Anda di halaman 1dari 3

Dibalik RUU Intelijen

Anwar Maruf1 Jika tidak ada aral melintang, DPR akan mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Intelijen dalam rapat paripurna pada tanggal 11 Oktober 2011. RUU yang mulai dibahas di DPR pada tanggal 23 Desember 2010 ini memang masih banyak menuai pro kontra di kalangan masyarakat dan pemerintah. Demi memuluskan pengesahan RUU ini, DPR telah beberapa kali melakukan beberapa perombakan dalam pasal yang banyak digugat oleh berbagai kelompok masyarakat. Misalnya saja pasal 31 mengenai kewenangan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam hal penangkapan. Pasal tersebut dirombak beberapa kali, mulai dari kewenangan BIN untuk menangkap diubah dengan pemeriksaan intensif, lalu pendalaman sampai yang terakhir penggalian informasi terhadap orang yang sedang dalam proses hukum. Hal tersebut dilakukan karena banyak sekali protes dan kekhawatiran kelompok masyarakat terhadap kewenangan BIN yang dapat melakukan penangkapan, sehingga akan memunculkan badan intelijen yang superior layaknya di masa Orde Baru. Berbagai perubahan tersebut menunjukkan kentalnya nuansa kompromi politik di gedung parlemen demi menggolkan RUU tersebut. Namun perubahan terhadap pasal kewenangan BIN tersebut juga masih sangat kontroversial karena RUU tersebut masih belum bisa memisahkan domain penegakan hukum dengan domain intelijen di bidang keamanan nasional. Artinya dalam RUU ini memungkinkan aparat intelijen untuk menyeberang pagar batas antara domain hukum dan intelijen. Selain itu, dalam RUU Intelijen, BIN juga bertugas untuk membuat rekomendasi yang berkaitan dengan orang dan/atau lembaga asing. Dalam hal ini bisa dikatakan BIN diberikan wewenang untuk merekomendasikan orang asing yang mau datang ke Indonesia, baik tujuan belajar, penelitian dan sebagainya. Hal itu sama artinya dengan intelijen Negara dapat memata-matai aktivis sosial, ilmiah maupun aktivitas politik yang sah. Dalam pasal lainnya, disebutkan bahwa BIN berwenang utnuk melakukan pemeriksaan terhadap aliran dana, dan dalam melakukan pemerisakaan tersebut Bank Indonesia, bank, penyedia jasa keuangan atau lembaga analisis transaksi keuangan wajib memberikan informasi kepada BIN. Pasal ini jelas akan berpotensi mengooptasi PPATK yang independen dan didirikan oleh UU guna kepentingan penegakan hukum. Bahkan dalam RUU Intelijen tersebut juga disebutkan bahwa setiap orang atau badan hukum dilarang membuka dan/atau membocorkan rahasia intelijen. Artinya siapapun yang terbukti membuka atau membocorkan rahasia intelijen dapat dikenai sanksi pidana. Padahal hanya aparat intelijen yang mengetahui klasifikasi data intelijen dan seharusnya mengamankan data intelijen. Namun hal tersebut tidak berlaku dalam RUU ini, sehingga orang awam pun dapat dikenakan hukuman pidana. Pasal yang termaktub dalam pasal 26 RUU Intelijen ini tentunya dapat disalahgunakan oleh aparat Negara guna melindungi kekuasaannya serta mengancam kebebasan pers, bahkan mengkriminalisasikan orang awam.
1

Ketua Nasional Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP)

Upaya mempercepat pengesahan RUU Intelijen Banyaknya pasal yang tergolong kontroversial dan mengancam ruang demokrasi rakyat kenyataannya tidak membuat pemerintah bergeming. Bahkan yang terungkap adalah pemerintah berusaha mendorong percepatan pengesahaan RUU Intelijen di tengah munculnya berbagai protes terhadap pasal-pasal di RUU tersebut. Aksi terorisme kemudian dijadikan sebagai fondasi utama untuk segera mengesahkan RUU Intelijen. Dalam pidato menanggapi bom bunuh diri di GBIS Kepunton, Solo, Presiden SBY menyatakan lemahnya tindakan preventif dari aparat Negara karena tidak adanya paying hukum. SBY pun menegaskan pentingnya RUU Intelijen segera disahkan untuk menanggulangi aksi teroris bom bunuh diri. Setali tiga uang seperti presiden, BIN pun mengajak DPR agar mempercepat pengesahan RUU Intelijen tersebut pasca terjadinya bom bunuh diri di GBIS Kepunton. Namun pertanyaan pentingnya adalah apakah pemerintah, menteri, jajaran birokrat atau bahkan DPR tidak sadar bahwa pengesahan RUU Intelijen akan sangat mengancam demokratisasi rakyat di Indonesia? Untuk apa pemerintah dan DPR memaksakan RUU Intelijen yang mengandung berbagai pasal yang akan mempersempit ruang demokrasi rakyat? RUU Intelijen dan Kepentingan Ekonomi Politik Penguasa Yang paling krusial dari RUU Intelijen ini adalah tidak jelasnya pihak lawan yang disebutkan dalam pasal 1 ayat 8 dalam BAB I RUU Intelijen. Dalam RUU tersebut hanya menyebutkan pihak lawan adalah pihak dari dalam dan luar negeri yang melakukan upaya, pekerjaan, kegiatan, serta tindakan yang dapat mengancam kepentingan dan keamanan nasional Pertanyaannya kemudian adalah apa yang dimaksud dengan ancaman kepentingan dan keamanan nasional? Siapa yang dimaksud dengan pihak lawan, di dalam dan di luar negeri? Point tersebut menjadi penting karena pengalaman di masa Orde Baru yang menginterpretasikan kelompok-kelompok kritis, seperti serikat buruh, petani, kaum miskin kota, mahasiswa atau aktivis HAM dan prodemokrasi dituduh sebagai lawan yang mengganggu kepentingan penguasa, pembangunan dan keamanan nasional, sehingga terjadi pelanggaran HAM yang massif. Pada masa Orde Baru, aparat intelijen digunakan sebagai alat penguasa untuk mengontrol kelompokkelompok masyarakat kritis, sehingga gangguan terhadap pemerintahan Orde Baru dapat diminilasir. Peminimalisiran gangguan terhadap pemerintahan Orde Baru sangat penting demi melaksanakan trilogi pembangunan. Namun pencanangan trilogi pembangunan yang berisi pelaksanaan stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi serta pemerataan pembangunan, pada akhirnya menuai kontroversi. Dalam pelaksanaan stabilitas politik di masa Orde Baru menghasilkan sejumlah peraturan yang mengakibatkan pengendalian pers dan pengendalian aksi kelompok masyarakat. Di bidang pertumbuhan ekonomi, menghasilkan penanaman modal asing yang massif dan tidak terkontrol akibat munculnya kebijakan deregulasi (liberalisasi) pada tahun 1983-1988. Sementara di bidang pemerataan pembangunan menghasilkan jalur-jalur distributive seperti kredit usaha tani dan mitra pengusaha besar dan kecil, seperti bapak asuh.

Bagaimana dengan kondisi saat ini? Jika melihat berbagai pasal yang termaktub dalam RUU Intelijen, yang pada akhirnya semakin mempersempit ruang demokrasi rakyat dan semakin tidak terkontrolnya para penguasa, maka bisa jadi aparat intelijen nantinya akan dimanfaatkan untuk kepentingan penguasa. Sementara jika melihat berbagai rencana kebijakan di luar RUU Intelijen, seperti RUU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, RUU Perubahan tentang Ketenagakerjaan, RUU Perubahan tentang Migas atau bahkan berbagai UU yang telah disahkan seperti UU Ketenagalistrikan, UU Minerba atau yang lainnya, disinyalir aparat intelijen akan digunakan untuk memastikan berjalannya seluruh program penanaman modal tanpa ada gangguan dari masyarakat. Sudah jauh-jauh hari, pemerintahan SBY serta para pengusaha selalu menyatakan bahwa salah satu penghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah tidak adanya lahan dan sistem ketenagakerjaanya. Maka dari itu, pemerintahan ini berupaya untuk mempercepat pengesahan RUU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan dan RUU Perubahan mengenai Ketenagakerjaan, paling cepat tahun 2011 atau paling lambat tahun 2012. Namun tentunya sudah terbayang di depan mata, perlawanan masyarakat untuk mempertahankan lahannya tentunya juga akan sangat tinggi. Hal ini mengingat berbagai kasus penggusuran yang tejadi di berbagai daerah selalu saja mendapatkan perlawanan dari rakyat. Untuk itu, dibutuhkan upaya intelijen untuk memaksa masyarakat menerima seluruh program pemerintah, layaknya di masa Orde Baru. Untuk itu, tentunya dibutuhkan kesadaran dari seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu mempertahankan ruang demokratisasi rakyat di Indonesia.