Anda di halaman 1dari 8

C.

PEMBAHASAN

Sarana produksi merupakan bahan yang sangat menentukan di dalam budidaya tanaman pada suatu wilayah tertentu. Sarana produksi berperan penting di dalam usaha mencapai produksi sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Sarana yang ada hubungannya langsung dengan pertumbuhan tanaman di lapangan adalah benih atau bibit, pupuk, bahan kimia pengendali musuh tanaman atau perangsang tumbuh tanaman dan alat-alat pertanian. Sarana produksi pertanian atau saprotan terdiri atas bahan yang meliputi benih, pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh, dan obat-obatan dan peralatan serta sarana lainnya yang digunakan untuk melaksanakan proses produksi pertanian. Sarana-sarana tersebut harus sudah dipersiapkan sebelum memulai kegiatan budidaya tanaman (Djakfar,Z.R, 1990).

(Menurut Lingga, 1986) Pada dekade terakhir ini segala upaya telah dicoba supaya semua tanaman diperkebunan memberikan hasil maksimum. Ini terlihat dari beragamnya sarana penunjang pertanianbaik berupa pupuk, pengolah tanah, pemberantas penyakit, dan zat-zat perangsang pertumbuhan yang jumlahnya mencapai puluhan jenis. 1. Benih beserta tipenya

Menurut Sutarno dkk (1997) secara teknologi dikenal benih yang bersifat ortodoks dan rekalsitran. Benih ortodoks tidak mati walaupun dikeringkan sampai kadar air yang relatife sangat rendah dengan cara pengeringan cepat dan juga tidak mati kalau benih itu disimpan dalam keadaan suhu yang relative rendah.contoh benih yang bersifat ortodoks antara lain adalah benih Acacia mangium Wild (Akasia),Dalbergia latifolia Roxb (sonobrit),Eucalyptus urophylla S.T (ampupu),Eucalyptus deglupta Blume (leda), Gmelina arborea Linn (gmelina), Paraserianthes falcataria Folsberg (sengon),Pinus mercusii Jung et de Vriese (tusam), dan Santalum album (cendana) Benih yang bersifat rekalsitran, akan mati kalau kadar airnya diturunkan sebelum mencapai kering dan tidak tahan di tempat yang bersuhu rendah.contoh benih ini adalah Agathis lorantifolia Salisb (dammar),Diosypros celebica Back (eboni) ,Hevea brasiliensis Aublet (Kayu karet),Macadamia hildenbrandii Steen (makadame),Shore compressa, Shorea seminis V.SI.

2. Pupuk

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik atau anorganik ( mineral ). Pupuk berbeda dari suplemen, pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan tumbuhan dan

perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.

Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos. Macam macam pupuk

Dalam praktek sehari-hari, pupuk biasa dikelompok-kelompokkan untuk kemudahan pembahasan. Pembagian itu berdasarkan sumber bahan pembuatannya, bentuk fisiknya, atau berdasarkan kandungannya. Pupuk berdasarkan sumber bahan Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (bahasa Inggris:m anur e) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan (Ing.fertilizer). Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa- sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya;

keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif. Pupuk berdasarkan bentuk fisik

Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman. Pupuk berdasarkan kandungannya

Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro, karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan.
3.

Zat Pengatur Tumbuh ( ZPT )

Kalau kita berbicara mengenai ZPT, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa yang dinamakan hormon tanaman. Hal ini sangat penting karena sering terjadi kerancuan pengertian di masyarakat antara ZPT dengan hormon tanaman. Hormon berasal dari kata Yunani yaitu hormon yang berarti menggiatkan, merangsang, membangkitkan timbulnya suatu aktivitas. Menurut Moore (1979) hormon adalah suatu zat /senyawa organik yang bukan nutrisi tanaman, aktif dalam jumlah yang sangat kecil, disintesa pada bagian tertentu tanaman kemudian diangkut ke bagian lain dimana zat tersebut menimbulkan pengaruh khusus secara biokimia. Yang dimaksud hormon disini adalah Auxin, Giberelin, Cytokinin, ethylen dan ABA. Sedangkan zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik yang bukan nutrisi tanaman yang dalam jumlah kecil atau konsentrasi rendah akan merangsang dan mengadakan modifikasi secara kwalitatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa semua hormon adalah zat pengatur tumbuh tetapi tidak sebaliknya karena ZPT dapat dibuat atau disintesa oleh manusia tetapi hormon tidak.

Yang dimaksud dengan ZPT disini adalah 2,4-D, 2,4-S-T, IBA, NAA dan lain lain. Penggunaan Zat pengatur tumbuh bila digunakan dengan konsentrasi rendah akan merangsang dan menggiatkan pertumbuhan tanaman, dan sebaliknya bila digunakan dalam jumlah besar/konsentrasi tinggi akan menghambat pertumbuhan bahkan dapat mematikan tanaman. Seiring dengan kemajuan dan perkembangan tekhnologi di bidang pertanian, dan berdasarkan berbagai macam penelitian maka ditemukan aneka ragam zat pengatur tumbuh yang dapat difungsikan sebagai herbisida untuk mematikan gulma atau tanaman pengganggu. ZPT dapat berubah fungsi menjadi racun bila dipakai melebihi kadar tertentu dan dari hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak zat pengatur tumbuh (ZPT) yang dapat dipergunakan sebagai herbisida. Lebih lanjut didapatkan pula bahwa, zat pengatur tumbuh tertentu memepunyai sifat-sifat yang selektif sehingga gulma dapat dimatikan tetapi tanaman pokok yng dibudidayakan tidak terganggu. Di era tekhnologi modern saat ini, ZPT yang banyak digunakan sebagai herbisida pemberantas gulma terutama adalah 2,4-D, 2,4,5-T dan MCPA atau MCP.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ZPT yang masuk dalam grup auksin ( hormone auxin ) terdiri dari beberapa jenis yaitu : jenis indol seperti IBA dan IAA, jenis Napthalen seperti NAA dan jenis Plenoxy seperti 2,4-D, 2,2,5-T dan MCPA. Pada umumnya ZPT dalam grup auksin ini bekerja terutama dalam proses pembelahan dan pembesaran sel serta pembentukan akar stek bila diberikan dalam konsentrasi yang rendah. Namun bila diaplikasikan dalam konsentrasi yang tinggi maka proses pembelahan dan perbesaran sel terjadi sangat cepat melebihi situasi normal akibatnya pembelahan dan perbesaran

sel menjadi tidak karuan yang beerakibat pada proses penghambatan pertumbuhan yang pada akhirnya terjadi dengan kematian.
4.

Pestisida

Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal daripest ("hama") yang Diberiakhiranci de("pembasmi").Sasarannyabermacammacam,seperti serangga, tikus , gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun". Tergantung dari sasarannya, pestisida dapat berupa insektisida(s er a ngga ) fungisida( f ungi/ ja mur ) rodentisida (hewan pengerat/Rodentia)

herbisida( gul ma ) akarisida(tunga u ) bakterisida( ba kt er i)

Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem. Dengan adanya pestisida ini, produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga semakin baik. Karena pestisida tersebut racun yang dapat saja membunuh organisme berguna bahkan nyawa pengguna juga bisa terancam bila penggunaannya tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan. menurut depkes riau kejadian keracunan tidak bisa di tanggulangi lagi sebab para petani sebagian besar menggunakan pestisida kimia yang sangat buruk bagi kesehatan mereka lebih memilih pestisida kimia dari pada pestisida botani ( buatan ) kejadian keracunan pun sangat meningkat di provinsi tersebut. menurut data kesehatan pekan baru tahun 2007 ada 446 orang meninggal akibat keracunan pestisida setiap tahunnya..dan sekitar 30% mangalami gejala keracunan saat menggunakan pestisida..karna petani kurang tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan penggunaan pestisida secara berlebihan,dan berdasarkan hasil penilitian Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. dari sumatra barat tahun 2005 mengatakan penyebab keracunan pestisida di riau akibat kurang pengetahuan petani dalam penggunaan pestisida secara efektif dan tidak menggunakan alat pelindung diri saat pemajanan pestisida,hasilnya dari 2300 responden yang peda dasarnya para petani hanya 20% petani yang menggunakan APD ( alat pelindung diri ), 60% patani tidak tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan mereka mengatakan setelah manggunakan pestisida timbul gejala pada tubuh ( mual,sakit tenggorokan, gatal - gatal, pandangan kabur, Dll.)dan sekitar 20% petani tersebut tidak tau sama sekali tentang bahaya pestisida terhadap kesehatan,begitu tutur Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. beliau jg mengatakan semakin rendah tingkat pendidikan petani semakin besar risiko terpajan penyakit akibat pestisida.

Oleh karena itu, adalah hal yang bijak jika kita melakukan usaha pencegahan sebelum pencemaran dan keracunan pestisida mengenai diri kita atau makhluk yang berguna lainnya. Usaha atau tindakan pencegahan yang perlu dilakukan adalah :

1. Ketahui dan pahami dengan yakin tentang kegunaan suatu pestisida. Jangan sampai salah berantas. Misalnya, herbisida jangan digunakan untuk membasmi serangga. Hasilnya, serangga yang dimaksud belum tentu mati, sedangkan tanah dan tanaman telah terlanjur tercemar. 2. Ikuti petunjuk-petunjuk mengenai aturan pakai dan dosis yang dianjurkan pabrik atau petugas penyuluh.

3. Jangan terlalu tergesa-gesa menggunakan pestisida. Tanyakan terlebih dahulu pada penyuluh. 4. Jangan telat memberantas hama, bila penyuluh telah menganjurkan menggunaannya. 5. Jangan salah pakai pestisida. Lihat faktor lainnya seperti jenis hama dan terkadang

usia tanaman juga diperhatikan. 6. Gunakan tempat khusus untuk pelarutan pestisida dan jangan sampai tercecer. 7. Pahami dengan baik cara pemakaian pestisida.

Pestisida adalah zat kimia yang beracun untuk pengendalian musuh musuh tanaman. Berdasarkan kegunaannya pestisida dapat dibagi kedalam beberapa jenis, yaitu insektisida, herbisida, moluskarida, akarisida, rodentisida, fungisida, bakterisida, dan nematisida. Pestisida juga mempunyai beberapa bentuk formulasi pestisida yaitu berupa cairan semprot (sprayer), tepung hembus ( dust ), butiran (granular ), pasta, uap ( smoke ), kabut dan gas. Pestisida juga mempunyai beberapa bentuk formulasi yaitu EC ( emulsifiable concentrate ), WP ( wettable powder ), SP ( soluble powder ), WSC ( water soluble concentrate ), dan ULV ( ultra low volume ).
5. Inokulan

Inokulan adalah bakteri yang diinokulasikan atau dikembangbiakan ketanaman baru. Inokulan terjadi pada kebanyakan budidaya tanaman leguminosa yang memerlukan inokulasi bakteri rhizobium.

Mekanisme kerja sama antara bakteri rhizobium dan tanaman legum dalam bentuk simbiosis mutualisme, yaitu simbiosis saling menguntungkan dimana bakteri menjadi unsur C dari tanaman sebagai sumber energi bakteri, dan tanaman mendapatkan N dari bakteri, karena bakteri mampu memfiksasi N2 dari udara. Inokulasi rhizobium digunakan untuk : penasnaman leguminosa ditanah untuk pertama kalinya, penanaman leguminosa yang baru disuatu areal / lahan ,dan penanaman jenis leguminosa pada tanah yang populasi rhizobiumnya sangat rendah. Inokulasi dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan menggunakan tanah , secara alami, dan menggunakan biakan murni.

D. KESIMPULAN dan SARAN Kesimpulan


y

Benih adalah biji yang terpilih yang digunakan untuk perkembangbiakan atau untuk produksi biji selanjutnya.
y

Pupuk adalah senyawa yang mengandung unsur hara yang diberikan tanaman dengan dosis tertentu.
y

Zat pengatur tumbuh adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang bisa digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman, misalnya untuk merangsang pembungaan dan pembuahan, merangsang pertumbuhan vegetatif, mematikan cabang yang tidak dikehendaki dan lain sebagainya.
y

Pestisida adalah substansi kimia yang digunakan untuk pemberantasan hama dan penyakit.
y

Inokulan adalah bakteri yang membantu mengikat nitrogen dari akar. Saran
y

Berikan pengetahuan kepada praktikan secara praktek, apa itu benih dan bagaimana cara penanamannya.
y

Berikan pengetahuan kepada praktikan secara praktek, macam macam pupuk dan cara pengolahannya.
y

Berikan pengetahuan kepada praktikan secara praktek, bagaimana penggunaan pestisida itu secara tepat.
y

Berikan pengetahuan kepada praktikan secara praktek, bagian bagian manakah yang terdapat pada tumbuhan zat pengatur tumbuh itu terdapat.
y

Berikan pengetahuan kepada praktikan secara praktek, yang manakah dan terdapat pada apa, yang disebut dengan inokulan DAFTAR PUSTAKA Cahyono, Bambang. 2000.Manggis Budidaya dan Analisis Usahatani. Yogyakarta :Kanisius. Rubatzky, Vincent & Yamaguchi. 1998. Sayuran Dunia I Prinsip, Produksi dan Gizi. Bandung : Institut Teknologi Bandung. Rukmana, Rahmat. 1995. Pepaya Budidaya dan Pasca Panen. Yogyakarta : Kanisius Setiamidjaja, Djoehana. 2000. Budidaya dan Pengelolaan Pasca Panen. Yogyakarta : Kanisius Siregar, Tumpal. 2000. Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat. Jakarta : Penebar Swadaya. Soedarnadi. Hartono. 1995.Tum buhanMonok otil. Bogor : Penebar Swadaya. Sutarno dkk,1997. PENGENALAN PEMBERDAYAAN POHON HUTAN,Prosea Indonesia-Prosea Network Office,Pusat Diklat Pegawai & SDM Kehutanan, Bogor 1997 Sworth, Gold Peter. 19925. Fisiologi Budidaya Tanaman Tropik. Yogyakarta : GajahMada University Press. Tim Penyusun Kamus PS. 1997. Kamus Pertanian Umum. Jakarta : Penebar Swadaya.