Anda di halaman 1dari 29

1

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Identitas nasional secara terminologis adalah suatu cirri yang dimiliki oleh suatu bangsa
yang secara IilosoIis membedakan bangsa tersebut dengan bangsa yang lain.Berdasarkan
perngertian yang demikian ini maka setiap bangsa didunia ini akan memiliki identitas sendiri-
sendiri sesuai dengan keunikan, siIat, cirri-ciri serta karakter dari bangsa tersebut.Berdasarkan
hakikat pengertian identitas nasional sebagai mana di jelaskan di atas maka identitas nasional
suatu Bangsa tidak dapat di pisahkan dengan jati diri suatu bangsa ataulebih populer disebut
dengan kepribadian suatu bangsa.
Bangsa pada hakikatnya adalah sekelompok besar manusia yang mempunyai persamaan
nasib dalam proses sejarahnya, sehingga mempunyai persamaan watak atau karakter yang kuat
untuk bersatu dan hidup bersama serta mendiami suatu wilayah tertentu sebagai suatu kesatuan
nasional.
Pegertian Identitas Nasaional adalah pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa,
IilsaIat pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling
tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk disini adalah tatanan hukum
yang berlaku di Indonesia, dalam arti lain juga sebagai Dasar Negara yang merupakan norma
peraturan yang harus dijnjung tinggi oleh semua warga Negara tanpa kecuali 'rule oI law, yang
mengatur mengenai hak dan kewajiban warga Negara, demokrasi serta hak asasi manusia yang
berkembang semakin dinamis di Indonesia.
Dalam penyusunan makalah ini digunakan untuk mengangkat tema dengan tujuan dapat
memmbantu mengatasi masalah tentang identitas nasional dan dapat di terapkan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
2

BAB II
LANDASAN TEORI

Identitas Nasional pada hakikatnya merupakan "maniIestasi nilai-nilai budaya yang
tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (bangsa) dengan ciri-ciri khas, dan
dengan ciri-ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hidup dan
kehidupannya".(Wibisono Koento : 2005)
Dasar negara yang merupakan keyakinan yang menyatukan bangsa Indonesia yang
beragam-ragam merupakan kesepakatan bersama yang menyatukan bangsa Indonesia. Oleh
sebab itu, dasar yang melandasi negara adalah merupakan identitas nasional. .
Namun demikian pada umumnya pengertian atau istilah kepribadian sebagai suatu
identitas adalah keseluruhan atau totalitas dari Iaktor-Iaktor biologis, psikologis dan sosiologis
yang mendasari tingkah laku individu. Tingkah laku tersebut terdidri atas kebiasaan,sikap, siIat-
siIat serta karakter yang berada pada seseorang sehingga seseorang tersebut berbeda dengan
orang yang lainnya.
Oleh karena itu kepribadian adalah tercermin pada keseluruhan tingkah laku seseorang
dalam hubungan dengan manusia lain (Ismaun, 1981: 6).
Identitas juga mencakup uraian mengenai integrasi. Sementara Integrasi Nasional itu
sendiri menurut MahIud M.D integrai nasional adalah pernyataan bagian-bagian yang berbeda
dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih untuh , secara sederhana
memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa
Menurut Robert de Ventos, dikutip Manuel Castelles dalam bukunya 'The Power oI
Identity (Suryo, 2002), munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi
historis ada 4 Iaktor penting


3

BAB III
PEMBAHASAN

3.1Pengertian Identitas Nasional
Identitas Nasional pada hakikatnya merupakan "maniIestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh
dan berkembang dalam aspek kehidupan suatu nation (bangsa) dengan ciri-ciri khas, dan dengan
ciri-ciri yang khas tadi suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain dalam hldup dan
kehidupannya". (Wibisono Koento : 2005) .
Kata identitas berasal dari bahasa Inggris identity yang memiliki pengertian harIiah ciri-
ciri, tanda-tanda, atau jati diri yang melekat pada seseorang atau sesuatu yang membedakannya
dengan yang lain. Dalam terminologi antropologi, identitas adalah siIat khas yang menerangkan
dan sesuai dengan kesadaran diri pribadi sendiri, golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas
sendiri, atau negara sendiri.
Mengacu pada pengertian ini identitas tidak terbatas pada individu semata, tetapi berlaku
pula pada suatu kelompok. Adapun kata nasional merupakan identitas yang melekat pada
kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik Iisik, seperti
budaya, agama, dan bahasa, maupun nonIisik, seperti keinginan, cita-cita, dan tujuan.
Himpunan kelompok-kelompok inilah yang disebut dengan istilah identitas bangsa atau
identitas nasional yang pada akhirnya melahirkan tindakan kelompok (colective action) yang
diwujudkan dalam bentuk organisasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut
nasional. Kata nasional sendiri tidak bisa dipisahkan dari kemunculan konsep nasionalisme. Bila
dilihat dalam konteks Indonesia maka Identitas Nasional itu merupakan maniIestasi nilai-nilai
budaya yang tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang
"dihimpun" dalam satu kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila
dan roh "Bhinneka Tunggal Ika" sebagai dasar dan arah pengembangannya.
Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa hakikat Identitas Nasional kita sebagai bangsa
di dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah Pancasila yang aktualisasinya
tercermin dalam penataan kehidupan dalam arti luas. Misalnya, dalam aturan perundang-
undangan atau hukum, sistem pemerintahan yang diharapkan, serta dalam nilai-nilai etik dan
4

moral yang secara normatiI diterapkan di dalam pergaulan, baik dalam tataran nasional maupun
internasional, dan sebagainya.
Nilai-nilai budaya yang tercermin di dalam Identitas Nasional tersebut bukanlah barang
jadi yang sudah selesai dalam kebekuan normatiI dan dogmatis, melainkan sesuatu yang
"terbuka" yang cenderung terus-menerus bersemi karena hasrat menuju kemajuan yang dimiliki
oleh masyarakat pendukungnya.
Konsekuensi dan implikasinya adalah bahwa Identitas Nasional adalah sesuatu yang
terbuka untuk ditaIsirkan dengan diberi makna baru agar tetap relevan dan Iungsional dalam
kondisi aktual yang berkembang dalam masyarakat.
Selain itu Identitas berarti ciri-ciri, siIat-siIat khas yang melekat pada suatu hal sehingga
menunjukkan suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain. Nasional berasal
dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan komunitas sosio-kultural
tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi bersama. Jadi, Identitas
Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau siIat-siIat khas bangsa Indonesia yang membedakannya
dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Identitas Nasional Indonesia meliputi segenap yang dimiliki bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geograIis, sumber kekayaan alam Indonesia,
demograIi atau kependudukan Indonesia, ideolgi dan agama, politik negara, ekonomi, dan
pertahanan keamanan.
Identitas nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat dengan wilayah dan selalu
memiliki wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah, sistim
hukum/perundang undangan, hak dan kewajiban serta pembagian kerja berdasarkan proIesi.
Demikian pula hal ini juga sangat ditentukan oleh proses bagaimana bangsa tersebut
terbentuk secara historis. Berdasarkan hakikat pengertian 'identitas nasional sebagaimana
dijelaskan di atas maka identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri
suatu bangsa atau lebih populer disebut sebagai kepribadian suatu bangsa.
Pengertian kepribadian suatu identitas sebenarnya pertama kali muncul dari pakar
psikologi. Manusia sebagai individu sulit dipahami jika terlepas dari manusia lainnya. Oleh
karena itu manusia dalam melakukan interaksi dengan individu lainnya senantiasa memiliki
3

suatu siIat kebiasaan, tingkah laku, serta karakter yang khas yang membedakan manusia tersebut
dengan manusia lainnya.
Namun demikian pada umumnya pengertian atau istilah kepribadian sebagai suatu
identitas adalah keseluruhan atau totalitas dari Iaktor-Iaktor biologis, psikologis dan sosiologis
yang mendasari tingkah laku individu. Tingkah laku tersebut terdidri atas kebiasaan,sikap, siIat-
siIat serta karakter yang berada pada seseorang sehingga seseorang tersebut berbeda dengan
orang yang lainnya. Oleh karena itu kepribadian adalah tercermin pada keseluruhan tingkah laku
seseorang dalam hubungan dengan manusia lain (Ismaun, 1981: 6)
Pegertian Identitas Nasaional adalah pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa,
IilsaIat pancasila dan juga sebagai Ideologi Negara sehingga mempunyai kedudukan paling
tinggi dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk disini adalah tatanan hukum
yang berlaku di Indonesia, dalam arti lain juga sebagai Dasar Negara yang merupakan norma
peraturan yang harus dijnjung tinggi oleh semua warga Negara tanpa kecuali 'rule oI law, yang
mengatur mengenai hak dan kewajiban warga Negara, demokrasi serta hak asasi manusia yang
berkembang semakin dinamis di Indonesia.
Identitas Nasional Indonesia :
1. Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia
2. Bendera negara yaitu Sang Merah Putih
3. Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya
4. Lambang Negara yaitu Pancasila
5. Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika
6. Dasar FalsaIah negara yaitu Pancasila
7. Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945
8. Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
9. Konsepsi Wawasan Nusantara
10. Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional.

Selama ini masyarakat Indonesia masih bingung dengan identitas bangsanya. Agar dapat
memahaminya, pertama-tama harus dipahami terlebih dulu arti Identitas Nasional Indonesia.
6

Identitas berarti ciri-ciri, siIat-siIat khas yang melekat pada suatu hal sehingga menunjukkan
suatu keunikkannya serta membedakannya dengan hal-hal lain.
Nasional berasal dari kata nasion yang memiliki arti bangsa, menunjukkan kesatuan
komunitas sosio-kultural tertentu yang memiliki semangat, cita-cita, tujuan serta ideologi
bersama. Jadi, yang dimaksud dengan Identitas Nasional Indonesia adalah ciri-ciri atau siIat-siIat
khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Uraiannya mencakup :
1.identitas manusia
Manusia merupakan makhluk yang multidimensional, paradoksal dan monopluralistik.
Keadaan manusia yang multidimensional, paradoksal dan sekaligus monopluralistik tersebut
akan mempengaruhi eksistensinya. Eksistensi manusia selain dipengaruhi keadaan tersebut juga
dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya atau pedoman hidupnya. Pada akhirnya yang
menentukan identitas manusia baik secara individu maupun kolektiI adalah perpaduan antara
keunikan-keunikan yang ada pada dirinya dengan implementasi nilai-nilai yang dianutnya.
2.identitas nasional
Identitas nasional Indonesia bersiIat pluralistik (ada keanekaragaman) baik menyangkut
sosiokultural atau religiositas. - Identitas Iundamental/ ideal Pancasila yang merupakan
IalsaIah bangsa.- Identitas instrumental identitas sebagai alat untuk menciptakan Indonesia
yang dicita-citakan. Alatnya berupa UUD 1945, lambang negara, bahasa Indonesia, dan lagu
kebangsaan.- Identitas religiusitas Indonesia pluralistik dalam agama dan kepercayaan.-
Identitas sosiokultural Indonesia pluralistik dalam suku dan budaya.- Identitas alamiah
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia.
3.Nasionalisme Indonesia
Nasionalime merupakan situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total
diabdikan langsung kepada negara bangsa. Nasionalisme sangat eIektiI sebagai alat merebut
kemerdekaan dari kolonial. Nasionalisme menurut Soekarno adalah bukan yang berwatak
chauvinisme, bersiIat toleran, bercorak ketimuran, hendaknya dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila.
4. Integrasi Nasional
Menurut MahIud M.D integrasi nasional adalah pernyataan bagian-bagian yang berbeda
dari suatu masayarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih untuh , secara sederhana
7

memadukan masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Untuk
mewujudkan integrasi nasional diperlukan keadilan, kebijaksanaan yang diterapkan oleh
pemerintah dengan tidak membersakan SAR. Ini perlu dikembangkan karena pada hakekatnya
integrasi nasional menunjukkan tingkat kuatnya kesatuan dan persatuan bangsa.
Kesimpulan Identitas Nasional Indonesia adalah siIat-siIat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai
yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda.
Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan diselaraskan dalam Pancasila. Nilai-
nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi identitas bangsa. Oleh sebab itu,
nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk ditekankan pada diri setiap warga
Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas.

3.2Sumber Identitas Nasional Bangsa Indonesia
1. Dasar-dasar negara
Dasar negara yang merupakan keyakinan yang menyatukan bangsa Indonesia yang
beragam-ragam merupakan kesepakatan bersama yang menyatukan bangsa Indonesia. Oleh
sebab itu, dasar yang melandasi negara adalah merupakan identitas nasional.
Indonesia sebagai negara yang berdaulat memiliki landasan Iundamental yaitu Pancasila
yang merupakan tujuan, dan pedoman dalam berbangsa dan bertanah air di Indonesia, serta kunci
dasar pemersatu bangsa Indonesia. Landasan Iundamental ini merupakan nilai-nilai dasar
kehidupan bagi bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
lndonesla merupakan negara demokrasl yang dalam pemerlnLahannya menganuL slsLem
presldenslll dan ancaslla lnl merupakan [lwa darl demokrasl uemokrasl yang dldasarkan aLas llma
dasar LersebuL dlnamakan uemokrasl ancaslla uasar negara lnl dlnyaLakan oleh reslden Soekarno
(reslden lndonesla yang perLama) dalam roklamasl kemerdekaan negara 8epubllk lndonesla pada
Langgal 17 AgusLus 1943

3.3 Unsur - Unsur Identitas Nasional


Identitas Nasional Indonesia merujuk pada suatu bangsa yang majemuk. Ke-majemukan
itu merupakan gabungan dari unsur-unsur pembentuk identitas, yaitu suku bangsa, agama,
kebudayaan, dan bahasa.
Suku Bangsa: adalah golongan sosial yang khusus yang bersiIat askriptiI (ada sejak lahir), yang
sama coraknya dengan golongan umur dan jenis kelamin. Di Indonesia terdapat banyak sekali
suku bangsa atau kclompok etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa.

Agama: bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama-agama yang
tumbuh dan berkembang di Nusantara adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan
Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu pada masa Orde Baru tidak diakui sebagai agama resmi
negara, tetapi sejak pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, istilah agama resmi negara
dihapuskan.

Kebudayaan: adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah
perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang secara kolektiI digunakan oleh
pendukung-pendukungnya untuk menaIsirkan dan memahami lingkungan yang dihadapi dan
digunakan sebagai rujukan atau pedoman untuk bertindak (dalam bentuk kelakuan dan benda-
benda kebudayaan) sesuai dengan lingkungan yang dihadapi.

Bahasa: merupakan unsur pendukung identitas nasional yang lain. Bahasa dipahami sebagai
sistem perlambang yang secara arbitrer dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan
yang digunakan sebagai sarana berinteraksi antar manusia.
Ungkapan nilai-nilai budaya suatu bangsa yang bersiIat khas yang membedakannya dari
bangsa yang lain
Unsur yang terkandung dalam identitas nasional
- Pola perilaku
- Lambang-lambang
- Alat-alat perlengkapan
- Tujuan yang ingin dicapai
Unsur pembentuk identitas nasional
9

- Sejarah
- Kebudayaan
- Suku bangsa
- Agama
- Bahasa
Dari unsur-unsur identitas Nasional tersebut dapat dirumuskan pembagiannya menjadi 3
bagian sebagai berikut
1) Identitas Fundamental, yaitu Pancasila yang merupakan FalsaIah Bangsa, Dasar Negara, dan
ldeologi Negara.
2) Identitas Instrumental, yang berisi UUD 1945 dan Tata Perundangannya, Bahasa Indonesia,
Lambang Negara, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya".
3) Identitas Alamiah yang meliputi Negara Kepulauan (archipelago) dan pluralisme dalam suku,
bahasa, budaya, serta agama dan kepercayaan (agama).

3.4 Keterkaitan Globalisasi dengan Identitas Nasional
lobalisasi diartikan sebagai suatu era atau zaman yang ditandai dengan perubahan
tatanan kehidupan dunia akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi
inIormasi sehingga interaksi manusia nienjadi sempit, serta seolah-olah dunia tanpa ruang. Era
lobalisasi dapat berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
Era lobalisasi tersebut mau tidak mau, suka tidak suka telah datang dan menggeser
nilai-nilai yang telah ada. Nilai-nilai tersebut, ada yang bersiIat positiI ada pula yang bersiIat
negatiI. Semua ini merupakan ancaman, tantangan, dan sekaligus sebagai peluang bagi bangsa
Indonesia untuk berkreasi dan berinovasi di segala aspek kehidupan.
Di era globalisasi, pergaulan antarbangsa semakin ketat. Batas antarnegara hampir tidak
ada artinya, batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang. Di dalam pergaulan antarbangsa yang
semakin kental itu, akan terjadi proses akulturasi, saling meniru, dan saling mempengaruhi di
antara budaya masing-masing. Adapun yang perlu dicermati dari proses akulturasi tersebut,
apakah dapat melunturkan tata nilai yang merupakan jati diri bangsa Indonesia?

10

Lunturnya tata nilai tersebut biasanya ditandai oleh dua Iaktor, yaitu:
1) semakin menonjolnya sikap individualistis, yaitu mengutamakan kepentingan pribadi di atas
kepentingan umum, hal ini bertentangan dengan asas gotong-royong; serta
2) semakin menonjolnya sikap materialistis, yang berarti harkat dan martabat kemanusiaan hanya
diukur dari hasil atau keberhasilan seseorang dalam memperoleh kekayaan. Hal ini bisa
berakibat bagaimana cara memperolehnya menjadi tidak dipersoalkan lagi.
Apabila hal ini terjadi, berarti etika dan moral telah dikesampingkan.
Arus inIormasi yang semakin pesat mengakibatkan akses masyarakat terhadap nilai-nilai asing
yang negatiI semakin besar. Apabila proses ini tidak segera dibendung, akan berakibat lebih
sering ketika pada puncaknya masyarakat tidak bangga lagi pada bangsa dan negaranya.
Pengaruh negatiI akibat proses akulturasi tersebut dapat merongrong nilai-nilai yang telah ada di
dalam masyarakat.
Jika semua ini tidak dapat dibendung, akan mengganggu ketahanan di segala aspek
kehidupan, bahkan akan mengarah pada kredibilitas sebuah ideologi. Untuk membendung arus
globalisasi yang sangat deras tersebut, harus diupayakan suatu kondisi (konsepsi) agar ketahanan
nasional dapat terjaga, yaitu dengan cara membangun sebuah konsep nasionalisme kebangsaan
yang mengarah kepada konsep Identitas Nasional.
Dengan adanya globalisasi, intensitas hubungan masyarakat antara satu negara dengan
negara yang lain menjadi semakin tinggi. Dengan demikian, kecenderungan munculnya
kejahatan yang bersiIat transnasional semakin sering terjadi. Kejahatan-kejahatan tersebut, antara
lain terkait dengan masalah narkotika, pencucian uang (money laundring), peredaran dokumen
keimigrasian palsu, dan terorisme.
Masalah-masalah tersebut berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya bangsa yang selama
ini dijunjung tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan semakin merajalelanya peredaran narkotika dan
psikotropika sehingga sangat merusak kepribadian dan moral bangsa, khususnya bagi generasi
penerus bangsa. Jika hal tersebut tidak dapat dibendung, akan mengganggu terhadap ketahanan
nasional di segala aspek kehidupan, bahkan akan menyebabkan lunturnya nilai-nilai Identitas
Nasional.


11


12

13

enomena globalisasi
Menggugah kesadaran nasional untuk mempertegas identitas diri sebagai suatu bangsa
Globalisasi
Perubahan sosial dalam bentuk semakin bertambahnya keterkaitan masyarakat dengan
Iaktor-Iaktor yang terjadi akibat timbulnya transkulturasi dan perkembangan teknologi modern
lobalisasi sering diidentikkan dengan internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi,
westernisasi, deteritorialisasi
Nasionalisme
1. Paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri
2. Kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-
sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan
identitas,integritas,kemakmuran,dan kekuatan bangsa itu,yakni semangat kebangsaan
Identitas nasional yang berbasis pada masyarakat multikultur sangat relevan bagi
penegasan kembali identitas nasional bangsa indonesia yang inklusiI dan toleran dengan tetap
mengakar pada identitasnya yang majemuk sebagaimana tereIleksi dalam konsep dasar negara
pancasila
Multikulturalisme
Pada intinya adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai kesatuan tanpa
memperdulikan perbedaan budaya,etnik,gender bahasa maupun agama
Multikulturalisme diantara nasionalisme dan globalisasi
Tahapannya:
1. Tumbuhnya perasaan kebangsaan dan perasaan senasib yang diikuti dengan perlawanan
terhadap penjajahan
2. Bentuk nasionalisme indonesia yang merupakan kelanjutan dari semangat revolusioner pada
masa perjuangan kemerdekaan
3. Nasionalisme persatuan dan kesatuan(dalam makna lain)
4. Nasionalisme kosmopolitan
Konsep masyarakat multikultur tampaknya masih relevan dengan konsep dasar negara pancasila
Pancasila
14

- Pencapaian demokrasi paling penting yang dihasilkan para pendiri bangsa (Iounding
Iathers)
- Sebuah konsensus nasional bangsa indonesia yang majemuk
- Merupakan bingkai kemajemukan indonesia
- Merupakan simbol persatuan dan kesatuan indonesia dimana nilai-nilai dan pandangan
ideologi terpaut dalam sebuah titik pertemuan yang menjadi landasan bersama dalam
kehidupan sebagai sebuah bangsa
Faktor yang membuat pancasila tidak relevan saat ini
- Pancasila terlanjur tercemar karena pernah dijadikan sebagai alat politik untuk
mempertahankan status quo kekuasaan
- Liberalisasi politik dengan penghapusan ketentuan pancasila sebagai satu-satunya asas
organisasi mengakibatkan pancasila tidak lagi menjadi common platIorm dalam
kehidupan politik
- Desentralisasi dan otonomi daerah sedikit banyak mendorong penguatan sentimen
kedaerahan
Mempertimbangkan posisi krusial pancasila,perlu dilakukan
- Revitalisasi makna,peran dan posisi pancasila bagi masa depan indonesia sebagai
negara modern
- Rehabilitasi dan rejuvenasi pancasila
- Rejuvenasi dapat dilakukan dengan menjadikan pancasila sebagai wacana publik
sekaligus penilaian kembali atas pemaknaan pancasila selama ini untuk kemudian
menghasilkan pemaknaan dan pemikiran baru

3.5 Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Bangsa
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional,
Bahasa Indonesia (selanjutnya disingkat BI) berIungsi sebagai
(1) lambang kebanggaan nasional,
(2) lambang identitas nasional,
(3) pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya bahasa
13

(4) alat perhubungan antarbudaya dan antardaerah (Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa, 1975:5). Beriringan dengan pesatnya perkembangan BI sebagai lambang
identitas nasional,
Teraktualisasikan pula perkembangan bahasa daerah (selanjutnya disingkat BD) sebagai
lambang identitas daerah yang keberadaannya diakui di dalam UUD 1945 yang secara
bersamaan dengan BI menghadapi arus globalisasi.
Identitas Bangsa Sosok yang menunjukkan bahwa dia adalah Indonesia, baik sebagai
negara maupun sebagai bangsa, berwujud dalam dua kenyataan, yakni BI yang menampakkan
diri sebagai identitas Ionik dan merah putih serta aruda Pancasila sebagai wujud Iisik.
Pengaruh arus globalisasi dalam identitas bangsa itu tecermin, antara lain, dari sikap lebih
mengutamakan penggunaan bahasa asing (disingkat BA) daripada penggunaan BI, misalnya
dalam penamaan kompleks perumahan, dan sikap mementingkan kegiatan tertentu, misalnya
demi kegiatan pengembangan pariwisata dan bisnis. Pengaruh Muatan Lokal sebagai
Upaya Penangkal Arus lobalisasi Berdasarkan Petunjuk Penerangan Muatan Lokal
(Depdikbud, 1987), yang dimaksud muatan lokal adalah program pendidikan yang isi dan media
penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan budaya, dan
kebutuhan daerah yang perlu dipelajari oleh murid. Tantangan itu dapat dilihat dari kenyataan BI
itu sendiri, dan yang satu dari pemilik dan penutur BI sendiri.
Tantangan yang datang dari pemilik dan penutur BI sebenarnya bersumber dari sikap,
kesadaran berbahasa yang kemudian tecermin dalam perilaku berbahasa (lihat Fishman,
1975:24-28, Pateda, 1990: 25-32). Terhadap ujaran sulitnya mendapatkan padanan istilah yang
berkaitan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebenarnya Pusat Bahasa bekerja sama
dengan para pakar dalam disiplin ilmu tertentu telah mengupayakan menerbitkan kamus, antara
lain Kamus Istilah Teknik Perkapalan (Soegiono dkk, 1985), Kamus Istilah Politik (Muhaimin
dkk, 1985), Kamus Istilah Teknologi Mineral (Soetjipto dkk, 1985), tetapi barangkali tidak luas,
maka tuduhan di atas muncul.
Persoalan krisis jati diri yang berpangkal dari pandangan bahwa manusia sebagai
substansi, dan sebagai makhluk yang beridentitas yang kemudian dikaitkan dengan pembinaan
dan pengembangan BI sebagai upaya mempertahankan identitas bangsa, maka pengajaran
16

kebangsaan sebaiknya dipertimbangkan untuk diberikan dalam lembaga pendidikan kita. Dewasa
ini substansi jiwa kebangsaan seolah-olah ditempelkan pada mata pelajaran PMP dan PSPB.
Selain itu, penggunaan kata-kata, daripada, yang mana, di mana, saudara-saudara
sekalian, dianggap bukan sesuatu yang salah oleh para oknum petinggi di negara kita ini. Dengan
kata lain, terdapat kontroversi antara norma bahasa yang dikumandangkan oleh Pusat Bahasa dan
kenyataan di lapangan.
Didalam kedududukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berIungsi sebagai :
1. Sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa Indonesia dipakai dalam segala acara,
peristiwa, dan kegiatan kenegaraan, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis.
2. Sebagai Iungsinya yang kedua, didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara,
bahasa Indonesia merupakan bahasa penganntar di lembaga-lembaga pendidikan.
3. Sebagai Iungsinya yang ketiga, didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara,
bahasa Indonesia adalah alat perhubungan pada tingkat nasional untuk
kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional untuk
pelaksanaan pemerintah.
4. Akhirnya, didalam kkedudukannya sebagai bahasa Negara bahasa Indonesia
berIungsi sebagai alat perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan
teknologi.

3.6 Pancasila Sebagai Ideologi Persatuan
Salah satu peranan pancasila yang menonjol sejak permulaan penyelenggaran Negara
Republik Indonesia adalah Iungsinya Dallam mempersatukan seluruh rakyat Indonesia menjadi
bangsa yang berkepribadian dan percaya diri sendiri pada diri sendiri.
Seperti yang kita ketahui, kondisi masyarakat sejak permulaan hidup kenegaraan adalah
serba mafemuk. Masyarakat Indonesia bersiIat multi etnis, multi religius, multi ideologis.
Kemajemukan tersebut menunjukkan adanya berbagai unsure yang saling berinteraksi.
Oleh karena itu, proses hubungan sosial perlu diusahakan agar berjalan secara
sentripental, agar terjadi apa yang menjadi popular dalam tahun-tahun pertama perjuangan.
Penampilan pancasila sebagai ideology persatuan telah menunjukkan relevansi dan
kekuatannya dalam dua dasawarsa sejak permulaan kehidupan Serta penyelenggaraan Negara RI.
17

Pancasila merupakan 18a1at potk. Rakyat Indonesia telah dibangun dengan kesadaran yang
kuat sebagi bangsa yang memiliki identitas nasional dan hidup bersatu dalam jiwa nasionalisme
dan patrionisme. Namun terlihat adanya kelemahan dalam persepsi dalam periode tersebut.
Pancasila adalah merupakan maniIestasi dari kepribadian bangsa Indonesia. Pancasila
sebagai dasar yang statis, dasar yang Iundamental, dimana di atasnya kita dirikan Negara
Republik Indonesia yang kekal dan abadi. Di atas dasar ini kita dapat menyatukan segenap
unsur-unsur dari bangsa Indonesia. Tetapi pancasila tidak saja merupakan dasar yang statis tetapi
juga merupakan tuntunan yang dinamis. Pancasila tidak saja merupakan dasar dari Negara, tetapi
merupakan jiwa dan pandangan hidup dari bangsa itu sendiri.
Pancasila berIungsi sebagai ikatan yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia, di mana
pancasila dapat menjamin hak hidup secara layak bagi semua warga Negara, semua golongan
tanpa ada perbedaan
Dalam setiap sila yang terdapat di dalam pancasila itu mengandung unsur bersatu,
mewujudkan suatu kerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Setiap sila akan merupakan tali
pengikat antara sesama warga, antar sesama golangan, baik golongan agama ataupun suku
bangsa.
Identitas Nasional merupakan maniIestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan
berkembang dalam berbagai aspek kehidupan dari ratusan suku yang "dihimpun" dalam satu
kesatuan Indonesia menjadi kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila dan roh "Bhinneka
Tunggal Ika" sebagai dasar dan arah pengembangannya. Unsur-unsur pembentuk Identitas
Nasional adalah Suku bangsa, Agama, Kebudayaan, dan bahasa.

3.7 aktor-aktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional
1. Faktor-Iaktor yang mendukung kelahiran identitas nasional bangsa Indonesia meliputi:
Faktor ObjektiI, yang meliputi Iaktor geograIis-ekologis dan demograIis
Faktor SubjektiI, yaitu Iaktor historis, social, politik, dan kebudayaan yang dimiliki bangsa
Indonesia (Suryo, 2002)
2. Menurut Robert de Ventos, dikutip Manuel Castelles dalam bukunya 'The Power oI Identity
(Suryo, 2002), munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi historis ada 4
Iaktor penting, yaitu:
1


Faktor primer, mencakup etnisitas, territorial, bahasa, agama, dan yang sejenisnya.
Faktor pendorong, meliputi pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan
bersenjata modern dan pembanguanan lainnya dalam kehidupan bernegara.
Faktor penarik, mencakup modiIikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya
birokrasi, dan pemantapan sistem pendidikan nasional
Faktor reaktiI, pada dasarnya tercakup dalam proses pembentukan identitas nasional
bangsa Indonesia yang telah berkembang dari masa sebelum bangsa Indonesia mencapai
kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.

Faktor pembentukan Identitas Bersama. Proses pembentukan bangsa- negara
membutuhkan identitas-identitas untuk menyataukan masyarakat bangsa yang bersangkutan.
Faktor-Iaktor yang diperkirakan menjadi identitas bersama suatu bangsa, yaitu :
Primordial
Sakral
Tokoh
Bhinneka Tunggal Ika
Sejarah
Perkembangan Ekonomi
Kelembagaan

3.8 aktor-faktor penting bagi pembentukan bangsa Indonesia sebagai berikut
1. Adanya persamaan nasib , yaitu penderitaan bersama dibawah penjajahan bangsa asing lebih
kurang selama 350 tahun
2. Adanya keinginan bersama untuk merdeka , melepaskan diri dari belenggu penjajahan
3. Adanya kesatuan tempat tinggal , yaitu wilayah nusantara yang membentang dari Sabang
sampai Merauke
4. Adanya cita-cita bersama untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sebagai suatu bangsa
Cita- Cita, Tujuan dan Visi Negara Indonesia.
Bangsa Indonesia bercita-cita mewujudkan negara yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
19

Dengan rumusan singkat, negara Indonesia bercita-cita mewujudkan masyarakat Indonesia yang
adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hal ini sesuai dengan amanat dalam
Alenia II Pembukaan UUD 1945 yaitu negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat adil
dan makmur.
Tujuan Negara Indonesia selanjutnya terjabar dalam alenia IV Pembukaan UUD 1945. Secara
rinci sbagai berikut :
1. Melindungi seganap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia
2. Memajukan kesejahteraan umum
3. Mencerdaskan Kehidupan bangsa
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan , perdamaian abadi, dan
keadilan sosial

Adapun visi bangsa Indonesia adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai ,
demokratis, berkeadilan, berdaya saing, maju dan sejahtera, dalam wadah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman,
bertakwa dan berahklak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, mengausai
ilmu pengetahuandan teknologi, serta memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin. Setelah
tidak adanya BHN makan berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka mengenah (RPJM)
Nasional 2004-2009, disebutkan bahwa Visi pembangunan nasional adalah :

1. Terwujudnya kehidupan masyarakat , bangsa dan negara yang aman, bersatu, rukun dan
damai.
2. Terwujudnya masyarakat , bangsa dan negara yang menjujung tinggi hukum, kesetaraan, dan
hak asasi manusia.
3. Terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan
yang layak serta memberikan Iondasi yang kokoh bagi pembangunan yang berkelanjutan.

3.9 Konsep Nasionalisme Indonesia
Dalam perkembangan peradaban manusia, interaksi sesama manusia berubah menjadi
bentuk yang lebih kompleks dan rumit. Dimulai dari tumbuhnya kesadaran untuk menentukan
20

nasib sendiri di kalangan bangsa-bangsa yang tertindas kolonialisme dunia (seperti Indonesia
salah satunya), hingga melahirkan semangat untuk mandiri dan bebas menentukan masa
depannya sendiri.
Nasionalisme sendiri dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan
seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa.
Nasionalisme terbukti sangat eIektiI sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari
cengkeraman kolonial.
Dalam situasi perjuangan merebut kemerdekaan, dibutuhkan suatu konsep sebagai dasar
pembenaran rasional dari tuntutan terhadap penentuan nasib sendiri yang dapat mengikat
keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa.Dasar pembenaran tersebut kemudian
mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme.
Dari sanalah kemudian lahir konsep-konsep turunannya, seperti :
O Bangsa (3ato3)
O Negara (8tate)
O Negara-bangsa (3ato3 8tate)
Ketiganya merupakan komponen-komponen yang membentuk identitas nasional atau
kebangsaan. Para pengikut nasionalisme berkeyakinan bahwa persamaan cita-cita yang mereka
miliki dapat diwujudkan dalam sebuah identitas atau kepentingan bersama dalam bentuk sebuah
wadah yang disebut bangsa (3ato3). Dengan demikian bangsa merupakan suatu wadah atau
badan yang didalamnya terhimpun orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan
persamaan lain yang mereka miliki seperti ras, etnis, agama, bahasa dan budaya.
Unsur persamaan yang mereka miliki dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama atau
untuk menentukan tujuan bersama. Tujuan bersama ini direalisasikan dalam bentuk sebuah
organisasi politik yang dibangun berdasarkan geopolotik yang terdiri atas populasi, geograIis,
dan pemerintahan yang permanen yang disebut negara atau state.
abungan dari dua ide tentang bangsa (3ato3) dan negara (8tate) tersebut mewujud dalam
sebuah konsep tentang negara bangsa atau dikenal dengan 3ato38tate dengan pengertian yang
lebih luas dari sekedar sebuah negara. Yakni sebuah bangsa yang memiliki bangunan politik
(pot.a bu/3) seperti ketentuen-ketentuan perbatasan teritorial, pemerintahan yang sah,
pengakuan luar negeri dan sebagainya.
21


3.9.1 Sejarah Nasionalisme di Indonesia
Tumbuhnya paham nasionalisme atau paham kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari
situasi sosial politik dekade pertama abad ke-20. Saat itu semangat menentang kolonialisme
Belanda mulai bermunculan di kalangan pribumi. Cita-cita bersama untuk merebut kemerdekaan
menjadi semangat umum di kalangan tokoh-tokoh pergerakan nasional untuk memIormulasikan
bentuk nasionalisme yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Tokoh pergerakan
nasional sepakat tentang perlunya suatu konsep nasionalisme Indonesia merdeka, tapi mereka
berbeda dalam persoalan nilai atau watak nasionalisme Indonesia. Hal yang patut disayangkan
karena perdebatan panjang diantara mereka tentang paham kebangsaan itu berakhir pada saling
curiga dan sulit dipertemukan.
Secara garis besar terdapat tiga pemikiran besar tentang watak nasionalisme Indonesia yang
terjadi pada masa sebelum kemerdekaan yakni paham ke-islaman, Marxisme dan Nasionalisme
Indonesia. Para analis nasionalisme beranggapan bahwa Islam memegang peran sangat penting
dalam pembentukan nasionalisme ini.Seperti yang diungkapkan oleh eorge Mc. Turnan bahwa
Islam bukan saja merupakan mata rantai yang mengikat tali persatuan melainkan juga merupakan
simbol persamaan nasib (3 roup) menentang penjajahan asng dan penindas yang berasal dari
agama lain. Ikatan universal Islam dalam aksi kolektiInya diwakili oleh gerakan politik yang
dilakukan oleh Sarekat Islam (SI) yang dipimpin oleh H. Samanhoedi di Solo pada 1911 dan
mengalami pasang surut pada pengujung 1920-an
Paham marxisme pada mulanya berkembang diluar gerakan-gerakan kebangsaan pribumi
yakni Partai Nasional Hindia Belanda yang merupakan organisasi politik Eropa-indonesia yang
lahir pada tahun 1912 yang menyerukan kesetaraan ras, keadilan sosial-ekonomi dan
kemerdekaan yang didasarkan pada kerjasama Eropa-Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya, Soekarno mendirikan partai politik yang mengembangkan
paham ideologi politik yang berbeda dari ideologi pergerakan sebelumnya.Organisasi tersebut
didirikan pada tahun 1927 dengan nama Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan tujuan
menyempurnakan kemerdekaan Indonesia seperti partai lainnya. agasan dan semangat
nasionalisme PNI mendapatkan respon dan dukungan luas dari kalangan ntelektual muda didikan
barat lainnya seperti Syahrir dan Mohammad Hatta. Konsep nasionalisme Soekarno mendapat
22

kritikan dar kalangan Islam yang mengkhawatirkan Iaham nasionalisme Soekarno dapat
berkembang menjadi sikap Ianatisme buta (ashabiyah) kepada tanah air. Soekarno membantah
tuduhan kalangan Islam terhadap gagasan nasionalismenya. Dia juga meyakinkan pihak-pihak
yang berseberangan pandangan bahwa kelompok nasional dapat bekerja sam adengan kelompok
manaun baik golongan Islam maupun Marxis.

3.9.2 Unsur Pembentuk Nasionalisme
Unsur pembentuk nasionalisme adalah dengan memahami dan menghayati akar-akar
pembentuk identitas nasional sendiri yang jumlahnya ada 5, yaitu :
O Sejarah
Pemahaman dari catatan sejarah, sebelum menjadi sebuah negara bangsa Indonesia pernah
mengalami masa kejayaan yang gemilang. Majapahit dan Sriwijaya adalah 2 kerajaan yang
dikenal sebagai pusat-pusat kerajaan Nusantara. Kebesaran 2 kerajaan Nusantra telah membekas
pada semangat perjuangan bangsa Indonesia masa berikutnya.
O ebudayaan
Memahami dan menelaah unsur pembentuk identitas nasional dari segi budaya juga
merupakan salah satu unsur pembentuk nasionalisme. Diantaranya akal budi, peradaban, dan
pengetahuan. Yakni sikap ramah dan sopan santun kepada sesama, dasar negara Pancasila
sebagai nilai-nilai bersama bangsa Indonesia, dan keandalan bangsa Indonesia dalam pembuatan
kapal Pinisi di masa lalu.

O Suku bangsa
O gama
O ahasa

3.9.3 Konsep Pluralisme dan Wawasan Kebangsaan di Indonesia
Kata pluralisme berasal dari kata ' pura ' yang berarti banyak, beragam, dan jamak .
Sesuai dengan namanya indonesia terbentuk dari berbagai suku bangsa yang memiliki berbagai
kebudayaan yang berbeda-beda, agama yang beda dan bahasa yang berbeda pula disatukan
23

dalam suatu idealisme yang sama yaitu untuk memakmurkan hidup bersama di negara indonesia
yang tercinta ini .
Untuk mewujudkan suatu idealisme dalam negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku
bangsa seperti suku bangsa Indonesia, Eropa, Arab, Tionghoa, India dan masih banyak lagi,
maka mutlak di butuhkan suatu konsep pluralisme agar tidak memihak pada suatu golongan saja.
Konsep pluralisme tersebut antara lain :
O Bhineka Tunggal Ika
O Undang-Undang Dasar
O Lembaga-Lembaga Konsitusi
Dengan dibentuknya konsep pluralisme tersebut . Bisa menurunkan rasa ego masing-
masing suku bangsa, sehingga apa yang kita cita-citakan bersama akan terwujud .

3.9.4 Konsep Integrasi Nasional
Di Indonesia istilah integrasi masih sering disamakan dengan istilah pembauran atau
asimilasi. Padahal kedua istlah tersebut memiliki perbedaan. Integrasi diartikan dengan integrasi
kebudayaan, integrasi sosial, dan pluralisme sosial. Sementara pembauran dapat berarti asimilasi
dan amalganasi.
Integrasi sosial adalah penyatupaduan dari kelompok-kelompok masyarakat yang asalnya
berbeda, menjadi suatu kelompok besar dengan cara melenyapkan perbedaan dan jati diri
masing-masing. Dalam arti ini, integrasi sosial sama artinya dengan asimilasi atau pembauran.
Pluralisme kebudayaan adalah pendekatan heterogenis atau kebhennekaan kebudayaan,
dengan kebudayaan suku-suku bangsa dan kelompok-kelompok minoritas diperkenankan
mempertahankan jatidiri mereka masing-masing dalam suatu masyarakat
Sementara yang dimaksud dengan Integrasi Nasional adalah penyatuan bagian-bagian yang
berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan
masyarakat-masyarakat kecil yang banyak jumlahnya menjadi suatu bangsa. Selain itu dapat pula
diartikan bahwa integrasi bangsa merupakan kemampuan pemerintah yang semakin meningkat
untuk menerapkan kekuasaannya di seluruh wilayah
Masalah integrasi nasional di Indonesia sangat kompleks dan multidimensional. Untuk
mewujudkannya diperlukan keadilan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dengan tidak
24

membedakan ras, suku, agama, bahasa dan sebagainya. Dengan demikian upaya integrasi
nasional dengan strategi yang mantap perlu terus dilakukan agar terwujud integrasi bangsa
Indonesia yang diinginkan.






23

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Identitas Nasional adalah sebuah kesatuan yang terikat oleh wilayah dan selalu memiliki
wilayah (tanah tumpah darah mereka sendiri), kesamaan sejarah system hokum/perundang
undangan, hak dan kewaiban serta pembagian kerja berdasarkan proIesi.
Pancasila berIungsi sebagai ikatan yang dapat mempersatukan bangsa Indonesia, di mana
pancasila dapat menjamin hak hidup secara layak bagi semua warga Negara, semua golongan
tanpa ada perbedaan
Dalam setiap sila yang terdapat di dalam pancasila itu mengandung unsur bersatu,
mewujudkan suatu kerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Setiap sila akan merupakan tali
pengikat antara sesame warga, antar sesama golangan, baik golongan agama ataupun suku
bangsa.
Kesimpulan Identitas Nasional Indonesia adalah siIat-siIat khas bangsa Indonesia yang
membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam
suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan. Oleh karena itu, nilai-nilai
yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda.


B. SARAN
Semoga pengetahuan tentang identitas nasional sebagai alat pemersatu bangsa indonesia
yang terdapat pada makalah ini bisa menanambah pemahaman mengenai identitas nasional. Dan
semoga identitas nasional ini tidak hilang walau tergerus kemajuan teknologi dan globalisasi.


26

DATAR PUSTAKA

Abdullah, Rozali SH.!a3.a8a 8ebaa Da8ar Neara /a3 !a3/a3a3 H/up Ba38a,akarta
Rajawali oIIset, 1993
Hidayat, Komaruddin. !e3//ka3 Kewaraa3, Jakarta:ICCE.
Kaelan , Zubaidi.2007.!e3//ka3 Kewara3earaa3.Yogyakarta:Paradigma, Edisi pertama
MahIud MD, Moh. Demokra8 Ko38ttu8 / I3/o3e8a, Yogyakarta:Liberty, 1993.
www.geocities.com/apber3aktua/e3tta80600.html
27


IDENTITAS NASIONAL SEBAGAI ALAT PEMERSATU
BANGSA INDONESIA





Disusun Oleh

Nama : Rahmalia
Nim /kelas : 2010112233/2F
Dosen Pengasuh : Sri Husnulwati, SH
Mata kuliah : Pendidikan Kewarganegaraan
Program Studi : Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia



AKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2010/2011
2


KATA PENGANTAR


Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
'Identitas Nasional Sebagai Alat pemersatu Bangsa pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas PRI Palembang.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, dikarenakan keterbatasan
pengetahuan serta wawasan yang saya miliki. Oleh karena itu, bimbingan, saran serta petunjuk
dari semua pihak sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanIaat bagi kita semua serta dunia pendidikan pada umumnya.





Palembang, Mei 2011


Penulis,


l
29


DATAR ISI


KATA PENANTAR .................................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
Latar Belakang ................................................................................................ 1
BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................................... 2
BAB III PEMBAHASAN ............................................................................................ 3
3.1 Pengertian Identitas Nasional ................................................................. 3
3.2 Sumber Identitas Nasional Bangsa Indonesia ........................................ 7
3.3 Unsur - Unsur Identitas Nasional ........................................................... 7
3.4 Keterkaitan lobalisasi dengan Identitas Nasional ................................. 9
3.5 Bahasa Indonesia sebagai Alat Pemersatu Bangsa .................................. 12
3.6 Pancasila Sebagai Ideologi Persatuan ..................................................... 14
3.7 Faktor-Faktor Pendukung Kelahiran Identitas Nasional .......................... 15
3.8 Faktor-Iaktor penting bagi pembentukan bangsa Indonesia ................... 16
3.9 Konsep Nasionalisme Indonesia ............................................................. 17
3.9.1 Sejarah Nasionalisme di Indonesia .............................................. 18
3.9.2 Unsur Pembentuk Nasionalisme .................................................. 20
3.9.3 Konsep Pluralisme dan Wawasan Kebangsaan di Indonesia ........ 20
3.9.4 Konsep Integrasi Nasional ........................................................... 21
BAB IV PENUTUP ...................................................................................................... 23
A. KESIMPULAN ........................................................................................ 23
B. SARAN ................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 24

ll