Anda di halaman 1dari 21

TUGAS : Anamnesa (etiologi, gejala klinis, pemeriksaan penunjang, terapi) dari Kejang Demam Komplek (KDK), Meningitis, Encephalitis

KEJANG DEMAM Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38o C) tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut, terjadi pada anak di atas umur 1 bulan, dan tidak ada riwayat kejang sebelumnya. Kejang Demam Kompleks Adalah kejang demam yang berlangsung lebih dari 15 menit, atau berulang dalam 24 jam. Kejang bersifat fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial. Gejala Klinik Kejang Demam
-

Demam tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi diluar susunan saraf pusat (SSP) seperti tonsilitis, otitis media akut, bronkitis, furunkulosis.

Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti anak tidak memberikan reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf.

Kriteria kejang demam menurut livingtone adalah:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit. Kejang bersifat umum Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu Frekuensi bangkitan kejang didalam 1 tahun tidak melebihi 4x.

normal tidak menunjukkan kelainan.

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria modifikasi Livingston diatas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan faktor pencetus saja.

Kriteria kejang demam menurut Lumbang Tobing, adalah:

1. Adanya kejang dan demam. 2. Tak ada defisi neurologik lain sebelum dan sesudah serangan kejang. 3. Likuor normal. Etiologi Penyebab yang pasti dari terjadinya kejang demam tidak diketahui. Faktor resiko kejang demam yang penting adalah demam. Namun kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang. Selain itu terdapat faktor resiko lain, seperti riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Kejang demam biasanya berhubungan dengan demam yang tiba-tiba tinggi dan kebanyakan terjadi pada hari pertama anak mengalami demam. Dalam literatur disebutkan bahwa infeksi oleh virus herpes simpleks manusia 6 yang merupakan penyebab dari Roseola sering menjadi penyebab pada 20 % pasien kejang demam serangan pertama. Disentri karena Shigella juga sering menyebakan demam tinggi dan kejang demam pada anak-anak. Dan pada sebuah studi dibicarakan mengenai adanya hubungan antara kejang demam yang berulang dengan infeksi virus influenza. Demam dapat muncul pada permulaan penyakit infeksi (ekstrakranial), yang disebabkan oleh banyak macam agent, antara lain : Bakteri
Penyakit pada Traktus Respiratorius :

Pharingitis Tonsilitis Otitis Media Laryngitis Bronchitis Pneumonia


2

Pada traktus gastrointestinal :

Dysenteri Baciller, Shigellosis Sepsis.


Pada traktus urogenitalis :

Pyelitis Cystitis Pyelonephritis Virus: Terutama yang disertai exanthema : Varicella, morbili, dengue Pemeriksaan Anamnesis :

Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu sebelum / saat kejang, frekuensi, interval, pasca kejang, penyebab kejang di luar SSP. Tidak ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.
Riwayat kelahiran, perkembangan, kejang demam dalam keluarga, epilepsi dalam

keluarga. Singkirkan dengan anamnesis penyebab kejang yang lain. Pemeriksaan Neurologis : Tidak didapatkan kelainan. Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan rutin tidak dianjurkan. Pemeriksaan ini dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab kejang demam atau mengevaluasi sumber infeksi. Pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit serum (Kalsium, fosfor, magnesium), ureum, kreatinin, urinalisis, biakan darah, urin, atau feses. Pemeriksaan Radiologi : X-ray kepala, CT scan kepala atau MRI tidak rutin dan hanya dikerjakan atas indikasi. Pemeriksaan pencitraan dapat diindikasikan pada keadaan : Adanya riwayat atau tanda klinis trauma kepala
Kemungkinan adanya lesi struktural di otak (mikrosefal, spastisitas) 3

Adanya tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran menurun,

muntah berulang, fontanel anterior menonjol, paresis saraf otak, atau edema papil). Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) : Tindakan pungsi lumbal untuk pemeriksaan CSS dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Pada bayi kecil, klinis meningitis tidak jelas, maka tindakan pungsi lumbal dikerjakan dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Bayi < 12 bulan : diharuskan. 2. Bayi antara 12 18 bulan : dianjurkan. 3. Bayi > 18 bulan : tidak rutin, kecuali bila ada tanda-tanda meningitis. Pemeriksaan Elektro Ensefalografi (EEG) : Tidak direkomendasikan, kecuali pada kejang demam yang tidak khas (misalnya kejang demam komplikata pada anak usia > 6 tahun atau kejang demam fokal. Pemeriksaan ini biasanya dipertimbangkan pada keadaan kejang demam kompleks, kejang fokal, dan kesadaran menurun. PENANGANAN UMUM KEJANG DEMAM

Jangan panik berlebihan. Jangan masukkan sendok atau jari ke mulut. Jangan memberi obat melalui mulut saat anak masih kejang atau masih belum Letakkan anak dalam posisi miring, buka celananya kemudian berikan Bila masih kejang, diazepam dapat diulang lagi setelah 5 menit, sambil Bila anak demam tinggi, usahakan untuk menurunkan suhu tubuh anak anda

sadar.

diazepam melalui anus dengan dosis yang sama.

membawa anak ke rumah sakit.

dengan mengkompres tubuh anak dengan air hangat atau air biasa, lalu berikan penurun demam bila ia sudah sadar.

Jangan mencoba untuk menahan gerakan-gerakan anak pada saat kejang, Kejang akan berhenti dengan sendirinya. Amati berapa lama anak kejang.
4

berusahalah untuk tetap tenang.

Ukurlah suhu tubuh anak pada saat itu, hal ini bisa menjadi pegangan untuk Hubungi petugas kesehatan jika kejang berlangsung lebih lama dari 10 menit. Jika kejang telah berhenti, segeralah ke dokter untuk mencari penyebab dan

mengetahui pada suhu tubuh berapa anak akan mengalami kejang.


mengobati demam. PENANGANAN KEJANG DEMAM SAAT DI RUMAH SAKIT


Memastikan jalan napas anak tidak tersumbat Pemberian oksigen melalui face mask Pemberian diazepam 0,5 mg/kg berat badan per rektal (melalui anus) atau jika telah Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan Sebagian sumber menganjurkan pemeriksaan kadar gula darah untuk meneliti

terpasang selang infus 0,2 mg/kg per infus


kemungkinan hipoglikemia. Namun sumber lain hanya menganjurkan pemeriksaan ini pada anak yang mengalami kejang cukup lama atau keadaan pasca kejang (mengantuk, lemas) yang berkelanjutan . Berikut adalah tabel dosis diazepam yang diberikan : Terapi awal dengan diazepam Usia Dosis IV (0.2mg/kg) 12 mg 3 mg 5 mg 510 mg (infus) Dosis per (0.5mg/kg) 2.55 mg 7.5 mg 10 mg 1015 mg rektal

>1tahun 15 tahun 510 tahun > 10tahun

Jika kejang masih berlanjut :

Pemberian diazepam 0,2 mg/kg per infus diulangi. Jika belum terpasang selang infus, Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan

0,5 mg/kg per rektal

Jika kejang masih berlanjut :

Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kg per infus dalam 30 menit atau fenitoin 15-20 Pemberian fenitoin hendaknya disertai dengan monitor EKG (rekam jantung).

mg/kg per infus dalam 30 menit.

Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan intensif dengan thiopentone dan alat bantu pernapasan. Pemberian obat-obatan jangka panjang untuk mencegah berulangnya kejang demam jarang sekali dibutuhkan dan hanya dapat diresepkan setelah pemeriksaan teliti oleh spesialis . Beberapa obat yang digunakan dalam penanganan jangka panjang adalah sebagai berikut.

Antipiretik. Antipiretik tidak mencegah kejang demam. Penelitian menunjukkan tidak

ada perbedaan dalam pencegahan berulangnya kejang demam antara pemberian asetaminofen setiap 4 jam dengan pemberian asetaminofen secara sporadis. Demikian pula dengan ibuprofen.

Diazepam. Pemberian diazepam per oral atau per rektal secara intermiten (berkala)

saat onset demam dapat merupakan pilihan pada anak dengan risiko tinggi berulangnya kejang demam yang berat . Edukasi orang tua merupakan syarat penting dalam pilihan ini. Efek samping yang dilaporkan antara lain ataksia (gerakan tak beraturan), letargi (lemas, sama sekali tidak aktif), dan rewel. Pemberian diazepam juga tidak selalu efektif karena kejang dapat terjadi pada onset demam sebelum diazepam sempat diberikan . Efek sedasi (menenangkan) diazepam juga dikhawatirkan dapat menutupi gejala yang lebih berbahaya, seperti infeksi sistem saraf pusat.

Profilaksis

(obat hanya

pencegahan) minimal,

berkelanjutan. dan risiko

Efektivitas

profilaksis

dengan

fenobarbital

efek

sampingnya

(hiperaktivitas,

hipersensitivitas) melampaui keuntungan yang mungkin diperoleh . Profilaksis dengan carbamazepine atau fenitoin tidak terbukti efektif untuk mencegah berulangnya kejang demam. Asam valproat dapat mencegah berulangnya kejang demam, namun efek samping berupa hepatotoksisitas.

Dari berbagai penelitian tersebut, satu-satunya yang dapat dipertimbangkan sebagai

profilaksis berulangnya kejang demam hanyalah pemberian diazepam secara berkala pada saat onset demam, dengan dibekali edukasi yang cukup pada orang tua. Dan tidak ada terapi yang dapat meniadakan risiko epilepsi di masa yang akan datang .
6

Pemberian

obat

anti

kejang

jangka

panjang

diberikan

pada

keadaan

tertentu seperti pada kasus: 1. Kejang demam berlangsung lama lebih dari 15 menit. 2. Kejang demam hanya satu sisi tubuh, misalnya hanya kejang sebelah kiri. 3. Anak juga mengalami kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan. 4. Indikasi yang tidak mutlak misalnya: Bila kejang demam pertama terjadi pada umur kurang dari 1 tahun. Bila kejang demam berulang, lebih dari satu kali dalam satu hari.

PENCEGAHAN KEJANG BERULANG

Paling baik memang apabila anak mengalami demam, lalu diberi obat untuk

mencegah berulangnya kejang demam. Sayangnya tidak ada obat yang 100% dapat mencegah kejang demam bila diberikan saat anak mulai mengalami demam. Obat yang dapat digunakan adalah diazepam, yang dimakan selama demam, diberikan 3 kali sehari. Cara ini berhasil mengurangi risiko kejang demam sebanyak 20-44%.

Cara lain adalah memberikan diazepam melalui anus, saat anak mulai demam. Dosis

diazepam adalah 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan lebih dari 10 kg. Cara ini mungkin lebih efektif dibandingkan memberi diazepam yang dimakan.

MENINGITIS Definisi Meningitis adalah suatu infeksi/peradangan dari meninges, lapisan yang tipis/encer yangmengepung otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan oleh bakteri, virus,riketsia, atau protozoa, yang dapat terjadi secara akut dan kronis. (Harsono, 2003). Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindahmelalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut.

Etiologi Meningitis disebabkan oleh berbagai macam organisme, tetapi kebanyakan pasien dengan meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti fraktur tulang tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum tulang belakang. Penyebab infeksi ini dapat diklasifikasikan atas : Penumococcus, Meningococcus, Hemophilus influenza, Staphylococcus, E.coli, Salmonella. Penyebab meningitis terbagi atas beberapa golongan umur : 1. Neonatus : Eserichia coli, Streptococcus beta hemolitikus, listeria monocytogenes 2. Anak di bawah 4 tahun : Hemofilus influenza, meningococcus, pneumococcus. 3. Anak di atas 4 tahun dan orang dewasa : Meningococcus, Pneumococcus.
Gejala. Muncul beberapa hari setelah balita menderita batuk pilek, diare dan

muntah-muntah, yang merupakan tanda-tanda infeksi bakteri atau virus. Antara lain:

Demam (sekitar 39 C) Lesu, lemah dan rewel. Sakit kepala dan mata sensitif terhadap cahaya. Kaku kuduk, kadang-kadang ruam kulit. Tidak mau makan, atau minum susu. Kedinginan. Menangis menjerit-jerik seperti kesakitan. Ubun-ubun bayi yang masih terbuka mungkin tampak menonjol dan keras. Pada bayi yang mash kecil, gejala-gejala klasik bisa terlihat malas menyusu,

serta tampak lesu dan lemah sekali.


8

Pemeriksaan Laboratorium Untuk menentukan diagnosis meningitis dilakukan tes laboratorium. Tes ini memakai darah atau cairan sumsum tulang belakang. Cairan sumsum tulang belakang diambil dengan proses yang disebut pungsi lumbal ( lumbar puncture atau spinal tap). Sebuah jarum ditusukkan padapertengahan tulang belakang, pas di atas pinggul. Jarum menyedap contoh cairan sumsum tulangbelakang. Tekanan cairan sumsum tulang belakang juga dapat diukur. Bila tekanan terlalu tinggi,sebagian cairan tersebut dapat disedot. Tes ini aman dan biasanya tidak terlalu menyakitkan.Namun setelah pungsi lumbal beberapa orang mengalami sakit kepala, yang dapat berlangsung beberapa hari). Gambaran laboratorium dari infeksi meningococcus adalah seperti umunya infeksi pyogenic berupa peningkatan jumlah leukosit sebesar 10.000 sampai 30.000/mm3 dan eritrositsedimentation. Pada urine dapat ditemukan albuminuria, casts dan sel darah merah. Pada kebanyakan kasus, meningococcus dapat dikultur dari nasofaring, dari darah ditemukan lebih dari 50% dari kasus pada stadium awal, serta dari lesi kulit dan CSF. CSF kultur menjadi steril pada 90-100% kasus yang diobati dengan antimikrobal terapi yang apropiate, meskipun tidak terdapat perubahan yang signifikan dari gambaran CSF. Pada pasien meningitis, pemeriksaan CSF ditemukan pleositosis dan purulen. Walaupun pada fase awal dapat predominan lymphocytic, dalam waktu yang singkat menjadi granulocytic. Jumlah sel bervariasi dari 100 sampai 40.000 sel/ul. Tekanan CSF meningkat biasanya antara 200 dan 500 mm H2O. protein sedikit meningkat dan kadar glukosa rendah biasanya dibawah 20 md/dl. Pemeriksaan gram stain dari CSF dan lesi petechial, menunjukkan diplococcus gram negatif. Diagnosa pasti didapatkan dari kultur CSF, cairan sendi, tenggorokan dan sputum. Kultur dapat positif pada 90% kasus yang tidak diobati. Counter Immuno elektrophoresis (CIE) dapat mendeteksi sirculating meningococcal antigen atau respon antibodi. Pada kasus dengan gambaran CSF yang khas tapigram stain negatif, dapat dilakukan pemeriksaan latex aglutination test untuk antigen bakteri.Sensitivitas dari test ini sekitar 50-100% dengan spesifisitas yang tinggi. Bagaimanapun test yang negatif belum menyingkirkan diagnosa meningitis yang disebabkan oleh meningococcus. Polymerase chain reaction dapat digunakan untuk pemeriksaan DNA dari pasien dengan meningitis meningococcus dengan sensitivitas dan spesifisitas. Terapi
9

Terapi antibiotik diberikan secepatnya setelah didapatkan hasil kultur. Pada orang dewasa, Benzyl penicillin G dengan dosis 1-2 juta unit diberikan secara intravena setiap 2 jam. Pada anak dengan berat badan 10-20 kg. Diberikan 8 juta unit/hari, anak dengan berat badan kurang dari 10 kg diberikan 4 juta unit/hari.
-

Ampicillin dapat ditambahkan dengan dosis 300-400mg/KgBB/hari untuk dewasa dan 100-200 mg/KgBB/ untuk anak-anak. Untuk pasien yang alergi terhadap penicillin, dapat diberikan sampai 5 hari bebas panas.

Gambaran Klinis Gejala dari meningococcal meningitis tidak berbeda dengan meningitis yang disebabkan oleh bakteri pyogenik lainnya. Gejala dapat berupa febris, nyeri kepala, kaku kuduk, mual,muntah, penurunan kesadaran sampai koma. Komplikasi dari CNS berupa transient palsy dari N.IV, VI, VII dan VIII. Biasanya didapatkan riwayat infeksi saluran nafas bagian atas dalam dua atau tiga hari sebelum onset penyakit, gejala dapat didahului oleh muntah dan diare. Exanthema,walaupun tidak selalu didapatkan, merupakan cardinal sign didalam membedakan etiologi antara meningococcus dengan yang lainnya. Lesi yang paling sering berupa petechial atau purpura,masing-masing lesi berukuran antara 1 sampai 15 mm. Hal ini biasanya didahului oleh suatu makular rash, dapat pula timbul lesi makulopapular. Pada infeksi yang berat dapat berkembang menjadi suatu lesi ekimosis dan bila lesi sangat besar dan ulseratif, mungkin memerlukan suatu skin graft setelah infeksi teratasi. Pasien meningitis dengan DIC dan shock labih sering disertai dengan skin rash berupa purpura/ekimosis. Lesi kulit ini timbul 5-9 hari setelah onset infeksi berupa lingkar an berwarna gelap dengan bagian tepi yang lepuh/lecet sebesar 1-2 cm,dalam 24 jam terbentuk bulla yang steril yang akan menjadi ulserasi dan akan sembuh dengan cepat. Pada pasien didapatkan satu atau lebih lesi yang sering terjadi pada daerah dorsum dari tangan, ataupada kaki dan daerah deltoid. Secara histologis lesi steril ini adalah suatu alergik vaskulitis, yang menurut whittle dkk (1973) merupakan deposit kompleks antigen antibodi. Adanya suatu DIC harus dipertimbangkan bila terdapat ekimosis atau hemorrhagic bullae yang besar.

ENSEFALITIS
10

Ensefalitis adalah suatu peradangan pada parenkim otak. Dari perspektif epidemiologi dan patofisiologi, ensefalitis berbeda dari meningitis, meskipun pada evaluasi klinis, keduanya mempunyai tanda dan gejala inflamasi meningeal, seperti photophobia, sakit kepala, atau leher kaku. Etiologi Penyebab ensefalitis yang paling sering adalah infeksi karena virus. Beberapa contoh termasuk:
Herpes virus Arbovirus ditularkan oleh nyamuk kutu dan serangga lainnya Rabies ditularkan melalui gigitan hewan. Infeksi bakteri dan parasit seperti

toksoplasmosis dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Berikut adalah beberapa penyebab yang lebih umum ensefalitis: Virus herpes Beberapa virus herpes yang menyebabkan infeksi umum juga dapat menyebabkan ensefalitis. Ini termasuk: * Herpes simpleks virus. Ada dua jenis virus herpes simpleks (HSV) infeksi. HSV tipe 1 (HSV-1) lebih sering menyebabkan cold sores lepuh demam atau sekitar mulut Anda. HSV tipe 2 (HSV-2) lebih sering menyebabkan herpes genital. * Varicella-zoster virus. Virus ini bertanggung jawab untuk cacar air dan herpes zoster. Hal ini dapat menyebabkan ensefalitis pada orang dewasa dan anak-anak, tetapi cenderung ringan. * Virus Epstein-Barr. Virus herpes yang menyebabkan infeksi mononucleosis. Jika ensefalitis berkembang, biasanya ringan, tetapi dapat berakibat fatal pada sejumlah kecil kasus. Infeksi pada Anak

11

Pada kasus yang jarang, ensefalitis sekunder terjadi setelah infeksi virus anak dan dapat dicegah dengan vaksin, termasuk: * Campak (rubeola) * Mumps * Campak Jerman (rubella) Dalam kasus tersebut ensefalitis mungkin disebabkan karena reaksi hipersensitivitas reaksi yang berlebihan dari sistem kekebalan tubuh untuk suatu zat asing / antigen. Arbovirus Virus yang ditularkan oleh nyamuk dan kutu (arboviruses) dalam beberapa tahun terakhir, menghasilkan epidemi ensefalitis. Organisme yang menularkan penyakit hewan dari satu host ke yang lain disebut vektor. Nyamuk adalah vektor untuk transmisi ensefalitis dari burung atau tikus ke manusia. Jenis ensefalitis ini cukup jarang. Diagnosis Manifestasi Klinis

Secara umum gejala berupa trias ensefalitis : 1. Demam 2. Kejang 3. Kesadaran menurun Bila berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum dengan tanda-tanda meningkatnya tekanan intrakranial yaitu : nyeri kepala yang kronik dan progresif, muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun. Pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. Tanda-tanda defisit neurologis tergantung pada lokasi dan luasnya abses.
-

Pemeriksaan Radiologi

CT dan MRI sekarang merupakan pilihan tepat untuk menyelidiki suspek lesi pada otak. CT Scan Sifat atau komposisi jaringan dapat ditentukan dengan melihat kepadatan atau nilai Hounsfield. Ada empat kategori kepadatan secara umum, yaitu pengapuran tulang atau yang sangat padat dan putih terang, kepadatan jaringan lunak yang menunjukkan berbagai nuansa warna abu-abu, kepadatan lemak yang berwarna abu-abu gelap dan udara yang berwarna hitam. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, dimungkinkan untuk menentukan bagian yang terlihat pada CT scan apapun, dan CT scan kepala pada khususnya.
12

CT scan kepala dapat menunjukkan :

1. CT bisa menunjukkan hipodens pada pre kontras-hyperdensity pada post kontras salah

satu atau kedua lobus temporal, edema / massa dan kadang-kadang peningkatan kontras.
2. Lesi isodens atau hipodens berbentuk bulat cincin, noduler atau pola homogen dan

menyangat dengan kontras, tempat predileksi pada hemisfer (grey-white junction). 3. Bias ditemukan edema cerebri. 4. Kadang disertai tanda-tanda perdarahan.

MRI ( Magnetic Resonance Imaging ). Gambaran ensefalitis pada MRI di dapatkan :

1. Perubahan patologis yang biasanya bilateral pada bagian medial lobus temporalis dan

bagian inferior lobus frontalis ( adanya lesi ).


2. Lesi isointens atau hipointens berbentuk bulat cincin, noduler atau pola homogen dan

menyangat dengan kontras, tempat predileksi pada hemisfer (grey-white junction), pada T1WI. 3. Hiperintens lesi pada T2WI dan pada flair tampak hiperintens . Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium : - Pemeriksaan darah lengkap, ditemukan jumlah leukosit meningkat. - Pemeriksaan cairan serobrospinal :cairan jemih, jumlah sel diatas normal, hitung jenis didominasi oleh limfosit, protein dan glukosa normal atau meningkat Pemeriksaan lainnya : - EEG didapatkan gambaran penurunan aktivitas atau perlambatan.

Penatalaksanaan

1. Ensefalitis supurativa - Ampisillin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari. - Cloramphenicol 4 x 1g/24 jam intra vena selama 10 hari. 2. Ensefalitis syphilis Penisillin G 12-24 juta unit/hari dibagi 6 dosis selama 14 hari Penisillin prokain G 2,4 juta unit/hari intra muskulat + probenesid 4 x 500mg oral selama 14 hari. Bila alergi penisilin : Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari
13

Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari Cloramfenicol 4 x 1 g intra vena selama 6 minggu Seftriaxon 2 g intra vena/intra muscular selama 14 hari. Pengobatan simptomatis

3. Ensefalitis virus Analgetik dan antipiretik : Asam mefenamat 4 x 500 mg Antikonvulsi : Phenitoin 50 mg/ml intravena 2 x sehari. Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis virus dengan penyebab herpes zostervaricella. Asiclovir 10 mg/kgBB intra vena 3 x sehari selama 10 hari atau 200 mg peroral tiap 4 jam selama 10 hari. 4. Ensefalitis karena parasit Malaria serebral Kinin 10 mg/KgBB dalam infuse selama 4 jam, setiap 8 jam hingga tampak perbaikan. Toxoplasmosis Sulfadiasin 100 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Pirimetasin 1 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Spiramisin 3 x 500 mg/hari Amebiasis Rifampicin 8 mg/KgBB/hari. 5. Ensefalitis karena fungus Amfoterisin 0,1- 0,25 g/kgbb/hari intravena 2 hari sekali minimal 6 minggu Mikonazol 30 mg/KgBB intra vena selama 6 minggu. kloramfenikol 4 x 1 g intra vena selama 10 hari Tetrasiklin 4x 500 mg per oral selama 10 hari.

6. Riketsiosis serebri

14

KEJANG DEMAM KOMPLEK DEFINISI

MENINGITIS

ENSEFALI TIS

Kejang demam yang berlangsung lebih dari 15 menit, berulang lebih dari 1x dalam 24 jam dan bersifat fokal atau parsial satu sisi atau kejang umum didahului kejang parsial.

Suatu infeksi atau peradangan yang yang dari meninges, lapisan tipis/encer mengepung

Suatu peradangan pada parenkim otak.

otak dan jaringan saraf dalam tulang punggung, disebabkan bakteri, riketsia protozoa, oleh virus, atau yang

dapat terjadi secara akut dan kronis. Meningitis disebabkan berbagai organisme, dgn oleh macam tetapi Penyebab ensefalitis yang paling sering adalah infeksi karena
15

ETIOLOGI

Demam dapat muncul pada permulaan penyakit infeksi (ektrakranial), yang disebabkan

kebanyakan pasien meningitis mempunyai faktor predisposisi seperti

oleh antara bakteri

banyak lain:

fraktur

tulang

virus (herpes virus, arbovirus, rabies)

macam agent,

tengkorak, infeksi, operasi otak atau sum-sum belakang tulang

(infeksi traktus respiratorius, GIT, Urinarius), virus.

GEJALA KLINIS

Demam tinggi dan yang disebabkan oleh saraf infeksi pusat, diluar susunan misalnya tonsilitis, otitis akuta, bronkitis, furunklosis media cepat

Gejala. Muncul beberapa hari setelah balita menderita batuk pilek, diare dan muntah-muntah, yang merupakan tanda-tanda infeksi bakteri atau virus. Antara lain: Demam (sekitar 39 C) Lesu, lemah dan rewel. Sakit kepala dan mata sensitif terhadap cahaya. Kaku kuduk, kadang-kadang ruam kulit dan kulitnya berwarna kuning serta kejang. Tidak mau makan, atau minum susu. Kedinginan. Menangis menjerit-jerik seperti kesakitan. Ubun-ubun bayi yang masih

Secara umum gejala berupa trias ensefalitis : 1. Demam 2. Kejang 3. Kesadaran menurun Bila berkemban g menjadi abses serebri akan timbul gejalagejala infeksi umum
16

terbuka mungkin tampak menonjol dan keras. Pada bayi yang mash kecil, gejalagejala klasik bisa terlihat malas menyusu, serta tampak lesu dan lemah sekali.

dengan tanda-tanda meningkat nya tekanan intrakranial yaitu nyeri kepala yang kronik dan progresif, muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun. Pada pemeriksaa n mungkin terdapat edema papil :

PEMERIKS AAN PENUNJAN G

meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit serum (Kalsium, fosfor, magnesium),

pungsi lumbal ( lumbar puncture atau spinal tap).

Pemeriksa an laboratori um : Pemeriksaa n darah lengkap, ditemukan


17

ureum, kreatinin, urinalisis, biakan darah, urin, feses. Pemeriksaan Radiologi : X-ray kepala, CT kepala MRI rutin hanya dikerjakan atas indikasi. Pemeriksaan cairan serebrospinal (CSS) : Pemeriksaan Elektro Ensefalografi (EEG) : Tidak direkomendas ikan, kecuali pada tidak (misalnya kejang demam kejang khas demam yang scan atau tidak dan atau

jumlah leukosit meningkat. Pemeriksaa n al cairan :cairan serobrospin jemih, jumlah sel diatas normal, hitung jenis didominasi oleh limfosit, protein dan glukosa normal atau meningkat Pemeriksa an lainnya : EEG

didapatkan gambaran penurunan aktivitas atau perlambata

18

komplikata pada atau anak kejang usia > 6 tahun demam fokal.
TERAPI

n.

Memastika n jalan napas anak tidak tersumbat Pemberian oksigen melalui face mask Pemberian diazepam 0,5 mg/kg berat badan per rektal (melalui anus) atau jika telah terpasang selang infus 0,2 mg/kg per infus Pengawasa n tanda-tanda depresi pernapasan yang berkelanjutan .

Terapi antibiotik diberikan secepatnya setelah didapatkan hasil kultur. Pada orang dewasa,Benzyl penicillin G dengan dosis 1-2 juta unit diberikan secara intravena setiap 2 jam. Pada anak dengan berat badan 10-20 kg. Diberikan 8 juta unit/hari,anak dengan berat badan kurangdari 10 kg diberikan 4 juta unit/hari. Ampicillin dapat ditambahkan dengan dosis 300400mg/KgBB/hari untuk dewasa dan 100-200 mg/KgBB/ untuk anak-anak. Untuk pasien yang alergiterhadap peni cillin, dapat dibrikan sampai 5 hari bebas panas

Tidak ada pengobatan yang spesifik, tergantung etiologi: Acyclov ir mengobati ensefalitis yang disebabkan oleh HSV, HZV Dosis 8 jam Gancycl ovir atau foscarnet mengobati ensefalitis yang disebabkan oleh cytomegalo virus HSV1
19

. 10

mg/kg tiap

dan

Antikon vulsan medikasi untuk mencegah dan mengobati kejang yang dihubungk an dengan ensefalitis

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous. Definition of encephalitis. [ Online ] 26 March, 1998 [ Cited April 13,

2010].

Available

from

URL

www.medterms.com/script/main/art.asp?

articlekey=3231. Diakses pada tanggal 13 november 2011.

20

2. Anonymous. Encephalitis. [ Online ] May 5, 2009 [ Cited April 13, 2010 ]. Available

from : URL ; www.mayoclinic.com/health/encephalitis/DS00226. Diakses pada tanggal 13 november 2011.


3. Deliana M. 2002. Tata Laksana Kejang Demam Pada Anak. Sari Pediatri, Vol. 4,

No. 2, September 2002: Hal. 59 62


4. Golding J, Greenwood R, Verity MC. Febrile Convulsions. Diambil dari

http://www.nejm.org. Diakses tanggal 13 April 2006.


5. Lazoff M. Encephalitis. [ Online ] February 26, 2010 [ Cited April 5, 2010 ].

Available from : URL ; www.emedicine.medscape.com/article/791896/overview/htm Diakses pada tanggal 13 november 2011.


6. Lumbantobing S.M. Kejang Demam (Febril Convulsions). Balai Penerbit FKUI,

Jakarta, 1995.
7. Meningitis

Meningococcus.

http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar

%20japardi23.pdf Ngastiyah.1997. Perawatan Anak Sakit. Editor Setiawan. EGC. Diakses pada tanggal 13 november 2011.
8. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2005. Konsensus

Penanganan Kejang Demam. Balai Penerbit IDAI.

21