Anda di halaman 1dari 4

PerIu kita pahami, perbincangan seputar masyarakat madani (di Asia)

sudah ada sejak tahun 1990-an, akan tetapi sampai saat ini, konsep masyarakat
madani Iebih diterjemahkan sebagai masyarakat sipiI (civil society) oIeh beberapa
pakar SosioIogi.
Untuk Iebih jeIasnya, kita perIu menganaIisa secara historis kemuncuIan
masyarakat madani dan kemuncuIan istiIah masyarakat sipiI.
Masyarakat sipiI adaIah terjemahan dari istiIah Inggris 'civil society' yang
mengambiI dari bahasa Latin 'civilas societas'. Secara historis karya Adam
Ferguson (1723-1816), daIam karya kIasiknyaAn Essay on History of Civil
Society (1767) merupakan saIah satu titik asaI penggunaan ungkapan masyarakat
sipiI (civil society).Gagasan masyarakat sipiI merupakan tujuan utama daIam
membongkar konsep masyarakat modeI Marxisme. Masyarakat sipiI menampiIkan
dirinya sebagai wiIayah yang mengedepankan kepentingan individuaI,
pemenuhan hak-hak individu secara bebas. Masyarakat sipiI merupakan bagian
dari masyarakat yang menentang struktur poIitik (daIam konteks tatanan sosiaI
yang monarkis, feodaI ataupun borjuis) serta membatasi diri dari Iingkaran
negara.1]
Konsep civiI society Iebih Ianjut dikembangkan oIeh kaIangan pemikir
berikutnya seperti Rousseau, HegeI, Marx dan TocqueviIIe.
Dari berbagai versi tentang konsep civiI society tersebut, Asrori S. Karni
daIam Ahmad Baso (1999) menyimpuIkan ada 5 (Iima) teori civil society yang ada
di Barat :
Pertama, teori Hobbes dan Locke, yang menempatkan civiI society sebagai
penyeIesai dan peredam konfIik daIam masyarakat. Jadi, civiI society disamakan
dengan negara.
Kedua, teori Adam Ferguson, yang meIihat civiI society sebagai gagasan
aIternatif untuk memeIihara tanggung jawab dan kohesi sosiaI serta menghindari
ancaman negatif individuaIisme, berupa benturan ambisi dan kepentingan
pribadi. CiviI society dipahami sebagai entitas yang sarat dengan visi etis berupa
rasa soIider dan kasih sayang antar sesama.
Ketiga, teori Thomas Paine, yang menempatkan civil societysebagai
antitesis negara. Negara harus dibatasi sampai sekeciI-keciInya, karena
keberadaannya hanyaIah keniscayaan buruk beIaka (necessary evil).
Keempat, teori HegeI dan Marx, yang tidak menaruh harapan berarti
terhadap entitas civiI society. KonseptuaIisasi mereka tentang civiI society bukan
untuk memberdayakannya atau menobatkannya, tetapi Iebih untuk mengabaikan
dan bahkan meIenyapkannya.
KeIima, teori TocquiviIIe, yang menempatkan civiI society sebagai entitas
untuk mengimbangi (balancing force) kekuatan negara, meng-counter hegemoni
negara dan menahan intervensi berIebihan negara.
Adapun Adam SeIigman mengemukakan dua penggunaan istiIah Civil
Society dari sudut konsep sosioIogis. Yaitu, civil society dalam tatataran
kelembagaan/organisasi sebagai tipe sosiologi politik dan membuat civil
society sebagai suatu fenomena dalam dunia nilai dan kepercayaan.2]

Apa yang meIatar beIakangi muncuInya CiviI Society?
Ide civiI society muncuI di Eropa antara abad ke-17 dan abad ke-18, ide itu
muncuI dari kondisi krisis daIam sociaI order dan kebuntuan daIam paradigma
tentang order itu sendiri.3] Secara umum krisis di AEropa abad ke-17 meIiputi;
komersiaIisasi tanah, tenaga kerja, dan modaI; pertumbuhan ekonomi pasar;
abad penemuan/kebangkitan sains; hingga revoIusi kontinentaI Inggris dan
Amerika.4]
Jadi, konsep civiI society Iahir dan tumbuh dari daratan Eropa sekitar abad
ke-17 M daIam konteks masyarakat yang muIai meIepaskan diri dari dominasi
agamawan dan para raja yang berkuasa atas dasar Iegitimasi agama. Agama saat
itu muIai tersekuIarisasi5] daIam arti wewenang dan Iegitimasi kekuasaan muIai
diIepaskan dari tangan agamawan. Di Eropa itu puIa tumbuh ide demokrasi yang
diawaIi dengan RevoIusi Perancis (1789) dan tumbuh puIa sistem ekonomi
kapitaIisme yang IiberaIistik. CiviI society sebagai gagasan adaIah anak kandung
fiIsafat Pencerahan (Enlightenment) yang meretas jaIan bagi muncuInya
sekuIarisme sebagai weltanschauung yang menggantikan agama (gereja), dan
sistem poIitik demokrasi sebagai pengganti sistem monarkhi.
Dengan demikian, civiI society asIinya adaIah bersifat sekuIaristik6], yang
teIah mengesampingkan peran agama dari segaIa aspek kehidupan. Dan tentu
saja civiI society tidak dapat diIepaskan dari kesatuan organiknya dengan
konsep-konsep Barat Iainnya, seperti demokrasi, IiberaIisme, kapitaIisme,
rasionaIisme, dan individuaIisme.

Bagaimana dengan konsep Masyarakat Madani?
Masyarakat madani merupakan istiIah bahasa Indonesia. MunciInya istiIah
'masyarakat madani' di Indonesia adaIah bermuIa dari gagasan Dato Anwar
Ibrahim, ketika itu tengah menjabat sebagai Menteri keuangan dan Asisten
Perdana Menteri MaIaysia, ke Indonesia membawa istiIah "masyarakat madani"
sebagai terjemahan civil society", daIam ceramahnya pada simposium
nasionaI daIam rangka Forum IImiah pada acara festivaI IstiqIaI, 26 september
1995.
Dewasa ini, di Indonesia istiIah masyarakat madani semakin banyak
didengungkan, muIa-muIa terbatas di kaIangan inteIektuaI, misaInya NurchoIish
Madjid, EmiI SaIim, dan Amien Rais. Perkembangan wacannya menunjukkan
istiIah masyarakat madani juga disebut-sebut oIeh tokoh-tokoh pemerintahan
dan poIitik, misaInya mantan Presiden B.J. habibie, Wiranto, SoesiIo bambang
Yudoyono dan masih banyak Iagi.7]
IstiIah masyarakat madani pun sebenarnya sangatIah baru, hasiI
pemikiran Prof. Naquib aI-Attas seorang fiIosof kontemporer dari negeri jiran
MaIaysia daIam studinya baru-baru ini. Kemudian mendapat Iegitimasi dari
beberapa pakar di Indonesia termasuk seorang NurchoIish Madjid yang teIah
meIakukan rekonstruksi terhadap masyarakat madani daIam sejarah isIam pada
artikeInya "enuju asyarakat adani".8]
Namun, istiIah masyarakat madani memiIiki akar istiIah bahasa Indonesia
serapan dari bahasa Arab. Jadi, peneIitian secara bahasa, Iatar beIakang sosio-
historis IsIam atas istiIah 'madani' sangatIah penting untuk memahami dinamika
(kemungkinan perubahan makna dari zaman ke zaman) serta penarikan simpuI
makna yang dikandungnya (reIevan) saat ini.

Apakah Civil Society sepadan dengan Masyarakat Madani?
Memencari padan kata "masyarakat madani" daIam Iiteratur bahasa kita
memang agak suIit. KesuIitan ini tidak hanya disebabkan karena adanya
hambatan psikoIogis untuk menggunakan istiIah-istiIah tertentu yang berbau
Arab-IsIam tetapi juga karena tiadanya pengaIaman empiris diterapkannya niIai-
niIai "masyarakat madaniyah" daIam tradisi kehidupan sociaI dan poIitik bangsa
kita.
Banyak orang memadankan istiIah ini dengan istiIah civil society, societas
civilis (Romawi) atau koinonia politike (Yunani). PadahaI istiIah "masyarakat
madani " dan civil society berasaI dari dua sistem budaya yang berbeda.
Masyarakat madani merujuk pada tradisi Arab-IsIam sedang civil society tradisi
Barat non-IsIam. Perbedaan ini bisa memberikan makna yang berbeda apabiIa
dikaitkan dengan konteks istiIah itu muncuI.9]
DaIam bahasa Arab, kata "madani" tentu saja berkaitan dengan kata
"madinah" atau 'kota", sehingga masyarakat madani biasa berarti masyarakat
kota atau perkotaan . Meskipun begitu, istiIah kota disini, tidak merujuk semata-
mata kepada Ietak geografis, tetapi justru kepada karakter atau sifat-sifat tertentu
yang cocok untuk penduduk sebuah kota. Dari sini kita paham bahwa
masyarakat madani tidak asaI masyarakat yang berada di perkotaan, tetapi yang
Iebih penting adaIah memiIiki sifat-sifat yang cocok dengan orang kota, yaitu
yang berperadaban. DaIam kamus bahasa Inggris diartikan sebagai kata
"civilized", yang artinya memiIiki peradaban (civilization), dan daIam kamus
bahasa Arab dengan kata "tamaddun" yang juga berarti peradaban atau
kebudayaan tinggi.10]
Penggunaan istiIah masyarakat madani dan civil society di Indonesia
sering disamakan atau digunakan secara bergantian. HaI ini dirasakan karena
makna diantara keduanya banyak mempunyai persamaan prinsip pokoknya,
meskipun berasaI dari Iatar beIakang system budaya negara yang berbeda.
Masyarakat Madani merujuk kepada sebuah masyarakat dan negara yang
diatur oIeh hukum agama, sedangkan masyarakat sipiI merujuk kepada
komponen di Iuar negara. Syed Farid AIIatas seorang sosioIog sepakat dengan
Syed M. AI Naquib AI Attas (berbeda dengan para sosioIog umumnya),
menyatakan bahwa faham masyarakat Madani tidak sama dengan faham
masyarakat SipiI. IstiIah Madani, Madinah (kota) dan ad-Din (diterjemahkan
sebagai agama) semuanya didasarkan dari akar kata d-y-n. Kenyataan bahwa
nama kota Yathrib berubah menjadi Madinah bermakna di sanaIah ad-
Din (Syari'ah IsIam) berIaku dan ditegakkan untuk semua keIompok (kaum) di
Madinah.11]
MeniIik pengaIaman sosio-historis IsIam, masyarakat madani merupakan
refresentasi dari masyarakat Madinah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW,
yang oIeh Robert N. BeIIah, sosioIog agama terkemuka, disebut
sebagai "masyarakat yang untuk zaman dan tempatnya sangat modern, bahkan
terlalu modern, sehingga sewafatnya Nabi, Timur tengah dan umat manusia saat
itu belum siap dengan prasarana sosial yang diperlukan untuk menopang suatu
tatanan sosial yang modern seperti yang pernah dirintis Nabi SAW".12]
DaIam IsIam negaraIah yang bertanggungjawab terhadap urusan
masyarakat. Negara daIam perspektif IsIam bukanIah sekedar aIat untuk
menjamin dan menjaga kemasIahatan individu saja sebagaimana haInya
IiberaIisme-kapitaIisme akan tetapi merupakan suatu institusi yang mengurusi
kebutuhan individu, organisasi (jamaah), dan masyarakat sebagai satu kesatuan,
baik urusan daIam maupun Iuar negerinya, sesuai dengan peraturan tertentu
yang membatasi hak dan kewajiban masing-masing. Sebagaimana yang
dinyatakan oIeh Bernard Lewis, bahwa sejak zaman Nabi uhammad, umat
Islam merupakan entitas politik dan agama sekaligus, dengan uhammad
sebagai kepala Negara".13]
Jadi, secara historis pun antara konsep civil society dengan masyarakat
madani tidak memiIiki hubungan sama sekaIi. Masyarakat Madani bermuIa dari
perjuangan Nabi Muhammad SAW menghadapi kondisi jahiIiyyah masyarakat
Arab Quraisy di Mekkah. BeIiau (sang Nabi) memperjuangkan kedauIatan, agar
seIuruh keIompok di kota Madinah terbebaskan (terjamin hak-haknya) serta
ummatnya (MusIim) IeIuasa menjaIankan syari'at agama di bawah suatu
perIindungan hukum yang disepakati bersama (piagam Madinah).