Anda di halaman 1dari 5

Ketidakadilan perempuan dalam bidang gender

Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan tugas dan kewajiban yang berbeda-beda.Sesuai
kodratnya, laki-laki bertanggung jawab sebagai kepala keluarga yangberkewajiban untuk
menaIkahi keluarganya. Sedangkan, perempuan tercipta dengan kodratnya sebagai pengurus
rumah tangga. Seiring berjalannya waktu, ternyataditemukan adanya unsur ketidakadilan dari
peran gender dan perbedaan gender. Kaumperempuanlah yang menjadi korban atas ketidakadilan
ini.
Stereotip terhadap kaum perempuan membuat keberadaan perempuan menjadidipandang
sebelah mata sehingga membuat perempuan menjadi kesulitan dalam mengaktualisasikan dirinya
dalam kehidupan bermasyarakat. Saat ini tidak sedikitperempuan yang dipekerjakan menjadi
buruh atau pekerjaan lainnya yang dianggaprendah daripada kaum laki-laki. Himpitan ekonomi
saat ini, membuat banyak perempuanIndonesia terpaksa bekerja untuk menghidupi keluarganya.
Hal ini membuat kaumperempuan menerima apa saja jenis pekerjaan walaupun upahnya kadang
tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang telah dikorbankan. Stereotip terhadap perempuan
membuat pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dianggap boleh saja dibayar rendahkarena
pada dasarnya yang mencari naIkah adalah kaum laki-laki dan perempuandianggap mencari
tambahan saja. Keadaan inilah yang sering dialami oleh buruhperempuan di Indonesia. Selain
upah yang rendah, mereka juga dikenakan kebijakanperusahaan yang merugikan mereka seperti
misalnya jam kerja yang terlalu banyak.
Tindak kekerasan dan pelecehan yang kerap dialami oleh kaum perempuanmerupakan
salah satu bentuk ketidakadilan yang ditimbulkan oleh peran gender danperbedaan gender.
Belakangan ini banyak sekali kasus tindak kekerasan dan pelecehanyang dialami oleh tenaga
kerja wanita yang dilakukan oleh majikannya.

Mansour Fakih, dalam bukunya Analisis Gender dan TransIormasi Sosial menyodorkan
beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan yang sering terjadi di sekitar kita. Pertama,
pemerkosaan terhadap perempuan. Pemerkosaan terjadi jika tidak adanya kerelaan ('mau sama
mau') dari perempuan sebagai obyek (korban). Kedua, kekerasan domestik. Kekerasan ini terjadi
dalam lingkungan keluarga (KDRT) dalam wujud tindakan pemukulan dan penyerangan secara
Iisik terhadap anggota keluarga sendiri. Ketiga, kekerasan dalam bentuk pelacuran. Kekerasan
ini terjadi bila para pelacur digunakan sebagai sarana untuk mengeruk uang. Keempat,
kekerasan pornograIis. PornograIi secara haraIiah berarti tulisan, gambar-gambar, dll, untuk
membangkitkan hasrat seksual. Kekerasan ini terjadi bila kaum perempuan dipaksa sebagai
obyek untuk membangkitkan gairah seksual dan dituduh sebagai alasan atas pandangan sektarian
mengapa pornograIi menghancurkan moralitas masyarakat. Kelima, pelecehan seksual. Ciri
kekerasan ini yakni penyerangan terhadap kehidupan emosional perempuan. Kekerasan ini
ditunjukkan dengan adanya lelucon jorok secara vulgar, penginterogasian perempuan secara
paksa tentang kehidupan seksualnya, ataupun mengeluarkan kata-kata kasar terhadap perempuan
Kaum Iungsionalis berasumsi bahwa kaum perempuan tertinggal dalam proses
pembangunan disebabkan oleh Iaktor kaum perempuannya sendiri yang tidaksanggup untuk
bersaing karena siIat tradisional yang ada pada mereka. Kaum perempuan tertinggal karena sikap
kebodohan dan irasional terhadap kepercayaan sikap tradisionalm ereka, sedangkan masyarakat
tradisional didominasi oleh laki laki yang bersiIatotoriter. Kaum modernisasi ini berasumsi
teknologilah yang akan membebaskan kaum perempuan dari ketidakadilan. Sedangkan jika kita
kembali kepada teori Marx justruteknologi lah yang menjadikan posisi kaum wanita lebih rendah
dari pada teknologi itusendiri karena teknologi itu mahal harganya sehingga lebih baik
menggunakan tenagakaum perempuan sehingga dapat menekan biaya produksi. Inilah sebabnya
kami menolak atau bersikap kontra tehadap kedua paradigma tersebut, karena sebenarnya kedua
paradigma inilah yang dijadikan senjata untuk semakin merendahkan kaum perempuan.

Ketidakadilangender bukanlah masalah yang dapat diatasi dengan mudah dalam waktu
yang singkat hanya dengan melakukan/mengaplikasikan beberapa cara dalam masyarakat.Untuk
dapat mengatasi masalah ketidakadilan gender yang terjadi di masyarakat, dalamhal ini
masyarakat Indonesia khususnya, diperlukan suatu usaha bersama dari seluruhaspek masyarakat,
juga tekad yang kuat dari para pelaksananya. Jika kita memperhatikanberbagai bentuk
ketidakadilan gender yang dialami buruh perempuan di Indonesia,banyak di antaranya yang
terjadi akibat minimnya pengawasan pemerintah terhadap parapengusaha yang mempekerjakan
buruh perempuan, sehingga mengakibatkan terjadinyaberbagai penyelewengan seperti penerapan
jam kerja yang berlebihan bagi para buruhperempuan, pemberian upah rendah pada buruh
perempuan, tidak diberikannya jaminankesehatan serta berbagai hak reproduksi (seperti cuti
melahirkan, dan lain-lain) padaburuh perempuan, serta kondisi buruh perempuan yang relatiI
lebih rentan mengalamiPemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Penyebab dari adanya ketidakadilan gender perempuan di Indonesia di sebabkan oleh
Beberapa Iaktor , pertama sistem budaya patriarkhi yang telah mendarah daging dalam
masyarakat Indonesia dan sulit untuk segera untuk di ubah. Kedua adanya kesalahan struktur
dalam masyarakat yang menekan perempuan. Ketiga peranan media massa. Pengaruh media
massa untuk membentuk dan mempertegas perbedaan gender tak dapat kita pungkiri. Media
massa mengkonstruksi pandangan masyarakat kita tentang gender. Misalnya, dalam acara-acara
di televisi, perempuan umumnya ditampilkan sebagai manusia lemah. Kelemahannya itu
membutuhkan Iigur laki-laki . Keempat, ketidakadilan hukum bagi kaum perempuan. Sering kita
menemukan hukum yang terkandung muatan diskriminatiI terhadap kaum perempuan.
sehingga akhirnya berakibat pada ketiadak adilan yang di rasakan oleh akum perempuan yang
membuat gerak perempuan menjadi terbatas dan perempuan tidak dapat berkembang,

yang dapat saya petik dari Iakta ketidak adilan perempuan adalah berusaha untuk tidak
membedakan peran gender, karena kaum laki-laki dan kaum perempuan sama yang dimana
memilki peran masing-masing.Memberikan keadilan pada setiap orang sehinnga hak yang ada
sama,dan saya sebagai seorang perempuan merasa perlu untukmenunjukkan bahwa antara kaum
laki-laki dan perempuan berhak mendapat keadilan yang sama karena laki-laki dan |perempuan
saling melengkapi satu sama lain.







Berdasarkan fakta kekerasan di atas dan beberapa bentuk kekerasan menurut Fakih, kita bisa membayangkan
betapa banyaknya kekerasan di wilayah kita, namun lepas dari 'endusan' publik. Hal ini menunjukkan bahwa 'ada
yang kurang beres' dengan kaum perempuan kita. Nereka dilecehkan karena fakta kekerasan ini. !ronisnya, banyak
kaum perempuan mendiamkan kekerasan yang dialami. Fakta kekerasan dan sikap diam ini terjadi karena beberapa
faktor penyebab fakta ketidakadilan gender di NTT ini.

Pertama, budaya patriarki. Budaya ini menempatkan lakilaki sebagai 'yang dipertuan agung'. Karena itu, kaum
perempuan tidak mendapatkan kebebasan untuk berekspresi dan akses terhadap perubahan. Kedua, peranan media
massa. Pengaruh media massa untuk membentuk dan mempertegas perbedaan gender tak dapat kita pungkiri.
Nedia massa mengkonstruksi pandangan masyarakat kita tentang gender. Nisalnya, dalam acaraacara di televisi,
perempuan umumnya ditampilkan sebagai manusia lemah. Kelemahannya itu membutuhkan figur lakilaki sebagai
'dewa penolong'. Dengan kehadiran kaum lelaki, persoalan beres. Ketiga, filsosofi 'di ujung rotan ada emas'. Bukan
'barang baru' bahwa di NTT praktek kekerasan sebagai jalan pintas atau satusatunya jalan untuk menyelesaikan
masalah masih mendarahdaging. Keempat, minimnya kesadaran tentang gender di NTT. Sungguh sangat
disayangkan bahwa gencarnya berita kekerasan gender dianggap angin lalu saja. Tidak ada tindak lanjut pemerintah
sebagai institusi penjamin kesejahteraan masyarakat untuk menyelesaikan masalah ini. Kelima, budaya belis. Ada
dua pandangan yang dominan di wilayah ini tentang budaya belis. Pandangan pertama melihat belis sebagai sebuah
kearifan lokal. Pandangan ini steril dari 'muatanmuatan' lain. Pandangan lainnya, memperlakukan belis sebagai
sarana untuk mengeruk keuntungan secara ekonomis. Akibatnya, pada kaum perempuan 'dipasang harga jual yang
tinggi'. Nereka adalah barang dagangan yang bisa diperjualbelikan. Keenam, ketidakadilan hukum bagi kaum
perempuan. Sering kita menemukan hukum yang terkandung muatan diskriminatif terhadap kaum perempuan.
Tentunya masih segar dalam ingatan kita tentang polemik RUU Pornografi yang kemudian disahkan para wakil rakyat
di Senayan. UU ini secara eksplisit merendahkan martabat perempuan seolaholah merekalah penyebab tunggal
kemerosotan moral dalam masyarakat.

Nenyikapi fakta ketidakadilan gender ini dengan berbagai faktor dan dampak ketidakadilan gender maka tidak ada
pilihan lain selain satu opsi: bangkit dan melawan kenyataan ini. Fakta ini menjadi salah satu penyebab kemiskinan di
NTT karena perjuangan untuk menciptakan kesejahteraan bersama harus berlandaskan pula pada keharmonisan
hubungan antara perempuan dan lakilaki di bumi Flobamora ini. Nasyarakat NTT bukan hanya dihuni oleh lakilaki
saja.

Solusi lain yang perlu ditempuh yakni penjaminan kesejahteraan dan perlindungan terhadap kaum perempuan
dengan membuat UU perlindungan perempuan dan UU yang tidak menyudutkan perempuan. Para anggota legislatif
harus merumuskan UU yang tidak diskriminatif. UU harus menguntungkan kehidupan kaum lakilaki dan perempuan.
Kenyataan menunjukkan bahwa pemerintah telah mengeluarkan banyak UU perlindungan terhadap kaum
perempuan. Kendalanya ialah tidak ada sosialisasi UU tersebut kepada masyarakat. Kalaupun ada sosialisasi, kualitas
dan kuantitas sosialisasi itu tidak seberapa. UU ini pun mubazir. Sosialisasi memang sangat dibutuhkan agar
masyarakat dapat menyadari bahaya ketidakadilan gender yang sedang terjadi.