Anda di halaman 1dari 33

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan Kerja 2.1.1 Pengertian Kesehatan Kerja Menurut WHO/ILO (1995), kesehatan kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerj aan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. 1 Kesehatan kerja menurut Suma mur didefinisikan sebagai spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya, agar masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial denga n usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit umum. 7 Notoatmodjo menyatakan bahwa kesehatan kerja adalah merupakan aplikasi kesehatan masyarakat di dalam suatu tempat kerja (perusahaan, pabrik, kantor, da n sebagainya) dan yang menjadi pasien dari kesehatan kerja ialah masyarakat pekerj a dan masyarakat sekitar perusahan tersebut. Ciri pokoknya adalah preventif (pencegahan penyakit) dan promotif (peningkatan kesehatan). Oleh sebab itu, dala m

kesehatan kerja pedomannya ialah: penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat dicegah . Dari aspek ekonomi, penyelenggaraan kesehatan kerja bagi suatu perusahaan adalah sangat menguntungkan karena tujuan akhir dari kesehatan kerja ialah meningkatkan produktifitas seoptimal mungkin. 8 Secara eksplisit rumusan atau batasannya adalah bahwa hakikat kesehatan kerja mencakup dua hal, yakni: 7 a. Pertama : sebagai alat untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggitingginya. b. Kedua : sebagai alat untuk meningkatkan produksi, yang berlandaskan kepada meningkatnya efisiensi dan produktifitas. Apabila kedua prinsip tersebut dijabarkan ke dalam bentuk opersional, maka tujuan utama kesehatan kerja adalah : 8 a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan-kecelakaan akibat kerja. b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan dan gizi tenaga kerja. c. Perawatan mempertinggi efisiensi dan produktifitas tenaga kerja. d. Pemberantasan kelelahan kerja dan meningkatkan kegairahan serta kenikmatan kerja. e. Perlindungan bagi masyarakat sekitar dari bahaya-bahaya pencemaran yang ditimbulkan oleh perusahaan tersebut. f. Perlindungan bagi masyarakat luas dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh produk-produk perusahaan.

2.1.2 Ruang Lingkup Kesehatan Kerja Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dengan cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk: 1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya. 2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya. 3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerjanya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan. 4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya. 9 Tujuan akhir dari kesehatan kerja ini adalah untuk menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Kesehatan kerja pekerja dipengaruhi oleh beberapa aspe k secara menyeluruh berupa: a) Aspek Lingkungan (Environment) Penyakit Akibat Kerja (PAK), Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) maupun kecelakaan yang terjadi di tempat kerja sebagian besar disebabkan karena faktor-faktor lingkungan. b) Aspek Pelayanan Kesehatan Upaya pelayanan kesehatan bagi pekerja yang diberikan di sarana pelayanan

kesehatan baik pemerintah maupun swasta meliputi pelayanan kesehatan kerja promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara komprehensif. c) Aspek Perilaku Kerja Perilaku pekerja dipengaruhi antara lain oleh tingkat pendidikan dan pengetahuan, kebiasaan-kebiasaan dan fasilitas penunjang yang tersedia. Perilaku kerja ini juga sangat terkait erat dengan status ekonomi dan budaya pekerja. d) Aspek Keturunan (Genetic) Dibandingkan dengan 3 faktor lainnya, maka faktor genetika kecil peranannya terhadap status kesehatan pekerja. Namun faktor genetika seseorang dapat menyebabkan seorang pekerja lebih rentan terhadap suatu penyakit tertentu. 10 2.2 Penyakit Akibat Kerja 2.2.1 Definisi Penyakit Akibat Kerja Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease. WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja : 1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya pneumoconiosis. 2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya karsinoma bronkhogenik. 3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktorfaktor penyebab lainnya, misalnya bronkhitis kronis.

4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma. 10 Menurut Keputusan Presiden RI No. 22 Tahun 1993 Tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja, terdapat 31 jenis penyakit yang timbul karena hubungan kerja, antara lain: 1. Pneumokoniosis yang disebabkan debu mineral pembentuk jaringan parut (silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberculosis yang silikosisn ya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian. 2. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras. 3. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep dan sisal (bissinosis). 4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal yang berada dalam proses pekerjaan. 5. Alveolitis alergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik. 6. Penyakit yang disebabkan oleh berilium atau persenyawaan yang beracun. 7. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium atau persenyawaan yang beracun. 8. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor atau persenyawaan yang beracun. 9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaan yang beracun. 10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaan yang beracun. 11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaan yang beracun.

12. Penyakit yang disebabkan oleh raksa atau persenyawaan yang beracun. 13. Penyakit yang disebabkan oleh timbal atau persenyawaan yang beracun. 14. Penyakit yang disebabkan oleh fluoratau persenyawaan yang beracun. 15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida. 16. Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan hidrokarbon alifatik atau aromatik yang beracun. 17. Penyakit yang disebabkan oleh benzena atau homolognya yang beracun. 18. Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena atau homolognya yang beracun. 19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya. 20. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol atau keton. 21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan seperti karbon monoksida hidrogensianida, hidrogensulfida atau derivatnya yang beracun, amoniak seng, braso dan nikel. 22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan. 23. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan otototot, urat, tulang persendian, pembuluh darah tepi atau saraf tepi). 24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih. 25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan radiasi yang mengion. 26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi, atau biologik. 27. Penyakit kulit epitelioma primer yang disebabkan oleh pic, bitumen, minyak

mineral, antrasena atau persenyawaan, produk atau residu zat tersebut. 28. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes. 29. Peyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapatkan dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus. 30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau panas radiasi ata u kelembaban udara tinggi. 31. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk bahan obat. 2.2.2 Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja Dalam ruang atau di tempat kerja biasanya terdapat faktor-faktor yang menjadi sebab penyakit akibat kerja, antara lain: 1. Golongan fisik, seperti: a. Suara, yang bisa menyebabkan pekak atau tuli. b. Radiasi sinar-sinar radioaktif dapat menyebabkan penyakit susunan darah dan kelainan kulit. c. Suhu, apabila terlalu tinggi dapat menyebabkan heat stroke, heat cramps, atau hyperpyrexia. Sedangkan suhu-suhu yang rendah dapat menimbulkan frostbite, trenchfoot, dan hypotermia. d. Tekanan tinggi dapat menyebabkan caisson disease. e. Penerangan lampu yang kurang baik misalnya dapat menyebabkan kelainan pada indera penglihatan atau kesilauan yang memudahkan terjadinya kecelakaan.

2. Golongan kimia (chemis), yaitu: a. Debu yang menyebabkan pneumoconioses, diantaranya silicosis, asbestosis, dan lainnya. b. Uap yang diantaranya menyebabkan metal fume fever, dermatitis atau keracunan. c. Gas, misalnya keracunan oleh CO dan H2S. d. Larutan yang dapat menyebabkan dermatitis. e. Awan atau kabut, misalnya racun serangga, racun jamur dan lainnya yang dapat menimbulkan keracunan. 3. Golongan infeksi, misalnya oleh bibit penyakit anthrax, brucella, AIDS, dan lainnya. 4. Golongan fisiologis, yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan konstruksi mesi n, sikap badan yang kurang baik, salah cara melakukan suatu pekerjaaan dan lain-lai n yang kesemuanya menimbulkan kelelahan fisik, bahkan lambat laun dapat menyebabkan perubahan fisik pada tubuh pekerja. 5. Golongan mental-psikologis, yang terlihat misalnya pada hubungan kerja yang tidak baik, atau keadaan pekerjaan yang monoton yang menyebabkan kebosanan.8 2.3 Rumah Sakit 2.3.1 Batasan Rumah Sakit Rumah sakit sebagai salah satu subsistem pelayanan kesehatan menyelenggarakan dua jenis pelayanan untuk masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan adminstrasi. Pelayanan kesehatan yang diberikan merupakan bentuk

upaya pelayanan kesehatan yang bersifat sosio ekonomi yaitu suatu usaha yang wal au bersifat sosial namun diusahakan agar bisa mendapat surplus keuangan dengan cara pengelolaan yang profesional dengan memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi. 11 Batasan rumah sakit banyak macamnya. Beberapa diantaranya yang dipandang penting: 12 1. Rumah Sakit adalah suatu organisasi yang melalui tenaga medis profesional yang terorganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang diderita oleh pasien (American Hospital Association; 1974). 2. Rumah Sakit adalah tempat dimana orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tempat dimana pendidikan klinik untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan (Wolper dan Pena; 1987). 3. Rumah Sakit adalah pusat dimana pelayanan kesehatan masyarakat, pendidikan serta penelitian kedokteran diselenggarakan (Association of Hospital Care ;1987). Organisasi rumah sakit mempunyai sejumlah sifat-sifat yang secara serentak tidak dipunyai organisasi lain pada umumnya. Sifat atau karakteristik itu adalah : 13 1. Sebagian besar tenaga kerja rumah sakit adalah tenaga profesional 2. Wewenang kepala rumah sakit berbeda dengan wewenang pimpinan perusahaan 3. Tugas-tugas kelompok profesional lebih banyak dibandingkan tugas kelompok

manajerial 4. Beban kerjanya tidak bisa diatur 5. Jumlah pekerjaan dan sifat pekerjaan di unit kerja beragam 6. Hampir semua kegiatannya bersifat urgen 7. Pelayanan rumah sakit sifatnya sangat individualistik. Setiap pasien harus dipandang sebagai individu yang utuh, aspek fisik, aspek mental, aspek sosiokultural, dan aspek spiritual harus mendapat perhatian penuh 8. Tugas memberikan pelayanannya bersifat pribadi, pelayanan ini harus cepat dan tepat, kesalahan tidak bisa ditolerir 9. Pelayanan berjalan terus menerus selama 24 jam dalam sehari Akibat dari pelayanan yang terus menerus adalah: 13 1. Keharusan adanya penyediaan tenaga yang selalu siap setiap waktu. 2. Keharusan adanya peralatan yang selalu siap, aliran listrik yang tak boleh berhenti. 3. Pengawasan yang terus menerus. 4. Harus selalu tersedia dana operasional setiap saat. 5. Pelayanannya bersifat emergensi, harus segera dilaksanakan. 2.3.2 Misi Rumah Sakit Ketetapan misi rumah sakit sangat penting oleh karena merupakan acuan tujuan kerja rumah sakit. Yayasan pemilik rumah sakit tentu mempunyai tujuan saa t mendirikan rumah sakit, biasanya tujuannya not for profit. Menurut Sistem Keseha tan Nasional: 13

1. Rumah sakit memberikan pelayanan rujukan medik spesialistik dan subspesialistik. 2. Fungsi utamanya adalah menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/SK/MENKES/XI/92, rumah sakit umumnya mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Rumah sakit khusus memberikan pelayanan sesuai dengan kekhususannya, rumah sakit perusahaan mempunyai keistimewaan sesuai dengan keperluan perusahaan yang mengusahakannya. 13 2.3.3 Fungsi Rumah Sakit Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 134 Menkes/SK/IV/78 Tahun 1978 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum di Indonesia, Rumah sakit berfungsi sebagai: 11 1. Melaksanakan usaha pelayanan medik. 2. Melaksanakan usaha rehabilitasi medik. 3. Usaha pencegahan komplikasi penyakit dan peningkatan pemulihan kesehatan. 4. Melaksanakan usaha perawatan. 5. Melaksanakan usaha pendidikan dan latihan medis dan paramedik. 6. Melaksanakan sistem rujukan. 7. Sebagai tempat penelitian.

2.3.4 Organisasi Rumah Sakit Sekalipun yang termasuk dalam masyarakat rumah sakit pada saat ini telah mencakup bidang yang amat luas sekali, namun untuk kepentingan penyelenggaraan pelayanana kesehatan, yang terpenting agaknya hanyalah masyarakat pengelola rumah sakit saja. Untuk ini dilakukanlah pengorganisasian rumah sakit tersebut, yang jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas tiga kelompok organisasi yakni: 12 1. Para Penentu Kebijakan Para penentu kebijakan rumah sakit ini dikenal dengan nama Dewan Perwalian (Board of Trustees). Sesuai dengan namanya, maka tugas utama Dewan Perwalian ialah menentukan kebijakan rumah sakit. 2. Para Pelaksana Pelayanan Non-medis Para pelaksana pelayanan non-medis diwakili oleh kalangan administrasi (administrator). Adapun yang dimaksud dengan kalangan administrasi di sini adala h mereka yang ditunjuk oleh Dewan Perwalian untuk mengelola kegiatan rumah sakit. Tugas utamanya ialah mengelolah kegiatan aspek non medis rumah sakit sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Dewan Perwalian. 3. Para Pelaksana Pelayanan Medis Para pelaksana pelayanan medis diwakili oleh kalangan kesehatan (medical staff) . Adapun yang dimaksud dengan pelaksana pelayanan medis disini adalah mereka yang bekerja di rumah sakit untuk menyelenggarakan pelayanan medis rumah sakit. 2.3.5 Rumah Sakit di Indonesia Sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, rumah sakit di Indonesia

dapat dibedakan atas beberapa macam. Jika ditinjau dari pemiliknya, maka rumah sakit di Indonesia dapat dibedakan atas dua macam: 12 a. Rumah sakit pemerintah b. Rumah sakit swasta Jika ditinjau dari kemampuan yang dimiliki, rumah sakit di Indonesia dibedakan atas lima macam, yakni: 11 1. Rumah Sakit kelas A Rumah sakit kelas A adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis luas. 2. Rumah Sakit kelas B Rumah sakit kelas B adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis luas dan subspesialis terbatas. 3. Rumah Sakit kelas C Rumah sakit kelas C adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis terbatas. 4. Rumah Sakit kelas D Rumah sakit kelas D adalah rumah sakit yang bersifat transisi karena pada suatu saat akan ditingkatkan menjadi rumas sakit kelas C. 5. Rumah Sakit kelas E Rumah sakit kelas E adalah rumah sakit khusus yang menyelenggarakan hanya satu macam pelayanan kedokteran saja.

2.3.6 Prosedur Kerja Kebersihan Lingkungan Rumah Sakit Prosedur kerja kebersihan lingkungan rumah sakit merupakan suatu aktifitas untuk menciptakan kebersihan dan pengendalian infeksi nosokomial. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang bersih, dalam rangka memberikan rasa nyaman bagi pasien dan mencegah terjadinya infeksi silang. 14 2.3.6.1 Tata Cara Pelaksanaan Pembersihan Ruangan di Rumah Sakit Pembersihan dan pemeliharaan ruangan rumah sakit yang baik dapat mencegah penularan penyakit. 14,15,16 Rumah sakit memerlukan suatu teknik khusus dalam pelaksanaan pembersihan ruangannya. Tata cara pelaksanaan pembersihan ruangan di rumah sakit adalah sebagai berikut: 13, 14, 15 1. Kegiatan pembersihan ruang dan lantai sebaiknya dilakukan hari, minimal 5 kali sehari yaitu pada pagi hari jam 07.00 dan 10.00, siang hari jam 13.00, sore hari jam 16.00 dan 18.00. 2. Pembersihan lantai di ruang perawatan pasien dilakukan setelah pembenahan tempat tidur pasien, setelah jam makan, setelah jam kunjungan dokter, setelah kunjungan keluarga dan sewaktu-waktu bila diperlukan. 3. Harus dihindari cara pembersihan yang dapat menebarkan debu. 4. Dianjurkan untuk selalu menggunakan pembersihan cara basah dengan menggunakan kain pel yang tepat, mampu menyerap debu dan desinfektan yang ditetapkan oleh rumah sakit. 5. Pembersihan lantai dimulai dari bagian ruangan paling dalam dan bergerak menuju ke arah luar.

6. Sewaktu mengepel lantai, semua perabotan ruangan diangkat atau digeser agar pembersihan lantai sempurna. 7. Setiap percikan ludah, darah, eksudat pada dinding atau lantai harus segera dibersihkan dengan menggunakan antiseptik. 8. Pembongkaran ruangan minimal 1 kali seminggu. Teknik pembersihannya dengan menggunakan air sabun, lalu dikeringkan, kemudian diulangi lagi dengan menggunakan larutan desinfektan, atau menggunakan mesin sikat dan vacuum dengan cara yang sama. 9. Langit-langit dan lawa-lawa dibersihkan minimal 1 kali dalam seminggu. 2.3.6.2 Tata Cara Pelaksanaan Pembersihan Kamar Mandi/WC di Rumah Sakit Untuk kamar mandi/wc rumah sakit, tata cara pembersihannya adalah dengan membersihkannya 2 kali sehari sesuai dengan prosedur (pagi-sore/sewaktu-waktu bi la perlu). 15 2.3.7 Pedoman Pemeliharaan Arsitektur Bangunan dan Halaman Rumah Sakit 2.3.7.1 Pemeliharaan Arsitektur Bangunan Rumah Sakit Pemeliharaan arsitektur bangunan dan rumah sakit meliputi pemeliharaan (pembersihan) dan perbaikan kecil untuk lantai dan tangga, dinding dan partisi, pintu dan jendela, atap dan talang, dan plafon bangunan rumah sakit. 16 I. Pemeliharaan Lantai Pemeliharaan lantai dilakukan secara berkala yang disesuaikan dengan jenis lantai di rumah sakit. Jenis lantai terdiri atas: a. Lantai (Floor) Diplester Halus

Pembersihan lantai yang kotor, dibersihkan dengan sapu dan mesin penghisap serta dipel dengan kain pel. Pembersihan dilakukan dengan setiap hari. Bidang ya ng terdapat bercak noda dibersihkan segera mungkin dengan air yang dicampur dengan deterjen, kemudian dikeringkan dengan lap. b. Ubin PC Pembersihan ubin PC yang berdebu dan kotor dilakukan dengan menyapu atau dengan menggunakan mesin penghisap, kemudian dipel dengan kain pel. Untuk ubin PC yang terdapat bercak noda dibersihkan dengan air yang dicampur dengan deteterjen, kemudian dilap. Pembersihan dilakukan segera mungkin. c. Keramik, Porselin dan Mozaik Ciri-ciri lantai ini adalah keras, permukaannya mengkilap, berwarna-warni, tidak menyerap air, dan mudah perawatannya. Pembersihan terutama untuk menjaga kebersihan dari debu dan kotoran pada permukaan keramik, porselin dan mozaik digunakan sapu, sikat, mesin penghisap dan kemudian dipel. Pembersihan dilakukan setiap hari. Untuk pembersihan kotoran yang menempel, seperti noda bercak tanah liat, diseka dengan kain basah dan disikat. pembersihan dilakukan sesegera mungk in. Pencucian dengan deterjen atau bahan semacam porstek dilakukan sebulan sekali. d. Marmer Mempunyai ciri keras, permukaan mengkilap, tidak mudah menyerap air, dapat berwarna-warni, pemeliharaannya mudah, kuat menahan beban berat, dan tidak mudah nampak kotor. Pemeliharaan dilakukan untuk menghindari kerusakan akibat garam alkali dan kotoran lain. Bahan dan alat yang dipakai : sabun, sapu, mesin penghisap dan mesin pemoles. Pembersihan debu dan kotoran dilakukan dengan sikat

yang lembut atau mesin penghisap. Pembersihan kotoran (bukan noda kimiawi) dilakukan dengan menggunakan mesin penyikat/pemoles dan dibilas dengan sabun dicampur air hangat, dibilas dan dikeringkan sehingga bersih tanpa meninggalkan bekas sabun. Pemolesan dengan mesin poles dan sikat yang lembut. Pemolesan dilakukan satu kali setahun. Pembersihan dari debu dan kotoran dilakukan setiap hari, untuk ruang dengan frekuensi penggunaan tinggi seperti lobbi dilakukan 2 kali se tiap hari. Pembersihan menyeluruh terhadap kotoran (bukan noda kimiawi) dilakukan 1 (satu) bulan sekali. Untuk pemolesan dilakukan 1 (satu) bulan sekali. e. Teraso Populer atau sering digunakan sebelum adanya lantai marmer, keramik, maupun karpet. Merupakan lantai indah dengan ciri keras, berwarna-warni, permukaannya mengilap, tidak mudah menyerap air. Pembersihan dari kotoran dan debu dengan sapu, mesin penghisap kemudian dipel, dilakukan setiap hari. Lantai teraso mudah ternoda maka pembersihan noda harus dilakukan segera, seperti terke na tinta, teh, kopi, tanah liat dan lain-lain. Pemolesan lantai dilakukan 1 (satu) tahun sekali. f. Vinyl Jenis lantai ini bahan dasarnya terbuat dari plastik bercampur karet. Cirinya elastis, lembek, dapat meredam suara, mudah terbakar, dan perawatannya mudah. Pemeliharaan dilakukan untuk melindungi permukaan terhadap senyawa kimia, perubahan warna dan tekstur, dengan jalan membersihkan dengan melap serta mencuci. Bahan yang digunakan sapu, mesin penghisap, mesin pencuci/penyikat dan sabun cuci. Pembersihan debu dan kotoran dilakukan dengan menggunakan sikat

yang lunak, sapu dan mesin penghisap. Pembersihan cairan dan bercak-bercak yang menempel dilakukan dengan sikat lantai dengan tambahan cairan pembersih seperti sabun. Pembersihan dari debu dan kotoran dilakukan setiap hari. g. Parket Yang dimaksud dengan lantai parket ialah lantai kayu dilapis/finishing antara lain: triplek, ramin yang telah difinishing dan telah diberi lapisan cat, plitur , teak oil dan duco. 1) Kayu dilapis plitur dan teak oil Pembersihan terhadap debu dan kotoran dilakukan setiap hari dengan lap, penyapu atau mesin penghisap. Pencucian meliputi pencucian bercak noda yang melekat pada permukaan cat, dengan menggunakan air dicampur bahan kimia kemudian dilap sampai kering yang dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali. 2) Kayu dilapis cat dan duco Pembersihan debu menggunakan lap atau dengan mesin penghisap dengan cara kering setiap hari. Pencucian bercak/noda yang melekat pada permukaan cat dilakukan 6 (enam) bulan sekali menggunakan air dicampur bahan kimia kemudian dilap sampai kering h. Floor Hardener dan Bata Pres. Pemeliharaan terutama untuk pembersihan dari debu, kotoran dan noda minyak dengan cara menyapu, mengepel dan menyikat agar mendapatkan permukaan yang baik. Bahan dan alat yang digunakan : obat kimia untuk bahan pelapis, deter jen, sapu/sikat, vacuum cleaner dan mesin penyikat. Pembersihan dari debu dan kotoran pada permukaan, terutama bagian yang kasar menggunakan sapu dan sikat yang

lembut dan untuk permukaan yang halus dapat menggunakan mesin penghisap setiap hari. Pencucian lantai dilakukan dengan cara : basahi atau pel lantai dengan air bersih, kemudian sapukan campuran bubuk kimia. Untuk lantai yang kotor sekali dapat menggunakan sejurnlah bubuk abrasive. Untuk pembilasan menggunakan air bersih untuk menghilangkan/membersihkan garam alkalinya. Pemolesan dilakukan bila lantai sangat kotor, dapat menggunakan mesin penyikat dengan campuran bubuk yang sama seperti diatas. Untuk menghilangkan noda, dapat menggunakan bahan kimia, tergantung pada jenis nodanya. Untuk pemolesan dilakukan 1 (satu) tahun sekali, jika diperlukan. Pembersihan noda dilakukan segera mungkin, pembersihan (pencucian) dengan mesin penyikat bercak/noda dilakukan 1 (satu) bulan (secara menyeluruh). i. Karpet atau Permadani Pembersihan karpet dan permadani dilakukan agar bersih dari debu dan kotoran. Bahan-bahan yang digunakan adalah : bahan-bahan kimia untuk menghilangkan noda (Bolt MPC), deterjen dan shampo (Nobla Shampoo) untuk mencuci, refresh powder sebagai pewangi, sapu, sikat karpet untuk membersihkan dan mesin penghisap, mesin pencuci karpet untuk cuci dan disikat. Sapu/sikat kar pet digunakan untuk membersihkan permukaan karpet, debu dan kotoran kecil terutama pada ruangan yang tidak mudah kotor, pada ujung-ujung/pojok, dibawah perabot dan tempat-tempat yang sulit. Pelaksanaannya harus hati-hati dan halus, dengan gerak angerakan sejajar dengan arah serat. Sedangkan mesin penghisap digunakan pada ruan g yang mudah kotor dan sebagai pengeringan setempat akibat tumpahan air atau caira n lain. Pembersihan kotoran dan debu dilakukan setiap hari.

Pencucian karpet dapat digunakan pada bidang yang luas, cara pencuciannya bisa dilakukan dengan : (1) Bubuk pembersih. Mesin pencuci diberi bubuk pembersih, dengan gerakan memutar karpet tersebut dibersihkan. Segera setelah proses tersebut diatas dilakukan karpet har us segera dibersihkan dengan mesin penghisap debu. (2) Gosokan bunga karang dan cairan Proses ini dilakukan terutama untuk karpet dengan bahan baku fiber atau bahan sintetis dengan tujuan selain bersih juga untuk mendapatkan kembali warna karpet yang cerah. Pembersihan ini dilakukan dengan menyapukan cairan yang bahan bakunya carbon tetrachlorida dengan sistem cuci kering hanya pada permukaan karpet. Yang perlu diperhatikan bahwa, cairan tersebut mengandung uap beracun at au mudah terbakar, sehingga dalam pelaksanaamya perlu : menggunakan masker, membuka jendela dan pintu, dilarang merokok dan menjaga jangan sampai timbul percikan-percikan api. (3) Deterjen dan sampo Dilakukan untuk semua jenis karpet, sampo atau deterjen dimasukkan dalam tabung yang built (terpasang) pada mesin pencuci. Bila pada karpet terdapat bercak noda, digunakan zat kimia tergantung pada jenis noda. Permukaan karpet digosok dengan gerakan memutar dengan sikat yang ada pada mesin pencuci setelah itukarpet dibilas dan dikeringkan agar tidak bau. 20 II. Pemeliharaan Dinding

Komponen dinding terdiri dari : a. Beton Ekspose, Keramik Tidak Berglasur Pembersihan debu dan kotoran dilakukan dengan menggunakan sapu dan sikat. Pencucian menggunakan air bersih, kemudian sapukan campuran bubuk kimia. Untuk dinding yang kotor sekali dapat digunakan bubuk abrasive, kemudian dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan/membersihkan garam alkalinya. Pemolesan dilakukan untuk melindungi komponen dari debu dan memudahkan untuk pembersihan. Prosesnya, komponen yang akan dipoles harus dibersihkandari segala kotoran. Hal yang perlu diperhatikan dalam memoles, komponen cenderung berubah warna, oleh karena itu pemolesan dilakukan sekali setahun, jika diperlukan. Apabila dinding sangat kotor dapat digunakan mesin penyikat dengan campuran bubuk abrasive dan untuk menghilangkan noda dapat digunakan bahan kimia, tergantung jenis nodanya. b. Keramik Berglasur dan Mozaik. Pembersihan meliputi keramik, mozaik dan nat-natnya. Pembersihan dari debu dan kotoran dengan menggunakan sapu, sikat keramik dan mesin penghisap. Untuk pembersihan nat digunakan sikat yang bulunya agak kaku, terutama pada bagian luar. Pencucian dilakukan menggunakan deterjen, dan dilakukan sebulan sekali. c. Vinyl Melindungi permukaan vinyl terhadap senyawa kimia, perubahan warna dan tekstur dengan mencuci dan melap. Pembersihan debu dan kotoran, dilakukan dengan menggunakan sikat lunak, sapu dan mesin penghisap. Pembersihan terhadap cairan

yang menempel dan bercak-bercak, menggunakan sikat dan cairan pembersih, seperti : deterjen. Pada pemakaian vinyl yang perlu diperhatikan adalah : a) Hindarkan dari asam alkali, karena dapat merusak permukaan menjadi kusam. b) Hindarkan menyapu/mengepel dengan campuran yang mengandung minyak, karena bekas minyak akan tinggal dan membentuk lapisan yang dapat menempel debu dan kotoran. c) Hindarkan gesekan furniture dan barang-barang keras karena sifat lunak dari bahan tersebut akan mudah merusak permukaannya. d. Marmer Dilakukan untuk menghindari kerusakan akibat garam alkali dan kotoran lain. Bahan dan alat yang dipakai: sabun,sapu, mesin penghisap dan mesin pemoles. Pembersihan debu dan kotoran dilakukan dengan sikap yang lembut atau mesin penghisap. Pembersihan debu dan kotoran (bukan noda kimiawi) dilakukan dengan rnenggunakan mesin penyikat/pemoles dan dibilas dengan sabun dicampur air hangat , dibilas dan dikeringkan sehingga bersih tanpameninggalkan bekas sabun. Pemolesan dengan mesin poles dan sikat yang lembut. Pemolesan dilakukan satu kali setahun. Pembersihan dari debu dan kotoran dilakukan setiap hari, untu k ruang dengan frekuensi penggunaan tinggi seperti lobby dilakukan 2 kali sehari, sedangkan untuk pembersihan menyeluruh terhadap kotoran (bukan noda kimiawi) dilakukan sebulan sekali. Pemolesan dilakukan setahun sekali. e. Kayu

Kayu dilapis/finishing yang dimaksud adalah : parket, formika, triplek, ramin yang telah difinishing dan telah diberi lapisan cat, plitur, teak oil dan duco. Pelapisan kayu, adalah untuk melindungi terhadap serat-serat maupun sel-sel dari pengaruh zat kimia, jamur, serangga, debu, kotoran dan laimya. (1) Kayu dilapis plitur dan teak oil Pencucian meliputi pencucian bercak noda yang melekat pada permukaat cat, dengan menggunakan air dicampur bahan kimia kemudian dilap sampai kering. Pencucian dilakukan enam bulan sekali. Pembersihan debu dan kotoran dilakukan setiap hari, dengan rnenggunakan lap, sapu, dan mesin penghisap (2) Kayu dilapis cat dan duco Pembersihan debu menggunakan lap atau dengan mesin penghisap debu dengan cara kering, dilakukan setiap hari. Pencucian bercak/noda yang melekat pa da permukaan cat menggunakan air dicampur bahan kimia kemudian dilap sampai kering, dilakukan enam bulan sekali. f. Aluminium dan Stainless Steel Pembersihan dilakukan dengan kain halus, cuci dengan deterjen dan air hangat, bilas dan kemudian keringkan. Untuk pembersihan noda, gunakan cairan ata u bubuk pembersih, dilap dengan kain halus sampai kering. g. Kaca dan Flexiglass Pembersihan debu dan kotoran yang menempel, menggunakan alat pembersih kaca dan deterjen, dilakukan setiap hari. Untuk bagian yang sulit menggunakan al at bantu (seperti stager), dilakukan tiga bulan sekali. Pembersihan dari minyak dan lemak menggunakan bahan kimia seperti Bolt MPC atau Glass Cleaner.

h. Wall Paper Pembersihan debu dan kotoran yang melekat digunakan mesin penghisap, kain/busa pembersih dan deterjen yang dilakukan setiap hari. Minyak/lemak yang menempel pada permukaan diseka dan dicuci, dengan menggunakan bahan kimia. Pencucian dilakukan dengan air dan deterjen 6 (enam) bulan sekali menggunakan kain/busa pembersih. Bilas permukaan wall paper dengan air bersih dan dilap samp ai kering. i. Plesteran Difinis Plesteran difinis adalah plesteran diaci dan dicat. a) Pembersihan cat tahan air. Bidang yang kotor karena debu dibersihkan dengan bulu ayam dan mesin penghisap. Bidang yang terdapat bercak-bercak dibersihkan dengan air campur deterjen dan dilap. b) Pembersihan cat biasa. Kotoran dan debu dibersih dan lap atau mesin penghisap. c) Pembersihan bercak-bercak dilakukan segera. Pembersihan kotoran dan debu dilakukan sebulan sekali. j. Plesteran Kasar/Kamprot dan Difinis Halus Pembersihan bidang yang kotor karena debu, dibersihkan dengan sikat, dilakukan setahun sekali. 16

III. Pemeliharaan Pintu dan Jendela Rumah Sakit Pintu dan jendela rumah sakit dapat terbuat dari berbagai jenis komponen,

antara lain: Teakwood, kayu diplitur/dicat, Formika, Aluminium dan Stainless ste el, Kaca dan flexiglass, Besi, dan Seng. Pembersihan pintu dan jendela tersebut dilakukan enam (6) bulan sekali dengan cara mencuci dan menyikat debu, kotoran dan sampah yang ada. Untuk engsel, roda dan kunci dilakukan pelumasan sebulan sekali. Pembersihan dilakukan setiap hari dengan lap kering dan bahan kimia bila diperlukan. 16 IV. Pemeliharaan Plafon Rumah Sakit Plafon terdiri atas beberapa jenis, antara lain: a. Plafon asbes, triplek, kisi-kisi kayu, dan hard board Pembersihan menggunakan sapu ijuk atau lap yang dilakukan sebulan sekali b. Plafon akustik Pembersihan dengan sapu ijuk, dilakukan sebulan sekali. c. Plafon Formika Pembersihan dilakukan dengan sapu ijuk, dilakukan sebulan sekali. d. Gypsum Pembersihan dilakukan dengan sapu atau kain lap, dilakukan sebulan sekali. e. Plesteran difinis Pembersihan dilakukan dengan sapu ijuk, dilakukan setiap bulan. 16 V. Pemeliharaan Atap Meliputi pembersihan sampah dan organisme botani seperti rumput atau lumut yang terdapat pada permukaan atap. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan sikat dan sapu lidi disertai peyiraman dengan air. Pembersihan

dilakukan seminggu sekali untuk sampah dan setiap 3 (tiga) bulan sekali untuk rumput dan lumut. 16 2.3.7.2 Pemeliharaan Halaman Rumah Sakit Pemeliharaan halaman rumah sakit meliputi pembersihan pagar, pertamanan, lapangan parkir, saluran air hujan dan tempat sampah di rumah sakit. 1. Pemeliharaan Taman Pemeliharaan taman dilakukan dengan merawat tanaman dan pembersihan taman dari rumput dan kotoran lainnya. Pemeliharaan ini dilakukan setiap hari. 2. Pemeliharaan Lapangan Parkir Pemeliharaan meliputi pembersihan sampah dan organisme botani (rumput dan yang sejenis) yang ada di permukaan lapangan parkir. Pembersihan dilakukan dengan sapu, sikat, sekop kecil, atau dengan cara dicabut. Pembersihan dilakukan setiap hari untuk sampah dan setiap 1 (satu) kali sebulan untuk organisme botani . 3. Pemeliharaan Pagar Pagar rumah sakit terdiri dari : a. Pagar Hidup Pemeliharaannya dengan melakukan penyiraman dan pemupukan secara rutin. b. Pagar Bambu/kayu, Kawat, Teralis, dan Beton Pembersihan pagar dari debu dan kotoran dilakukan dengan menggunakan sikat, lap basah atau disemprot air yang dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali. 4. Pemeliharaan Tempat Sampah Pembersihan tempat sampah dilakukan dengan melakukan pencucian dengan

air dan sabun. 16 2.3.8 Obat Pembersih Untuk memelihara, membersihkan serta merawat bangunan rumah sakit, ada berbagai macam obat pembersih yang digunakan, antara lain: 17 1. Applied 4000 Applied 4000 merupakan serbuk kasar, berwarna putih kecoklatan dan baunya tidak sedap yang berguna sebagai obat pembersih kamar mandi serta toilet yang kotorannya sudah pekat. Daya bersihnya kuat tetapi dapat merusak kulit tangan, sehingga disarankan menggunakan sarung tangan saat menggunakan obat ini. 2. Bendurol Forte Bendurol Forte berwarna kuning dan wangi. Merupakan obat yang digunakan untuk membongkar/mengupas lapisan lantai (marmer atau terasso) yang talah kusam atau kotor, untuk dilapisi kembali agar lantai kelihatan bersih mengkilap dan aw et. 3. Bolt MPC (Bolt Multi Purpose Cleaning) atau Light Bolt Bolt MPC merupakan pembersih serbaguna yang dapat digunakan untuk membersihkan semua perlengkapan : meja, kursi, cermin, kaca, pembersih kamar mandi, maupun pencuci karpet. 4. Bolt PCS (Bolt Porceline Cleaning Special) Bolt PCS berwarna biru tua, berbau keras dan menyengat, khusus untuk membersihkan lantai porselin, terutama di toilet dan kamar mandi, serta jamban y ang kotorannya pekat. Sebaiknya menggunakan sarung tangan saat pemakaian karena dapat menyebabkan tangan menjadi gatal dan kulit rusak.

5. Con-R-dust Con-R-dust berwarna coklat kekuningan yang berguna untuk membersihkan lantai marmer, porselin maupun terasso. 6. Dimon Pie Dimon pie berbau agak wangi, sebagai pembersih lantai, terutama untuk toilet dan kamar mandi, yang sekaligus dapat menghilangkan bau tidak enak serta membunuh kuman seperti disinfectant. 7. Disinfectant Disinfectant berbau tidak enak, untuk membersihkan toilet dan kamar mandi sekaligus pembasmi kuman. 8. Fast-Go Fast-Go berbentuk serbuk putih kecoklatan, berbau menyengat yang berfungsi untuk membersihkan kamar mandi serta toilet pada saat general cleaning. 9. Fortify Fortify berbau sangat menyengat, berguna sebagai obat pelapis lantai marmer atau terasso, mempunyai daya kilap lebih lama kaena tahan goresan atau gesekan. 10. Glass Cleaner Glass cleaner berwarna biru muda, baunya menyengat hidung, untuk menghilangkan noda-noda pada kaca dan cermin. 11. Glow Metal Polish Glow metal polish berwarna putih kekuningan yang digunakan untuk membersihkan semua peralatan yang terbuat dari logam, baik kuningan, baja (stainless steel), aluminium, dan lain-lain.

12. Go Getter Go Getter berwarna biru tua, berbau tidak sedap, sebagai pembersih toilet dan kamar mandi. Mempunyai daya bersih yang kuat. 13. Marble Klin Marble Klin berbau harum, berwarna kuning, untuk menghilangkan nodanoda pada lantai marmer dan terasso serta membuatnya mengkilap. 14. Marble Powder Marble powder digunakan untuk membersihkan lantai marmer ataupun terasso. Obat ini berbentuk serbuk, penggunaannya harus menggunakan scrubbing machine. 15. Metana Metana berwarna putih kuning, berbau seperti terpentin. Berguna sebagai obat pembersih peralatan yang terbuat dari kayu seperti Shine Up. 16. Netto Clar Netto Clar berwarna kuning, cair kental, berbau harum. Obat ini berguna sebagai obat pelapis lantain marmer atau terasso. 17. New Complete New Complete merupakan obat pelapis lantai (marmer atau terasso) yang mempunyai sifat unbuffable, tidak perlu digosok dengan buffing machine atau polishing machine, dan tahan goresan. 18. Nobla Carpet Shampoo Nobla Carpet Shampoo adalah obat pencuci karpet, berbau harum. 19. Refresh

Refresh berbentuk serbuk berwarna putih dan berbau harum. Gunanya untuk menghilangkan bau tidak sedap pada karpet setelah dicuci/disampo. 20. Shine Up Shine Up berbentuk krim berwarna putih, bersih dan kental seperti bubur, lembut, dan berbau harum. Fungsinya adalah sebagai pembersih segala macam perabotan yang terbuat dari kayu, meja, kursi, lemari, pintu, kusen pintu dan je ndela, serta pegangan tangga yang terbuat dari kayu. 21. Spiritus Spiritus berguna sebagai glass cleaner atau pembersih kaca dan cermin. 22. Trafic Grade Trafic grade berbentuk cair, berwarna putih, bau tidak enak. Berguna untuk melapisi lantai marmer atau terasso, untuk menutup pori-pori lantai sehingga pemeliharaannya menjadi lebih mudah. 23. Vim Vim berbentuk serbuk putih untuk membersihkan kamar mandi dan toilet namun tidak merusak kulit. 24. Vixal Vixal baunya agak keras, agak harum, berguna untuk membersihkan toilet dan kamar mandi.17 2.4. Petugas Cleaning Service 2.4.1 Tugas Pokok Petugas Cleaning Service

Petugas cleaning service atau petugas kebersihan mempunyai tugas pokok

untuk menjaga kebersihan, kerapian, keindahan dan kenyamanan seluruh area baik yang ada di dalam gedung maupun yang ada di luar gedung. 17 2.4.2. Sistem Kerja Petugas Cleaning Service di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan

Jam kerja petugas cleaning service atau petugas kebersihan di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan dimulai pukul 07.00 WIB-22.00 WIB. Terbagi menjadi 2 shift, yaitu: a. Shift 1 (Pukul 07.00 WIB-15.00 WIB). b. Shit 2 (Pukul 14.00 WIB-22.00 WIB). Petugas cleaning service di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan memiliki beberapa tugas, antara lain: 1. Membersihkan setiap ruangan kantor, poliklinik, kamar pasien, kamar mandi/wc, dan koridor yang ada di area rumah sakit (in side). 2. Membersihkan seluruh taman dan halaman yang ada di area rumah sakit (out side). 3. Mengangkut sampah non medis yang terdapat di area rumah sakit ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) sampah yang ada di area rumah sakit, dan mengangkut sampah medis rumah sakit ke IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) rumah sakit. Untuk melaksanakan tugas-tugas di atas, maka setiap harinya dibentuk tim yang terdiri atas 3 (tiga) tim, yaitu: 1. Tim pembersih ruangan, yang bertugas melaksanakan pembersihan pada

setiap ruangan yang ada di area rumah sakit. 2. Tim sampah, yang bertugas melaksanakan pengangkutan sampah medis ke IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) rumah sakit dan sampah non medis ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara) sampah, serta membersihkan halaman dan taman di area rumah sakit. 3. Tim khusus, yang bertugas untuk membersihkan bagian-bagian khusus seperti langit-langit ruangan, kaca, dan karat yang memerlukan penanganan khusus, serta area kerja dengan ketinggian > 5 meter. Dalam pengaturan penugasan petugas cleaning service, pihak Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi memberlakukan sistem kerja rotasi mingguan.

2.4.3 Pelayanan Kesehatan Bagi Petugas Cleaning Service di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan

Setiap petugas cleaning service di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan mendapatkan pelayanan kesehatan berupa pengobatan gratis di Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan.