Anda di halaman 1dari 4

23 Januari 1973: Perang Vietnam Dinyatakan Berakhir Di layar televisi, Presiden Richard Nixon mengumumkan berakhirnya Perang Vietnam.

Amerika Serikat dan Vietnam Utara menandatangani perjanjian perdamaian di Paris, Prancis, untuk menuntaskan perang terpanjang dalam sejarah Amerika tersebut. Kepada rakyat Vietnam Selatan, yang menjadi sekutunya, Nixon menyatakan, "Atas keberanian dan pengorbanan Anda, Anda telah memenangi hak untuk menentukan masa depan sendiri dan Anda semua telah membangun kekuatan untuk mempertahankan hak tersebut." Sementara itu, kepada para pemimpin Vietnam Utara, Nixon berujar, "Setelah kita mengakhiri perang melalui perundingan, mari kita bangun perdamaian dan rekonsiliasi." Perang benar-benar selesai secara efektif sejak Sabtu tengah malam, 27 Januari 1973. Untuk memonitornya, diturunkan pasukan penjaga perdamaian PBB dari Kanada, Polandia, Hungaria, dan Indonesia. Tentara terakhir Amerika meninggalkan Hanoi pada 29 Maret 1973. Pada kenyataannya, sampai beberapa bulan usai kesepakatan perdamaian, bentrok senjata masih kerap terjadi. Amerika terlibat perang itu sejak 1967 atau sepuluh tahun setelah konflik berkobar. Mereka berpihak pada Vietnam Selatan untuk melawan Vietnam Utara yang berhaluan komunis dan disokong Republik Rakyat China. Sebanyak 500 ribu serdadu Yankees diterjunkan di sana. Banyak pihak berpendapat, Amerika telah takluk dalam perang itu dengan lebih dari 50 ribu serdadu mereka tewas. Pada 1976, Vietnam bersatu dan menjadi negara komunis. (YUS/dari berbagai sumber) 15 Januari 1974: Peristiwa Malari Meletus Malari adalah akronim dari "Malapetaka Lima Belas Januari." Istilah ini merujuk pada aksi demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan yang terjadi pada 15 Januari 1974 di Jakarta. Malari meletus ketika Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung ke Jakarta pada 14-17 Januari 1974. Peristiwa berawal dari apel ribuan mahasiswa dan pelajar yang berlangsung dari kampus Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, menuju kampus Universitas Trisakti di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Dalam apel tersebut, mahasiswa dan pelajar merilis Tritura 1974. Isinya meminta pemerintah untuk memberantas korupsi, mengubah kebijakan ekonomi terutama mengenai modal asing yang didominasi Jepang, dan membubarkan lembaga tidak konstitusional seperti Asisten Pribadi Presiden. Menutup apel, para mahasiswa dan pelajar itu membakar patung Kakuei Tanaka. Lalu mereka menuju ke Istana Negara di kawasan Monas dan coba menerobos masuk. Saat itu,

Istana menjadi tempat pertemuan Presiden Soeharto dan Tanaka. Tapi, niat bertemu Tanaka dibendung aparat keamanan. Entah siapa yang memulai, demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan massal. Paling kurang 11 orang tewas, 300 terluka, serta 775 orang ditahan. Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor dirusak/dibakar, 144 buah bangunan rusak berat. Sedikitnya 160 kilogram emas dijarah dari sejumlah toko perhiasan. Proyek Senen habis terbakar. Ketua Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar dianggap paling bertanggung jawab. Ia lalu divonis penjara enam tahun. Sejumlah aktivis dan tokoh lain juga sempat dibui. Sebut saja Mochtar Lubis, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjahrir, dan Marsillam Simanjuntak. Sejumlah koran juga diberangus, di antaranya Indonesia Raya, Harian KAMI, dan Pedoman. Di tataran elit, juga terjadi sejumlah pergeseran sebagai dampak Malari. Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib dan langsung mengambil alih jabatan strategis tersebut. Lembaga Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan Yoga Sugama.(YUS/dari berbagai sumber) 7 Januari 1965: Indonesia Keluar dari PBB Sebuah gedung megah, yang kini jadi gedung DPR/MPR, menurut rencana dibangun untuk penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces (Conefe). Peserta pertemuan adalah the New Emerging Forces (Nefos), negara-negara dunia ketiga. Penyelenggaraan Conefo dimaksudkan untuk menandingi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang ketika itu dikuasai Blok Barat--minimal, dalam persepsi Presiden Sukarno. Karena itu, menurut Sukarno, PBB perlu di-retool dan markas besarnya dipindahkan dari New York. Sebagai puncak ketidaksenangan pada PBB, pada 7 Januari 1965, Sukarno mengomandokan: "Indonesia keluar dari PBB." Pemicu utama, dan bukan satu-satunya, adalah Malaysia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB. Ia berpendapat, Malaysia hanya boneka Inggris, dan konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan Asia Tenggara. Menurut cerita wartawan senior Alwi Shahab, komando ini diucapkan di hadapan lebih dari 10 ribu massa dalam sebuah rapat umum Anti Pangkalan Militer Asing di Istora Senayan, Jakarta. Keluarnya Indonesia dari PBB ini memperoleh dukungan dari berbagai lapisan masyarakat. Keesokan harinya, ribuan mahasiswa, pemuda, buruh dan tani turun ke jalan-jalan membawa spanduk sambil mengutuk PBB. Pada 28 September 1966, setelah Sukarno jatuh, Indonesia kembali bergabung dengan PBB.(YUS/dari berbagai sumber

31 Desember 1799: VOC Bubar Menurut catatan sejarah, pada 1598, 22 kapal milik lima perusahaan berlayar ke timur dari Belanda. Setahun kemudian kapal kembali ke Belanda dengan keuntungan empat kali lipat. Pada 1601, 14 kapal berlayar ke timur. Harga rempah-rempah pun jatuh lantaran penawaran melebihi permintaan. Muncul persaingan dan konflik di antara sesama perusahaan Belanda tersebut. Pada 1602, untuk mengatasi persaingan merugikan itu, atas usul parlemen Belanda, perusahaan-perusahaan ekspedisi tersebut bergabung dalam Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC), atau "Perserikatan Maskapai Hindia Timur". VOC lalu tumbuh menjadi organisasi yang amat spesial. Ia diberi hak-hak khusus. Misalnya, memiliki mata uang sendiri, memiliki tentara, atau boleh mengadakan perjanjian dengan penguasa pribumi. Lihat, VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan terlibat dalam sejumlah peperangan. VOC yang memperkenalkan konsep "monopoli" dalam perdagangan yang sampai saat itu tak pernah dikenal dalam perdagangan pribumi. Dengan cara dagang monopoli ini pedagang pribumi dirugikan. Jika menolak, diperangi. Satu contoh, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan VOC mengerahkah kekuatan senjatanya. Hampir dua abad VOC berjaya. Tapi, pada 31 Desember 1799, VOC terpaksa dibubarkan. Utangnya amat besar karena dijalankan oleh para pejabat yang korup. Kekuasaan VOC pun beralih ke tangan pemerintah Hindia Belanda sejak 1800.(YUS/dari berbagai sumber) 1 Desember 1956: Hatta Mengundurkan Diri Pada 1955, Bung Hatta mengumumkan, bila parlemen dan Konsituante sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden. Niat untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dilayangkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante terbentuk, Hatta memastikan kepada Ketua Parlemen bahwa ia akan meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden pada 1 Desember 1956. Soekarno berusaha mencegah, tetapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya. Hatta merasa tidak cocok lagi dengan Soekarno selaku presiden. Ia menganggap rekannya dalam memproklamasikan kemerdekaan Indonesia itu sudah mulai meninggalkan demokrasi dan ingin memimpin dengan cara non-demokratis. Sebagai pejuang demokrasi, Hatta tidak bisa menerima perilaku Soekarno. Dalam sebuah wawancara, putri Hatta, Meuthia, menyatakan, "Setelah agak besar, saya mengetahui

pengunduran diri itu dilakukan karena perbedaan prinsip." Pada 1960, Hatta menulis Demokrasi Kita di majalah Pandji Masyarakat. Ini sebuah risalah yang menonjolkan pandangan dan pikiran Anak Minang itu mengenai demokrasi di Indonesia. Tentu saja, tulisan tersebut sarat dengan kritik terhadap praktik Demokrasi Terpimpin saat itu. Setelah Hatta mundur, di Indonesia tidak ada lagi seorang wakil presiden yang mendampingi Soekarno. Praktis sejak 1956-1967, Soekarno menjalankan roda pemerintahan seorang diri. Indonesia baru memiliki wakil presiden pada 1973, bukan untuk mendampingi Soekarno melainkan Suharto.(YUS/dari berbagai sumber) 22 November 1963: John F. Kennedy Dibunuh John Fitzgerald Kennedy ditembak saat menumpangi iring-iringan mobil kepresidenan beratap terbuka di Dallas, Texas. Istrinya, Jacqueline Bouvier Kennedy, juga ada di kendaraan tersebut. Sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawa presiden Amerika Serikat ke -35 ini tak tertolong. Lee Harvey Oswald lalu dituduh sebagai pelaku. Oswald pun ditangkap. Namun, pada 24 November 1963, Oswald tewas di tangan Jack Ruby, seorang penjaga klub malam, saat akan keluar dari kantor polisi di Dallas untuk dipindahkan lokasi penahanannya. Sampai saat kematiannya, mantan marinir AS itu menolak tuduhan telah membunuh Kennedy. Beberapa bulan kemudian, penyelidikan Komisi Warren menyimpulkan, pelaku pembunuhan Kennedy memang Oswald. Tapi, sampai hari ini, kesimpulan itu masih menjadi polemik. Dua tahun lalu, sebuah tayangan televisi dokumenter berjudul The Man Who Killed Kennedy menyebut, Lyndon B. Johnson (wakil presiden bagi Kennedy) dan beberapa stafnya ikut bertanggung jawab. Versi lain, agen rahasia Uni Soviet dan kelompok mafia berada di belakang tragedi ini. Tiga tahun sebelumnya, Kennedy menjadi orang termuda yang terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, dan termuda kedua setelah Theodore Roosevelt untuk jabatan tersebut. Kennedy dilantik pada 20 Januari 1961. Ia lahir dari dinasti Kennedy yang berdarah Irlandia-Amerika, sebuah keluarga terkemuka di kancah politik Amerika Serikat. Adiknya, Robert dan Edward, juga aktif di politik. Mereka bertiga berjuang di bawah panji Partai Demokrat. Hingga hari ini, kematian Kennedy merupakan kisah pembunuhan politik yang paling sering dibicarakan. Sineas tersohor Oliver Stone juga tertarik mengangkatnya ke layar lebar.(YUS/dari berbagai sumber)