Anda di halaman 1dari 13

PEMANFAATAN RESIN DAUN SIRSAK SEBAGAI PESTISIDA NABATI

LAPORAN TEKNOLOGI SERAT, KARET, GUM, DAN RESIN







Oleh:
Dora Vitra Meizar (F34080100)
Elfira Febriani (F34080084)
M. Hadhitia P. (F34080088)







FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

DAFTAR ISI


I. Pendahuluan ................................................................................................................ 3
II. Isi ................................................................................................................................ 4
. ahan baku .................................................................................................................. 4
. Produk ......................................................................................................................... 5
C. Pengembangan produk ................................................................................................. 7
D. Kendala Pengembangan Pestisida Nabati ...................................................................... 8
E. Pengembangan Pestisida Secara Sederhana ................................................................... 10
III.Penutup ........................................................................................................................ 12
DaItar Pustaka ................................................................................................................... 13


3

I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

#esin adalah hasil sekresi hidrokarbon dari banyak tanaman, terutama pohon-pohon yang
berdaun jarum. #esin merupakan hasil dari metabolit sekunder atau senyawa yang tidak berperan
penting dalam Iisiologis tanaman. eberapa ilmuwan menyatakan bahwa resin merupakan produk
limbah dan bagi beberapa herbivore, serangga, dan pathogen lainnya resin bersiIat racun bagi mereka.
Oleh karenanya resin banyak digunakan untuk pestisida baik dibuat dari resin secara alami maupun
resin sintetik.
#esin yang dihasilkan dari tanaman merupakan cairan kental yang terdiri dari terpen, cairan
mudah menguap dengan komponen yang lebih kecil dari komponen yang tidak mudah menguap yang
membuatnya tebal dan lengket. eberapa resin juga memiliki proporsi asam yang lebih tinggi.
Masing-masing komponen resin dapat dipisahkan dengan distilasi Iraksional.
Daun sirsak mengandung bahan aktiI annonain dan resin. Daun sirsak selain digunakan sebagai
obat penyakit seperti kanker, juga mulai digunakan untuk pestisida nabati (pestisida alami). Pestisida
nabati daun sirsak eIektiI mengendalikan hama trips. Jika ditambahkan daun tembakau maka daun
sirsak akan eIektiI mengendalikan hama belalang dan ulat. Sedangkan jika ditambahkan jeringau dan
bawang putih akan eIektiI mengendalikan hama wereng coklat.
Selama ini petani hanya menggunakan pestisida dengan bahan-bahan kimia yang residu di
tanaman jika disemprotkan dan membuat kerusakan di lingkungan. Dengan adanya resin dari tanaman
maka petani dapat menggantinya dengan resin tersebut hingga menghasilkan pestisida nabati yang
lebih baik dan tidak meninggalkan residu yang berbahaya.

B. Tujuan

%ujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami resin nabati dari
daun sirsak dan pemanIaatannya sebagai pestisida nabati untuk kepentingan masyarakat. Selain itu
juga untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah yang terkait.

4

II. ISI


A. Bahan Baku

Daun sirsak berbentuk lonjong-bundar telur sungsang, berukuran (8-16) cm x (3-7) cm,
ujungnya lancip pendek; tangkai daun panjangnya 3-7 mm. unga-bunganya teratur, 1-2 kuntum
berada pada perbungaan yang pendek, berwarna kuning kehijauan; gagang bunga panjangnya sampai
2,5 cm; daun kelopaknya 3 helai, berbentuk segi tiga, tidak rontok, panjangnya sekitar 4 mm; daun
mahkota 6 helai dalam 2 baris, 3 lembar daun mahkota terluar berbentuk bundar telur melebar,
berukuran (3-5) cm x (2-4) cm; 3 lembar daun mahkota dalam berukuran (2-4) cm x (1,5-3,5) cm,
pangkalnya bertaji pendek; benang sarinya banyak, tersusun atas barisan-barisan, menempel di torus
yang terangkat, panjangnya 4-5 mm, tangkai sarinya berbulu lebat; bakal buahnya banyak, berbulu
lebat sekali, kemudian gundul. uahnya yang matang, yang merupakan buah semu, berbentuk bulat
telur melebar atau mendekati jorong, berukuran (10-20) cm x (15-35) cm, berwarna hijau tua dan
tertutup oleh duri-duri lunak yang panjangnya sampai 6 mm, daging buahnya yang berwarna putih itu
berdaging dan penuh dengan sari buah. ijinya banyak, berbentuk bulat telur sungsang, berukuran 2
cm x 1 cm, berwarna coklat kehitaman, berkilap.
Sirsak merupakan jenis yang paling tidak sulit tumbuhnya di antara jenis-jenis nnona lainnya
dan memerlukan iklim tropik yang hangat dan lembap. %anaman ini dapat tumbuh pada ketinggian
sampai 1000 m dpl. dan meluas sampai ke 25 LS pada lahan yang ternaung. Pertumbuhan dan
pembungaannya sangat terhambat oleh turunnya udara dingin, serta hujan salju yang ringan saja sudah
dapat membunuh pohon sirsak. Musim kering dapat mendorong luruhnya daun dan menyelaraskan
pertumbuhan memanjang dan pembungaan dalam batas-batas tertentu. Hasil panen dapat lebih tinggi
pada cuaca demikian, asalkan kelembapan yang tinggi berlangsung selama periode pembentukan
buah; ada indikasi bahwa untuk 3343, 85 lainnya, balk kelembapan yang sangat tinggi maupun
sangat rendah, dapat merusak pembentukan buah. Jika kelembapan cenderung rendah, dianjurkan
untuk memberikan naungan agar transpirasi dapat dikurangi (juga karena pohon sirsak dangkal
perakarannya). Sebagian besar tipe tanah cocok untuk tanaman ini, tetapi drainasenya harus balk,
sebab pohon sirsak tidak tahan terhadap genangan air.
Dalam daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, minyak esensial, reticuline, loreximine,
coclaurine, annomurine, higenamine. uah sirsak mengandung banyak karbohidrat, terutama Iruktosa.
Kandungan gizi lainnya adalah vitamin C, vitamin 1 dan vitamin 2 yang cukup banyak. ijinya
beracun, dan dapat digunakan sebagai insektisida alami, seperti juga biji srikaya. Daun sirsak
bermanIaat menghambat sel kanker dengan menginduksi apoptosis, antidiare, analgetik, anti disentri,
anti asma, anthelmitic, dilatasi pembuluh darah, menstimulasi pencernaan, mengurangi depresi.
3


Gambar 1. Daun sirsak (sumber: www.ibujempol.com/manIaat-daun-sirsak/)

Kandungan daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin dan
squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewaan sebagai anti Ieedent.
Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya.
Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersiIat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama
mati. Ekstrak daun sirsak dapat dimanIaatkan untuk menanggulangi hama belalang dan hama-hama
lainnya (Heyne, 1987).
#esin nabati dari daun sirsak dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat pestisida nabati.
%erkadang beberapa petani juga menambahkan biji sirsak untuk pembuatan pestisida tersebut. Untuk
pembuatan pestisida tersebut menggunakan daun sirsak yang sudah kering (dengan kadar air 5). Ini
berarti para petani tidak harus membeli daun tersebut karena daun yang dipergunakan merupakan
daun yang telah kering. Jika harus membeli tidak akan semahal bahan baku untuk membuat pestisida
sintetik.

B. Produk

Produk yang dapat dihasilkan dari resin nabati daun sirsak berupa pestisida nabati yang dapat
menurunkan mortalitas larva pada tanaman. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya
berasal dari tanaman atau tumbuhan. Pestisida nabati bisa dibuat secara sederhana yaitu dengan
menggunakan hasil perasan, ekstrak, rendaman atau rebusan bagian tanaman baik berupa daun,
batang, akar, umbi, biji ataupun buah.
Pengendalian hama pada umumnya dilakukan dengan insektisida sintetik. Penggunaan
insektisida tersebut berupa penurunaan populasi hama sehingga meluasnya serangan dapat dicegah
dan kehilangan hasil panen dapat dikurangi. Namun, disamping insektisida kimia dapat membantu
manusia dalam mengatasi gangguan hama, ternyata aplikasinya dapat menimbulkan dampak negatiI,
seperti resistensi, resurgensi, residu, ledakan hama sekunder, matinya musuh alami dan pencemaran
lingkungan (Natawigena, 1990).
6


Gambar 2. Pestisida nabati (sumber: http://uwityangyoyo.wordpress.com)

Insektisida nabati tentunya dapat digunakan sebagai alternatiI pengendalian serangga hama
utama pada tanaman paprika karena memenuhi beberapa kriteria yang diinginkan, yaitu aman, murah,
mudah diterapkan petani dan eIektiI membunuh hama serta memiliki keuntungan mudah dibuat dan
berasal dari bahan alami/nabati yang mudah terurai (biodegradable) sehingga tidak mencemari
lingkungan dan relatiI aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Salah satu
tanaman yang memiliki senyawa untuk digunakan sebagai insektisida nabati yaitu daun sirsak.
Menurut Natawigena (1992), bagian tumbuhan yang digunakan tanaman sirsak adalah daun dan biji.
Menurut Jacobson, bahan alam yang paling menjanjikan prospeknya untuk dikembangkan
sebagai pestisida ada pada tanaman-tanaman Iamily Meliaceae (misalnya nimba), nnonaceae
(misalnya sirsak), #utaceae, steraceae, Labiateae, dan Canellaceae. Dalam upaya pengembangan
pestisida nabati tersebut, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah
O mudah didapat, bahan baku cukup tersedia, berkualitas, kuantitas dan kontinuitas terjamin;
O mudah dibuat ekstrak, sederhana dan dalam waktu yang tidak lama;
O kandungan senyawa pestisida harus eIektiI pada kisaran 3-5 bobot kering bahan;
O selektiI;
O bahan yang digunakan bisa dalam bentuk segar/kering;
O eIek residunya singkat, tetapi cukup lama eIikasinya;
O sedapat mungkin pelarutnya air (bukan senyawa sintetis);
O budidayanya mudah, tahan terhadap kondisi suhu optimal;
O tidak menjadi gulma atau inang hama penyakit;
O bersiIat multiguna
Untuk pengambilan resin dari tanaman daun sirsak dalam jumlah yang kecil maka hal pertama
yang dilakukan adalah bahan tanaman dicuci bersih lalu dikeringkan selama satu minggu sampai
kadar air tinggal 5 (Simplisia). Dapat juga digunakan daun tanaman yang telah kering. Daun
tanaman dipisahkan dari batang yang ada dan ditimbang sebanyak 30 g, dimasukkan kedalam tabung
ekstrak dengan menambahkan air sebagai pelarut dan etanol 70 dengan perbandingan 3:1. ahan
diaduk didalam tabung dan dibiarkan selama 3 hari (72 jam). Setelah itu bahan disaring dengan
menggunakan corong pemisah melalui kertas saring atau kain saring.
ahan cair yang didapat dibersihkan kembali bila masih ditemukan serat-serat daun. ahan
yang didapat dipekatkan dengan alat #otari Evaporator sampai volumenya tinggal 10. Untuk
7

aplikasi maka ekstrak yang ada dilarutkan dengan aquades dan ditambah agristik 0,05 sebanyak 2
ml. Untuk mengambil ekstrak digunakan pipet tetes. Ekstrak siap digunakan sesuai dengan perlakuan
yang diperlukan. Untuk penggunaan ekstrak resinnya sendiri dapat langsung diencerkan dengan
aquades dan langsung disemprotkan ke tanaman.

. Pengembangan Produk

Dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas produk yang berorientasi eksport,
khususnya kekuatan ekonomi di Eropa dan S yang dengan ketat telah mensyaratkan peraturan bebas
residu pestisida, maka aplikasi perstisida nabati pada tanaman hias dan hortikultura, perlu memperoleh
perhatian untuk dikembangkan, karena relatiI tidak mencemari lingkungan, eIek residunya relatiI
pendek dan kemungkinan hama tidak mudah berkembang menjadi tahan terhadap pesisida nabati. Di
lain pihak, kebijaksanaan. Pemerintah yang memperhatikan kelestarian lingkungan secara global dan
keprihatinan kita tentang akibat samping yang tidak diinginkan dari penggunaan pestisida anorganik
sintetik, mendorong minat untuk mengembangkan pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan
sehingga dapat diterima sebagai salah satu komponen penting dalam PH% (Pengendalian Hama Secara
%erpadu). Pestisida ramah lingkungan merupakan pestisida yang berasal dari pohon baik daun, buah,
umbi dan akar tanaman sebagai bahan bakunya. Salah satu yang dapat dimanIaatkan untuk produksi
pestisida yaitu daun sirsak, karena daun sirsak memiliki kandungan resin dan annonain. Produksi
pestisida ini tidak menghasilkan limbah yang berbahaya baik terhadap lingkungan maupun manusia.
Prospek pengembangan pestisida nabati di Indonesia cukup baik karena ditunjang oleh sumber
daya alam yang berlimpah. Indonesia memiliki salah satu kebun raya terbaik di dunia. Masih banyak
tanaman di Kebun #aya ogor maupun cabangnya di Purwodadi yang manIaatnya belum diketahui
sepenuhnya. SiIat dari tumbuhan yang berkerabat dekat dengan tumbhan yang telah diketahui
mengandung bahan aktiI pestisida perlu diteliti. Salah satu hal menarik (yang mungkin patut
disayangkan) ialah bahwa banyak peneliti di negara-negara lain, misal Jepang, Jerman dan Kanada,
yang mengambil contoh tumbuhan dari Kebun #aya ogor untuk diteliti kandungan senyawa
bioaktiInya.
Di beberapa negara maju, jika ditemukan bahan alami yang berpotensi sebagai pestisida maka
lebih dulu diidentiIikasi ssenyawa (bahan aktiI) apa yang paling berperan. SiIat Iisik dan kimiawi dari
senyawa tersebut dipelajari sebagai prototip untuk dapat disintetis di laboratorium. Dengan senyawa
murni dilakukan pengujian-pengujian meliputi daya bunuhnya, cara kerjanya (mode oI action), daya
racunnya terhadap hewan bukan sasaran dan siIat-siIatnya di lingkungan. entuk Iormulasi dipelajari
untuk dapat menghasilkan produk yang eIektiI. Dengan prosedur demikian diperoleh pestisida yang
jelas spesiIikasinya, sehingga dapat diproduksi secara industri.
Dengan demikian hutan troIika dan salah satu kebun raya terbaik di dunia, sebenarnya kita
memiliki kesempatan yang baik dalam pengembangan produksi pestisida nabati. Namun demikian
dalam rangka pengembangan produksi pestisida nabati kita masih mengalami beberapa kendala dan
beberapa hambatan, serta masih kurangnya pemahaman tentang pengembangan pestisida nabati yang
berorientasi industri maupun yang berorientasi pada penerapan usaha tani berinput rendah. Dalam
8

rangka pengembangan pestisida nabati, masih diperlukan penelitian- penelitian yang mendasar tentang
mekanisme kerja masing-masing jenis pestisida nabati, masalah pengaruh suhu, sinari matahari
(radiasi UV), kelembaban, bagaimana mengawetkan, standarisasi dan lain-lain. Di samping itu juga
diperlukan strategi pengembangan pemanIaatan pestisida nabati yang dapat diproduksi secara murah
dan dapat diterapkan di masyarakat.

D. Kendala Pengembangan Pestisida Nabati

Kurang berkembangnya penggunaan pestisida nabati selain kalah bersaing dengan pestisida
sintetis juga karena ekstrak dari tanaman biasanya kadar bahan aktiInya tidak tetap, bervariasi dan
tidak stabil. Untuk memasyarakatkan kembali penggunaan pestisida nabati, diperlukan kegiatan
penelitian yang berkelanjutan, mengubah kebiasaan petani (social-budaya), penguasaan teknologi dan
mampu bersaing di pasaran. erikut ini adalah beberapa kendala dalam pengembangan pestisida
nabati :

1. Kegiatan Penelitian Pestisida Nabati Masih Belum Terpadu

Saat ini kerjasama antar disiplin ilmu di perguruan tinggi (khususnya UNPD) untuk
mengembangkan pestisida nabati masih kurang. Hal ini terbukti dari belum terbentuknya unit jasa dan
industri (UJI) tentang pestisida yang sebenarnya pembentukan UJI ini telah diharapkan oleh DIK%I
semenjak Desember 1999. beberapa disiplin ilmu yang diperlukan untuk mengembangkan pestisida
nabati secara komersial di antaranya adalah : hli Ilmu Hama & Penyakit %umbuhan; hli Kimia
(Kimia Organi & norganik); hli iologi; hli Ekonomi; dll.
Pelaksanaan penelitian terhadap pestisida masih terputus-putus, menyebabkan inIormasi dan
data yang dihasilkan belum dapat dijadikan dasar bagi pengembangan pestisida nabati selanjutnya.
Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang berkelanjutan dan terpadu, mulai dari apek
tanamannya sendiri sampai kepada aspek pemasaran, sehingga dapat sitentukan arah dan strategi dari
pengembangan pemenIaatan pestisida nabati secara jelas dan tuntas.

2. Mahalnya Biaya Untuk Mengembangkan pestisida Nabati

pengembangan pestisida nabati dari mulai pemilihan jasad sasaran, pemilihan jenis bahan aktiI,
penyediaan bahan baku, ekstraksi, pemurnian, pembuatan Iormulasi, paten, registrasi, pabrikasi dan
pemasaran, memerlukan waktu dan biaya yang sangat besar. Karena menyangkut biaya yang mahal
maka dalam pelaksanaannya diperlukan suatu kerjasama dengan pengusaha. Sampai saat ini masih
sedikit pengusaha yang tertarik untuk mengembangkan pestisida nabati, hal ini dimungkinkan karena
tidak jelasnya jaminan ketersediaan bahan baku juga karena terlalu mahalnya biaya pengurusan
perizinan serta panjangnya birokrasi yang perlu ditempuh untuk sampai dapat memesarkan suatu jenis
produk racun hama/pestisida nabati.


9

3. Kebiasaan Petani (Sosial-Budaya) dalam Menggunakan Pestisida Sintetik



Dalam periode ini masih banyak petani beranggapan bahwa penggunaan pestisida sintteik
dapat menjamin keselamatan hasil tanamannya. Oleh karena itu, ada atau tidak ada hama terutama
pada tanaman ekonomis dilakukan aplikasi pestisida (hal ini menyalahi aturan strategi PH%). Sebagai
akibat dari pengertian yang dianut tersebut, muncul dampak negatiI yang tidak diharapkan. Kebiasaan
penggunaan pestisida sintetik dengan sistem kalendeer tersebut merupakan masalah yang sangat serius
dalam rangka pemasyarakatan penggunaan dan pemanIaatan pestisida nabati. Untuk mengubah
kebiasaan mereka perlu ditingkatkan kegiatan penyuluhan mengenai pemanIaatan pestisida nabati,
dan mereka perlu bukti bahwa pestisida nabati memang lebih baik dari pestisida sintetik. Untuk itu
perlu waktu yang relatiI lama, kerja keras dari semua pihak dan kesadaran petani untuk kembali
memanIaatkan dan menggunakan pestisida nabati.

4. Rendahnya Penguasaan Teknologi Pembuatan Pestisida Nabati

Masih terbatasnya penguasaan teknologi dalam pembuatan pestisida nabati, dari mulai teknik
penyediaan bahan baku sampai produksi. Sampai saat ini tanaman penghasil pestisida nabati belum
ada yang dibudidayakan petani. elum dibudidayakannya tanaman tersebut di Indonesia antara lain
disebabkan oleh penguasaan teknologi yang masih rendah, baik teknik budidayanya maupun teknologi
pengolahan produk siap pakai. Oleh karena itu untuk memasyarakatkan penggunaannya, pemilihan
bahan baku, teknik budidaya, manipulasi bahan dan atau teknoligo tepat guna lainnya perlu diteliti dan
dikaji sebelum dikembangkan untuk pestisida nabati.

5. Pestisida Sintetik Mendominasi Pasar

Pestisida sintetik mudah dipakai dan mudah didapat serta hasilnya segera terlihat merupakan
suatu keunggulan yang telah mendesak/melenyapkan penggunaan pestisida nabati di pasaran. Juga
dari segi harga kalah bersaing, sebab pestisida sintetik dibuat dari bahan kimia dan bahan bakunya
tersedia dalam jumlah banyak menyebabkan harga produk relatiI lebih murah. Sedangkan pestisida
nabati yang dibuat dari bahan alamiah dan bahan bakunya terbatas (belum dibudidayakan secara luas)
menyebabkan harga produknya relatiI mahal.
Pengembangan industri pestisida nabati sebenarnya tidak berbeda jauh dengan
pengembangan industri pestisida sintetis. Perbedaannya terletak pada cara memperoleh bahan aktiI.
Pada industri pestisida nabati, bahan aktiI telah disintesa oleh tumbuhan dan tinggal dilakukan proses
ekstraksi. Selanjutnya adalah proses yang sama yaitu pembuatan Iormulasi, mendaItarkan paten,
malakukan pengujian, registrasi dan memproduksi pestisida itu sendiri. Namun untuk roduksi skala
industry daun sirsak masi sulit untuk dikembangkan dalam skala industry tetapi dapat dijadikan
sebagai salah satu jenis bahan baku petisida nabati. Saat ini proses ekstraksi dengan pelarut organic
merupakan proses yang mahal sehingga harga Iormulasi pestisida nabati tidak selalu murah daripada
harga Iormulasi pestisida sintetik. Harga Iormulasi pestisida nabati akan makin mahal bila di negara
produsen Iormulasi tersebut pasokan bahan mentah (tumbuhan sumber ekstrak, pelarut untuk ekstraksi
10

dan bahan tambahan untuk Iormulasi) terbatas. Untuk penyediaan bahan aktiI dapat dipilih gabungan
beberapa senyawa bioaktiI dalam bentuk teknis berupa ekstrak. ahan aktiI ini lebih ekonomis
penyediaannya dan diduga mempunyai keuntungan memperlambat timbulnya resistensi terhadap
senyawa-senyawa bioaktiInya.

E. Pengembangan Pestisida Secara Sederhana

Yang dimaksud dengan pengembangan pestisida nabati secara sederhana adalah memanIaatkan
pestisida nabati yang berorientasi pada penerapan usaha tani berinput rendah (Permana et al, 1993).
Para petani sering menggunakan sediaan sederhana tumbuhan untuk prngrndalian hama. Pengetahuan
tersebut biasanya diwarisi dari generasi sebelumnya atau diperoleh dari petani tetangganya, dan bahan
tumbuhan yang digunakan adalah yang mudah diperoleh di sekitar lahan pertanian atau tempat
tinggalnya. Pengetahuan tersebut perlu diteliti kembali dan diuji keampuhannya oleh Perguruan
%inggi, untuk disempurnakan dan dibuat standarisasinya.
Cara sederhana pemanIaatan pestisida nabati yang umum dilakukan oleh petani di Indonesia
dan di negara berkembang lainnya adalah penyemprotan cairan perasan tumbuhan (ekstraksi dengan
air), pengolahan sederhana, penempatan langsung atau penyebaran bagian tumbuhan di tempat-tempat
tertentu pada lahan pertanaman, pengasapan (pembakaran bagian tanaman yang mengandung bahan
aktiI pestisida), penggunaan serbuk tumbuhan untuk mengendalikan hama di penyimpanan, dan
pembuatan pestisida nabati dengan cara Iermentasi.
Sebelum insektisida anorganik sintetik digunakan secara luas, para petani sering menggunakan
cairan perasan daun sirsak. Namun, kemampuan air dalam mengekstrak bahan aktiI pestisida dari
tumbuhan umumnya terbatas, karena senyawa aktiI tersebut merupakan senyawa organic yang
kesetimbangan kepolarannya umumnya lebih cenderung non polar. Sehingga dalam ekstraksi dengan
air diperlukan lebih banyak bahan tumbuhan bila dibandingkan dengan ekstraksi dengan bahan pelarut
organic. Namun demikian, kelebihan bahan yang diperlukan tersebut mungkin masih lebih murah dari
padaperbedaan biaya antara ekstraksi dengan menggunakan pelarut organic dan ekstraksi dengan air.
ahan aktiI pestisida dalam tumbuhan tertentu, terutama dalam biji yang mengandung cukup banyak
minyak, dapat diekstrak secara lebih baik menggunakan air yang ditambah pengemulsi (missal %riton
0.2 ). ila harga pengemulsi tersebut dirasakan mahal, sebagai gantinya dapat digunakan deterjen
bubuk (1 g/lt air) (Djoko dan Hermanu, 1993).
eberapa kendala dalam pengembangan pestisida nabati di Indonesia antara lain adalah :
kegiatan penelitian antar disiplin ilmu ahli pestisida masih belum terpadu; Masih sedikit pengusaha
yang tertarik untuk mengembangkan pestisida nabati, karena ketidakjelasan jaminan penyediaan
bahan baku serta bahan aktiI dari tanaman yang tidak sama/tetap, bervariasi dan tidak stabil; %erlalu
mahalnya biaya pengurusan perizinan serta panjangnya birokrasi yang perlu ditempuh untuk estisida
nabati; Masih berakarnya ketergantungan dan kebiasaan petani (social-budaya) dalam menggunakan
pestisida sintetik; Masih rendahnya penguasaan teknologi pembuatan pestisida nabat: Pestisida
sintetik telah mendominasi pasar daripada pestisida nabati dan masih kurangnya kesadaran
masyarakat tentang manIaat penggunaan pestisida nabati yang lebih ramah lingkungan.
11

Indonesia dengan kekayaan sumber daya yang tidak ternilai besarnya, mempunyai potensi
untuk mengembangkan berbagai jenis tanaman penghasil pestisida nabati. Dalam rangka
pengembangan pembangunan dan pemanIaatan pestisida nabati perlu dilakukan penelitian yang
berkelanjutan dan terpadu mulai dari aspek tanamannya hingga aspek pemasarannya, sehingga arah
dan strategi pengembangannya dapat diselesaikan secara jelas dan tuntas. Pengetahuan pembuatan
pestisida nabati yang ada di kalangan masyarakat perlu diteliti kembali dan diuji keampuhannya oleh
Perguruan %inggi, untuk disempurnakan dan dibuat standarisasinya.
erbagai langkah yang menyangkut identiIikasi bahan aktiI, pengembangan Iormulasi,
validasi, eIikasi, uji keamanan terhadap tanaman dan jasad bukan sasaran, toksikologi, pendaItaran
dan penjajagan pasar perlu ditempuh untuk mengembangkan pestisida nabati berskala industri.
Pengembangan penyediaan bahan baku, eIektivitas dan kestabilan Iormulasi merupakan kata kunci
untuk keberhasilan pengembangan industri pestisida.

1

III. PENUTUP


A. Kesimpulan

Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin.
Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewaan sebagai anti Ieedent. Dalam hal
ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan
pada konsentrasi rendah, bersiIat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama mati. Karena
alasan inilah maka daun sirsak sangat cocok bila dikembangkan menjadi bahan baku suatu produk
pestisida. Pestisida nabati memiliki beberapa keunggulan, yaitu mudah didapat, bahan baku cukup
tersedia, berkualitas, kuantitas dan kontinuitas terjamin; mudah dibuat ekstrak, sederhana dan dalam
waktu yang tidak lama; selektiI; bahan yang digunakan bisa dalam bentuk segar/kering; eIek
residunya singkat, tetapi cukup lama eIikasinya; sedapat mungkin pelarutnya air (bukan senyawa
sintetis); budidayanya mudah, tahan terhadap kondisi suhu optimal; tidak menjadi gulma atau inang
hama penyakit; dan yang terakhir bersiIat multiguna.
da beberapa kendala yang mengakibatkan daun sirsak sulit untuk dilakukan pengembangan
produk menjadi pestisida nabati diantaranya, yaitu kegiatan penelitian pestisida nabati masih belum
terpadu, mahalnya biaya untuk mengembangkan pestisida nabati, kebiasaan petani (social-budaya)
dalam menggunakan pestisida sintetik, rendahnya penguasaan teknologi pembuatan pestisida nabati,
dan pestisida sintetik mendominasi pasar.

B. Saran

eberapa saran yang dapat diberikan untuk pengembangan daun sirsak sebagai bahan pestisida
nabati adalah sebagai berikut :
O Diperlukan adanya penelitian terpadu mengenai pemanIaatan daun sirsak sebagai bahan baku
dalam pembuatan pestisida nabati.
O Penggunaan teknologi yang lebih modern didalam pembuatan pestisida nabati.
O Diperlukan adanya penyuluhan mengenai manIaat dan keunggulan pestisida nabati dibandingkan
dengan pestisida kimia.
O Pengkomersialisasian dan pengembangan produk pestisida nabati dalam skala industri.





13

DAFTAR PUSTAKA


Djoko Prijono dan Hermanu %riwidodo, 1993. PemanIaatan Insektisida Nabati di %ingkat Petani,
Jurusan Hama dan Penyakit %umbuhan, Fakultas Pertanian, IP ogor.
Heyne, K., 1987. Denuttige planten van Indonesie. NV. Uitgeverijw. Van Hoeve S-gravenhage,
andung.
Natawigena, H., 1990. Pengendalian Hama %erpadu, Penerbit CV. rmico andung.
Natawigena, H., 1992. Pengendalian Hama Secara Hayati. Penerbit %#ON, andung.
Permana, D., %. ditya dan S. Sastrodihardjo, 1993. Pengembangan Pestisida Mimba, PU Ilmu
Hayati I%.
|13 November 2011| www.ibujempol.com/manIaat-daun-sirsak
|13 November 2011| http://uwityangyoyo.wordpress.com