Anda di halaman 1dari 3

Yang dilakukan orang tua ketika anaknya meningal

Permasalahan yang anda tanyakan, akan saya ringkaskan dari kitab Ahkamul Maulud fi Sunnatil Muthahharah, edisi Indonesia Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci oleh Salim bin Ali bin Rasyid Asy-Syubli Abu Zur'ah dan Muhammad bin Khalifah bin Muhammad Ar-Rabbah Abu Abdirrahman. PERKARA YANG HARUS DILAKUKAN ORANG TUA KETIKA ANAKNYA MENINGGAL Wajib bagi keluarga yang mengalami musibah meninggalkan anak untuk memperhatikan dua perkara. [a] Sabar dan Ridha dengan Takdir, berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla. "Artinya : Kami sungguh akan menguji kalian dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yakni orang-orang yang bila ditimpa oleh musibah mereka berkata : 'Innalillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya). Mereka itulah yang berhak mendapatkan salawat dari Tuhan mereka dan rahmat dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk" [Al-Baqarah : 155-157] Dan berdasarkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan (dalam riwayat lain menangisi anaknya yang meninggal) Maka beliau berkata kepada wanita itu : "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah" Maka wanita itu berkata : "Engkau tidak merasakan apa yang kurasakan, karena engkau tidak mengalami musibah seperti musibahku". Anas berkata, "Wanita itu tidak mengetahui bahwa yang menegurnya adalah Nabi". Lalu dikatakan kepadanya. "Yang menegurmu adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam". Maka seperti kematian mengambilnya (wanita itu terkejut), segera ia mendatangi rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ia tidak mendapatkan penjaga pintu di sisinya. Wanita itu berkata : "Wahai Rasulullah tadi aku tidak mengenalimu". Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya sabar itu adalah pada pukulan pertama " [1] Bersabar atas meninggalnya anak yang dimiliki merupakan pahala yang besar. dan keterangan tentang hal ini ada dalam banyak hadits, kami sebutkan di antaranya : Pertama.

"Artinya : Tidaklah meninggal tiga anak dari salah seorang muslim lalu ia disentuh neraka kecuali sekedar pelaksanaan sumpah" [2] Kedua. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Tidaklah ada dua orang muslim (dua orang tua ayah dan ibu) yang meninggal tiga anaknya yang belum mencapai usia baligh kecuali Allah masukkan mereka (anak-anak tersebut) dan kedua orang tua mereka ke dalam syurga dengan keutamaan rahmat-Nya. Nabi berkata: "Anak-anak itu berada di salah satu pintu dari pintu-pintu syurga, lalu dikatakan kepada mereka, 'Masuklah kalian ke dalam syurga'. Mereka berkata, 'Kami tidak akan masuk hingga datang kedua orang tua kami', Maka dikatakan kepada mereka, 'Masukklah kalian ke syurga beserta kedua orang tua kalian dengan keutamaan rahmat Allah" [3] Ketiga. "Artinya : Wanita mana saja yang meninggal tiga anaknya maka anak-anak itu akan menjadi hijab baginya dari neraka" Berkata seorang wanita : 'Bagaimana bila dua anak yang meninggal ? Nabi menjawab : "Dua juga" [4] Keempat. "Artinya : Sesungguhnya Allah tidak ridla untuk memberi selain surga bagi hamba-Nya mukmin jika meninggal dua kesayangan dari penduduk bumi lalu ia bersabar dan mengharap pahalanya" [5] ________________________ Foote Note. [1] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (3/115-116), Muslim (3/40-41) dan Al-baihaqi (4/65) dan ini konteksnya Al-Baihaqi. Kami katakan : tambahan yang kami cantumkan adalah dari shahih Muslim (637) [2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Al-Baihaqi (4/67) dari Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu. Berkata Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/451 : Yang Nabi maksudkan dalam sabdanya tersebut adalah : kecuali sekedar Allah melaksanakan sumpah-Nya yaitu firman-Nya Azza wa Jalla :"Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali mendatangi neraka tersebut". Maka jika ia telah melewatinya berarti sumpah telah tertunaikan. [3] Dikeluarkan oleh An-Nasa'i (1/265) dan Al-Baihaqi (4/68) dan selain keduanya dengan sanad yang shahih menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim.

[4] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (3/94). Muslim, Al-Baihaqi (4/67) dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu 'ahu. [5] Dikeluarkan oleh An-Nasa'i (1/264) dari Abdullah bin Amr dengan sanad yang Hasan. [Hukum Khusus Seputar Anak Dalam Sunnah Yang Suci, hal. 140-144 Pustaka Al-Haura] ------------------------------------------------------------------------