Anda di halaman 1dari 10

Agar Pasar Tradisional Bisa Bersaing dengan Pasar Modern Tuesday, 02.17.

2009, 03:29pm (GMT+7)

Depok - Pasar tradisional harus tetap dipertahankan keberadaannya. Ini yang dikemukakan oleh Menteri Perdagangan baru-baru ini. Selanjutnya dia mengemukakan, agar bisa berkembang maka pengelolaan pasar tradisional harus profesional. Berkurangnya citra pasar tradisional akibat kurangnya disiplin dan sikap para pengelola pasar, dan para pedagang. Pengelola pasar tidak profesional dan tidak tegas menerapkan kebijakan-kebijakan dalam pengelolaan pasar. Banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, dan seakan-akan dibiarkan saja oleh pengelola pasar. Antara lain, banyaknya pungutanpungutan liar, kurangnya fasilitas penunjang (yang sudah ada sering tidak berfungsi), para preman pasar yang berkeliaran, kebersihan pasar yang tidak terjaga, dan sebagainya. Selain itu para konsumen juga sering mengeluhkan pelayanan sejumlah pedagang yang menggunakan timbangan atau alat ukur lainnya yang tidak sesuai dengan berat atau jumlah barang yang dibeli pembeli. Juga tidak jarang harga barang di pasar tradisional ternyata lebih mahal dibandingkan harga di pasar modern (pasar swalayan misalnya). Padahal sering kali terjadi mutu barang di pasar modern lebih baik dan bersih daripada di pasar tradisional. Agar pasar tradisional bisa bersaing dengan pasar modern, maka Depdag mengfokuskan program 2009 pada pembinaan dan revitalisasi pasar tradisional. Antara lain, pelatihan manajemen pengelolaan pasar tradisional, pelaksanaan proses ukur ulang, dan perlindungan konsumen.

Pasar modern tidak perlu dipersoalkan,Pasar tradisional perlu kesetaraan Written by Artikel Wednesday, 21 July 2010 03:11 JAKARTA Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan meminta tidak perlu ada dikotomi antara kehadiran pasar tradisional dan pasar modern, karena masing-masing memiliki komunitas segmen tersendiri. Menurut dia, pemerintah telah mengatur fungsi dari masing-masing pasar modem dan pasar tradisional. Jadi, masyarakat umum maupun konsumen diminta tidak terjebak dalam kontroversi yang sering muncul dari kehadiran pasar modern.

"Sangat kecil kemungkinan konsumen pasar tradisional, beralih ke pasar modem. Demikian juga konsumen pasar modem kecil kemungkinannya menjadi konsumen pasar tradisional," paparnya, belum lama ini. Oleh karena itu, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM, tetap komitmen merevitalisasi pasar tradisional di berbagai daerah. Pasar tradisional sangat diperlukan, karena peranannya sangat pas untuk masyarakat di perdesaan maupun di kabupaten/kota. Pasar tradisional perlu dimanusiakan, karena masih banyak kekurangan dalam operasionalnya. Atapnya tebuat dari rum-bia, dan lantainya hanya dari tanah. Ke depan, kualitas pasar tradisional harus ditingkatkan. Dia mengemukakan setelah direvitalisasi, pasar tradisional bisa menjadi lebih nyaman dan aman, sehingga konsumen yang datang bisa lebih banyak dari sebelum direvitalisasi. "Kita memahami jika masyarakat sebenarnya sangat senang bertransaksi di pasar tradisional. Jika ditata lebih baik, pasar itu bisa lebih berkembang." Perlu dicermati Ketua Umum Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (Inkowapi) Shar-mila Yahya Zaini mengatakan setuju saja dengan pernyataan Menteri Koperasi dan UKM. Sebab, konsumennya masing-masing memang mempunyai segmen tersendiri. "Menurut saya, masih ada yang perlu dicermati, agar pengelola pasar tradisional memiliki kesetaraan hak dalam ki-nerjanya. Paling tidak, bisa memiliki hak yang sama dengan pengelola pasar modem dan sejenisnya," tukasnya. Kesamaan hak itu terutama dari perlakuan produsen atau pabrikan yang menjadi pemasok komoditas untuk pasar tradisional maupun pasar modem. Pasar modern umumnya memiliki jangka waktu tertentu hingga 1 bulan atau 2 bulan untuk membayar seluruh komoditas yang dipasok produsen ataupun pabrikan. "Adapun pedagang di pasar tradisional, tidak menerima perlakuan yang sama, karena hanya diberi waktu 1 hari atau 2 hari untuk membayar lunas barang yang diorder. Di antara pedagang itu bahkan diwajibkan membayar dengan tunai." Melihat kenyataan ini, maka selalu terjadi penilaian kontroversial dari masyarakat maupun pemerhati perdagangan. Secara umum mereka berpihak kepada pasar tradisional, karena memang tidak mendapat perlakuan yang sama. "Jika pemerintah bisa memberikan fasilitasi hak yang sama kepada pedagang di pasar tradisional, tidak akan ada kontroversi atas kehadiran pasar modem yang kiang mengimpit pasar tradisional," tandas Sharmila.

Sebelumnya, Kementerian Koperasi dan UKM akan merealisasikan pembangunan 7 pasar tradisional dengan alokasi dana sekitar Rp6 miliar pada awal Agustus 2010. Agus Muharram, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan pembiayaan pembangunan pasar tradisional di 7 kabupaten/kota tersebut diambil dari APBN melalui program bantuan sosial. "Pencairan dananya akan dilaksanakan pada minggu keempat Juli, setelah surat keputusan penetapannya akan keluar sekitar minggu kedua bulan sama. Pada awal Agustus pembangunan fisiknya sudah bisa dimulai," ungkapnya. Sumber : Bisnis Indonesia

Perkembangan perekonomian Indonesia pada saat ini bisa diukur oleh maraknya pembangunan pusat perdagangan. Menurut bentuk fisik , pusat perdagangan dibagi menjadi dua yaitu pasar tradisional dan pusat perbelanjaan modern. Pasar Tradisional Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan,buah,sayur-sayuran, telur,daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan diindonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern.

Pasar Modern Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan dan hypermarket, supermarket, dan minimarket.

Banyak pusat perbelanjaan modern yang memiliki persamaan fungsi dengan pasar traditional sehingga menimbulkan persaingan antara pasar tradisional dengan pusat perbelanjaan modern dan juga menimbulkan modernisasi dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern. Preferensi prioritas faktor internal, faktor eksternal, faktor bertahan ,dan daya tarik pusat perbelanjaan modern sehubungan dengan perkembangan pasar tradisional tersebut menyebabkan pasar tersebut mengalami bertahan, kehancuran, dan modernisasi. Ketiganya ini dapat menyebabkan sebuah pasar tradisional dapat tetap mempertahankan konsep dan fisik bangunannya sebagai pasar, modernisasi dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern, dan menyebabkan suatu pasar tradisional kearah kehancuran. Setidaknya ada tiga kelebihan pasar tradisional, yang pertama, dalam aktivitas ekonomi berupa transaksi; antara penjual dan pembeli bisa melakukan transaksi langsung dengan pembelinya. Kedua, terjadinya proses interaksi sosial yang berpengaruh pada keputusan dan kepuasan antara penjual dan pembeli. Ketiga, dari segi lokasi, pasar tradisional letaknya selalu berdekatan dengan permukiman penduduk. Ketiga hal tersebut tidak pernah dijumpai di pasar modern. Memang ada beberapa permasalahan yang saat ini belum dimiliki oleh pasar tradisional, dari aspek keamanan dan kebersihan misalnya, pasar tradisonal belum mampu memberikan pelayanan terbaik bagi pedagang dan pengunjung, sehingga aman dari kehilangan barang, pencopetan, tekanan preman dan lain sebagainya. Terbatasnya lahan parkir menjadi permasalahan yang tidak pernah usai untuk diperbincangkan. Secara alamiah pengusaha pasar modern (hypermarket, supermarket) berusaha mencari lokasi strategis untuk usahanya, seakan wajah kota dinilai dari sisi ekonomi (ekonomi politik ruang). Masalahnya, bagaimana agar kehadiran pasar modern di daerah tidak membunuh pasar tradisional dan toko kelontong yang sudah ada dan lebih dulu dalam melakukan kegiatan usahanya? Karena dari segi kuantitas tidaklah sedikit. Menurut data APPSI (2007), jumlah pedagang pasar tradisional sudah mencapai 12,475 juta orang yang tersebar di 13,650 pasar. Bagaimana pun kehadiran pasar modern di daerah tidak bisa dielakkan lagi. Masalahnya, bagaimana kehadirannya tidak menimbulkan dampak negatif terhadap pasar tradisional? Maka semua aspek yang berkaitan dengan eksistensi pasar tradisional dan kondisi masyarakat setempat harus dijadikan pertimbangan agar dua jenis usaha ini bisa hidup secara berdampingan.

sumber : dewey.petra.ac.id , iswekon.wordpress.com , wikipedia .

Minggu, 18 April 2010


Pasar Tradisional dan Pasar Modern

Pasar tradisional Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti

bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia, dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Beberapa pasar tradisional yang "legendaris" antara lain adalah pasar Beringharjo di Jogja, pasar Klewer di Solo, pasar Johar di Semarang. Pasar tradisional di seluruh Indonesia terus mencoba bertahan menghadapi serangan dari pasar modern. Pasar modern Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis ini penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan dan hypermarket, supermarket, dan minimarket. Pasar dapat dikategorikan dalam beberapa hal. Yaitu menurut jenisnya, jenis barang yang dijual, lokasi pasar, hari, luas jangkauan dan wujud. Kelebihan Dan Kelemahan Pasar Tradisional

Pasar Tradisional merupakan pasar yang memiliki keunggulan bersaing alamiah yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Lokasi yang strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang lengkap, harga yang rendah, sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli merupakan keunggulan yang dimiliki oleh pasar tradisional. Selain keunggulan yang tadi, pasar tradisional juga merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah ke bawah, dan itu jelas memberikan efek yang baik Negara. Dimana Negara ini memang hidup dari perekonomian skala mikro dibanding skala makro. Sisi kekeluargaan antara pembeli dan penjual menjadi satu pemandangan yang indah kala berada di pasar dan bahkan ada juga yang namanya langganan dan itu bisa menjadi hubungan yang tidak bisa terpisahkan bagaikan persaudaraan yang sudah sangat dekat sekali. Dibalik kelebihan yang dimiliki pasar tradisional ternyata tidak didukung oleh pihak pemerintah, salah satunya terlihat pemerintah lebih membanggakan adanya pasar modern dari pada pasar tradisional, yang itu dilakukan dengan cara mengusir satu per satu pasar tradisional dengan cara dipindahkan dari tempat yang layak ke tempat yang jauh dan kurang refresentatif. Selain itu tidak di perhatikan pemerintah, pasar tradisional juga memiliki Kelemahan. Sisi kelemahan yang paling urgen ialah pada kumuh dan kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang banyak didagangkan oleh oknum pasar tradisional dengan mendagangkan barang yang menggunakan bahan kimia dan itu marak di pasar tradisional. Bukan hanya itu saja, pengemasan pasar juga membuat kurang diliriknya pasar tradisional, bahkan mungkin makin hari bukan malah makin bagus akan tetapi malah makin buruk kondisinya. Dan jelas hal itu cukup berbahaya bagi keberadaan pasar tradisional. Hal-hal tersebutlah yang membuat konsumen menjadi malas untuk pergi ke pasar Tradisional. Padahal kalau hal itu lebih diperbaiki, bukan tidak mungkin perekonomian kerakyatan bisa hidup kembali.

Kelebihan dan Kekurangan Pasar Modern Kelebihan pasar Modern dibanding pasar tradisional cukup jelas, mereka memiliki banyak keunggulan yakni nyaman, bersih serta terjamin. Yang itu membuat para konsumen mau membeli ke pasar modern. AC, bersih, kenyamanan dan mempunyai gengsi yang tinggi menjadi andalan dari pasar modern, dan hal itu tidak dimiliki oleh pasar tradisional. Bahkan kalau kita melihat tidak ada kelemahan dari pasar modern ini. Dengan modal yang cukup besar mereka bisa melakukan apa saja untuk makin mempercantik penampilannya.

Bagaimana agar pasar Tradisional tetap bisa bertahan dengan semakin banyaknya pasarpasar Modern yang ada pada zaman sekarang ini. Itu semua bisa kita atasi salah satunya dengan cara lebih memperhatikan keadaan pasar tradisonal, baik itu dari lingkungannya atau pun dengan cara membatasi pembuatan pasar modern, letak pasar juga jangan berdekatan, dan sebisa mungkin pasar Tradisional harus dibentuk serapi dan seindah mungkin agar bisa menarik perhatian para pembeli. Sehingga pasar tradisonal tetap bisa bertahan diera zaman yang sudah modern seperti sekarang ini. Sumber http://id.wikipedia.org/ http://bumihmicabangsubang.blogspot.com/ :

You are here Edisi Cetak Ekonomi Pasar Tradisional vs Pasar Modern

Skip to content

Pasar Tradisional vs Pasar Modern


Thursday, 31 January 2008 16:08 User Rating: Poor /8 Best
Rate
vote com_content 102 http://w w w .berita

Pertarungan sengit antara pedagang tradisional dengan peritel raksasa merupakan fenomena umum era globalisasi. Jika Pemerintah tak hati-hati, dengan membina keduanya supaya sinergis, Perpres Pasar Modern justru akan membuat semua pedagang tradisional mati secara sistematis. Setelah tertunda 2,5 tahun, Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern (biasa disebut Perpres Pasar Modern), akhirnya ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 27 Desember 2007 lalu. Enam pokok masalah diatur dalam Perpres yaitu definisi, zonasi, kemitraan, perizinan, syarat perdagangan (trading term), kelembagaan pengawas, dan sanksi. Soal zonasi atau tata letak pasar tradisional dan pasar modern (hypermart), menurut Perpres, disusun oleh Pemerintah Daerah (Pemda). Ini membuat pemerintah pusat terkesan ingin cuci tangan, mengingat tata letak justru merupakan persoalan krusial sebab tak pernah konsisten dipatuhi, yang lalu membenturkan keduanya. Pendirian Carrefour di kawasan CBD Ciledug, Kota Tangerang, Banten, misalnya. Awalnya Carrefour Ciledug ditolak keras oleh semua pedagang tradisional di sekelilingnya, tetapi pada akhirnya bisa beroperasi dengan mulus persis menjelang Natal 2007. Pengalihan kewenangan mengeluarkan Izin Usaha Pasar Modern (IUPM) ke Pemda, memungkinkan pasar tradisional selalu dikorbankan dengan berbagai alasan. Indikasinya, sebagian besar pasar modern tidak memiliki IUPM dari pemerintah pusat. Untuk masalah zonasi, Pemda diberi waktu tiga tahun untuk menyusun rencana umum tata ruang wilayah (RUTRW) yang mengacu kepada Undang-Undang Tata Ruang, kata Ardiansyah Parman, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag. Akan Mati Semua Penandatanganan Perpres berlangsung setelah PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk melepas bisnis ritelnya, dengan menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Alfa Retailindo Tbk pada 5 Oktober 2006, dan di PT Sumber Alfaria Trijaya 15 Desember 2006. Ribuan outlet Alfamart dan Alfamidi tersebar di kawasan pemukiman warga, belum termasuk Alfa Rabat sekelas supermarket sebanyak 29 buah. Setelah itu muncul kabar raksasa ritel asal Perancis PT Carrefour Indonesia sepakat untuk membeli 75 persen saham Alfa Ratailindo, dengan menyasar supermarketnya. Nota kesepahaman pembelian saham ditandatangani di Singapura 17 Desember 2007, dilanjutkan negosiasi pembelian saham pada 6 Januari 2008, menjadikan Carrefour berpotensi memonopoli usaha ritel sebab tampil sebagai market leader dan price leader.

Apabila pembelian saham Alfa benar-benar terjadi, maka, langkah perubahan Alfa Rabat menjadi Carrefour akan sama persis mengikuti jejak perubahan Hero menjadi Giant, atau supermarket Matahari menjadi Hypermart. Masih terlalu dini, memang, untuk menilai ada keterkaitan antara berbagai aksi korporasi perusahaan terbuka di atas dengan keluarnya Perpres Pasar Modern. Tetapi bersamaan dengan Perpres pasar Modern dikeluarkan pula Perpres No 111 tentang Perubahan Atas Perpres No 77 Tahun 2007 mengenai daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan di bidang penanaman modal, atau tentang Daftar Negatif Investasi (DNI), yang memberikan penegasan perihal penanaman modal asing di sektor ritel. Sebagai misal, definisi supermarket, minimarket, dan departemen store skala kecil dicantumkan dalam kelompok usaha ritel dengan syarat 100 persen modal dalam negeri. Investor asing ditentukan hanya boleh masuk dalam bisnis supermarket ukuran besar dengan luasan lantai penjualan lebih dari 1.200 meter persegi (m2), dan departemen store besar yang berukuran lebih dari 2.00 m2. Dari sisi pemerintah, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu berharap Perpres dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan pasar tradisional, sekaligus menciptakan iklim usaha yang lebih baik untuk bisnis ritel. Perpres ini intinya mengatur masalah zonasi, bagaimana perlindungan pasar tradisional dan ekspansi. Juga, bagaimana supaya pengaturan lokasi pasar tradisional dan ritel modern akan bisa lebih bagus, kata Mari. Ketika memberikan penjelasan kepada wartawan di Kantor Pusat Bulog di Jakarta Jumat (28/12), Mari mengatakan, dengan pemberlakuan Perpres persoalan rebutan pelanggan antara ritel tradisional dan modern bisa diminimalisasi. Mari percaya, perlindungan pasar tradisional bisa dilakukan karena aturan pembangunan pasar harus mengacu pada tata ruang dan wilayah yang sudah dimiliki Pemda. Termasuk pengucuran kredit usaha rakyat kepada pedagang tradisional. Dengan keluarnya Perpres ini maka akan memperlancar program pemberdayaan untuk pedagang seperti pengucuran kredit mikro dan sebagainya, kata Mari. Ia mengingatkan, perbaikan kinerja ritel tradisional perlu ditingkatkan. Salah satunya dengan memperbaiki bangunan pasar tradisional, serta pemberdayaan pedagang kecil dan peritel tradisional melalui berbagai program. Pemberlakuan aturan baku pendirian pasar tradisional dan pasar modern akan membuat persaingan keduanya semakin sengit di masa-masa mendatang. Data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyebutkan, hypermarket telah menyebabkan gulung tikarnya pasar tradisional dan kios pedagang kecil-menengah. Data yang dikumpulkan APPSI pada tahun 2005, saat hypermarket belum begitu menggejala seperti sekarang, memaparkan, di Jakarta terdapat delapan pasar tradisional dan 400 kios yang tutup setiap tahun karena kalah bersaing dengan hypermarket. Putri Kuswisnu Wardani, Juru Bicara 9 Aliansi Multi Industri mengatakan, para pedagang di pasar tradisional tidak akan pernah mungkin bisa bersaing dengan peritel besar pemilik hipermarket atau supermarket. Pasar tradisional juga tidak bisa melakukan minus margin untuk menarik konsumen, karena tidak ingin menekan pemasok dan produsen.

Jadi sudah dapat dipastikan pasar tradisional akan mati semua dan tinggal tunggu waktu saja. Arahnya sudah kelihatan. Yang bisa menolong pasar tradisional dan industri nasional (yang barang-barangnya dijual di hipermarket) dari kehancuran adalah niat dan keberpihakan dari pemerintah, ucap Putri. HT (BI 54)