Anda di halaman 1dari 10

MODUL VI/D-III

ANALISA DAN PERANCANGAN KERJA

1. Tujuan Instruksional Khusus Diharapkan mahasiswa dapat memahami mengenai Anthropometri 2. Daftar Materi Pembahasan

2.1. 2.2. 2.3. 2.4.

Definisi Anthropometri Sumber Variabilitas Data Anthropometri Penerapan Data Anthropometri

3. Pembahasan

2.1.

Anthropometri Istilah anthropometri berasal dari anthro yang berarti manusia dan metri yang berarti ukuran. Anthropometri menurut stevenson(1989) dan Nurmianto (1991) adalah satu kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, usuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penangan masalah design. Anthropometri merupakan studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia yang secara luas dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk merancang produk ataupun sistem kerja yang melibatkan manusia. Perancangan produk harus mampu mengakomodasikan populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangan tersebut. Mengenai data anthropometri anggota tubuh yang diukur dariberbagai negara dapat dilihat pada tabel & gambar 1.1

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

Gambar 1.1. Anthropometri tubuh manusia yang diukur dimensinya (Sumber data : Nurmianto, 1998) Keterangan : 1 = 2 3 4 5 = = = = Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala) Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus) Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak (dalam gambar tidak ditunjukkan) Tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari alas tempat duduk/pantat sampai dengan kepala) Tinggi mata dalam posisi duduk Tinggi bahu dalam posisi duduk Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus) Tebal atau lebar paha Panjang paha yang diukur dari pantat sampai ujung lutut Panjang paha yang diukur dari pantat sampai bagian belakang dari lutut/betis Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri maupun duduk Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai paha

6 = 7 8 9 10 11 12 = = = = = =

13 = 14 =

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

15 = 16 = 17 = 18 = 19 = 20 21 22 23 = = = =

Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi breidri maupun duduk) Lebar pinggul/pantat Lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak dalam gambar) Lebar perut Panjang siku yang diukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam posisi siku tegak lurus Lebar kepala Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari Lebar telapak tangan Lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar-lebar kesamping kiri-kanan (tidak ditunjukkan dalam gambar) Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai telapak tangan yang terjangkau lurus keatas (vertical) Jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan.

24 = 26 =

Pengukuran tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika diaplikasikan data perseorangan. Akan tetapi jika semakin banyak jumlah manusia yang diukur dimensi tubuhnya maka akan semakin kelihatan betapa besar variasinya antara satu tubuh dengan tubuh lainnya, baik secara keseluruhan tubuh maupun persegmennya. Untuk mendapatkan data yang teliti mungkin dibutuhkan beberapa alternatif jawaban dari beberapa pertanyaan berikut ini : berapa besar jumlah sample yang harus diukur ?. apakah sample tersebut hanya terbatas pada kalangan masyarakat tertentu saja ?.

apakah data yang didapat nanti akan dapat diterapkan pada jenis populasi masyarakat tertentu yang lain ?

2.2. Sumber variabilitas Perbedaan antara satu populasi dengan populasi yang lain dikarenakan oleh faktorrfaktor sebagai berikut (Nurmianto, 1991) : Jenis kelamin Untuk kebanyak dimensi tubuh pria dan wanita ada perbedaan yang segnifikan diantara rata-rata dan nilai perbedaan ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Pria dianggap lebih panjang dimensi segmen badannya daripada wanita. Oleh karena

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

nya data antropomentri untuk kedua jenis kelamin tersebut selalu disajikan secara terpisah. Usia Digolongkan atas beberapa kelompok usia yaitu : Balita, anak-anak, remaja, dewasa dan lanjut usia. Antropomentri nya akan cendrung terus meningkat sampai batas usia dewasa. Namun setelah menginjak usia dewasa , tinggi badan manusia mempunyai kecenderungan untuk menurun , yang antara lain disebabkan oleh kekurangan elestisitas tulang belakang, selain itu juga berkurangnya dinamika gerakan tangan dan kaki. Suku bangsa Variasi diantara beberapa kelompok suku bangsa telah menjadi hal yang tidak kala pentingnya. Misalnya orang eropa, asia , afrika atau lebih nampak lagi antara negara yang mewakili suku bangsa, misalnya jepang , inggris, arab dan lainnya. Faktor yang lainnya : Kehamilan (wanita)

Faktor ini sudah jelas akan mempunyai pengaruh perbedaan yang berarti kalau dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil. Cacat tubuh secara fisik Akibat cacat fisik mengakibatkan keterbatasan gerak., sehingga segmen tubuh mungkin terjadi suatu perbedaan dimensinya. Ada fasilitas yang dibangun atau dirancang karena memperhatikan para penderita cacat fisik. Pakaian Hal ini juga merupakan variabilitas yang disebabkan oleh variasi musim yang berbeda dari satu tempat. Misalnya pada waktu musim dingin akan memakai pakaian yang lebih tebal . 2.3 Data Antropometri Dimensi tubuh yang umum digunakan seperti pada tabel yang dibuat Stevenson , 1989 , dengan memberikan data pada berbagai kelompok usia dan antar bangsa. Penerapan antropomentri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-rata) dan standar deviasi (penyimpangan) dari suatu distribusi normal. Adapun distribusi normal ditandai dengan adanya nilai mean dan standar deviasi (SD). Sedangkan percentil adalah suatu nilai yang menyatakan bahwa persentase tertentu dari

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

sekelompok orang yang dimensinya sama dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Misal 95 % populasi adalah sama dengan atau lebih rendah dari 95 percentil, sedangkan 5 % populasi adalah sama dengan atau lebih rendah dari 5 percentil. Dalam pokok bahasan antropomentri , 95 percentil menunjukan tubuh berukuran besar, sedangkan 5 percentil menunjukan tubuh berukuran kecil. Besarnya nilai percentil dapat ditentukan dari tabel probabilitas distribusi normal. Distribusi normal dan perhitungan percentil, sumber data Nurmianto 1991, seperti tabel dibawah ini. Percentile 1 st 2,5 th 5 th X X + 1,280 X + 1,645 X + 1,960 X + 2,323 10 th 50 th 90 th 95 th 97,5 th 99 th Calculation X - 2,323 X - 1,960 X - 1,645 X - 1,280

Contoh perhitungan : Tinggi badan wanita dewasa (Hongkong) yang berusia antara 19 45 tahun adalah ter distribusi normal dengan mean x adalah 1680 mm dan SD adalah 58 mm. Berapa tinggi pada 95 percentil dan pada 5 percentil dari populasi tersebut. Penyelesaian : Dari rumus diatas didapat bahwa untuk 95 percentil adalah : = X + 1,645 = 1680 + 1,645 ( 58 ) = 1775,41 mm Dari rumus diatas didapat bahwa untuk 5 percentil adalah : = X - 1,645 = 1680 - 1,645 ( 58 )

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

= 1584,59 mm Selain dimensi individu dari masing-masing segmen tubuh yang telah ditabelkan sebelumnya dan juga tidak seorangpun yang mempunyai nilai persentil sama untuk semua dimensi segmen tubuh. Akan tetapi dimensi individual yang bervariasi tersebut berintraksi dalam suatu bentuk perancangan tempat kerja yang komplek, jadi dapat dikatakan bahwa manfaat dengan dipunyainya berbagai macam kombinasi untuk semua dimensi. Jika dimensi segmen tubuh yang diperlukan untuk perancangan belum tersedia dalam tabel , maka kita dapat mencari dengan cara menghitung secara teliti dari dimensi lain yang telah diketahui . Seperti contoh , kita ingin menghitung jarak jangkauan genggam kedepan, maka kita dapat mengukur dari depan perut , bukan dari punggung. Jika kita namakan dimensi ini adalah X k , maka X k = X 26 X 18
X k = 780 270 = 510 mm.

Akan tetapi terdapat kesalahan jika kita menghitung percentile

Xk

dengan cara

menguranginya dari percentile dimensi 26 dan percentile dimensi 18. Metode yang benar adalah dengan cara memperkirakan nilai standar deviasi dari dimensi yang baru dan kemudian menghitung percentilenya dengan cara seperti diatas. Adapun nilai standar deviasi tersebut dapat diperkirakan dengan menggunakan koefisien variansi yang telah diperkirakan relatif terhadap sejumlah dimensi yang lain. Koefisien variansi ( v ) didefinisikan v =

x
X

.100%

Adapun nilai v yang direkomendasikan oleh J.A. Roebuck, untuk berbagai macam kelompok dimensi tubuh tersebut , seperti tabel berikut : Macam Dimensi Anggota tubuh memanjang (tinggi badan, tinggi duduk, tinggi mata ) Anggota tubuh memanjang ( yang lebih pendek ) Lebar tubuh ( lebar pinggung, lebar bahu ) Tebal tubuh ( tebal dada, tebal perut ) Usuran kepala ( panjang, lebar kepala ) Koef.Var, v % 3,7 4,6 5,9 8,8 3,5

Jika dibahas lagi variable X k , nilai v yang mana yang akan dipakai untuk memperkirakan standar debais (SD) . Karena dalam hal ini yang berkepentingan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

adalah lebar perut , maka kita pilih

koefisien variansi sebesar 8,8 % dari tabel

diatas. Dengan menggunakan rumus v =

x
X

.100% , maka

SD = x = v. X , dan untuk nilai 5

sehingga didapat SD = 8,8/100 x(510) = 44,9 mm ~ 45 mm

percentile di dapat = X k - 1,645.SD = 510 1,645 ( 45 ) = 436 mm . Sekiranya belum ada statu data antropometri untuk populasi yang tersedia , maka perkiraan untuk dimensi yang belum diketahui dapat dibuat dengan mengasumsikan bahwa masing-masing dimensi adalah sebanding dengan dimensi yang telah diketahui. Caranya adalah dengan perhitungan relatif terhadap proposional dimensi . Jadi data yang paling baik adalah didapat dari pengukuran langsung terhadap dimensi tubuh yang diingini dengan menggunakan populasi yang sesuai. 2.4 Penerapan data Anthropometri Penggunaan data antropometri dalam penerapan perancangan produk atau tempat kerja perlu diperhatian dimensi yang hipotesis yaitu menganggap bahwa semua dimensi adalah merupakan rata-rata. Walaupun hanya penggunaan satu dimensi saja, seperti misalnya jangkauan kedepan, maka penggunaan rata-rata (50 percentil) dalam penyesuaian pemasangan alat control akan menghasilkan bahwa 50 % populasi akan tidak mampu menjangkaunya. Selain dari itu , jika seseorang mempunyai dimensi rata-rata populasi , katakanlah tinggi badan , maka belum tentu bahwa dia berada pada rata-rata populasi untuk dimensi lainnya. Contoh perancangan dengan menggunakan data antropometri statis, misalnya rancangan tinggi pintu, dalam perancangan ini cukup beralasan jika menggunakan 99 percentil populasi pria yang diperkirakan akan menggunakan pintu tersebut. Dan hal ini hanya akan mengakibatkan 1 % populasi pria yang terantuk pada saat melewati pintu tersebut. Dengan menggunakan data tabel 5.1 untuk orang Inggris , dengan dimensi nomor satut (1) tinggi tubuh posisi tegak (x) = 1740 mm dan SD = 70 mm . Nilai 99 percentil tersebut adalah mengaplikasikan rumus = X + 2,325 SD. = 1740 + (2,325 x 70) = 1903 mm. Perlu juga adanya penambahan kelonggaran dinamis (dynamic clearance) , karena tinggi badan masusia akan relatif bertambah jika berlari yang disebut sebagai

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

pengaruh dinamis ( dynamic effect ) dan kemungkinan penambahan penggunaan alat (asesoris) misalnya topi, sepetu. Jika kelonggaran dinamis = 50 mm, tinggi topi = 50 mm dan tinggi sepatu = 30 mm. Sehingga total tinggi pintu = 1903 + 50 + 50 + 30 = 2033 mm. Ini adalah tinggi pintu yang sesuai dengan perancangan riil. Sedangkan Standard British tinggi pintu adalah 2040 mm. Coba saudara buat rancangan untuk lebar pintu ?. Perancangan kursi kerja harus dikaitkan dengan jenis pekerjaan, posture yang diakibatkan, gaya yang dibutuhkan, arah visual (pandangan mata) , kebutuhan akan perlunya perubahan posisi (posture). Kursi tersebut haruslah terintegrasi dengan bangku atau meja yang sering dipakai . Kursi untuk kerja dengan posisi duduk adalah dirancang dengan metoda floor up yaitu dengan berawal pada permukaan lantai, untuk menghindari adanya tekanan dibawah paha. Setelah ketinggian kursi didapat kemudian haruslah menentukan ketinggian meja kerja yang sesuai dan konsisten dengan ruang yang diperlukan untuk paha dan lutut. Jika meja dirancang untuk tetap (tidak dapat dinaik-turunkan) , maka perancangan kursi hendaknya dapat dinaik-turunkan sesuai dengan ketinggian meja, sehingga perlu adanya sandaran kaki. Suatu studi yang dilakukan oleh Joan S. ward , studi ditunjukan untuk mengetahui ketinggian permukaan kerja yang optimum untuk suatu dapur. Ketinggian sampling sejumlah ibu-ibu rumah tangga menunjukan bahwa 23 % waktu mereka dihabiskan didapur , 34 % di wastafel dan tempat cuci, 14 % dipermukaan meja kerja, 14 % dimeja, 13 % ditungku kompor. Fleksibilitas dan penyesuaian yang didapat dalam rentang sebagai berikut : Wastafel (sink) Permukaan meja kerja ( work top) Permukaan meja setrika Permukaan kompor (stove) : 1014 1067 mm : 914 990 mm : 838 990 mm : 838 990 mm

Sangat sulit untuk memakai rekomendasi diatas, namun untuk meja setrika ketinggiannya dapat disesuaikan. Pendekatan yang digunakan oleh E. Grandjean (fitting the task to the man, Taylor & Francis Press,1986), yakni untuk menjamin cukup ruang bagi lutut orang dewasa , maka direkomendasikan mengambil 95th persentil dariukuran telapak kaki sampai

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

puncak lutut (tinggi lutut) dan menambahkan kelonggaran sebagai berikut : Laki-laki : 635 + 25 (sepatu) + 25 (kelonggaran) = 685 mm Wanita : 540 + 40 (sepatu) + 25 (kelonggaran) = 645 mm Penambahan 40 mm untuk ketebalan puncak atas meja (kadang-kadang banyak meja yang lebih tebal) memberikan tinggi permukaan kerja yang seharusnya memberikan keleluasaan bagi gerak lutut orang dewasa. Penambahan tersebut adalah sebagai berikut : Laki-laki = 680 mm, Wanita = 645 mm. Dari tabel antropometri (5.1) diketahui tinggi rata-rata dari siku diatas lantai jika duduk : dimensi 14 + dimensi 9 = 440 + 245 = 685 mm ( laki-laki) atau 400 + 235 = 635 mm ( wanita). Dengan mengasumsikan suatu koefisien variasi dari 4,5 %, 95 percenstil , maka dihitung sbb : 685 + (1,645 x 0,045 x 685) = 736 mm ( laki-laki ) 635+ (1,645 x 0,045 x 635) = 682 mm ( wanita ) Dengan menambahkan hak sepatu (shoe heel) 25 mm untuk pria dan 40 mm untuk wanita, maka 95 persentil tinggi siku adalah : 761 mm pria dan 722 wanita. Problem utama yang timbul dari kursi tinggi adalah terbatasnya gerak untuk lutut. Perancangan ulang untuk kursi yang memiliki ruang lutut lebih diinginkan. Sebuah sandaran kaki merupakan bagian yang paling penting dari suatu kursi tinggi, tanpa sandaran kaki tersebut , beban kaki bagian bawah akan dipindahkan pada sisi dalam dari lipatan paha. Untuk memberikan keleluasaan ruang posisi sandaran kaki yang seharusnya pula dibuat pada kerangka bangku tersebut. Sandaran kaki seharusnya dapat disetel untuk tinggi yang tidak tergantung pada tinggi tempat duduk, untuk panjang kaki yang lebih rendah. Kebanggaan orang adalah dengan memiliki kursi yang bisa disetel dan mempunyai sandaran kaki. Untuk memberikan pengertian yang mudah dari posisinya lebih baik menghindari sandaran kaki dan hal ini dapat dicapai dengan membuat tinggi meja yang dapat disetel. Untuk membaca dan menulis , orang biasanya mengistirahatkan lengan pada meja sehingga perlu permukaan yang lebih tinggi. Grandjean memberi nilai antara 740 780 mm untuk laki-laki dan 700 740 mm untuk wanita. Para operator menegakkan lengan diatas permukaan horizontal untuk jenis permukaan kerja yang terlalu tinggi dan menghasilkan penglihatan mata yang bagus . Hal ini dapat dikurangi dengan pembuatan sandaran lengan yang terbuat dari bantalan sepanjang sisi depan bangku. Fungsinya adalah dapat mengurangi benturan dengan sisi yang tajam dan mengurangi kerja otot statis. Kadangkala

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

memang tidah mudah mencari alternatif penyelesaian konflik yang timbul antara permukaan kerja yang terlalu tinggi dengan perlihatan yang baik serta meletakkan tangan dengan rendah untuk mengurangi kelelahan.

Buku Acuan : 1. Barnes R. M, Motion and Time Study - Design and Measurement of Work , John Wiley & Sons .Inc, New York. 2. Kazarian E. A. Work Analisis and Design for Hotel, Restaurants and Institutions , Avi Publishing Company, Inc. Westport , Connecticut , Michigan. 3. Eko Nurmianto , Ergonomi , Konsep Dasar dan Aplikasinya , ITSN , Surabaya. 4. Wignjosoebroto Sritomo, Ergonomi Studi Gerak dan Waktu ITSN , Surabaya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Torik Husein

ANALISA PERANCANGAN KERJA

10