Anda di halaman 1dari 61

RENUNGAN HARIAN

Minggu III Nopember 2011


Tgl. 14-11 s/d 20-11

Ranting Embun Yogyakarta

RENUNGAN HARIAN
Edisi : Nopember Minggu III Tgl. 14-11-2011 s/d 20-11-2011 Penulis : Gregorius Garuda Sukmantara Cover : Diterbitkan oleh: Ranting Embun Yogyakarta Alamat Redaksi: Banteng Permai No. 9 Perum. Banteng Baru, Jl. Kaliurang Km. 8 Yogyakarta Telp. (0274)8260655, 886785

Senin, 14 November 2011 Lukas 18:35-43 Tuhan, supaya aku dapat melihat (35) Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. (36) Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" (37) Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." (38) Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" (39) Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" (40) Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika

ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: (41) "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" (42) Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" (43) Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memujimuji Allah. ----------------------Mungkin keinginan terbesar dari orang buta adalah dapat melihat, keinginan terbesar dari orang tuli adalah dapat mendengar, orang miskin keinginannya dapat menjadi kaya raya, orang sakit keinginannya sembuh dari sakitnya, keinginan orang bodoh menjadi

pandai, keinginan orang bisu dapat berbicara. Semua keinginan itu baik yang terpendam atau terungkap tetap menghendaki pemenuhan. Ketika ada sarana, ada jalan, ada orang yang dipercaya bisa membantu memenuhi keinginan itu, terlontarlah keinginan itu. Berita tentang Yesus orang Nazaret telah tersebar dan kemungkinan orang buta itu telah pula mendengarnya. Apa yang ia dengar itu memicu kembali keinginannya yang mungkin telah padam, keinginan untuk dapat melihat. Maka spontan ia pun berseru Yesus, Anak daud kasihanilah aku!. Orang buta itu sesungguhnya telah melihat sebelum Yesus melakukan mukjizat atasnya. Yang ia lihat adalah kesempatan emas untuk bisa sembuh penglihatannya, dan ia tidak

ingin kesempatan emas itu berlalu begitu saja maka ia berseru dan terus berseru. Ketika dibawa mendekat kepada Yesus dan ditanya, Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Tanpa ragu lagi ia menjawab, Tuhan, supaya aku dapat melihat. Ia mengucapkannya dengan penuh harapan dan penuh keyakinan. Dan Yesus menurunkan kuasa atasnya, Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau. Sebuah peristiwa luar biasa terjadi dengan alur cerita yang sangat sederhana. Tidak ada perjuangan, tidak ada pengorbanan yang habis-habisan, tidak ada pula peristiwa jatuh-bangunnya si buta hingga sampai mendapatkan kesembuhan. Kesempatan emas itu seperti datang begitu saja dan menghampirinya saat ia telah kehabisan harapan.

Sebenarnya banyak hal yang menarik dari alur yang sederhana itu jika kita refleksikan ke dalam hidup kita. Pertama soal situasi kebutaan yang dialami si orang buta. Mungkin kita tidaklah buta, kita bisa melihat dengan jelas, kedua mata kita normal sebagaimana orang lain. Telinga kita juga tidak tuli, kedua telinga kita bisa mendengar dengan jelas sebagaimana orang lain. Tetapi jika si orang buta itu dalam kebutaannya melihat kesempatan emas manakala mendengar Yesus lewat, adakah kita yang bisa melihat ini bisa pula melihat apa yang ia lihat? Adakah perjumpaan dengan Yesus menjadi kesempatan emas bagi kita untuk mengungkapkan harapan dan keinginan? Kedua, menyangkut harapan. Sebelum mendengar tentang Yesus orang Nazaret, mungkin orang buta itu telah kehabisan

harapan. Mungkin ia telah pasrah dengan keadaan yang ada pada dirinya. Tetapi begitu mendengar berita tentang Yesus, harapannya muncul dan semakin menggelembung ketika mendengar bahwa yang akan lewat adalah Yesus orang Nazaret yang sering diberitakan orang. Kedua telinga kita yang normal juga telah mendengar kabar tentang Yesus. Bahkan bukan hanya dengan sebutan orang Nazaret, atau anak Daud tetapi dengan sebutan Yesus Anak Allah yang hidup. Adakah tumbuh harapan besar dalam diri kita ketika mendengar tentang diri-Nya? Harapan akan apakah yang muncul dan menggelembung di dalam benak kita? Mungkin saja kita bisa berkilah, Oh..orang buta itu kan hidup di jamannya Yesus, kalau aku juga hidup di jaman Yesus pasti akupun

demikian. Jika memang demikian halnya, untuk apa ada Kitab Suci? Untuk apa pula kita setiap Minggu bahkan setiap hari mengikuti perayaan Ekaristi? Sekiranya kita menganggap kabar tentang Yesus melalui Kitab Suci itu sebagai cerita masa lalu dan perayaan Ekaristi itu hanya berhenti sebagai simbol belaka, maka kita lebih buta dari orang buta di pinggir kota Yerikho, dan kita juga lebih tuli dari pada orang Tuli yang disembuhkan oleh Yesus. Kita akan hidup dalam harapan yang semu dan tanpa keinginan sedikitpun untuk mengalami Tuhan dalam hidup kita di dunia ini. Kita berseru HalleluyaPuji Tuhan sambil terpejam dan dituntun oleh tongkat keinginan kita sendiri karena kita buta akan Dia.

REFLEKSI Menjadi murid Kristus adalah menyadari bahwa kita telah diselamatkan oleh-Nya, telah disembuhkan dari kebutaan kita. Adakah kita melihat Dia dan mengalami Dia dalam kehidupan kita? Semua tergantung pada iman kita, sebagaimana orang buta itu melihat karena imannya. DOA & RENUNGAN Ketika mengikuti perayaan Ekaristi, aku mendengar dengan kedua telingaku sabda Tuhan dibacakan. Aku mendengar dengan jelas etiap kata, setiap kalimat, setiap tekanan yang kuyakini sebagai Sabda Tuhan. Memang bukan Tuhan Yesus sendiri yang berdiri di mimbar dan secara langsung menyuarakannya. Tetapi sabda yang disuarakan itu adalah kalimat yang pernah

10

Dia ucapkan. Jika aku meyakini bahwa Dia bangkit dan hidup hingga saat ini sampai selamanya, maka sabda yang pernah Dia ucapkan dahulu pun hidup hingga saat ini sampai selamanya. Sabda itu bukan lagi sabda yang pernah Dia ucapkan tetapi sabda yang sedang Dia ucapkan. ---- tetapi aku dan sikapku kadang menganggapnya sebagai angin lalu. Saat konsekrasi, ketika Hosti Kudus dan piala berisi anggur diangkat, kudengar kalimat persis seperti yang dia ucapkan ketika perjamuan terakhir. Sekiranya aku yakin bahwa Ia bangkit dan hidup, maka kalimat itupun tetap hidup dan pernyataan mengenai hosti dan anggur adalah realita yang dinyatakan sebagai tubuh dan darah-

11

Nya dan bukan simbol belaka, melainkan wujud kehadiran-Nya. ---- tetapi aku dan sikapku membiarkan kesempatan emas itu berlalu begitu saja. Aku lebih buta dari orang buta. Ketika aku keluar dari gereja setelah mengikuti perayaan Ekaristi, semua kembali seperti biasa. Aku hidup sebagaimana biasa, Tidak ada yang berubah, tidak ada yang istimewa sampai minggu berikutnya aku kembali datang ke gereja untuk mengikuti perayaan yang sama. ----- ternyata aku dan sikapku, tak lebih dari orang buta sekaligus tuli.

12

Selasa, 15 November 2011 Lukas 19:1-10 Mencari dan menyelamatkan yang hilang (1) Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. (2) Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. (3) Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. (4) Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. (5) Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."

13

(6) Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. (7) Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." (8) Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (9) Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. (10) Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." ----------------------Zakheus..Zakheus, siapa tidak mengenal dia? Seorang pemungut cukai, gendut,

14

pendek, mungkin perangainya juga menyebalkan. Mungkin dia lebih dikenal sebagai pemeras, pengkhianat bangsa, pendosa dan kejam terhadap orang miskin. Kabar tentang Yesus orang Nazaret itu juga didengar oleh Zakheus. Cerita mengenai kehebatan, mukjizat-mukjizat, dan kotbahkotbahNya yang istimewa juga mungkin sampai di telinganya. Zakheus penasaran, Zakheus tertarik, dan Zakheus ingin melihat seperti apa sih Yesus orang Nazaret itu? Tanpa dia sadari, sebenarnya dia telah membangun kerinduan akan Yesus. Ketika kerumunan orang menghalangi dia untuk melihat Yesus, dia tidak menyerah dan kembali pulang. Rasa penasaran itu membuat ia berlari mendahului dan berusaha memanjat pohon agar tidak lagi terhalangi oleh orang lain. Saat Yesus

15

sampai di dekatnya, mungkin rasa penasarannya terpenuhi. Tetapi saat itulah terjadi peristiwa besar (mungkin yang terbesar) dari hidupnya. Zakheus disapa oleh Tuhan, bahkan Tuhan menawarkan kebersamaan dengannya. Zakheus mengalami kesempatan emas, dan dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Mengalami Yesus membuat Zakheus berubah,bahkan ia berjanji untuk membagikan hartanya dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang pernah ia peras. Kembali sebuah alur cerita yang sederhana tetapi di dalamnya terungkap peristiwa yang luar biasa. Seorang yang penasaran dan hanya ingin melihat, disapa oleh Tuhan bahkan berkesempatan mengalami

16

kebersamaan dengan Tuhan. Mungkin malam sebelumnya Zakheus tidak bermimpi apa-apa, semua terjadi begitu saja. Zakheus mengalami satu hari yang paling berarti dalam hidupnya. Mungkin juga kita berkilah, Lho..itu kan Zakheus. Kebetulan ia tinggal di Yerikho, kebetulan ia Yesus datang ke kota itu, kebetulan pula ia hidup di jamannya Yesus. Pertanyaan yang menarik adalah, apakah jika kita pun tinggal di Yerikho, kita pun hidup di jaman Yesus, kita akan melakukan hal yang sama sebagaimana yang Zakheus lakukan? Marilah kita menengok ke hidup kita sendiri. Berapa kali kita mengikuti Perayaan Ekaristi? Berapa kali kita menerima Hosti Kudus yang adalah tubuh dan darah-Nya? Berapa kali kita mendengar tawaran-Nya

17

untuk tinggal bersama Dia melalui bacaan Kitab Suci? Adakah kita pun berani berkata dan berjanji sebagaimana Zakheus? REFLEKSI Mengalami Yesus membuat Zakheus berubah. Logikanya, jika tidak mengalami Yesus maka Zakheus tidak berubah. Jika kita juga tidak kunjung berubah, logikanya kita tidak pernah mengalami Yesus. Benarkah? DOA & RENUNGAN Aku tertawa saat membayangkan Zakheus yang gendut, pendek, tidak muda lagi berusaha menguak kerumunan orang namun tidak berhasil. Berusaha mencari celah untuk bisa sampai di depan namun tidak juga berhasil. Aku tertawa membayangkan

18

Zakheus berlari-lari dengan badannya yang pendek dan gendut itu hanya karena ingin mendahului orang lain. Aku pun tertawa membayangkan dia berusaha memanjat pohon. Yaaku mentertawakan Zakheus yang berusaha untuk bisa melihat Tuhan. Jika aku menjadi Zakheus, mungkin aku akan cuek dan tidak peduli saat mendengar bahwa Yesus akan lewat kota Yerikho. Jika aku menjadi Zakheus, mungkin aku akan segera pulang begitu tidak bisa melihat Yesus karena terhalang kerumunan orang. Jika aku menjadi Zakheus, tidak akan aku berlari-lari hanya untuk mendahului orang lain karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jika aku menjadi Zakheus, ngapain juga harus repot-repot memanjat pohon ara. Toh aku bisa bertanya kepada bawahanku, Eh..Yesus itu orangnya

19

seperti apa sih? Apa saja yang Ia lakukan tadi di kota ini? Sekiranya aku menjadi Zakheus, aku tidak mengalami kesempatan emas sebagaimana Zakheus. Karena aku bukan Zakheus.maka sampai saat ini aku tidak berubah sebagaimana dirinya. Karena aku bukan Zakheusmaka aku tetap tidak peduli akan kehadiran-Nya. Karena aku bukan Zakheus, maka aku tidak mendengar ketika Ia berkata, Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Karena aku bukan Zakheus.maka aku tetap menjadi yanghilang, yang Ia cari dan berusaha Ia selamatkan.

20

Rabu, 16 November 2011 Lukas 19:11-28 Kebijaksanaan-Nya (11) Untuk mereka yang mendengarkan Dia di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan. (12) Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. (13) Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.

21

(14) Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami. (15) Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing. (16) Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. (17) Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.

22

(18) Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. (19) Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota. (20) Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. (21) Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur. (22) Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.

23

(23) Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya. (24) Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. (25) Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. (26) Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. (27) Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah

24

mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku." (28) Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. ----------------------Hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan adalah, mengapa dalam perumpamaan tersebut Yesus menentukan jumlah hamba yang dipanggil tuannya dan diberi kepercayaan 10 mina itu ada 10 orang. Mengapa bukan 12 sebagai simbol dari ke12 suku Israel? Mengapa hanya 10 dan bukan 5 atau 3 saja, toh hamba yang memberi laporan dalam cerita itu hanya 3 orang, sementara 7 hamba lainnya tidak diceritakan laporannya bagaimana. Sepintas mungkin pikiran tersebut terlalu mengada-ada. Tetapi apakah Yesus

25

bercerita itu hanya untuk mengisi waktu luang belaka? Apakah Ia bercerita hanya untuk meramaikan suasana supaya tidak sepi atau agar suasana perjamuan menjadi hidup? Jika Yesus mempunyai maksud dengan cerita-cerita-Nya, mungkin Dia pun tidak sembarangan menyebut sebuah angka, terlebih Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem dimana di kota itu Ia hendak memuncakkan karya-Nya. Melalui simbol, bukan tidak mungkin di dalamnya tersembunyi maksud tertentu. Bagi orang Yahudi, ketika disebut bilangan 10 yang jelas terlintas dalam pikiran mereka adalah ke-10 perintah Allah. Sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Musa menjadi hukum dasar bagi orang Yahudi. Kesepuluh perintah itu tertulis pada dua loh batu dengan komposisi 3 dan 7. Tiga

26

perintah pertama yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah tertulis pada loh batu yang pertama sedangkan ketujuh perintah yang menyangkut hubungan antar manusia tertulis pada loh batu kedua. Hubungan manusia dengan Allah yang berkembang, relasi dengan Allah yang tumbuh, agaknya itulah yang dikehendaki oleh Yesus. Akan tetapi jika orang yang mengenal Allah namun relasi dengan-Nya tidak tumbuh berkembang, maka kesempatan yang ada padanya akan diambil. Melalui perumpamaan tersebut Yesus menyindir bangsa Israel yang sejak semula telah mengenal Allah. Jika relasi mereka dengan Allah tidak tumbuh berkembang, maka kesempatan yang ada pada mereka diambil dan diberikan kepada bangsa yang mau mengembangkan

27

relasinya dengan Allah. Mungkin hal ini hanya kebetulan belaka, namun jika kita perhatikan kata mina sangatlah dekat dengan kata iman yang berarti relasi dengan Allah. Maka demikian pula yang terjadi pada kita. Dengan Baptis yang telah kita terima, kita telah disatukan dalam sebuah ikatan khusus sebagai anak-anak Allah. Namun jika iman kita tidak tumbuh berkembang, jika baptis kita tidak menjadikan hidup kita semakin pantas disebut anak-anak Allah, maka kesempatan yang dianugerahkan kepada kita pun akan diambil dan diberikan kepada mereka yang menumbuhkembangkan iman mereka.

28

REFLEKSI Adakah kita berpikir bahwa dengan dibaptis lalu tanpa berbuat apapun kita akan masuk sorga? Apakah kita berpikir bahwa dengan percaya lalu tidak melakukan apapun maka sudah dijamin akan mendapatkan kehidupan kekal? Jika demikian halnya, maka bersiaplah kita karena apapun yang ada pada diri kita akan diambil dari kita. DOA & RENUNGAN Hubunganku dengan Allah. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, sedalam apakah atau seerat apakah hubunganku dengan-Nya? Jika aku berhubungan dengan orang lain, sangat mudah bagiku untuk mengkaji kedalaman dan keeratan hubungan kami. Dengan saling mengunjungi, saling memperhatikan dan saling mengenal secara

29

pribadi aku bisa merasakan tingkat hubungan itu. Tetapi dengan Allah, yang tidak kelihatan, yang adalah pencipta langit dan bumi, yang Maha Kuasa dan Maha segalanya, bagaimana aku akan mengkaji hubunganku dengan-Nya? Tidak mungkin bagiku mengukur dari sisi Allah. Aku hanya bisa melihat dari sisiku sendiri. Aku mulai dari hal yang paling sederhana. Dalam satu hari ini ada berapa menitkah pikiran dan hatiku tertuju kepada-Nya? Dalam satu hari ini, berapa lamakah aku berkomunikasi dengan-Nya, mendengarkan Dia bersabda melalui Kitab Suci dan mengungkapkan perasaanku kepada-Nya melalui doa? Kapan sajakah aku merasa bahwa Ia hadir dalam kehidupanku? Satu mina di tanganku, masih belum berubah. Masih menjadi satu dan tidak

30

menjadi dua atau tiga. Sementara Dia bisa datang kapan saja untuk menanyakan sudah berapa banyakkah mina yang ada padaku kini?

31

Kamis, 17 November 2011 Lukas 19:41-44 Bilamana Allah Melawat (41) Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya, (42) kata-Nya: "Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. (43) Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, (44) dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batupun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak

32

mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau." ----------------------Sejarah kota Yerusalem yang ditangisi oleh Yesus sudah terjadi. Yerusalem lama sudah hancur. Maka marilah kita melihat Yerusalem lain. Yerusalem adalah tempat dimana Bait Allah berada. Santo Paulus secara simbolis mengatakan bahwa hati kita adalah bait Allah. Dari pernyataan tersebut kita bisa mengatakan bahwa hidup kita adalah Yerusalem. Jika Tuhan Yesus pernah menagisi Yerusalem yang akan hancur, akankah Dia pun menangisi Yerusalem kita? Hidup yang hancur, hidup yang porakporanda, hidup yang tinggal onggokan tulang dan daging yang dipermainkan oleh keadaan dan mengikuti arus jaman, akan membuat

33

Yesus menangis sedih. Kepada kita, Ia telah menganugerahkan iman akan Allah. Dengan iman tersebut kita bisa membangun pondasi dan mendirikan bait Allah di dalam hati kita. Namun ketika iman itu kita biarkan dan hati kita tertutup terhadap kehadiran Allah, maka sia-sialah hidup kita. Jika iman yang telah kita terima itu, kemudian kita bangun tetapi karena ketidakteguhan kita dalam menjaganya lalu hancur oleh rongrongan kuasa kegelapan, sia-sialah hidup kita. Iman yang Dia anugerahkan kepada kita adalah perwujudan kasih-Nya kepada kita. Sebuah gambaran sederhana, manakala kita memberikan kado atau hadiah yang merupakan ungkapan rasa cinta kita lalu hadiah itu tidak dipedulikan atau dibiarkan menjadi rusak dan hilang, betapa sedihnya hati kita. Demikian pun Tuhan akan bersedih

34

hati-Nya manakala iman kita teronggok dan semakin hari makin terkikis, tergerus oleh arus dunia. Dia berharap, dengan iman yang Ia anugerahkan tersebut kita bisa membangun bait Allah dan mengalami Allah di dalamnya. Hidup yang mengalami Allah dan bersama Allah, adalah hidup yang merupakan cerminan dari Yerusalem baru. Untuk menjadikan hidup kita sebagai Yerusalem baru tidaklah mudah. Ada banyak godaan dan tantangan karena semakin kita mendekat pada Allah, semakin kuat pula dunia akan mnarik kita untuk menjauh dari Allah. Kuasa kegelapan tidak akan tinggal diam ketika kita membangun Yerusalem baru. Mungkin dia akan berusaha untuk menghancurkan dan terus menghancurkan kehidupan yang kita bangun. Hanya

35

bersandar kepada Allah, yang membuat kita kuat menghadapi semua itu. Kesetiaan, keteguhan iman, dan kesadaran akan kasih Tuhan yang terus terjaga akan menguatkan kita untuk tetap mengupayakan berdirinya Yerusalem baru. REFLEKSI Mengalami Allah, sebagai orang beriman tentu kita mengharapkan hal itu bisa kita alami. Akan tetapi bagaimana kita akan mengalaminya jika bait Allah tidak pernah berdiri di dalam hati kita? Bagaimana kita akan mengalaminya jika hidup ini kita biarkan menjadi hamba dunia?

36

Jumat, 18 November 2011 Lukas 19:45-48 Rumah-Ku adalah rumah Doa (45) Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, (46) kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." (47) Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, (48) tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat

37

terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia. ----------------------Bait Allah disebut oleh Yesus sebagai rumah-Ku. Bahkan pada usia 12 th. ketika Yesus tertinggal di Yerusalem, Ia pun berkata kepada ibu-Nya: "Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?" bait Allah adalah tempat kehadiran Allah dan Yesus adalah Anak Allah, maka wajar jika Ia menyebut Bait Allah sebagai rumah-Nya. Bertemu dengan Allah , berkomunikasi dengan Allah, kita menyebutnya sebagai berdoa. Jika Bait Allah adalah hati kita, maka hati kita menjadi rumah doa, rumah di mana kita bisa bertemu dan bebicara dengan Allah. Namun jika rumah doa kita menjadi

38

sarang penyamun lalu apa jadinya dengan hidup kita? Mungkin kita berpikir, ah..nggak sebegitu amat, masak sih hati kita sampai menjadi sarang penyamun? Sifat dari seorang penyamun adalah: memaksa dan tidak peduli orang lain, tidak takut terhadap hukum dan aturan, main rampas untuk kepentingan diri, mengandalkan kekuatan dan kegalakan, senang membuat orang lain takut, bangga dengan kehebatan diri sendiri. Adakah sifatsifat itu mendekam dalam hati kita? Atau mungkin tidak semuanya, adakah salah satu sifat itu melekat di diri kita? Hati sebagai bait Allah, bisa kita bayangkan sebagai hati yang senantiasa terbuka terhadap Allah. Dan Allah adalah sumber kasih, maka hati yang menjadi bait Allah adalah hati yang memancarkan kasih Allah.

39

Maka marilah kita merenungkan hati kita masing-masing. Mungkinkah hati yang semacam itu akan menjadi tempat persembunyian atau tempat mangkalnya penyamun? Tidak. Hati yang menjadi bait Allah akan mempunyai sifat yang berseberangan dengan sifat seorang penyamun. Maka marilah kita melihat hubungan kita dengan orang lain. Kita mencoba untuk memeriksa relasi kita dengan teman, sahabat, keluarga dan orang lain yang kita kenal. Adakah kita menemukan sifat penyamun muncul dalam relasi kita? Jika tidak..dan jujur kita katakan tidak, maka tidak usah diupayakan tidak perlu dipaksakan, dengan sendirinya kasihNya akan terpancar melalui sikap dan perbuatan kita. Jika memang muncul salah satu atau bahkan salah dua atau tiga atau

40

semua sifat penyamun itu, maka kita perlu menyadarinya segera. Dengan menyadarinya, maka kita akan didorong oleh Roh Kudus untuk bertobat dan memperbaikinya. REFLEKSI Sebuah kejujuran adalah awal. Jujur pada diri sendiri untuk bisa melihat seperti apakah hati kita sebenarnya. Tanpa kejujuran, maka langkah apapun yang akan kita buat hanyalah perwujudan dari kepalsuan. DOA & RENUNGAN Aku mencoba untuk belajar jujur, jujur melihat diriku sendiri. Toh tidak ada yang tahu karena aku melihat diriku. Apa yang harus aku takutkan? Apa yang harus aku

41

cemaskan? Hanya jujur melihat diri sendiri, seperti bercermin di kamar yang tertutup. Mulai dari hatiku bersikap terhadap istriku. Tidak jarang aku menganggapnya sebagai orang bodoh yang banyak melakukan kesalahan. Lalu aku merasa bangga dengan diriku sendiri yang lebih tahu dan lebih pandai. --- satu sifat penyamun melekat di diri ini. Sikap hati terhadap anak-anakku. Tidak jarang aku memaksa mereka untuk melakukan seperti yang aku perintahkan. Mulanya hal itu terdorong oleh keinginan untuk mendidik mereka. Tapi lama-kelamaan bahkan tanpa terasa aku mulai senang ketika anak-anak takut kepadaku. Aku merasa bahwa mereka harus tunduk dan hormat sehingga aku perlu untuk bersikap keras dan galak.

42

--- satu lagi sifat penyamun itu mendekam di diriku. Sikap hati terhadap orang lain.Seringkali aku tidak peduli apa yang dialami oleh orang lain. Awalnya aku hanya tidak mau jika dianggap sok perhatian, sok baik. Tapi lama-kelamaan sikap tidak peduli itu semakin kuat. Bahkan entah bagaimana aku mulai merasa senang melihat orang yang sedang dalam kesusahan. Pikirku, untung aku tidak seperti dia. --- satu sifat lagi, sifat seorang penyamun. Ternyata masih ada lagi sifat-sifat lain yang semakin mengukuhkan bahwa hatiku bukanlah bait Allah. Ternyata rumah doa ini benar-benar sarang penyamun. ---------------Tuhan kasihanilah kami, ampunilah aku orang berdosa ini.

43

Sabtu, 19 November 2011 Lukas 20:27-40 Dihadapan Dia semua orang Hidup (27) Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: (28) Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. (29) Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak.

44

(30) Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, (31) dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. (32) Akhirnya perempuan itupun mati. (33) Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orangorang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." (34) Jawab Yesus kepada mereka: "Orangorang dunia ini kawin dan dikawinkan, (35) tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan.

45

(36) Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. (37) Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. (38) Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." (39) Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." (40) Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus. ----------------------Kita bukan orang Saduki yang tidak mengakui kebangkitan. Melalui syahadat para rasul yang kita daraskan, dengan jelas

46

kita mengakui kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Akan tetapi sebuah pengakuan iman tidak cukup terungkap melalui kata-kata yang meluncur dari bibir. Pengakuan iman benar-benar keluar dari hati yang yakin. Adakah keyakinan hati kita sesuai dengan kata-kata yang meluncur dari bibir kita, terutama soal kebangkitan badan dan kehidupan kekal ini? Keyakinan hati, sadar atau tidak sadar muncul dn mewujud dalam sikap-sikap yang kita ambil dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Satu perkara yang logis yang muncul dalam pemikiran orang-orang yang tidak percaya akan kebangkitan badan adalah, pikiran dan perhatiannya terpusat pada hidup yang dijalani di dunia ini. Satu-satunya hukum yang dianut adalah moralitas. Aku begini karena kamu begitu, aku tidak begitu supaya

47

kamu tidak begini. Soal dosa dan pahala tidak lagi dipedulikan. Soal neraka tidak menakutkan, soal sorga tidak menjadi pertimbangan. Ketika orang tidak lagi peduli soal neraka dan sorga, soal kebangkitan badan dan kehidupan kekal, biasanya akan memanfaatkan hidup di dunia ini sebisabisanya dan sebesar-besarnya untuk kebahagiaan di dunia. Maka timbul pula keterikatan yang besar terhadap harta dan status dunia. Karena keterikatan yang kuat maka akan muncul rasa was-was, khawatir akan hilangnya semua itu. Muncul ambisi untuk menguasai di satu sisi, tetapi muncul kekecewaan yang berat manakala apa yang menjadi ambisinya mengalami kegegalan. Di sisi lain, orang yang tidak mampu merasakan kebahagiaan dunia, yang

48

hidupnya selalu menderita akan dengan mudahnya putus asa dan mengakhiri hidupnya. Terikat pada dunia dan mudah cemas dan khawatir serta mudah putus asa, itulah gambaran sekilas dari orang yang tidak meyakini kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Apakah kita pun demikian adanya? Sebagai orang beriman sudah barang tentu kita mempunyai landasan yakni iman, harapan dan kasih. Dengan iman kita meyakini bahwa hidup kita terikat pada Allah dan bukan pada dunia. Dengan harapan, kita bersikap dan berbuat untuk bisa mengalami apa yang kita harapkan yakni janji Kristus akan kebangkitan dan kehidupan kekal. Dengan kasih, kita memberi arti bagi hidup kita di dunia ini.

49

REFLEKSI Iman, Harapan, dan Kasih. Seberapa besarkah ketiganya itu utmbuh dan berkembang di dalam diri kita? Kita sendiri yang bisa menilai, dan orang lain yang akan melihat perwujudannya. DOA & RENUNGAN Jika aku mati, adakah orang yang bersedih? begitu kata seorang bapak tua kepadaku. Aku berpikir, ya sudah barang tentu keluarganya akan bersedih. Mengapa mereka sedih? Karena merasa kehilangan. Lho, apakah mereka tidak akan bertemu lagi nantinya? Maka seringkali kudengar saat datang melayat kalimat hiburan seperti ini, Sudah jangan terus bersedih toh nanti akan bertemu kembali dan berkumpul lagi di sorga. Lantas aku membayangkan pula, jika

50

seorang istri mati dia akan bertemu kembali dengan suaminya kelak. Jika seorang ayah atau ibu mati maka mereka akan berkumpul dengan anak-anak mereka dan orangtua mereka kelak. Tetapi benarkah seorang ayah jika bertemu dengan anaknya masih akan berada dalam hubungan ayah dan anak? Benarkah seorang istri jika bertemu dengan suaminya juga masih dalam ikatan suami-istri? Tuhan Yesus menjawab bahwa dalam kehidupan nanti semua yang diabngkitkan akan berada dalam ikatan sebagai anak-anak Allah. Maka satu-satunya ikatan adalah antara Allah sebagai Bapa dengan anak-anaknya. Aku terdiam dan membayangkan seorang suami menatap lekat istrik dan anakanaknya, seorang istri menatap lekat suami dan anak-anaknya. Di dunia ini mereka

51

dipersatukan, hanya kesempatan di dunia ini mereka bisa berbuat sesuatu bagi orangorang yang mereka cintai. Mengapa kesempatan emas untuk mencintai dan membahagiakan seringkali mereka siasiakan?

52

Minggu, 20 November 2011 Matius 25:31-46 Bilamana kami melihat Engkau? (31) Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. (32) Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, (33) dan Ia akan menempatkan dombadomba di sebelah kanan-Nya dan kambingkambing di sebelah kiri-Nya. (34) Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku,

53

terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. (35) Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; (36) ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. (37) Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? (38) Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

54

(39) Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? (40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. (41) Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikatmalaikatnya. (42) Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;

55

(43) ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. (44) Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? (45) Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (46) Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal." -----------------------

56

Jika kita berpikir bahwa para rasul dahulu beruntung karena hidup di jaman Yesus sehingga berkesempatan mengelami Dia. Juga Maria dan Martha, Lazarus, Bartimeus, Zakheus, Maria Magdalena dan mereka yang lain yang berkesempatan dijamah, disentuh oleh Yesus. Berkesempatan melihat dan mendengarkan secara langsung sabda-Nya. Maka Yesus memberi kesempatan pula kepada kita dan kepada setiap manusia di sepanjang jaman untuk mengalami diri-Nya. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. dan Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang

57

paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. , kedua pernyataan Tuhan cukup jelas mengenai bagaimana kita bisa mengalami Dia di jaman ini. Maka jika kita berpikir bahwa orang-orang yang hidup di jaman Yesus adalah orang-orang yang beruntung, bukankah kita pun menjadi orang-orang yang beruntung? Persoalannya adalah, kita terpaku pada kenyataan fisik yang dilihat oleh mata. Kita tidak berani dan tidak mampu melihat orang yang paling hina sebagai Yesus. Bahkan tidak jarang kita bersikap sebagaimana orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang berusaha menyingkirkan mereka yang paling hina itu dari hadapan kita, atau kitalah yang berusaha menyingkir sejauh mungkin dari mereka.

58

Perlukah kita merenung lebih banyak lagi dalam persoalan ini? Hanya merenung tidaklah berarti apa-apa sebab yang penting adalah berbuat dan melakukan sesuatu. DOA & RENUNGAN Tuhan, mampukanlah aku untuk melihat diriMu dalam kehidupanku. Engkau yang hadir melalui setiap orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difable. Karuniakanlah Roh Kudusmu untuk mencairkan hatiku yang beku terhadap kehadiran-Mu.

59