Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN

IDENTITAS Nama Umur TTL Jenis kelamin Agama Suku Tanggal masuk RS Nama orang tua Pekerjan orang tua Alamat No Kamar : an. K : 1 Tahun : Jakarta 26 oktober 2010 : Laki-laki : Islam : Jawa Tengah : 08 November 2011 : Ayah: S : Ayah: Pegawai Swasta Ibu: S Ibu: IRT

: Jl. Baru GG II, no 13 rt 003/01 Cilincing Jakarta Utara. : Alfarisi no 5

ALLOANAMNESIS Keluhan Utama :

Sesak nafas sejak 2 hari yang lalu Keluhan Tambahan : - Batuk - Pilek - Panas - Muntah dahak Riwayat Penyakit Sekarang : Menurut ibu OS, OS menderita sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Sesak terutama dirasakan dini hari menjelang subuh. Saat udara dingin OS terlihat sesak. Saat sesak OS mengeluarkan bunyi nafas seperti orang mendengkur (krok). Sesak baru pertama kali dirasakan.

Batuk juga diderita Os sejak 2 hari yang lalu. Batuknya terdengar seperti bunyi grok. Ketika batuk OS muntah mengeluarkan reak, muntah ini sudah 2x diderita. Muntah hanya keluar ketika batuk saja. OS juga menderita pilek sejak 2 hari yang lalu, saat pilek OS mengeluarkan ingus encer berwarna bening. OS juga panas saat masuk RS saja, menurut ibu OS panas tidak tinggi dan tidak sampai menggigil. Namun sekarang panasnya sudah sembuh. Panas disertai kejang disangkal oleh ibu OS. BAB lancar, 2x dalam sehari, bentuk kotoran normal. BAK : Normal, berwarna kuning. Riwayat Penyakit Dahulu : Saat OS berumur 4 bulan, OS didiagnosa ISPA oleh dokter. 2 minggu yang lalu OS menderita campak. Riwayat kejang demam disangkal. OS sesak ketika udara dingin, dan bersin-bersin ketika banyak debu. Tanyain dermatitis alergi/atopi? Riwayat Penyakit Keluarga menderita asma. Riwayat Pengobatan : OS telah diberikan obat batuk cair berwarna putih susu oleh reda namun bertambah parah. Riwayat Kehamilan ibu : Ibu memeriksa kehamilan setiap bulan ke bidan. Ibu OS hanya mengkonsumsi vitamin dari bidan selama hamil. Ibu OS menyangkal ada keluhan selama hamil. Riwayat Kelahiran : Cukup bulan (9 bulan 11 hari). Lahir SC disebabkan ibu tidak mengalami kontraksi atau mulas sama sekali. Bayi lahir langsung menangis. BBL: 3600grm, PB: 50cm. Riwayat Makanan:

: Ibu OS mempunyai alergi udang. Bude dari ayah dan ibu OS

bidan, namun batuk tidak

ASI

: Dari lahir sampai sekarang.

Susu formula : Laktogen dari lahir sampai sekarang, 3xsehari. Bubur sereal : 5 bulan. Bubur nasi: 7 bulan. Nasi: 8 bulan. Nasi biasa diberikan dengan sayur dan ikan. :

Riwayat Imunisasi

Menurut ibu OS imunisasi dasar lengkap, imunisasi terakhir campak pada usia 9 bulan.

Hepatitis B BCG DPT Polio Campak

usia 0, 1, 6 bulan usia 0 bulan usia 2,3,4 bulan usia 0,2,3,4 bulan usia 9 bulan

KESAN : Imunisasi dasar lengkap. Riwayat Tumbuh : BB saat ini : 10 kg, TB: ibu OS tidak tau. BB saat sakit tidak mengalami penurunan berat badan. Dan nafsu makan juga tidak bekurang. Riwayat Kembang : Tengkurap Merangkak Duduk Berbicara Jalan KESAN : 4 bulan : 4 bulan : 5 bulan : 8 bulan : 11 bulan : Riwayat tumbuh baik

Riwayat Alergi : Alergi susu Alergi makanan Alergi obat Alergi debu Alergi suhu Riwayat Psikososial : : disangkal : disangkal : disangkal : bersin-bersin saat banyak debu. : saat udara dingin OS merasa sesak.

Jarak rumah tidak berdekatan dengan tetangga. Dalam 1 rumah di tempati oleh 5 orang (ayah, ibu, OS, kakek, dan nenek). Ayah OS merokok setelah makan. Makanan dimasak oleh nenek OS, air minum di beli dari bogor dan di masak lagi.

PEMERIKSAAN FISIK: KU : Sakit sedang

Kepala : Dada Dada simetris Retraksi (-) Bungi jantung I dan II murni Suara pernafasan vesikular Anemis -/Ikterus -/-

Ekstremitas : Hangat.

RESUME

OS menderita sesak nafas sejak 2 hari yang lalu. Sesak terutama dirasakan dini hari dan saat udara dingin. Saat sesak OS mengeluarkan bunyi nafas seperti orang mendengkur (krok). Sesak baru pertama kali dirasakan. Batuk telah diderita sejak 2 hari yang lalu. Batuk terdengar seperti bunyi grok. Ketika batuk OS muntah mengeluarkan dahak, muntah ini sudah 2x diderita. Muntah hanya keluar ketika batuk saja. OS juga menderita pilek sejak 2 hari yang lalu, saat pilek OS mengeluarkan ingus encer berwarna bening. OS juga panas saat masuk RS saja, panas tidak tinggi dan tidak sampai menggigil. Namun sekarang panasnya sudah sembuh. BAB lancar, 2x dalam sehari, bentuk kotoran normal. BAK : Normal, berwarna kuning.

DD: asma bronkiale, BP, rinitis alergi.

BAB II PEMBAHASAN

Definisi Asma Bronkiale Menurut pedoman nasional asma anak (PNAA) asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut: timbul secara episodik cenderung pada malam atau malam hari atau dini hari (nokturnal), musiman , setelah aktivitas fisik, serta terdapat riwayat asma pada pasien atau keluarga pasien. Faktor risiko Berbagai faktor dapat mempengaruhi serangan asma , yaitu: 1. Jenis kelamin Menurut beberapa penelitian didapatkan bahwa prevalen asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali lipat anank perempuan. Menurut laporan MMM (2001), prevalen asma pada anak laki-laki lebih tinggi dari pada anak perempuan, dengan rasiao 3:2. 2. Usia Umumnya, pada kebanyakan kasus asma persisten, gejala pertama timbul pada usia muda. 25% anak dengan asma persisten mendapat serangan pertama pada usia kurang dari 6 bulan, dan 75% mendapat serangan pertama pada usia kurang dari 3 tahun. 3. Riwayat atopik Menurut penelitian riwayat asma akan terjadi 2 kali lipat bila pasien pernah mengalami hay fever, rinitis alergi atau eksema. 4. Lingkungan Adanya alergen di lingkungan hidup anak meningkatkan risiko penyakit asma. Alergen yang sering mencetuskan penyakit asma antara lain serpihan kulit binatang, tungau, debu rumah, jamur, dan kecoa. 5. Ras Menurut prevalen kejadian asma pada ras kulit hitam lebih tinggi dari kulit putih. 6. Asap rokok Prevalen asma pada anak yang terpajan asap rokok lebih tinggi dari pada yang tidak terpajan. Risiko terhadap asap rokok sudah mulai sejak janin dalam kandungan. 7. Polusi udara

Beberapa partikel halus di udara seperti debu jalan raya, nitrat dioksida, karbon monoksida di duga berperan pada kejadian pada penyakit asma. 8. Infeksi respiratorik Beberapa penelitian mendapatkan adanya hubungan terbalik antara atopi dan infeksi respiratorik. Penelitian di jerman mendapatkan adanya penurunan prevalen asma sebanyak 50% pada anak usia 7 tahun yang saat bayi sering mengalami rinitis. Parameter Klinis,fungsi paru, laboratorium Sesak Ringan Sedang Berat tanpa Berat dengan ancaman henti ancaman napas henti napas

Berjalan, Berbicara Istirahat bayi : menangis Bayi : - tangis , bayi : pendek dan lemah keras Tidak mau minum/makan Kesulitan menyusu atau makan Bisa berbaring Kalimat Mungkin irritable Tidak ada Lebih suka duduk Duduk bertopang lengan Kata kata Biasanya irritable ada Kebingungan Nyata

Posisi

Bicara Kesadaran Sianosis Mengi

Penggal kalimat Biasanya irritable Tidak ada

Sedang, Nyaring, sepanjang sering ekspirasi inspirasi hanya pada akhir ekspirasi

Sangat Sulit / tidak nyaring, terdengar terdengar tanpa stetoskop sepanjang ekspirasi dan inspirasi iya Gerakan paradoksabdominal Dangkal/

Penggunaan otot Biasanya bantu tidak respiratorik Retraksi Dangkal, retraksi

Biasanya iya

Sedang,

ditambah Dalam, ditambah

interkostal Frekuensi napas Frekuensi nadi Pulsus paradoksus (pemeriksaannya tidak praktis) PEFR atau FEVi ( % nilai prediksi / % nilai terbaik) Prabronkodil >60% ator Pasca broncodil ator >80% takipneu Normal

retraksi suprasternal Takipneu Takikardi

napas cuping hilang hidung takipneu takikardi Ada > mmHg bradipneu Bradikardi 20 Tidak ada, tanda kelelahan otot napas

Tidak ada Ada 10 20 mmHg < 10 mmHg

40 60 %

<40 %

60 80 %

<60 % Respon < 2 jam

SaO2 % PaO2

>95 %

91 95 %

90 % <60 mmHg

Normal >60 mmHg ( biasanya tidak perlu diperiksa) <45 mmHg <45 mmHg

PaCO2

>45 mmHg

Patofisiologi Asma 1. Obstruksi saluran respiratori Penyempitan saluran nafas yang terjadi pada pasien asma disebabkan oleh adanya kontraksi otot polos bronkial yang diprovokasi mediator agonis yang dikeluarkan dari sel inflamasi. Mediator inflamasi tersebut antara lain histamin, triptase, prostaglandin D2, dan leukotrien c4 yang dikeluarkan oleh sel mast; neuropeptidase yang dikeluarkan saraf aferen lokal dan asetilkolin yang berasal dari saraf eferen post ganglionik. Keterbatasan aliran udara pernafasan dapat juga timbul bila saluran nafas dipenuhi oleh sekret yang banyak, tebal dan lengket (yang diproduksi oleh sel goblet dan kelenjar submukosa).

2. Hiperaktifitas saluran respiratori Asma selalu berhubungan dengan mudahnya saluran nafas mengalami penyempitan dan atau respon yang berlebihan terhadap profokasi stimulus. Mekanisme yang bertanggungjawab terhadap reaktifitas yang berlebihan ini sampai saat ini tidak diketahui, namun dapat berhubungan dengan perubahan otot polos saluran nafas yang terjadi serta berpengaruh terhadap kontraktilitasnya. 3. Hipersekrsi mukus Produksi mukus yang berlebihan merupakan gejala utama pada penyakit bronkitis kronik, namun gejala tersebut juga merupakan salah satu karakteristik pasien asma yang tidak pernah memiliki riwayat merokok ataupun bekerja pada lingkungan yang berdebu. Survei membuktikan, sebanyak 30% pasien asma kesehariannya memproduksi sputum dan 70% sisanya hanya memproduksi saat serangan asma timbul. Sering kali pasien asma didiagnosis dengan bronkitis akut rekuren. Hiperplasia kelenjar submukosa dan sel goblet seringkali ditemukan pada saluran nafas pasien asma dan penampakan remodeling saluran nafas merupakan karakteristik asma kronis. Obstruksi yang luas akibat penumpukan mukus saluran nafas hampir selalu ditemukan pada asma yang fatal dan menjadi penyebab ostruksi saluran nafas yang persisten pada serangan asma yang berat yang tidak mengalami perbaikan dengan pemberian bronkodilator. 4. Keterbatasan aliran udara irreversible Penebalan saluran nafas, yang merupakan karakteristik asma, terjadi pada bagian kartilago dan membranosa dari saluran nafas. Bersamaan dengan perubahan pada bagian elastin dan hilangnya hubungan antara saluran nafas dengan parenkim disekitarnya, penebalan dinding saluran nafas dapat menjelaskan mekanisme timbulnya penyempitan saluran nafas yang gagal untuk kembali normal dan terjadi terus menerus pada subgroup pasien asma. Kekakuan otot polos menyebabkan aliran udara pernafasan terhambat hingga menjadi irreversible. Proporsi jumlah pasien asma sedang yang beresiko menderita kelainan ini sampai saat ini belum diketahui.

Diagnosis Anamnesis Pertanyaan yang sangat berguna untuk mendiagnosis asma antara lain: Apakah anak mengalami serangan mengi atau serangan mengi berulang? Apakah anak sering terganggu oleh batuk pada malam hari? Apakah anak mengalami mengi atau batuk setelah berolahraga?

Apakah anak mengalami gejlaa mengi, dada terasa berat, atau batuk setelah terpajan alergen atau polutan? Apakah anak mengalami pilek yang membutuhkan lebih dari 10 hari untuk sembuh? Apakah gejala klinis membaik setelah anak diberi pengobatan obat antiasma?

Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik umumnya tidak ditemukan kelainan. Dengan adanya kesulitan ini diagnosis asma pada bayi dan anak kecil hanya merupakan diagnosis klinis (penilaian hanya berdasarkan gejala dan respon terhadap obat). Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Fungsi paru Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk mengkur fungsi paru, tetapi tidak banyak yang dapat dilakukan dengan mudah. Pemeriksaan fungsi paru mulai dari pengukuran sederhana, yaitu Peak expiratory flow rate (PEFR) atau arus puncak respirasi (APE), pulse oxymetri, spirometri, sampai pengukuran yang kompleks yaitu muscle strength testing, volume paru absolut, serta kapasitas difusi. Kebanyakan uji fungsi paru mengevaluasi satu atau lebih aspek fungsi paru, yaitu : 1) volume paru, 2) fungsi jalan napas, 3 ) pertukaran gas. Pengukuran volume paru bermanfat pada penyakit Paru restriktif seperti kelemahan otot napas, deformitas dinding dada, penyakit interstitial paru, serta pada beberapa anak dengan kelainan obstruktif jalan napas. Penilaian status alergi Penilaian status alergi dengan uji kulit atau pemeriksaan IgE spesifik dalam serum tidak banyak membantu diagnosis asma, tetapi pemeriksaan ini dapat membantu menentukan faktor risiko atau penyebab atau pencetus asma. Tes alergi untuk kelompok usia < 5 tahun dapat digunakan untuk hal hal berikut ini : 1. Menentukan apakah anak atopi 2. Mengarahkan manipulasi lingkungan 3. Memprediksi prognosis anak dengan mengi

Pemeriksaan hiperaktivitas saluran napas Uji provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan / olahraga, udara kering dan dingin, atau dengan salin hipertonik sangat menunjang diagnosis. Pada pasien yang mempunyai gejala asma tetapi fungsi parunya tampak normal, penilaian respon

saluran napas terhadap metakolin, histamin, atau olahraga dapat membantu menegakkan diagnosis asma. Pengukuran ini sensitif terhadap asma, tetapi spesifitasnya rendah. Artinya, pasien yang negatif dapat membantu menyingkirkan diagnosis asma persisten, sedangka hasil positif tidak selalu berarti bahwa pasien tersebut memiliki asma. Hal ini disebabkan karena hipereaktifitas saluran napas juga terdapat pada pasien rinitis alergi dan kondisi lain seperti fibrosis kistik, bronkiektasis dan penyakit paru obstruksi menahun.

Penatalaksanaan

Serangan asma ringan Jika dengan sekali nebulisasi pasien menunjukkan respon yang baik (complete response), berarti derajat serangan ringan. Pasien diobservasi selama 1-2 jam, jika respon tersebut bertahan, pasien dapat dipulangkan. Pasien dibekali obat B-agonis (hirupan atau oral) yang diberikan tiap 4-6 jam. Jika pencetus serangannya adalah infeksi virus, dapat ditambahkan steroid oral jangka pendek (3-5hari). Pasien kemudian dianjukan kontrol ke klinik rawat jalan dalam waktu 24-48 jam untuk reevalasi tatalaksana. Selain itu, jika sebelum serangan pasien sudah mendapat obat pengendali, obat tersebut diteruskan hingga re-evaluasi dilakukan diklinik rawat jalan. Namun, jika setelah observasi 2 jam gejala timbul kembali, pasien diperlakukan sebagai serangan asma sedang.

Serangan asma sedang c

Serangan Asma Berat Bila dengan dengan 3 kali nebulisasi berturut turut pasien tidak menunujukkan respon, yaitu gejala dan tanda msih ada, pasien harus dirawat diruang rawat inap. Pasien diberikan dengan 2 agonis dan antikolinergik. Oksigen 2 4 L/menit diberikan sejak awal termasuk saat nebulisasi. Kemudian pasang jalur prenteral dan lakukan foto thorax. Foto thorax harus langsung dibuat untuk mendeteksi komplikasi pneumotorax dan atau pneumomediastinum.

Terapi Medikamentosa 1. Bronkodilator

2-agonis selektif : salbutamol oral 0,1-0,15 mg/kg bb/x, diberikan setiap 6 jam; terbutalin oral 0,05-0,1 mg/kgbb/x, diberikan setiap 6 jam ; fenoterol 0,1 mg/kgbb/x, diberikan setiap 6 jam. Epinfrin/ adrenalin : obat ini dapat diberikan secara subkutan atau inhalasi aerosol. Larutan epinefrin 1:1000 (1 mg/ml), dengan dosis 0,01 ml/kgbb (maksimum 0,3 ml), dapat diberikan sebanyak 3 kali, dengan selang waktu 20 menit. 2. Oksigen Oksigen diberikan pada serangan sedang dan berat. Pada bayi dan anak kecil, saturasi oksigen sebaiknya diukur dengan pulse oxymetry (nilai normalnya >95%). Meskipun pasien sudah mendapat oksigen beraliran tinggi, jika saturasi oksigen kurang dari 90% dan kondisi pasien memburuk, sebaiknya dilakukan pemeriksaan analisa gas darah. Pada nebulisasi 2 agonis, oksigen sebaiknya diberikan untuk mengatasi efek samping hipoksia. 3. Terapi cairan Dehidrasi dapat terjadi pada serangan asma berat. Hal ini disebabkan oleh kurang adekuatnya asupan cairan, peningkatan insensible water lost, takipnea, serta akibat efek diuretik teofilin. Pada asma berat, terjadi peningkatan sekresi ADH yang memudahkan terjadinya retensi cairan serta terdapat tekanan negatif yang tinggi dari tekanan pleura pada puncak inspirasi yang memudahkan terjadinya edema paru. Biasanya jumlah cairan yang diberikan adalah 1-1,5 kali kebutuhan rumatan.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Dari hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya, saya menyimpulkan bahwa diagnosis nya adalah asma bronkiale, bronkopneumoni, dan rinitis alergi.

LAPORAN KASUS STASE PEDIATRI RSIJ SUKAPURA

Disusun Oleh: Rahma Ayu Larasati 2008730103 Meilyna Siregar 2008730087 Siti Aisyah 2008730037

FAKULTAS KESEHATAN DAN KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMADIYAH JAKARTA 2011