Anda di halaman 1dari 7

Proses Fisiologi dari Spermatogenesis,

Ereksi, Ejakulasi, dan Pubertas


06 Jul

Spermatogenesis
Peralihan dari bakal sel kelamin yang aktiI membelah ke sperma yang masak serta menyangkut
berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis
berlangsung pada tubulus seminiIerus dan diatur oleh hormone gonadtotropin dan testosterone (
Yatim, 1990).
Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :
1. Spermatocytogenesis
Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit
primer.
Spermatogonia
Spermatogonia merupakan struktur primitiI dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan
cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi
spermatosit primer.
Spermatosit Primer
Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami
meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.
1. Tahapan Meiois
Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera
mengalami meiosis I yang kemudian diikuti dengan meiosis II ( Yatim, 1990).
Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi
masih berhubungan sesame lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan
spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap ( Yatim, 1990).
1. Tahapan Spermiogenesis
Merupakan transIormasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 Iase yaitu Iase golgi,
Iase tutup, Iase akrosom dan Iase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masak.
Dua spermatozoa akan membawa kromosom penentu jenis kelamin wanita 'X. Apabila salah
satu dari spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia yang 23 pasang
kromosom itu akan dipertahankan. Spermatozoa masak terdiri dari :
1. Kepala (caput), tidak hanya mengandung inti (nukleus) dengan kromosom dan bahan
genetiknya, tetapi juga ditutup oleh akrosom yang mengandung enzim hialuronidase yang
mempermudah Iertilisasi ovum.
2. Leher (servix), menghubungkan kepala dengan badan.
3. Badan (corpus), bertanggungjawab untuk memproduksi tenaga yang dibutuhkan untuk
motilitas.
4. Ekor (cauda), berIungsi untuk mendorong spermatozoa masak ke dalam vas deIern dan ductus
ejakulotorius ( Yatim, 1990).
Mekanisme Ereksi
Adanya perasaan erotik maka saraI parasimpatis terpacu dan menyebabkan relaksasi otot polos
pada arteri dan korpus kavernosum, akibatnya darah mengalir ke arteri dan teregang, ruang
kaverna terisi darah arterial dan ruangan membesar. Pembesaran ruangan ini menyebabkan vena
besar yang berdinding tipis tergencet hingga darah sulit meninggalkan melalui vena. Darah yang
mengumpul di korpus kavernosum dengan tekanan yang makin meninggi dan menyebabkan
organ mengeras. Pada saat ini a.helisina yang jalannya bekelok-kelok, secara pasiI teregang dan
menjadi lurus ( Yatim, 1990).
Setelah ejakulasi pengaruh saraI simpatis lebih dominan dan otot polos kembali pada tonusnya,
aliran darah normal kembali, darah yang tertinggal dalam korpus kavernosum tertekan masuk
kedalam vena karena kontraksi otot polos trabekula dan kerutan kembali jaringan elastis. Penis
kembali kebentuk yang normal ( Yatim, 1990).
Ereksi merupakan peningkatan turgiditas organ yang disebabkan pemasukan darah lebih besar
daripada pengeluaarn yang menghasilkan penambahan tekanan dalam penis. Faktor-Iaktor yang
menyebabkan ereksi antara lain vasodilatasi pada arteri (disebabkan oleh ransangan saraI pelvis
yang disebut saraI erigentes dari pleksus pelvis) dan pengurangan aliran vena dari pelvis. Pada
kuda dan anjing saat berereksi terjadi penambahan diameter maupun panjang penis sebab spesies
ini mempunyai jaringan erektil lebih banyak daripada jaringan pengikat lainnya. Ereksi pada
ruminansia dan babi terjadi dengan meluruskan Ileksura sigmoid (R.D. Frandson, 1992).
Ejakulasi
Ejakulasi adalah suatu gerak reIleks yang mengosongkan epididimis, uretra dan kelenjar-kelenjar
kelamin aksesori pada jantan. Dapat terjadi karena ransangan pada glans penis. Dapat juga
ditimbulkan dengan cara masase kelenjar kelamin aksesori melalui rectum atau dengan
menggunakan electric ejaculator (R.D. Frandson, 1992).
Ejakulasi
Ransangan sensori dari glans Rangsangan emosi dari pusat tertinggi
Melalui saraI pudendal dienseIalon
Medula spinalis
Jumalah rangsangan sensori dan emosi menghasilkan orgasme
Pusat lumbalis
Simpatetik motorik parasimpatik motorik
Kontraksi otot polos pada prostat, kontraksi otot serang lintang, vesikula seminalis dan vas
ischiokavernosus, bulbokavernosus
DeIerens. Penutupan spinkter interna dan otot contraktor-urethra
Pemancaran Ejakulasi
(R.D. Frandson, 1992).
Proses ejakulasi berada di bawah pengaruh saraI otonom. Asetilkolin berperan sepagai
neurotransmiter ketika saraI simpatis mengaktivasi kontraksi dari leher kandung kemih, vesikula
seminalis, dan vas deIerens. ReIleks ejakulasi berasal dari kontraksi otot bulbokavernosus dan
ischiokavernosus serta dikontrol oleh saraI pudendus. Singkatnya, ejakulasi terjadi karena
mekanisme reIleks yang dicetuskan oleh rangsangan pada penis melalui saraI sensorik pudendus
yang terhubung dengan persaraIan tulang belakang (T12-L2) dan korteks sensorik (salah satu
bagian otak).
Pubertas (Dewasa Kelamin)
Dapat dideIinisikan sebagai umur atau waktu dimana organ organ reproduksi mulai berIungsi
dan perkembang biakan dapat terjadi. Pada hewan jantan, pubertas ditandai oleh kesanggupan
berkopulasi dan menghasilkan sperma disamping perubahan perubahan kelamin skunder lain.
Pada hewan betina pubertas dicerminkan oleh terjadinya estrus dan ovulasi. Sebelum pubertas,
saluran reproduksi betina dan ovarium perlahan lahan bertambah ukuran dan tidak
menunjukkan aktivitas Iungsional. Pertumbuhan yang lambat ini sejajar dengan pertumbuhan
berat badan sewaktu hewan berangsur dewasa ( Toelihere, 1985 ).
Pubertas, kecuali pada pada hewan hewan yang bermusim, umumnya terjadi apabila berat
dewasa hamper tercapai dan kecepatan pertumbuhan mulai mennurun. Hal ini berarti bahwa
timbulnya pubertas mungkin berhubungan melalui beberapa jalan dengan suatu perubahan
keseimbangan antara pengeluaran gonadotropin dan hormone pertumbuhan oleh kelenjar
adenohypophisa. Umur dan berat hewan sewaktu timbulnya pubertas berbeda beda menurut
species. Karena pengaruh lingkungan, estrus sering terjadi pada umur yang sedemikian
rendahnya sehingga apabila terjadi konsepsi maka kelahiran akan berbahaya karena kelahiran (
Toelihere, 1985 ).
Masa Pubertas :
Kuda 10 24 bulan
Sapi, bangsa eropah 6 18 bln
Sapi, Brahman dan zebu 12 30 bln
kerbau 2-3 thn
Domba 6 12 bulan
babi 5-8 bulan ( Toelihere, 1985 ).
Faktor Faktor Yang Memepengaruhi Pubertas
Pubertas di control oleh mekanisme mekanisme Iisiologik tertentu yang melibatkan gonad dan
kelenjar adenohypophisa, maka pubertas tidak luput dari pengaruh Iactor herediter dan
lingkungan yang bekerja melalui organ organ tersebut ( Toelihere, 1985 ).
Musim; pemeriksaan ovaria pada babi di rumah potong menunjukkan bahwa musim
pemotongan, jadi musim kelahiran, mempunyai pengaruh sangat nyata terhadap pubertas (
Toelihere, 1985 ).
Suhu; pengaruh suhu lingkungan yang konstan terhadap timbulnya pubertas pada sapi sapi dara
Brahman ( Zebu ). Pada sapi sapi dara yang dikandangkan pada suhu 800F ( 28.90C ) pubertas
dicapai pada rata rata umur 398 hari dibandingkan dengan 300 hari pada 500 F (100C). Pada
sapi sapi dara yang ditempatkan dengan kondisi luar, pubertas dicapai pada umur 320 hari.
Makanan; makanan yang cukup perlu untuk Iungsi endokrin yang normal. Tingkatan makanan
tampaknya mempengaruhi sintesa pelepasan hormone dari kelenjar kelenjar endokrin (
Toelihere, 1985 ).
Faktor Iaktor genetic; Iaktor Iaktor genetic yang mempengaruhi umur pubertas dicerminkan
oleh perbedaan antar bangsa, strain, kelompok pejantan dan oleh persilangan dan inbreeding.
Pada umumnya, sapi sapi Brahman dan Zebu mencapai pubertas lebih lambat 6 sampai 12
bulan dari pada sapi sapi bangsa eropah ( Toelihere, 1985 ).
Hormon Yang Berpengaruh Pada Sistem Reproduksi Jantan
Menurut Pearce (1983), hormon gonadotropin merupakan hormon yang merangsang Iolikel giIt
di dalam ovarium dan pada pembentukan spermatozoa dalam testis. Sedangkan menurut Black
and Pickering (1998), hormon ini yaitu LH dan CTH dapat mengontrol sekresi estrogen,
progesteron serta testoteron. Mekanisme gonadotropin dapat dijelaskan sebagai berikut :
Rangsangan hipotalamus gonadotropin gonad
Gonadotropin merangsang alat kelamin seperti testis menghasilkan testosteron dan ovarium
menghasilkan estrogen dan progesteron. Menurut Ville et. al. (1988), terdapat hubungan antara
hipoIisa dan gonad, dengan meningkatnya konsentrasi gonadotropin dalam darah, akan
menghasilkan sejumlah ovalusi tertentu. Injeksi hormon dapat dianggap sebagai gonadotropin
eksogen yang akan merangsang gonadotropin endogen dari kelenjar hipoIisa dan merangsang
steroid secara alami serta senyawa-senyawa lain yang ada dalam gonad.
Folicle Stimulating Hormon (FSH) menyebabkan berkembang dan membesarnya Iolikel di
dalam ovari dengan elaborasi simultan estrogen Iolikel. Peningkatan kadar estrogen yang beredar
menyebabkan produksi FSH dihambat seperti halnya mekanisme umpan balik lainnya.
Menurunnya produksi FSH menyebabkan produksi LH meningkat, sehingga Iolikel menjadi
masak dan terjadilah ovalusi. FSH juga merangsang proses gametogenesis dalam tubulus
seminiverus di testis pada hewan jantan melalui perkembangan spermatozoa spermatosit, tetapi
testosteron dibutuhkan dalam melengkapi perkembangan spermatozoa bersama dengan sekresi
pituitary dari ACSH (LH) yang bekerja dengan testoteron (Gordon, 1982).
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis. Pada tubulus
seminiIerus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium, sel Sertoli yang
berIungsi memberi makan spermatozoa juga sel Leydig yang terdapat di antara tubulus
seminiIerus yang berIungsi menghasilkan testosteron. Proses pembentukan spermatozoa
dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon ( Anonim B, 2009 ).
Kelenjar hipoIisis menghasilkan hormon perangsang Iolikel (Folicle Stimulating Hormone/FSH)
dan hormon lutein (Luteinizing Hormone/LH).
LH merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas,
androgen/testosteron memacu tumbuhnya siIat kelamin sekunder ( Anonim B, 2009 ).
FSH merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan
memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan spermatosit
menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di dalam epididimis dan
membutuhkan waktu selama 2 hari ( Anonim B, 2009 ).
Hormonal dalam Proses Spermatogenesis :
Spermatogonium berkembang menjadi sel spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis
menghasilkan spermatosit sekunder, spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan
spermatid, spermatid berdiIerensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah
selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel
sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipoIisis agar
menghentikan sekresi FSH dan LH ( Anonim B, 2009 ).
Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang dihasilkan oleh
kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper. Spermatozoa bersama cairan
dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air mani. Pada waktu ejakulasi,
seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 400 juta sel spermatozoa ( Anonim B, 2009 ).
Hormon pada Alat Genital Jantan
Proses spermatogenesis distimulasi oleh sejumlah hormon, yaitu testoteron, LH (Luteinizing
Hormone), FSH (Follicle Stimulating Hormone), estrogen dan hormon pertumbuhan ( Anonim
A, 2009 ).
Testoteron
Testoteron disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiIerus. Hormon ini
penting bagi tahap pembelahan sel-sel germinal untuk membentuk sperma, terutama pembelahan
meiosis untuk membentuk spermatosit sekunder ( Anonim A, 2009 ).
LH (Luteinizing Hormone)
LH disekresi oleh kelenjar hipoIisis anterior. LH berIungsi menstimulasi sel-sel Leydig untuk
mensekresi testoteron ( Anonim A, 2009 ).
FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipoIisis anterior dan berIungsi menstimulasi sel-sel
sertoli. Tanpa stimulasi ini, pengubahan spermatid menjadi sperma (spermiasi) tidak akan terjadi
( Anonim A, 2009 ).
Estrogen
Estrogen dibentuk oleh sel-sel sertoli ketika distimulasi oleh FSH. Sel-sel sertoli juga mensekresi
suatu protein pengikat androgen yang mengikat testoteron dan estrogen serta membawa
keduanya ke dalam cairan pada tubulus seminiIerus. Kedua hormon ini tersedia untuk
pematangan sperma ( Anonim A, 2009 ).
Hormon Pertumbuhan
Hormon pertumbuhan diperlukan untuk mengatur Iungsi metabolisme testis. Hormon
pertumbuhan secara khusus meningkatkan pembelahan awal pada spermatogenesis ( Anonim A,
2009 ).
Fungsi sel leidig menghasilkan hormon testosteron yang berIungsi :
mengatur aktivitas kelenjar assesorius, terutama kelenjar prostat.
Memelihara tanda khas jantan (secondary sex characteristics)
Bersama dengan hormon FSH dan HiphoIisa mengatur aktivitas spermatogenesis ( Yatim,
1990).
Hormon LH atau ICSH mengatur aktivitas sel leidig pengaruh ini semakin jelas bila sekaligus
ditambah dengan FSH. Di dalam tubuh hewan memang terjadi inter-relasi antara kelenjar
endokrin tertentu dalam mengatur aktivitas alat reproduksi, misalnya kelenjar hipophisa, adrenal
dan testis sendiri ( Yatim, 1990).
Pada kasus kastrasi (pengebirian) yang berarti menghentikan aktivitas testis, menyebabkan
kelenjar asesorius mundur aktivitasnya, siIat khas jantan berangsur hilang dan kegiatan
spermatogenesis berhenti. Hormon gonadotropin akan mengepul pada pars distalis hipoIisa
akibatnya sel basoIil mengalami perubahan identitasnya selanjutnya dikenal dengan castration
cells. Kastrasi yang dilakukan sebelum dewasa kelamin, tanda khas jantan tidak akan timbul.
Bila kastrasi dilakukan setelah dewasa kelamin, maka perubahan kehilangan tanda khas jantan
akan berlangsung secara lambat. Mungkin ini disebabkan karena korteks adrenalis dapat sedikit
menghasilkan hormon testosteron. Tumor pada kelenjar prostat pada hewan tua, lazimnya
diberikan terapi dengan melalui kastrasi ( Yatim, 1990).
Air mani sering disebut sperma atau semen, terdiri dari campuran spermatozoa dan sekresi
kelenjar asesorius dan epididimis. Sekreta kelenjar selain sebagai pengangkut (vesicle), juga
bekerja sebagai pembawa makanan serta mengaktiIkan gerakan spermatozoa. Kandungan
hialuronidase dalam air mani yang cukup tinggi diduga terdapat pada kepala dari spermatozoa,
enzim mana yang diperlukan pada proses pembuahan, khususnya untuk merusak selaput
sekunder dari ovum ( Yatim, 1990).
Hormon testosteron sangat berpengaruh terhadap kesuburan kelenjar asesorius dan ciri khas
kelamin jantan (secondary sex characteristic). Kastratsi sebelum datangnya dewasa kelamin
menyebabkan perkembangannya kelenjar tersebut berhenti, sedangkan kastrasi pada umur
dewasa menyebabkan kemunduran secara bertahap kelenjar asesorius. Secara histologi telah
dibuktikan bahwa sel kelenjar mengecil dan aktivitas bersekresi mundur. Selanjutnya parenkim
kelenjar mengalami involusi dan digantikan dengan jaringan ikat ( Yatim, 1990).
Kelainan Pada Sistem Reproduksi Jantan
Hipogonadisme : penurunan Iungsi testis yang disebabkan oleh gangguan interaksi hormon,
seperti hormon androgen dan testoteron. Gangguan ini menyebabkan inIertilitas, impotensi dan
tidak adanya tanda-tanda kepriaan. Penanganan dapat dilakukan dengan terapi hormon ( Anonim
A, 2009 ).
Uretritis : peradangan uretra dengan gejala rasa gatal pada penis dan sering buang air kecil.
Organisme yang paling sering menyebabkan uretritis adalah Chlamydia trachomatis, Ureplasma
urealyticum atau virus herpes ( Anonim A, 2009 ).
Prostatitis : peradangan prostat. Penyebabnya dapat berupa bakteri, seperti Escherichia coli
maupun bukan bakteri ( Anonim A, 2009 ).
Epididimitis : inIeksi yang sering terjadi pada saluran reproduksi pria. Organisme penyebab
epididimitis adalah E. coli dan Chlamydia ( Anonim A, 2009 ).
Pimoris : penis tidaak bisa keluar dari preputium karena radang penis (balanitis), tumor penis,
dan genetik ( Anonim A, 2009 ).
Prolapsus preaputialis : mukosa preputium keluar dari preputium karena inIeksi StaIilococcus,
Streptococcus. Corynebacterium piogenes, E. Coli (Mosaheb, 1973)
Neoplasma Penis : tonjolan pada glans penis yang disebabkan oleh virus papilomata yang
bersiIat sporadis (Mosaheb, 1973)
Orkhitis : radang pada testis karena inIeksi Diplococcus, StaIilococcus, Streptococcus,
Corynebacterium piogenes, Microbacterium tuberculosis, Actinomicosis, Brussella abortus,
mikroplasma, Clamidia, Epididymitis penyebabnya sama. (Marcos, 1973)
Cryptochysmus : kegagalan descensus testiculorum sehingga testis tertinggal di cavum
abdomen atau canalis inguinalis (Jainudeen & HaIez, 1987)
Seminal Vesiculitis : radang pada vesicula seminalis yang disebabkan oleh Virus IBR/IPV,
Brussella abortus, Clamidia, Microplasma bovigenitalium, Corynebacterium piogenes, proteus,
Pseudomonas aeroginosa, Tuberculosis, Paratuberculosis, Actinobacillus actinoides, Nocardia,
Iumigatus, Trichomonas Ietus (Al Aubaidi, 1972)

A. Spermatogenesis
Proses pembentukan dan pemasakan spermatozoa disebut spermatogenesis.
Pada tubulus seminiferus testis terdapat sel-sel induk spermatozoa atau
spermatogonium, sel Sertoli yang berfungsi memberi makan spermatozoa juga sel
Leydig yang terdapat di antara tubulus seminiferus yang berfungsi menghasilkan
testosteron. Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa
hormon.
Kelenjar hipofisis menghasilkan hormon perangsang folikel (Folicle Stimulating
Hormone/FSH) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone/LH). LH merangsang sel
Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas,
androgen/testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder. FSH merangsang sel
Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu
spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis. Proses pemasakan
spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Spermiogenesis terjadi di
dalam epididimis dan membutuhkan waktu selama 2 hari.
Proses Spermatogenesis : Spermatogonium berkembang menjadi sel
spermatosit primer. Sel spermatosit primer bermiosis menghasilkan spermatosit
sekunder, spermatosit sekunder membelah lagi menghasilkan spermatid, spermatid
berdiferensiasi menjadi spermatozoa masak. Bila spermatogenesis sudah selesai,
maka ABP testosteron (Androgen Binding Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel
sertoli akan menghasilkan hormon inhibin untuk memberi umpan balik kepada hipofisis
agar menghentikan sekresi FSH dan LH.

Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper.
Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen
atau air mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 400
juta sel spermatozoa.