Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Drowning adalah suatu keadaan dimana terjadi asIiksia yang menyebabkan kematian akibat
udara atmosIer tidak bisa memasuki saluran pernaIasan karena sebagian atau seluruh tubuh
berada didalam media cairan, tubuh harus berada di dalam air sehingga udara tidak mungkin bisa
memasuki saluran pernaIasan.
1
Diseluruh dunia, kasus tenggelam adalah kasus kematian terbanyak nomor 2 dan nomor 3
yang menimpa anak-anak dan remaja.Pada umumnya kasus tenggelam ini sering terjadi di
Negara-negar yang beriklim panas dan Negara dunia ketiga.Insiden terjadinya kasus tenggelam
pada anak-anak ini berbeda-beda tingkatan pada tiap-tiap Negara.Dibandingkan dengan Negara-
negara berkembang yang lain reputasi Australia kurang baik, karena kasus tenggelam di Negara
ini masuk dalam urutan terbanyak. Tenggelam merupakan salah satu kecelakaan yang dapat
berujung pada kematian jika terlambat mendapat pertolongan. Badan Kesehatan Dunia (WHO),
mencatat, tahun 2000 di seluruh dunia ada 400.000 kejadian tenggelam tidak sengaja.
2
Terdapat empat tipe drowning atau atau tenggelam. Pertama adalah dry drowning yang juga
dikenali dengan drowning tipe 1. Seterusnya adalah wet drowning yaitu terbagi kepada drowning
tipe 2a yaitu drowning di air tawar dan drowning tipe 2b yang yang berlaku di air asin.
Immersion syndrome pula merupakan mati tenggelam karena masuk ke air dingin yang
menyebabkan inhibisi vagal. Tipe keempat adalah secondary drowning.
3
Cara kematian pada kasus-kasus tenggelam adalah:
1. AsIiksia : merupakan penyebab kematian yang sering
2. Syok ; karena inhibisi nervus vagus
3. Pingsan (sinkop)
4. Geger otak
5. Apoplexi
6. Cedera(Iraktur tulang tengkorak; dislokasi v. cervikalis)
Fatal Period :
Kematian dalam air laut / asin akan berlangsung lebih lama yaitu 7-8 menit. AsIiksia dalam
waktu 2-5 menit. Kematian dalam air tawar lebih cepat daripada dalam air laut. Bila kematian

oleh karena vagal inhibisi akan segera yaitu 30 detik. Banyaknya air dalam sirkulasi akan
menyebabkan hemodilusi pada darah dlam air tawar hingga trjadi gangguan elektrolit.
3
Penemuan-penemuan patologis pada pemeriksaan post-mortem dari tubuh yang diangkat dari
air tergantung pada sejumlah Iaktor, termasuk keadaan-keadaan dimana tubuh terendam dan
lama waktu tubuh terendam didalam air. Terdapat sejumlah pertanyaan mediko-legal penting
dimana ahli patologi harus mengantisipasinya pada seluruh kasus sesuai dengan keadaan-
keadaan yang tampak pada kematian. Hal ini mencakup:
O Identitas dari almarhum (pembusukan dapat menghalangi identiIikasi visual)
O Penyebab langsung dari kematian, apakah terendam atau lainnya
O Pengaruh dari Iaktor-Iaktor lainnya yang menyumbang kepada kematian
O Interval post-mortem dan, selanjutnya, saat terjadinya penenggelaman yang
mengakibatkan kematian.
O embedakan cedera ante- dan post-mortem
O Sebagaimana seluruh pemeriksaan medis Iorensik, perbandingan dari bukti medis
obyektiI dengan situasi-situasi yang diduga.
Penemuan khas autopsi pada kecelakaan akibat tenggelam sekarang akan disoroti. Beberapa
aspek kematian yang luar biasa akan dipertimbangkan kemudian.
Pada pemeriksaan luar umum tangan harus diperiksa dengan teliti, baik untuk mencari adanya
cedera yang mencurigakan maupun untuk menunjukkan gambaran-gambaran yang menegaskan
bahwa korban terendam:
O Cutis anserina-tampilan `seperti daging angsa` akibat kontraksi otot erektor rambut-hal
ini cukup dikenal. Cutis anserina tidak spesiIik dan dapat dijumpai pada tubuh yang tidak
terendam.
O Perubahan pada kulit `tangan wanita pencuci`-perendaman yang berkepanjangan
menuntun kepada pemutihan dan pengkeriputan kulit, khususnya pada permukaan palmar
dari tangan dan telapak kaki. Walaupun tidak dapat ditentukan secara pasti waktu tepat
yang mengakibatkan keadaan ini, perubahan dapat dilihat setelah selama satu jam
terendam dalam air hangat.
O Tumbuhan laut tergenggam dalam tangan. Walaupun jarang ditemukan, mungkin
Ienomena ini menggambarkan mencengkram tumbuhan laut pada Iase akhir dari
hidupnya, hal ini berhubungan dengan cadaveric spasme (rigor mortis instan). Cadaveric

sejati yang menggenggam tumbuhan diduga kuat bahwa umumnya korban masih hidup
saat tenggelam tetapi harus diingat bahwa terjebaknya tumbuhan secara pasiI dapat
terjadi post-mortem. Interpretasi tergantung pada apakah tumbuhan terjepit dalam tangan
yang mencengkram kuat atau tidak.
Pemeriksaan wajah dan kepala dapat menampakkan dua gambaran khas dari terendam:
O Post-mortem: lebam mayat(lividitas) (hipostasis)-karena pusat gravitasi tubuh mengarah
ke kepala, tubuh korban tenggelam biasanya mengambang sebagian dengan kepala-
kebawah didalam air. Lebam mayat, karenanya sering menonjol pada wajah dan dan
kepala. Warna livor mortis dapat berwarna (tidak biasa) merah-pink-cerah sebagai akibat
pengawetan suhu dingin terhadap oksihemoglobin. Dapat ditemukan petechiae yang
berhubungan dengan lebam pada dan disekitar mata.
O Kerucut Ioam (champigon de mousse), keluar dari mulut dan lubang hidung-Berwarna
putih atau agak sedikit terdapat darah, berbusa dan busa yang bertahan kuat dapat
mengisi jalan napas dan dapat dilihat dari luar. Busa umumnya memanjang secara
vertikal dalam bentuk kerucut yang tampak jika tubuh tidak diganggu, posisi terlentang.
Busa terdiri dari campuran medium tempat tenggelam, udara dan sekresi dari kelenjar
mukosa bronkhial. Jumlah busa yang tampak dari luar dapat meningkat volumenya sesaat
setelah kematian ketika kaku mayat menekan dada.
Sisa pemeriksaan luar umum lainnya harus rutin dilakukan pada kasus-kasus tanpa komplikasi.
Sebagaimana jenis kematian yang diakibatkan asIiksia lainnya, penis seorang laki-laki dapat
semi-ereksi. Pemeriksaan teliti, dengan dokumentasi terhadap cedera yang sesuai merupakan
bagian tidak terpisahkan dalam autopsi Iorensik. Insiden cedera post-mortem yang tinggi pada
kulit dan jaringan bawah kulit (subkutan) pada tubuh yang terendam menyulitkan interpretasi
mereka. Yang patut diperhatikan adalah cedera yang siIatnya mencurigakan. Hal ini mencakup:
O Luka-luka jenis `pertahanan` pada jari-jari, tangan, lengan atau kaki (lepasnya kuku jari
tangan, terpotongnya kulit).
O emar/abrasi pada kulit di buku-buku jari tangan
O emar atau jejas tipe perlawanan pada kulit di pergelangan tangan atau lengan atas
O Tanda-tanda kebocoran vaskular pada lengan bawah atau daerah yang dapat diakses
lainnya.
O emar/abrasi pada bagian dalam bibir, termasuk cedera pada Irenulum.

O Cedera pada kulit atau jaringan yang lebih dalam pada leher.
Beberapa cedera ante-mortem dapat membantu menjelaskan penyebab kematian pada
tenggelam. Sebagai contoh, patah tulang cervical, terkadang mengakibatkan memar pada
otot-otot paravertebral, dapat terjadi setelah menyelam kedalam air yang relatiI dangkal.
Cedera tumpul pada wajah atau dahi juga dapat timbul sebagai akibat kontak kuat dengan
dasar air. Di beberapa bagian dunia, sengatan invertebrata dapat mengakibatkan kelumpuhan
dengan cepat dan tenggelam; dapat ditemukan jejas-jejas yang tertinggal (terkadang lepuh)
pada kulit.
Cedera post-mortem pada tubuh korban tenggelam merupakan hal yang sering
ditemukan. Sebagai akibat posisi tubuh dengan kepala dibawah pada tubuh yang terendam,
mungkin dijumpai cedera tumpul yang bermakna pada wajah dan kepala. Permukaan
bebatuan dan koral yang bergerigi dapat menghasilkan memar, abrasi, laserasi dan trauma
tembus. Kontak dengan dasar yang berpasir menghasilkan abrasi kulit khas yang diIus dan
superIicial. Selanjutnya pengeringan pada kulit dan lebam mayat yang terjadi, bersama-sama
memberikan gambaran seperti kertas perkamen pada wajah berwarna merah tua.
Hewan-hewan laut dapat mengakibatkan luka-luka yang luas. Contoh diantaranya
gambaran melesak kecil, bulat yang diakibatkan oleh lintah laut; ukuran yang bervariasi dan
cacat yang tidak teratur pada kulit dan jaringan subkutan dibuat oleh ikan dan crustaciae; dan
robekan yang lebih besar dibuat oleh hiu dan buaya. Hiu terbatas hanya pada daerah tropis
dan sub-tropis. Binatang atau bagian dari binatang yang dapat diangkat dari luka dapat
berguna baik untuk Iorensik maupun untuk akademik.
Kontak post-mortem dengan perahu dapat menghasilkan cedera bermakna, diantaranya
trauma tumpul ketika membentur bagian dari lambung kapal atau luka sayat pararel dan
linier yang khas dari baling-baling yang berputar. Terakhir, beberapa luka-terutama pada
bibir, gigi atau dada-dapat terjadi dari usaha resusitasi. Pada pemeriksaan dalam walaupun
terdapat sejumlah perubahan dalam traktus respiratorius yang sering dijumpai pada kematian
akibat tenggelam, tidak ada satupun yang patognomonik. Terdapat sedikit atau tidak banyak
perubahan yang berhubungan dengan `dry` drowning; sejumlah kecil cairan dapat hadir di
saluran naIas atas dan mungkin terdapat sangat sedikit penyumbatan pada paru. Sebaliknya,
terdapat peningkatan jumlah cairan di dalam jaringan paru pada `wet` drowning yang
mengakibatkan peningkatan berat paru, paru berwarna plum, dan konsistensi paru yang

keras. Permukaan pleura visceral dapat sebagian atau seluruhnya tertutup dengan petechiae
(PaltauI`s spots). Laring, trakea dan bronkus dapat mengandung cairan berbusa yang
berlimpah jumlahnya, berwarna putih atau sedikit berdarah. Juga mungkin ditemukan benda
asing seperti pasir yang teraspirasi, tumbuhan laut atau muntahan. Walaupun jelas terendam
sejumlah air perubahan-perubahan ini pada jaringan paru khususnya berwarna kemerahan
setelah aspirasi air garam. Diluar rongga dada, terdapat dua gambaran khas dari tenggelam
tetapi, yang lagi-lagi, tidak patognomonik-air yang tertelan dalam lambung dan kongesti atau
perdarahan pada mukosa telinga tengah. Yang terakhir ini mungkin akibat dari perubahan
tekanan yang berhubungan dengan pergerakan naIas terengah-engah yang kuat-mungkin
ditambah dengan hipoksia-menginduksi kerapuhan pembuluh darah. Penemuan lainnya yang
dapat merupakan Iaktor penyumbang yang bermakna terhadap episode tenggelam dan
penyebab kematian dapat ditemukan. Sebagai contoh, demonstrasi terdapatnya penyakit yang
mendasari dapat membantu untuk menjelaskan kematian tertentu, sebagaimana demonstrasi
dari sejumlah makanan dalam jumlah besar, yang baru saja dicerna dalam lambung. EIek
perangsangan kardiovaskular dari makanan dalam jumlah besar terkadang diluar perkiraan,
sebagaimana derajat kelelahan Iisik yang berhubungan dengan mandi; eIek gabungan dari
setiap hal tersebut dapat cukup untuk menimbulkan ketidakmampuan yang mengakibatkan
tenggelam. Penemuan lain yang patut diperhatikan diantaranya sisa dari obat-obatan yang
ditelan dalam lambung, atau noda pada mukosa esoIagus; hiperplasia ginggiva yang
berhubungan dengan pengobatan epilepsi; dan bau yang berhubungan dengan penelanan
alkohol.
2,3,4

1.2TU1UAN
&ntuk melengkapi tugas dalam Kepaniteraan Klinik Senior Departemen Kedokteran
Forensik dan edikolegal di Fakultas Kedokteran &niversitas Sumatera &tara.

1.3ANFAAT
Dapat mengetahui tentang deIinisi tenggelam,tipe-tipe tenggelam, cara kematian pada kasu-
kasus tenggelam serta tanda-tanda post mortem pada kasus-kasus tenggelam.

BAB II
PEBAHASAN

2.1 DEFINISI
Drowning adalah suatu keadaan dimana terjadi asIiksia yang menyebabkan kematian
akibat udara atmosIer tidak bisa memasuki saluran pernaIasan karena sebagian atau seluruh
tubuh berada didalam media cairan, tubuh harus berada di dalam air sehingga udara tidak
mungkin bisa memasuki saluran pernaIasan.
Pengertian yang lain adalah suatu bentuk kematian karena asIiksia akibat terhalangnya udara
masuk ke paru-paru oleh karena adanya cairan dalam saluran pernaIasan bagian atas.
1

2.2 EPIDEIOLOGI
Diseluruh dunia, kasus tenggelam adalah kasus kematian terbanyak nomor 2 dan nomor 3
yang menimpa anak-anak dan remaja.Pada umumnya kasus tenggelam ini sering terjadi di
Negara-negar yang beriklim panas dan Negara dunia ketiga.Insiden terjadinya kasus
tenggelam pada anak-anak ini berbeda-beda tingkatan pada tiap-tiap Negara.Dibandingkan
dengan Negara-negara berkembang yang lain reputasi Australia kurang baik, karena kasus
tenggelam di Negara ini masuk dalam urutan terbanyak. Tenggelam merupakan salah satu
kecelakaan yang dapat berujung pada kematian jika terlambat mendapat pertolongan.
Badan Kesehatan Dunia (WHO), mencatat, tahun 2000 di seluruh dunia ada 400.000
kejadian tenggelam tidak sengaja. Artinya, angka ini menempati urutan kedua setelah
kecelakaan lalu lintas. Bahkan Global Burden oI Disease (GBD) menyatakan bahwa angka
tersebut sebenarnya lebih kecil dibanding seluruh kematian akibat tenggelam yang
disebabkan oleh banjir, kecelakaan angkutan air dan bencana lainnya. Ditaksir. selama tahun
2000, 10 persen kematian di seluruh dunia adalah akibat kecelakaan, dan 8 persen akibat
tenggelam tidak disengaja (unintentional) yang sebagian besar terjadi di negara-negara
berkembang.
Dari catatan itu, AIrika menempati posisi terbanyak kasus tenggelam di dunia. Dan lebih
dari sepertiga kasus terjadi di kawasan PasiIik. Sementara, Amerika merupakan kawasan
yang mengalami kasus tenggelam terendah. Kejadian di negara berkembang lebih tinggi

dibanding negara maju. Tapi di negara berkembang, seperti Indonesia angka kejadiannya
belum dapat diketahui.
Rata- rata angka kematian tenggelam di AIrika adalah 8 kali lebih tinggi dibanding
Amerika dan Australia.Di kedua negara maju tersebut, rata-rata kematian akibat tenggelam
lebih tinggi pada penduduk pribumi daripada penduduk kulit putih. Sementara itu, di Cina
dan India rerata kematian akibat tenggelam sangat tinggi, yaitu 43 persen dari seluruh kasus
di dunia.
Tenggelam merupakan penyebab yang signiIikan dari kecacatan dan kematian.
Tenggelam telah dideIinisikan sebagai kematian kedua setelah asIiksia dimana terisi dengan
cairan, biasanya air, atau dalam 24 jam oI submersion. Pada Kongres Dunia Tenggelam
tahun 2002, yang diadakan di Belanda, sekelompok ahli menyarankan consensus untuk
mendeIinisikan tenggelam agar menurunkan kebingungan dari penggunaan dan deIinisi
(~20) merujuk kepada proses ini yang telah timbul dalam literature. Kelompok ini
mempercayai bahwa keseragaman deIinisi akan membuat analisis lebih akurat dan
perbandingan studi, dimana para peneliti bisa menggambarkan kesimpulan yang lebih
bermakna dari data yang dikumpulkan, dan meningkatkan kemudahan surveillance serta
aktivitas pencegahan.
2


2.3 1ENIS-1ENIS DROWNING
Terdapat empat tipe drowning atau atau tenggelam. Pertama adalah dry drowning yang
juga dikenali dengan drowning tipe 1. Dry drowning adalah mati tenggelam tanpa ada air di
saluran pernaIasan. Korban mati kemungkinan karena spasme laring atau terjadinya inhibisi
vagal yang mengakibatkan jantung berhenti berdenyut sebelum korban tenggelam.
Seterusnya adalah wet drowning yaitu terbagi kepada drowning tipe 2a yaitu drowning di
air tawar dan drowning tipe 2b yang yang berlaku di air asin. Immersion syndrome pula
merupakan mati tenggelam karena masuk ke air dingin yang menyebabkan inhibisi vagal.
Tipe keempat adalah secondary drowning dimana seorang korban tewas setelah dirawat
karena komplikasi pada paru akibat tenggelam seperti inIeksi atau odem.
1,2,3,4


2.4 EKANISE TENGGELA


Jika seseorang jatuh dalam air maka tubuh masuk ke dalam air pada kedalaman tertentu,
ini bergantung pada momentum gaya yang berasal dari ketinggian saat jatuh & gaya-gaya
gravitasi spesiIik tubuh (gaya gravitasinya adalah 1,08). Tubuh akan kembali kepermukaan
air karena gerakan anggota tubuh, dan daya keapungan. Jika korban bukan seorang perenang,
korban akan menjerit meminta tolong dan akan berusaha memgekalkan mulut dan hidung di
atas permukaan air tetapi akibat dari berat badan dia akan masuk ke dalam air. Dalam proses
ini air akan masuk ke dalam saluran pernaIasan korban dan menyababkan batuk. Air akan
masuk ke paru-paru dan menggantikan udara di dalam paru-paru. Akibatnya, tubuh makin
berat dan didorong ke bawah lagi. Pergerakan tangan dan kaki akan menyebabkan tubuh naik
lagi dan menghirup lebih banyak air. Proses ini akan berlanjutan sehingga korban menjadi
tidak sadar atau setelah kesemua udara di dalam paru-paru telah digantikan dengan air.
Tubuh akan menjadi lebih berat dank arena ketidaksadaran korban akan tenggelam lebih
dalam lagi dan meninggal. Jika tenggelam dalam air tawar, dengan keadaan air yang
hipotonik, sejumlah air masuk kedalam paru-paru dan diresorbsi ke dalam sirkulasi paru-paru
melalui permukaaan alveoli dan menimbulkan hemodilusi dan peninggian volume darah dan
penurunan yang berbanding dengan konsentrasi elektrolit. Pengenceran darah akan
menimbulkan hemolisa sel-sel darah merah dan mengakibatkan kalium

plasma meningkat
dan terdapat hemoglobin bebas dalam plasma. Kalium meningkat dan natrium menurun oleh
karena hemodilusi dan mengakibatkan timbulnya Iibrilasi ventikular dalam beberapa menit,
penurunan tekanan darah yang drastis dan kematian ditandai dengan cerebral anoksia.
Kematian terjadi setelah 5 hingga 6 menit. Jika tenggelam dalam air laut yang bersiIat
hipertonik, apabila air masuk ke dalam ruang-ruang alveolar akan mengabsorbsi lebih banyak
cairan dari sirkulasi pulmonal mengakibatkan oedema pulmonal yang massiI,
hemokonsentrasi dan peningkatan magnesium dalam darah. Pada tenggelam jenis ini, tidak
terjadi hemolisis dan Iibrilasi ventricular. Kematian terjadi setelah 8 hingga 9 menit.
3
Secara ringkas mekanisme tenggelam dapat dijelaskan seperti berikut:
1. Dengan aspirasi cairan (typical atau wet drowning)
2. Tanpa aspirasi cairan (atypical atau dry drowning)
3. Near drowning sama dengan kematian yang terjadi akibat hipoksia enseIalopati atau
perubahan sekunder pada paru

Pada wet drowning, yang mana terjadi inhalasi cairan, dapat dikenali gejala- gejala yang
terjadi :
O korban menahan napas karena peningkatan CO2 dan penurunan kadar O2 terjadi
megap-megap, dapat terjadi regurgitasi dan aspirasi isi lambung
O reIleks laringospasme yang diikuti dengan pemasukaan air
O korban kehilangan kesadaran
O kemudian terjadi apnoe
O megap-mega kembali, bisa sampai beberapa menit
O kejang-kejang
O berakhir dengan henti napas dan jantung
Perubahan-perubahan pada paru :
O ReIleks vasokonstriksi akan menyebabkan hipertensi pulmonal
O Bronkokonstriksi akan meningkatkan resistensi jalan napas
O Denaturasi surIaktan yang disertai deplesi yang cepat dari jaringan paru akan
menyebabkan rasio ventilasi/perIusi menjadi abnormal
O Pada tingkat seluler, terjadi kerusakan endotel vaskular dan sel epitel bronkial/alveoli
O Aspirasi air tawar akan menyebabkan hemodilusi
O Aspirasi air laut akan menyebabkan hemokonsentrasi
O Perubahan tegangan permukaan paru akan menyebabkan ketidakstabilan alveoli dan
paru menjadi kolaps.
Dry Drowning
15-20 kematian akibat tenggelam merupakan dry drowning, yang mana tidak disertai dengan
aspirasi cairan. Kematian ini biasanya terjadi dengan sangat mendadak dan tidak tampak adanya
tanda-tanda perlawanan. ekanisme kematian yang pasti masih tetap spekulatiI.
Cairan yang mendadak masuk dapat menyebabkan 2 macam mekanisme :
O laringospasme yang akan menyebabkan asIiksia dan kematian
O mengaktiIkan sistem saraI simpatis sehingga terjadi reIleks vagal yang akan
mengakibatkan cardiac arrest.
Beberapa Iaktor predisposisi kematian akibat dry drowning :
O intoksikasi alcohol (mendepresi aktivitas kortikal)

O penyakit yang telah ada, misal atherosclerosis


O kejadian tenggelam/terbenam secara tak terduga/mendadak
O ketakutan atau aktivitas Iisik berlebih (peningkatan sirkulasi katekolamin, disertai
kekurangan oksigen, dapat menyebabkan cardiac arrest
Near drowning :
Korban mengalami hipovolemik akibat perpindahan cairan ke paru dan jaringan seluruh tubuh.
Gejala sisa yang lain, seperti disrimia, deIisit neurologis dan renal, dipercaya merupakan akibat
langsung dari hipoksia dibanding akibat tenggelam.
Perpindahan Panas
O Air menghantarkan panas 25x lebih cepat dari udara.
O Kecepatan perpindahan panas tubuh yang berada dalam air dipengaruhi beberapa hal :
O bentuk tubuh (lemak merupakan isolator panas)
(anak-anak memiliki permukaan tubuh paling proporsional sehingga akan menjadi
lebih cepat dingin)
O pergerakan, misalnya berenang (akan memindahkan air yang lebih hangat ke dekat
tubuh)
O perlengkapan isolator, seperti pakaian
Hipotermia
Tiga Iase klinis :
O Iase eksitatori, korban gemetaran disertai kebingungan
O Iase adinamik, terjadi rigiditas muscular dan penurunan kesadaran
O Iase paralitik, ketidaksadaran yang akan diikuti oleh aritmia dan kematian.
Fase-Iase ini penting diketahui untuk keperluan resusitasi pada korban yang hampir mati
tenggelam sebab pada Iase paralitik korban dapat dikira telah meninggal.
2,3

2.5 CARA-CARA KEATIAN
1. AsIiksia : merupakan penyebab kematian yang sering
2. Syok ; karena inhibisi nervus vagus
3. Pingsan (sinkop)
4. Geger otak
5. Apoplexi

6. Cedera(Iraktur tulang tengkorak; dislokasi v. cervikalis)


Fatal Period :
Kematian dalam air laut / asin akan berlangsung lebih lama yaitu 7-8 menit. AsIiksia
dlam waktu 2-5 menit. Kematian dalam air tawar lebih cepat daripada dalam air laut. Bila
kematian oleh karena vagal inhibisi akan segera yaitu 30 detik. Banyaknya air dalam sirkulasi
akan menyebabkan hemodilusi pada darah dlam air tawar hingga trjadi gangguan elektrolit.
2,3

2.6 TANDA-TANDA POST ORTE
Pemeriksaan luar
Tanda-tanda asIiksia seperti sianose pada kuku, bibir. ata merah karena perdarahan
subconjuctiva. Dari mulut dan hidung terdapat buih halus yang sukar pecah, kadang menjulur
seperti lidah. Lebam mayat lebih banyak dijumpai di bagian kepala, muka dan leher (karena
posisi kepala di air lebih rendah). Bila didapati kejang mayat cadaveric spasme) tangan
mengengam rumput/kayu merupakan bukti kuat korban masih hidup waktu masuk ke air. Bila
korban lama didalam air bisa didapati telapak tangan dan kaki putih mengkerut seperti tukang
cuci (washer woman`s hand). Kadang didapati kulit kasar seperti kulit bebek (cutis anserine),
tapi tidak patognomonis karena itu terbentuk akibat kontraksi muskulus errector pilli karena
dingin atau proses kaku mayat. Adanya lumpur di badan, tangan korban, di bawah kuku atau
pakaian penting diperhatikan. Pastikan juga adanya luka-luka post mortem apalagi bila korban
terseret arus di sungai atau gigitan ikan dan binatang lainnya. Luka post mortem oleh batu-
batuan di sungai didapti di tubuh bagian luar.
Pemeriksaan dalam
Penting memeriksa adanya lumpur, pasir halus dan benda asing lainnya dalam mulut dan
saluran naIas, lumen laring, trachea dan bronchus dan cabang-cabangnya. Pada rongga mulut dan
saluran pernaIasan berisi buih halus yang mungkin bercampur dengan lumpur. Paru-paru tampak
lebih besar voluminous dan oedematous apalagi tenggelam di air laut, dengan cetakan iga
dipermukaan paru. Pada perabaan kenyal ada pitting oedema, bila dipotong dan diperas tampak
banyak buih. Darah lebih gelap dan encer. Jantung kanan berisi darah dan di bagian kiri kosong.
OesoIagus dan lambung bisa terisi cairan sesuai dengan tempat dimana korban tenggelam,
mungkin mengandung lumpur, pasir dan lain-lain. Ini petunjuk penting karena korban menelan

air waktu kelelap dalam air, apalagi bila didapati di duodenum yang menunjukkan ada passage
melewati pylorus.
Harus diingat bahwa pada dry downing tidak didapati air atau kelainan di paru maupun di
lambung.
Pemeriksaan laboratorium untuk mendapatkan adanya diatome dapat dilakukan dengan
test destruksi. Begitu juga bilas paru untuk mendapatkan adanya pasir atau telur cacing bila air
kontaminasi dengan Iaeces, ini dilakukan bila pembuktian secara makroskopis meragukan.
Pemeriksaan kimia darah dapat dilakukan tetapi memerlukan Iasilitas dan biaya.
1,2,3

2.7 EDIKOLEGAL
Secara medikolegal kematian karena tenggelam umumnya karena kecelakaan apalagi di
musim hujan dan banjir. Bunuh diri dengan tenggelam bukan hal yang jarang terjadi. Biasanya
korban memilih tempat yang tinggi untuk melonjat dan biasanya di tempat yang sering dilewati
orang. Penting sekali menentukan apakah korban mati karena tenggelam atau sudah mati baru
ditenggelamkan. Pemeriksaan menjadi sulit bila korban telah mengalami pembusukan atau
pembusukan lanjut. Perlu diperhatikan bahwa korban yang diangkat dari air, mengalami
pembusukan yang lebih cepat dari biasa. Oleh karena itu penundaan pemeriksaan akan
mempersulit pemeriksaan, selain bau yang akan dihadapi pemeriksa.
1,2,4












BAB III
KESIPULAN




























DAFTAR PUSTAKA

1. Amir A. Kumpulan Kuliah Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi ke-8.Penerbit &S& Press.
edan. 2005. Hal. 139-141
2. Satriaperwira. Drowning(tenggelam). Diunduh dari: http://kampus-
kedokteran.blogspot.com/2011/10/Iorensik-tenggelam.html#!/2011/10/Iorensik-
tenggelam.html |Accessed 13 Oktober 2011|
3. R.K . Sharma. Concise Textbook oI Forensic edicine and Toxicology.Edisi ke-3.
Global Education Consultant. India. 2011. Hal: 60-64
4. Anonymous. Pathology oI Trauma. Diunduh dari: http://Iorensik-
upnxx.webs.com/chapterxi.htm |accessed 14 Oktober 2011|
5. Idreas. Tenggelam. Diunduh dari:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21606/4/Chapter20II.pdI |accessed 16
Oktober 2011|