Anda di halaman 1dari 6

Di susun oleh Ina heryani

21070900 Irna Erpiana

2107090097 [IE]

TAQWA

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Kejayaan suatu bangsa yang kejayaan tersebut bersifat selamat dan menyelamatkan tidak akan bisa diraih kecuali melaui jalan taqwa. Bila melalui jalan selain taqwa maka akan lahir berbagai macam kerusakan di muka bumi. Sebagaimana telah ALLAH firmankan: Telah tampak kerusakan di darat dan di bumi di sebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya ALLAH merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Bangsa yang bertaqwa tentulah masyarakatnya adalah masyarakat yang bertaqwa. Masyarakat yang bertaqwa tidak mungkin terwujud tanpa terwujudnya keluarga-keluarga yang bertaqwa. Dan keluarga-keluarga yang bertaqwa tentu mustahil terwujud bila insaniah dalam keluarga tidak bertaqwa. Artinya, supaya bangsa ini bangkit dan mendapat kejayaan, insan bangsa ini perlu dibina dan di didik menjadi orang yang bertaqwa. Taqwa bukan sekedar melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan ALLAH. Orang melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan tidak selalu berdasarkan taqwa. Mereka taat mungkin karena ada sebab lain seperti menginginkan upah, ingin dipuji, dan ingin pengaruh. Mereka juga meninggalkan yang dilarang bisa karena ingin menjaga nama baik, takut dihukum, takut dihina,dan takut diasingkan. Begitulah arti taqwa telah disalah artikan. Maksud dari taqwa telah disempitkan. Orang yang bertaqwa adalah orang yang luar biasa disebabkan dia adalah manusia yang sudah bersifat malaikat. Dia sudah menjadi orang Tuhan. Sebab itulah dia dibantu dan dibela oleh Tuhan. Dan hanya orang bertaqwalah yang akan selamat dunia akhirat.

B. PEMBAHASAN
A. Pengertian Takwa Taqwa (takwa) berasal dari kata waqa, yaqi, wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara dan melindungi. Sesuai dengan makna etimologi tersebut, maka taqwa dapat diartikan sikap memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama islam secara utuh dan konsisten (istiqamah).

Dalam surat Al baqarah 2 : 177 yang artinya bukanlah kebajikan itu (didalam urusan) kamu memalingkan muka kamu ke pihak timur dan barat,tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada allah dan hari akhir dan malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi, dan mendermakan harta yang sedang ia cinta itu kepada keluarga dekat dan anak-anak yatim dan orang-orang miskin dan orang-orang yang terputus diperjalanan dan orang-orang yang meminta, dan didalam(urusan) menebus hambahamba, dan mendirikan shalat, dan mngeluarkan zakat, dan menyempurnakan janji apabila berjanji dan sabar di waktu kepayahan dan kesusahan di waktu perang. Mereka itulah orangorang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dalam isi kandungan surat Al baqarah 2 : 177 menjelaskan tentang karakteristik orang yang bertakwa : 1. Iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi. 2. Mengeluarkan harta yang dikasihinya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang terputus di perjalanan, orang-orang yang meminta-minta dana, orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban memerdekakan hamba sahaya. 3. Mendirikan shalat dan menunaikan zakat. 4. Menepati janji, dalam pengertian lain adalah memelihara kehormatan diri. 5. Sabar disaat kepayahan, kesusahan dan diwaktu perang, atau dengan kata lain memiliki semangat perjuangan.

Melihat karakteristik diatas, maka takwa meliputi keseluruhan aspek manusia, baik keyakinan, ucapan maupun perbuatan yang memcerminkan konsistensi seseorang terhadap nilainilai ajaran islam. Karena itu, takwa merupakan nilai tertinggi yang hendak dicapai oleh setiap muslim.

B. Hubungan dengan Allah swt Hubungan dengan Alloh dalam arti perhambaan terhadap-Nya merupakan titik tolak terwujudnya ketakwaan. Hubungan dengan Allah dilakukan seorang muslim dalam bentuk ketaatan melaksanakan ibadah. Rasulullah adalah orang yang dipilih Allah untuk menyampaikan dan memberi contoh pelaksanaan ajaran Allah kepada manusia, karena itu seorang muslim akan memuliakan rasulnya serta meletakannya sebagai teladan hidup yang baik. Taat kepada Allah dan taat kepada Rasul merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan, taat kepada Rosul bearti taat kepada Allah. Seorang yang bertaqwa (muttaqi) adalah orang yang menghambakan dirinya kepada Allah dan selalu menjaga hubungan dengan-Nya setiap saat. Memelihara hubungan dengan Allah terus menerus akan menjadi kendali dirinya sehingga dapat menghindar dari kejahatan dan kemungkaran dan membuatnya konsisten terhadap aturanaturan Allah. Karena itu inti ketaqwaan adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Memelihara hubungan dengan Allah dimulai dangan melaksanakan tugas perhambaan dengan melaksanakan ibadah secara sungguh-sungguh (khusyuk) dan ikhlas seperti mendirikan shalat dengan khusyuk dan penuh penghayatan sehingga shalat memberikan bekas dan memberikan warna dalam kehidupannya. Melaksanakan puasa dengan ikhlas melahirkan kesabaran dan pengendalian diri. Zakat mendatangkan sikap peduli dan menjauhkan diri dari ketamakan dan kerakusan. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah pada dasarnya adalah bentuk-bentuk perilaku yang lahir dari pengendalian diri atau mengendalikan hawa nafsu yang ada dalam dirinya. Setelah aspek shalat, diuraikan mengenai aspek tenggang rasa dalam bentuk mengeluarkan zakat dan menepati janji. Dalam zakat terkandung perhatian, kepedulian dan tenggang rasa. Betapa indahnya Al quran melukisakan karakteristik orang-orang yang bertaqwa.

C. Hubungan dengan sesama manusia

Hubungan dengan Allah menjadi dasar bagi hubungan sesama manusia. Orang yang bertaqwa akan dapat dilihat dari perannya di tengah-tengah masyarakat. Sikap taqwa tercermin dalam bentuk kesediaan untuk menolong orang lain,melindungi yang lemah dan keberpihakan pada kebenaran dan keadilan.Karena itu, orang yang taqwa akan menjadi motor penggerak gotong royong dan kerja sama dalam segala bentuk kebaikan dan kebajikan. Di dalam surat Al baqarah 2 : 177 menerangkan bahwa diantara ciri-ciri orang bertaqwa itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah, Hari kemudian, malaikatmalaikat, dan kitab-kitab Allah. Aspek-aspek tersebut merupakan dasar keyakinan yang dimiliki orang yang takwa dan dasar hubungan dengan Allah dalam bentuk ubudiah. Selanjutnya Allahg menggambarkan hubungan kemanusiaan, yaitu mengeluarkan harta dan orang-oarang yang menepati janji. Dalam ayat itu Allah menggambarkan dengan jelas dan indah, bukan saja karena aspek tenggang rasa terhadap sesama manusia di jelaskan secara terurai, yaitu siapa saja yang mesti diberi tenggang rasa, tetapi juga mengeluarkan harta diposisikan diantara aspek keimanan dan shalat.

C. PENUTUP

Kesimpulan

Jadi taqwa adalah hubungan seseorang dengan Allah dilakukan secara terus menerus dengan selalu mengingat (zikir) kepada Allah, sehingga Allah dirasakan begitu erat. Apabila ini telah terjadi wujud Allah akan dirasakan hadir setiap saat sehingga tidak ada kesempatan untuk tidak melaksanakan perintah dan melanggar larangannya. Hubungan dengan Allah menjadi dasar bagi hubungan sesama manusia. Orang yang bertaqwa akan dapat dilihat dari peraanannya di tengah-tengah masyarakat. Sikap taqwa tercermin dalam bentuk kesediaan uintuk menolong orang lain, melindungi yang lemah dan keberpihakan pada kebenaran dan keadilan. Disamping itu, manusia bertindak pula sebagai penjaga dan pemelihara lingkungan alam. Menjaga lingkungan adalah memberikan perhatian dan kepedulian kepada lingkungan hidup dengan saling memberikan manfaat. Manusia memanfaatkan lingkungan untuk kesejahteraan hidupnya, tanpa merugikan lingkungan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
1. Azra Azyumardi, Prof, Dr. 2002. Buku teks pendidikan agama islam pada peerguruan

tinggi umum. Jakarta : Departemen Agama.


2. Suryana Toto, Dr, M.pd. 2002. Buku teks pendidikan agama islam pada perguruan tinggi.

Jakarta : Departemen Agama.