Anda di halaman 1dari 11

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar

Sebab Korupsi di Indonesia Kian Merajalela

Oleh: I Nyoman Rma Putra Iswara (09133102) Ni Nyoman Ari Apriyani (09133108) Hukum 2011/2012

Kata Pengantar
Om Swastyastu, Puji syukur kami haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas karunia Beliau kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai pada waktunya. Terima kasih pula kami haturkan kepada dosen pengajar yang memberi kami kesempatan untuk mengembangkan wawasan dan kreatifitas kami melalui pembuatan makalah sederhana ini. Kami mencoba mengulas tentang tindakan kriminal korupsi yang kian merajalela di Indonesia. Sehingga ke depannya dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana menghadapi masalah ini. Kami berharap ulasan di sini, selain sebagai bahan untuk menambah wawasan, makalah ini dapat menjadi pertimbangan dan bahan renungan agar kita semua, khususnya para pembaca, dapat memiliki tanggung jawab ketika kita dihadapakan dengan kepercayaan yang diamanatkan untuk kita pegang sementara. Dan di samping itu, penyampaian makalah ini tentunya terbatas dan memiliki banyak kekurangan. Menjadi kebutuhan mutlak bagi kami akan masukan dari para pembaca. Om Shantih Shantih Shantih Om. Mataram, Nopember 2011

Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar ................................................................................................................................... i Daftar Isi ................................................................................................................................................. ii Bab 1 Pendahuluan .......................................................................................................................... 1 1.1. Latar Belakang................................................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah............................................................................................................ 1 1.3. Ruang Lingkup Pembahasan dan Batasan ....................................................... 1 1.4. Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 1 1.5. Manfaat Penulisan ........................................................................................................... 2 Bab 2 Pembahasan ........................................................................................................................... 2 2.1. Pengertian Korupsi........................................................................................................ 2 2.2. Korupsi dalam Sudut Pandang Hukum ............................................................. 3 2.3. Kondisi Penyebab Adanya Korupsi ..................................................................... 3 2.4. Penanganan Korupsi .................................................................................................... 4 2.5. Kasus Korupsi Skala Kecil ......................................................................................... 5 2.6. Kata-Kata Masyarakat untuk Memberantas Korupsi............................... 5 Bab 3 Penutup..................................................................................................................................... 7 3.1. Kesimpulan......................................................................................................................... 7 3.2. Saran....................................................................................................................................... 7 Daftar Pustaka..................................................................................................................................... 8

ii

Bab I Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Seolah menjadi polemik tak berkesudahan perihal kasus korupsi di negara Indonesia ini. Kerap kali kita mendengar berita tentang adanya kasus korupsi oleh oknum pejabat dari berbagai lembaga, baik negeri maupun swasta. Tindakan korupsi yang diwarnai sengan suap menyuap seakan-akan sudah menjadi makanan pokok bagi penduduk seantero negeri ini. Bukannya semakin berkurang, justru korupsi semakin gencar dilakukan. Sungguh ironis memang, namun beginilah kenyataan yang kita hadapi bersama. Koruptor seakan begitu tega merenggut hak asasi manusia yang dimiliki warga negara untuk dapat bertahan hidup, memperoleh pendidikan, pekerjaan, kesehatan, sarana dan pra-sarana dan sebagainya. Tidak ada di antara kita yang ingin generasi penerus bangsa selanjutnya turut melakukan tindakan kriminal ini. Oleh karena itu kita harus wanti-wanti sejak dini, sehingga ideologi Pancasila untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia dapat tercapai.

1.2. Rumusan Masalah


Mengapa tindakan kriminal korupsi semakin merajalela di Indonesia?

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan dan Batasan


Ruang lingkup pembahasan di sini adalah hipotesa yang terkait dengan tindakan korupsi dilihat pula dari segi perbandingannya antara yang terjadi di jajaran pejabat dan juga masyarakat biasa.

1.4. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran sebab-sebab merajalelanya korupsi di Indonesia.

1.5. Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah kami ini adalah agar dapat memberikan perubahan kecil sehingga pembaca tidak turut melakukan tindakan korupsi baik skala besar maupun skala kecil.

Bab 2 Pembahasan
2.1. Pengertian Korupsi
Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

2.2. Korupsi dalam Sudut Pandang Hukum


Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut: perbuatan melawan hukum; penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana; memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi; merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;

Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, di antaranya: memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan); penggelapan dalam jabatan; pemerasan dalam jabatan; ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara); menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).

2.3. Kondisi Penyebab Adanya Korupsi


Terjadinya korupsi dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah sebagai berikut: 3

Konsentrasi

kekuasan

di

pengambil

keputusan

yang

tidak

bertanggung jawab langsung kepada rakyat, seperti yang sering terlihat di rezim-rezim yang bukan demokratik; Kurangnya transparansi di pengambilan keputusan pemerintah; Kampanye-kampanye politik yang mahal, dengan pengeluaran lebih besar dari pendanaan politik yang normal; Proyek yang melibatkan uang rakyat dalam jumlah besar; Lingkungan tertutup yang mementingkan diri sendiri dan jaringan "teman lama"; Lemahnya ketertiban hukum; Lemahnya profesi hukum; Kurangnya kebebasan berpendapat atau kebebasan media massa; Gaji pegawai pemerintah yang sangat kecil.

2.4. Penanganan Korupsi


Selain pihak kepolisian, guna menangani kasus ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendirikan komisi khusus penanganan korupsi pada tahun Komisi 2003 ini yang bernama Komisi Pemberantasan Korupsi yang disingkat KPK. telah berhasil meringkuk koruptor dalam jumlah banyak. KPK cukup dipercaya masyarakat dalam mengawasi dan menangani tindakan korupsi. Namun demikian, pernah terdapat isu bahwa orang penting yang berkedudukan di KPK juga turut melakukan korupsi. Yang kemudian kepercayaan rakyat mulai luntur terhadap KPK dalam rangka pemberantasan korupsi. Terlebih penjatuhan penjara bagi lagi mengenai kurungan kasus hukuman Di ruang tahanan Ayin yang terpisah dari tempat napi lain, tim juga menemukan sejumlah fasilitas mewah seperti kamar ber-AC, fasilitas televisi, kulkas, serta meja kantor.

terdakwa

korupsi Artalyta Suryani. Yang

ternyata ruang penjaranya memiliki fasilitas seperti ruang kamar hotel berbintang. Ada pembedaan antara narapidana yang kaya raya ini dengan narapidana lainnya. Ini sama sekali bukan bentuk keadilan. Ada pula kasus korupsi sebelumnya, koruptor hanya dengan mengembalikan uang yang dikorupsi maka ia bebas dari hukum. Terlebih lagi dengan proses pengadilan yang bertele-tele sehingga membuat masyarakat menjadi gerah dan tidak percaya lagi dengan kehakiman. Kalau pun penjatuhan hukuman sudah dilakukan oleh pengadilan, namun masyarakat banyak yang kecewa karena hukuman yang terbilang ringan.

2.5. Kasus Korupsi Skala Kecil


Tidak dapat dipungkiri, ternyata korupsi juga terjadi di lapisan masyarakat menengah ke bawah. Ketika seorang tukang bangunan diminta membeli bahan bangunan oleh pemilik bangunan, ia juga melakukan korupsi dengan bekerja sama dengan pedagang bahan bangunan untuk menaikkan harga di nota. Demikian juga oleh karyawan swasta yang disuruh bosnya untuk membeli sesuatu, ia pun menaikkan harga. Jika dicerna, rakyat saja terbiasa korupsi, bagaimana dengan pejabat yang notabene adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Dengan begini, seakan-akan korupsi sudah menjadi kebiasaan atau tradisi bagi sebagian besar warga Indonesia. Tentu saja kalau begini terus, dari skala kecil saja masih tetap korupsi, maka akan sangat sulit sekali memberantas korupsi itu sendiri.

2.6. Kata-Kata Masyarakat untuk Memberantas Korupsi


Dalam hasil polling mengenai keberadaan hukuman mati di Indonesia, didapat hasil bahwa 415 orang, 350 orang menyatakan setuju dengan adanya hukuman mati sedangkan 65 orang yang lain menyatakan tidak setuju dengan adanya hukuman mati. Dan kebanyakan dari 350 orang tersebut ingin agar para koruptor dijerat hukuman mati. Sebagian lagi ada yang ingin agar para koruptor dihukum secara mental, dalam artian dipermalukan di depan orang banyak. 5

Dipaksa bekerja sebagai tukang sapu dengan baju yang bertuliskan KORUPTOR. Ada juga sebagian yang menginginkan hukum Malaysia terhadap koruptor diberlakukan juga di Indonesia, yaitu pemiskinan. Pemiskinan yaitu pengurasan harta kekayaan milik keluarga koruptor. Dan juga, sebagian dari mereka, mengingat tentang kasus pencopet/penjambret yang babak belur dihakimi massa, mereka juga ingin agar koruptor dihajar sampai babak belur oleh massa. Semua kata-kata masyarakat di atas bukan semata-mata karena emosi sesaat. Tetapi dengan pertimbangan agar menimbulkan efek jera bagi si pelaku serta menimbulkan rasa takut bagi calon pelaku korupsi. Khusus tentang hukuman mati, Cina sebagai negara yang pernah memiliki kasus korupsi terparah di dunia, Cina memberlakukan hukuman mati bagi para pelaku koruptor. Alhasil, Cina berhasil memberantas dan menekan tindakan korupsi. Tentu saja hal tersebut bisa dilakukan di Indonesia.

Bab 3 Penutup
3.1. Kesimpulan
Sampai saat ini tindakan korupsi masih saja terjadi dan justru semakin merajalela. Dapat kita simpulkan bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan kian merajalelanya masalah ini. Korupsi seperti menjadi kebiasan warga Indonesia, kebiasaan inilah yang harus diubah sedari dini. Hal ini juga disebabkan karena hukum yang kurang tegas dalam menindak kasus korupsi. Sehingga sering dibiarkan mengambang tanpa keputusan yang jelas. Terlebih lagi dengan pembedaan antara narapidana koruptor yang kaya raya dengan narapidana biasa yang lain. Faktor lain adalah karena kurang ketatnya pengawasan perjalanan uang negara sehingga koruptor dengan mudah bertindak. Bayangkan saja, jika korupsi skala kecil saja sulit ditiadakan, maka betapa sulitnya meniadakan korupsi berskala besar. Jadi, setiap orang harus mulai menyadari bahwa tindakan korupsi harus diberantas mulai dari skala kecil agar tidak menjadi kebiasaan yang justru akan semakin membesar.

3.2. Saran
Korupsi terlalu keji untuk dilakukan karena menyangkut kehidupan orang banyak. Indonesia sangat buruk sekali dalam penegakan hukum khususnya kasus korupsi. Pemerintah harus tegas dan transaparan serta cepat tanggap dalam menjatuhkan putusan hukuman bagi terdakwa kasus korupsi. Bahkan, Indonesia perlu meniru negara Cina dengan member lakukan hukuman mati bagi para koruptor. Jika masih saja sulit memberantas korupsi, maka kita sendiri secara pribadi hendaknya perlu mengontrol diri agar tidak melakukan tindakan korupsi. Sehingga seandainya kita berprofesi di kancah birokrasi, kita dapat bertanggung jawab atas apa yang menjadi hak rakyat.

Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi http://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Pemberantasan_Korupsi http://www.scribd.com/doc/71253385/Filsafat-Hukum http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11254823