Anda di halaman 1dari 24

http://janetniez.blogspot.com/2009/12/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.

html
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi
TEORI MOTIVASI

Istilah Motivasi merujuk kepada dasar yang mendorong tindakan. Satu perangkat teori
menganggap kekurangan kebutuhan sebagai kondisi pendorong yang menimbulkan
presdiposisi tertentu untuk berprilaku. Sementara suatu teori lain menganggap harapan dalam
lingkungan sebagai menimbulkan bentuk-bentuk tertentu tujuan dan indakan ysng
mengikutinya; teori ketiga menganggap persepsi atas tempat kerja sebagai menimbulkan
bentuk-bentuk tertentu potensi yang mendorong tindakan.

Pengertian Motivasi
MotiI seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan atau tenaga tersebut merupakan
gerak jiwa dan jasmani untuk berbuat. Jadi motiI tersebut merupakan suatu driving Iorce
yang menggerakkan manusia untuk bertingkah- laku, dan di dalam perbuatanya itu
mempunyai tujuan tertentu.
Setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu di mulai dengan motivasi (niat). menurut
Wexley & Yukl (dalam As`ad, 1987) motivasi adalah pemberian atau penimbulan motiI,
dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motiI. Sedangkan menurut Mitchell (dalam
Winardi, 2002) motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan
timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela (volunter)
yang diarahkan ke tujuan tertentu. Sedangkan menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi
merupakan sejumlah proses, yang bersiIat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang
menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan-
kegiatan tertentu.
Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal
yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan
yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan
tersebut ( motivated behavior ), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends oI
such behavior ). McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendeIinisikan motivasi sebagai
perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan eIektiI dan reaksi-
reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena
kebutuhan dan keinginan setiap anggota organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini
berbeda karena setiap anggota suatu organisasi adalah unik secara biologis maupun
psikologis, dan berkembang atas dasar proses belajar yang berbeda pula (Suprihanto dkk,
2003).
Soemanto (1987) secara umum mendeIinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga
yang ditandai oleh dorongan eIektiI dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan
manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang
memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah merupakan sejumlah proses-
proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya, diarahkanya, dan terjadinya persistensi
kegiatan- kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu, baik yang bersiIat
internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme
dan persistensi.
Teori Defisiensi Motivasi
Sebagian dari teori-teori paling lazim mengenai motivasi merujuk kepada kebutuhan sebagai
kekuatan pendorong perilaku manusia. Berikut adalah beberapa teori yang menjelaskan
tentang bagaimana kebutuhan berIungsi memotivasi manusia.
Teori Hierarki
Maslow mengemukakan bahwa kebutuhan kita terdiri dari lima kategori :
Iisiologis,
keselamatan atau keamanan,
rasa memiliki atau social,
penghargaan,
aktualisasi diri.
Menurutnya kebutuhan-kebutuhan ini berkembang dalam suatu urutan hierarkis, dengan
kebutuhan Iisiologis merupakan kebutuhan paling kuat hingga terpuaskan. Kebutuhan ini
mempunyai pengaruh atas kebutuhan-kebutuhan lainnya selama kebutuhan tersebut tidak
terpenuhi. Suatu kebutuhan pada urutan paling rendah tidak perlu terpenuhi secara lengkap
sebelum kebutuhan berikutnya yang lebih tinggi menjadi aktiI.
Menurut teori ini didapat 5 perangkat kebutuhan yang tersusun dalam suatu tatanan hierarkis,
diantaranya adalah :
1. Kebutuhan akan aktualisasi diri
2. Penghargaan (esteem)
3. Kebutuhan akan rasa memiliki (belong-ing)
4. Keselamatan dan keamanan
5. Kebutuhan Iisiologis

Teori ERG

%eori ERG (Existence Relatedness Growth ) oleh AlderIer (1972) menyatakan bahwa
individu termotivasi berperilaku untuk memuaskan satu dari tiga kelompok
kebutuhan.(Gibson, Ivanchvich Donnelly,Organisasi, Edisi kedelapan). Ketiga
kelompok kebutuhan itu adalah:

Kebutuhan pertumbuhan ( growth (G))
Meliputi kenginginan kita untuk produktiI dan kreatiI dengan mengerahkan segenap
kesanggupan kita.

2) Kebutuhan keterkaitan ( Relatedness (R))
MenyangkuL hubungan dengan orangorang yang penLlng bagl klLa seperLl anggoLa keluarga
sahabaL dan penyella dl LempaL ker[a

3) Kebutuhan Eksistensi ( Eksistence (E))
MellpuLl kebuLuhan flslologls sepeerLl lapar rasa haus seks kebuLuhan maLerl dan llngkungan ker[a
yang menyenangkan
AlderIer menyatakan bahwa :
Pertama : bila kebutuhan akan eksistensi tidak terpenuhi, pengaruhnya mungkin kuat, namun
kategori-kategori kebuthan lainnya mungkin masih penting dalam mengarahkan perilaku
untuk mencapai tujuan.
Kedua : meskipun suatu kebutuhan terpenenuhi, kebutuhan dapat berlangsung terus sebagai
pengaruh kuat dalam keputusan.

%eori ERG mengasumsikan bahwa Individu yang gagal memuaskan kebutuhan
pertumbuhan menjadi Irustasi, mundur, dan memIokuskan kembali perhatian pada
kebutuan yang ebih rendah. Motivasi ini diukur dengan cara membuat skala pelaporan
diri yang digunakan untuk menilai tiga kategori kebutuhan.

Pengertian Perilaku

Dalam Robbins, S.P (1993). Perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan. Dengan
perkataan lain, perilaku kita pada umunya dimotivasi oleh suatu keinginan untuk
mencapai tujuan tertentu. %ujuan spesiIik tersebut tidak selalu diketahui secara sadar
oleh individu yang bersangkutan. Ada kalanya kita bertanya: 'mengapa saya
melakukan itu?' Sigmund Freud adalah orang pertama yang memahami pentingnya
motivasi dibawah sadar (Subconcious Motivation). Ia beranggapan bahwa manusia
tidak selalu menyadari tentang segala sesuatu yang diinginkan mereka hingga
sebagian besar perilaku mereka dipenuhi oleh kebutuhan-kebutuhan dibawah sadar.
Maka oleh karenanya, sering kali hanya sebagian kecil dari motivasi jelas terlihat atau
disadari oleh orang yang bersangkutan. Guna dapat meramalkan perilaku, kita perlu
mengetahui kebutuhan-kebutuhan apa pada manusia yang menyebabkan timbulnya
tindakan-tindakan tertentu pada waktu tertentu.

Penerapan Pemahaman Motivasi %erhadap Perilaku

Salah satu determinan perilaku adalah motivasi. Menurut Gibson (1995) Istilah
motivasi berhubungan dengan ide, gerakan dan apabila kita menyatakannya secara
amat sederhana, maka merupakan sesuatu hal yang 'mendorong ' atau menggerakkan
kita untuk berperilaku dengan cara tertentu. Hal itulah yang merangsang seseorang
untuk maju dan mendorong kearah tujuan. Pelaksanaan pekerjaan merupakan perilaku
organisatoris yang dipilih seseorang guna mencapai tujuan-tujuan pribadinya, yakni
tujuan yang dianggapnya penting untuk bergerak maju. Jadi, seseorang yang
mementingkan hasil pekerjaan merupakan seseorang yang mementingkan motivasi. Ia
akan memanIaatkan antara hubungan pribadinya dan kekuasaannya atas lingkungan
kerja sebagai alat motivasional.
Perilaku Organisasi adalah bidang studi yang menyelidiki dampak perorangan,
kelompok dan struktur pada perilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan
pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki keeIektiIan organisasi (Stephen P.
Robbins, Perilaku organisasi Jilid 1:7).

Perilaku Organisasi mempunyai Iaktor kunci untuk diramalkan. Faktor tersebut adalah

1. Peningkatan produktiIitas
Organisasi dikatakan produktiI jika tujuan dapat dicapai dan proses pencapaian
tersebut dilakukan dengan merubah masukan menjadi keluaran dengan biaya yang
paling rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa produktiIitas berhubungan dengan
keeIektiIan dan keeIisienan.
Pengurangan kemangkiran
Kemangkiran adalah tindakan tidak masuk kerja tanpa alasan. %ingkat kemangkiran
yang tinggi dapat berdampak langsung pada keeIektiIan dan eIisiensi organisasi.
Penurunan %urn Over
%urn over adalah pengunduran diri secara permanen dari organisasi.
Peningkatan kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah perbedaan antara banyaknya ganjaran yang diterima karyawan
dan banyaknya yang mereka yakini harus mereka terima. Karyawan dikatakan
merasakan puas bila perbedaan bernilai positiI secara perhitungan matematis. Perilaku
dalam berorganisasi Berjuta karyawan kehilangan pekerjaan karena penciutan
organisasi. Pada saat yang bersamaan banyak organisasi mengeluh tidak dapat
menemukan orang untuk mengisi lowongan kerja sesuai spesiIikasi yang diinginkan,
Teori Kesehatan-Motivator
Herzberg (1966) mencoba menentukan Iactor-Iaktor apa yang mempengaruhi motivasi dalam
organisasi. Ia menemukan dua perangkat kegiatan yang memuaskan kebutuhan manusia :
1. Kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan kerja atua disebut juga motivator
Meliputi prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan atau promosi, pekerjaan itu
sendiri, dan potensi bagi pertumbuhan pribadi. Bila Iactor ini tidak ada di tempat kerja,
pegawai akan kekurangan motivasi, namun tidak berarti tidak puas dengan pekerjaan mereka.
2. Kebutuhan yang berkaitan dengan ketidakpuasan kerja
Disebut juga Iactor pemeliharaan (maintenance) atau kesehata (hygiene), meliputi gaji,
pengawasan, keamanan kerja, kondisi kerja, administrasi, kebijakan organisasi, dan hubungan
antar pribadi dengan rekan kerja, atasan, dan bawahan ditempat kerja. Faktor ini berkaitan
dengan lingkungan atau konteks pekerjaan alih-alih dengan pekerjaan itu sendiri. Bila Iactor
ini ditanggapi secara positiI, pegawai tidak mengalami kepuasan atau tampak termotivasi;
namun bila Iactor-Iaktor tersebut tidak ada, pegawai akan merasa tidak puas.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi
Motivasi sebagai proses batin atau proses psikologis dalam diri seseorang, sangat dipengaruhi
oleh beberapa Iaktor. Faktor-Iaktor tersebut antara lain :

1. Faktor Ekstern
Lingkungan kerja
Pemimpin dan kepemimpinannya
%untutan perkembangan organisasi atau tugas
Dorongan atau bimbingan atasan

2. Faktor Intern
Pembawaan individu
%ingkat pendidikan
Pengalaman masa lampau
Keinginan atau harapan masa depan.

Sumber lain mengungkapkan, bahwa didalam motivasi itu terdapat suatu rangkaian interaksi
antar berbagai Iaktor. Berbagai Iaktor yang dimaksud meliputi :
Individu dengan segala unsur-unsurnya : kemampuan dan ketrampilan, kebiasaan, sikap dan
sistem nilai yang dianut, pengalaman traumatis, latar belakang kehidupan sosial budaya,
tingkat kedewasaan, dsb.
Situasi dimana individu bekerja akan menimbulkan berbagai rangsangan: persepsi individu
terhadap kerja, harapan dan cita-cita dalam keja itu sendiri, persepsi bagaimana
kecakapannya terhadap kerja, kemungkinan timbulnya perasaan cemas, perasaan bahagia
yang disebabkan oleh pekerjaan.
Proses penyesuaian yang harus dilakukan oleh masing-masing individu terhadap pelaksanaan
pekerjaannya.
Pengaruh yang datang dari berbagai pihak : pengaruh dari sesama rekan, kehidupan kelompok
maupun tuntutan atau keinginan kepentingan keluarga, pengaruh dari berbagai hubungan di
luar pekerjaan
Reaksi yang timbul terhadap pengaruh individu
Perilaku atas perbuatan yang ditampilkan oleh individu
%imbulnya persepsi dan bangkitnya kebutuhan baru, cita-cita dan tujuan

Beberapa Iaktor yang dapat mempngaruhi motivasi kelompok (teamwork) dalam bekerja
dapat dikategorikan sebagai berikut:

Tujuan
'isi, misi dan tujuan yang jelas akan membantu team dalam bekerja. Namun hal tersebut
belum cukup jika visi., misi dan tujuan yang ditetapkan tidak sejalan dengan kebutuhan dan
tujuan para anggota..
Tantangan
Manusia dikarunia mekanisme pertahanan diri yang di sebut 'Iight atau Ilight syndrome.
Ketika dihadapkan pada suatu tantangan, secara naluri manusia akan melakukan suatu
tindakan untuk menghadapi tantangan tersebut (Iight) atau menghindar (Ilight). Dalam
banyak kasus tantangan yang ada merupakan suatu rangsangan untuk mencapai kesuksesan.
Dengan kata lain tantangan tersebut justru merupakan motivator.
Namun demikian tidak semua pekerjaan selalu menghadirkan tantangan. Sebuah team tidak
selamanya akan menghadapi suatu tantangan. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya
memberikan suatu tugas atau pekerjaan yang menantang dalam interval. Salah satu criteria
yang dapat dipakai sebagai acuan apakah suatu tugas memiliki tantangan adalah tingkat
kesulitan dari tugas tersebut. Jika terlalu sulit, mungkin dapat dianggap sebagai hal yang
mustahil dilaksanakan, maka team bisa saja menyerah sebelum mulai mengerjakannya.
Sebaliknya, jika terlalu mudah maka team juga akan malas untuk mengerjakannya karena
dianggap tidak akan menimbulkan kebanggaan bagi yang melakukannya.

Keakraban
%eam yang sukses biasanya ditandai dengan sikap akraban satu sama lain, setia kawan, dan
merasa senasib sepenanggungan. Para anggota team saling menyukai dan berusaha keras
untuk mengembangankan dan memelihara hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal
menjadi sangat penting karena hal ini akan merupakan dasar terciptanya keterbukaan dan
komunikasi langsung serta dukungan antara sesama anggota team.

Tanggung jawab
Secara umum, setiap orang akan terstimulasi ketika diberi suatu tanggungjawab.
%anggungjawab mengimplikasikan adanya suatu otoritas untuk membuat perubahan atau
mengambil suatu keputusan. %eam yang diberi tanggungjawab dan otoritas yang proporsional
cenderung akan memiliki motivasi kerja yag tinggi.

Kesempatan untuk maju
Setiap orang akan melakukan banyak cara untuk dapat mengembangkan diri, mempelajari
konsep dan ketrampilan baru, serta melangkah menuju kehidupan yang lebih baik. Jika dalam
sebuah team setiap anggota merasa bahwa team tersebut dapat memberikan peluang bagi
mereka untuk melakukan hal-hal tersebut di atas maka akan tercipta motivasi dan komitment
yang tinggi. Hal ini penting mengingat bahwa perkembangan pribadi memberikan nilai
tambah bagi individu dalam meningkatkan harga diri.

Kepemimpinan
%idak dapat dipungkiri bahwa leadership merupakan Iaktor yang berperan penting dalam
mendapatkan komitment dari anggota team. Leader berperan dalam menciptakan kondisi
yang kondusiI bagi team untuk bekerja dengan tenang dan harmonis. Seorang leader yang
baik juga dapat memahami 6 Iaktor yang dapat menimbulkan motivasi seperti yang
disebutkan diatas
Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-
tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan
dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat
dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian
meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat
kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting
hingga yang tidak terlalu krusial :
kebuLuhan llslologls
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan
kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernaIas, dan lain
sebagainya.
Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit,
bebas dari teror, dan lain sebagainya.
Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan
jenis, dan lain-lain.
Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat
dan minatnya
berikut ini adalah beberapa pengertian psikologi menurut para ahli psikologi yang ada.

1.Cropley, (1985) Motivasi dapat dijelaskan sebagai 'tujuan yang ingin dicapai melalui
perilaku tertentu

2. lodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau
menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada
tingkah laku tersebut. Pengertian ini jelas bernaIaskan behaviorisme.

3. Mitchell, motivasi mewakili proses- proses psikologikal, yang menyebabkan timbulnya,
diarahkanya, dan terjadinya persistensi kegiatan- kegiatan sukarela yang diarahkan ke tujuan
tertentu.

4. Gray, lebih suka menyebut pengertian motivasi sebagai sejumlah proses, yang bersiIat
internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme
dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu.

5.Morgan, mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus
merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong
tingkah laku, tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut, dan tujuan dari pada tingkah
laku tersebut.

6.McDonald, memilih pengertian motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang
yang ditandai oleh dorongan eIektiI dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Motivasi merupakan
masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota
organisasi berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini berbeda karena setiap anggota suatu
organisasi adalah unik secara biologis maupun psikologis, dan berkembang atas dasar proses
belajar yang berbeda pula.

7. exley & Yukl adalah pemberian atau penimbulan motiI, dapat pula diartikan hal atau
keadaan menjadi motiI.

8.Chung dan Megginson yang dikutip oleh Faustino Cardoso Gomes, menerangkan bahwa
pengertian motivasi adalah tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang yang mengejar suatu
tujuan dan berkaitan dengan kepuasan kerja dan perIoman pekerjaan.

9.T. Hani Handoko, mengemukakan bahwa motivasi adalah keadaan pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan tertentu guna mencapai tujuan.

10. A. Anwar Prabu Mangkunegara, memberikan pengertian motivasi dengan kondisi yang
berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara prilaku yang berubungan
dengan lingkungan kerja.

11. H. Hadari Nawawi, mendeIinisikan motivasi sebagai suatu keadaan yang mendorong atau
menjadi sebab seseorang melakukan sesuatu perbuatan atau kegiatan yang berlangsung secara
sadar.

12. Henry Simamora, pengertian motivasi menurutnya adalah Sebuah Iungsi dari
pengharapan individu bahwa upaya tertentu akan menghasilkan tingkat kinerja yang pada
gilirannya akan membuahkan imbalan atau hasil yang dikehendaki.

13. Soemanto, secara umum mendeIinisikan motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang
ditandai oleh dorongan eIektiI dan reaksi- reaksi pencapaian tujuan. Karena kelakuan
manusia itu selalu bertujuan, kita dapat menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang
memberi kekuatan bagi tingkahlaku mencapai tujuan,telah terjadi di dalam diri seseorang.
Teori motivasi dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu teori kepuasan (content
theory) dan teori proses (process theory). Teori ini dikenal dengan nama konsep
Higiene, yang mana cakupannya adalah:
1. Isi Pekerjaan.
Hal ini berkaitan langsung dengan sifat-sifat dari suatu pekerjaan yang dimiliki oleh
tenaga kerja yang isinya meliputi :
Prestasi, upaya dari pekerjaan atau karyawan sebagai aset jangka panjang dalam
menghasilkan sesuatu yang positif di dalam pekerjaannya, pengakuan, pekerjaan itu
sendiri, tanggung jawab, pengembangan potensi individu.
2. Faktor Higienis.
Suatu motivasi yang dapat diwujudkan seperti halnya : gaji dan upah, kondisi kerja,
kebijakan dan administrasi perusahaan, hubungan antara pribadi, kualitas supervisi.
Pada teori tersebut bahwa perencanaan pekerjaan bagi karyawan haruslah
menunjukkan keseimbangan antara dua faktor.
%eori Motivasi Kepuasan.
Teori yang didasarkan pada kebutuhan insan dan kepuasannya. Maka dapat dicari
faktor-faktor pendorong dan penghambatnya. Pada teori kepuasan ini didukung juga
oleh para pakar seperti Taylor yang mana teorinya dikenal sebagai Teori Motivasi
Klasik. Teori secara garis besar berbicara bahwa motivasi kerja hanya dapat
memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja baik secara biologis maupun psikologis.
Yaitu bagaimana mempertahankan hidupnya. Selain itu juga
Teori Hirarki Kebutuhan (Need Hirarchi) dari Abraham Maslow yang menyatakan
bahwa motivasi kerja ditunjukan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan kerja
baik secara biologis maupun psikologis, baik yang berupa materi maupun non-
materi.
Secara garis besar tersebut teori jenjang kebutuhan dari Maslow dari yang rendah
ke yang paling tinggi yang menyatakan bahwa manusia tidak pernah merasa puas,
karena kepuasannya bersifat sangat relatif maka disusunlah hirarki kebutuhan
seperti hasrat menyususn dari yang teruraikan sebagai berikut:
1. Kebutuhan pokok manusia sehari-hari misalnya kebutuhan untuk makan,
minum, pakaian, tempat tinggal, dan kebutuhan fisik lainnya (physical need).
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah, apabila sudah
terpenuhi maka diikuti oleh hirarki kebutuhan yang lainnya.
2. Kebutuhan untuk memperoleh keselamatan, keselamatan, keamanan,
jaminan atau perlindungan dari yang membayangkan kelangsungan hidup
dan kehidupan dengan segala aspeknya (safety need).
3. Kebutuhan untuk disukai dan menyukai, disenangi dan menyenangi, dicintai
dan mencintai, kebutuhan untuk bergaul, berkelompok, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, menjadi anggota kelompok pergaulan yang lebih
besar (esteem needs).
4. Kebutuhan untuk memperoleh kebanggaan, keagungan, kekaguman, dan
kemasyuran sebagai seorang yang mampu dan berhasil mewujudkan potensi
bakatnya dengan hasil prestasi yang luar biasa (the need for self
actualization). Kebutuhan tersebut sering terlihat dalam kehidupan kita sehari-
hari melalui bentuk sikap dan prilaku bagaimana menjalankan aktivitas
kehidupannya (Zainun , 1997).
5. Kebutuhan untuk memperoleh kehormatan, pujian, penghargaan, dan
pengakuan (esteem need).
Teori Motivasi Proses.
Teori ini berusaha agar setiap pekerja giat sesuai dengan harapan organisasi
perusahaan. Daya penggeraknya adalah harapan akan diperoleh si pekerja.
Dalam hal ini teori motivasi proses yang dikenal seperti :
O Teori Harapan (Expectancy Theory), komponennya adalah: Harapan, Nilai
(Value), dan Pertautan (nstrumentality).
O Teori Keadilan (Equity Theory), hal ini didasarkan tindakan keadilan diseluruh
lapisan serta obyektif di dalam lingkungan perusahaannya.
O Teori Pengukuhan (Reinfocement Theory), hal ini didasarkan pada hubungan
sebab-akibat dari pelaku dengan pemberian kompensasi.
Teori Motivasi Prestasi (Achievement Motivation) dari McClelland
Teori ini menyatakan bahwa seorang pekerja memiliki energi potensial yang dapat
dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi, situasi, dan peluang yang ada.
Kebutuhan pekerja yang dapat memotivasi gairah kerja adalah :
1. Kebutuhan akan prestasi dorongan untuk mengungguli, berprestasi
sehubungan dengan seperangkat standar, bergulat untuk sukses.
2. Kebutuhan akan kekuasaan : kebutuhan untuk membuat orang berprilaku
dalam suatu cara yang orang-orang itu (tanpa dipaksa) tidak akan berprilaku
demikian.

Kebutuhan akan afiliasi : hasrat untuk hubungan antar pribadi yang ramah dan karib
(Robbins , 1996)
%eori X dan Y dari Mc. Gregor.
Teori ini didasarkan pada asumsi-asumsi bahwa manusia secara jelas dan tegas
dapat dibedakan atas manusia penganut teori X dan mana yang menganut teori Y.

Pada asumsi teori X menandai kondisi dengan hal-hal seperti karyawan rata-rata
malas bekerja, karyawan tidak berambisi untuk mencapai prestasi yang optimal dan
selalu menghindar dari tanggung jawab, karyawan lebih suka dibimbing, diperintah
dan diawasi, karyawan lebih mementingkan dirinya sendiri. Sedangkan pada asumsi
teori Y menggambarkan suatu kondisi seperti karyawan rata-rata rajin bekerja.
Pekerjaan tidak perlu dihindari dan dipaksakan, bahkan banyak karyawan tidak
betah karena tidak ada yang dikerjakan, dapat memikul tanggung jawab, berambisi
untuk maju dalam mencapai prestasi, karyawan berusaha untuk mencapai sasaran
organisasi (Robbins dalam bukunya Umar, 2000).
Dalam hal ini motivasi dan kemampuan karyawan merupakan salah satu aspek atau
faktor yang dapat meningkatkan sinergik (synergistic effect). Maka pembinaan
terhadap sumber daya manusia tidak pada penyelenggaraan latihan (training) saja,
tetapi juga didukung dengan pengembangan atau pembinaan selanjutnya
(development).
Menurut Mitchell (dalam Winardi , 2000) tujuan dari motivasi adalah memperediksi
perilaku perlu ditekankan perbedaan-perbedaan antara motivasi, perilaku dan kinerja
(performa). Motivasilah penyebab perilaku; andai kata perilaku tersebut efektif, maka
akibatnya adalah berupa kinerja tinggi.
hLLp//elqornlwordpresscom/2009/03/21/LeorlmoLlvasldalammana[emensdm/
http://tunggarawae.multiply.com/journal/item/16/Teori_-_teori_Motivasi

Motivasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang memberikan energi
bagi seseorang dan apa yang memberikan arah bagi aktivitasnya. Motivasi kadang-kadang
dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil. Energi dan arah inilah yang menjadi inti
dari konsep tentang motivasi. Motivasi merupakan sebuah konsep yang luas (diffuse), dan
seringkali dikaitkan dengan Iaktor-Iaktor lain yang mempengaruhi energi dan arah aktivitas
manusia, misalnya minat (interest), kebutuhan (need), nilai (value), sikap (attitude), aspirasi,
dan insentiI (Gage & Berliner, 1984).
Dengan pengertian istilah motivasi seperti tersebut di atas, kita dapat mendeIinisikan
motivasi belajar siswa, yaitu apa yang memberikan energi untuk belafar bagi siswa dan apa
yang memberikan arah bagi aktivitas belajar siswa.
Secara umum, teori-teori tentang motivasi dapat dikelompokkan berdasarkan sudut
pandangnya, yaitu behavioral, cognitive, psychoanalytic, humanistic, social learning, dan
social cognition.
1. 1eori-teori Behavioral
Robert M. Yerkes dan J.D. Dodson, pada tahun 1908 menyampaikan Optimal Arousal
Theory atau teori tentang tingkat motivasi optimal, yang menggambarkan hubungan empiris
antara rangsangan (arousal) dan kinerja (performance). %eori ini menyatakan bahwa kinerja
meningkat sesuai dengan rangsangan tetapi hanya sampai pada titik tertentu; ketika tingkat
rangsangan menjadi terlalu tinggi, kinerja justru menurun, sehingga disimpulkan terdapat
rangsangan optimal untuk suatu aktivitas tertentu (Yerkes & Dodson, 1908).
Pada tahun 1943, Clark Hull mengemukakan Drive Reduction Theory yang menyatakan
bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati
posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajar pun hampir
selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang muncul mungkin
bermacam-macam bentuknya (Budiningsih, 2005). Masih menurut Hull, suatu kebutuhan
biologis pada makhluk hidup menghasilkan suatu dorongan (drive) untuk melakukan aktivitas
memenuhi kebutuhan tersebut, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa makhluk hidup
ini akan melakukan respon berupa reduksi kebutuhan (need reduction response). Menurut
teori Hull, dorongan (motivators of performance) dan reinforcement bekerja bersama-sama
untuk membantu makhluk hidup mendapatkan respon yang sesuai (Wortman, 2004). Lebih
jauh Hull merumuskan teorinya dalam bentuk persamaan matematis antara drive (energi) dan
habit (arah) sebagai penentu dari behaviour (perilaku) dalam bentuk:
Behaviour Drive Habit
Karena hubungan dalam persamaan tersebut berbentuk perkalian, maka ketika drive 0,
makhluk hidup tidak akan bereaksi sama sekali, walaupun habit yang diberikan sangat kuat
dan jelas (Berliner & CalIee, 1996).
Pada periode 1935 - 1960, Kurt Lewin mengajukan Field Theory yang dipengaruhi oleh
prinsip dasar psikologi Gestalt. Lewin menyatakan bahwa perilaku ditentukan baik oleh
person (P) maupun oleh environment (E):
Behaviour f(P, E)
Menurut Lewin, besar gaya motivasional pada seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang
sesuai dengan lingkungannya ditentukan oleh tiga Iaktor: tension (t) atau besar kecilnya
kebutuhan, valensi (G ) atau siIat objek tujuan, dan jarak psikologis orang tersebut dari tujuan
(e).
Force f(t, G)/e
Dalam persamaan Lewin di atas, jarak psikologis berbanding terbalik dengan besar gaya
(motivasi), sehingga semakin dekat seseorang dengan tujuannya, semakin besar gaya
motivasinya. Sebagai contoh, seorang pelari yang sudah kelelahan melakukan sprint ketika ia
melihat atau mendekati garis Iinish. %eori Lewin memandang motivasi sebagai tension yang
menggerakkan seseorang untuk mencapai tujuannya dari jarak psikologis yang bervariasi
(Berliner & CalIee, 1996).
2. Teori-teori Cognitive
Pada tahun 1957 Leon Festinger mengajukan Cognitive Dissonance Theory yang
menyatakan jika terdapat ketidakcocokan antara dua keyakinan, dua tindakan, atau antara
keyakinan dan tindakan, maka kita akan bereaksi untuk menyelesaikan konIlik dan
ketidakcocokan ini. Implikasi dari hal ini adalah bahwa jika kita dapat menciptakan
ketidakcocokan dalam jumlah tertentu, ini akan menyebabkan seseorang mengubah
perilakunya, yang kemudian mengubah pola pikirnya, dan selanjutnya mengubah lebih jauh
perilakunya (Huitt, 2001).
%eori kedua yang termasuk dalam teori-teori cognitive adalah Atribution Theory yang
dikemukakan oleh Fritz Heider (1958), Harold Kelley (1967, 1971), dan Bernard Weiner
(1985, 1986). %eori ini menyatakan bahwa setiap individu mencoba menjelaskan kesuksesan
atau kegagalan diri sendiri atau orang lain dengan cara menawarkan attribut-atribut tertentu.
Atribut ini dapat bersiIat internal maupun eksternal dan terkontrol maupun yang tidak
terkontrol seperti tampak pada diagram berikut.
Internal Eksternal
%idak terkontrol Kemampuan (ability) Keberuntungan (luck)
%erkontrol Usaha (eIIort) %ingkat kesulitan tugas
Dalam sebuah pembelajaran, sangat penting untuk membantu siswa mengembangkan atribut-
diri usaha (internal, terkontrol). Jika siswa memiliki atribut kemampuan (internal, tak
terkontrol), maka begitu siswa mengalami kesulitan dalam belajar, siswa akan menunjukkan
perilaku belajar yang melemah (Huitt, 2001).
Pada tahun 1964, 'room mengajukan Expectancy Theory yang secara matematis dituliskan
dalam persamaan: Motivation Perasaan berpeluang sukses (expectancy) Hubungan antara
sukses dan reward (instrumentality) Nilai dari tujuan (Jalue)
Karena dalam rumus ini yang digunakan adalah perkalian dari tiga variabel, maka jika salah
satu variabel rendah, motivasi juga akan rendah. Oleh karena itu, ketiga variabel tersebut
harus selalu ada supaya terdapat motivasi. Dengan kata lain, fika seseorang merasa tidak
percaya bahwa ia dapat sukses pada suatu proses belajar atau ia tidak melihat hubungan
antara aktivitasnya dengan kesuksesan atau ia tidak menganggap tujuan belajar yang
dicapainya bernilai, maka kecil kemungkinan bahwa ia akan terlibat dalam aktivitas belajar.
. 1eori-teori Psychoanalytic
Salah satu teori yang sangat terkenal dalam kelompok teori ini adalah Psychoanalytic
Theory (Psychosexual Theory) yang dikemukakan oleh Freud (1856 - 1939) yang
menyatakan bahwa semua tindakan atau perilaku merupakan hasil dari naluri (instinct)
biologis internal yang terdiri dari dua kategori, yaitu hidup (sexual) dan mati (aggression).
Erik Erikson yang merupakan murid Freud yang menentang pendapat Freud, menyatakan
dalam Theory of Socioemotional Development (atau Psychosocial Theory) bahwa yang
paling mendorong perilaku manusia dan pengembangan pribadi adalah interaksi sosial (Huitt,
1997).
4. Teori-teori Humanistic
%eori yang sangat berpengaruh dalam teori humanistic ini adalah Theory of Human
Motivation yang dikembangkan oleh Abraham Maslow (1954). Maslow mengemukakan
gagasan hirarki kebutuhan manusia, yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu deficiency
needs dan growth needs. Deficiency needs meliputi (dari urutan paling bawah) kebutuhan
Iisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki, dan kebutuhan akan
penghargaan. Dalam deficiency needs ini, kebutuhan yang lebih bawah harus dipenuhi lebih
dulu sebelum ke kebutuhan di level berikutnya. Growth needs meliputi kebutuhan kognitiI,
kebutuhan estetik, kebutuhan aktualisasi diri, dan kebutuhan self-transcendence. Menurut
Maslow, manusia hanya dapat bergerak ke growth needs jika dan hanya jika deficiency needs
sudah terpenuhi. Hirarki kebutuhan Maslow merupakan cara yang menarik untuk melihat
hubungan antara motiI manusia dan kesempatan yang disediakan oleh lingkungan (Atkinson,
1983).
%eori Maslow mendorong penelitian-penelitian lebih lanjut yang mencoba mengembangkan
sebuah teori tentang motivasi yang memasukkan semua Iaktor yang mempengaruhi motivasi
ke dalam satu model (Grand Theory of Motivation), misalnya seperti yang diusulkan oleh
Leonard, Beauvais, dan Scholl (1995). Menurut model ini, terdapat 5 Iaktor yang merupakan
sumber motivasi, yaitu 1)instrumental motivation (reward dan punishment), 2)Intrinsic
Process Motivation (kegembiraan, senang, kenikmatan), 3)Goal Internali:ation (nilai-nilai
tujuan), 4)Internal Self-Concept yang didasarkan pada motivasi, dan 5) External Self-Concept
yang didasarkan pada motivasi (Leonard, et.al, 1995).
. 1eori-teori Social Learning
Social Learning Theory (1954) yang diajukan oleh Julian Rotter menaruh perhatian pada
apa yang dipilih seseorang ketika dihadapkan pada sejumlah alternatiI bagaimana akan
bertindak. Untuk menjelaskan pilihan, atau arah tindakan, Rotter mencoba menggabungkan
dua pendekatan utama dalam psikologi, yaitu pendekatan stimulus-response atau
reinforcement dan pendekatan cognitive atau field. Menurut Rotter, motivasi merupakan
Iungsi dari expectation dan nilai reinforcement. Nilai reinforcement merujuk pada tingkat
preIerensi terhadap reinforcement tertentu (Berliner & CalIee, 1996).
. 1eori Social Cognition
%okoh dari Social Cognition Theory adalah Albert Bandura. Melalui berbagai eksperimen
Bandura dapat menunjukkan bahwa penerapan konsekuensi tidak diperlukan agar
pembelajaran terjadi. Pembelajaran dapat terjadi melalui proses sederhana dengan mengamati
aktivitas orang lain. Bandura menyimpulkan penemuannya dalam pola 4 langkah yang
mengkombinasikan pandangan kognitiI dan pandangan belajar operan, yaitu 1)Attention,
memperhatikan dari lingkungan, 2)Retention, mengingat apa yang pernah dilihat atau
diperoleh, 3)Reproduction, melakukan sesuatu dengan cara meniru dari apa yang dilihat,
4)Motivation, lingkungan memberikan konsekuensi yang mengubah kemungkinan perilaku
yang akan muncul lagi (reinforcement and punishment) (Huitt, 2004).
C. Teori Curiosity Berlyne
Pada tahun 1960 Berlyne mengemukakan sebuah Teori tentang Curiosity atau rasa ingin
tahu. Menurut Berlyne, ketidakpastian muncul ketika kita mengalami sesuatu yang baru,
mengejutkan, tidak layak, atau kompleks. Ini akan menimbulkan rangsangan yang tinggi
dalam sistem syaraI pusat kita. Respon manusia ketika menghadapi suatu ketidakpastian
inilah yang disebut dengan curiosity atau rasa ingin tahu. Curiosity akan mengarahkan
manusia kepada perilaku yang berusaha mengurangi ketidakpastian (Gagne, 1985).
Dalam pembelajaran Sains, ketika guru melakukan demonstrasi suatu eksperimen yang
memberikan hasil yang tidak terduga, hal ini akan menimbulkan konIlik konseptual dalam
diri siswa, dan ini akan memotivasi siswa untuk mengerti mengapa hasil eksperimen tersebut
berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Dengan demikian, keadaan ketidakpastian yang
diciptakan oleh guru telah menimbulkan curiosity siswa, dan siswa akan termotivasi untuk
mengurangi ketidakpastian dalam dirinya tersebut. Dapat disimpulkan bahwa curiosity
merupakan hal penting dalam meningkatkan motivasi. Sejarah juga membuktikan bahwa
curiosity memiliki banyak peran dalam kehidupan para penemu (inventor), ilmuwan, artis,
dan orang-orang yang kreatiI.
Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan curiosity siswa adalah inquiry teaching.
Dalam metode ini, siswa lebih banyak ditanya daripada diberikan jawaban. Dengan
mengajukan pertanyaan, bukan hanya pernyataan-pernyataan, curiosity siswa akan meningkat
karena siswa mengalami ketidakpastian terhadap jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut
(Gagne, 1985).
D. Hipotesis
Berdasarkan paparan teori-teori di atas, dapat diambil suatu hipotesis bahwa terdapat kaitan
yang erat antara peningkatan motivasi belafar siswa terhadap penerapan metode inquiry
dalam pembelafaran Sains.
III. Diskusi
Seperti yang telah diteliti oleh Haury (Haury, 1993), salah satu manIaat yang dapat diperoleh
dari metode inquiry adalah munculnya sikap keilmiahan siswa, misalnya sikap objektiI, rasa
ingin tahu yang tinggi, dan berpikir kritis, Jika metode inquiry dapat mempengaruhi sikap
keilmiahan siswa, maka muncul pertanyaan apakah metode ini juga dapat mempengaruhi
motivasi belajar dalam diri siswa? Sesuai dengan teori curiosity Berlyne, rasa ingin tahu
yang dimiliki siswa akan memberikan motivasi bagi siswa tersebut untuk mencari jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapinya; yang tidak lain adalah motivasi untuk belajar.
Dengan sikap keilmiahan yang baik, konsep-konsep dalam Sains lebih mudah dipahami oleh
siswa. Begitu juga, dengan motivasi belajar yang tinggi, kegiatan pembelajaran Sains juga
menjadi lebih mudah mencapai tujuannya, yaitu pemahaman konsep-konsep Sains. Jadi,
tampaknya ada hubungan yang kuat antara motivasi belajar dengan sikap keilmiahan yang
terbentuk sebagai akibat dari penerapan metode inquiry.
Rasa ingin tahu yang tinggi dapat dikaitkan dengan teori Maslow, yang menyatakan bahwa
manusia memiliki kebutuhan yang salah satunya kebutuhan untuk mengetahui dan kebutuhan
untuk memahami. Oleh karena itu, metode inquiry yang biasa diterapkan dalam pembelajaran
Sains secara tidak langsung sebenarnya mencoba memenuhi salah satu kebutuhan manusia
tersebut.
Seperti yang telah diuraikan dalam deskripsi teoretik di depan, komponen pertama dalam
metode inquiry adalah question atau pertanyaan. Dalam pandangan teori-teori motivasi
behavioral, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru dapat diartikan sebagai rangsangan
(arousal) atau dorongan (drive). Adanya rangsangan dan dorongan ini menyebabkan siswa
termotivasi untuk meresponnya melalui kegiatan ilmiah, yaitu mencari jawaban dari
pertanyaan. Kegiatan ilmiah yang dilakukan, sesuai teori Hull tidak lain adalah upaya untuk
mengurangi dorongan atau drive.
Yang perlu diperhatikan dalam memberikan pertanyaan kepada siswa adalah bahwa ada
rangsangan optimal untuk suatu aktivitas tertentu sesuai dengan Optimal Arousal Theory.
Sebab, jika rangsangan yang diberikan terlalu tinggi, maka motivasi siswa justru dapat turun
kembali. Harus juga dipertimbangkan apa yang oleh Field Theory disebut sebagai jarak
psikologis ke suatu tujuan; dalam memberikan pertanyaan, sebaiknya 'jarak antara
pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa dengan jawaban yang diharapkan tidak terlalu
jauh, supaya motivasi untuk menjawab pertanyaan tersebut besar karena jarak psikologis
tersebut berbanding terbalik dengan motivasi.
Dalam pandangan teori-teori motivasi Cognitive, memberikan pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan dalam pembelajaran Sains dengan metode inquiry sama artinya dengan
menciptakan ketidakcocokan (konIlik) antara apa yang dipikirkan oleh siswa dengan apa
yang seharusnya menjadi jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut. Cognitive Dissonance
Theory menyiratkan bahwa jika guru dapat menciptakan konIlik-konIlik tersebut, maka
siswa akan berusaha (termotivasi) untuk mengubah perilakunya, yang kemudian mengubah
pola pikirnya.
Sementara menurut Expectation Theory, fika seseorang merasa tidak percaya bahwa ia
dapat sukses pada suatu proses belajar atau ia tidak melihat hubungan antara aktivitasnya
dengan kesuksesan atau ia tidak menganggap tujuan belajar yang dicapainya bernilai, maka
kecil kemungkinan bahwa ia akan terlibat dan termotivasi dalam aktivitas belajar. Oleh
karena itu, jika metode inquiry diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa, pertanyaan-
pertanyaan yang diberikan guru kepada siswa memiliki batasan-batasan tertentu, misalnya
siswa harus merasa dapat menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan-pertanyaan yang disyaratkan dalam metode pembelajaran Inquiry, yang oleh
Garton disebut sebagai pertanyaan essential, antara lain harus memenuhi ciri-ciri sebagai
berikut (Garton, 2005).
O dapat ditanyakan berulang-ulang
O menunjukkan kepada siswa hubungan antara beberapa konsep dalam sebuah subjek
O muncul dari usaha untuk belajar lebih jauh mengenai kehidupan, berupa pertanyaan
umum dan membuka pertanyaan-pertanyaan lebih jauh
O menuntun pada konsep utama subjek tertentu, untuk menjawab pertanyaan bagaimana
kita mengetahuinya atau mengapa
O memberikan stimulus dan menumbuhkan minat untuk menyelidiki; melibatkan siswa
dan menimbulkan curiosity
O melibatkan level berpikir yang lebih tinggi
O tidak dapat langsung dijawab
O tidak dapat dijawab hanya dengan satu kalimat
Contoh pertanyaan essential antara lain:
O 'Apa yang menyebabkan sebuah zat disebut zat padat, zat cair, atau gas?
O 'Darimana datangnya ayam dan bagaimana cara kerja telur ayam sehingga bisa
menjadi ayam?
O 'Mengapa bentuk bulan berubah-ubah?
Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa bersama-sama mengembangkan pertanyaan-
pertanyaan lain, yang oleh Garton disebut pertanyaan unit, untuk menjawab pertanyaan
essential. Ciri pertanyaan unit antara lain:
O menanyakan konsep-konsep apa saja yang terdapat dalam subjek pertanyaan essential
O membantu siswa menjawab pertanyaan essential secara lebih spesiIik
Contoh pertanyaan unit antara lain:
O Apa saja contoh zat padat, zat cair, dan gas?
O Apakah ciri-ciri zat padat, zat cair, dan gas?
Komponen kedua dan ketiga dalam metode inquiry adalah student engangement
(keterlibatan) dan cooperative interaction (interaksi kerjasama). Kedua hal ini akan dibahas
bersamaan karena memiliki kedekatan. Keterlibatan siswa dan interaksi kerjasama dapat
ditinjau berdasarkan teori-teori motivasi Psychoanalitic, Humanistic, dan Social Cognition.
Dalam pandangan Theory of Socioemotional Development, yang paling mendorong atau
memotivasi perilaku manusia dan pengembangan pribadi adalah interaksi sosial. Dalam
pembelajaran dengan metode inquiry, ketika siswa merasa dilibatkan oleh guru (lingkungan)
dalam proses menjawab pertanyaan-pertanyaan dan melakukan interaksi dengan sesama
siswa melalui kerja kelompok, maka perilaku dan kepribadiannya berubah ke arah yang lebih
baik, yaitu ikut aktiI terlibat dalam kegiatan dan mau bekerjasama. Supaya keterlibatan dan
kerjasamanya dapat diterima oleh lingkungan, maka ia harus menyiapkan diri sebaik
mungkin, misalnya dengan membaca banyak buku teks. Artinya, motivasi belajar siswa
meningkat.
Dalam pandangan teori Maslow, manusia memiliki kebutuhan akan penghargaan dan
aktualisasi diri. Kesempatan siswa untuk terlibat dan bekerjasama dalam sebuah
pembelajaran dengan metode inquiry dapat dikatakan sebagai kesempatan untuk memenuhi
dua kebutuhan - penghargaan dan aktualisasi diri - tersebut. Dengan demikian, metode
inquiry memberikan ruang bagi siswa untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga siswa pun
akan memiliki motivasi yang tinggi, tentu saja motivasi dalam belajar.
Keterlibatan dan interaksi kerjasama dalam pembelajaran Sains dengan metode inquiry juga
dapat ditinjau berdasarkan teori Social Cognition, yang menyatakan bahwa proses
pembelajaran dapat terjadi antara lain melalui attention dan motivation. Attention, artinya
siswa memperhatikan lingkungan melalui keterlibatannya. Motivation, artinya lingkungan
memberikan konsekuensi yang mengubah kemungkinan perilaku. Contoh konsekuensi adalah
dianggap tidak aktiI terlibat dan tidak dapat bekerjasama. Untuk menghindari konsekuensi
ini, siswa termotivasi untuk belajar sehingga konsekuensi yang diperoleh adalah konsekuensi
yang positiI.
Komponen keempat dalam metode inquiry adalah performance evaluation. PerIormance
evaluation dapat ditinjau dari Expectation Theory yang menyatakan bahwa motivasi
merupakan Iungsi dari expectation, reward, dan nilai. Dalam perIormance evaluation, siswa
akan berusaha sebaik-baiknya dengan expectancy mendapatkan reward (misalnya nilai yang
baik). Dengan demikian, sesuai teori ini motivasi siswa akan meningkat karena metode
inquiri mengandung perIormance evaluation. Hal sebaliknya dapat dinyatakan bahwa
motivasi siswa akan rendah dalam suatu pembelajaran yang tidak memasukkan unsur
perIormance evaluation di dalamnya.
Mirip dengan Expectation %heory, Social Learning Theory juga menyatakan bahwa Iaktor
yang mempengaruhi motivasi seseorang adalah expectation dan nilai reinIorcement. Dengan
demikian, melalui perIormance evaluation ini motivasi siswa akan meningkat karena
expectation siswa yang tinggi.
Berdasarkan teori Maslow, dalam perIormance evaluation siswa diberi kesempatan untuk
memenuhi kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Artinya, adanya
kesempatan ini menyebabkan motivasi siswa meningkat agar dapat memenuhi kebutuhan
tersebut.
Komponen kelima dalam metode inquiry adalah Jariety of Resources. Komponen ini dapat
dikaitkan dengan teory Curiosity Berlyne yang menyimpulkan bahwa curiosity
meningkatkan motivasi belajar siswa. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru
menimpulkan ketidakpastian atau konIlik konseptual dalam diri siswa. KonIlik konseptual ini
akan menimbulkan rasa ingin tahu yang besar dalam diri siswa. Untuk menjawab rasa ingin
tahunya, siswa harus memiliki banyak pengetahuan, yang dapat diperoleh dari berbagai
macam sumber belajar. Artinya, dalam metode inquiry sebenarnya guru menciptakan
curiosity siswa, yang meningkatkan motivasi belajarnya, dan guru kemudian memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut melalui berbagai
macam sumber belajar. %entu saja, peranan guru sangat penting dalam memilihkan sumber
belajar yang tepat agar siswa tidak terlalu lama dalam keadaan 'belum menemukan
jawaban, karena hal ini dapat menurunkan kembali motivasinya
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi secara umum
1. ciri-ciri pribadi individu ( individual characteristic )
2. tingkat dan jenis pekerjaan ( job characteristic )
3. lingkungan ( environmental situations )
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara
sosiologis, konIlik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga
kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
%idak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konIlik antar anggotanya atau
dengan kelompok masyarakat lainnya, konIlik hanya akan hilang bersamaan dengan
hilangnya masyarakat itu sendiri.
KonIlik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi.
perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri Iisik, kepandaian,
pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri
individual dalam interaksi sosial, konIlik merupakan situasi yang wajar dalam setiap
masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konIlik antar
anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konIlik hanya akan hilang bersamaan
dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
KonIlik bertentangan dengan integrasi. KonIlik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus
di masyarakat. KonIlik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi
yang tidak sempurna dapat menciptakan konIlik.
Padahal sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi
tersebut. Caranya.? coba simak kiat berikut ini:
* Ciptakan sensasi
Ciptakan sesuatu yang dapat 'membangunkan dan membangkitkan gairah anda saat pagi
menjelang. Misalnya, anda berpikir esok hari harus mendapatkan keuntungan 1 milyar
rupiah. Walau kedengarannya mustahil, tapi sensasi ini kadang memacu semangat anda untuk
berkarya lebih baik lagi melebihi apa yang sudah anda lakukan kemarin.
* Kembangkan terus tujuan anda
Jangan pernah terpaku pada satu tujuan yang sederhana. %ujuan hidup yang terlalu sederhana
membuat anda tidak memiliki kekuatan lebih. Padahal untuk meraih sesuatu anda
memerlukan tantangan yang lebih besar, untuk mengerahkan kekuatan anda yang sebenarnya.
%ujuan hidup yang besar akan membangkitkan motivasi dan kekuatan tersendiri dalam hidup
anda.
* %etapkan saat kematian
Anda perlu memikirkan saat kematian meskipun gejala ke arah itu tidak dapat diprediksikan.
Membayangkan saat-saat terakhir dalam hidup ini sesungguhnya merupakan saat-saat yang
sangat sensasional. Anda dapat membayangkan Ilash back` dalam kehidupan anda. Sejak
anda menjalani masa kanak-kanak, remaja, hingga tampil sebagai pribadi yang dewasa dan
mandiri. Jika anda membayangkan ajal` anda sudah dekat, akan memotivasi anda untuk
berbuat lebih banyak lagi hal hal yg baik selama hidup anda.
* %inggalkan teman yang tidak perlu
Jangan ragu untuk meninggalkan teman-teman yang tidak dapat mendorong anda mencapai
tujuan. Sebab, siapapun teman anda, seharusnya mampu membawa anda pada perubahan
yang lebih baik. Ketahuilah bergaul dengan orang-orang yang optimis akan membuat anda
berpikir optimis pula. Bersama mereka hidup ini terasa lebih menyenangkan dan penuh
motivasi.
* Hampiri bayangan ketakutan
Saat anda dibayang-bayangi kecemasan dan ketakutan, jangan melarikan diri dari bayangan
tersebut. Misalnya selama ini anda takut akan menghadapi masa depan yang buruk. Datang
dan nikmati rasa takut anda dengan mencoba mengatasinya. Saat anda berhasil mengatasi
rasa takut, saat itu anda telah berhasil meningkatkan keyakinan diri bahwa anda mampu
mencapai hidup yang lebih baik.
* Ucapkan 'selamat datang pada setiap masalah Jalan untuk mencapai tujuan tidak
selamanya semulus jalan tol. Suatu saat anda akan menghadapi jalan terjal, menanjak dan
penuh bebatuan. Jangan memutar arah untuk mengambil jalan pintas. Hadapi terus jalan
tersebut dan pikirkan cara terbaik untuk bisa melewatinya. Jika anda memandang masalah
sebagai sesuatu yang mengerikan, anda akan semakin sulit termotivasi. Sebaliknya bila anda
selalu siap menghadapi setiap masalah, anda seakan memiliki energi dan semangat berlebih
untuk mencapai tujuan anda.
* Mulailah dengan rasa senang
Jangan pernah merasa terbebani dengan tujuan hidup anda. Coba nikmati hidup dan jalan
yang anda tempuh. Jika sejak awal anda sudah merasa tidak suka` rasanya motivasi hidup
tidak akan pernah anda miliki.
* Berlatih dengan keras
%idak bisa tidak, anda harus berlatih terus bila ingin mendapatkan hasil terbaik. Pada
dasarnya tidak ada yang tidak dapat anda raih jika anda terus berusaha keras. Semakin giat
berlatih semakin mudah pula mengatasi setiap kesulitan.
Kesimpulannya, motivasi adalah `sesuatu` yang dapat menumbuhkan semangat anda dalam
rangka mencapai tujuan. Dengan motivasi yang kuat di dalam diri sendiri, anda akan
memiliki apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap diri dan hidup ini. Sehingga anda
pun nggak ragu lagi melangkah mencapai tujuan dan cita-cita hidup anda..!
hLLp//langgengbasuklblogspoLcom/2008/04/caramenumbuhkanmoLlvaslhLml
PENGER%IAN KONFLIK
1. AR%I KONFLIK
Pengertian konIlik menurut Robbin
Robbin (1996: 431) mengatakan konIlik dalam organisasi disebut sebagai %he ConIlict
Paradoks, yaitu pandangan bahwa di sisi konIlik dianggap dapat meningkatkan kinerja
kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk
meminimalisasikan konIlik. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain:
1. Pandangan tradisional (%he %raditional 'iew). Pandangan ini menyatakan bahwa konIlik
itu hal yang buruk, sesuatu yang negatiI, merugikan, dan harus dihindari. KonIlik
disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality. KonIlik ini merupakan
suatu hasil disIungsional akibat komunikasi yang buruk, kurang kepercayaan, keterbukaan di
antara orang orang, dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi
karyawan.
2. Pandangan hubungan manusia (%he Human Relation 'iew. Pandangan ini menyatakan
bahwa konIlik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau
organisasi. KonIlik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam
kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota.
Oleh karena itu, konIlik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanIaat guna mendorong
peningkatan kinerja organisasi. Dengan kata lain, konIlik harus dijadikan sebagai motivasi
untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi.
3. Pandangan interaksionis (%he Interactionist 'iew). Pandangan ini cenderung mendorong
suatu kelompok atau organisasi terjadinya konIlik. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang
kooperatiI, tenang, damai, dan serasi cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratiI, dan
tidak inovatiI.
Oleh karena itu, menurut pandangan ini, konIlik perlu dipertahankan pada tingkat minimum
secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat, kritis
diri, dan kreatiI.
1.2. Pengertian KonIlik menurut Stoner dan Freeman
Stoner dan Freeman(1989:392) membagi pandangan menjadi dua bagian, yaitu pandangan
tradisional (Old view) dan pandangan modern (Current 'iew):
1. Pandangan tradisional. Pandangan tradisional menganggap bahwa konIlik dapat dihindari.
Hal ini disebabkan konIlik dapat mengacaukan organisasi dan mencegah pencapaian tujuan
yang optimal. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang optimal, konIlik harus
dihilangkan. KonIlik biasanya disebabkan oleh kesalahan manajer dalam merancang dan
memimpin organisasi. Dikarenakan kesalahan ini, manajer sebagai pihak manajemen
bertugas meminimalisasikan konIlik.
2. Pandangan modern. KonIlik tidak dapat dihindari. Hal ini disebabkan banyak Iaktor, antara
lain struktur organisasi, perbedaan tujuan, persepsi, nilai nilai, dan sebagainya. KonIlik
dapat mengurangi kinerja organisasi dalam berbagai tingkatan. Jika terjadi konIlik, manajer
sebagai pihak manajemen bertugas mengelola konIlik sehingga tercipta kinerja yang optimal
untuk mencapai tujuan bersama.
1.3 Pengertian KonIlik menurut Myers
Selain pandangan menurut Robbin dan Stoner dan Freeman, konIlik dipahami berdasarkan
dua sudut pandang, yaitu: tradisional dan kontemporer (Myers, 1993:234)
1. Dalam pandangan tradisional, konIlik dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang harus
dihindari. Pandangan ini sangat menghindari adanya konIlik karena dinilai sebagai Iaktor
penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi. Bahkan seringkali konIlik dikaitkan
dengan kemarahan, agresivitas, dan pertentangan baik secara Iisik maupun dengan kata-kata
kasar. Apabila telah terjadi konIlik, pasti akan menimbulkan sikap emosi dari tiap orang di
kelompok atau organisasi itu sehingga akan menimbulkan konIlik yang lebih besar. Oleh
karena itu, menurut pandangan tradisional, konIlik haruslah dihindari.
2. Pandangan kontemporer mengenai konIlik didasarkan pada anggapan bahwa konIlik
merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia.
Namun, yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana meredam konIlik, tapi bagaimana
menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi bahkan merusak
tujuan organisasi. KonIlik dianggap sebagai suatu hal yang wajar di dalam organisasi.
KonIlik bukan dijadikan suatu hal yang destruktiI, melainkan harus dijadikan suatu hal
konstruktiI untuk membangun organisasi tersebut, misalnnya bagaimana cara peningkatan
kinerja organisasi.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan mengenai pengertian konIlik ialah Apa itu
konIlik apa itu KonIlik interaksi antarapaling tidak dua individu atau kelompok yang
memiliki tujuan berbeda. KonIlik juga bisa diartikan sebagai suatu situasi di mana terjadi
persaingan untuk memenuhi tujuan yang tidak
selaras dari kelompok-kelompok yang berbeda.
2. KONFLIK DAN KEKERASAN
2.1 KonIlik
Hubungan antara duapihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau yang
merasa memiliki, sasaran-sasaran yang tidak sejalan.
2.2Kekerasan
Meliputi tindakan,perkataan, sikap,berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan
kerusakan secara Iisik, mental, sosial atau lingkungan, dan atau menghalangi seseorang untuk
meraihpotensinya secara penuh.
- KonIlik tidak sama dengan kekerasan dan merupakan dua hal yang berbeda
- KonIlik adalah suatu Keniscayaan hidup dan tidak terhindarkan
- KonIlik terjadi ketika tujuan masyarakat tidak sejalan
Penyelesaian konIlik tanpa kekerasan sering menghasilkan situasi yang lebih baik bagi
sebagian besar atau semuapihak yang terlibat
2.3 KonIlik berubah menjadi kekerasan jika:
1. Saluran ,dialog dan wadah untuk mengungkapkan perbedaan pendapat tidak memadai
2. Suara-suara ketidaksepakatan dan keluhan- keluhan yang terpendam tidak di dengar dan
diatasi
3. Banyak ketidakstabilan, ketidakadilan dan ketakuan dalam masyarakat yang lebih tua
%idak selamanya konIlik bersiIat negative, kadangkala konIlik dibutuhkan dan perlu
diintensiIkan guna mengungkap konIlik laten kepermukaan dan menjadinya terbuka, untuk
mencapai suatu tujuan.
Dalam rezim otoritarian, konIlik menjadi dibutuhkan untuk memperbaiki sistem yang
ada. Bahkan dalamperspektiI strukturalis, KonIlik menjadipenting sebagai bentuk perjuangan
kelas dalam meruntuhkan sistem yang menindas dan eksploitatiI (kapitalisme)
Namun demikian konIlik dan resolusi konIlik yang dibahas dalam mata kuliah ini lebihpada
konIlik yang terbuka dan bersiIat negatiI serta destruktiI kepada nilai-nilai kemanusiaan itu
sendiri.
Cara-cara Pemecahan konflik
Usaha manusia untuk meredakan pertikaian atau konIlik dalam mencapai kestabilan
dinamakan 'akomodasi. Pihak-pihak yang berkonIlik kemudian saling menyesuaikan diri
pada keadaan tersebut dengan cara bekerja sama. Bentuk-bentuk akomodasi :
1. Gencatan senjata, yaitu penangguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu, guna
melakukan suatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu. Misalnya : untuk melakukan
perawatan bagi yang luka-luka, mengubur yang tewas, atau mengadakan perundingan
perdamaian, merayakan hari suci keagamaan, dan lain-lain.
2. Abitrasi, yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga yang
memberikan keputusan dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak. Kejadian seperti ini
terlihat setiap hari dan berulangkali di mana saja dalam masyarakat, bersiIat spontan dan
inIormal. Jika pihak ketiga tidak bisa dipilih maka pemerintah biasanya menunjuk
pengadilan.
3. Mediasi, yaitu penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan keputusan
yang mengikat. Contoh : PBB membantu menyelesaikan perselisihan antara Indonesia
dengan Belanda.
4. Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih
sehingga tercapai persetujuan bersama. Misalnya : Panitia tetap penyelesaikan perburuhan
yang dibentuk Departemen %enaga Kerja. Bertugas menyelesaikan persoalan upah, jam kerja,
kesejahteraan buruh, hari-hari libur, dan lain-lain.
5. Stalemate, yaitu keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki kekuatan
yang seimbang, lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang. Keadaan ini terjadi
karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur. Sebagai contoh : adu
senjata antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang dingin.
6. Adjudication (ajudikasi), yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.
Adapun cara-cara yang lain untuk memecahkan konIlik adalah :
1. Elimination, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konIlik, yang
diungkapkan dengan ucapan antara lain : kami mengalah, kami keluar, dan sebagainya.
2. Subjugation atau domination, yaitu orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar
untuk dapat memaksa orang atau pihak lain menaatinya. Sudah barang tentu cara ini bukan
suatu cara pemecahan yang memuaskan bagi pihak-pihak yang terlibat.
3. Majority rule, yaitu suara terbanyak yang ditentukan melalui voting untuk mengambil
keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4. Minority consent, yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang
hati oleh kelompok minoritas. Kelompok minoritas sama sekali tidak merasa dikalahkan dan
sepakat untuk melakukan kerja sama dengan kelompok mayoritas.
5. Kompromi, yaitu jalan tengah yang dicapai oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam
konIlik.
6. Integrasi, yaitu mendiskusikan, menelaah, dan mempertimbangkan kembali pendapat-
pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak
hLLp//ldwlklpedlaorg/wlkl/enyelesalan_konfllk
hLLp//warLawargagunadarmaacld/2011/07/pengerLlankonfllk/
eberapa sering Anda terbawa emosi saat terlibat pertengkaran dengan orang lain? Ketika
Anda sudah dikuasai oleh amarah, berdamai dengan diri sendiri bisa membuat Anda berpikir
jernih dalam mencari solusi. %etapi bagaimana caranya?

1. Terjemahkan apa yang sebenarnya Anda inginkan
Saat perdebatan dengan teman, kakak, rekan kerja, atau siapapun, dan suasana makin panas,
Anda akan mudah sekali terbawa emosi. Bukan saat yang tepat untuk bernegosiasi untuk
mencari solusi bersama. Berhentilah untuk selalu berusaha memecahkan segala macam
persoalan. Hentikan perdebatan, lalu mulai tuliskan perasaan Anda, atau cari teman yang
dipercaya untuk mendengarkan masalah Anda. Intinya, cara ini membantu Anda memikirkan
hasil atau solusi yang paling tepat. Mengambil keputusan saat pikiran dikuasai amarah hanya
akan membuat Anda mencari-cari alasan pembenaran dan menyalahkan orang lain.

2. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi
Ketika Anda sudah mengontrol pikiran Anda dengan lebih tenang, Anda akan lebih mudah
menghadapi orang lain. Jangan sekali-kali berasumsi bahwa Anda tahu betul sumber
masalahnya berdasarkan apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain. Cari tahu sumber
masalah dengan mengumpulkan sebanyak mungkin data dan Iakta sebelum mulai
membicarakan solusi. Misalkan, pasangan Anda kesal karena tagihan membludak akibat
belanja keperluan rumah tangga. Daripada membalas dengan bentakan dan amarah, lebih
baik tanyakan apa yang membuat ia kesal dengan anggaran yang sudah Anda buat. Apakah
menurutnya Anda belanja lebih banyak darinya? Apakah Anda harus melakukan
pengurangan, atau memang penggunaan uang harus diperketat? Lakukan riset kecil-kecilan,
bandingkan dengan pengeluaran rumah tangga pada umumnya (dengan standar tertentu), lalu
diskusikan perbandingan tersebut dengan keluhan suami. Berusaha memahami posisi orang
lain (lawan bicara) akan memudahkan Anda untuk mencari solusi bersama.

3. Tetapkan bentuk proses negosiasi
Jika pikiran sudah tenang dan terkontrol, tentukan kepada siapa Anda ingin bicara dan
menegosiasikan masalah, kapan dan dimana tempat yang paling tepat. Persiapan ini penting
untuk menciptakan kenyamanan bagi kedua belah pihak yang berseteru. Siapkan juga alur
pembicaraan dan agendanya, sepakati bersama siapa yang memulai pembicaraan. Siapkan
waktu khusus untuk menyelesaikan masalah. Hal ini untuk menunjukkan itikad baik Anda.

4. Sampaikan pesan yang tepat
Mulailah berdiskusi untuk mencari solusi dengan memunculkan sejumlah saran dan ide.
%unjukkan bahwa Anda mempunyai niat serius untuk memperbaiki keadaan. Katakan juga
bahwa niat baik ini adalah untuk mencari solusi yang bisa disepakati dan dijalankan untuk
kebaikan bersama. %ak cukup hanya dengan ucapan, Anda juga harus menyelesaikan masalah
dengan menunjukkan perilaku yang mendukung ke arah positiI. Sikap tubuh yang keliru,
yang menunjukkan emosi, bisa memperkeruh suasana.

5. Negosiasi
Saat Anda memulai bernegosiasi untuk mencari solusi, kontrol diri Anda. Jangan memotong
pembicaraan; bicaralah saat sudah giliran Anda. Respons pernyataan lawan bicara dengan
tenang. %arik naIas, dan berikan jeda beberapa detik untuk menjawabnya. Kontrol diri sangat
penting agar solusi bisa ditemukan dengan pikiran yang tenang dan bukan emosi.
Jika semua cara ini sudah dicoba, namun masih juga belum menemukan penyelesaian,
mediasi menjadi langkah selanjutnya. Anda membutuhkan bantuan dari pakar atau dari pihak
ketiga yang mampu menetralkan suasana. Bisa teman yang dipercaya kedua belah pihak,
seperti keluarga, kolega, atau jika ingin lebih eIektiI, cari pakarnya. Pakar proIesional lebih
memahami teknik mendamaikan pihak berseteru. Ini lebih baik daripada mendiamkan
masalah dan menumbuhkannya menjadi energi negatiI.
hLLp//femalekompascom/read/2010/02/16/18403047/3CaraMengaLaslkonfllk
12 cara menyelesalkan konfllk

koersl / paksaan yalLu proses mengurangl konfllk dengan cara paksaan darl plhak yang kuaL
Lerhadap
plhak yang lemah
komproml yalLu dlmana maslngmaslng plhak sallng mengurangl LunLuLannya yang lnl seperLlnya
emang
efekLlf darl pada konfllk berlan[uL ke arah yang leblh gak ngenakln kayaknya cara Lerbalk emang
leblh balk kalau klLa sallng ngurangln LunLuLan klLa blar leblh adem dlklL
arblLasl yalLu dengan mellbaLkan plhak ke Llga yang kepuLusannya darl plhak ke Llga yang berslfaL
menglkaL
kalau klLa emang udah gak percaya saLu sama laln kayaknya emang leblh balk klLa nyerahlnnya ke
plhak ke Llga


Loleransl sallng menghormaLl dan menghargal pendlrlan maslngmaslng plhak wah kalau semua
orang kayak glnl
mungkln gak ada yang namanya konfllk
medlasl menyelesalkan konfllk melalul plhk ke Llga yang berslfaL neLral kalau emang konfllk mau
dl selesaln
darl plhak ke Llga klLa [uga harus plllhplllh harus darl plhak ke Llga yang berslfaL neLral
konvensl cara menyelesalan konfllk dlmana salah saLu plhak bersedla mengalah sedlklL orang
yang
menempuh cara lnl kenapa? karena menuruL mereka leblh balk kalah darl pada ngalah lLu plklran
yang musLl klLa
llangln kalau dengan mengalah sesuaLu men[adl leblh balk so kenapa klLa gak ngalah unLuk
sesuaLu yang
leblh balk lLu
konslllasl orang nyebuL lnl perundlngan dengan memperLemukan kedua plhak dalam sebuah
perundlngan kayaknya
lnl emang cara Lerbalk kebanyakan sebuah konfllk selesal karena mereka sallng ngomong saLu sama
laln sallng ngomong
apa yang gak ngenakln buaL mereka dan carl solusl Lerbalk buaL mereka
ad[udlkasl penyelesalan konfllk melalul [alan hukum / plhak yang berwenang dengan cara lnl
kepuLusan hukum muLlak
harus dlLerlma apapun kepuLusannya
sLalemaLe selmbang dan berhenLl pada saLu LlLlk
segregasl sallng menghlndar saLu sama laln kalau emang gak keplngln Luh konfllk pan[ang
kayaknya cara
Lerbalk adalah dengan menghlndar Lapl [lka klLa Lerus menghlndar konfllk [uga ga akan selesal lnl
hanya meredam unLuk
semenLara
_ dlsplacemenL mengallhkan konfllk ke obyek laln agar Lldak Lerlalu Lerfokus pada konfllk lLu
cease flre melakukan peperangan dalam [angka wakLu LerLenLu sambll mengupayakan
penyelesalan konfllk kalau dengan sallng sharlng
sallng menghlndar dll maslh belum blsa menyelesalkan konfllk bahkan malah semakln ngebuaL
slLuasl Lambah panas gak blsa nahan emosl
yang semakln meluapluap perang a[a sambll ngupayaln penyelesalan meskl yang ada [uga cuma
korban


[adl [lka kallan sedang Ler[eraL konfllk aLau bahkan kofllk lLu sekarang ngelanda kallan kallan udah
Lau kan apa yang harus kallan lakukan
menuruL aku cara Lerbalk slh dengan ngomongln barengbareng glmana enaknya
hLLp//kllluababyfaceblogspoLcom/2010/03/12caramenyelesalkankonfllkhLml
Lewis a. Coser : adalah perselisihan mengenai nilai nilai atau tuntutan tuntutanberkenaan
dengan status, kuasa dan sumber sumber kekayaan yang persediaannya terbatas.

Leopod 'on Wiese :suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia
berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya dengan jalan menentang pihak lain
disertai dengan ancaman dan kekerasan.

R.J. Rummel :konIrontasi kekuasaan atau kekuatan sosial.

Duane Ruth-heIelbower :adalah kondisi yang terjadi ketika dua pihak atau lebih menganggap
ada perbedaan posisi yang tidak selaras, tidak cukup sumber dan tindakan salahsatu pihak
menghalangi, atau mencampuri atau dalam beberapa hal membuat tujuan pihak lain kurang
berhasil
hLLp//dhanlasasharlblogspoLcom/2010/10/pengerLlankonfllkmenuruLbeberapahLml