Anda di halaman 1dari 5

Bencana alam membawa dampak kekurangan bahan pangan, oleh karena itu diperlukan pangan yang mengandung cukup

kalori dan nutrisi seperti layaknya a full meal. Bentuk makanan yang dapat dikembangkan dengan kecukupan kalori, protein, lemak, dan nutrisi lainnya yang dibutuhkan oleh tubuh adalah makanan padat (food bars). Food bars dibuat dari campuran bahan pangan (blended food) yang diperkaya dengan nutrisi yang kemudian dibentuk menjadi bentuk padat dan kompak (a food bar form). Diharapkan dapat mencukupi kebutuhan kalori rata-rata orang Indonesia per hari yakni 2100 kkal dengan kandungan protein 07-12% dari total kalori, dan lemak 35-45%. Untuk memperbaiki sifat fisik makanan padat sehingga lebih keras dan tidak mudah hancur saat pendistribusian diperlukan binder agent (bahan pengikat), mengingat pada keadaan darurat bantuan makanan sering disalurkan dari pesawat dengan ketinggian tertentu, karena lokasi bencana yang tidak memungkinkan dijangkau melalui darat. Berdasarkan karakteristik tepung porang atau konjac flour(Amorphophallus oncophyllus) yaitu banyak mengandung glukomannan, suatu senyawa yang memiliki kemampuan sebagai thickener, film former, emulsifier, stabilizer, dan bahan pengikat (binding agent), maka tepung ini dapat dimanfaatkan.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui proporsi penambahan tepung porang yang tepat, dan pengaruhnya terhadap saifat fisik dan kimia makanan padat (food bars).Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan menggunakan satu faktor yaitu penambahan konsentrasi tepung porang/konjac 0%, 1%, 2%, 3%, dan 4% pada makanan padat berenergi tinggi, dengan 4 kali ulangan.Prinsip proses pembuatan pangan darurat ini adalah: Tepung komposit dicampur, tambahkan susu bubuk, gula bubuk, tepung porang/konjac, campur merata, tambahkan margarin dan air, aduk dengan mixer sampai adonan kalis, adonan dipipihkan, dioven sampai matang, dihancurkan dengn blender, dicetak dengan cetakan stainless steel. Berat makanan padat ini sekitar 25 g/produk/kemasan. pangan padat siap disajikan atau dianalisa kualitasnya.hasil penelitian menunjukkan: penambahan tepung porang berpengaruh nyata (=0,01) terhadap kadar air, kadar lemak, kadar protein, karbohidrat, total kalori, daya patah, tingkat kecerahan (L*), dan tingkat kekuningan (b*). Penambahan tepung porang tidak berpengaruh nyata (=0,01) terhadap kadar abu dan Aw. Perlakuan terbaik diperoleh dari uji organoleptik pada makanan padat dengan penambahan tepung porang 1%. Makanan padat ini mempunyai karakteristik: kadar air 3,98%; kadar protein 9,96%; kadar lemak 20,97%; total karbohidrat 62,76%; total kalori 479,65 kkal; Aw 0,38; tingkat kecerahan (L*) 58,98; tingkat kekuningan (b*)32,53; daya patah 19,80N/m. Gejala autis bagi anak-anak merupakan suatu hal yang masih tabu untuk sebagian orang tua atau bahkan menakutkan. Namun gejala autis dapat ditangani dengan terapi melalui makanan. Makanan yang disajikan tentu saja terdiri atas bahan-bahan yang bebas dari zat-zat pemicu autisme. Terapi terhadap gangguan autisme dilakukan secara komprehensif yaitu terapi biomedikal. Anak yang menderita autisme biasanya alergi terhadap makanan. Pengaturan makanan dengan benar akan dapat membantu menurunkan gangguan autis. Pada umumnya anak autis menderita alergi terhadap beberapa jenis makanan seperti udang, ikan, gandum, telur, dan masih banyak lagi. Apabila anak alergi terhadap makanan tertentu maka pemberian terhadap makanan tersebut dihindari namun bukan berarti harus dihentikan karena seiring bertambahnya usia anak, pemberian makanan tersebut dapat dimulai lagi secara bertahap. Gejala autis bagi anak-anak merupakan suatu hal yang masih tabu untuk sebagian orang tua atau bahkan menakutkan. Namun gejala autis dapat ditangani dengan terapi melalui makanan. Makanan yang disajikan tentu saja terdiri atas bahan-bahan yang bebas dari zat-zat pemicu autisme. Terapi terhadap gangguan autisme dilakukan secara komprehensif yaitu terapi biomedikal. Anak yang menderita autisme biasanya alergi terhadap makanan. Pengaturan makanan dengan benar akan dapat membantu menurunkan gangguan autis. Pada umumnya anak autis menderita alergi terhadap beberapa jenis makanan seperti udang, ikan, gandum, telur, dan masih banyak lagi. Apabila anak alergi terhadap makanan tertentu maka pemberian

terhadap makanan tersebut dihindari namun bukan berarti harus dihentikan karena seiring bertambahnya usia anak, pemberian makanan tersebut dapat dimulai lagi secara bertahap. Cara terbaik untuk menangani autis adalah melalui cara alami, ini jauh lebih efektif dari obat kedokteran manapun, di samping jelas tidak ada efek sampingnya. Memang perlu diakui, cara alami untuk penanganan autis ini adalah pekerjaan yang sangat berat dan melelahkan, semoga kasih sayang kita kepada anak-anak kita ini dapat mengalahkan pekerjaan berat dan melelahkan itu. Secara garis besar, penanganan secara alami melibatkan penyembuhan sistem pencernaan, menghindari segala makanan yang mengandung protein susu berupa kasein dan protein dari nabati berupa gluten, menghindari segala bentuk alergi dan intoleransi, pemberian makanan dengan nutrisi yang baik untuk mendukung sistem pencernaan, detoksifikasi hati, peningkatan sistem kekebalan tubuh dan pemenuhan nutrisi yang penting bagi otak. Jika semua ini diperhatikan dan dijalankan, kemungkinan besar anak-anak ini dapat pulih atau setidaknya akan sangat tertolong. Seberapa efektif terapi dengan nutrisi ini? Berikut adalah cerita Habbo seorang anak penderita autis yang sembuh, satu study kasus oleh European Laboratory of Nutrients in the Netherlands. Habbo didiagnosa menderita autis pada umur empat tahun. Dia mengalami masalah serius dalam berbicara dan bahasa. Demikian juga perkembangan sosial dan emosional yang jauh tertinggal. Habbo kemudian dibawa ke klinik yang ada hubungannya dengan European Laboratory of Nutrients. Setelah dianalisa ditemukan bahwa anak ini kekurangan lima jenis vitamin, yaitu vitamin A, betacarotene, B3, B5 dan biotin, serta tiga jenis mineral yaitu magnesium, zinc dan selenium. Lalu didapati tingkat kandungan lemak omega 3 dan omega 6 GLA, serta asam amino taurine dan carnitine dalam tubuhnya sangat rendah. Analisa lebih lanjut menunjukkan sistem pencernaannya sangat payah, flora usus yang abnormal dengan indikasi infeksi oleh yeast, test juga menunjukkan ia sensitif terhadap produk susu serta beberapa makanan yang lain. Kondisi seperti ini adalah hal yang umum bagi penderita autis. Lalu terapi yang diberikan berupa makanan yang bebas dari susu dan kasein, pemberian supplemen untuk mengatasi kekurangan nutrisi tadi, lalu kemudian diberi obat anti jamur (Nystatin). Metode Lebih buruk Sama saja Lebih baik Candida Diet 3% 41% 56% Feingold Diet 2% 42% 56% Gluten- /Casein-Free Diet 3% 31% 66% Hilangkan Coklat 2% 47% 51% Hilangkan Telur 2% 56% 41% Hilangkan Susu/ Produk Susu 2% 46% 52% Hilangkan Gula 2% 48% 50% Hilangkan Gandum 2% 47% 51% Diet Rotasi 2% 46% 51%

Diet Karbohidrat spesifik 7% 24% 69% Lebih buruk Sama saja Lebih baik Calcium: 3% 62% 35% Cod Liver Oil 4% 45% 51% Detoxification. (Chelation): 3% 23% 74% Enzim pencernaan 3% 39% 58% DMG (Dimethylglycine / B15) 8% 51% 42% Asam lemak 2% 41% 56% Folic Acid 4% 53% 43% Food Allergy Treatment 3% 33% 64% Melatonin 8% 27% 65% P5P (Vit. B6) 12% 37% 51% Vitamin A 2% 57% 41% Vitamin B3 4% 52% 43% Vitamin B6 with Magnesium 4% 48% 48% Vitamin B12 (oral) 7% 32% 61% Vitamin C 2% 55% 43% Zinc 2% 47% 51% Terapi Diet pada Gangguan Autisme Sampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Seperti diketahui gejala yang timbul pada anak dengan gangguan autisme sangat bervariasi, oleh karena itu terapinya sangat individual tergantung keadaan dan gejala yang timbul, tidak bisa diseragamkan. Namun akan sulit sekali membuat pedoman diet yang sifatnya sangat individual. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan gangguan autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan. Pengalaman dan perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi selanjutnya. Terapi diet disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak. Berikut beberapa contoh diet anak autisme. 1. Diet tanpa gluten dan tanpa kasein Berbagai diet sering direkomendasikan untuk anak dengan gangguan autisme. Pada umumnya, orangtua mulai dengan diet tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein. Gluten adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga rumput seperti gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah protein susu. Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi yang tidak mengandung gluten. Beberapa contoh resep masakan yang terdapat pada situs Autis.info ini diutamakan pada menu diet tanpa gluten dan tanpa kasein. Bila anak ternyata ada gangguan lain, maka tinggal menyesuaikan resep

masakan tersebut dengan mengganti bahan makanan yang dianjurkan. Perbaikan/penurunan gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3 minggu. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan, berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti sebelumnya. Makanan yang dihindari adalah : Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-kue, cake, biscuit, kue kering, pizza, macaroni, spageti, tepung bumbu, dan sebagainya. Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya. Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu. Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap jamur karena pembuatan tempe menggunakan fermentasi ragi. Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng. Makanan yang dianjurkan adalah : Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya. Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya. Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagainya. Buah-buahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya. 2. Diet anti-yeast/ragi/jamur Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula, maka makanan yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur. Makanan yang perlu dihindari adalah : Roti, pastry, biscuit, kue-kue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan yeast. Semua jenis keju. Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain-lain. Macam-macam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium glutamate, macam-macam kecap, macam-macam acar (timun, bawang, zaitun) atau makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing. Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan lain-lain. Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain. Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis. Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es.

Makanan tersebut dianjurkan untuk dihindari 1-2 minggu. Setelah itu, untuk mencobanya biasanya diberikan satu per satu. Bila tidak menimbulkan gejala, berarti dapat dikonsumsi. Makanan yang dianjurkan adalah : Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung terigu. Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang segar. Makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almod, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur. Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain. Buah-buahan segar dalam jumlah terbatas. 3. Diet untuk alergi dan inteloransi makanan Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bias lebih banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan, pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak alergi terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit. Cara mengatur makanan secara umum 1. Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan seharihari. 2. Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa. 3. Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng. 4. Cukup mengonsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari. 5. Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet). 6. Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium). 7. Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya. 8. Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan. 9. Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.