Anda di halaman 1dari 16

Bahan Kuliah Auditing 2 ttm ke-7

Afif Sulfa, SE MSi. Ak.

AUDITING 2 PRAKTEK MENGAUDIT PERUSAHAAN DAGANG

A. RUANG LINGKUP 1. Audit yang dilakukan adalah audit atas Laporan Keuangan Komparatif PT. Faadhilah Niaga untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2007 dan 2006 yang terdiri atas Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan atas Laporan Keuangan untuk tahun-tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.

2. Audit juga akan melakukan penelaahan struktur pengendalian internal (IC


Structrure), mengidentifikasi kelemahan-kelemahan pengendalian internal dan permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan pengendalian internal, serta akan menyampaikan rekomendasi perbaikannya.

3. Audit yang dilakukan akan disesuaikan dengan standar audit yang


ditetapkan Institut Akuntan Indonesia (IAI) seperti yang tertuang dalam Standar Profesional Akuntan Publik. Standar tersebut, mengharuskan auditor untuk menyusun perencanaan dan melaksanakan audit agar diperoleh keyakinan yang memadai bahwa Laporan Keuangan auditee bebas dari salah saji material (significance misstated).

4. Audit yang dilakukan akan meliputi pemeriksaan atas dasar pengujian,


bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah yang tercantum dalam Laporan Keuangan (subtantive test) dan pengungkapan (disclosure) dalam Laporan Keuangan. Di samping itu, juga akan dilakukan penilaian Kebijakan Akuntansi

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

yang digunakan dibandingkan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku umum. 5. Audit yang dilakukan merupakan penugasan atas audit Laporan Keuangan, sehingga auditor tidak menjamin ditemukannya kesalahan, ketidakberesan, atau kecurangan-kecurangan yang terjadi. Namun, jika hal-hal tersebut ditemukan atau terdeteksi dalam audit, maka manajemen akan diberikan informasi yang memadai dan dipandang material untuk dilaporkan.

6. Auditor bertanggungjawab atas opini yang diterbitkan, sedangkan


manajemen (auditee) bertanggung jawab atas : a. penyajian Laporan Keuangan, b. pengungkapan yang memadai atas penyajian Laporan Keuangan,

c. pemilihan dan penerapan Kebijakan Akuntansi (accounting policies),


d. terbangunnya struktur pengendalian interen yang dapat : i. menjamin perusahaan berjalan secara efektif dan efisien, ii. menjamin terjaganya harta perusahaan, iii. menjamin penyajian Laporan Keuangan yang memiliki standar kualitatif, iv. menjamin ditaatinya peraturan dan ketentuan perundang-undangan yanng berlaku. 7. Penegasan tertulis dari manajemen perusahaan tentang asersi Laporan Keuangan dan informasi yang diberikan dalam hubungannya dengan audit Laporan Keuangan.

B. PERENCANAAN AUDIT DAN REVIEW INTERNAL CONTROL 1. Perencanaan Audit Dalam menyusun perencanaan audit (audit planning) tujuan yang ingin dicapai adalah untuk memperoleh pemahaman bisnis klien yang bergerak dalam usaha perdagangan dan pemahaman usaha perdagangan (trading industry) secara umum. Oleh karena itu, auditor harus memperoleh pemahaman yang luas mengenai : a. sifat dan karakteristik perusahaan dagang; b. jenis-jenis perjanjian bisnis yang dibuat;

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

c. internl control dan internl accounting control, d. sistem akuntansi, e. kebijakan akuntansi. 2. Pemahaman Bisnis Klien dan Pengendalian Interen Tujuan pemahaman ini adalah untuk menetapkan standar dan untuk memberikan panduan tentang apa yang dimaksud dengan pengetahuan tentang bisnis, mengapa hal ini penting bagi auditor dan anggota staf audit yang bekerja dalam melaksanakan perikatan, mengapa hal ini relevan dengan semua tahap audit, dan bagaimana auditor memperoleh dan menggunakan pengetahuan tersebut. Dalam melaksanakan audit atas laporan keuangan, auditor harus memperoleh pengetahuan tentang bisnis yang cukup untuk memungkinkan auditor mengidentifikasi dan memahami peristiwa, transaksi, dan praktik, yang, menurut pertimbangan auditor, kemungkinan berdampak signifikan atas laporan keuangan atau atas laporan pemeriksaan atau laporan audit. Sebagai contoh, pengetahuan tersebut digunakan oleh auditor dalam menaksir risiko bawaan dan risiko pengendalian dan dalam menentukan sifat, saat, dan luasnya prosedur audit. Tingkat pengetahuan auditor untuk suatu perikatan mencakup

pengetahuan umum tentang ekonomi dan industi yang menjadi tempat beroperasinya entitas, dan pengetahuan yang lebih khusus tentang bagaimana entitas beroperasi. Namun, tingkat pengetahuan yang dituntut dari auditor biasanya lebih rendah bila dibandingkan dengan yang dimiliki oleh manejemen. Daftar hal-hal yang perlu dipertimbangkan mengenai pengetahuan tentang bisnis, dalam perikatan tertentu disajikan dalam lampiran. Sebelum menerima suatu perikatan, auditor akan memperoleh pengetahuan pendahuluan tentang industri dan hak kepemilikan, manajemen dan operasi entitas yang akan diaudit, dan akan mempertimbangkan apakah tingkat pengetahuan tentang bisnis memadai untuk melaksanakan audit yang akan diperoleh.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

Setelah penerimaan perikatan, informasi lebih lanjut dan lebih rinci akan diperoleh. Sejauh praktis dilaksanakan, auditor akan memperoleh pengetahuan yang diperlukan pada awal dimulainya perikatan. Sepanjang perjalanan pekerjaan audit, informasi tersebut akan ditentukan dan dimutakhirkan serta informasi lebih banyak akan diperoleh. Pemerolehan pengetahuan tentang bisnis yang diperlukan merupakan proses berkelanjutan dan bersifat kumulatif dalam pengumpulan dan penentuan informasi dan pengaitan pengetahuan yang diperoleh dengan bukti audit serta informasi di setiap tahap audit. Sebagai contoh, meskipun informasi dikumpulkan pada tahap perencanaan, biasanya informasi tersebut diperhalus dan ditambah pada tahap audit berikutnya karena auditor dan asistennya belajar lebih banyak tentang bisnis. Untuk perikatan lanjutan, auditor akan memutakhirkan dan melakukan evaluasi kembali infomasi yang dikumpulkan sebelumnya, termasuk informasi dalam kertas kerja tahun sebelumnya. Auditor juga melaksanakan prosedur yang didesain untuk mengidentifikasi perubahan signifikan yang telah terjadi sejak audit yang terakhir. Auditor dapat memperoleh pengetahuan tentang industri dan entitas dari berbagai sumber. Sebagai contoh: a. b. Pengalaman sebelumnya tentang entitas dan industrinya. Diskusi dengan orang dalam entitas (seperti direktur, personel Diskusi dengan personel dari fungsi audit intern dan review Diskusi dengan auditor lain dan dengan penasihat hukum atau

operasi senior)

c.
d. industri.

terhadap laporan auditor intern. penasihat lain yang telah memberikan jasa kepada entitas atau dalam

e.

Diskusi dengan orang yang berpengetahuan di luar entitas

(seperti ahli ekonomi industri, badan pengatur industri, customers, pemasok, dan pesaing). f. Publikasi yang berkaitan dengan industri (seperti statistik yang diterbitkan oleh pemerintah, survei, teks, jurnal perdagangan, laporan oleh bank, pialang efek, koran keuangan). Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

g. h.

Perundangan dan peraturan yang secara signifikan berdampak Kunjungan ke tempat atau fasilitas pabrik entitas.

terhadap entitas. i. Dokumen yang dihasilkan oleh entitas (seperti, notulen rapat, bahan yang dikirim kepada pemegang saham dan diserahkan kepada badan pengatur, buku-buku promosi, laporan keuangan dan laporan tahunan atau sebelumnya, anggaran, laporan manajemen intern, laporan keuangan interim, panduan kebijakan manajemen, panduan akuntansi dan sistem pengendalian intern, daftar akun, deskripsi jabatan, rencana pemasaran dan penjualan).

3. Revieu Perjanjian-perjanjian yang Dibuat Untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai operasi klien, auditor harus melakukan review atas perjanjian-perjanjian atau kontrakkontrak yang dilakukan dengan para mitra kerjanya, baik terhadap supplier (pemasok) maupun kepada pelanggan (distributor). Informasi yang diperlukan dalam melakukan review atas perjanjian dan kontrak antara lain : a. Purchase order (pesanan pembelian), b. Sales order (pesanan pejualan), c. Price list (daftar harga) yang disampaikan dan diterima dari pemasok, d. Evaluasi internal yang dibuat terhadap pemasok, e. Evaluasi internal atas kredibilitas para pelanggan, f. Syarat-syarat pembayaran dan pengiriman barang dagangan, g. Notulen rapat manajemen terkait pembelian dan penjualan; h. Persyaratan tender, i. j. Estimasi perhitungan harga pokok penjualan, Lokasi gudang barang dagangan,

k. Kartu-kartu persediaan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

4. Review dan Evaluasi Internal Control dan Penaksiran Resiko Audit a. Review dan Evaluasi Internal Control Dalam semua audit, auditor harus memperoleh pemahaman tentang pengendalian intern yang memadai untuk merencanakan audit dengan melaksanakan prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan dengan audit atas laporan keuangan, dan apakah pengendalian intern tersebut dioperasikan. Setelah memperoleh pemahaman tersebut, auditor menaksir risiko pengendalian untuk asersi yang terdapat dalam saldo akun, golongan transaksi, dan komponen pengungkapan dalam laporan keuangan. Auditor dapat menaksir risiko pengendalian pada tingkat maksimum (probabilitas tertinggi bahwa salah saji material dapat terjadi dalam suatu asersi tidak akan dicegah atau dideteksi pada saatnya oleh pengendalian intern entitas) karena auditor yakin bahwa pengendalian tidak mungkin berkenaan dengan suatu asersi, tidak mungkin efektif, atau karena evaluasi terhadap efektivitasnya tidak akan efisien. Sebagai alternatifnya, auditor dapat memperoleh bukti audit tentang efektivitas baik desain maupun operasi suatu pengendalian yang mendukung risiko pengendalian taksiran rendah. Bukti audit semacam itu dapat diperoleh dari pengujian pengendalian yang direncanakan atau dilaksanakan bersamaan dengan pemerolehan atau dari prosedur yang dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman yang tidak secara khusus direncanakan sebagai pengujian pengendalian. Setelah memperoleh pemahaman dan menaksir risiko

pengendalian, auditor dapat mencari pengurangan lebih lanjur tingkat risiko pengendalian taksiran untuk asersi tertentu. Dalam hal seperti ini, auditor mempertimbangkan apakah bukti audit yang cukup untuk mendukung pengurangan lebih lanjut mungkin tersedia dan apakah pelaksanaan pengujian pengendalian tambahan untuk memperoleh bukti audit tersebut akan efisien. Auditor menggunakan pengetahuan yang dihasilkan dari

pemahaman atas pengendalian intern dan tingkat risiko pengendalian

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

taksiran dalam menentukan sifat, saat, dan luas pengujian substantif untuk asersi laporan keuangan. Pengendalian intern adalah suatu proses -- yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain entitas -- yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini : i. keandalan pelaporan keuangan,

ii. efektivitas dan efisiensi operasi, dan iii. kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Pengendalian terdiri dari lima komponen yang saling terkait berikut ini: i. Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur. ii. Penaksiran risiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola. iii. Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang

membantu menjamin bahwa arahan manajemen dilaksanakan. iv. Informasi dan komunikasi adalah pengidentifikasikan, penangkapan, dan pertukaran informasi dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung jawab mereka.

v.

Pemantauan adalah proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu.

Dalam semua audit, auditor harus memperoleh pemahaman masing-masing dari lima komponen pengendalian intern yang cukup untuk merencanakan audit dengan melaksanakan prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan dengan suatu audit laporan keuangan, Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

dan apakah pengendalian tersebut dioperasikan. Dalam perencanaan audit, pengetahuan tersebut harus digunakan untuk: i. ii. Mengidentifikasi tipe salah saji potensial. Mempertimbangkan faktor-faktor yang berdampak terhadap risiko

salah saji material. iii. Medesain pengujian substantif.

b. Penaksiran Resiko Audit Penaksiran risiko entitas untuk tujuan pelaporan keuangan

merupakan identifikasi, analisis, dan manajemen terhadap risiko yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan yang wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Sebagai contoh, penaksiran risiko dapat ditujukan ke bagaimana entitas mempertimbangkan kemungkinan transaksi tidak dicatat atau mengidentifikasikasi dan menganalisis estimasi yang dicatat dalam laporan keuangan. Risiko yang relevan dengan pelaporan keuangan yang andal juga berkaitan dengan peristiwa dan transaksi khusus.

Risiko yang relevan dengan pelaporan keuangan mencakup peristiwa dan keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan secara negatif mempengaruhi kemampuan entitas untuk mencatat, mengolah, meringkas dan melaporkan data keuangan konsisten dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan. Risiko dapat timbul atau berubah karena keadaan berikut ini: i. ii. iii. iv. v. vi. Perubahan dalam lingkungan operasi. Personel baru. Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki. Teknologi baru. Lini produk, produk, atau aktivitas baru. Restrukturisasi korporasi. Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

vii. viii.

Operasi luar negeri. Standar akuntansi baru.

Auditor harus memperoleh pengetahuan memadai tentang proses penaksiran risiko entitas untuk memahami bagaimana manajemen mempertimbangkan risiko yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan dan memutuskan tentang tindakan yang ditujukan ke risiko tersebut. Pengetahuan ini mungkin mencakup pemahaman tentang bagaimana manajemen mengidentifikasi risiko, melakukan estimasi signifikannya risiko, menaksir kemungkinan terjadinya, dan menghubungkannya dengan pelaporan keuangan.

Penaksiran risiko entitas berbeda dari pertimbangan auditor tentang risiko audit dalam audit atas laporan keuangan. Tujuan penaksiran risiko entitas adalah untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengelola risiko yang berdampak terhadap tujuan entitas. Dalam audit atas laporan keuangan, audit melakukan penaksiran atas risiko bawaan dan risiko pengendalian untuk mengevaluasi kemungkinan bahwa salah saji material dapat terjadi dalam laporan keuangan.

Penaksiran auditor atas risiko bawaan dan pertimbangan tentang materialitas berbagai saldo akun dan golongan transaksi juga berdampak terhadap sifat dan luasnya prosedur yang dilaksanakan untuk memperoleh pemahaman. Sebagai contoh, auditor mungkin berkesimpulan bahwa perencanaan audit atas akun asuransi yang dibayar dimuka tidak memerlukan prosedur khusus untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern.

Auditor

harus

mendokumentasikan

pemahamannya

tentang

komponen pengendalian intern entitas yang diperoleh untuk merencakan audit. Bentuk dan isi dokumentasi dipengaruhi oleh ukuran dan Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

kompleksitas entitas, serta sifat pengendalian intern entitas. Sebagai contoh, dokumentasi pemahaman tentang pengendalian intern entitas yang besar dan kompleks dapat mencakup bagan alir (flowchart), kuesioner, atau tabel keputusan. Namun, untuk entitas yang kecil, dokumentasi dalam bentuk memorandum sudah memadai. Umumnya, semakin kompleks pengendalian intern dan semakin luas prosedur yang dilaksanakan, seharusnya semakin luas dokumentasi yang dilakukan oleh auditor.

5. Complience Test Tujuan complience test adalah untuk mengevaluasi sejauhmana prosedur pengendalian akuntansi internal yang dijelaskan manajemen dijalankan dan apakah pelaksanaannya sesuai dengan perencanaannya. Hal tersebut penting untuk menentukan sifat, saat, dan luasnya pengujian subtantif. Complience test terdiri atas pemeriksaan bukti-bukti, inspeksi dokumen, inquiries dan pengamatan (observation) untuk mengevaluasi apakah prosedur pengendalian dilaksanakan sebagaimana mestinya atau sesuai dengan pengendalian akuntansi internal yang ingin diyakini (rely on).

C. PROSEDUR AUDIT 1. Pahami dan evaluasi internal control atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas, demikian pula atas utang dan transaksi pembelian, utang dagang dan pengeluaran kas. 2. Buat Top Schedule dan Supporting Shedule piutang dagang dan utang dagang pertanggal neraca yang antara lain menunjukkan nama pemasok (supplier), pelanggan (customer), saldo piutang, umur piutang dan kalau bisa subsequent payment and collectionnya. 3. Minta aging schedule dari piutang dagang per tanggal neraca ynag antara lain menunjukkan nama pelanggan (customer), saldo piutang, umur piutang dan kalau bisa subsequent collectionnya. Selain itu perlu juga diminta rincian piutang pegawai,weswl tagih, uang muka dan lain-lain per tanggal neraca.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

4. 5. 6.

Periksa mathematical accuracy-nya dan check individual balance ke subledger lalu totalnya ke general ledger. Test check umur piutang dari beberapa customer ke sub-ledger piutang dan sales invoice. Kirimkan konfirmasi piutang. a. Tentukan dan tuliskan dasar pemilihan pelanggan yang akan dikirimi surat konfirmasi. b. Tentukan apakah akan digunakan konfirmasi positif atau konfirmasi negatif. c. Cantumkan nomor konfirmasi baik di schedule piutang maupun di surat konfirmasi. d. Jawaban konfirmasi yang berbeda harus diberitahukan kepada client untuk dicari perbedaannya. e. Buat ikhtisar (summary) dari hasil konfirmasi.

7.

Periksa subsequent payment and collection dengan memeriksa buku kas dan bukti penerimaan kas untuk periode sesudah tanggal neraca sampai dekat tanggal penyelesaian pemeriksaan lapangan (audit field work). Perhatikan bahwa yang dicatat sebagai subsequent collection hanyalah yang berhubungan dengan penjualan dari periode yang sedang diperiksa, sedangkan subequent payment adalah hanya yanng berhubungan dengan pembelian dari periode yang sedang diperiksa.

8. 9.

Periksa apakah ada wesel tagih (notes receivable) yang didiskontokan untuk mengetahui kemungkinan adanya contingent liability. Periksa dasar penentuan allowance for bad debts dan periksa apakah jumlah yang disediakan oleh client sudah cukup, dalam arti tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

10.

Test sales cut-off dengan jalan memeriksa sales invoice, credit note dan lainlain, lebih kurang 2 (dua) minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca. Periksa apakah barang-barang yang dijual melalui invoice sebelum tanggal neraca, sudah dikirim per tanggal neraca. Kalau belum dikirim cari tahu alasannya. Periksa apakah ada faktur penjualan dari tahun yang diperiksa, yang dibatalkan dalam periode berikutnya.

11.

Test puschases cut-off dengan jalan memeriksa purchases invoice, debit note dan lain-lain, lebih kurang 2 (dua) minggu sebelum dan sesudah tanggal

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

neraca. Periksa apakah barang-barang yang dibeli melalui invoice sebelum tanggal neraca, sudah diterima per tanggal neraca. Kalau belum diterima, cari tahu alasannya. Periksa apakah ada faktur pembelian dari tahun yang diperiksa, yang dibatalkan dalam periode berikutnya. 12. Periksa notulen rapat, surat-surat perjanjian, jawaban konfirmasi bank dan correspondence files untuk mengetahui apakah ada piutang yang dijadikan sebagai jaminan. 13. 14. Periksa apakah penyajian di Neraca dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (SAK). Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo piutang dan utang yang diperiksa.

D.

PENGAKUAN PENDAPATAN DAN BIAYA 1. Revenue Recognition Concept (Konsep Pengakuan Pendapatan) Pada perusahaan dagang, umumnya pengakuan pendapatan diakui berdasarkan accrual basis, yaitu pada saat : a. Terjadi penyerahan barang/jasa,

b. Telah terjadi pemindahan resiko dari penjual kepada pembeli, (perlu


dilihat syarat pengiriman, apakah franco gudang penjual atau gudang pembeli? Atau FoB Shipping Point atau FoB destination point?)

2. Matching Concept (Konsep Pengaitan Biaya) Terkait dengan timbulnya pengakuan pendapatan, sesuai mathing concept, maka pada saat terjadi pengakuan pendapatan harus diakui pula timbulnya biaya (matching cost againts revenue) atas barang/jasa yang terjual, sehingga atas produk yang dijual tersebut disebut sebagai product cost dan bukan period cost. Oleh karena itu, harus dilihat : a. Metode pencatatan yang digunakan, apakah metode perpetual atau metode periodik (fisik)? b. Metode penilaian yang digunakan, apakah metode FIFO (MPKP), LIFO (MTKP) atau Rata-rata (Average)?

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

c. Jika metode perpetual yang digunakan, lihat apakah jurnal timbulnya HPP (Harga Pokok Penjualan) langsung dibuat pada saat jurnal penjualan dicatat? d. Jika metode periodik (fisik) yang digunakan, lihat apakah jurnal penyesuaian atas timbulnya HPP (Harga Pokok Penjualan) dibuat pada akhir periode (bulan atau tahun)?

E.

CONTOH-CONTOH PEMERIKSAAN ATAS CATATAN PENJUALAN DAN PEMBELIAN SERTA PAYMENT AND COLLECTION CYCLES 1. Dalam audit atas sales and collection cycle, Anda menemukan saldo Piutang Dagang sebesar Rp. 675.786.000. Ketika anda menelusuri catatan, anda menemukan catatan (jurnal) sbb. : 28-12-06 : Dr. Cr. 20-12-06 : Dr. Cr. Cash Rp. 465.600.000 Sales Discount Rp. 14.400.000 Account Receivable Rp. 480.000.000 (mencatat pelunasan piutang PT. ABC) Account Receivable Rp. 480.000.000 Advanced Revenue Rp. 26.000.000 Sales Rp. 460.000.000 VAT Payable Rp. 46.000.000 (mencatat penyerahan barang kepada PT. ABC atas
transaksi tgl 12-12-06, syarat pembayaran 3/15-n/45)

Sedangkan jurnal transaksi pada tanggal : 12-12-06 : Dr. Cr. Cash Rp. 26.000.000 Advanced Revenue Rp. 26.000.000

(mencatat pesanan 23 unit dari PT. ABC @ Rp. 20 juta dengan


menerima pembayaran Rp. 26 juta)

Atas temuan tersebut, apa yang Anda usulkan kepada auidtee, bagaimana jurnal seharusnya dan jurnal penyesuaiannya? Berapa saldo Piutang Dagang seharusnya? 2. Sedangkan pada audit atas purchase and payment cycle, anda menemukan saldo Persediaan sejumlah Rp. 434.600.000. Ketika anda menelusuri catatan, anda menemukan catatan (jurnal) sbb. :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

Atas temuan tersebut, apa yang Anda usulkan kepada auidtee, bagaimana jurnal seharusnya dan jurnal penyesuaiannya? Berapa saldo Utang Dagang seharusnya? 3. Koreksi dan penyesuaian yang diajukan auditor atas temuan pada sales and collection cycles, (yang disarankan) adalah sbb. : a. Jurnal atau catatan seharusnya : 12-12-06 : Jurnal yang dibuat sudah memadai. 20-12-06 : Dr. Cr. Account Receivable Sales Discount Advanced Revenue Sales VAT Payable Rp. 479.220.000 Rp. 780.000 Rp. 26.000.000 Rp. 460.000.000 Rp. 46.000.000

(mencatat penyerahan barang kepada PT. ABC atas


transaksi tgl 12-12-06, syarat pembayaran 3/15-n/45)

Dr. Cost of Goods Sold Rp. 299.000.000 Cr. Inventories Rp. 299.000.000 (mencatat timbulnya HPP /CoGS atas penyerahan
barang kepada PT. ABC sejumlah 65% dari sales)

28-12-06 : Dr.

Cr. (mencatat pelunasan piutang PT. ABC dengan discount 3%) Catatan : i.

Cash Rp. 464.843.000 Sales Discount Rp. 14.376.000 Account Receivable Rp. 479.220.000

Sales Discount 3% harus dicatat pada tgl. 12-12-06 pada saat penyerahan, yaitu atas uang muka yang diterima dari pelanggan Rp. 26 juta, sehingga Account Receivable yang dicatat menjadi berkurang. Demikian juga pada saat pelunasan tgl. 28-12-06, karena pembayaran (pelunasan) dilakukan dalam masa tunai 15 hari.

ii. Karena perusahaan menggunakan metode pencatatan perpetual, maka pada saat penjualan diakui, maka biaya (CoGS) harus diakui pula, dalam hal ini sebesar 65% dari nilai penjualan. b. Jurnal penyesuaian yang diusulkan: 31-12-06 : Dr. Cr. Sales Discount Rp. 756.000 Account Receivables Rp. 756.000 Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

(melakukan penyesuaian discount atas penyerahan Uang


Muka dan pelunasan sejumlah Rp. 15.156.000-14.400.000)

31-12-06 : Dr. Cr.


sales)

Cost of Goods Sold Rp. 299.000.000 Inventories Rp. 299.000.000 (melakukan penyesuaian atas timbulnya HPP /CoGS
atas penyerahan barang kepada PT. ABC sejumlah 65% dari

Catatan : Saldo Piutang Dagang per 31 Desember 2006 tidak berbeda, karena Piutang Dagang yang timbul dari penjualan kepada PT. ABC sudah dilunasi. 4. Koreksi dan penyesuaian yang diajukan auditor atas temuan pada purchases and payment cycles, (yang disarankan) adalah sbb. : a. Jurnal atau catatan seharusnya : 10-12-06 : Dr. Cr. Prepaid Expenses Rp. 22.000.000 Cash Rp. 22.000.000 (mencatat pesanan 22 unit kepada PT. XYZ
@ Rp. 17,5 juta dengan membayar Rp. 22 juta)

22-12-06 : Dr. Cr.

Inventories Rp. 378.340.000 Prepaid VAT Rp. 37.834.000 Cash Rp. 200.000.000 Prepaid Expenses Rp. 22.000.000 Account Payable Rp. 194.174.000 (mencatat pembelian pada saat penerimaan barang yang
dipesan tgl 10-12-06 dari PT. XYZ dengan membayar Rp. 200.000.000, syarat pembayaran 3/10-n/30)

Catatan : i.

Pada saat perusahaan memberikan uang muka pesanan, belum dapat diakui terjadi hutang dagang, sehingga tidak ada Account Payable yang dicatat.

ii. Purchases Discount yang didapat 3% dari jumlah yang sudah dibayar (Rp. 22 juta + 200 juta), yaitu sebesar Rp. 6.660.000, karena metode perpetual yang digunakan, maka purchase discount langsung mengurangi nilai Inventories (Rp. 385 juta Rp. 6.660.000). Dengan demikian, VAT (PPN) yang dipungut oleh PT. XYZ juga harus berkurang berdasarkan nilai Inventories yang diterima. Perhitungan : Harga Beli (Inventories) = Rp. 17.500.000 x 22 Rp. 385.000.000 Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2 =

Discount = Rp. 222.000.000 x 3% = Rp. (6.660.000) Harga Perolehan Inventories = Rp. 378.340.000 Prepaid VAT (PPN Masukan) = Rp. 37.834.000 Jumlah = Rp. 416.174.000 Kas dibayar (uang muka & pembayaran)= Rp. (222.000.000) Jumlah Hutang Dagang (Account Payable) = Rp. 194.174.000 b. Jurnal penyesuaian yang diusulkan: 31-12-06 : Dr. Cr. Purchase Discount Rp. 6.000.000 Account Payable Rp. 1.326.000 Prepaid VAT Rp. 666.000 Inventories Rp. 6.660.000 (melakukan penyesuaian atas overstated Account Payable,
Prepaid VAT, dan Inventories, serta mengeliminasi akun Purchase Discount)

Catatan : Saldo Utang Dagang per 31 Desember 2006 menjadi : Saldo sesuai pencatatan auditee (-) penyesuaian = Rp. 434.600.000 = Rp. (1.326.000)

Saldo Utang Dagang per 31-12-06 audited = Rp. 433.274.000

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Afif Sulfa, SE MSi. Ak AUDITING 2