Anda di halaman 1dari 41

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi beton pada saat sekarang ini, membuat konstruksi beton semakin banyak dipilih sebagai suatu bahan konstruksi. Konstruksi dari beton banyak memiliki keuntungan selain bahannya sangat mudah diperoleh, juga memiliki beberapa keuntungan antara lain harganya relative lebih murah, mempunyai kekuatan tekan tinggi, mudah dalam pengangkutan dan pembentukannya, serta mudah dalam hal perawatannya. Sehingga banyak bangunan- bangunan yang didirikan memilih konstruksi yang terbuat dari beton sebagai bahan materialnya. Pemilihan beton sebagai konstruksi telah membuat para ahli beton menciptakan bahan tambahan (admixture) bagi beton. Bahan tambahan (admixture) merupakan bahan yang dianggap penting, terutama untuk konstruksi pada saat sekarang ini yang membutuhkan segala sesuatu yang serba praktis, efisien dan ekonomis tanpa mengurangi mutu dari beton tersebut. Penggunan bahan tambahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan sifat beton yang diinginkan.

Penggunaan baha n tambaha n pada konstruksi beton dewasa ini telah berke mbang dengan pesat seiring dengan pesatnya pembangunan di bidang konstruksi. Banyak penemuan baru yang dapat menggantikan cara-cara konvensional seperti di bidang perkuatan struktur, dima na telah ditemukan metode dan sistem yang semakin mudah diaplikasikan serta hanya sedikit

Universitas Sumatera Utara

pertambahan

dimensi

dari

struktur,

sehingga

tetap

terjaga

keindahan

dari

konstruksi tersebut.

Struktur dengan berbagai fungsi dan kombinasi beban tergolong rentan, baik terhadap perubahan fungsi yang mengakibatkan pertambahan beban ya ng dipikul, maupun kemungkinan terjadinya kesalaha n per hitungan pada saat perencanaan. Oleh karena itu perlu dikembangkan penggunaan bahan- bahan alternatif yang diperkirakan dapat memperbaiki atau meningkatkan mutu beton bertulang. Salah satu usaha yang dilakukan yaitu mengupayakan supaya beton mempunyai kuat geser tinggi. Seperti diketahui bahwa kuat geser dijumpai dalam semua unsur beton bertulang, sehingga tanpa disadari struktur yang tidak direncanakan dengan adanya tegangan geser, akan mengalami masala h yaitu retak pada struktur tersebut akibat beban yang mengenainya, dimana struktur tidak mampu menahannya.

Alternatif yang dipakai diantaranya memberikan alternatif solusi perkuatan, menentukan spesifikasi teknis metode pelaksanaan perkuatan berdasar peraturan beton SNI-2847-2002, yang diharapkan dapat memberikan penyelesaian permasalahan yang muncul sehingga dapat menjamin keamanan bagi pengguna bangunan.

Untuk mengetahui metode perkuatan lebih lanjut, sebagai pengembangan dalam hal penggunaan bahan- bahan alternatif terutama yang berhubungan dengan perkuatan kuat geser nya maka akan dibahas perilaku balok beton bertulang dengan bentang sederhana yang diberi perkuatan tambahan berupa lembaran FRP untuk memikul beban yang berangsur–angsur meningkat dari pembebanan yang

Universitas Sumatera Utara

kecil sampai pada suatu tingkat pembebanan yang menyebabkan hancurnya balok beton tersebut di bidang geser nya.

II.2. Fiber Reinforced Polymer

Fiber Reinforced Polymer (FRP) merupakan sejenis pelat baja tipis yang didalamnya terdapat serat-serat carbon dan fiber.

Tiga prinsip penggunan FRP dalam perkuatan struktur adalah :

  • - Meningkatkan kapasitas

momen

lentur

pada balok

atau

plat

dengan

menambahkan FRP pada bagian tarik.

  • - Meningkatkan kapasitas geser pada balok dengan menambahkan FRP di bagian sisi pada daerah geser.

  • - Meningkatkan

kapasitas

beban

axial

dan

geser

pada

kolom

dengan

menambahkan FRP di sekeliling kolom. Tipe FRP yang umum digunakan sebagai perkuatan struktur dapat berupa CFS (Carbon Fiber Sheet), AFS (Aramid Fiber Sheet), dan GFS (Glass Fiber Sheet). Tabel 2.1. Data FRP (nilai dibawah hanya untuk fiber saja bukan composite)

 

KuatTarik

Modulus

Elongasi

Massa

Tipe Fiber

(N/mm 2 )

Elastisitas (kN/mm 2 )

(%)

jenis (gr/cm 3 )

Carbon : high strength

4300-4900

230-240

1.9-2.1

1.8

Carbon : high modu lus

2740-5490

294-329

0.7-1.9

1.78-1.8

Carbon : ultra high modulus

2600-4020

540-640

0.4-0.8

1.91-2.1

Aramid : high strength and high modulus

3200-3600

124-130

2.4

1.44

Glass

2400-3500

70-85

3.5-4.7

2.6

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2. Perbandingan Performance FRP

Performan ce

Carbon

Aramid

Glass

Alkaline Resistant

Good

Good

Bad

UV Resistant

Yes

No

Yes

Electricity Conductivity

Yes

No

Yes

Compressive vs Tensile Strength

Close to

Lower

Close to

Elastic Modulus vs Steel

Similar

Lower

Lower

Melting Point

650°C

200°C

1000°C

Creep Rapture

Best

Moderate

Bad

Bentuk FRP yang sering dipakai pada perkuatan struktur adalah :

  • - Plate / Composite

  • - Fabric / Wrap

Bentuk Plate lebih efektif dan efisien untuk perkuatan lentur baik pada balok maupun plat serta pada dinding ; sedang bentuk wrap lebih efektif dan efisien untuk perkuatan geser pada balok serta untuk meningkatkan kapasitas beban axial dan geser pada kolom.

Ada beberapa keuntungan lain :

penggunaan FRP sebagai Perkuatan Struktur, antara

*

Kuat tarik sangat tinggi (± 7-10 kali lebih tinggi dari U39)

*

Sangat ringan (density 1.4-2.6 gr/cm 3 , 4-6 kali lebih ringan dari Baja)

*

Pelaksanaan sangat mudah dan cepat

*

Memungkinkan untuk tidak menutup lalu lintas (mis : jembatan dll)

*

Tidak memerlukan area kerja yang luas

Universitas Sumatera Utara

*

Tidak memerlukan joint, meskipun bentang yang harus diperkuat cukup

*

panjang Tidak berkarat (non logam)

Terdapat juga kerugian dari FRP ,yaitu :

*

Ketahanan terhadap kebakaran (harus dilakukan lapisan tahan kebakaran)

* Pengrusakan dari luar (umumnya untuk fasilitas umum harus dilakuka n lapisan penutup dari mortar).

Dalam penggunaannya, FRP digabungkan dengan suatu bahan perekat (Epoxy Impregnation Resin) yang akan merekatkan lembaran fiber pada balok beton. Bahan perekat yang akan digunakan pada penelitian ini berupa Epoxy dengan merek dagang SIKADUR 330 ® . SIKADUR 330 ® terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu bagian A (berwarna putih) dan bagian B (berwarna abu-abu). Perbandingan campuran antara bagian A : bagian B = 4 : 1 sesuai berat nya.

II.2.1 Standard Pedoman Perencanaan

Pedoman perencanaan untuk FRP dapat mengacu pada standard ACI yaitu “ACI 440-Guide for the Design and Construction of Externally Bonded FRP System for Strengthening Concrete Structures and Technical Report” yang dikeluarkan oleh “Concrete Society Committee Inggris yaitu Technical Report No. 55-Design Guidance for Strengthening Concrete Structure Using Fibre Composite Materials”.

Universitas Sumatera Utara

Di dalam ACI 440, selain factor reduksi kekuatan Φ; juga terdapat factor

reduksi lainnya, yaitu :

  • - Faktor reduksi partial untuk FRP ψ sebesar : Lentur : 0,85 Geser : 0,95 (wrap 4 sisi) atau 0,85 (wrap 3 sisi) Kolom : 0,90 (bulat); 0,50 (bujur sangkar) atau berdasarkan test (persegi).

  • - Faktor reduksi untuk material FRP akibat pengaruh lingkungan (C E ), dipakai sebagai dasar perencanaan untuk kuat tarik ultimate (f lu = C E . f lu dari pabrik) dan regangan ultimate ( ε lu = C E . ε lu * dari pabrik )

*

  • - Pada perencanaan geser regangan FRP dibatasi maximum sebesar 0,004.

Tabel 2.3. Faktor Reduksi Lingkungan C E

Kondisi penempatan

Carbon

Glass

Aramid

Di luar ruangan

 
  • 1.0 0.9

0.8

 

Di dalam ruangan

 
  • 0.9 0.8

0.7

 

Di dalam Technical Report No.55, digunakan faktor keamanan partial sbb :

-

f 1 = f lu * / ( γ mf . γ mm mE ) ·

γ

mf

: faktor keamanan partial untuk kekuatan

·

γ

mm

·

γ

mE

: faktor keamanan partial untuk proses pembuatan atau pelaksanaan.

:

faktor keamanan partial untuk modulus elastisitas.

  • - Pada perencanaan geser regangan FRP dibatasi maximum sebesar 0,004.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.4. Faktor keamanaan parsial untuk kekuatan.

Material

Faktor keamanan partial (γ mf )

Carbon FRP

1.4

Aramid FRP

1.5

Glass FRP

3.5

Tabel 2.5. Recommended values of partial safety factor, to be applied to design

strength of manufactured composites, based on Clarke

Type of system (and method of application or manufacture)

Additional partial safety factor, γ mm

Plates

 

Pultruded

1.1

Prepeg

1.1

Preformed

1.2

Lembaran atau tapes

 

Machines-controlled application

1.1

Vacuum infusion

1.2

Wet lay-up

1.4

Prefabricated (factory- made) shell

 

Filament winding

1.1

Resin transfer moulding

1.2

Hand lay-up

1.4

Hand-held spray application

2.2

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.6. Faktor keamanan parsial untuk modulus elastisitas.

Material

Partial safety factor, γ mE

Carbon FRP

1.1

Aramid FRP

1.1

Glass FRP

1.8

II.2.2 Aplikasi FRP

FRP (fiber reinforced polymer) digunakan pada konstruksi yang telah ada.

Pemakaian FRP pada suatu konstruksi biasa nya disebabkan oleh beberapa hal

yaitu :

Terjadi kesalahan perencanaan

Adanya kerusakan-kerusakan dari bagian struktur sehingga dikhawatirkan

tidak berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.

Adanya perubahan fungsi pada system struktur dan adanya penambahan

beban yang melebihi beban rencana.

Perkuatan tambahan ini telah banyak dipergunakan di berbagai belahan dunia. Di

Indonesia, SIKA telah memproduksi FRP sejak tahun 1997. Jenis FRP yang saat

ini dipasarkan oleh SIKA adalah terdiri dari :

  • Bentuk Plate : Sika Carbodur Pembagian tipe Sika Carbodur berdas arkan angka modulus elastisitasnya terdiri dari tiga tipe yaitu :

Universitas Sumatera Utara

  • 1. Carbodur tipe S ( Standard ), jenis S512 dan S1012

  • 2. Carbodur tipe M ( Middle )

  • 3. Carbodur tipe H ( High )

  • Bentuk Wrap : Sika Wrap 230C

Spesifikasi dari masing - masing tipe Sika Carbodur ini dapat dilihat pada Tabel 2.7

berikut ini.

Tabel 2.7. Tipe dan Spesifikasi dari Sika Carbodur.

 

Tensile

Ultimate

Elasticity

Failure

Tipe

Strength (N/mm 2 )

Tensile Strength (N/mm 2 )

Modulus (N/mm 2 )

Strain (%)

S(standard)

 
  • 2400 3100

  • 155000 1.9

 

M(middle)

 
  • 2000 2400

  • 210000 1.1

 

H(high)

 
  • 1400 1600

  • 300000 0.8

 

Universitas Sumatera Utara

II.3. Geser dan Tarik Diagonal

Meskipun belum seorangpun yang mampu menentukan dengan tepat daya

tahan beton terhadap tegangan geser murni, hal ini tidak terlalu penting karena

tegangan geser murni mungkin tidak pernah terjadi dalam struktur beton. Lebih

dari itu, sesuai dengan mekanika teknik, jika geser murni dihasilkan dalam suatu

batang, tegangan tarik utama dengan besar yang sama akan dihasilkan pada

bidang yang lain. Karena kekuatan tarik beton lebih kecil dari kekuatan geser,

maka beton akan runtuh dalam tarik sebelum kekuatan gesernya tercapai. Akan

tetapi, pengujian kuat geser beton selama bertahun-tahun selalu menghasilkan

nilai-nilai leleh yang terletak di antara 1/3 sampai 4/5 dari kuat tekan

maksimumnya.

Banyak penelitian telah dilakukan pada bidang geser dan tarik diagonal

untuk balok beton bertulang nonhomogen, dan banyak teori dihasilkan. Akan

tetapi tidak seorangpun mampu memberikan penjelasan mengenai mekanisme

keruntuhan yang terjadi. Akibatnya, prosedur desain terutama didasarkan pada

data uji.

II.3.1 Tegangan Geser Beton

Perencanaan beton bertulang terhadap gaya lintang ternyata sesuai dengan

lentur murni juga karena yang menentukan adalah perilaku struktur dalam stadium

keruntuhan. Gambar (2.1) menyajikan sebuah balok yang kedua ujung-ujungnya

ditumpu bebas dan dibebani dengan dua beban terpusat F. Karena beban ini, dapat

digambarkan diagram gaya lintang dan simbol atau menyatakan arah pergeseran

Universitas Sumatera Utara

yang cenderung terjadi dalam balok. Pada gambar disajikan pula diagram momen

lentur dengan arah lenturan dinyatakan dengan simbol.

yang cenderung terjadi dalam balok. Pada gambar disajikan pula diagram momen lentur dengan arah lenturan dinyatakan
yang cenderung terjadi dalam balok. Pada gambar disajikan pula diagram momen lentur dengan arah lenturan dinyatakan

Gambar 2.1. Balok yang kedua ujung-ujung ditumpu bebas dan dibebani dua beban terpusat, serta diagram gaya lintang dan diagram momen lentur

Anggap beban balok sendiri diabaikan, maka pada kedua tepi balok di antara

perletakan dan beban terpusat terdapat besar gaya lintang yang besarnya konstan :

V=F. Sedangkan besar gaya lintang di bagian tengah bentang sama dengan nol.

Momen lentur di antara beban terpusat sama dengan M = F .a . Di antara

perletakan dan beban terpusat, besar momen lentur meningkat secara linier dari

M = 0 hingga M = F .a. Apa yang akan terjadi bila beban F diperbesar? Selama F

masih sedemikian kecil, maka pada balok beton belum terjadi retakan dan sesuai

dengan lentur murni pula beton akan berperilaku sebagai bahan homogen.

Universitas Sumatera Utara

Bentuk distribusi tegangan geser V untuk penampang homogen, ternyata

sepaham dengan menurut mekanika struktur. Gambar menunjukan distribusi

tegangan geser dari balok persegi dengan lebar b dan tinggi h.

Bentuk distribusi tegangan geser V untuk penampang homogen, ternyata sepaham dengan menurut mekanika struktur. Gambar menunjukan

Gambar 2.2. Distribusi tegangan geser berbentuk parabolis pada penampang

homogen

Secara umum besar nya tegangan geser v yang berlaku adalah :

V S

.

(2.1)

v =

………………………………

...

b I

.

dimana :

V = gaya lintang

S = momen statis dari bagian yang tergeser terhadap garis netral

b

=

lebar balok

I

= momen inersia penampang

Untuk penampang persegi nilai maksimal tegangan geser :

v maks

=

V S

.

V

1

2

bh

1

4

h

3 V

=

=

b I

.

b I

.

2

b h

.

………………(2.1.a)

Universitas Sumatera Utara

Bila beban F ditingkatkan, maka pada daerah tarik akan terjadi retakan dan

perilaku material pun menjadi non homogen. Dalam balok terbentuk busur tekan

dengan ikatan tarik.

Bila beban F ditingkatkan, maka pada daerah tarik akan terjadi retakan dan perilaku material pun menjadi
Bila beban F ditingkatkan, maka pada daerah tarik akan terjadi retakan dan perilaku material pun menjadi
Bila beban F ditingkatkan, maka pada daerah tarik akan terjadi retakan dan perilaku material pun menjadi

Gambar 2.3. Retakan, busur tekan dan ikatan tarik

Tegangan geser bergantung pada :

  • - Jumlah tulangan memanjang yang ada

  • - Bentuk busur tekan untuk gelagar yang “pendek dan lebar” lain daripada gelagar yang “ramping”, antar lain akibat dari perbandingan a/h.

  • - Ukuran daerah tekan, demikian pula dengan besar momen dan kualitas beton yang digunakan.

SKSNI T15-1991-03 Bab 3.4 menguraikan pengaruh-pengaruh tersebut serta

teknik memperhitungkannya. Pasal 3.4.1.1 menetapkan bahwa gaya lintang yang

bekerja pada penampang yang ditinjau harus direncanakan sehingga :

u φ

V

Vn

……… ..

………..(2.2)

Universitas Sumatera Utara

dengan V u adalah gaya lintang pada penampang yang ditinjau. Dengan

memperhatikan faktor beban maka didapat :

V u
V
u

= 1, 2V

D

+ 1,6V

L

dimana :

V D = gaya lintang akibat beban mati

V L = gaya lintang akibat beban hidup

………

...

……….(2.3)

II.3.2 Retak Geser Dari Balok Beton Bertulang

Retak miring karena geser dapat terjadi pada bagian web balok beton

bertulang baik sebagai retak bebas atau sebagai perpanjangan dari retak lentur.

Retak pertama dari kedua jenis retak ini adalah retak lentur-gese r. Ini adalah jenis

retak yang biasanya dijumpai dalam balok prategang maupun non prategang. Agar

retak ini terjadi, momen harus lebih besar dari momen retak dan geser. Retak

harus membentuk sudut sekitar 45° dengan sumbu balok dan mungkin diawali

pada puncak retak lentur. Retak lentur yang hamper vertical tidak berbahaya

kecuali jika ada kombinasi kritis dari tegangan geser dan tegangan lentur yang

terjadi pada puncak salah satu retak lentur.

Kadang-kadang retak miring akan terjadi secara independen dalam balok,

meskipun tidak ada retak lentur pada lokasi tersebut. Retak tersebut, yang disebut

retak web-geser, kadang terjadi dalam web balok prategang, khususnya balok

prategang dengan flens lebar dan web tipis.Jenis retak ini akan terbentuk dekat

pertengaha n penampang dan bergerak mengikuti alur diagonal ke permukaan

tarik.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.4. Jenis- jenis retak miring Dengan bergeraknya retak ke arah sumbu netral, mengakibatkan pengurangan jumlah

Gambar 2.4. Jenis- jenis retak miring

Dengan bergeraknya retak ke arah sumbu netral, mengakibatkan pengurangan

jumlah beton untuk menahan geser; artinya tegangan geser akan meningkat pada

beton di atas retak. Perlu diingat bahwa pada sumbu netral tegangan lentur adalah

nol dan tegangan geser mencapai nilai maksimum.

II.4. Analisa Kuat Geser Balok Tanpa Tulangan Geser

Setelah retak berkembang, batang akan runtuh kecuali penampang beton

yang retak dapat menahan gaya yang bekerja. Transfer dari geser di dalam unsur-

unsur beton bertulang tanpa tulangan geser terjadi dengan suatu kombinasi dari

antara beberapa mekanisme sebagai berikut :

  • 1. Perlawanan geser dari penampang yang tak retak di atas bagian yang retak, V

CZ

(diperkirakan sekitar 20% s.d 40%).

  • 2. Gaya ikat (interlocking) antara agregat (atau transfer geser antara permukaan) dalam arah tangensial sepanjang suatu retak, yang serupa

Universitas Sumatera Utara

dengan gaya gesek akibat saling ikat yang tidak teratur dari agregat

sepanjang permukaan yang kasar dari beton pada masing- masing pihak

yang retak (diperkirakan 30% s.d 50%).

  • 3. Aksi pasak (dowel action)

    • V d , sebagai perlawanan dari penulangan

longitudinal terhadap gaya trans versal (diperkirakan 15% s.d 25%).

  • 4. Aksi pelengkung (arch action) pada balok yang relatif tinggi.

dengan gaya gesek akibat saling ikat yang tidak teratur dari agregat sepanjang permukaan yang kasar dari

Gambar 2.5. Retribusi perlawanan geser sesudah terbentuknya retak miring.

Untuk gelagar yang hanya dibebani gaya geser dan lentur ditetapkan

bahwa; pada retakan (geser), kekuatan geser

  • V c yang disumbangkan oleh beton

ditentukan dari kekuatan geser nominal V yang saling mempengaruhi dan momen

u

  • M u

yang terjadi. Dari sejumlah percobaan yang diturunkan secara statistic,

ternyata terdapat hubungan yang ditetapkan menurut persamaan di bawah ini :

V u
V
u
' b d f c w
'
b
d
f
c
w

=

0,14

+

17,1

ρ V d u ' M f c u
ρ
V d
u
'
M
f
c
u

0,3

............

(2.4-1)

Universitas Sumatera Utara

Hubungan ini ditetapkan dalam grafik berikut.

Hubungan ini ditetapkan dalam grafik berikut. Gambar 2.6. Grafik hubungan antara V dan M Pendekatan secara

Gambar 2.6. Grafik hubungan antara V u dan M u

Pendekatan secara eksperimen menghasilkan sekelompok titik-titik yang

berkerumun di sekitar garis yang menetapkan hubungan antara

V

u

dan

M

u

.

Persamaan tersebut memberi ukuran untuk harga V

c

yaitu kekuatan geser nominal

yang disumbangkan oleh beton. Tanpa dengan yang disumbangkan oleh tulangan

geser (sengkang) yang berarti tanpa

V , bentuknya menjadi

s

V u
V
u

= φV . Kemudian

c

rumus tersebut diturunkan sebagai berikut :

  • V c

' b d f c w
'
b
d
f
c
w

=

0,14

+

17,1

ρ V d u ' M f c u
ρ
V d
u
'
M
f
c
u

……….(2.4-2)

atau sebagai :

V c
V
c

=

0,14

 ' f  c 
'
f
c

+

122

V d

ρ

u

  • M u

b

w

d

……………….(2.4-3)

Universitas Sumatera Utara

Pada SKSNI T15-1991-03 rumus ini dijumpai kembali dalam bentuk

1  ρ V d  ' w u V = f + 120 . b
1 
ρ
V d 
'
w
u
V
=
f
+ 120
. b
d
c
c
w
7
M
u
V
d 
'
u
'
V
=
 1,9
f
+
2500
ρ
 b
d
≤ 3,5
f
b
d
c
c
c
w
w
w
M
u
Dalam rumus ini :
' ≤ 0,3 f . b d c w
'
≤ 0,3
f
.
b
d
c
w

(dalam SI) ……….(2.4-4)

(Persamaan ACI 11-5)

.(2.4-5)

' f c b w
'
f
c
b
w

= nilai kekuatan tarik beton, dimana pengaruh mutu beton terhadap

V c
V
c

dapat ditentukan.

= lebar badan balok T atau L dan b untuk lebar balok yang berpenampang

persegi.

  • d = tinggi efektif balok.

ρ

w

= rasio tulangan;

Untuk balok T atau L :

ρ =

w

A

s

b

w

d

Untuk balok persegi :

ρ =

A s

bd

  • V u

  • M u

    • d nilai kelangsingan struktur dan dalam pemakaian rumus (2.4), nilai ini

=

tidak boleh lebih besar daripada 1.

Dari rumus ini dapat dilihat bahwa

  • V c meningkat dengan bertambahnya

jumlah tulangan (dinyatakan dengan

ρ

w

). Dengan meningkatnya jumlah tulangan,

panjang dan lebar retak akan tereduksi. Jika retak dipertahankan sesempit

Universitas Sumatera Utara

mungkin, akan lebih banyak beton yang tersisa untuk menahan geser dan akan

terjadi kontak lebih dekat antara beton pada sisi-sisi yang berlawanan dari retak.

Oleh karena itu akan lebih besarlah tahanan geser oleh friksi (aggregate interlock)

pada kedua sisi.

Pembatasan

rumus

dengan

V c
V
c

0,3

' f . c
'
f
.
c

b d diutamakan agar dapat

w

mencegah peningkatan tulangan supaya situasi “interlocking” lebih menurun

karena tegangan beton yang membesar. Untuk mudahnya, sebagai pendekatan

yang aman boleh berdasarkan rumus berikut :

V

c

=

1 ' f . b c w 6
1
'
f
.
b
c
w
6

d

……….(2.4-5)

Di sini

  • V c ditent ukan tanpa pengaruh kelangsingan dan persentase tulangan.

Rumus ini dianggap sebagai batas bawah yang aman dan akan ditunjukan melalui

Gambar(sebelumnya).

Nilai

V 1 c = = 0,167 ' 6 b d f c w
V
1
c
=
= 0,167
'
6
b
d
f
c
w

dinyatakan dalam gambar sebagai garis putus-

putus (Grafik 2.1). Untuk balok berpenampang persegi berlaku sebagai besaran

  • V , maka rumus (2.5) berubah menjadi :

c

bd

= v

c

v

c

=

V 1 c ' = f c bd 6
V
1
c
'
=
f
c
bd
6

.………

...

(2.5)

  • v c adalah batas tegangan geser dari penampang yang dapat melawan beban lentur

dan geser.

Universitas Sumatera Utara

Bila tegangan geser akibat

V u
V
u

ditentukan sebagai

v

u

=

  • V c , maka penampang

bd

beton yang dapat menerima tegangan geser harus memenuhi persyaratan:

v

c

φv

c

Besar factor reduksi kekuatan φ terhadap tegangan geser menurut pasal 3.2.3.2

sebesar φ = 0,6 . Nilai reduksi ini ternyata lebih rendah dibanding dengan nilai

“standar” φ = 0,8 yang dipakai dalam beban lentur. Berkaitan dengan hal tersebut,

sebagai tegangan geser ditetapkan suatu nilai φ = 0,6 yang berhubungan erat

dengan “keamanan”.

Tegangan batas

φv

c

berubah menjadi

φ

v

c

= 0,6

1 ' f .Nilai φv c 6
1
'
f
.Nilai
φv
c
6

c

untuk

mutu beton yang berbeda - beda dirangkum pada Tabel (

φv

  • c dihitung menurut

formula (3.4.3) dari SKSNI). Bila dipakai rumus 3.4-6 dari SKSNI T-15-1991-03,

maka diperoleh sebagai :

φ

v

c

=

Tabel 2.8. Nilai- nilai

0,6

1

' f  c
'
f
c

7

+ 120

φv

c

× ρ

w

  • V u

d

' f . c
'
f
.
c

…….….(2.6)
M

u

0,6.0,3

b

w

d

   

'

           

Mutu beton f c (MPa)

15

20

25

30

35

φv

  • c (rumus 2.5)

0,39

0,45

0,50

0,55

0,59

φv

  • c (rumus 2.6)

≤ 0,70

≤ 0,80

≤ 0,90

≤ 0,99

≤ 1,06

Bila nilai- nilai

φv

c

yang didapat lebih kecil daripada

v

u

, maka penampang beton

saja tidak kuat menahan tegangan geser. Berarti untuk

  • v u

>

φv

  • c perlu diberi

tulangan tambahan.

Universitas Sumatera Utara

II.5. Analisa Kuat Geser Balok Yang Bertulangan Geser

II.5.1 Mekanisme Analogi Rangka (‘vakwerkanalogi’)

Analogi rangka merupakan konsep lama dari struktur beton bertulang.

Konsep ini menyatakan bahwa balok beton bertulang dengan tulangan geser

dikatakan berperilaku seperti rangka batang sejajar statis tertentu dengan

sambungan sendi. Beton tekan lentur dianalogikan sebagai batang atas rangka

batang, sedangkan tulangan tarik sebagai batang bawah. Web rangka batang

tersusun dari sengkang sebagai batang tarik vertikal dan bagian beton antara retak

tarik diagonal mendekati 45° bekerja sebagai batang tekan diagonal. Tulangan

geser yang digunakan berperilaku seperti batang web dari suatu rangka batang.

II.5. Analisa Kuat Geser Balok Yang Bertulangan Geser II.5.1 Mekanisme Analogi Rangka (‘vakwerkanalogi’) Analogi rangka merupakan

Gambar 2.7. Mekanisme analogi rangka batang

Universitas Sumatera Utara

(a) Rangka Baja Beton Tulangan badan (b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang (c) Balok beton
  • (a) Rangka Baja

Beton Tulangan badan
Beton
Tulangan badan
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
 

(b)

Aksi rangka dalam balok beton bertulang

(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(b) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
  • (c) Balok beton bertulang dengan tulangan geser miring

Beton Tulangan badan
Beton
Tulangan badan
(d) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(d) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
 

(d)

Aksi rangka dalam balok beton bertulang

(d) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
(d) Aksi rangka dalam balok beton bertulang
  • (e) Balok beton bertulang dengan tulangan geser vertikal

Gambar 2.8. Aksi rangka dalam balok beton bertulang dengan tulangan geser

miring dan tulangan geser vertikal

Universitas Sumatera Utara

Meskipun analogi rangka batang telah digunakan bertahun-tahun untuk

menjelaskan perilaku balok beton bertulang dengan tulangan web, tetapi tidak

menjelaskan dengan tepat bagaimana gaya geser dipindahkan. Tentu saja

penulangan geser akan meningkatkan kekuatan geser dari suatu unsur, akan tetapi

penulangan sedemikian hanya akan menyumbangkan sedikit perlawanan geser

sebelum terbentuknya retak miring.

Retak diagonal akan terjadi dalam balok dengan tulangan geser pada

beban yang hampir sama jika retak tersebut terjadi dalam balok dengan ukuran

yang sama tetapi tanpa tulangan geser. Adanya tulangan geser hanya dapat

diketahui setelah retak mulai terbentuk. Pada saat itu, balok harus mempunyai

tulangan geser yang cukup untuk menahan gaya geser yang tidak ditahan oleh

beton.

Setelah retak geser terbentuk dalam balok, hanya sedikit geser yang dapat

ditransfer melalui retak tersebut kecuali jika tulangan web dipasang untuk

menjembatani celah tersebut. Jika tulangan tersebut ada, beton pada kedua sisi

retak akan dapat dipertahankan supaya tidak terpisah. Beberapa keuntungan dapat

diambil, termasuk:

  • 1. Baja tulangan yang melalui retak memikul geser secara langsung,

    • V cz

  • 2. Tulangan mencegah retak semakin besar dan hal ini memungkinkan beton mentransfer geser sepanjang retak melalui kuncian agregat,

V a
V
a
  • 3. Sengkang yang membungkus keliling inti beton berperilaku seperti gelang (hoop) sehingga meningkatkan kekuatan dan daktilitas balok. Dengan cara

Universitas Sumatera Utara

yang sama, sengkang mengikat tulangan memanjang ke dalam inti beton

dari balok dan menahannya dari tarikan selimut beton,

V d
V
d

4. Dengan mengikat beton dari kedua sisi retak, tulangan web membantu

mencegah retak untuk bergerak ke dalam daerah tekan dari balok. Aksi

pasak pada sengkang dapat memindahkan suatu gaya kecil menyeberangi

retak, dan aksi ikat (confinement) dari sengkang pada beton tekan dapat

meningkatkan kekuatan beton.

yang sama, sengkang mengikat tulangan memanjang ke dalam inti beton dari balok dan menahannya dari tarikan

Gambar 2.9. Grafik distribusi geser dalam pada balok dengan tulangan geser

Jenis umum dari penulangan geser, seperti yang terlihat pada Gambar (2.8)

adalah : (1) sengkang yang tegak lurus dengan tulangan memanjang; (2) sengkang

yang membuat sudut 45° atau lebih dengan tulangan memanjang; (3)

pembengkokan dari tulangan memanjang sehingga as dari bagian yang

dibengkokkan membuat sudut 30° atau lebih dengan as memanjang; (4)

kombinasi dari (1) atau (2) dengan (3).

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.10. Jenis tulangan geser Sengkang miring atau diagonal yang hampir segaris dengan arah tegangan utama

Gambar 2.10. Jenis tulangan geser

Sengkang miring atau diagonal yang hampir segaris dengan arah tegangan

utama lebih efisien dalam memikul geser dan mencegah atau memperlambat

terbentuknya retak diagonal. Tetapi sengkang semacam ini biasanya dianggap

tidak praktis digunakan di Amerika Serikat karena diperlukan upah kerja yang

tinggi untuk menempatkan sengkang tersebut. Sebenatnya ini lebih praktis untuk

balok beton precast di mana tulangan dan sengkang disusun terlebih dahulu dalam

bentuk kerangka sebelum digunakan dan balok yang sama diduplikasi beberapa

kali.

II.5.2. Perencanaan Tulangan Geser

Cara konvensional dari ACI di dalam perencanaan kekuatan geser adalah

dengan jalan meninjau kekuatan geser nominal

V n
V
n

sebagai jumlah dari dua bagian

yaitu :

V

n

= V

c

+ V

s

…………………(2.7)

Universitas Sumatera Utara

di mana

V

n

adalah kekuatan geser nominal;

  • V c adalah kekuatan geser dari balok

yang dikerahkan oleh beton; dan

V s
V
s

adalah kekuatan geser akibat penulangan

geser.

Suatu rumus untuk

V

s

dapat dikembangkan berdasarkan penggunaan

rangka analogi. Misalkan bahwa suatu retak mring dengan arah 45° merambat

secara menerus dari tulangan memanjang ke permukaan tekan dan memotong N

buah tulangan geser, seperti yang terlihat pada Gambar (hal 136). Bagian V

s

yang

dipikul

menyeberangi retak

dengan

penulangan

geser

sama

dengan

jumlah

komponen vertikal dari gaya tarik yang timbul di dalam penulangan geser.

Sehingga :

di mana

A

v

V

s

= NA

v

f

y

sin α

…………(2.8)

adalah luas dari tulangan geser dengan jarak

s ,

dan

f

y

adalah

tegangan tarik leleh untuk tulangan geser. Dari ilmu ukur sudut diperoleh,

N

s

= (cot 45 + cot α = (1 + cot α )

d

°

)

d

…………(2.9)

Dengan demikian :

V

s

=

(

d 1

+

cot

α

)

s

A

v

f

y

sin

α

=

A

v

f y
f
y

(

sin

α

+

cos

α

)

d

s

...

……(2.10-1)

Atau bila α = 90°,

V s =

A

v

f

y

d

s

…………

...

…(2.10-2)

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.11. Kekuatan geser V yang ditimbulkan oleh tulangan geser Penulangan geser yang terlalu sedikit jumlahnya

Gambar 2.11. Kekuatan geser V s yang ditimbulkan oleh tulangan geser

Penulangan geser yang terlalu sedikit jumlahnya akan meleleh segera

setelah terbentunya retak miring, dan kemudian balok runtuh. Jika penulangan

geser terlalu tinggi jumlahnya, akan terjadi keruntuhan geser-tekan sebelum

melelehnya tulangan web. Jumla h penulangan geser yang optimal harus

sedemikian hingga tulangan geser dan daerah beton tekan kedua-duanya terus

memikul geser setelah pembentukan dari retak miring sampai melelehnya

tulangan geser, dengan demikian menjamin suatu keruntuhan yang daktail.

Peraturan ACI [Rumus (11-14) dari ACI] mensyaratkan luas tulangan

geser minimum

A

v

sebesar :

A

v

min = 50

b

w

s

f

y

A

v

min =

b

w

s

3 f

y

(dalam SI)

di mana

b

w

adalah lebar dari web balok.

……

...

(2.11-1)

……

...

(2.11-2)

Universitas Sumatera Utara

Dari Persamaan (2.11) harga minimum ini memberikan :

V s
V
s

=

A

v

f

y

d

f

y

d

=

s

s

50

b

w

d

f

y

= 50 b

w

V

s

1

= 

3

MPa

b

w

d

(untuk SI)

atau di dalam satuan tegangan nominal pada luas b d ,

w

v

s

=

V

s

50

b

w

d

=

b

w

d

b

w

d

= 50

lb/inch 2

d

...

…………

(2.12-1)

 

……

...

(2.12-2)

……

...

(2.13-1)

Untuk menjamin agar penulangan geser tidak terlalu tinggi jumlahnya,

ACI-11.5.6.8 memberikan batas untuk v

s

sebesar :

  • v s

6

' f c
'
f
c

sampai

' f c
'
f
c
  • 8 …… (2.13-2) ...

Geser maksimum

V u
V
u

dalam balok tidak boleh melebihi kapasitas geser

rencana dari penampang balok

φV

n

, dimana

φ

sebesar 0,85 dan

V n
V
n

adalah

kekuatan geser nominal dari beton dan tulangan geser :

V u
V
u

φV .

n

Nilai

φV

n

dapat

dibagi menjadi kekuatan geser

rencana beton

φV

c

ditambah kekuatan geser rencana tulangan

φV

s

.

V u
V
u

φV + φV

c

s

……

...

(2.14-1)

Untuk penurunan rumus ini digunakan tanda sama dengan:

V u
V
u

= φV + φV

c

s

……………

...

(2.14-2)

Universitas Sumatera Utara

Kekuatan

  • V c dari Beton. Peraturan ACI mengizinkan penggunaan salah satu

dari antara rumus yang berikut ini sebagai rumusan perencanaan.

  • 1. Untuk metode yang disederhanakan,

' V = 2 f b d c c w
'
V
= 2
f
b
d
c
c
w

untuk SI :

V

c

=

1 ' f b c w 6
1
'
f
b
c
w
6

d

'

;dengan f c dalam MPa

  • 2. Untuk metode yang lebih terperinci,

 V d  ' u ' V =  1,9 f + 2500 ρ 
V
d 
'
u
'
V
=
 1,9
f
+
2500
ρ
 b
d
≤ 3,5
f
b
d
c
c
c
w
w
w
M
u
1
ρ
V d 
'
untuk SI :
V
=
w
u
'
f
+ 100
 b
d
0,3
f
b
c
c
c
w
6
M
u
V d
Harga dari
u
tidak boleh melebihi 1,0; dan
M
M
u
u

w

 

……

...

(2.15-1)

……

...

(2.15-2)

……

...

(2.16-1)

d

……

...

(2.16-2)

adalah momen berfaktor

yang terjadi secara bersamaan dengan V untuk kekuatan geser disediakan.

u

Kekuatan

  • V s

Akibat Penulangan Geser. Sumbangan dari penulangan geser,

sebagai ( Persamaan 2.10 dan Persamaan 2.10-1) :

V

s

=

A

v

f

y

d

s

(sin α + cos α )

dan bila digunakan sengkang vertikal (α = 90°) :

  • V s

=

A

v

f

y

d

s

Universitas Sumatera Utara

Dari rumus ini jarak sengkang yang diperlukan adalah :

s =

A

v

f

y

d

V

s

.……….(2.17)

dan nilai V

s

yang digunakan disini dapat ditentukan sebagai berikut :

V

u

= φV + φV

c

s

V

s

=

V

u

φ

V

c

φ

Dan untuk tulangan yang dibengkokkan atau kelompok tulangan yang

dibengkokkan dengan jarak yang sama dari tumpuan, kita dapatkan :

V

s

= A

v

f y
f
y

sin α

..

………………(2.18)

Kategori dan Persyaratan Perencanaan Peraturan ACI. Perencanaan untuk

geser dapat dibagi atas kategori sebagai ber ikut :

  • 1. 0 , 5φ V

V u
V
u

c

Untuk kategori ini, tidak diperlukan tulangan geser (ACI-11.5.5.1)

2.

0,5φV

c

< V

u

φV

c

Untuk kategori ini diperlukan tulangan geser minimum kecuali untuk unsure-

unsur lentur tipis menyerupai slab yang menurut pengalaman dapat berfungsi

secara memuaskan tanpa penulangan geser. Persyaratan penulangan geser

minimum dapat ditangguhkan bila dilakukan percobaan untuk membuktikan

bahwa kekuatan lentur dan geser yang disyaratkan dapat disediakan.

Universitas Sumatera Utara

Untuk kategori ini, penguatan ges er harus memenuhi ACI-11.5.5.3 dan

11.5.4.1, sebagai berikut:

φV

s

(

perlu = φV minimum = φ 50

s

)b

w

d

dan,

jarak antara s maksimum

d

2

24

inch

3.

[

φV < V φV + φV

c

u

c

s

min ]

Untuk semua unsur lentur, termasuk semua yang dikecualikan di dalam

Kategori 2, harus diberikan penguatan geser yang memenuhi Persamaan

(5.10.10) dan (5.10.11).

  • 4. [ φ

V c
V
c

+ φ

V s
V
s

min

]

<

  • V u

[

(

φ + φ 4

V c
V
c
)b ' f c
)b
'
f
c

w

  • d ]

Untuk SI, ACI 318-83M menggantikan

' f c
'
f
c
  • 4 psi,

' f 3 c
'
f
3
c

jika f c dalam MPa.

Untuk kategori ini, persyaratan penulangan geser yang dihitung akan melebihi

φV

s

minimum yang disyaratkan, dan penguatan geser harus memenuhi Rumus

ACI (11-2), ACI-11.5.6, 11.5.4.1, dan 11.5.4.3, sebagai berikut:

φV

ada

=

φV

φ

A

v

s

perlu

f

y

d

= V

u

φV

c

(untuk α = 90° )

s

 

s

 

s maksimum

=

d

24

inch

2

Universitas Sumatera Utara

5.

[

(

φ + φ 4

V c
V
c
)b ' f c
)b
'
f
c

w

  • d ]

[

(

< ≤ φ + φ 8

V u
V
u
V c
V
c
)b ' f c
)b
'
f
c

w

  • d ]

Untuk SI, ACI 318-83M sebagai pengganti

' f c
'
f
c
  • 4 dan

' f c
'
f
c
  • 8 psi,

' f 3 c
'
f
3
c

dan 2

' f 3 c
'
f
3
c

, jika f c dalam MPa.

Perbedaan antara kategori 4 dan 5 adalah bahwa untuk semua bentang dari

balok dengan tegangan nominal

  • v s

yang harus dipikul oleh penguatan geser

berada di antara

' f c
'
f
c
  • 4 dan

' f c
'
f
c
  • 8 , jarak penulangan geser s yang maksimum

5. [ ( φ + φ 4 V c )b ' f c w d ]

tidak boleh melebihi d 4 .

Jarak s maks

d

≤ ≤ 12

4

inch.

Geser berfaktor

V

u

tidak boleh melebihi batas atas di dalam Persamaan

(5.10.17) menurut ACI-11.5.6.8.

Geser berfaktor maksimum yang harus disediakan untuk balok adalah

yang terjadi di dalam penampang kritis. Persyaratan

V u
V
u

di daerah antara

bidang tumpuan dan penampang kritis harus diambil konstan dan sama dengan

harga pada penampang kritis.

Perhitungan Sengkang menurut SKSNI T15-1991-03. Bila sistem rangka

(Gambar 2.6) dianalogikan sebagai balok beton, maka batang vertikal dari sistem

rangka tersebut sesuai dengan sengkang dari sebuah balok beton. Sengkang ini

mengalami gaya tarik. Gaya yang harus dilawan

  • V s

adalah sumbangan dari

tulangan pada kekuatan geser nominal.

Universitas Sumatera Utara

Luas penampang sengkang yang diperlukan pada pembebanan tersebut :

A

s

=

V

s

φ

f

y

………

...

……(2.19-1)

Karena jarak pusat ke pusat sengkang pada skema ini dianggap z, maka

luas penampang yang diperlukan per satuan panjang adalah:

A

s

V

s

=

z

φ

z

f

y

Besar kekuatan geser nominal yang disumbangkan oleh beton:

V

c

= φ

v bd c
v bd
c

Dengan demikian, yang harus dilawan oleh sengkang adalah:

φ =

V s
V
s

V

u

φ =

V c
V
c

(v

u

)

φ . bd

v

c

Luas penampang sengkang per satuan panjang adalah:

A

s

(

v

u

φ

v

c

)

.

bd

=

z

φ

z

f

y

Luas total penampang sengkang sepanjang y adalah:

A y

s

(

v

u

φ

v

c

)

.

bdy

=

z

φ

z

f

y

Pada rumus ini

v

u

konstan dalam jarak y.

……

...

(2.19-2)

……(2.19-3)

……

...

(2.19-4)

Pada beban yang terbagi rata,

V u
V
u

berkelakuan linier sehingga bentuk distribusi

v

u

berupa linier pula.

Universitas Sumatera Utara

Rumus luas total penampang sengkang adalah :

A

sengk

=

1

2

(

v

u

φ

v

c

)

.

bdy

φ

z

f

y

Dalam situasi ini, jarak antara sengkang harus diatur sesuai dengan

Umumnya rumus yang berlaku untuk tulangan sengkang adalah:

A

sengk

=

(

v

u

φ

v

c

)

rata

rata

.

bdy

φ

z

f

y

Andaikan

A

v

sebagai berikut:

adalah penampang sengkang maka untuk

A

v

=

(

v

u

φ

v

c

)

rata

rata

.

bds

φ

z

f

y

……

 

(2.19-5)

v

u

da n V

u

.

……

...

(2.19-6)

y = s

berlaku

……

...

(2.19-7)

Dalam formula di atas

A

  • v adalah luas penampang ganda dari sengkang.

Dengan

φ =

V s
V
s

V

u

φ

V

c

=

(v

u

φ

v

c

)

. bd maka didapatkan :

A

v

=

φ

V s

s

φ

z

f

y

...

……(2.19-8)

SKSNI T15-1990-03 memberikan rumus ini dalam bentuk sebagai berikut

(Persamaan 2.10-1) :

V

s

=

A

v

f

y

d

s

Universitas Sumatera Utara

Ternyata dalam SKSNI T15-1990-03 diijinkan pemakaian tinggi efektif d dari

harga z yang diturunkan secara teoritis sesuai dengan teori sistem rangka.

Tinggi efektif ini dimasukkan dalam rumus perhitungan sengkang total :

 

A

 

=

(

v

u

φ

v

c

)

rata

rata

.

by

 

...

(2.19-9)

   

……………

 

sengk

 

φ

f

y

Bila ditetapkan (

  • v u

φv

c

)

rata

rata

= φv , maka

s

 

φv

s

dapat ditulis kembali menjadi:

 
 

φ

v

 

=

A

sengk

φ

.

f

y

..

………………(2.20)

s

 

by

 
 

Jarak

maksimum

 

sengkang

 

pada

 

balok

beton

bertulang

yang

   

d

berpenampang persegi adalah:

 

s maks

=

2

 

Tanpa diragukan lagi untuk

V

s

berlaku harga maksimal sebesar

  • v s

maks

=

2 ' f s bd 3
2
'
f
s bd
3

dan diturunkan kembali menjadi

  • v s

maks

=

2 ' f . s
2
'
f
.
s

3

 

Nilai

φv

s

maks untuk berbagi mutu beton diberikan pada Tabel 2.9 berikut.

Tabel 2.9. Nilai

φv

s

maks untuk berbagai mutu beton.

 
 

'

15

20

25

30

35

Mutu beton f c

(MPa)

φv

s

maks

1,55

1,79

2,00

2,19

2,37

Universitas Sumatera Utara

II.6 Kontribusi Lembaran FRP Dalam M emikul Geser

Berdasarkan analogi rangka, kontribusi lembaran FRP dalam memikul

gaya geser yang bekerja dapat diperhitungkan dengan menambahkan suku V f

pada persamaan (ACI Committee 440), sehingga :

 

Φ Vn = Φ (Vc

+ Vs + ψVf )

. (2.21)

dengan :

Φ

= faktor reduksi kekuatan, 0,65

ψ

= faktor reduksi tambahan untuk FRP,

 

= 0,95 untuk komponen yang ditutup lembaran keliling penampang

atau keempat sisinya

= 0,85 untuk U- wrap tiga sisi atau bentuk pelat

II.6 Kontribusi Lembaran FRP Dalam M emikul Geser Berdasarkan analogi rangka, kontribusi lembaran FRP dalam memikul

Gambar 2.12. Notasi perkuatan geser

Universitas Sumatera Utara

Ada beberapa pendekatan yang berhasil dikembangkan untuk memperhitungkan

V f , yaitu :

  • a. Model A. Khalifa et al. (1998)

Kontribusi geser dari lembaran FRP transversal yang dipasang pada badan

penampang dapat diperhitungkan sebagai berikut :

dengan ;

dimana :

V

f

= A . f . sin β + cos β .

f

fe

(

)

d

f

s

f

………

..

(2.22)

f

fe

= R. f

fu

R =

0,562.(

ρ f
ρ
f

. E

f

)

2

1, 218(

ρ

f

. E

f

)

+

0,778

0,5

f fu = kuat tarik ultimit serat transversal

f fe = tegangan efektif serat transversal

ρ f = rasio tulangan serat transversal FRP =

2.

t

f

.

w

f

b

w

.

s

f

β = sudut antara serat transversal dengan sumbu longitudinal balok

d f = tinggi efektif serat FRP

A f = luas penampang serat transversal =

2t

f

.w

f

s f = jarak/ spasi pemasangan serat transversal

w f = lebar serat transversal

t f = tebal serat transversal

E f = modulus elastisitas serat , dalam Gpa

Universitas Sumatera Utara

  • b. Model Maeda et al. (1997)

Pengujian yang dilakukan Maeda et al. berdasarkan tegangan lekat an lembaran

FRP pada permukaan beton, dengan variasi kekakuan dan panjang lekatan.

Hubungan fungsi dari ketebalan lembaran FRP dengan modulus elastis FRP

disajikan dalam persamaan berikut :

L e = e 6.134-0.58ln(t f Ef )

…………… (2.23-1)

Karena kekakuan lembaran serat meningkat, maka panjang efektif nya berkurang.

Selanjutnya data pengujian menunjukkan tegangan lekatan saat runtuh merupakan

fungsi linier dari kekakuan, dimana k = 110.2x10 6 /mm.

τ bu = k E f t f

…………

......

(2.23-2)

Berdasarkan kesimpulan Horiguchi et al. (Oct 1997), kuat lekat antara lembaran

FRP dengan permukaan beton adalah fungsi dari (f’ c /42) 2/3 .

τ bu = k(f’ c /42) 2/3 E f t f

………… ......

(2.23-3)

Lebar efektif serat tergantung pada sudut retak geser (asumsi 45°), dan nilai w fe

ditentukan dari persamaan-persamaan berikut :

w fe =

d f

jika lembaran serat membungkus seluruh balok

w fe =

d f - L e

jika lembaran serat diaplikasikan dengan bentuk U

w fe = d f - 2L e jika lembaran serat hanya dilekatkan pada sisi balok

Sehingga kontribusi lembaran CFRP memikul kapasitas geser diperhitungkan

dengan persamaan:

V

f

=

2

L w

e

f

τ

bu

w

fe

s

f

………

..

……

(2.23-4)

Universitas Sumatera Utara

Mulai
Mulai

Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E f , t f , f fu ) dan konfigurasi FRP.

FRP

Yang dikehendaki : menghitung kontribusi lembaran serat carbon (FRP) terhadap kapasitas geser balok.

     
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,

Pendekatan desain berdasarkan mekanisme lekatan

   
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,

Gunakan persamaan :

 

L e = e 6.134 – 0.58 ln (t

 

E )

f

f

τ bu = k(f c /42) 2/3 E f t f w fe = d f

 

w fe = d f w fe = d f

- L e - 2L e

untuk memperoleh : panjang efektif lekatan L e , kuat lekat τ bu , dan tebal

efektif w fe berturut -turut.

 
   
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,

Gunakan persamaan :

 

2Le w f τ bu w fe

V f = s f untuk memperoleh nilai V f

Gunakan persamaan : 2Le w τ w V = s f untuk memperoleh nilai V
 

Pendekatan desain berdasarkan tegangan efektif FRP

   
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,

Pendekatan ini berlaku untuk kasus :

ρ f E f

<

1.1 GPa

   
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,

Hitung

ρ f :

ρ f = 2 t f /b w (untuk lembaran FRP menerus) ρ f = (2 t f /b w ) (w f /s f ) (untuk potongan FRP)

   
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,

Gunakan persamaan :

R = 0.562(ρ f E f ) 2 – 1.218(ρ f E f ) + 0.778 ≤ 0.5 untuk menghitung faktor reduksi R. Kemudian hitung f fe menggunakan persamaan :

f fe

= R f fu

   
Mulai Diketahui : besaran -besaran penampang balok beton bertulang, mutu beton, besaran / sifat (E ,

Gunakan persamaan :

 

A f f fe (sinβ + cosβ) d f

V f = s f untuk memperoleh nilai V f

 
   
Gunakan persamaan : A f (sinβ + cosβ) d V = s f untuk memperoleh nilai

Ambil nilai V f terkecil yang diperoleh

dari kedua pendekatan di atas.

   
Selesai
Selesai

Gambar 2.13. Bagan alir perhitungan dalam mencari nilai V f berdasarkan

tegangan efektif serat dan metode lekatan serat.

Universitas Sumatera Utara

  • c. Model Taljsten et al.

Karena V f me miliki pendekatan pola yang mirip dengan tulangan geser, maka

analogi rangka dapat digunakan, dengan anggapan khusus kepada hubungan

kompatibiliti untuk sistem serat FRP.

c. Model Taljsten et al. Karena V me miliki pendekatan pola yang mirip dengan tulangan geser,

Gambar 2.14. Pendekatan analogi rangka terhadap serat transversal FRP

N

hor

=

ε

hor

.

E

hor

.

A

hor

s

hor

N

ver

=

ε

ver

.

E

ver

.

A

ver

s

ver

N

res

2 2 + N hor ver
2
2
+ N
hor
ver

= N