Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pemeliharaan hygiene dan kebersihan lingkungan sangat berkaitan
dengan kesehatan individu dan lingkungan. Suatu lingkungan yang kurang
dijaga kebersihannya dapat menjadi tempat hidup hewan yang menjadi
vektor penyakit, seperti nyamuk, tikus atau kecoa. Keberadaan dari vektor di
dalam lingkungan, akan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan para penghuni di
lingkungan tersebut, karena vektor dapat menularkan penyakit kepada
manusia (Aryatie, 2007). Kecoa misalnya, hewan ini meninggalkan kuman di
setiap tempat yang ditinggalkannya. Keberadaan kecoa memang tidak merusak,
tetapi adanya kecoa menunjukan sanitasi di suatu lingkungan kurang baik.
Di daerah tropis seperti Indonesia, hampir dipastikan tidak ada rumah
yang tidak pernah dihinggapi kecoa. Kecoa telah hidup dan berkembang biak
sejak 300 juta tahun silam. Sekitar 5.000 spesies kecoa tersebar di seluruh penjuru
dunia. Rumah atau bangunan, merupakan tempat yang paling sering menjadi
sarang kecoa Amerika (Periplaneta americana) dan Blatella germanica atau
kecoa jerman. Adapun jenis kecoa yang paling sering ditemukan di Indonesia
ialah kecoa Amerika. Di Indonesia juga terdapat jenis kecoa terbesar di dunia
yang ditemukan di daerah hutan belantara Kalimantan Timur pada tahun 2004,
ukuran kecoa ini dapat mencapai 8 cm. (Alimansyah, 2010).
Habitat kecoa tidak lain adalah di tempat-tempat yang kotor, bau, serta
tempat-tempat tersembunyi. Karena cara hidupnya yang yang kotor inilah maka
kecoa dikatakan sebagai salah satu serangga pengganggu yang dapat menularkan
penyakit. Karena dapat bertindak sebagai vektor mekanik bagi beberapa
mikroorganisme pathogen, inang antara beberapa spesies cacing dan dapat
menyebabkan beberapa reaksi alergi seperti gatal-gatal.
Kendati sejauh ini belum banyak bukti mengenai penyakit yang
disebabkan oleh kecoa, namun sangat dibutuhkan kewaspadaan akan serangga
penggangu ini. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa
2

kecoa membawa beberapa mikroorganisme parasit, antara lain kuman $almonella
typhimurium, Entamoeba histolytica serta poliomyelitis virus5 yaitu, kuman
penyebab penyakit demam typhoid atau typhus, kuman penyebab diare serta virus
penyebab polio (Aryatie, 2007). Untuk itu, perlu diketahui lebih jelas mengenai
kecoa sebagai vektor penyakit dan cara penanganan atau pengendalian yang tepat
guna mengurangi gangguan yang didatangkan dari kecoa.

1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu:
1. Bagaimanakah penularan penyakit dari kecoa sebagai vektor penyakit?
2. Apa sajakah jenis penyakit yang diperantarai oleh kecoa?
3. Bagaimanakah cara pengendalian kecoa yang dapat mengganggu
kesehatan masyarakat?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penulisan ini yaitu:
1. Untuk mengetahui tentang penularan penyakit dari kecoa sebagai vektor
penyakit
2. Untuk mengetahui mengenai jenis-jenis penyakit yang diperantarai oleh
kecoa.
3. Untuk mengetahui cara pengendalian kecoa yang dapat mengganggu
kesehatan masyarakat.

1.4 Manfaat
ManIaat dari penulisan ini yaitu:
1. Dapat mengetahui tentang penularan penyakit dari kecoa sebagai vektor
penyakit yang sering ditemukan di lingkungan.
2. Dapat mengetahui mengenai jenis-jenis penyakit yang diperantarai oleh
kecoa.
3. Dapat mengetahui cara pengendalian kecoa yang dapat mengganggu
kesehatan masyarakat.

3

BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Ilmiah dan 1enis-1enis Kecoa

Gambar 2.1 Kecoa (Periplaneta americana
(Sumber: http://www.bbcindonesia.com)
Periplaneta americana merupakan jenis kecoa yang paling sering ditemui
di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Kecoa atau cockroach jenis ini dapat
diklasiIikasikan sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Upakelas : Pterygota
InIrakelas : Neoptera
Superordo : Dictyoptera
Ordo : Blattodea
Famili : Blattidae
Genus : Periplaneta
Spesies : Periplaneta americana
(http://www.wikipedia.com/kecoa-wiki.htm
Terdapat beberapa spesies atau jenis kecoa selain Periplaneta americana
atau kecoa Amerika (American cockroach), berikut adalah jenis-jenis kecoa yang
juga menjadi perhatian dalam kesehatan masyarakat dan tempat hidupnya
pada umumnya berada di dalam lingkungan manusia antara lain:
O German cockroach (Blatella germanica)
O Oriental cockroach (Blatta orientalis)
O Brown-banded cockroach ($upella longipalpa)
O Australian cockroach (Periplaneta fuliginosa)
4

O Brown cockroach (Periplanetabrunnea)
(Anonim, 2007)

Gambar 2.2 1enis-jenis kecoa yang dapat menjadi vektor
(Sumber: Aryatie, 2007)

2.2 Morfologi Kecoa
Sesuai dengan pengelompokkannya ke dalam kelas insekta maka kecoa
memiliki kaki berjumlah tiga pasang kaki (hexapoda). MorIologi kecoa meliputi
cephalo (kepala), thoraks (dada), dan abdomen (perut). Seperti serangga lainnya
kecoa memiliki eksoskeleton yang melapisi permukaan tubuhnya untuk
membentuk dan menopang tubuhnya.
Pada kepala terdapat antenna yang lebih penting dari mata majemuknya.
Antenna berperan sebagai penyeimbang gerak dan pengenal lingkungan termasuk
rasa, bau, dan bahkan mengetahui letak sumber air. Abdomen sebagai bagian
terbesar, terdiri dari beberapa plate yang saling tumpang tindih sehingga Nampak
seperti perisai tubuh. Otak kecoa bukanlah organ tunggal, melainkan seperti
simpul saraI tunggal yang memanjang sepanjang tubuhnya (system saraI tangga
tali).
Kecoa bernaIas melalui sepuluh pasang lubang yang terdapat di bagian
atas thoraks. Kecoa memiliki siIat scavenger (pemakan bangkai) dan omniIora
(pemakan hewan dan tumbuhan).
(Nandito, 2009)

2.3 Perilaku dan Habitat Kecoa
Kecoa atau cockroach merupakan salah satu serangga yang sering
mengganggu kehidupan manusia, hewan ini tersebar hampir di seluruh belahan
5

dunia, kecuali di daerah kutub karena kecoa menyukai hidup di tempat yang
hangat.
Kecoa dapat hidup di rumah, restoran, hotel, rumah sakit, gudang, kantor
bahkan di hutan sekalipun, serangga ini memiliki kehidupan yang cukup dekat
dengan manusia. Kecoa menyukai tempat yang gelap, lembab dan hangat serta
terdapat banyak makanan maka tidak mengherankan bila kita dapat melihat kecoa
didapur, kamar mandi ataupun didalam lemari. Kecoa merupakan hewan yang
memiliki katahanan hidup yang sangat tinggi, dia mampu beradaptasi pada
beberapa kondisi lingkungan yang ekstrim.
Pada umumnya kecoa merupakan binatang malam. Pada siang hari mereka
bersembunyi di dalam lubang atau celah-celah tersembunyi. Kecoa dewasa dapat
hidup dalam jangka waktu yang sangat lama, dapat mencapai dua tahun atau lebih
tergantung pada suhu dan kelembapan, selain itu produksi telur kecoa juga
tergolong tinggi, kedua hal ini menyebabkan disarang kecoa dapat dijumpai
ratusan hingga ribuan kecoa.
Kecoa hidup bergerombol di suatu tempat berupa ruang atau rongga yang
sempit, lembab, tertutup dan gelap. Pada waktu kecoa bergerak mencari makan, ia
berkeliaran sendirian, lebih sering dengan cara merangkak daripada terbang,
kecoa menyukai tempat-tempat yang kotor yang merupakan tempat makanan yang
disukainya misalnya kotoran manusia tetapi kadang dijumpai juga pada makanan
manusia yang bersih.
(Alimansyah, 2010)

Gambar 2.3 Kecoa bergerombol pada makanan
(Sumber: http://www.bbcindonesia.com)




2.4 Daur Hidup Kecoa
Kecoa mengalami daur atau siklus hidup seperti serangga lainnya
(metamorIosis tidak sempurna). Daur hidup kecoa terdiri dari tiga stadium yaitu
telur, nimIa, dan dewasa. Untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya, kecoa
memerlukan waktu kurang lebih tujuh bulan. Untuk stadium telur, kecoa
membutuhkan waktu 30 40 hari sampai telur menetas. Telur kecoa diletakkan
secara berkelompok. Kelompok telur kecoa dilindungi oleh selaput keras yang
disebut kapsul telur atau ootheca. Satu kapsul telur biasanya berisi 30 telur. Oleh
induk kecoa, kapsul telur diletakkan di tempat tersembunyi seperti sudut-sudut
dan permukaan sekatan kayu dan dibiarkan sampai menetas. Namun ada
beberapa jenis kecoa yang kapsul telurnya menempel pada ujung abdomen
induknya sampai menetas. Peletakan kapsul kecoa bisa mencapai 30 - 8 kapsul
per kecoa dengan interval 3 5 hari. (Anonim, 200).
Sebuah kapsul telur yang telah dibuahi oleh kecoa jantan akan
menghasilkan nimIa. NimIa hidup bebas dan bergerak aktiI. NimIa yang baru
keluar dari kapsul telur biasanya berwarna putih. Dengan bertambahnya umur,
warna ini akan berubah warna menjadi cokelat. Seekor nimIa akan mengalami
pergantian kulit beberapa kali sampai nimIa menjadi stadium dewasa. Dengan
adanya sayap pada stadium dewasa, maka dapat menjadikan kecoa lebih bebas
bergerak dan berpindah tempat. (Anonim, 200).


Gambar 2.4 Daur hidup kecoa adalah sebagai berikut:
(a telur dalam selubung, (b nimfa atau tempayak, dan (c kecoa dewasa
(Sumber: http://www.bbcindonesia.com)

7


Gambar 2.5 Daur hidup German cockroach
(Sumber: Aryatie, 2007)


Gambar 2.6 Daur hidup Brown cockroach
(Sumber: Aryatie, 2007)


Gambar 2.7 Daur hidup American cockroach
(Sumber: Aryatie, 2007)







8

BAB III
METODE

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah
metode induktiI yaitu merangkum Iakta-Iakta umum melalui studi pustaka
kemudian dianalisa dan diambil kesimpulan untuk memecahkan masalah. Data
mengenai berbagai inIormasi yang berhubungan dengan objek penelitian
didapatkan dari literatur dan hasil penelitian yang dilakukan sehingga data dalam
karya tulis ini merupakan data sekunder. Literatur yang digunakan adalah berupa
jurnal-jurnal penelitian, text book, artkel-artikel ilmiah dari internet yang
berhubungan dengan objek penelitian, dan inIormasi dari sumber-sumber lisan
yang diperoleh penulis.




















9

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Kecoa sebagai Vektor Penyakit
Kecoa yang menjadi permasalahan dalam kesehatan manusia adalah kecoa
yang hidup dari sisa hewan yang mati. Aktivitas kecoa kebanyakan adalah
berkeliaran di dalam ruangan melewati dinding, pipa-pipa atau tempat sanitasi.
Kecoa dapat mengeluarkan zat yang baunya tidak sedap sehingga kita dapat
mendeteksi tempat hidupnya.
Jika dilihat dari kebiasaan dan tempat hidupnya, sangat mungkin kecoa
dapat menularkan penyakit pada manusia yakni secara mekanik. Penyebaran
penyakit tersebut dapat terjadi karena hewan ini hidup berdekatan dengan
manusia, mikroorganisme yang bersiIat pathogen yang terdapat di sampah serta
kotoran atau sisa makanan akan terbawa oleh kecoa kemudian mengkontaminasi
makanan atau benda-benda yang berada di sekitar manusia sehingga dapat
menginIeksi manusia.

4.2 1enis Penyakit yang Diperantarai Oleh Kecoa
Meskipun hanya sedikit bukti yang menunjukan kaitan kecoa dengan
penyakit tertentu, telah diteliti bahwa kecoa membawa beberapa mikroorganisme
parasit, antara lain kuman $almonella typhimurium, Entamoeba histolytica serta
poliomyelitis virus yaitu, kuman penyebab penyakit demam typhoid atau typhus,
kuman penyebab diare serta virus penyebab polio. Selain itu diketahui juga bahwa
kecoa juga merupakan pembawa kuman $treptococcus dan lain-lain sehingga
kecoa juga dikenal sebagai serangga penular penyakit Disentri, Diare, Cholera,
dan virus Hepatitis A. (Aryatie, 2007)

4.3 Pengendalian Kecoa
Pengendalian atau penangan kecoa perlu dilakukan untuk mengatasi
kemungkinan penyebaran penyakit yang diperantarai oleh kecoa. Strategi
pengendalian kecoa terdiri dari 4 cara, yakni pencegahan, sanitasi, trapping dan
pengendalian dengan menggunakan insektisida.
10

Gambar 4.1 Pengendalian kecoa menggunakan bahan kimia berupa gel


(Sumber, Hidayat, 2010)
1. Pencegahan
Pencegahan terhadap serangga kecoa ini dapat dilakukan dengan beberapa
cara salah satunya dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, hal ini
sangat diperlukan karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kecoa
menyukai tempat-tempat yang kotor, adanya kecoa di lingkungan tempat tinggal
menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan masih kurang. Makanan yang
dikonsumsi juga harus dijaga, hendaknya makanan selalu di tempatkan di tempat
yang aman dan tertutup agar terhindar dari kecoa. Cara pencegahan lainnya adalah
menutup semua celah-celah, lubang atau tempat-tempat tersembunyi yang bisa
menjadi tempat hidup kecoa dalam dapur, kamar mandi, pintu dan jendela, serta
menutup atau memodiIikasi instalasi pipa sanitasi.

2. Sanitasi
Cara yang kedua ini termasuk memusnahkan makanan dan tempat tinggal
kecoa antara lain, membersihkan remah-remah atau sisa-sisa makanan di lantai
atau rak, segera mencuci peralatan makan setelah dipakai, membersihkan secara
rutin tempat-tempat yang menjadi persembunyian kecoa seperti tempat sampah,
di bawah kulkas, kompor, Iurniture, dan tempat tersembunyi lainnya. Jalan
masuk dan tempat hidup kecoa harus ditutup, dengan cara memperbaiki pipa
yang bocor, membersihkan saluran air (drainase), bak cuci piring dan washtaIel.
Pemusnahan tempat hidup kecoa dapat dilakukan juga dengan membersihkan
lemari pakaian atau tempat penyimpanan kain, tidak menggantung atau segera
mencuci pakaian kotor dan kain lap kotor.
11

3. Trapping
Perangkap kecoa yang sudah dijual secara komersil dapat membantu untuk
menangkap kecoa dan dapat digunakan untuk alat monitoring. Penempatan
perangkap kecoa yang eIektiI adalah pada sudut-sudut ruangan, di bawah
washtaIel dan bak cuci piring, di dalam lemari, di dalam basement, dan pada
lantai di bawah pipa saluran air.

4. Pengendalian dengan Insektisida
Penggunaan bahan kimia dalam hal ini insektisida dilakukan apabila
ketiga cara di atas telah dipraktekan namun tidak berhasil. Namun, bisa juga
diindikasikan bahwa pemakaian insektisida dilakukan karena ketiga cara di atas
dilakukan dengan cara yang salah atau tidak pernah melakukan ketiga cara di atas.
Berikut insektisida yang dapat digunakan untuk pemberantasan kecoa yang
terdaItar dan diizinkan.

Tabel 2.1 Daftar Insektisida Pemberantas Kecoa yang Diizinkan
No.
Nama
Insektisida
Bahan Aktif
Konsentrasi
Sasaran
G/L
atau
G/Kg

1. Bagus 0, ST Deltametrin 0, American Cockroach
2. Baygon 0, T
TransIultrin
KlorpiriIos

0,00
0,
American Cockroach
3.
Baygon
0,05A
SiiIlurtin
TransIlutrin

0,025
0,040
American Cockroach
4. Baygon 1,04A
Propoxur
TransIltrin

1,00
0,04
German Cockroach
5. Baygon 4,2 L
Propoxur
TransIltrin
4,05 American Cockroach
. Bistar 10 WP BiIentrin 0,12 10,0 German Cockroach
7.
Blattanex 120
FC
Propoxur Kecoa
8.
Blattanex 220
EC
Propoxur 123,3 Kecoa
9. Boltliquid KlorpiriIos 218 Kecoa
10. Contorl 2T Hidrametilnon 4,0 1,5 German Cockroach
11. Coopex 100 Permetrin Kecoa
12

EC
12.
Cymperator 40
wp
Sipermetrin 100 40 Periplaneta sp
13. CynoII 40 wp Sipermetrin 40 Periplaneta sp
14.
Deltacide 25
Ec
Deltametrin 5 Kecoa
15.
Deltacide 1,25
E
Deltanetrin
Eshioletrin
7,5
2,5
Kecoa
1.
Deltacide 2,5
Wp
Deltanetrin Kecoa
17.
Dominex
50SC
AlIa sipemetin 50 2,55 German Cockroach
18.
Empire 200
ME
Klorpiritos 200 German Cockroach
19. Fendona 15 SC AlIametrin 15 German Cockroach
20.
Folithion 40
Wp
Fenitrotion 40 Kecoa
21.
Forcemagic
0,3 A
Praletin
SiIenotrin

0,1
0,2
Periplaneta sp
22.
Forcemagic
2,45 L
Praletin
SiIenotrin
0,815
1,5
Periplaneta sp
23.
Groliath 0,05
GL
Fipronil 0,05 German Cockroach
24.
Goodknight
0,14 A
d-Ienotrin
Praletrin
0,05 American Cockroach
25.
Goodknight 1
L
SiIenotrin
Praletin

0,795
0,183
American Cockroach
2. ICON 10 Wp
Lamda
sihalotrin
10,0 American Cockroach
27.
Kothrine 7,5
SC
Deltametrin 7,5 American Cockroach
28.
Lorsban 480
SC
KlorpiriIos 480 American Cockroach
29. MaIu 0,53 A
Propxur
Bioaletrin

0,5
0,03
American Cockroach
30. MaIu 2,4 L
Propxur
Bioaletrin
2,40
0,24
American Cockroach
31.
Mortein 0,18
A
Esbiotrin 0,18 Perplaneta sp
32. Mortein 0,35 L Esbiotrin 0,35 Perplaneta sp
33. MosIly 0,0 A TransIlutrin 0,0 Kecoa
13

34. MosIly 1,7 A
TransIlutrin
Propoxur
1,0
0,159
German Cockroach
35.
Mosquiban
480 EC
KlorpiriIos
480

Periplaneta sp
3.
Motto 30/30
SC
Fluperoksuron
AlIametrin
30
30

American Cockroach
German Cockroach
37. Motto 50 Wc Flupenoksurin 50 German Cockroach
38.
Mustang 25
EC
Zeta
sipemetrin
1,5 German Cockroach
39. Noehit 0,4 A
d-aletrin
Permetrin

0,2
0,2
American Cockroach
40. Orbit 1,5 L Teta sipenetrin 1,5 German Cockroach
41. Raid 1,75 A
DDVP
Propoksur

1,0
0,75
Periplaneta sp
42. Raid 15 L
DDVP
Propoksur
10
5
Periplaneta sp
43. Reslin 100 OC Bioresmetrin 100 Kecoa
44. Robin 0,21 A Esbiotrin 0,21 Kecoa
45. Robin 0,43 L Esbiotrin 0,43 Kecoa
4. Siege 2 GL Hidramethilon 2 German Cockroach
47. Snipplus 1 G AzametiIos 1 German Cockroach
48. SolIac 10 wp SilIultrin 10 Periplaneta sp
49. SolIac 50 Ec SilIutrin 51,3 Kecoa
50.
Sumigard 500
Ec
Fenitrotion 500 Kecoa
51.
Riga Roda 1,2
A
Propoksur
d-aletrin

1
0,2
American Cockroach
52. Tiga Roda 7 L
Propoksur
d-aletrin
,11
0,5
American Cockroach
53. Vape 1,4 L
Praletin
siIenotrion
0,29
1,105
American Cockroach
54. Vape 0,55 A
d-tetametrin
SiIenotrin

0,092
0,41
Periplaneta sp
(Sumber: Aryatie, 2007)

Selain keempat cara pengendalian di atas, pengendalian kecoa secara Iisik
dapat dilakukan dengan cara menyiramkan air panas pada kapsul-kapsul telur
kecoa sehingga telur-telur tersebut tidak sampai menetas atau membunuh kecoa
dengan alat pemukul atau tangan.

14

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari uraian pembahasan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Penularan penyakit dari kecoa sebagai vektor penyakit terjadi secara
mekanik, dimana mikroorganisme pathogen yang terdapat di sampah serta
kotoran atau sisa makanan yang merupakan habitat kecoa akan terbawa
oleh kecoa kemudian mengkontaminasi makanan atau benda-benda yang
berada di sekitar manusia sehingga dapat menginIeksi manusia.
2. Jenis-jenis penyakit yang diperantarai oleh kecoa, diantaranya demam
typhoid atau typhus, polio pada anak-anak, disentri, diare, cholera, dan
virus Hepatitis A.
3. Cara pengendalian kecoa yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat
dapat dilakukan melalui 4 cara, yakni pencegahan dengan mengoptimalkan
kebersihan lingkungan dan makanan, sanitasi dengan memusnahkan
makanan dan tempat hidup kecoa, trapping dengan memasang perangkap
kecoa, dan dengan menggunakan insektisida.

5.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan adalah kepada masyarakat untuk
memperhatikan kebersihan lingkungan guna mengatasi penyebaran penyakit yang
diperantarai oleh kecoa.









15

DAFTAR PUSTAKA

Alimansyah. 2010. Mengenal Kecoa Serangga Sang Pengganggu.
http://duniaveteriner.com
Anonim. 200. Kecoa, $erangga Purba Penebar Penyakit. Pikiran Rakyat edisi
Kamis April.
Anonim. 2007. Chapter 4. Disease Jectors and Pests. National Center Ior
EnvironmentalHealth.
Aryatie, Desy M. 2007. Pentingnya Pemeliharaan Kesehatan dan Kebersihan di
Atas Kapal dari Jektor Kecoa. SHE-C Divisi Jalarta.
Hidayat, Ahmad. 2010. Killroach-Pengendalian Kecoa. Remapest Indonesia.
http://www.remapest.com
Nandito. 2009. Mengenal Perilaku dan Lokomosi Kecoa (Periplaneta americana).
http://nandito10.wordpress.com
http://www.bbcindonesia.com, diakses tanggal 1 Juni 2010
http://www.wikipedia.com/kecoa-wiki.htm, diakses tanggal 1 Juni 2010