Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

a.latar belakang

Berbicara sejarah kebudayaan islam tidak akan terlepas dari peran-peran KhaliIah-
khaliIah yang telah berhasil menyebarluaskan ajaran Islam di dunia,dan diantara sejarah-
sejarah itu ada sejarah perpecahan umat islam sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap
keputusan KhaliIah Ali Bin Abi Thalib dan Muawwiyah yang pada saat itu sedang berperang,
sehingga memaksa mereka untuk membuat kelompok-kelompok atau Kaum-kaum kecil dan
mengangkat pemimpin diantara mereka, karena mereka menganggap Baik KhaliIah Ali Bin
ABi Thalib maupun Muawwiyah telah di anggap kaIir. Di antara kaum-kaum yang terbentuk
dari proses Arbitrase ini ada yang disebut dengan Kaum 'KHAWARIJ yaitu kaum yang
keluar dari barisan Ali Bin Abi Thalib dan 'MURJI`AH yang menangguhkan semua
keputusan di akhirat kelak.
Dengan harapan dapat memahami tentang kedua kaum tersebut penulis mencoba
menyajikan pembahasan mengenai kaun Khawarij dan Murji`ah mudah-mudahan bisa
bermanIaat.

b.Rumusan masalah
Berdasarkan latarbelakang diatas penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang di maksud dengan Khawarij dan Murji`ah?
2. Bagaimana sejarah timbulnya kaum Khawarij dan murji`ah?
3. Bagaimana doktrin-doktrin kaum khawarij dan Murji`ah?
4. Kaum Khawarij terbagi menjadi berapa sekte?
5. Kaummurji`ah terbagi menjadi berap sekte?


c.Tujuan makalah

$ejalan dengan rumusan masalah di atas, maklah ini di susun dengan tujuan untuk
mengetahui:
1 .pengertian Khawarij dan Murjiah,

2.$ejarah timbulnya Khawarij dan Murji`ah,


3.dokrin-doktrin kaum Khawarij dan Murji`ah,
4.$ekte-sekte yang lahir dari khawarij dan Murji`ah.

/.Kegunaan makalah

makalah ini di susun dengan harapan dapat brmanIaat secara teori di prguruan tinggi dan
secara praktik ketika dihadapkan dengan situasi masyarakat, $ecara praktis makalah ini di
harapka bermanIaat bagi
1. Penulis , sebagi suatu cara untuk menambah pengetahuan dan konsep-konsep
keilmuan islam,
2. Pembaca, untuk menambah pemahaman mengenai Kaum Khawarij dan Murji`ah.















BAB II
KHAWARIJ DAN MURJI`AH
A. KHAWARIJ

1. Pengertian Khawarij

Kata khawarij secara etimologi berasal dari bahasa arab, yaitu kharaja yang berarti keluar,
muncul, timbul atau memberontak, adalah orang-orang yang keluar dari barisan Ali Ibn Ali Thalib.
Kaum khawarij memendang diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah semata-mata
untuk berjuang di jalan Alloh $WT. Kaum khawarij terdiri dari pengikut Ali Ibn Ali Thalib yang
meninggalkan barisannya karena tidak setuju dengan sikap Ali Ibn Ali Thalib yang mmenerima
Arbitrase atau Tahkim sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan tentang khaliIah dengan
Muawwiyah Ibn Abi $uIyan setelah bertempurnya pasukan Ali Ibn Ali Thalib dan Muawwiyah di
$hiIIin pada tahun 37H/648 M.
Khawarij merupakan golongan yang pertama yang keluar dari $unnah dan Jamaah.
Kahawarij pada mulanya sebagai partai politik, yang berpaham. Mereka pada umumnya
terdiri dari orang-orang Arab Badawi.
Ajaran Islam sebagaimana yang terdapat didalam Al-Qur`an dan Hadits mereka pahami
secara literal atau luIdziyah serta harus dilaksanakan sepenuhnya. Oleh karena itu iman
dalam paham mereka bercorak sederhana, sempit, Ianatic dan ekstrin. Ajaran-ajaran pokok
aliran khawarij adalah khaliIah, dosa dan iman.
Kaum Khawarij juga menyebut diri mereka dengan sebutan kaum $yurrah yang berasal dari kata
yasri yang berarti menjual,. Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang mengabdikan dan
mengorbankan diri untuk Alloh $WT. Ini berdasar pada Al-Quran $urat Albaqarah ayat 207. Nama
lain bagi kau Khawarij adalah Hurariah, nama sebuah desa tempat mereka berkumpul setelah
menyatakan keluar dari golongan Ali Ibn Ali Thalib yaitu desa Hurara, satu desa yang terletak di
dekat kota kuIIah di Irak. Di tempat inilah mereka yang berjumlah Dua Belas Ribu orang memilih
Abdullah Ibn Wahab Ar-rasyibi sebagai imam mereka pengganti Ali Ibn Ali Thalib.
2. $ejarah timbul dan perkembangan Khawarij
Khawarij adalah aliran teologi Islam yang pertama kali muncul, Aliran ini mulai muncul
pada abad Ke-1 H (abad ke 8 Masehi) pada masa pemerintahan Ali Ibn Ali Thalib, KhaliIah
terakhir dari KhulaIaurrasyidin. Kemunculannya di latar belakangi oleh adanya pertikaian
politik antara Ali Ibn Abi Thalib dengan Muawwiyah Ibn Abi $uIyan, Muawwiyah adalah
putra Abu $uIyan orang yang sangat berpengaruh di kalangan Bani Umayyah, yang pada saat
itu menjabat Gubernur $yam (Damaskus). $etelah Ali Ibn Ali Thalib menjadi KhaliIah,
Beliau menurunkan Gubernur yang telah di angkat KhaliIah sebelumnya yaitu Utsman Ibn
AIIan dan menggantikannya dengan yang baru. $emua Gubernur mengikuti kebijakan Ali
tersebut , namun Muawwiyah menolak menyerahkan jabatannya, Muawwiyah merasa dirinya
kuat karena telah menjadi gubernur selama 22 Tahun sejak KhaliIah Umar Ibn Khattab
sampai KhaliIah Utsman Ibn AIIan dan mempunyai angkatan perang sendiri serta mendapat
dukungan rakyat.

$ebelum mengadakan pemberontakan Muawwiyah terlebih dahulu menyusun kekuatan


besar dengan jalan:
1. Mempersatukan Bani Umayyah,
2 .Menghasut daerah-daerah di sekitar $yam untuk bergabung dengannya
$etelah itu, dengan kekuatan besar Muawwiyah berangkat menuju madinah untuk
memberontak terhadap Ali Ibn Abi Thalib yang pada saat itu telah siap dengan pasukannya,
maka terjadilah perang yang di kenal dengan perang $hiIIin.
Pasukan Ali Ibn Abi Thalib hampir memperoleh kemenangan dalam perang $hiIIin
tersebut, namun tangan kanan Muawwiyah Yaitu Amr Ibn Ash mengajak berdamai, dengan
mengangkatkan Al-Quran ke atas. Ali Ibn Abi Thalib sebenarnya hendak menolak
permintaan damai Amr Ibn Al-Ash karena sudah mencim kelicikan dibalik ajakan damai
tersebut, namun sebagian pengikutnya mendesak Ali Ibn Abi Thalib untuk menerima ajakan
tersebut, terutama ahli Qurra seperti Al-Asy`ats Ibn Qais, Mas`ud Ibn Fudaki At-tamini, dan
Zaid Ibn Husein Ath-tha`I sehingga dengan sangat terpaksa Ali Ibn Abi Thalib menerima
ajakan damai dari kelompok Muawwiyah. Ali Ibn Abi Thalib memerintahkan komandan
pasukannya, Al-Asytar untuk menghentikan peperangan. $elanjutnya Ali Ibn Abi Thalib
hendak mengirimkan Abdullah Ibn Abbas sebagai delegasi juru damainya, namun kelompok
yang nantinya menjadi kelompok Khawarij menolaknya karena dianggap dari kelompok Ali
Ibn Abi Thalib. Mereka mengajukan kepada Ali Ibn Abi Thalib agar Abu Musa Al-Asy`ari di
jadikan delegasi agar dapat memutuskan perkara berdasarkan kitabulloh. Keputusan tahkim
bahwa Ali di turunkan jabatanya sebagai KhaliIah dan mengangkat Muawiyah sebagai
KhaliIah pengganti Ali Ibn Abi Thalib. Kaum Khawarij merasa kecewa dan saat itu pula
mereka menyatakan keluar dari golongan Ali Ibn Abi Thalib. Mereka beranggapan bahwa
tahkim yang dilakukan tidak berdasarkan Al-Quran. Mereka mengatakan La hukma illa lillah
(tidak ada hukum selain dari hukum alloh) atau La hakama illa Alloh (tidak ada pengantara
selain Alloh). Kata-kata itu selanjutnya menjadi semboyan mereka. Mereka langsung menuju
hurura (kuIah) dan mengangkat Abdulloh Ibn Wahhab Ar-Rasyibi sebagai pemimipin
mereka.
$ejak terjadinya Arbitrase atau tahkim sebagai jalan menyelesaikan persengketaan,
mereka menganggap Ali Ibn Abi Thalib telah menyeleweng dari ajaran Islam dan mereka
memandang Ali telah menjadi kaIir. Terhadap khaliIah yang empat, mereka menganggap
bahwa khaliIan Abu Bakar Ash-$idiq dan Umar Ibn Al-Khatab seluruh nya dapat diterima
karena telah diangkat dan tidak menyeleweng dari ajaran agama islam, akan tetapi pada masa
Usman mereka beranggapan bahwa Usman telah menyeleweng dari ajaran agama islam sejak
tahun ke-7 kekhaliIahannya dan Ali menyeleweng dari ajaran islam sejak Arbitrase itu
sehingga mereka tidak dapat menerimanya dan menganggap Usman dan Ali menjadi kaIir .
Khawarij memandang empat tokoh yaitu Ali, Muawiyah ,Amru Ibn Ash, dan Abu
Musa Al-asy`ari serta orang-orang yang menerima arbitrase adalah kaIir, sebagaimana yang
terdapat didalam Al-Qur`an surat Al-Maidah ayat 44 yang artinya : ' Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh . maka mereka itu adalah orang-orang
kaIir
Keempat tokoh diatas dipandang kaIir oleh mereka maka wajib dibunuh. Dalam
catatan sejarah hanya tiga orang yang ditugasi untuk membunuh yaitu Abdurahman Ibn
Muljam Al-muradi memilih membunuh Ali Ibn Abi Thalib di kuIah, Amr Ibn Bakar Al-
Tamimi memilih membunuh Amr Ibn Ash di Iusthat, dan Hujaj Ibn Abdillah memilih

membunuh Muawiyah Ibn Abi $uIyan di Damaskus. Mereka serempak melakukan


pembunuhan pada dini hari saat shalat shubuh tanggal 17 ramadhan tahun 40 H / 661 M pda
peristiwa itu hanya Ali yang berhasil dibunuh dalam perjalanan menuju mesjid agung di
kuIah.dua hari setelah peristiwa penusukan pedang yang berulang-ulang khaliIah Ali Ibn Abi
Thalib waIat pada tanggal 19 ramadhan 40 H/ 661 M dalam usia 63 tahun setelah
mengemban jabatan khaliIah selama 4 tahun 9 bulan.
3. Doktrin-doktrin Khawarij

Diantara doktrin-doktrin pokok khawarij adalah sebagai berikut:
1. KhaliIah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh kaum muslimin;
2. KhaliIah tidak harus berasal dari keturunan Arab.
3. KhaliIah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan
menjalankan syariat islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan
kedzaliman;
4. KhaliIah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar bin khattab, dan Utsman bin AIIan)adalah
sah.
Tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kekhaliIahannya, Utsman r.a dianggap telah
menyeleweng;
5. KhaliIah Ali adalah sah, tetapi setelah adanya Arbitrase, ia dianggap telah
menyeleweng;
6. Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Alasy`ari juga telah dianggap
menyeleweng dan telah menjadi kaIir;
7. Pasukan perang jamal yang telah melawan Ali juga kaIir;
8. $eseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh.
Yang lebih parah, mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kaIir
apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kaIir dengan
resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula.
9. $etiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak
mau bergabung maka ia wajib diperangi karena hidup dalam Dar el-harb (Negara
Musuh), sedang golongan mereka sendiri dianggap berada dalm dar al-islam
(Negara Islam);
10. $eseorang harus menghindar dari pimpinanyang menyeleweng;
11. Adanya wa`ad dan wa`id (Orang yang baik harus masuk surga,sedangkan yang
jahat harus masuk kedalam neraka);
12. Amar ma`ruI nahi munkar;
13. Memalingkan ayat-ayat al-qur`an yang tampak Mustasabihat (samar);
14. Qur`an adalah makhluk;
15. Manusia bebas memutuskan perbuatannya, bukan dari Tuhan

Doktrin yang dikembangkan oleh kaum Khawarij dapat dikategorikan kedalam
kategori politik,teologi dan sosial. Politik merupakan doktrin sentral khawarij
sebagai reaksi terhadap Muawiyah yang secara teoritis tidak pantas memimpin
negara.
4. $ekte-sekte Khawarij dan Tokoh-tokohnya
Menurut Al-syahrastani, mereka terpecah menjadi delapan belas subsekte (
'Almilal wa al-nihal,MustaIa al-babi al-halabi, Kairo 1967,jilid 1 pasal 4), dan menurut
Al-baghdadi dua puluh subsekte (Al-Iaraq bain al-Iiraq, Muhammad ali subelih, Kiro,,

tat, hlm.7-115), Al-asy`ari menyebut subsekte-subsekte yang jumlahnya lebih besar lagi (
Maqalat, I/157-196). Namun sekte yang paling pentingnya adalah: almuhakkimah, Al-
Azariqah, An-Nazdiyah, Al-Baihasiyah, Al-ajaridah, Ats-Tsa`libah, dan As-$huIriyah.
Al- Muhakkimah
Golongan khawarij asli dan terdiri dari pengikut-pengikut Ali , disebut golongan
Al-Muhakkimah. Bagi mereka, Ali, Muawwiyah, kedua pengantara Amr bin Ash
dan Abu Musa Al-asy`ari dan semua orang yang menyetujui arbitrase bersalah dan
menjadi kaIir. Berbuat zina dipandang sebagai salah satu dosa besar, maka menurut
paham golongan ini orang yang mengerjakan zina telah menjadi kaIir dan keluar dari
islam. Begitu pula membunuh sesama manusia tanpa sebab yang sah adalah dosa
besar. Maka perbuatan membunuh manusia menjadikan si pembunuh keluar dari
islam dan menjadi kaIir. Demikian seterusnya dengan dosa-dosa besar lainnya.
Menurut mereka bahwa Ali , Muawiyah, Amr Ibn Ash, Musa Al-Asy`ari dan orang
yang menyetujui arbitrase dipandang bersalah dan KaIir. Orang pertama yang di
bai`at menjadi imam adalah Abdullah Bin Wahab Ar-Rasyibi dirumah Zaid Ibn
Husain yang di Bai`at oleh Abdullah bin Al-kiwa

Al-Azariqah
$esudah golongan Al-Muhakkimah hancur adalah golongan AL-Azariqah. Nama
ini diambil dari NaIi` Ibn Al-Azraq. Pengikutnya menurut Al-Baghdadi berjumlah
lebih dari 20 ribu orang(Al-Iarq,85) khaliIah pertama yang mereka pilih adalah NaIi`
sendiri dan kepadanya mereka beri gelar Amir al-muminin . NaI` mati dalam
pertempuran di Irak pada tahun 686 M.
$ubsekte ini sikapnya lebih radikal dari Al-muhakkimah. Mereka tidak lagi
memakai term kaIir, tetapi term musyrik atau polytheis(ibid 83). Didalam islam syirik
atau polytheisme merupakan dosa yang terbesar, lebih besar dari kuIr.

Al-Najdat
Najdah Ibn Amir al-hanaIi dari yamamah dengan pengikut-pengikutnya pada
mulanya ingin menggabungkan diri dengan golongan Al-zariqah. Tetapi dalam
golongan yang tersebut akhir ini timbul perpecahan. $ebagian dari pengikut-pengikiut
NaIi` ibn al-azraq, diantaranya Abu Fudaik, Rasyid al-tawil, dan Atiah al-hanaIi,
tidak dapat menyetujui paham bahwa orang azraqi yang tak mau berhijrah kedalam
lingkungan al-azariqah adalah musyrik.

Al-Ajaridah
Mereka adalah pengikut dari Abd al-karim Ibn ajrad yang menurut al-
syahrastani merupakan salah satu teman dari Atiah al-hanaIi(al-milal, I/124, Al-Iarq
94).kaum Ajaridah ini mempunyai paham puritanisme. $urat YusuI dalam al-qur`an
membawa cerita cinta dan al-qur`an sebagai kitab suci, kata mereka tidak mungkin
mengandung cerita cinta. Oleh karena itu mereka tidak mengakui $urat YusuI sebagi
bagian dari al-qur`an. Golongan ajaridah ini terpecah belah menjadi golongan-
golongan kecil, diantaranya yaitu golongan al-maimunah, golongan al-hamziah, dan
al-syu`abiah.

Al-$uIriah
Pemimpin golongan ini ialah Ziad Ibn al-asIar. Paham yang dibawa sekte ini
mirip dengan paham Al-Azariqah hanya lebih lunak ,diantaranya :

a. Orang suIriyah yang tidak hijrah tidak dianggap kaIir


b. Mereka tidak sependapat bahwa anak-anak kaum musyrik boleh di bunuh;
c. Tidak semua berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar adalah musyrik,
tetapi mereka membagi dosa kedalam dua bagian yaitu dosa yang sanksinya di
dunia, dan dosa yang sanksinya bukan di dunia. Orang yang di anggap musyrik
adalah orang yang melakukan dosa yang sanksinya bukan di dunia misalnya
meninggalkan shalat.
d. Daerah yang tidak sepaham dengan mereka tidak di anggap sebagai dar al-harb,
tetapi yang boleh di perangi adalah daerah ma`askr, anak-anak dan wanita tidak
boleh di bunuh dan di jadikan tahanan.
e. KuIur di bagi dua macam yaitu kuIur bi inkar al-ni`mah dan kuIur bi inkar ar-
rububiyah atau kuIur mengingkari adanya tuhan.
I. Taqiyah hanya boleh di lakukan dalam bentuk perkataan bukan perbuatan tapi
untuk keamanan dirinya wanita islam boleh kawin dengan lelaki kaIir di daerah
bukan islam.
Al-Ibadiah
Golongan ini merupakan golongan yang paling moderat dari seluruh golongan
khawarij. Namanya diambil dari Abdullah ibn ibad, yang pada tahun 686 M,
memisahkan diri dari golongan al-azariqah. Paham moderat mereka dapat dilihat dari
ajaran-ajaran berikut:
1. Orang islam yang tak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukanlah
musyrik, tetapi kaIir. Dengan orang islam yang demikian boleh diadakan
hubungan perkawinan dan hubungan warisan, syahadat mereka dapat diterima.
Membunuh mereka adalah haram.
Daerah orang islam yang tak sepaham dengan mereka, kecuali camp pemerintah
merupakan /ar tawhi/, daerah orang yang meng-esa-kan Tuhan, dan tak boleh
diperangi. Yang merupakan /ar-kufr , yaitu yang harus diperangi, hanyalah
maaskar pemerintah (maqalat I/171).
3 Orang islam yang berbuat dosa besar adalah muwahhid yang meng-esa-kan
Tuhan, tetapi bukan mukmin(al-milal I/134), dan bukan kaIir almillah, yaitu kaIir
agama (ibid 135). Dengan kata lain, mengerjakan dosa besar tidak membuat
orang keluar dari islam.
4 Yang boleh dirampas dari perang hanyalah kuda dan senjata. Emas dan perak
harus dikembalikan kepada orang empunya.


$ekte-sekte khawarij tersebut membicarakan persoalan hukum bagi orang yang
berbuat dosa besar, apa dia masih dianggap mukmin atau dia telah menjadi kaIir.
Doktrin inilah yang terlihat mendominasi mereka, sedangkan doktrin-doktrin
lainnya hanya sebagai penunjang saja. Pemikiran subsekte ini bersikap praktis
dari pada teoritis sehingga kriteria mukmin dan kaIirnya menjadi tidak jelas. Hal
ini membuat kondisi tertentu seseorang yang bisa menjadi kaIir dan dalam waktu
bersamaan menjadi seorang mukmin.
Tindakan-tindakan khawarij ini membuat risau umat islam saat itu, sebab dengan
cap kaIir yang diberikan salah satu subsekte khawarij tertentu, jiwa seseorang
harus melayang, meskipun oleh subsekte lain masih dianggap mukmin. Bahkan,
dikatakan bahwa jiwa seorang yahudi dan majusi itu lebih berharga dari pada
dengan jiwa seorang mukmin. Namun begitu, ada subsekte khawarij yang agak

lunak, yaitu Najdiyah dan Ibadiyah. Keduanya membedakan antara kaIir nikmat
dan kaIir agama. KaIir nikmat hanya melaksanakandosa dan tidak berterima kasih
kepada Allah. Orang semacam ini tidak perlu dikucilkan dari masyarakat.
Perkembangan selanjutnya, semua aliran yang bersiIat radikal dikategorikan
sebagai golongan khawarij.

Menurut Abdul Qahir golongan Khawarij yang di anggap keluar dari Islam
adalah :
a. Golongan Yazidah
Adalah pengikut Yazid mereka berpendapat bahwa laki-laki boleh mengawini
cucu perempuannya dengan alasan bahwa dalam Al-Qur`an tidak
menyebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang haram untuk di nikahi.
b. Golongan Maimunah
Golongan ini adalah golongan yang mengingkari adanya surat YusuI dalam
Al-Qur`an dan tidak termasuk dalam surat Al-Qur`an.
c. Golongan $yabibiyah
Golongan ini adalah golongan yang membolehkan wanita menjadi kepala
negara asalkan bekerja untuk kepentingan rakyat dan tidak bekerja sama
dengan bukan golongan $yabibiyah.
5. Keistimewaan-keistimewaan Khawarij
Orang-orang Khawarij mempunyai keikhlasan yang sempurna terhadap
akidahnya. Mereka suka berterus terang, tanpa ragu-ragu. Karenanya, Ali ra.
Melarang sahabat-sahabatnya (jemaahnya) membunuh orang-orang yang mencari
kebenaran tetapi tidak menemui sasarannya. Mereka keras sekali beribadah dan
teguh bener-benar mempertahankan siIat kebenaran dan kesetian serta berlepas
diri orang-orang yang berdusta dan mengerjakan maksiat yang nyata. Mereka
mempunyai keberanian yang luar biasa dalam menghadapi musuh dan berterus
terang dalam mempertahankan kebenaran.

B. MURJI`AH
1. Pengertian Murji`ah
Nama murji`ah berasal kata irfa atau arfaa yang bermakna penundaan,
penangguhan, dan pengharapan. Memberi harapan dalam artian memberi harapan kepada
para pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan Allah $WT. $elain itu, irja`a
juga memiliki arti meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang
mengemudikan amal dan iman. Aliran ini di sebut Murji`ah karena mereka menunda
penyelesaian persoalan konIlik politik antara Ali Ibn Abi Thalib, Muawiyah Ibn Abi
$uIyan, dan Khawarij ke hari perhitungan di akhir kelak. Mereka tidak ingin
mengeluarkan pendapat tentang siapa yang benar dan siapa yang di anggap kaIir diantara
ketiga golongan itu. Pendapat lain menyatakan bahwa mereka di sebut murji`ah karena
mereka menyatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar tetap mukmin selama masih
beriman kepada Alloh $WT dan Rasul-Nya. Dosa besar orang tersebut di tunda
penyelesaiannya di akhirat. Maksudnya, kelak di akhirat baru di tentukan hukuman
bagiya.
Aliran Murji`ah ini merupakan golongan yang tak sepaham dengan kelompok Khawarij
dan $yi`ah. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolakbelakang dengan ajaran Khawarij
dan $yi`ah. Pengertian Murji`ah sendiri adalah penangguhan vonis hukuman atas
perbuatan seseorang sampai di pengadilan Alloh $WT, sehingga seorang muslim

sekalipun berdosa besar dalam kelompok ini tetap di akui sebagai muslim dan
mempunyai harapan untuk bertaubat.
Aliran Murji`ah ini muncul pada abad pertama hijriah pendirinya tidak di ketahui dengan
pasti, namun $yahristani dalam Al-Milal Wa An-Nihal (buku tentang perbandingan
agama serta sekte-sekte keagamaan dan FilsaIat) menyebutkan Gailan Al-Dimasyqi
sebagai orang yang membawa paham murjiah ini.
2. $ejarah timbul dan perkembangan Murji`ah
Aliran murjiah muncul sebagi reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya
kaIir mengkaIirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar sebagaimana hal yang
dilakukan oleh aliran Khawarij.
Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal usul Murji`ah. Teori pertama
mengatakan bahwa gagasan Irja atau arja`a dikembangkan oleh sahabat dengan tujuan
menjamin persatuan dan kesatuan umat islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga
bertujuan untuk menghindari sektarianisme (terikat pada satu aliran saja), baik sebagi
kelompok politik maupun teologis.
Awal timbulnya Murji`ah adalah sebagai akibat dari gejolak dan ketegangan pertentangan
politik yaitu soal KhilaIah (keKhaliIahan)yang kemudian mengarah ke bidang teologi.
Pertentangan politik ini terjadi sejak meninggalnya khaliIah Usman Ibn AIIan yang
berlanjut sepanjang masa KhaliIah Ali dengan puncak ketegangannya tejadi pada waktu
perang jamal dan perang $hiIIin. $etelah terbunuhnya KhaliIah Utsman Ibn AIIan, umat
islam terbagi menjadi dua golongan Yaitu Kelompok Ali dan Muawiyah. Kelompok ali
terpecah menjadi dua yaitu $yi`ah (golongan yang tetap setia membela Ali), Khawarij
(golongan yang keluar dari barisan Ali).
Dalam suasana pertentangan ini timbul satu golongan baru Yaitu Murji`ah yang ingin
bersikap netral, tidak mau turut dalam praktek kaIir mengkaIirkan yang terjadi antara
golongan yang bertentangan itu. Bagi mereka, sahabat-sahabat yang bertentangan itu
merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar.
Oleh karena itu, mereka tidak mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya
salah dan memandang lebih menunda penyelesaian persoalan ini kehari perhitungan di
hadapan Tuhan.
Aliran Murji`ah ini berkembang sangat subur pada masa pemerintahan Dinasti Bani
Umayyah. Aliran ini tidak memberontak terhadap pemerintahan, karena bersiIat netral
dan tidak memusuhi pemerintahan yang sah. Dalam perkembangan berikutnya, lambat
laun aliran ini tak mempunyai bentuk lagi, bahkan beberapa ajarannya di akui oleh aliran
kalam berikutnya. $ebagi aliran yang berdiri sendiri, golongan Murji`ah moderat telah
hilang dalam sejarah dan ajaran-ajaran mereka mengenai iman, kuIr dan dosa besar
masuk kedalam aliran Ahli $unnah Wal Jama`ah. $ementara itu, golongan murji`ah
ekstrim pun sudah hilang dan sudah tidak di temui lagi sekarang. Namun, ajaran0ajaran
yang ekstrim itu masih di dapati pada sebagian umat islam yang menjalankan ajaran-
ajarannya. Kemungkinan mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya mengikuti ajaran-
ajaran Murji`ah Ekstrim.

3. Doktrin-doktrin Murji`ah

Ajaran pokok urfiah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin
irfa atau arfaa yang diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik
maupun teologis. Di bidang politik, doktrin irfa diimplementasikan dengan sikap

netral atau nonblok, yang hamper selalu diekspresikan dengan sikap diam. Itulah
sebabnya, kelompok urfiah dikenal pula sebagai the queietists (kelompok
bungkam). $ikap ini akhirnya berimplikasi begitu jauh sehingga membuat
urfiah selalu diam dalam persoalan politik.

Adapun dibidang teologi, doktrin irfa dikembangkan Murji`ah ketika
menanggapi persoalan-persoalan teologis yang muncul pada saat itu. Pada
perkembangan berikutnya, persoalan-persoalan yang ditanggapinya menjadi
semakin kompleks sehingga mencakup iman, kuIur, dosa besar, dan ringan,
tauhid, taIsir, eslato;ogi, pengampunan atas dosa besar, kemaksuman nabi,
hukuman atas dosa, ada yang kaIir dikalangan generasi awal Islam, tobat, hakikat
al-qur`an, nama dan siIat Allah, serta ketentuan Tuhan.
Ajaran pokok Murjiah pada dasrnya ada dua, yaitu:
a. Tentang pelaku dosa besar, bahwa selama seseorang meyakini tiada tuhan
selain Alloh $WT dan Muhammad adalah Rasul-Nya, maka ia di anggap
mukmin bukan kaIir, karena amal tidak sampai merusak iman. Kalupun ia
tidak di ampuni Alloh $WT dan dimasukan kedalam neraka, ia tidak kekal di
dalamnya seperti orang kaIir.
b. Iman adalah keyakinan dalam hati bahwa tiada tuhan selain Alloh $WT dan
Muhammad $AW adalah rasul-Nya

Berkaitan dengan teologi urfiah, W. Montgomery Watt merinci sebagai
berikut:

a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah
memutuskannya di akhirat kelak.
b. Penangguhan Ali untuk menduduki ranking keempat dalam peringkat Al-
Khalifah Ar-Rasyi/in
c. Pemberian harapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk
memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.
d. Doktrin-doktrin urfiah menyerupai pengajaran para skeptic dan empiris
dari kalangan Helenis.

Masih berkaitan dengan doktrin urfiah, Harun Nasution menyebutkan
empat ajaran pokoknya, yaitu:
a. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-
Asy`ary yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah di hari kiamat
kelak.
b. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa
besar.
c. Meletakkan (pentingnya) iman daripada amal.
d. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk
memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah.

$ementara itu, Abu A` la Al-Madudi menyebutkan dua doktrin pokok ajaran
Murji`ah, yaitu:
a. Iman adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun alam atau
perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini,
seseorang tetap dianggap mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang
diIardukan dan melakukan dosa besar.

b. Dasar keselamatan adalah iman semata. $elama masih ada iman di hati, setiap
maksiat tidak dapat mendatangkan madarat atau gangguan atas seseorang. Untuk
mendapatkan pengampunan, manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari syirik
dan mati dalam keadaan akidah tauhid.
4. $ekte-sekte Murji`ah

Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji`ah itu sendiri tampaknya dipicu oleh
perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para pendukung Murji`ah sendiri.
Muhammad Imarah menyebutkan sekte-sekte Murji`ah sebagai berikut:
1. Al-Jahmiyah, pengikut Jahm bin $huIwan
2. Ash-$halihiyah, pengikut Abu Musa Ash-$halihi
3. Al-Yunushiyah, pengikut Yunus as-$amary
4. As-$amriyah, pengikut Abu $amr dan Yunus
5. Asy-$yaubaniyah, pengikut Abu $yauban
6. Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan al-Ghailan bin Marwan ad-Dimsaqy
7. An-Najariyah, pengikut al-Husain bin Muhammad an-Najr
8. Al-HanaIiyah, pengikut Abu HaniIah an-Nu`man
9. Asy-$yabibiyah, pengikut Muhammad bin $yabib
10. Al-Mu`aziyah, pengikut Muadz ath-Thaumi
11. Al-Murisiyah, pengikut Basr al-Murisy
12. Al-Karamiyah, pengikut Muhammad bin Karam as-$ijistany

Adapun Ash-$yarastani menyebutkan $ekte-sekte Murji`ah sebagai berikut:
1. Murji`ah Khawarij
Mereka adalah $yabibiyyah dan sebagian kelompok $haIariyyah yang tidak
mempermasalahkan pelaku dosa besar.
2. Murji`ah Qadariyah
Mereka adalah orang yang dipimpin oleh Ghilan Ad Damsyiki sebutan mereka Al Ghilaniah
3. Murji`ah Jabariyah
Mereka adalah Jahmiyyah (para pengikut Jahm bin $haIwan), Mereka hanya mencukupkan
diri dengan keyakinan dalam hati saja .Dan menurut mereka maksiat itu tidak berpengaruh
pada iman dan bahwasanya ikrar dengan lisan dan amal bukan dari iman.
4. Murji`ah Murni
Mereka adalah kelompok yang oleh para ulama diperselisihkan jumlahnya.

5.Murji`ah $unni
Mereka adalah para pengikut HanaIi, termasuk di dalamnya adalah Abu HaniIah dan gurunya
Hammad bin Abi $ulaiman juga orang-orang yang mengikuti mereka dari golongan Murji`ah
KuIah dan yang lainnya. Mereka ini adalah orang-orang yang mengakhirkan amal dari
hakekat iman.
$edangkan Harun Nasution, secara garis besar mengklasiIikasikan Murji`ah hanya
menjadi dua $ekte, yaitu:

1. Murji`ah Moderat, adalah iman cukup dengan membenarkan dalam hati (Tashdiqun bil

Qalbi) dan diucapkan dengan lisan (Ikrarun bil Lisan), tidak perlu mengaplikasikannya ke
dalam perbuatan (Amalun bil Jawarir). Murji`ah Moderat berpendirian bahwa pendosa besar
tetap mukmin, tidak kaIir, dan tidak pula kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sebesar
dosanya dan apabila diampuni oleh Allah tidak akan masuk neraka lagi sama sekali.
Mengenai Iman Murji`ah Moderat berpendapat bahwa Iman adalah pengetahuan tentang
Tuhan dan Rasul-Rasul-Nya serta apa saja yang dating dari Allah secara keseluruhan namun
dalam garis besar. Iman seseorang tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Penggagas
Murji`ah Moderat adalah Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Thalib, Abu HaniIah, Abu
YusuI, dan beberapa Ahli Hadist lainnya.

2. Murji`ah Ekstrim, adalah Iman cukup hanya dengan membenarkan dalam hati saja. Tidak
perlu pengucapan dengan lisan dan pengaplikasian ke dalam perbuatan. Murji`ah Ekstrim
terdiri dari: Al-Jahmiyah, Ash-$halihiyah, Al-Yunusiyah, Al-Ubaidiyah, dan Al-Hasaniyah.
Yang mana pandangan tiap-tiap kelompok itu dijelaskan sebagai berikut:
a. Al-Jahmiyah
Di pelopori oleh Jahm Ibn $oIwan. Berpendapat bahwa iman adalah mempercayai
Alloh $WT , rasul-rasul-Nya dan segala sesuatu yang datang dari Alloh $WT. $ebaliknya,
kaIir adalah tidak mempercayai hal-hal tersebut diatas.
b. Ash-$halihiyah

Kelompok Abu Hasan Ash-$halihi, berpendapat bahwa Iman adalah mengetahui
Tuhan, sedangkan KuIur adalah tidak tahu Tuhan. $holat bukan merupakan ibadah kepada
Allah, karena yang disebut ibadah adalah iman kepada Allah dalam arti mengetahui Tuhan.
Begitu juga dengan zakat, puasa, dan haji bukanlah ibadah melainkan sekedar
menggambarkan kepatuhan saja.
c. Al-Yunusiyah
Pengikut dari Yunus Ibn an-Namiri. Berpendapat bahwa iman adalah totalitas dari
pengetahuan tentang Tuhan, kerendahan hati, dan tidak takabur. KuIur adalah kebalikan dari
itu.Contohnya Iblis yang dikatakan kaIir bukan karena tidak percaya kepada Tuhan melainkan
karena kesombongannya.
d.Al-Ubaidiyah
Dipelopori oleh Ubaid al-Maktaib, pendapatnya pada dasarnya sama dengan
yunusiyah,sekte ini berpendapat bahwa jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan
beriman ,maka semua dosa dan perbuatan jahatnya tidak akan merugikannya atau tidak
merusak imannya.
e.Al-Gailaniyah
Dipelopori oleh Gailan al-dimasyqi berpendapat bahwa iman adalah makriIat kepada
Alloh $WT melalui nalar dan menunjukansikap mahabbah dan tunduk kepadanya.
I.Al-$aubaniyah
Golongan yang dipimpin oleh Abu $auban.Prinsip ajarannya sama dengan sekte Al-
Gailaniyah,namun mereka menambahkn bahwa yang termasuk iman adalah mengetahui dan

mengakui sesuatu yang menurut akal wajib dikerjakan . dengan demikian , sekte ini mengakui
adanya kewajiban-kewajiban yang dapat diketahui akal sebelum datangnya syariat
g.Al-Marisyiah
Golongan ini dipelopori oleh Bisyar Al-Marisyi. Berpendapat bahwa iman disamping
meyakini dalam hati bahwa tiada tuhan selain Alloh $WT dan Muhammad $AW adalah
Rasul-Nya , juga harus diucapkan secara lisan. Jika tidak diyakini dalam hati dan diucapkan
dengan lisan,maka tidak dikatakan iman.
h.Al-Karamiyah
Golongan ini dipelopori oleh Muhammad Ibn Karram. Berpendapat bahwa iman adalah
pengakuan secara lisan dan kuIur adalah pengingkaran secara lisan. Mukmin dan kaIirnya
seseorang dapat diketahui melalui pengakuannya secara lisan.
I.Al-Khassaniyah
Kelompok ini menmyebutkan bahwa jika seseorang mengatakan, 'saya tahu Tuhan
melarang makan babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing
ini. Maka orang tersebut tetap mukmin bukan kaIir. Begitu pula orang yang mengatakan,
'saya tahu Tuhan mewajibkan naik Haji ke Ka`bah bagi yang mampu, tetapi saya tidak tahu
apakah Ka`bah itu di India atau tempat lain.





















BAB III
KE$IMPULAN

Kata khawarij secara etimologi berasal dari bahasa arab, yaitu kharaja yang berarti keluar,
muncul, timbul atau memberontak, adalah orang-orang yang keluar dari barisan Ali Ibn Ali Thalib.
Kaum khawarij memendang diri mereka sebagai orang-orang yang keluar dari rumah semata-mata
untuk berjuang di jalan Alloh $WT.
Nama murji`ah berasal kata irfa atau arfaa yang bermakna penundaan, penangguhan, dan
pengharapan. Memberi harapan dalam artian memberi harapan kepada para pelaku dosa besar untuk
memperoleh pengampunan Allah $WT. $elain itu, irja`a juga memiliki arti meletakkan dibelakang
atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dan iman. Aliran ini di sebut Murji`ah
karena mereka menunda penyelesaian persoalan konIlik politik antara Ali Ibn Abi Thalib, Muawiyah
Ibn Abi $uIyan, dan Khawarij ke hari perhitungan di akhir kelak.
Diantara doktrin-doktrin pokok khawarij adalah sebagai berikut:
1. KhaliIah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh kaum muslimin;
2. KhaliIah tidak harus berasal dari keturunan Arab.
3. KhaliIah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan
menjalankan syariat islam. Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan
kedzaliman;
4. KhaliIah sebelum Ali (Abu Bakar, Umar bin khattab, dan Utsman bin AIIan)adalah
sah.
Tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kekhaliIahannya, Utsman r.a dianggap telah
menyeleweng;
5. KhaliIah Ali adalah sah, tetapi setelah adanya Arbitrase, ia dianggap telah
menyeleweng;
6. Muawiyah dan Amr bin Ash serta Abu Musa Alasy`ari juga telah dianggap
menyeleweng dan telah menjadi kaIir;
7. Pasukan perang jamal yang telah melawan Ali juga kaIir;
8. $eseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh.
Yang lebih parah, mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kaIir
apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kaIir dengan
resiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula.
9. $etiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak
mau bergabung maka ia wajib diperangi karena hidup dalam Dar el-harb (Negara
Musuh), sedang golongan mereka sendiri dianggap berada dalm dar al-islam
(Negara Islam);
10. $eseorang harus menghindar dari pimpinanyang menyeleweng;
11. Adanya wa`ad dan wa`id (Orang yang baik harus masuk surga,sedangkan yang
jahat harus masuk kedalam neraka);
12. Amar ma`ruI nahi munkar;

13. Memalingkan ayat-ayat al-qur`an yang tampak Mustasabihat (samar);


14. Qur`an adalah makhluk;
15. Manusia bebas memutuskan perbuatannya, bukan dari Tuhan
Ajaran pokok Murjiah pada dasrnya ada dua, yaitu:
c. Tentang pelaku dosa besar, bahwa selama seseorang meyakini tiada tuhan
selain Alloh $WT dan Muhammad adalah Rasul-Nya, maka ia di anggap
mukmin bukan kaIir, karena amal tidak sampai merusak iman. Kalupun ia
tidak di ampuni Alloh $WT dan dimasukan kedalam neraka, ia tidak kekal di
dalamnya seperti orang kaIir.
d. Iman adalah keyakinan dalam hati bahwa tiada tuhan selain Alloh $WT dan
Muhammad $AW adalah rasul-Nya


Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murji`ah tampaknya dipicu oleh perbedaan
pendapat yang terjadi di kalangan para pendukung Murji`ah sendiri.
Muhammad Imarah menyebutkan sekte-sekte Murji`ah sebagai berikut:
1. Al-Jahmiyah, pengikut Jahm bin $huIwan
2. Ash-$halihiyah, pengikut Abu Musa Ash-$halihi
3. Al-Yunushiyah, pengikut Yunus as-$amary
4. As-$amriyah, pengikut Abu $amr dan Yunus
5. Asy-$yaubaniyah, pengikut Abu $yauban
6. Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan al-Ghailan bin Marwan ad-Dimsaqy
7. An-Najariyah, pengikut al-Husain bin Muhammad an-Najr
8. Al-HanaIiyah, pengikut Abu HaniIah an-Nu`man
9. Asy-$yabibiyah, pengikut Muhammad bin $yabib
10. Al-Mu`aziyah, pengikut Muadz ath-Thaumi
11. Al-Murisiyah, pengikut Basr al-Murisy
12. Al-Karamiyah, pengikut Muhammad bin Karam as-$ijistany











DAFTAR PU$TAKA
Muthalib, Abdul. (1996). $ejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Universitas terbuka.
Rozak, Abdul. Dan Anwar, Rosihon. (2000) Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka
$etia.
Nasution, Harun. (2002). Teologi Islam. Jakarta: Universitas Terbuka.