Anda di halaman 1dari 4

Ketika Demokrasi Gagal Bersemi

Terlepas dari berbagai kelemahan yang menghinggapinya, secara umum banyak pihak menilai pemilu legislatif yang baru lalu berlangsung relatif demokratis. Memang, jika ditilik dari usia rezim pascaotoriter yang baru sekitar enam tahun, penyelenggaraan pemilu lalu cukup menjanjikan. Setidaknya apabila kita mencoba membandingkan dengan pemilu presiden di Filipina yang diselenggarakan pada saat hampir bersamaan telah memakan korban sekitar 20 orang meninggal. Padahal, Filipina telah mencoba membangun demokrasi sejak keberhasilan people power pada 1986. Di Indonesia, kecurangan memang masih menghiasi pemilu kali ini. Walau demikian, praktis tidak terdapat perseteruan politik atau tindak kekerasan yang bersifat massif sehingga menimbulkan korban jiwa. Harus diakui, keberhasilan penyelenggaraan pemilu lalu merupakan berita bagus bagi eksperimentasi demokrasi kita yang masih sangat muda. Tetapi, perjalanan demokrasi kita belum usai. Ujian berikut yang menunggu kita adalah pemilu presiden-wapres pada 5 Juli nanti. Inilah saat komitmen kita terhadap demokrasi memperoleh ujian. Kita akan melihat apakah para kontestan dan para pemilih masih mempergunakan rasionalitas demokrasinya untuk tidak menggunakan cara-cara negatif demi memenangkan pemilu. Pemilu merupakan salah satu tonggak penting dalam melembagakan demokrasi. Pemilu yang berlangsung jujur dan adil dapat menjadi jalan pembuka yang mengantarkan kita kepada terkonsolidasinya demokrasi. Walaupun demikian, patut pula kita catat bahwa pemilu bukan merupakan satu-satunya parameter untuk menguji keberhasilan pelembagaan demokrasi. Proses politik yang terjadi setelah pemilu kemudian juga merupakan titik krusial untuk memantapkan nilainilai demokrasi. Sebagai sebuah proses, demokratisasi sesungguhnya membutuhkan energi yang luar biasa. Daya tahan dan komitmen para pelaku politik untuk tetap mengedepankan cara berpolitik yang demokratis akan sangat menentukan keberhasilan pelembagaan demokrasi di masa datang. Jika pelembagaan demokrasi gagal, niscaya ketidakpercayaan masyarakat terhadap demokrasi merupakan sebuah ancaman besar. Tulisan singkat ini dimaksudkan sebagai pengingat bahwa kegagalan memanfaatkan momen demokratisasi dapat membawa kita kembali pada otoritarianisme. Karenanya, langkah untuk melembagakan demokrasi harus terus dilakukan agar kita dapat memanfaatkan momen emas ini. Bahaya Kegagalan Eksperimen Demokrasi Samuel P. Huntington (1991) membawa angin sejuk kepada kita ketika mengabarkan bahwa pengalaman berdemokrasi di masa lalu dapat menjadi salah satu faktor pendukung lahirnya kembali demokrasi di sebuah negara. Maka dengan serta merta mungkin kita akan menunjuk pada pengalaman di masa Demokrasi Konstitusional era 1950-an yang diwarnai dengan kontestasi multipartai dan partisipasi politik yang meluas untuk mendukung argumen bahwa demokrasi bukanlah ide yang asing dalam pengalaman bernegara kita. Dan kini, pasca tumbangnya rezim otoriter Orde Baru kita tengah mencoba membangun kembali tatanan demokrasi dengan wajah baru. Tetapi, Huntington juga mengingatkan kita bahwa kegagalan proses konsolidasi demokrasi akan memberi gambaran buruk tentang wajah demokrasi. Dan pada masa lalu juga, kita pernah gagal menjaga keberlangsungan demokrasi tersebut hingga kemudian terkungkung dalam cengkeraman otoritarianisme yang panjang. Menurut Huntington, kekecewaan yang berkembang pada sistem-sistem demokrasi yang baru dapat berujud dalam empat macam perilaku. Pertama, kekecewaan itu sering mengakibatkan pengunduran diri, sinisme, dan penarikan diri dari dunia politik. Kedua, kekecewaan mewujud dalam reaksi menentang pemerintah yang berkuasa, dan menggantikannya dengan kelompok politik alternatif. Ketiga, kekecewaan kadang menimbulkan reaksi yang bersifat anti kemapanan dengan menolak tidak hanya partai yang berkuasa, tetapi juga partai alternatif yang berada dalam sistem

politik dan memberikan dukungan mereka kepada pihak di luar sistem. Keempat, yang paling ekstrem adalah ketidakpercayaan terhadap sistem demokrasi, pendukung utama terhadap ide ini adalah kelompok konservatif sisa rezim otoriter. Dalam konteks Indonesia kontemporer, kekhawatiran akan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi bukan tanpa alasan. Jika kita mencermati fenomena politik yang terjadi beberapa tahun terakhir, setidaknya terdapat empat hal yang patut membuat kita waspada agar tidak terjebak ke dalam langkah mundur. Dalam usia demokrasi yang masih sangat muda ini, kita dapat mencermati beberapa perilaku politik yang tidak demokratis. Pertama, sebagian anggota masyarakat memaknai demokrasi baru sebatas kebebasan dengan tanggungjawab yang minim. Akibatnya, mereka merasa bebas untuk mengekspresikan kehendaknya sembari abai akan kepentingan pihak lain dan bahkan dengan cara yang melanggar aturan. Tidak jarang tindakantindakan anarkis dianggap wajar untuk memperjuangkan kepentingan, sehingga kekerasan seolah menjadi kosakata yang inheren dalam kebebasan. Kedua, sebagian masyarakat belum memiliki suatu mekanisme sosial yang tepat untuk mengelola perbedaan. Pada masa lalu, masyarakat kita memiliki wajah yang nyaris seragam. Hal ini tidak lepas dari rekayasa sosial yang dilakukan oleh rezim Orde Baru yang menabukan perbedaan. Akibatnya, ketika liberalisme muncul sebagai salah satu wajah demokrasi, masyarakat belum siap untuk menerima kenyataan bahwa kehidupan ternyata memiliki banyak ragam pandangan, kepentingan, dan orientasi. Kegagalan mengenali keragaman dalam masyarakat dan tiadanya mekanisme sosial untuk mengelola perbedaan kemudian mengarah kepada terjadinya konflik horizontal. Hal ini dapat memberi kesan buruk bahwa kebebasan yang menyertai demokrasi ternyata merupakan pangkal terjadinya konflik. Padahal, selain menghargai adanya perbedaan, demokrasi juga berbicara tentang konsensus. Kemauan untuk berdialog dan membangun mekanisme sosial untuk mengelola konflik sesungguhnya dapat membawa kita pada kedewasaan untuk mengarungi bahtera demokrasi. Ketiga, sebagian elite politik masih mengembangkan cara-cara nondemokrasi untuk memperjuangkan kepentingannya. Dalam pemilu legislatif yang lalu, sebagian lembaga pemantau pemilu mensinyalir adanya politik uang atau mobilisasi oleh pejabat pemerintahan demi memilih partai atau kadidat tertentu. Tetapi, sebagaimana biasa hal tersebut sulit untuk dibuktikan. Meski demikian, indikasi-indikasi yang dikemukakan oleh lembaga-lembaga pemantau tersebut cukup membuat kita khawatir akan merebaknya perilaku politik nondemokratis. Keempat, konservatisme elite politik dalam menyikapi berbagai isu reformasi. Hingga menjelang pemilu presiden mendatang, beberapa agenda reformasi seperti penegakan HAM, reformasi lembaga peradilan dan perangkat hukum, serta pemberantasan korupsi masih berjalan lamban. Tentu saja hal demikian membawa kekhawatiran bahwa rezim pascaotoriter akan menjadi penerus setia bangunan politik Orde Baru. Dengan meminjam istilah Benedict Anderson, mungkin kondisi ini dapat dideskripsikan secara singkat sebagai 'Old State, New Society'. Rezim boleh berganti baru, tetapi secara umum tidak terdapat perubahan berarti dalam kultur pemerintahan; masyarakat politik masih tetap didominasi oleh nilai-nilai lama warisan rezim terdahulu. Hal yang demikian akan dapat membuat masyarakat frustrasi dan mengambil kesimpulan bahwa perubahan ternyata hanya memberi keuntungan bagi segelintir elite, sementara rakyat selalu saja menjadi aktor pinggiran yang kepentingannya kerap diabaikan. Ini tentu bukan kondisi bagus bagi kita semua yang sedang berupaya untuk lepas dari bayangbayang kekuatan rezim otoriter dan berjuang membangun sebuah tatanan demokrasi yang kuat. Ketika harapan yang sangat besar disandangkan pada gagasan demokrasi untuk dapat membawa kita pada situasi yang lebih baik dibandingkan saat rezim otoriter mencengkeram. Karenanya, membangun kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi tidak saja membutuhkan sosialisasi pada tataran ide, tetapi juga implementasi nyata dalam proses politik. Dalam hal ini, konsolidasi demokrasi kemudian menjadi tugas berat yang harus kita lakukan untuk memastikan kondisi yang kondusif bagi partisipasi dan kontestasi politik secara terbuka, kebebasan dan otonomi sipil, serta

bekerjanya sistem hukum yang memberi perlindungan terhadap para pencari keadilan. Memastikan Arah Demokrasi Seringkali kita berpikir bahwa tumbangnya rezim otoriter dengan serta merta akan diikuti terbangunnya institusi demokrasi. Dan manakala kita menyemai benih demokrasi, benih itu pasti akan tumbuh dan berkembang dengan subur. Padahal, demokratisasi bukanlah sebuah proses yang berjalan linier dan tanpa hambatan. Proses pendirian demokrasi, demikian Adam Przeworski (dalam ODonnell et al. 1993) adalah sebuah proses menginstitusionalisasikan ketidakpastian, menempatkan semua kepentingan pada ketidakpastian. Pengalaman di banyak negara sebagaimana ditunjukkan dalam studi ODonnell dan kawankawan di Amerikan Selatan dan Eropa Selatan menunjukkan bahwa selubung terbesar bagi masa transisi adalah bagaimana memastikan arah proses tersebut menuju demokrasi yang stabil. Tidak setiap proses transisi akan berakhir dengan terbentuknya sebuah bangunan demokrasi yang kukuh. Yang paling tragis mungkin adalah ketika kegagalan mengkonsolidasikan demokrasi menumbuhkan ketidakpercayaan publik terhadap ide demokrasi, dan momen ini dimanfaatkan oleh kekuatan lama untuk membangun kembali kekuatan otoriter. Philippe Schmitter (2000) menyebut empat kemungkinan ke mana arah proses transisi akan bermuara: 1). Regression to autocracy, berdasar pengalaman sejarah banyak negara yang pada awalnya telah mencapai demokrasi tetapi kemudian mengalami kemunduran; 2) Formation of a hybrid regime, rezim ini gagal untuk memenuhi kriteria prosedural yang minimal untuk disebut sebagai demokrasi, tetapi tidak pula kembali ke status quo; 3) Unconsolidated Democracy, rezim terjebak dalam situasi di mana kriteria minimal demokrasi prosedural mungkin dihormati, tetapi tidak terdapat kesepakatan tentang konstitusi yang mengatur proses politik; 4) Concolidated Democracy, secara sistematis terjadi institusionalisasi dalam nilai dan aturan tentang keadilan, toleransi, kompetisi, dan nilai-nilai demokrasi lainnya. Dibutuhkan energi yang sangat besar untuk memastikan arah demokrasi agar stabil dan terkonsolidasi. Tidak saja kita harus berhadapan dengan para pendukung kekuatan lama (sebagian bahkan mungkin sedang duduk dalam pemerintahan pasca otoritarianisme) yang ingin mengembalikan kekuasaannya. Tetapi, pada saat yang bersamaan kita juga harus mengeliminasi perbedaan-perbedaan di antara kekuatan pro-demokrasi sendiri yang mungkin berbeda dalam hal cara mengkonsolidasikan demokrasi, ideologi, atau bahkan yang paling buruk mereka terjebak dalam keinginan untuk memperjuangkan kepentingan sepihak dan berorientasi pada jangka pendek. Hambatan yang muncul dari masalah-masalah kontekstual seperti krisis ekonomi atau konflik komunal yang tak kunjung usai mungkin menjadi tantangan paling nyata yang harus kita hadapi. Tetapi, saya kira masalah-masalah transisional pada umumnya membutuhkan penyelesaian komprehensif yang dapat dimulai dengan memberi prioritas pada penguatan sistem sebagai basis bagi proses politik, institusionalisasi perilaku dan kultur politik yang demokratis demi terkelolanya konflik politik, dan untuk selanjutnya bergerak pada masalah kontekstual lainnya. Hal yang patut pula menjadi perhatian kita adalah upaya penegakan hukum yang belum kunjung menunjukkan hasil menggembirakan. Perlu ada upaya serius untuk memberantas korupsi. Instrumen penegak ketertiban dan keamanan juga harus dibangun untuk menutup kekurangan baik dalam hal disiplin maupun kecakapan, sementara perangkat perundangan harus mampu berkompetisi dengan model kejahatan yang terus berkembang. Menumbuhkan situasi yang kondusif bagi berkembangnya masyarakat kewargaan juga menjadi tugas berat yang harus kita wujudkan. Minimasi intervensi negara atas aspek-aspek sosial kemasyarakatan yang mungkin ditangani secara mandiri oleh warga akan memperkuat kemandirian masyarakat. Ketika dicapai sebuah tingkatan yang harmonis antara sebuah negara kuat dengan masyarakat kuat akan terlahir mekanisme hubungan negara-masyarakat yang demokratis. Suatu kondisi ketika negara tidak berdiri sebagai satu-satunya kekuatan dalam proses politik yang seharusnya mengandaikan partisipasi baik masyarakat politik, masyarakat kewargaan, maupun

masyarakat ekonomi. Pada akhirnya, tentu saja kondisi demokrasi yang terkonsolidasi membutuhkan proses panjang yang kadang melelahkan, karena ia bukan sebuah proses instan. Patut digarisbawahi pula bahwa demokrasi adalah sebuah proses yang berkelanjutan. Artinya, pembangunan demokrasi tidak berhenti ketika pemerintahan baru hasil pemilu demokratis sudah terbentuk. Justru, menjaga nilai demokrasi agar tetap diyakini dan hidup dalam kehidupan bernegara menjadi tugas besar yang tak kalah beratnya. Dan kini, pemilu menjadi salah satu pertaruhan besar kita untuk menjaga agar benih demokrasi yang telah kita semai dapat bersemi.