Anda di halaman 1dari 7

DISUSUN OLEH :

YAUMIL ISTIQLAL HAMZAH


D22109260

PR0uRAN ST0BI TEKNIK INB0STRI
}0R0SAN NESIN FAK0LTAS TEKNIK
0NIvERSITAS BASAN0BBIN
NAKASSAR

BAB I
1.1 Latar Belakang
Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku bisnis
terutama menjelang mekanisme pasar bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan
luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam
pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang
mengikuti mekanisme pasar.
Tumbuhnya perusahaan-perusahaan besar berupa grup-grup bisnis raksasa yang
memproduksi barang dan jasa melalui anak-anak perusahaannya yang menguasai pangsa pasar
yang secara luas menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat banyak, khususnya pengusaha
menengah ke bawah. Kekhawatiran tersebut menimbulkan kecurigaan telah terjadinya suatu
perbuatan tidak wajar dalam pengelolaan bisnis mereka dan berdampak sangat merugikan
perusahaan lain.
Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh keuntungan
sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis, bahkan melanggar peraturan yang berlaku.
Demikian pula sering terjadi perbuatan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan pihak
birokrat dalam mendukung usaha bisnis pengusaha besar atau pengusaha keluarga pejabat.
Peluang-peluang yang diberikan pemerintah pada masa orde baru telah memberi kesempatan
pada usaha-usaha tertentu untuk melakukan penguasaan pangsa pasar secara tidak wajar.
Keadaan tersebut didukung oleh orientasi bisnis yang tidak hanya pada produk dan kosumen
tetapi lebih menekankan pada persaingan sehingga etika bisnis tidak lagi diperhatikan dan
akhirnya telah menjadi praktek monopoli, persengkongkolan dan sebagainya.
Akhir-akhir ini pelanggaran etika bisnis dan persaingan tidak sehat dalam upaya penguasaan
pangsa pasar terasa semakin memberatkan para pengusaha menengah kebawah yang kurang
memiliki kemampuan bersaing karena perusahaan besar telah mulai merambah untuk menguasai
bisnis dari hulu ke hilir. Dengan lahirnya UU No.5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat diharapkan dapat mengurangi terjadinya
pelanggaran etika bisnis.

BAB II
2.1 Landasan Teori
Etika bisnis merupakan etika yang berlaku dalam kelompok para pelaku bisnis dan semua
pihak yang terkait dengan eksistensi korporasi termasuk dengan para kompetitor. Etika itu
sendiri merupakan dasar moral, yaitu nilai-nilai mengenai apa yang baik dan buruk serta
berhubungan dengan hak dan kewajiban moral.
Dalam etika bisnis berlaku prinsip-prinsip yang seharusnya dipatuhi oleh para pelaku bisnis.
Prinsip dimaksud adalah :
1.Prinsip Otonomi, yaitu kemampuan mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan
kesadaran tentang apa yang baik untuk dilakukan dan bertanggung jawab secara moral atas
keputusan yang diambil.
2.Prinsip Kejujuran, bisnis tidak akan bertahan lama apabila tidak berlandaskan kejujuran
karena kejujuran merupakan kunci keberhasilan suatu bisnis (missal, kejujuran dalam
pelaksanaan kontrak, kejujuran terhadap konsumen, kejujuran dalam hubungan kerja dan lain-
lain).
3.Prinsip Keadilan, bahwa tiap orang dalam berbisnis harus mendapat perlakuan yang sesuai
dengan haknya masing-masing, artinya tidak ada yang boleh dirugikan haknya.
4.Prinsip Saling Mengutungkan, agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan,
demikian pula untuk berbisnis yang kompetitiI.
5.Prinsip Integritas Moral, prinsip ini merupakan dasar dalam berbisnis dimana para pelaku
bisnis dalam menjalankan usaha bisnis mereka harus menjaga nama baik perusahaan agar tetap
dipercaya dan merupakan perusahaan terbaik. Penerapan etika bisnis sangat penting terutama
dalam menghadapi era pasar bebas dimana perusahaan-perusahaan harus dapat bersaing
berhadapan dengan kekuatan perusahaan asing. Perusahaan asing ini biasanya memiliki kekuatan
yang lebih terutama mengenai bidang SDM, Manajemen, Modal dan Teknologi.
Ada mitos bahwa bisnis dan moral tidak ada hubungan. Bisnis tidak dapat dinilai dengan nilai
etika karena kegiatan pelaku bisnis, adalah melakukan sebaik mungkin kegiatan untuk
memperoleh keuntungan. Sehingga yang menjadi pusat pemikiran mereka adalah bagaimana
memproduksi, memasarkan atau membeli barang dengan memperoleh keuntungan sebesar-
besarnya. Perilaku bisnis sebagai suatu bentuk persaingan akan berusaha dengan berbagai bentuk
cara dan pemanIaatan peluang untuk memperoleh keuntungan. Apa yang diungkapkan diatas
adalah tidak benar karena dalam bisnis yang dipertaruhkan bukan hanya uang dan barang saja
melainkan juga diri dan nama baik perusahaan serta nasib masyarakat sebagai konsumen.
Perilaku bisnis berdasarkan etika perlu diterapkan meskipun tidak menjamin berjalan sesuai
dengan apa yang diharapkan, akan tetapi setidaknya akan menjadi rambu-rambu pengaman
apabila terjadi pelanggaran etika yang menyebabkan timbulnya kerugian bagi pihak lain.
Masalah pelanggaran etika sering muncul antara lain seperti, dalam hal mendapatkan ide usaha,
memperoleh modal, melaksanakan proses produksi, pemasaran produk, pembayaran pajak,
pembagian keuntungan, penetapan mutu, penentuan harga, pembajakan tenaga proIessional,
blow-up proposal proyek, penguasaan pangsa pasar dalam satu tangan, persengkokolan,
mengumumkan propektis yang tidak benar, penekanan upah buruh dibawah standar, insider
traiding dan sebagainya. Ketidaketisan perilaku berbisnis dapat dilihat hasilnya, apabila merusak
atau merugikan pihak lain. Biasanya Iactor keuntungan merupakan hal yang mendorong
terjadinya perilaku tidak etis dalam berbisnis.
Suatu perusahaan akan berhasil bukan hanya berlandaskan moral dan manajemen yang baik saja,
tetapi juga harus memiliki etika bisnis yang baik. Perusahaan harus mampu melayani
kepentingan berbagai pihak yang terkait. Ia harus dapat mempertahankan mutu serta dapat
memenuhi permintaan pasar yang sesuai dengan apa yang dianggap baik dan diterima
masyarakat. Dalam proses bebas dimana terdapat barang dan jasa yang ditawarkan secara
kompetitiI akan banyak pilihan bagi konsumen, sehingga apabila perusahaan kurang berhati-hati
akan kehilangan konsumennya. Perilaku tidak etis dalam kegiatan bisnis sering juga terjadi
karena peluang-peluang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang kemudian
disahkan dan disalah gunakan dalam penerapannya dan kemudian dipakai sebagai dasar untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar etika bisnis.



2.2 Contoh Kasus

Sehingga dalam kasus ini persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam
memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis, bahkan melanggar
peraturan yang berlaku. Apalagi persaingan yang akan dibahas adalah persaingan produk impor
dari Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak
kalah dari produk-produk lainnya.
Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut
mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang
terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam
benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan
pada pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari
peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak
memasarkan produk dari Indomie.
Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera
memanggil Kepala BPOM. Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini
bisa terjadi, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat
berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.

Seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu
methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang
membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal
dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini
dibatasi maksimal 0,15. Ketua BPOM membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi
manusia dalam kasus Indomie ini. Ketua BPOM menjelaskan bahwa benar Indomie
mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut.
tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk
dikonsumsi.

Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg
per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali
daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah
dan sangat berisiko terkena penyakit kanker. Menurut Ketua BPOM, Indonesia yang merupakan
anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan
Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan
merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk
dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah
kasus Indomie ini.

BAB III
3.1 Kesimpulan

Dari kasus yang ada diatas sebagaimana yang kita ketahui bahwa perbedaan dari standar
produk mie instan oleh kedua belah pihak, memicu persaingan yang tidak sehat khususnya pihak
Taiwan dimana mereka tidak menyetujui peredaran Produk Indomie yang berasal dari Indonesia
disebabkan oleh zat kimia. Namun, Produk indomie ini sudah mengacu kepada persyaratan
Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan keamanan produk pangan. Beberapa alasan yang
membuat Pihak Taiwan melakukan persaingan tidak sehat, di antaranya sebagai berikut :
1. Kompetitor seperti produk indomie yang kualitas yang tidak kalah dari produk-produk
yang lain serta harga terjangkau membuat produk Taiwan harus bersaing dengan produk
impor tersebut.
2. Ingin menambah pangsa pasar.
3. Ingin merajai pasar.
Oleh sebab itu seharusnya kedua belah pihak harusnya mampu melakukan suatu Prinsip Saling
Mengutungkan, dimana semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan, demikian pula
untuk berbisnis yang kompetitiI. Sesuai UU No.5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat diharapkan dapat mengurangi terjadinya
pelanggaran etika bisnis sehingga, kasus ini tidak perlu terjadi.

Beri Nilai