Sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan di multiplication center
adalah sebagai berikut:
Pompa air
Pompa air digunakan untuk pengambilan air baik untuk pengambilan air laut
maupun untuk mengalirkan air dari bak penampungan air laut ke bak
pengendapan, kemudian dari bak pengendapan ke ruang Ozonisasi yang
kemudian dialirkan ke tandon, dan yang terakhir dari tandon ke bak
pemeliharaan.
ak penampungan air laut
ak penampungan ini terdiri dari berbagai bak, dimana air dari bak satu bak
yang lainnya menggunakan sistem gravitasi. ak yang digunakan diantaranya
adalah bak batu, dan bak ijuk, arang, pasir.
Filter !ressure
Alat ini digunakan untuk dekomposisi bakteri yang terdiri dari pasir halus dan
diberi tekanan saat air melaluinya.
ak Pengendapan
ak ini digunakan untuk mengendapakan partikel yang lolos dari proses Iilter
pressure.
Ruang Ozon
Ruangan ini digunakan untuk menambah O
3
dari air pengendapan dengan
menggunakan alat o:on reactor yang diharapkan air yang akan dialirkan ke
tandon dalam keadaan steril.
Tandon
ak yang digunakan untuk menampung air setelah dilakukan beberapa
threatment, dimana air tersebut dipakai untuk persediaan. Tandon yang ada
terdiri dari 2 tandon, hal tersebut dikarenakan agar pergantian air dapat
berlangsung setiap hari, karena untuk mengisi penuh 1 tandon dibutuhkan
waktu 1 hari.
ak pemeliharaan
ak ini digunakan sebagai tempat memelihara calon indukan baru yang
berkualitas dengan sistem RAS #ecirculation 6uaculture System).
ak penampungan A
Air dari hasil budidaya dialirkan ke bak penampungan ini dan selanjutnya
diproses oleh protein skimmer.
!rotein skimmer
Alat ini digunakan untuk menjaga kualitas air dengan menghilangkan limbah
limbah hasil dari metabolisme udang dan dari sisa sisa pakan sebelum
menjadi Nitrat dan PhosIat.
ak penampungan
ak penampungan ini digunakan untuk menampung air yang telah
diproses pada protein skimmer yang sebelumnya dilewatkan melalui
bioball.
Kerapu

awal bintang
Udang vannamei

KJA
Komoditas
Kerapu bebek (romileptes altivelis)
Kerapu bebek sekarang ini menjadi ikan konsumsi yang bergengsi sehingga
mahal harganya. adan kerapu bebek pipih dengan bentuk kepala bagian atas
cekung. Tubuh berwarna pucat kehijauan dan terdapat bintik-bintik hitam bulat pada
sekujur tubuhnya. Kerapu bebek hidup diwilayah perairan karang yang masih baik
maupun yang sudah rusak atau agak berlumpur. Ikan ini dapat dipelihara di KJA,
dibak maupun ditambak (Sudrajad, 2008).
Kerapu lumpur (Epinephelus coioides)
Kerapu Lumpur telah banyak dibudidayakan didaerah kepulauan Riau dan
Sumatera Utara. entuk kerapu lumpur tubuh memanjang, bagian kepala dan
punggung berwarna gelap kehitaman, sedangkan perut berwarna keputihan. Ikan
kerapu lumpur ini hidup diperairan muara sungai dengan kisaran kadar garam 15-30
ppt, suhu air 24-31
o
C (Sudrajad, 2008).
Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
Kerapu macan termsuk kelompok ikan yang berharga tinggi. Jenis ini
merupakan asli Indonesia. adan dipenuhi dengan bintik-bintik berwarna gelap.
intik ditengah lebih gelap dari pada yang dipinggir. Hidup dan tumbuh pada
salinitas 22-32 ppt, suhu air 26-31
o
C (Sudrajad, 2008).
Kakap merah
Kakap merah merupakan ikan yang menguntungkan untuk usaha budidaya
karena mempunyai siIat pertumbuhan relative cepat, toleran terhadap kekeruhan,
ruang terbatas dan salinitas serta tanggap terhadap pakan buatan. Tubuh ditutupi
sisik berukuran sedang dan kecil, terdapat gigi pada mulut bagian atas, tubuh ikan
berwarna merah atau coklat. Ikan tersebut tergolong euryhalin, dapat hidup di
perairan laut dan payau dengan kadar garam berkisar 10-30 ppt dengan suhu air 26-
31
o
C (Sudrajad, 2008).

4. Teknik dan Manajemen Budidaya
Pembuatan Rakit
ahan-bahan yang diperlukan untuk membuat rakit yaitu kayu balok
atau bambu berbagai ukuran, pelampung dari styroIoam atau drum plastik,
bisa juga jrigen ukuran besar; jangkar atau bahan pemberat lainnya; dan tali
temali. ahn-bahan tambahan lain digunakan untuk rumah jaga, terdiri dari
kayu balok, papan, dan seng/asbes.
ahan-bahan tersebut selanjutnya dibangun menjadi 1 unit rakit
dengan ukuran yang sesuai dengan rencana anggaran setiap plasma. Tetapi
setiap 1 unit rakit plasma sudah termasuk rumah jaga.
Pembuatan Karamba
Karamba yang telah siap digunakan belum tersedia di pasaran. ahan
yang tersedia biasanya masih dalam bentuk jaring polietilen dalam bentuk
gulungan dengan ukuran tertentu. Untuk jaring kajapung biasanya digunakan
jaring No. 380 D/9 dan 380 D/13 berukuran mata jaring (mesh size) 1 inci dan
2 inci, disesuaikan dengan ukuran ikan yang dibudidayakan atau ikan yang
ditampung.
Dalam MK PKT ini, kajapung terdiri dari 4 petak yang memiliki Iungsi
berbeda. Petak ke-1 dan ke-2 untuk bibit ikan yang baru didapat dengan
ukuran di bawah 0,5 Kg; petak ke-3 untuk ikan hasil pembudidayaan yang
telah cukup besar (di atas 0,5 Kg) atau ikan hasil tangkapan dengan ukuran 0,6
0,7 Kg); dan petak ke-4 khusus untuk menampung ikan hasil penangkapan
dengan ukuran di atas 0,8 Kg yang akan dijual.
4.3 Penyediaan enih Dan Penampungan
Pada awal perkembangan usaha budidaya ikan kerapu dengan
kajapung, benih ikan karapu yang akan dibudidayakan berasal dari alam hal
ini terjadi karena pada saat itu teknologi penyediaan benih secara modern
dengan teknologi rekayasa belum berhasil dikembangkan, sehingga para
nelayan yang 'harus memenuhi trend pasar, mencari alternatiI dengan cara
memperoleh benih dari alam.
Sejak beberapa tahun terakhir berkat kontribusi pakar perikanan dalam
negeri, rekayasa pengadaan benih ikan kerapu secara modern berhasil
dikembangkan, namun dari beberapa jenis ikan kerapu komersial, yaitu ikan
kerapu lumpur, ikan kerapu sunu dan ikan kerapu napoleon.
erdasarkan hasil uji coba dan penerapan secara komersial, jenis ikan
kerapu lumpur (Epinephelus suillus) menunjukkan hasil yang sangat positiI
untuk dikembangkan. Akan tetapi dalam MK-PKT ini, jenis ikan kerapu yang
akan dikembangkan dengan kajapung adalah ikan-ikan hasil tangkapan dari
alam dengan cara campuran, yaitu 30 hasil tangkapan berupa ikan kerapu
ukuran kecil (dengan beragam jenis) yang akan dibudidayakan, dan 70
adalah ikan kerapu ukuran 0,8 ke atas yang siap dijual untuk ditampung
sementara, sambil menunggu dikapalkan.
Penyediaan bibit untuk budidaya dan penyediaan ikan kerapu yang
akan ditampung, dilakukan dengan cara penangkapan secara tradisional, yaitu
dengan cara memancing di ground Iish ikan kerapu, yaitu di kawasan terumbu
karang. Cara penangkapan dengan pembiusan s merusak lingkungan,
khususnya kawasan terumbu karang.
Namun untuk armada penangkapannya yaitu kapal-kapal penangkapan
dirancang semi modern, misalnya kapal kayu bermesin. Sedangkan
penangkapannya dilakukan secara berombongan oleh setiap anggota plasma
yang dipersiapkan dengan beberapa kapal berikut nelayan/AK-nya.
4.4 Pemeliharaan/Pembesaran
Setelah benih siap dipelihara, benih-benih tersebut ditebar di kajapung
yang telah disediakan. Namun dalam penebaran juga harus diperhatikan salah
satu syarat yang tidak kalah pentingnya, yaitu kepadatan awal penebaran.
erdasarkan pengalaman selama ini (termasuk hasil uji coba pada pilot
project perikanan), kepadatan awal merupakan Iaktor yang paling dominan,
karena bila dalam satu karamba terdapat jumlah ikan yang sangat padat, maka
akan menjadi salah satu sebab terjadinya kanibalisme. Di samping
produksinya pun akan menjadi rendah.
Kepadatan awal untuk budidaya ikan kerapu ini adalah sebanyak 50
60 ekor/m
3
, dengan ukuran ikan sekitar 20 50 g/ekor. Sedangkan selama
pemeliharaan, masalah daya dukung perairan (carrying capacity) perlu tetap
dijaga, yaitu pada batas 41,7 kg/m
3
, sehibgga karamba tidak mengalami
kelebihan beban.
Pakan Dan Cara Pemberian Pakan
Pakan merupakan salah satu aspek yang memerlukan perhatian cukup
besar sehingga harus direncanakan dengan matang yaitu menekan anggaran
pengeluaran serendah mungkin, tetapi hasilnya tetap optimal. Hal ini dapat
dilakukan dengan cara pemelihan jenis pakan yang tepat namun tetap
mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan, dan harga yang murah.
Dari hasil uji coba dan penerapan pada skala usaha, tujuan untuk
mendapatkan hasil yang baik dengan pengeluaran yang relatiI rendah adalah
dengan memberikan pakan dari jenis ikan-ikan yang tak laku di pasaran (non-
ekonomis), yaitu ikan-ikan yang digolongkan sebagai ikan rucah seperti ikan
tembang, rebon, selar dan sejenisnya yang banyak tersebar di perairan
Nusantara. Pemilihan pakan ikan kerapu yang berasal dari ikan rucah ini,
selain harganya murah dan mudah diperoleh, juga karena pakan buatan khusus
ikan kerapu memang belum ada di pasaran.
Pakan dari jenis ikan rucah ini tetap harus dijaga kualitasnya,
setidaknya kondisinya tetap dipertahankan dalam keadaan segar, misalnya
disimpan dalam Ireezer. Pakan yang tidak segar atau terlalu lama disimpan,
akan menyebabkan turunnya kualitas nutrisi (asam lemak esensial yang sangat
dibutuhkan oleh ikan kerapu), yang hilang karena proses oksidasi.
Pemberian pakan yang ideal tergantung pada ukuran ikan kerapu yang
dipelihara. Ikan yang berukuran 20 50 g, dapat diberikan pakan sebesar 15
per hari dari bobot biomassa. Selanjutnya persentase diturunkan seiring
dengan pertumbuhan ikan. Setelah mencapai ukuran 100 g pakan diberikan
sebanyak 10 per hari, dan kemudian dikurangi setiap 1 (satu) bulan
pemeliharaan, hingga akhirnya diberikan sebanyak 5 per hari saat ikan
kerapu telah mencapai ukuran 1 kg.
Pengendalian Hama Dan Penyakit
Hama yang dapat mengganggu produksi ikan kerapu terutama burung-
burung pemangsa ikan. Untuk mencegah jenis hama ini, dapat dilakukan
dengan cara menutup permukaan kajapung dengan jaring, sehingga burung
tidak dapat langsung masuk kajapung. Hama lain yang mengganggu adalah
ikan buntal atau ikan besar. Pencegahannya, harus diadakan pengontrolan
secara rutin, termasuk pada malam hari.
Sebagaimana pada umumnya budidaya komoditas perikanan, penyakit
harus menjadi perhatian khusus, sebab penyakit yang melanda budidaya
perikanan akan menyebabkan kematian, kekerdilan, periode pemeliharaan
lebih lama, tingginya konversi pakan, tingkat padat tebar yang lebih rendah,
dan hilangnya/menurunnya produksi.
Penyebab-penyebab penyakit pada budidaya ikan kerapu, antara lain
lkarena stres, organisme patogen, perubahan lingkungan, keracunan, dan
kekurangan nutrisi. eberapa jenis penyakit yang dapat menyerang budidaya
ikan kerapu antara lain :
1. Stres
Ikan yang baru ditebar, biasanya dapat mengalami stres, apabila dalam
transportasi dari kolam pendederan ke kajapng tidak ditangani dengan baik
hati-hati. egitu pula saat diturunkan untuk ditebar ke kajapung
dilaksanaknsecara sembarangan, akan menyebabkan ikan-ikan mengalami
stres. Sehingga ikan menjadi shock, tidak mau makan, kanibalisme, dan
meningkatnya kepekaan terhadap penyakit.
Untuk mengurangi stres saat penebaran, selain dilakukan dengan hati-
hati, ikan-ikan perlu dilakukan aklimatisasi dengan cara mengubah sedikit
demi sedikit kondisinya sehingga menyerupai kondisi lingkungan yang baru.
Sebagi contoh, benih-benih yang baru saja mengalami transportasi dan
dikemas dalam kantong plastik tidak boleh langsung ditebar, tetapi harus
dilakukan penyesuaian suhu. Cara yang paling mudah, yaitu kantong plastik
yang berisi benih ikan direndam dalam kajapung, hingga akhirnya suhu dalam
kantong plastik akan sama dengan suhu pada kajapung. Setelah itu baru
ditebar.
2. Organisme
a. acing
Cacing yang menyerang ikan kerapu budi daya umumnya dari jenis
Diplectanum yang menyerang insang. Ikan yang terserang cacing ini akan
terlihat pucat dan tampak berlendir. Untuk menanggulangi penyakit ini, antara
lain dengan cara meredam ikan yang terserang dalam larutan Ioramlin dengan
dosis 200 ppm selama 0,5 1 jam, dan diulang setelah 3 hari.
b. !roto:oa
Jenis protozoa yang sering menyerang ikan kerapu yaitu Crytocaryon
sp. Penyakitnya disebut crytocaryoniosis atau bintik putih (white spot).
Organisme ini menyerang ikan pada bagian kulit dan insang, dengan tanda-
tanda ikan yang terserang akan menjadi lesu, selera makan hilang, sisik
terkelupas, dan mata buta, dsb. Untuk mengatasi penyakit ini, yaitu merendam
ikan dalam air laut yang mengandung Iormalin 100 ppm acra menyerang
bagian insang yang mengakibatkan pernaIasan ikan terganggu.
c. Nerocila
Jenis parasit ini dapat ditanggulangi dengan cara mengangkat karamba,
dan ikan-ikan dimasukkan dalam bak. Setelah itu karamba disemprot dengan
larutan Iormalin 1. Sedangkan ikan-ikan direndam dalam Iormalin 200 ppm
beberapa menit sampai parasit ini rontok sendiri.
d. Bakteri
Golongan mikroorganisme yang sering menyebabkan penyakit pada
ikan laut, yaitu bakteri perusak sirip (bacterial Iin rot), bakteri vibrio, dan
bakteri streptococus sp. Obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi
penyakit yang disebabkan bakteri ini adalah obat-obatan jenis antibiotik.
4.7 Panen Dan Penanganan Panen
Dengan teknik pemeliharaan seperti diuraikan di muka, benih ikan
yang ditebar dengan ukuran awal 20 gram membutuhkan waktu selama 7
bulan untuk mencapai ukuran 500 gram. Sedangkan untuk ikan dengan ukuran
awal 50 gram memerlukan waktu hanya 5 bulan untuk mencapai berat 500
gram. Ikan kerapu dengan ukuran ini, telah dapat dipanen, dan di pasaran telah
dapat diperdagangkan dengan harga yang cukup tinggi.
Pelaksanaan pemanenan ikan kerapu budidaya dengan kajapung relatiI
lebih mudah dari pada pemanenan ikan kolam atau udang tambak yang harus
dilakukan pembuangan air. Sedangkan di kajapung, cukup dengan cara
mengangkat tepi pemberat sudut-sudut kajapung sehingga ikan mudah
diambil.
Namun demikian, mengingat ikan kerapu dipasarkan dalam keadaan
hidup sehingga kesehatan ikan dan keadaan ikan setelah panen harus tetap
dijaga, sehingga tidak ada ikan yang luka (harga ikan akan turun bila ada yang
cacat atau luka saat pemanenan), maka perlu dilakukan persiapan-persiapan
pemanenan.
Langkah persiapan pemanenan meliputi penyediaan sarana dan alat
panen, seperti serokan, bak air laut, aerasi, timbangan, dan kapal yang
dilengkapi dengan palka penampung ikan. Alat dan sarana ini harus dalam
keadaan bersih.
Pada saat pelaksanaan pemanenan, pemberian pakan dihentikan.
Langkah pertama pelaksananaan pemanenan dimulai dengan melepas tali
pemberat pada kajapung, kemudian jaring karamba diangkat secara perlahan
agar ikan tidak berontak. Setelah terangkat, sedikit demi sedikit ikan diserok
dengan serokan, dan dimasukkan ke dalam palka pada kapal pengangkut yang
sebelumnya telah diisi air laut. Setelah tiba di lokasi Pabrik/Coldstorage
perusahaan inti, ikan dalam palka dipindah ke pabrik dengan drum-drum atau
ember yang berisi air laut. Untuk selanjutnya ditimbang dan diproses lebih
lanjut (Anonim, 2008)
4.8 Permasalahan dan Solusinya
Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya KJA di Situbondo yaitu
terjadinya bioIauling pada jaring karamba. Adanya bioIauling yang menempel
pada jaring akan menyebabkan sirkulasi air di dalam jaring karamba menjadi
terhambat. Sirkulasi air yang tidak lancar di dalam karamba akan berdampak
pada terganggunya oksigenasi air dalam jaring budidaya, pengeluaran kotoran
ikan dan sisa pakan dari dalam wadah budidaya menjadi terhambat sehingga
berpengaruh pada peningkatan kadar amonia di dalam wadah budidaya. Solusi
yang dilakukan oleh pembudidaya di sana terhadap permasalahan tersebut
adalah dengan pemasangan paranet di atas karamba. Hal ini bertujuan untuk
mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk sehingga pertumbuhan
bioIauling menjadi terhambat.
Penyakit yang biasa menyerang ikan di KJA Situbondo yaitu jenis white
spot. Serangan penyakit ini dapat berdampak pada kematian ikan, di mana
mortalitas yang ditimbulkan oleh penyakit ini sekitar 80-100. Upaya
yang ditempuh untuk mengendalikan penyakit ini masih dilakukan secara
tradisional yaitu dengan merendam ikan yang terserang penyakit dengan
campuran antara air tawar dengan 5 gram agriIlavin dan peroksida selama
10 menit.
3) Hatchery Pak Rahman

4) RPL Gondol

O Komoditas
Komoditas riset di RPL Gondol meliputi Iin Iish, ikan hias, crustasea, dan
kekerangan.
O Iin Iish
O Tuna sirip kuning (%hunnus albacares)
Tuna sirip kuning (%hunnus albacares) di pasaran lebih dikenal dengan nama
Yellow Fin Tuna. Jenis ini memiliki ukuran 60 cm sampai 200 cm dengan berat
ketika besar antara 80 kg hingga 180 kg. Secara Iisik bentuk tubuhnya mirip
gelondong dengan warna biru metalik pada bagian belakang, warna ekor putih
keperakan, mata kecil dan bentuk tubuh yang ramping, dan dikenal dengan sirip
dada yang panjang. Jenis lain tuna yang sering dikonsumsi adalah tuna sirip biru
(%hunnus maccoyii) yang di pasar dikenal dengan nama lue Fin Tuna dan tuna
mata besar (Scombridae %hunnus obesus) (Anonim, 2009).
O Cobia (#achycentron canadum)
Cobia hidup di perairan tropis dan sub tropis. Ikan ini banyak ditemuai di
PasiIik, Atlantik dan sebelah barat daya Meksiko. entuk tubuh cobia menyerupai
terpedo. Sebagai ikan perenang cepat, kepala dan mulut relatiI lebar dibandingkan
bagian tubuh lainnya. Sisik berukuran kecil dan terenam dalam kulit yang tebal.
adan berwarna coklat gelap dan bagian bawah badan berwarna kekuning-
kuningan. Ukuran ikan dialam yang ditemukan 80-100 cm dengan panjang
maksimum 180 cm. Lokasi yang cocok unuk budidaya ikan cobia, diantaranya
perairan selat kecil, atau teluk yang terlindung dari ombak dan badai (Sudrajat,
2008).
O Kerapu sunu (!lectropomus leopardus)
Kerapu sunu merupakan ikan konsumsi laut yang mempunyai prospek
pengembangan yang cukup cerah karena teknologi pembenihan massanya sudah
dikuasai. adan ikan memanjang tegap. Kepala, badan, dan bagian tengah dari sirip
berwarna abu-abu kehijauan. entuk ujung sirip ekor ikan kerapu sunu rata, ujung
sirip terdapat garis putih. Lokasi yang cocok untuk kerapu sunu diantaranya,
salinitas airnya 30-35 ppt dan bersuhu 27-32
o
C. Ikan kerapu sunu juga hidup
diterumbu karang pada kedalaman 5-50 m (Sudrajad, 2008).
O Kerapu bebek (romileptes altivelis)
Kerapu bebek sekarang ini menjadi ikan konsumsi yang bergengsi sehingga
mahal harganya. adan kerapu bebek pipih dengan bentuk kepala bagian atas
cekung. Tubuh berwarna pucat kehijauan dan terdapat bintik-bintik hitam bulat pada
sekujur tubuhnya. Kerapu bebek hidup diwilayah perairan karang yang masih baik
maupun yang sudah rusak atau agak berlumpur. Ikan ini dapat dipelihara di KJA,
dibak maupun ditambak (Sudrajad, 2008).
O Kerapu lumpur (Epinephelus coioides)
Kerapu Lumpur telah banyak dibudidayakan didaerah kepulauan Riau dan
Sumatera Utara. entuk kerapu lumpur tubuh memanjang, bagian kepala dan
punggung berwarna gelap kehitaman, sedangkan perut berwarna keputihan. Ikan
kerapu lumpur ini hidup diperairan muara sungai dengan kisaran kadar garam 15-30
ppt, suhu air 24-31
o
C (Sudrajad, 2008).
O Kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus)
Kerapu macan termsuk kelompok ikan yang berharga tinggi. Jenis ini
merupakan asli Indonesia. adan dipenuhi dengan bintik-bintik berwarna gelap.
intik ditengah lebih gelap dari pada yang dipinggir. Hidup dan tumbuh pada
salinitas 22-32 ppt, suhu air 26-31
o
C (Sudrajad, 2008).
O Kakap merah
Kakap merah merupakan ikan yang menguntungkan untuk usaha budidaya
karena mempunyai siIat pertumbuhan relative cepat, toleran terhadap kekeruhan,
ruang terbatas dan salinitas serta tanggap terhadap pakan buatan. Tubuh ditutupi
sisik berukuran sedang dan kecil, terdapat gigi pada mulut bagian atas, tubuh ikan
berwarna merah atau coklat. Ikan tersebut tergolong euryhalin, dapat hidup di
perairan laut dan payau dengan kadar garam berkisar 10-30 ppt dengan suhu air 26-
31
o
C (Sudrajad, 2008).
O Napoleon (heilunus undulatus)
Ikan ini bernama napoleon atau lebih dikenal dengan Napoleon Wrasse. Ikan
Napoleon (heilunus undulatus) adalah salah satu ikan karang besar yang hidup
pada daerah tropis. Panjang ikan ini bisa mencapai 1.5 meter. Dan beberapa ikan
bisa mencapai ukuran sampai 180 kg pada usia 50 tahun. Kehidupan hewan ini
umumnya sama dengan ikan karang lain yang hidup secara soliter. Para penyelam
biasanya menemukan ikan ini berenang sendiri pada daerah sekitar karang. Dan
biasanya sangat jinak dengan para penyelam. Ikan ini biasanya biasanya tidak
terusik dengan aktivitas para penyelam. Salah satu keunikan hewan ini adalah
lingkar bola matanya yang dapat melihat arah sudut pandang sampai 180
0
.
Kebiasaan hidup sendiri pada kedalaman tertentu membuat hewan ini sangat
dinantikan oleh para penyelam untuk melihat atau bahkan memotret hewan ini
(Anonim, 2009).
O Ikan Kuwe
Merupakan salah satu jenis ikan permukaan (pelagis). Ikan ini hidup
diperairan pantai dangkal, karang dan batu karang. Tubuh kue berbentuk oval dan
pipih dengan warna tubuh bervariasi yaitu biru bagian atas dan perak hingga
keputih-putihan. Lokasi yang tepat untuk budidaya ikan kuwe adalah teluk yang
terlindung dari ombak dan badai dan memiliki pola pergantian masa air yang baik
(Sudrajad, 2008).
O andeng (hanos chanos)
andeng mempunyai bentuk tubuh memanjang, padat, pipih, dan ovale.
Mulut terletak di ujung dan kecil dengan rahang tanpa gigi. Lokasi ideal untuk
budidaya ikan bandeng pada laguna di daerah pantai dan teluk terlindung yang
aliran arusnya atau pergantian airnya lebih dari 100 per hari. Ikan bandeng
termasuk ikan eurihaline (Sudrajad, 2008).

O Ikan Hias
O Clown Iish (mphiprion ocellaris)
Secara umum ikan badut berukuran kecil. Maksimal mereka dapat mencapai
ukuran 10 15 cm. erwarna cerah, tubuh lebar (tinggi), dan dilengkapi dengan
mulut yang kecil. Sisiknya relatiI besar dengan sirip dorsal yang unik. Pola warna
pada ikan ini sering dijadikan dasar dalam proses identiIikasi mereka , disamping
bentuk gigi, kepala dan bentuk tubuh. 'ariasi warna dapat terjadi pada spesies yang
sama; khususnya berkenaan dengan lokasi sebarannya. Sebagai contoh clarkii
merupakan spesies yang mempunyai penyebaran paling luas, sehingga spesies ini
mempunyai variasi warna yang paling banyak (tergantung pada tempat ditemukan)
dibandingkan dengan spesies ikan badut lainnya.
Ikan badut diketahui merupakan ikan yang mempunyai daerah penyebaran
relatiI luas, terutama di daerah seputar Indo PasiIic. Satu jenis, yaitu . bicinctus,
diketahui merupakan endemik Laut Merah. Mereka, pada umumnya, dijumpai
pada laguna-laguna berbatu di seputar terumbu karang, atau pada daerah koastal
dengan kedalaman kurang dari 50 meter dan berair jernih. Di perairan Papua New
Guinea, bisa ditemukan ikan badut tidak kurang dari 8 spesies. Di alam, ikan badut
mengkonsumsi zooplankton, udang-udangan dan algae yang dijumpai di habitat
mereka (Anonim, 2009).
O Letter six
Letter Six adalah rajanya dari semua keluarga surgeon Iish, dengan warna dan
corak yang menawan, ikan ini tergolong sebagai ikan yang cukup mahal dan
termasuk dalam golongan ikan musiman yang cukup langka.
Umumnya orang kurang banyak yang mengetahui, bahwa letter six adalah ikan
herbivora, namun hal ini wajar saja, karena sesekali ikan ini pun akan memakan
pakan awetan, ataupun udang rebon, meskipun makanan utamanya tetap saja
tumbuhan. Untuk memelihara ikan jenis ini sebenarnya tidak begitu sulit, cukup
sediakan selembar daun selada yang bersih dari pestisida dalam tiga atau empat hari
sehari, dijamin ikan ini akan bertahan dalam aquarium anda. Dalam akuarium pun
ikan ini tidak terlalu menimbulkan kesulitan, kecuali dengan tingkat stress nya yang
cukup tinggi, ikan ini membutuhkan ruang yang cukup luas, karena umumnya letter
six senang berenang hilir mudik dengan lincah dan beratraksi diantara celah celah
karang.
Satu hal lagi, meskipun ikan ini dikenal sebagai ikan pemakan tumbuhan,
jangan pernah berharap bahwa ikan ini dapat membersihkan akuarium anda dari
lumut, karena ikan ini hanya memakan daun dan bukan lumut, terlebih lagi dengan
lumut merah keunguan (red algae), sedikit pun ikan ini takkan menyentuhnya
(Anonim, 2009).

O Krustase
O Artemia
Organisme sejenis udang udangan berukuran kecil (renik) ini dikenal
dengan nama brine shrimp. Artemia termasuk keluarga rustacea dari Familia
rtemiidae, hidup secara planktonik di perairan laut dengan salinitas antara 15
300 permil dan suhu berkisar 26 31
0
C serta nilai pH antara 7,3 8,4. Individu
artemia dewasa mencapai panjang 1-2 cmdan berat 10 mg telur artemia beratnya 3,6
mikro gram, diameter sekitar 300 mikro.
O Udang 'annamei
!enaeus vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. erat udang ini
dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi
(100 udang/m
2
). erat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat
tersebut, !enaeus vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu.
Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan (Wyban et al., 1991).
!enaeus vannamei memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 40
ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan
darah isoosmotik (Wyban et al., 1991).
Rasa udang dapat dipengaruhi oleh tingkat asam amino bebas yang tinggi
dalam ototnya sehingga menghasilkan rasa lebih manis. Selama proses post-panen,
hanya air dengan salinitas tinggi yang dipakai untuk mempertahankan rasa manis
alami udang tersebut (Wyban et al., 1991).
Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang.
!enaeus vannamei akan mati jika tepapar pada air dengan suhu dibawah 15
o
C atau
diatas 33
o
C selama 24 jam atau lebih. Stres subletal dapat terjadi pada 15-22
o
C dan
30-33
o
C. Temperatur yang cocok bagi pertumbuhan !enaeus vannamei adalah 23-
30
o
C. Pengaruh temperatur pada pertumbuhan !enaeus vannamei adalah pada
spesiIitas tahap dan ukuran. Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air
dengan temperatur hangat, tapi semakin besar udang tersebut, maka temperatur
optimum air akan menurun (Wyban et al., 1991).

O Kekerangan dll.
O Tiram mutiara
Tiram mutiara mempunyai sepasang cangkang yang disatukan pada bagian
punggung dengan engsel kedua belah cangkang tidak sama bentuknya. Tiram
mutiara adalah !rotandrous-hermaphrodite dengan kecenderungan perbandingan
jantan : betina 1 : 1, dengan adanya peningkatan umur.


O Abalon
Abalon merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi khususnya di Negara
negara maju di eropa dan amerika utara. Produksi abalon saat ini lebih banyak
diperoleh dari tangkapan di alam. Abalon mempunyai satu cangkang yang terletak
di bagian atas. Pada cangkang tersebut terdapat lubang-lubang dengan jumlah yang
sesuai dengan ukuran abalon. Abalon biasa ditemukan di daerah yang berkarang dan
juga sekaligus dipergunakan sebagai tempat menempel. Lokasi untuk pembesaran
abalon adalah perairan karang yang terlindungi dan tidak terdapat angina yang kuat.
Selain itu abalon juga membutuhkan media air yang bersih dan jernih. Salinitas 29-
33 ppt dan suhu 27-30
0
C (Sudrajad, 2008).
O Teripang
entuk badan memanjang mirip mentimun. Oleh karena, itu hewan ini biasa
disebut mentimun laut (sea cucumber). Mulut dan anus terdapat di kedua ujung
badannya. Kriteria lokasi budidaya teripang yaitu, dasar perairan terdiri dari pasir
pada surut terendah masih tergenag air yang dalamnya antara 40-80 cm, salinitas
antara 24-33 ppt suhu 25 30
0
C, serta kecerahan air diatas 75 cm (Sudrajad, 2008).
O Rumput laut
Merupakan sumber utama penghasil agar-agar dan karaginan yang banyak
dimanIaatkkan dalam industri makanan, kosmetik, Iarmasi, dan industri lainnya.
Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan sehingga peroduksi
rumput laut cenderung bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda.

O Teknik, Manejemen Budidaya dan Permasalahannya
O Pembenihan ikan tuna sirip kuning
O Pengelolaan calon induk
Pengadaan induk dilakukan dengan cara menangkap dari alam dengan
cara memancing. Transportasi ikan tuna yang tertangkap dilakukan dengan
menggunakan bak Iiberglas oval vol. 1 m
3
. Dengan menggunakan bak ini
hanya 2-3 ekor ikan berukuran 2 kg atau satu ekor untuk ikan berukuran 3-5 kg
yang dapat ditransportasikan dalam satu trip.
Ikan-ikan yang berhasil ditransportasikan ditempatkan dalam bak
pengobatan untuk dilakukan pengobatan dan observasi kondisi kesehatan ikan
selama 24 jam. Pengobatan dilakukan dengan perendaman menggunakan
Sodium NiIurstirenate (Na-NFS) yang lebih dikenal dengan nama dagang
Erubazu sebesar 10-20 ppm selama 2 jam. Ikan-ikan yang sehat ditransIer ke
bak aklimasi dengan menggunakan kantong plastik setelah terlebih dahulu
dilakukan pengukuran panjang cagak, memasukkan tagging dan pemotongan
Iinlet untuk keperluan analisa genetik.
Calon induk yang masih berukuran antara 2-3 kg tersebut dipelihara
dalam bak beton bervolume 150 m
3
(4 8m kedalaman 3m) dalam beberapa
bulan untuk observasi pertumbuhan dan kesehatan ikan sehingga ikan yang
dipindah ke dalam bak induk sudah benar-benar sehat dan teraklimasi. Selama
dalam satu kali sehari dari Senin-Rabu dan pada hari Minggu tidak diberi
pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan layang dan cumi-cumi sebesar 10-20
biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan, diberikan tambahan vitamin
kompleks sebesar 15 g/kg pakan atau 0,4 g/kg bobot ikan dalam bentuk kapsul.
Pertumbuhan harian rata-rata ikan yang dipelihara dalam bak aklimasi adalah
50 g/hari. Hal ini masih bisa ditinggalkan jika tujuannya untuk budidaya.
O Pemeliharaan induk
Ikan-ikan dari bak aklimasi yang telah terseleksi dan mencapai bobot
rata-rata 3 kg dipindahkan ke bak induk bervolume 1500 ton (4 18m
kedalaman 6m) untuk selanjutnya dijadikan induk. Semua ikan telah diberi
tagging sehingga setiap ikan dapat didata dan akan berguna untuk pendugaan
kualitas genetik setelah memijah melalui analisa genetik.
Calon induk ikan tuna diberi pakan satu kali sehari dari Senin-Sabtu
dan pada hari Minggu tidak diberi pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan
layangdan cumi-cumi sebesar 5-10 biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan,
mempercepat pematangan gonad, diberikan tambahan vitamin kompleks
sebesar 0,06, vitamin C 3,75 dan vitamin E 0,03 g/kg bobot induk. 'itamin
kompleks dan vitamin C diberikan setiap hari sementara vitamin E setiap dua
hari.
Ikan tuna sebagai ikan perenang cepat denagn kulit yang sangat sensitiI
terhadap penanganan, sulit dilakukan sampling sehingga data pertumbuhan
hanya dapat diperoleh jika ada ikan yang mati. Setelah satu tahun
pemeliharaan, beberapa ikan telah mencapai matang gonad dan memijah.
Diperkirakan ada 10 ekor ikan telah berumur 3 tahun. Pemijahan pertama
terjadi pada bulan Oktober 2004 selama 10 hari berturut-turut, namun setelah
itu belum pernah memijah kembali. Pemberian hormon LHRH dengan metode
Oral Administration sudah dilakukan sebanyak 3 dengan dosis 500 mg/kg
ikan dengan tujuan memacu kematangan gonad.
O Pemijahan
Induk yang telah matang gonad kemudian dipijahkan dalam bak beton
Setelah itu dilakukan perawatan telur untuk ditetaskan kemudian diamati
perkembangannya.
O Pemeliharaan larva
Larva baru menetas mempunyai morIologi yang hampir sama dengan
larva ikan laut pada umumnya. Mata belum berIungsi demikian juga dengan
mulut dan anus. Pemeliharaan larva hampir sama dengan larva ikan laut pada
umumnya hanya berbeda pada regim pakan. Pengelolaan lingkungan
pemeliharaan larva dilakukan dengan pemberian Nannochloropsis sp. dengan
kepadatan 0,510
6
sel/ml dengan sistem pergantian air secara terus-menerus.
O Permasalahan
Permasalahan dalam pengembangan budidaya ikan tuna ini adalah
kematian induk setelah memijah karena terbentur dinding bak. Selain itu ikan
ini mudah stees dan untuk menyiapkan induk sampai siap memijah
membutuhkan waktu yang lama dan penanganannya cukup sulit.
O Pembenihan ikan cobia
O Transportasi induk
Transportasi darat dengan jarak tempuh sekitar 30 jam dapat
menggunakan bak Iiberglass kapasitas 2 m
3
yang ditempatkan didalam truk
serta dilengkapi dengan pasok oksigen secara kontinyu yang diatur tekanannya
melalui regulator dan didistribusikan secara merata. Selama transportasi
ditambahkan es padat kedalam media transportasi sehingga suhu sir berkisar
antar 26-27
o
C.
O Perawatan dan pengendalian penyakit induk
Induk cobia dapat dipelihara di KJA maupun bak beton tergantung
ukuran ikan yang dipelihara, makin besar ukuran ikan sebaiknya dipelihara
dalam bak yang lebih besar antara 20 hingga 100 m
3
. ikan cobia mudah stress
dan sangat rentan terhadap kematian terutama disebabkan oleh media
pemeliharaan yang kurang baik. Ikan mudah terinIeksi oleh parasit benedeni,
pada umumnya menyerang mata sehingga dapat menyebabkan kebutaan. Untuk
menghindarinya perlu dilakukan perendaman dalam air tawar selama 5-10
menit.
O Pengamatan Perkembangan Gonad Dan Embrio
Induk ikan cobia yang beratnya lebih dari 8 kg mempunyai mukuran
diameter oosit antara 600-800 m. Induk memijah berdasarkan perubahan Iase
bulan yaitu sekitar bulan gelap, dengan ukuran telur yang dibuahi antara 1,25-
1,35 mm. Telur akan menetas antara 15-18 jam pada suhu 28-29
o
C.
O Pemeliharaan enih
Telur cobia diinkubasi dalam bak sampai stadium embrio selama 16-20
jam, suhu 28-29,5
o
C. telur setelah stadium embrio dipindahkan dalam
Iiberglass volume 1 m
3
, atau bak beton volume 5-6 atau lebih dan sekaligus
sebagai tempat pemeliharaan benih dengan kepadatan telur antara 10-20
butir/liter. enih yang menetas (23-25 jam) bersiIat planktonis, setelah hari ke-
2 / ke-3 diberi pakan rotiIer kepadatan 10-15 ind/ml dan nannochloropsis
1105 sel/ml. Naupli artemia (1-2 ind/ml), dan pakan buatan bisa diberikan
mulai hari ke6 atau ke-7. Penggantian air dimulai hari ke-5 antara 20-30 dan
meningkat hingga 100 / hari didasarkan pertambahan umur benih.

4.3 Pembenihan clown Iish (mphiprion ocellaris)
O Manajemen induk
Induk dipelihara pada akuarium berukuran 60 x 40 x30 cm
3
dengan
volume 60 liter. Pipa P'C dengan panjang 4-9 cm disusun membentuk segitiga
yang digunakan sebagai tempat untuk meletakkan telur. Ikan clownIish jantan
(ukuran lebih kecil) dipasangkan dengan yang betina (lebih besar dibandingkan
dengan jantan). ClownIish adalah ikan hermaprodit protandri. Indukan diberi
pakan dengan pakan buatan, juvenile nyamuk,udang mesopodopsis, cacing dan
ikan rucah.
O Pembenihan
Pemijahan induk terjadi setelah dipelihara 1-3 bulan di akuarium. Ikan
yang betina meletakkan telurnya pada bagian yang telah diberi material atau
pada bagian pojok dari akuarium. Fekunditas berkisar sekitar 130-1700 telur.
Telur dirawat sampai dengan 6 hari dan menetas pada umur 7 hari. Periode
inkubasi dilakukan dengan suhu air laut.
O Pemeliharaan Larva
Larva yang baru menetas memiliki total panjang 4 mm dengan oil
globul dan yolk salk berukuran 150-180 dan 250-320 m dan bukaan mulut
memiliki ukuran 400 m satu hari setelah Iase larva. Larva menetas pada pagi
hari dan diberi makan dengan Iitoplankton nannochloropsis dan rotiIer
sementara itu pakan buatan dan naupli artemia diberikan pada larva ukuran D-
9. Setelah dipelihara slama 1 bulan larva akan memiliki panjang total 1,4-2,2
cm.
O Penyakit
Induk rentan terhadap inIeksi bacteria seperti 'ibrio alginolyticus dan
inIeksi sekunder dari parasit seperti Uronema sp. dan ryptocarion irritans.
O Pemeliharaan juvenile
Juvenil clownIish dengan panjang 1,4-2,2 cm hanya diberi makan
dengan pakan buatan atau naupli artemia, rotiIer dan copepod. Perhatian ekstra
diberikan kepada pakan agar kecerahan warna dari benih ikan clownIish,
karena hal tersebut merupakan aspek yang terpenting dari perdagangan ikan
hias.

4.4 Kerapu lumpur (Ephinephelus coioides)
O Pematangan gonad dan pemijahan
O Tangki pemijahan induk untuk pematangan gonad dan pemijahan
bervolume 100m
3
, dilengkapi dengan bak pengumpul telur dengan volume
1 m
3
.
O Indukan diberi pakan potongan ikan segar, cumi-cumi, dan pelet terapung
dengan kandungan protein 40-45 dan kadar lemak 10-15 . Pematangan
gonad dan pemijahan dapat dipercepat dengan menggunakan hormon
implantasi LHRH dengan dosis 50 mg/kg berat ikan, dan implantasi
diberikan 3-5 kali.
O Inkubasi Telur
ak terbuat dari Iiberglass atau akuarium dengan volume 200 liter
pada kepadatan 10.000 telur/l dan suhu air 27-30
0
C. Telur akan diletakkan
pada bak pemeliharaan sekitar 18-20 jam setelah pembuahan (Iertilisasi).
Larva baru yang telah berada di bak pemeliharaan larva memiliki
warna transparan, memiliki panjang 0.8-0.9 mm, gumpalan minyak dan kuning
telur berdiameter 0.2 mm (pada wadah seleksi telur) dan 1.0 mm (pada bak
inkubasi).
O Teknologi Pembenihan Larva
Pakan alami yang diberikan misalnya Nannochloropsis sp. dan rotiIera
dengan kepadatan 3 -5 x 10
5
sel/ml dan 3-5 ind/ml. Larva berumur 10-20 hari
diberi pakan rotiIera dengan kepadatan yang lebih tinggi yaitu 10-15 ind/ml.
Mulai dari umur 20 hari sampai masa panen, ikan kerapu diberi pakan naupli
rtemia (0.5 ind/ml) dan pakan alami buatan yang sesuai dengan bukaan mulut
larva yaitu 0.1-0.6/0.8 mm. Tingkat kelulushidupan larva hingga tingkat juvenil
(45 hari setelah benih) sekitar 10-15 dengan panjang juvenil sebesar 12-19
mm.

O Kerapu Sunu (!lectropomus leopardus)
O Pemeliharaan Induk
Perbandingan jantan dan betina 2 : 1 dipelihara dalam bak beton
kapasitas 150 m
3
dengan sitem air mengalir dan pergantian air sebanyak 300-
400 per hari. Kisaran bobot tubuh dan panjang total induk betina 500-2.500 g
dan 30-5 cmm dan induk jantan 1.600-3.700 g dan 44-57 cm. Jenis parasit yang
menyerang ikan kerapu sunu dalam tangki adalah hirudenia. iasanya parasit
menyerang permukaan tubuh, insang, mulut, dan sekitar sirip.Induk yang
terserang parasit atau luka dapat diobati dengan cara merendamnya dalam air
laut yang berisi Iormalin 100-150 ppm selama 1 jam dan albazu yang dioleskan
pada saat ikan akan dikembalikan ke dalam bak pemeliharaan.
O Pemijahan Induk
Pertama kali induk kerapu sunu memijah secara alami setelah dipelihara
selama 8 bulan dalam tangki. Dari jumlah produksi telur ikan kerapu sunu
selama periode Oktober 2003 sampai Maret 2005, menunjukkan bahwa ikan
dapat memijah setiap bulan sepanjang tahun. Induk ikan kerapu sunu memijah
pada malam hari pada jam 23.00 sampai 02.00. Telur yang ada dalam kolektor
dapat dipanen pada jam 07.00-08.00
O Perkembangan Larva
Larva yang baru menetas mempunyai sumber energy dari kuning telur
dan oil globul. Rata-rata panjang total larva yang baru menetas sekitar 1, 62-
0,04 mm. 'olume kuning telur dan oil globul sekitar 1,23 x 10
-1
0,012 mm
3

dan 4,9 x 10
-3
0,002 mm
3
. 'olume kuning telur dan oil globul akan berkurang
seiring meningkatnya umur larva. Tingkat penyerapan kuning telurdan oil
globul pada ikan kerapu sunu 1,8 x 10
-3
mm
3
/jam dan 9,39 x 10
-5
mm
3
/jam.
InIormasi laju penyerapan dan volume kuning telur serta oil globul pada kerapu
sunu adalah berhubungan dengan pemberian pakan awal dan pengelolaan
pakan dalam pemeliharaan larva. Sirip larva ikan kerapu sunu sudah mulai
tumbuh pada D-6. Panjang sirip terus bertambah sampai D-17 dan D-20. Larva
kerapu sunu berubah dari Iase juvenile pada D-29-D-31.
O Pemeliharaan Larva
Larva pertama kali diberi pakan 58 jam setelah telur menetas atau umur
2 hari (D2). Pemberian pakan awal dilakukan berdasarkan pengamatan
perkembangan Iaase larva. Dari hasil pemeliharaan larva selama 45-55 hari
diperoleh benih ukuran 2-3 cm. Kendala utama yang dihadapi dalam
pemeliharaan larva adalah pemberian pakan awal setelah kuning telur habis,
larva memiliki bukaan mulut yang relative kecil (145-150m) dari pada larva
kerapu bebek dan kerapu macan.
O Penggelondongan
Juvenil yang baru dipanen dari bak larva masih kecil dengan kisaran
panjang total (TL) 2,5-3,5 cm dan masih belum kuat untuk dipelihara di jarring
apung (KJA), sehingga perlu dipelihara beberapa lama dalam bak sampai
mencapai ukuran gelondongan (6-10 cm) yang memerlukan waktu
pemeliharaan selama 4-6 minggu. Pada Iase juvenile biasanya diberi pakan
berupa jembret (udang kecil) dan pakan buatan. Pada penelitian gelondongan
sebaiknya diberi pakan pellet untuk meningkatkan kualitas juvenile menjadi
lebih baik. Pakan buatan dapat disesuaikan Iormulasinya sesuai kebutuhan.

O udidaya Kerapu ebek (romileptes altivelis) Dikaramba Jaring Apung
(KJA)
O Pemilihan Lokasi
Lokasi budidaya harus terlindung dari gelombang besar dan angin
kencang. Kedalaman air sebaiknya lebih dari 10 meter. Air tawar dari sungai,
air hujan, dan limbah budidaya udang atau industri sebaiknya tidak mengalir ke
lokasi budidaya.
O Persiapan Fasilitas
Ukuran rangka keramba yang sesuai adalah 4x4 meter. iasanya satu
rakit terdiri dari empat jaring. Harus disediakan jaring pengganti dengan ukuran
dan mata jaring yang berbeda.
erat Ikan (g) Ukuran Jaring
(m)
Ukuran Mata
Jaring (inci)
Periode (ulan)
4 10
10 80
80 150
150 500
2 x 2 x 2
3 x 3 x 2,5
4 x 4 x 3
4 x 4 x 3
0,5
0,75
1,0
1,5
1
3
3 4
9 - 10

O Pengadaan enih
enih ukuran panjang total 4 10 dari hatchery tersedia hampir
sepanjang tahun di Indonesia (lebih dari 1 juta benih diproduksi pada tahun
2001). Pensuplai benih kerapu terdapat di Gondol (ali), Lampung, Situbondo
(Jawa Timur), dan lain-lain. Harga benih berkisar antara Rp 4.000 10.000 per
ekor degan ukuran panjang total 4 10 cm.
O Penebaran enih
Penebaraan benih yang terlalu tinggi tinggi sering menyebabkan
pertumbuhan lambat dan kematian tinggi selama pemeliharaan. Disarankan
untuk mempertahankan kepadatan kurang dari 2 kg/m
3
sebelum mencapai berat
badan 10 g, dan seterusnya dipertahankan 7 kg/m
3
.
O Pemberian Pakan
Ikan rucah dapat dipergunakan sebagai pakan. Akan tetapi ada beberapa
masalah sebagai berikut:
O Ketersediaan ikan rucah yang tidak kontinyu
O Memerlukan tenaga dan waktu lama untuk persiapan
O Mutu pakan tidak stabil
O Perlu investasi tinggi (Ireezer, dll)
O Mudah menimbulkan pencemaran di perairan
Untuk mencegah kekurangan vitamin, ikan ruca harus dicampur dengan
vitamin sebelum diberikan. Pakan pelet kering untuk ikan kerapu telah
dikembangkan oleh alai esar Riset Perikanan udidaya Laut Gondol
bekerjasama dengan salah satu perusahaan pakan dan sudah tersedia di pasaran.
Gelondongan kerapu yang telah dipellihara dengan pemberian ikan rucah, akan
sulit menerima pelet. Untuk budidaya kerapu dengan pelet perlu mencari benih
yang telah terlatih makan pelet.
Perbandingan Pemberian Pakan (Periode : 4 bulan)
Parameter Jenis Pakan
Pelet Kering* Ikan Rucah
erat awal (g)
erat akhir (g)
Sintasan ()
FCR
iaya Produksi per kg ikan (Rp)
36,0
132,8
98,0
1,54
15,400
36,0
133,4
95,1
5,82
14,550
*Produksi PT. Suri Tani Pemuka, Sidoarjo, Indonesia.
Metode Pemeberian Pakan Kerapu dengan Pelet

Tipe
pakan
entuk/Ukuran
(mm)
Ukuran Ikan
(g)
Dosis pakan
()
Frekuensi
Pemeberian
Pakan/hari
KRA-1,6
KRA-3
KRA-5
KRA-7
KRA-10
Crumble 1,6
Pelet 3
Pelet 5
Pelet 7
Pelet 10
1-3
3-10
10-50
50-100
100-250
10-4
4-2
2,0-1,5
1,5-1,2
1,2-1,0
5-3
3-2
2
2-1
1
KRA-12 Pelet 12 ~250 1,0-0,8 1-0,5

O Kakap Merah
O Penyediaan enih
enih kakap merah bias diperoleh dari Hatchery yang menyediakan benih
kakap ini atau bias diperoleh dari penangkapan dari alam. enih dari alam
biasanya ketersediaannya terbatas, ukuran tidak seragam, dan hanya tersedia
pada musim tertentu.
O Penebaran enih
Penebaran benih dilakukan sebaiknya waktu pagi atau sore hari karena
suhu udara atau air lebih dingin. Pada penebaran benih kakap merah sebesar 50
gr adalah 100 ekor/m
3
.
O Pembesaran
Pemeliharaan ikan jenaha (L. johni) selama 6 bulan akan mencapai bobot
356 gr dengan bobot awal 125 gr.
O Pemberian Pakan
Pakan yang digunakan adalah ikan rucah sebesar 5 10 bobot badan /
hari. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari.
O Pengendalian Hama dan Penyakit
akteri yang menyerang ikan kakap merah adalah Streptococcus iniae.
Gejala ikan yang terserang penyakit ini, diantaranya warna ikan berubah
menjadi lebih gelap, kehilangan keseimbangan, berenang berputar dan timbul
bintik-bintik merah pada kulit. Pencegahan dilakukan dengan menghindari
padat tebar yang tinggi serta pemberian pakan yang berlebihan. Pemberantasan
parasit ini dengan cara merendam ikan di air tawar selama 5 menit.
O Panen
Ikan kakap merah dipanen setelah berukuran 500 gr adapun lama
pemeliharaan mencapai ukuran tersebut adalah 6 bulan benmih 50 gr.
Sementara itu, benih berbobot 200 gr akan mencapai rata-rata 890 gr / ekor
selama 225 hari.



III. KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan
1 Kegiatan budidaya air payau yang dilakukan di PT Indokor dan IPU Gelung
menggunakan komoditas udang vaname (itopenaeus vannamei)
2 Salinitas air yang digunakan dalam tambak PT Indokor berkisar 5-6 ppt.
3 Padat tebar benur yang digunakan PT Indokor yaitu 110 120 ekor/m2..
4 Kegiatan di multiplication center udang vaname Situbondo diawali dengan
mengambil air laut selanjutnya air di treatment agar bisa digunakan dalam
pemeliharaan udang vaname untuk mendapatkan indukan yang baik
5 Teknik pembesaran di KJA meliputi penebaran benih, manajemen pakan,
manajemen hama penyakit, perawatan KJA, panen, dan pemasaran.
6 Permasalahan yang sering timbul pada budidaya di KJA antara lain adalah adanya
penyakit dan pemasaran yang sulit.
7 alai esar Riset Perikanan udidaya Laut Gondol sebagai unit pelaksana teknis
Departemen Kelautan dan Perikanan dengan tujuan utama melaksanakan riset
budidaya laut termasuk pembenihan, produksi benih dan pembesaran memiliki
Iasilitas seperti Hatchery Udang, Hatchery Tuna, Hatchery, Multispesies dan
Hatchery produksi benih ikan laut serta sejumlah Laboratorium dan Keramba
Jaring Apung


B.Saran
1. Koordinasi antara asisten dengan praktikan perlu ditingkatkan sehingga dapat
memperlancar jalannya praktikum lapangan. Manajemen kesehatan ikan pada
KJA di Situbondo perlu ditingkatkan lagi untuk menjaga tetap sehat dan tidak
banyak terjangkit penyakit. Sehingga diharapkan akan meningkatkan produksi.
2. Diusahakan untuk tidak memasukkan orang diluar orang Perikanan pada saat
praktikum karena membuat suasana kurang nyaman dan mengganggu adanya
praktikum.


PENDAHULUAN
A. Latar elakang

. Tujuan
C. ManIaat
D. Waktu dan Tempat
II. PEMAHASAN
A. Keadaan Umum Lokasi (alai Pecaron, KJA, Hatchery Pak Rahman, dan alai
Gondol )
. Teknik dan Manajemen buididaya komoditas yang kalian kunjungi dan
mendapat penjelasan, misal : 1. balai pecaron ; 1. Kerapu....2. .....etc
2. balai situbondo dst
III. KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR RUJUKAN
LAMPIRAN