Anda di halaman 1dari 2

WAKTU-WAKTU SHALAT

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Waktu-Waktu Shalat Yang Makruh Tanya : Aku dengar ada beberapa waktu siang hari yang dimakruhkan untuk melakukan shalat, apa sebabnya ..? [Hisyam Ahmad, Kuwait] Jawab : Memang ada beberapa waktu makruh untuk shalat ; sehabis waktu Fajar (Subuh) sehingga matahari mencapai tinggi 1 (satu) meter (setumbak), yakni kira-kira seperempat jam setelah terbit ; ketika matahari berada tepat di pertengahan siang hari sehingga tergelincir kira-kira lima menit lamanya ; setelah shalat Ashar sampai terbenam. Jika seseorang telah shalat Ashar, maka ia haram melakukan shalat hingga matahari terbenam kecuali pada shalat fardhu yang belum dilaksanakan berdasarkan umumnya makna hadits berikut : "Artinya : Barangsiapa tertidur atau lupa belum shalat, hendaklah melakukannya ketika ia sadar". Atau untuk shalat sunnat yang punya sebab tertentu, umpamanya untuk shalat Tahiyyatul Mesjid ketika kita memasuki suatu mesjid padahal kita telah shalat Ashar di mesjid lainnya berdasarkan hadits : "Artinya : Apabila salah seorang di antaramu memasuki mesjid, hendaklah sebelum duduk shalat dua rakaat" Atau untuk melaksanakan shalat gerhana atau ketika mendengar ayat-ayat sajdah dibacakan. Hikmah dimakruhkan shalat pada waktu-waktu tersebut, antara lain ; jika orang diizinkan melakukan shalat sunnat dalam waktu-waktu tersebut, maka ia akan melakukannya terus hingga terbenam atau terbit matahari. Maka hal ini akan menyerupai sikap orang kafir yang selalu sujud ketika matahari terbit atau terbenamnya. Dalam hal ini Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ingin sekali menutup segala hal yang akan menyerupai perbuatan orang musyrik. Adanya larangan shalat ketika matahari berada di tengah-tengah siang sampai tergelincir, karena pada saat itu api Jahannam sedang menyala-nyala sehingga kita dilarang untuk tidak melakukan shalat. Menjama Shalat Tanpa Alasan Tanya : Menjama Shalat tanpa alasan. Jawab : Menjama' (mengumpulkan) shalat tidak boleh bila tanpa alasan yang dibenarkan syara' (udzur) berdasarkan firman Allah berikut. "Artinya : Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman" [An-Nisaa : 103] Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menentukan waktu untuk tiap-tiap shalat. Maka mendahulukan atau mengakhirkan shalat dari waktunya tanpa 'udzur, termasuk melanggar katentuan Allah, sebagaimana ayat al-Qur'an berikut. "Artinya : Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim" [Al-Baqarah : 229] Dalam ayat lain disebutkan : "Artinya : Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesunguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri" [Ath-Thalaaq : 1] Setiap orang wajib melaksanakan shalat pada waktunya kecuali bila ada kepentingan yang akan membuat dirinya kesulitan, maka dalam kondisi seperti ini baginya boleh menjama' (menyatukan dua shalat dalam satu waktu) shalat ; antara Zhuhur dengan Ashar atau antara Maghrib dan Isya, baik dengan jama' taqdim atau ta'khir menurut cara yang lebih mudah baginya, sebagaimana pernyataan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjama' shalat antara Zhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya di Medinah tanpa sebab takut atau hujan. Lalu beliau ditanya apa sebabnya. Beliau menjawab bahwa hal itu dilakukan agar ketika tidak melakukan jama', seseorang bukan dalam

keadaan sulit. Artinya, bahwa jama' tidak boleh dilakukan kecuali bila dalam keadaan sulit. Inilah ketentuan yang berlaku. Jika seseorang menjama' shalat tanpa udzur yang dibenarkan syara', maka shalat jama'nya tidak diterima Allah dan tidak sah, sebab ia telah beramal tanpa contohnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana sabdanya. "Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal tanpa ada dasarnya dari kami, maka tertolaklah amal tersebut. Disalin dar buku Fatawa Syaikh Muhammad Al-Shalih Al-U'saimin, edisi Indonesia 257 Tanya Jawab, Fatwa-Fatwa Al-Utsaimin, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Gema Risalah Press hal 77-81 alih bahasa Prof.Drs.KH Masdar Helmy