Anda di halaman 1dari 9

Scribd Upload a Document Search Documents Explore

Elwazz Adixs / 53

Download this Document for Free 3Kebutuhaan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan teknologi, kebijakanpemerintah, kajian-kajian filosofis serta faktorfaktor lain dalam aspek sosial,ekonomi, politik, hukum adalah sejumlah faktor dari keseluruhan yang harusdiperhatikan oleh pengembang kurikulum sehingga semangat perubahan yangsenantiasa terjadi dalam kehidupan akan selalu direspon secara positif denganmenghadirkan kurikulum yang bercirikan semangat mengikuti perkembangan danperubahan yang terjadi. Kecendrungan yang terjadi dan sudah merupakan sebuah sunnatullah bahwa tidak ada yang tetap dalam hidup ini selain dari perubahan itusendiri sehingga perubahan yang terjadi dalam kurikulum kita selama ini tentunyadapat dimaknai sebagai upaya responsif dari pengembang kurikulum di Indonesiauntuk menjawab tuntutan dan mengikuti ritme perubahan.Fenomena yang menarik yang perlu dicermati adalah munculnya opini umumyang berkembang di masyarakat bahwa pergantian kurikulum identik denganpergantian kepemimpinan khususnya pada jajaran kementiran pendidikan danmemperlihatkan ketidakkonsistenan pemerintah dalam menata pendidikan, apabilakita kembalikan pada konsep perubahan maka opini ini perlu kiranya disikapi secaraarif dan seharusnya pemahaman masyarakat perlu digiring sehingga terciptapandangan dan penilaian yang positif terhadap perubahan yang terjadi namun disisilain pihak yang berwenang malakukan perubahan kurikulum ini kiranya dapatmenjadikan lontaran kritik ini sebagai input berharga untuk perbaikan kedepannya.Perubahan kurikulum yang telah dilakukan beberapa kali di negara kita padahakekatnya adalah upaya pengembangan kurikulum dalam rangka perbaikan danmerespon berbagai tuntutan dan kepentingan yang ada, munculnya persoalan-persoalan baru dan kemelut yang terjadi seputar pergantian ini serta opini ditengahmasyarakat adalah sebagai bentuk kekecewaan dari masyarakat antara idealita danrealita yang terjadi. Persoalan pokok tidak terletak pada substansi perubahankurikulum itu akan tetapi terjadinya gap antara konsep yang sangat idealisitik denganimplementasi yang memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak menjadisolusi, diantaranya adalah persoalan KTSP yang telah ditetapkan pemerintah sebagai 4kurikulum terbaru sejak tahun 2006 memunculkan beberapa persoalan diantaranyakontradiksi UN dengan semangat KTSP yang desentralisitik, ketidaksiapan sekolahdengan sarana pendukung dan tenaga pengajar yang belum memenuhi kualifikasiyang diharapkan, KTSP sebagai kurikulum baru masih dipahami sangat minim olehguru dan pengembang kurikulum di sekolah sehingga sangat kesulitan dalammengimplementasikannya dan persoalan mentalitas serta mindset guru disekolahyang masih mempertahankan cara berpikir dengan paradigma lama. Dalam tataranpengembangan kurikulum persoalan ini adalah persoalan perencanaan kurikulumyang belum matang sehingga akan merembet kepersoalan implemtasi yang tidak memenuhi harapan serta evaluasi. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh S.Hamid(2008) yang berpendapat bahwa pengalaman negara kita dalam melakukanpengembangan kurikulum dari periode ke periode menunjukkan pengembangankurikulum terencana dengan baik hanya untuk curriculum construction yangmenghasilkan dokumen kurikulum yang baik akan tetapi tidak baik dalam curriculumimplementation dan curriculum evaluation. Disamping persoalan yang berpusatseputar konstruksi kurikulum yang berpengaruh pada implementasinya persoalan lainyang sangat mendasar dan belum disentuh secara serius adalah persoalan evaluasikurikulum. Pergantian kurikulum seharusnya didahului dengan kegiatan melakukanevaluasi secara utuh dan mendalam terhadap kelemahan-kelemahan yang munculpada kurikulum sebelumnya dan dilakukannya studi pendahuluan dalam bentuk research dan

development untuk kurikulum yang akan dipakai pada periodeselanjutnya, diisamping itu persoalan mendasar lainnya dalam kurikulum kita hari iniadalah lemahnya manajemen kurikulum khususnya pada tataran implementasi danevaluasi, sedangkan secara konsepsi memperlihatkan hal yang sebaliknya, makaperhatian pengembang kurikulum secara makro harus memfokuskan pada tiga aspek penting dalam tahapan pengembangan kurikulum yaitu tahap konstruksi,impelementasi dan evaluasi kurikulum yang harus di menej dengan baik olehmanajer-menejer kurikulum yang diperankan oleh pengembang kurikulum. Seiringdengan paradigma baru yang dikembangkan dalam pengelolaan pendidikan hari ini 5yaitu otonomisasi dan desentralisasi dalam bentuk manajemen berbasis sekolah makapengembangan kurikulum pun harus terkelola dengan baik dan profesional yangmengikuti proses manajemen yang profesional pula.Dalam manajemen bisnis pembicaraan tentang profesionalisme sering dikaitkandengan kinerja sehingga berkembang dalam berbagai terminologi keilmuan danimplementasi dalam kebijakan keuangan negara, seperti konsep manajemen kinerja,anggaran berbasis kinerja dan lain sebagainya. Sebuah temuan yang diperkenalkanoleh Robert S Kaplan tahun 1992 yang melaporkan hasil-hasil proyek penelitian padamultiperusahaan yang memperkenalkan suatu metodologi penilaian kinerja yangberorientasi pada pandangan strategis ke masa depan yaitu konsep balanced scorecard yaitu suatu sistem manajemen, pengukuran, dan pengendalian yang secaracepat, tepat, dan komprehensif yang dapat memberikan pemahaman kepada manajertentang performance bisnis, dalam redaksi yang lain balanced scorecard jugadiartikan sebagai alat komunikasi antara manajemen organisasi dengan karyawanyang berisikan rencana-rencana bisnis strategis yang akan dicapai setiap orang dalamorganisasiKonsep kinerja dengan menggunakan pendekatan balanced scorecard yangsangat populer dalam perusahaan bisnis bukanlah konsep mutlak yang hanya dapatdiimplementasikan pada lingkup perusahaan bisnis saja akan tetapi konsep ini telahdiperluas penerapannya dalam bidang lain seperti organisasi pemerintahan sepertiyang diungkapkan oleh Gaspers (2003;203) bahwa efektifitas aparatur pemerintahharus diukur berdasarkan sejauh mana kemampuan pemerintah meningkatkankesejahteraan masyarakatnya sehingga penilaian kinerja pemerintah secarakomprehensif dapat dengan menggunakan sistem manajemen kinerja balanced scorecard. Konsep kinerja dengan pendekatan balanced scorecard tentunya sangatdimungkinkan untuk dilaksanakan dalam bidang pendidikan khususnyapengembangan kurikulum karena bidang ini juga menjadi sub bagian dari kinerjapemerintah yang memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat sehingga 6Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sedang dilaksanakan masing-masing satuan pendidikan akan dapat dilakukan pengukuran-pengukuran kinerjasehingga akan dapat diketahui, diukur dan dikendalikan kemampuan setiap satuanpendidikan dalam memenej KTSP dilingkungan satuan pendidikannya II. Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka masalah pokok yang akandiangkat sekaligus judul makalah ini adalah Manajemen Pengembangan KurikulumTingkat Satuan Pendidikan dengan Model Balanced Scorecard sebuah tawaranpengelolaan kurikulum berbasis kinerja secara spesifik masalah pokok yang akandiangkat dalam makalah ini adalah:A. Konsep manajemen kurikulum1. Apakah yang dimaksud dengan manajemen pengembangan kurikulum sertafungsi-fungsi pokok manajemen pengembangan kurikulum?2. Bagaimanakah pengimplementasian manajemen pengembangan kurikulumdalam otonomisasi daerah dan dengan kebijakan yang desentralistik?B. Implementasi konsep manajemen dengan pendekatan balanced scorecard dalammanajemen pengembangan kurikulum1. Apakah yang dimaksud dengan pendekatan balanced scorecard dalammanajemen?2.

Bagaimanakah implementasi konsep balanced scorecard dalam manajemenpengembangan kurikulum? III.Prosedur Pemecahan Masalah dan Sistematika Uraian Dua masalah di atas akan dipecahkan dengan menggunakan studi/kajian pustakadari buku, artike, jurnal serta browsing di internet disertai dengan data-data yangtersedia dari berbagai referensi yang relevan dan diperkaya juga dengan hasilpenelitian, seminar dan workshop yang mendukungSistematika uraian dalam makalah ini beragkat dari tiga persoalan atau masalahyang telah dikemukakan di atas: 7A. Konsep kurikulum1. Pengertian kurikulum2. Landasan pengembangan kurikulum3. Komponen-komponen kurikulum4. Tinjauan fungsi dan peranan kurikulumB. Konsep manajamen1. Pengertian manajemen2. Fungsi-fungsi manajemenC. Balanced Scorecard1. Pengertian balanced scorecard 2. Tinjauan umum dan perkembangan balanced scorecard 3. Langkah-langkah implementasi sistem manajemen balanced scorecard 4. Empat persepektif dalam balanced scorecard D. Manajemen pengembangan kurikulum dengan model Balanced Scorecard 1. Konsep pengembambangan kurikulum2. Konsep manajemen pengembangan kurikulum3. Implementasi pendekatan Balanced Scorecard dalam pengembangankurikulum 8 BAB IIPEMBAHASAN

I. KurikulumA. Pengertian Kurikulum Dalam kamus Webster (1856) yang dikutip oleh Nasution (2006:1) istilahkurikulum berarti 1. a race cource; a place for running;a chario, 2. a cource of study in a university. Kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh olehpelari atau kereta dalam perlombaan dari awal sampai akhir, kurikulum juga berarti chariot semacam kereta pacu pada zaman dulu yang membawa seseorang dari strartsampai finish. Kamus webster juga memberikan penjelasan bahwa kurikulum yangdigunakan dalam pendidikan didefenisikan sebagai sejumlah mata pelajaran disekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mencapaisuatu ijazah atau tingkat, kurikulum juga berarti keseluruhan pelajaran yang disajikanoleh suatu lembaga pendidikan. Taylor (1949) mengemukakan empat konsep pentingkurikulum dengan melontarkan empat pertanyaan sentral yang meminta jawabansecara rasional bagi perencanaan kurikulum ialah (1) apa tujuan yang harus dicapai oleh sekolah? (What educational purposed theschool seek attain?) (2) apa pengalaman-pengalaman belajar yang dapat disediakanuntuk mencapai tujuan-tujuan tersebut? (How can learning experiences be selected which are likely to be useful in attaining these objectives?) (3) bagaimanamengorganisasikan pengalaman-pengalaman tersebut? (How can learningexperiences be organized for effective instruction?) (4) bagaimana kita dapatmemutuskan apakah tujuan-tujuan tersebut tercapai! (How ca the effectiveness of learning experiences be evaluated!) Empat pertanyaan pokok yang dikemukakan oleh Taylor mengidentifikasikanempat poin penting dalam konsep kurikulum yaitu tujuan, pengalaman belajar,organisasi dan evaluasi. Taba (1962) berpendapat bahwa kurikulum caramempersiapkan anak agar berpartisipasi sebagai anggota produktif dalam manajemen-pengembangan-ktsp1 Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document Info and Rating

Febriany Nursyaban Share & Embed Related Documents PreviousNext 1.

p.

p.

p.

2.

p.

p.

p.

3.

p.

p.

p.

4.

p.

p.

p.

5.

p.

p.

p.

6.

p.

p.

p.

7.

p.

p.

p.

8.

p.

More from this user PreviousNext 1.

53 p.

Add a Comment

Upload a Document Search Documents


Follow Us! scribd.com/scribd twitter.com/scribd facebook.com/scribd About Press Blog Partners Scribd 101 Web Stuff Scribd Store Support FAQ Developers / API Jobs Terms Copyright Privacy

Copyright 2011 Scribd Inc. Language: English