Anda di halaman 1dari 50

Legenda Kematian

(Shi Hun Yin)-1961 Karya: Gu Long Kiriman Lavilla Ebook by : Dewi KZ http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/

Dewi KZ http://kangzusi.com/ BAB 1 Penemuan yang mengejutkan Senja yang tampak di langit sangat indah, tapi semakin lama semakin biasa. Matahari yang akan terbenam sudah menghilang di balik gunung yang hijau. Bulan mulai muncul di atas langit, muncul dari bawah gunung kemudian naik ke atas pohon. Angin meniup pepohonan, sehingga tampak bayangan pohon seperti sedang menari-nari, tiba-tiba terdengar seseorang yang sedang membaca puisi, "Bulan terang bintang sedikit, angin berhembus lembut seperti air mengalir, Aku baru kembali dari tamasya, melihat gunung-gunung dan hamparan tanah yang luas, tapi sekarang melihat keindahan gunung ini, belum tentu Tai Shan tampak lebih aneh, Hua Shan tampak lebih indah dibandingkan dengan gunung itu." Suara itu terdengar seperti menyusuri hutan kecil itu lalu berhembus keluar dari gunung, tampak seorang pemuda mengenakan baju mewah, tubuhnya tampak agak lemah, di pinggangnya tergantung sebuah pedang panjang berwarna hijau dan terbungkus dengan 1

Dewi KZ http://kangzusi.com/ sarungnya yang terbuat dari kulit ikan hiu. Di bawah sinar bulan tampak bajunya tertiup angin, berkibar seperti daun-daunan yang ada di pepohonan yang tertiup angin. Pemuda itu melihat sekelilingnya kemudian berjalan beberapa langkah, terdengar dari hembusan angin ada suara air mengalir, tampak pemuda itu mengerutkan alisnya, kemudian dia mulai membaca lagi dengan pelan, "Tubuh berjalan ke arah gunung, angin yang berada di sini meniup patah-patah suara air mengalir.... Tiba-tiba dia membalikkan badannya dan berteriak, "Nang Er, cepat bawa kuas dan tempat tinta ke sini!" Dia berkata lagi, "Kalau kau berjalan begitu lambat, lain kali kalau aku main ke gunung, lebih baik kau tinggal saja dengan Guan Fu menunggu di bawah gunung." Dari dalam hutan itu muncul seorang remaja, satu tangannya memegang tempat tinta berwarna hijau, sedangkan tangan yang lainnya memegang kuas, masih harus menggendong sebuah tas besar, dengan berlarilari dia menghampiri pemuda itu. Nafasnya terengahengah, lalu dia memberikan kuas itu sambil berkata, "Tuan Muda, aku sudah mengikuti Anda berjalan dari He Nan ke Jiang Nan supaya pengetahuanku bisa bertambah. Kalau Tuan Muda ingin meninggalkanku bersama dengan A Fu yang bodoh itu, aku akan kesal." 2

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Pemuda berbaju mewah itu tersenyum, diambilnya sehelai kertas dan dia segera menulis, "Kami berjalan ke dalam gunung, angin musim semi meniup patah-patah suara air mengalir." Lalu kertas itu dimasukkannya ke dalam tas besar yang dibawa oleh Nang Er. Mata Nang Er yang hitam tampak berputar, sambil tersenyum dia berkata, "Tuan Muda, hari ini suasana hati Anda sedang bagus, sejak naik gunung sampai sekarang, Anda sudah menulis banyak puisi, semuanya berjumlah 30 baris, lebih banyak dibandingkan sewaktu kita berada di Tai Shan, tapi" dia berhenti sebentar, lalu dia melihat ke sekeliling, "Lebih baik Tuan Muda membawa Nang Er turun gunung sekarang, karena hari sudah mulai gelap dan di depan sana tampak sepi juga gelap, kalau tiba-tiba muncul binatang buas, binatang itu akan menggigit Nang Er dan Tuan Muda" Pemuda berbaju mewah itu berjalan di depan, mendengar perkataan Nang Er dia mengerutkan dahinya lalu melotot, karena takut dengan pelototan tuan mudanya, kata-kata berikutnya tidak diucapkan, dia hanya cemberut lalu mengikuti pemuda berbaju mewah itu dari belakang. Lalu pemuda itu berkata dengan nada ramah, "Kau tidak perlu takut bila bersama denganku, walaupun malam ini kita tidak turun gunung, asalkan ada pedang ini, aku tidak akan membiarkanmu dimakan binatang buas."

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Nang Er tertawa, tampak lesung pipit di wajahnya, dia menundukkan kepalanya, seperti takut tawanya akan tampak oleh tuan mudanya. Di depan mereka sejauh beberapa puluh meter terdengar suara air mengalir dengan kencang, pemuda itu melihat ada dua sisi jurang yang terjal seperti yang telah diiris oleh pisau, dan di bawah jurang itu terdapat sebuah sungai dengan lebar kurang lebih 25 meter. Pemuda itu berlari ke sisi jurang dan melihat ke bawah, jurang itu sangat dalam, mata air mengalir ke bawah sana, air terjun seperti naga yang sedang terbang, air jatuh memercik batu-batuan seperti mutiara yang terjatuh dari atas dan seperti awan yang sedang menari. Membuat pemandangan di sana tampak sangat indah. Suara air dan suara pepohonan yang dihembus angin menggetarkan gunung dan menghasilkan irama yang kuat. Pemuda berbaju mewah itu berdiri di sisi jurang, jalan itu buntu, dan air terus memercik ke tubuhnya, dia terpaku melihat keadaan itu, tiba-tiba dia melihat di sebelah kanan ada sebuah jembatan kecil, dari jurang yang miring di depannya bisa diseberangi lewat jembatan itu. Di depan jembatan itu, di balik daun- daunan tampak ada sebuah lampu merah tergantung di tempat tinggi. Lampu itu bergerak- gerak tertiup angin. Tampak wajah pemuda itu sangat senang, dia membalikkan kepalanya dan tertawa, "Sekarang kau tidak perlu 4

Dewi KZ http://kangzusi.com/ takut, tempat yang ada lampu biasanya menandakan ada orang yang tinggal, hari ini kita menginap disini, besok kita baru turun gunung, bukankah itu lebih baik?" Tiba-tiba Nang Er mengerutkan dahinya, "Tuan, jika ada orang tinggal di gunung yang begini terpencil, pasti orang itu bukan orang baik-baik, mungkin orang itu lebih menakutkan dari pada binatang buas, lebih baik Tuan Muda membawa Nang Er turun gunung sekarang." Pemuda itu tertawa, "Bukankah biasanya kau seorang pemberani? Mengapa sekarang menjadi penakut seperti ini? Kita tidak membawa uang juga tidak membawa benda berharga, apakah kau takut bila ada yang merampok kita?" Pemuda itu memegang pedangnya dan berkata lagi, "Selama 7 tahun aku sekolah lalu 3 tahun aku belajar ilmu silat, kalau bertemu dengan perampok kacangan He he! Mungkin pedangku akan menjadi berguna." Sambil memegang pedang tampak wajahnya menjadi gagah, dengan langkah besar dia melangkahkan kakinya ke jembatan kecil itu, sambil cemberut Nang Er mengikuti tuan mudanya dari belakang, sepertinya dia tahu akan terjadi musibah yang menimpa mereka. Hutan lebat yang berada di sebuah jurang yang terjal, jembatan kecil itu seakan-akan menggantung di tengah-tengah langit. Lebar jembatan itu hanya 2 kaki lebarnya dan di bawah jembatan adalah jurang yang 5

Dewi KZ http://kangzusi.com/ dalam. Begitu dipakai berjalan tubuh terasa terayunayun naik turun seperti sedang menaiki seekor kuda yang sedang berlari, kalau dia bukan seorang yang pemberani, bila berdiri di atas jembatan itu pasti akan merasa pusing, apalagi kalau harus menyeberang. Pemuda berbaju mewah itu berkata, "Aku menyeberang dulu, kalau kau tidak berani menyeberang kau boleh tinggal di sini." Dia mulai berjalan menyeberangi jembatan itu. Walaupun pemuda itu adalah anak orang kaya, tapi sifatnya sangat keras dan tidak mau kalah, dia lebih berani dari orang lain, melihat jembatan kecil yang tampak berbahaya, dia sama sekali tidak merasa takut, dia melihat ke bawah sebentar lalu segera berjalan menyeberangi jembatan itu, langkahnya tampak mantap, memang kelihatan kalau dia menguasai ilmu silat. Angin gunung berhembus begitu kencang, membuat baju panjangnya berbunyi terus. Di bawah terdengar suara air mengalir dengan kencang, dia melihat ke bawah, dia berjalan dengan hati-hati, sedikit pun tidak tampak gelisah. Hanya dalam waktu sekejap dia berhasil menyeberangi jurang itu, tampak di depan jembatan adalah sebuah hutan lebat, ada sebuah rumah kecil di sana, dan di dalamnya ada sebuah lampu yang menyala, lampu itu berwarna merah. 6

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Dia ingin membalikkan kepalanya dan berpesan kepada pelayan yang membawa bukunya, ternyata anak itu pun sudah menyeberangi jembatan dan berada di sisinya. "Tidak disangka, ternyata kau juga berani menyeberangi jembatan ini." dia berkata sambil tertawa. "Tuannya seorang pemberani, mana mungkin pelayannya penakut? Jika aku seorang penakut pasti akan ditertawakan orang lain." Pemuda berbaju mewah itu mengangguk menepuk-nepuk pundaknya memuji. dan

Terdengar Nang Er berteriak, "Tuan mudaku tersesat di gunung ini, kami ingin beristirahat di tempat Anda, apakah tuan rumah mengijinkan?" Terdengar gema suaranya, "....apakah mengijinkan.... mengijinkan.... Suara itu datang terus menerus, tapi rumah kecil yang terbuat dari batu itu tidak terdengar ada jawaban. Tuan muda itu mengerutkan dahi, dia berjalan ke arah rumah itu. Begitu melihat dengan dekat rumah itu, wajahnya menjadi pucat, dia terus mundur, badannya tampak limbung dan hampir jatuh. Ternyata di dalam rumah itu, di sisi meja tampak ada 2 sosok mayat yang terbaring, kelihatan mereka adalah laki-laki berbadan tegap tapi kepalanya sudah hancur, bagian mata atau hidung sudah tidak bisa dibedakan lagi, cahaya lampu yang menyorot dari lampu yang ada 7

Dewi KZ http://kangzusi.com/ di meja itu, menyinari kedua mayat, membuat suasana gunung yang sepi dan sunyi itu bertambah seram. Tiba-tiba ada seekor jengkrik terbang kemudian berbunyi. Nang Er menjadi gemetar dengan takut dia berkata, "Tuan Muda, mari kita cepat pergi dari sini." Pemuda itu mengerutkan dahinya, dia tidak menjawab tapi dia tampak sedang berpikir, "Sebenarnya dimana letaknya tempat ini? Mengapa mereka disini bisa mati begitu mengenaskan? Lampu di atas meja belum padam, berarti mereka belum lama mati, kemanakah pergi pembunuhnya? Mengapa sewaktu aku naik gunung tidak tampak ada orang yang turun gunung atau apakah setelah orang itu membunuh, dia langsung lari ke tempat lain?" Tangan kanannya memegang pedang, tapi telapak tangannya sudah berkeringat dingin. Dia berpikir, "Aku belajar ilmu pedang selama 3 tahun meskipun belum lulus, tapi di ibukota jarang ada pesilat yang bisa menandingiku. Kebanyakan mereka bukan lawanku, sewaktu aku belajar ilmu silat, guruku pernah berkata kepadaku, 'Pendekar-pendekar di dunia persilatan tidak boleh egois, harus siap membantu orang lain memecahkan masalah, juga harus membantu pihak yang lemah, itu baru bisa dikatakan pendekar. Sekarang setelah bertemu dengan hal seperti ini, apakah aku harus lari,? paling sedikit aku harus tahu apa penyebab semua ini?"

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Terpikir hal ini, pemuda itu menjadi bersemangat, dia melihat di sebelah rumah batu itu terdapat sebuah jalan berundak, jalan ini berliku-liku sampai ke bawah jurang. Di bawah jurang, percikan air membuat bintangbintang di langit tampak terang dan bisa dihitung dengan jari. Bayangan yang terpantul di air itu tampak ada sawah, di belakang sawah tampak rumah dan lampu. Nang Er sangat ketakutan, dia melihat tuan mudanya, dia berharap mereka segera pergi dari tempat ini, meninggalkan tempat misterius ini. Tapi pemuda itu malah tampak sedang berpikir, kemudian dia melangkah ke undakan jalan itu, sambil menarik nafas, Nang Er dengan terpaksa mengikuti tuan mudanya dari belakang. Angin berhembus melewati lembah, gunung ini seperti tertutup oleh rasa dingin yang menyedihkan. Dengan cepat pemuda itu berjalan melewati sawah, tampak di sebelah kiri terdapat sungai yang lebarnya kira-kira 6 meter, air mengalir sangat deras, di bawah sinar matahari, gunung batu dan hutan itu tampak misterius dan berwarna ungu. Di kaki gunung sana hanya terdapat sebuah rumah, begitu berjalan mendekat, maka bayangan rumah itu tampak sangat jelas.

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Di luar rumah itu terdapat pagar yang tingginya sekitar 3 meter lebih, pintunya dicat dan tampak berkilauan, rumah itu menghadap ke arah selatan, pintunya terbuka, gelang yang terpasang di pintu, di bawah sinar bulan tampak seperti es. Pemuda itu berdiri di depan pintu, dia mengetuk dengan gelang pintu itu, suaranya menggema yang terdengar terus menerus. Dari dalam rumah tetap sepi, tidak ada yang menjawab, pemuda itu mengerutkan dahi, baru saja dia bersiap-siap melangkah masuk, di belakangnya terdengar suara GE. Dia kaget, lalu segera meloncat sejauh 3 kaki kemudian mencabut pedangnya dan memasang kudakuda, di bawah sinar bulan, hanya tampak seekor kodok yang meloncat ke sawah. Nang Er melotot melihat tingkah lakunya, di sekeliling mereka tetap sunyi dan sepi, rasa sepi yang menakutkan. Pemuda itu menertawakan dirinya sendiri, dia merasa malu kemudian masuk ke dalam rumah itu. Di balik pintu yang dicat hitam itu, tampak banyak mayat yang bergelimpangan, keadaan mereka sama seperti kondisi 2 orang laki-laki tegap yang mati di rumah batu itu. Di tubuh mereka tidak tampak ada bekas luka tapi kepala mereka semua hancur, sinar bulan menyinari darah yang tergenang di bawah dan sudah berubah warna menjadi ungu. Cahaya redup keluar melalui kertas jendela yang tipis, walaupun 10

Dewi KZ http://kangzusi.com/ pemuda itu sangat berani tapi setelah melihat keadaan seperti ini, keringat dingin terus menetes dari dahinya. Di belakang Nang Er menepuk-nepuk bajunya, dia tidak bisa bicara juga karena ketakutan. Pemuda itu memegang pedang dan berdiri dengan sikap waspada, angin malam meniup pada tubuhnya, udara terasa semakin dingin, kakinya sudah merasa ingin kembali. Tapi setelah dia berpikir sejenak dia berkata pada dirinya, "Guan Ning, Guan Ning, kau sudah berada di sini, walaupun bagimu ini merupakan keberuntungan atau bencana, kau harus siap menghadapinya, biasanya kau paling tidak menyukai cara kerja orang lain. ada kepala tidak ada ekor, apakah kau juga sekarang ingin sama seperti orang lain?" Segera dia membusungkan dadanya, pedang diangkat, dia melewati pekarangan yang dipenuhi dengan mayat tapi tidak berani melihat keadaan mayatmayat itu. Dari pintu gerbang sampai pintu ruangan jaraknya hanya beberapa puluh meter, tapi dalam pikirannya sekarang seperti menempuh jarak ribuan kilometer. Dengan perlahan dia menaiki tangga, menggunakan ujung pedangnya dia mendorong pintu yang tertutup setengah itu, kemudian dia berteriak, "Apakah di dalam ada orang? Mohon jawab!"

11

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Dari dalam rumah tidak ada yang menjawab, pintu ruangan pun dibukanya, di dalam tidak tampak ada bayangan seorang pun. Dia menghembuskan nafas lega, membalikkan kepalanya untuk melihat Nang Er, tampak anak itu masih ketakutan mengikutinya di belakang, tangan kirinya yang membawa tempat tinta tampak bergetar, tinta yang masih memenuhi tempatnya menjadi bercipratan ke bawah. Dia memegang pundak anak ini, lalu melewati ruangan dan melihat keadaan di dalam ruangan itu, cangkir-cangkir masih tertutup dan tersusun rapi di atas meja. Dia berpikir, "Air teh masih ada, di mana orang yang meminum teh ini? Dilihat dari kondisi mayat, mereka seperti para pelayan, orang yang meminum teh ini pasti tuan rumah ini." Diam-diam dia menghitung cangkir teh yang ada di atas meja, semuanya berjumlah 17. Dia berpikir lagi, "Tadi di sini pasti ada banyak tamu tapi ke mana tamutamu itu sekarang? Di depan hanya ada mayat pelayan, apakah pelayan-pelayan itu dibunuh oleh para tamu?" Dia mengangguk dan menyetujui kesimpulannya sendiri, dia merasa semua perkiraannya masuk akal tapi dia tidak tahu apa penyebabnya. Dia melewati ruangan besar itu, kemudian keluar dari pintu samping. Di luar ada pekarangan yang ditata dengan sangat bagus, di luar pekarangan terdapat sebuah jalan kecil 12

Dewi KZ http://kangzusi.com/ yang disusun dari batu kecil yang bertumpuk, jalan ini menuju pekarangan dalam. Sambil membawa pedangnya yang panjang, selangkah demi selangkah dia berjalan, dia melihat di sisi jalan itu ada sesosok mayat seorang laki-laki berjanggut dan berbaju mewah, golok yang terselip di pinggangnya baru dicabut separuh, di tubuhnya tidak terdapat luka, tapi kepalanya hancur, darah yang mengalir sudah merembes masuk ke dalam tanah. Pemuda yang bernama Guan Ning benar- benar terkejut, tapi dia terus berjalan, baru beberapa langkah berjalan, dia melihat ada 2 bilah pedang di jalan itu. Kedua pedang itu masih mengeluarkan cahaya berkilau. Langkahnya terhenti menyelidik, di sisi jalan lainnya tampak lagi 2 sosok mayat, tubuh orang yang mati kali ini agak gemuk. Yang satu tangan kirinya sedang memegang pedang, sedangkan yang lain, tampak tangan kanannya memegang pedang, kedua ujung pedang saling beradu, tapi jarak kedua mayat itu tidak terlalu dekat dan mereka dalam keadaan tertelungkup, luka mereka masih sama seperti mayat-mayat yang dilihat Guan Ning tadi. Pemuda ini terus melihat mayat-mayat yang bergelimpangan, dia tidak hanya terpana, dia juga merasa pusing dan kaget. Beberapa langkah dari tempatnya berdiri ada mayat seorang pak tua yang berjanggut panjang, di depan sana ada 3 mayat pendeta berbaju biru, kemudian ada 13

Dewi KZ http://kangzusi.com/ 2 mayat biksu tua, keadaan mereka masih sama seperti itu, tidak ada bekas luka, tapi kepala mereka semua hancur. Baru saja melewati jalan berbatu ini, walaupun sekarang adalah musim semi yang agak dingin tapi baju panjangnya tampak sudah basah. Di ujung jalan terdapat sebuah pondokan berbentuk segi enam, tempat itu berdiri di atas batu gunung. Guan Ning terus berjalan ke pondokan itu, tampak ada darah yang mengalir dari tempat itu, tidak perlu dilihat lagi di dalam pondokan itu pasti banyak mayat dan keadaan mayat-mayat itu pasti sama seperti mayatmayat yang dilihatnya tadi. Diam-diam dia berpikir, "Laki-laki berjanggut, lakilaki gemuk yang memegang pedang, pak tua, pendeta berbaju biru, biksu, semua berjumlah 10 orang, sedangkan cangkir yang ada di ruang depan berjumlah 17, berarti masih ada 7 mayat lagi yang belum kutemukan." Begitu dia melihat lagi mayat yang pertama, kecuali kaget dan takut, perasaannya bercampur dengan marah dan sedih. Siapa pun jika melihat kondisi mayat seperti itu, dia pasti akan merasa sedih. Tapi dia malah merasa mati rasakarena dia terlalu shok dan juga terlalu marah, di lain pihak dia masih bisa memikirkan tragedi berdarah ini.

14

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Menginjak tangga terakhir, dia melihat, di dalam pondokan itu ada seorang pengemis pincang berbaju compang-camping, keadaannya terbaring di atas tangga, kepala dan rambutnya yang berantakan berada di luar pondokan, darah yang keluar dari kepalanya terus mengalir ke tangga lalu menetes ke bawah. Seorang, pak tua kurus berbaju hitam berada di sisi pengemis itu, tongkatnya yang berwarna hitam mengkilat menancap sangat dalam, panjang tongkat itu ada setengah meter, papan batu dipukul hancur hingga berantakan, kelihatannya sebelum pengemis yang pincang ini mati dia menancapkan tongkatnya dengan tenaga yang sangat kuat. Tapi Guan Ning tidak memperhatikan hal ini lagi karena sorot mata tertumbuk pada sosok perempuan cantik berbaju pengantin merah, di sisi mayat perempuan ini ada seorang mayat laki-laki berbaju merah dan berumur setengah baya, di bawah sinar bulan kepala mereka pun hancur, suatu pemandangan yang begitu menyeramkan, tidak tertutup oleh ketampanan dan kecantikan pasangan pengantin ini. Guan Ning menarik nafas, Nang Er yang ada di belakangnya ikut menarik nafas tapi dia tidak bisa membedakan apa arti tarikan nafas ini? Apakah karena takut, kaget atau kemarahan yang bercampur menjadi satu?

15

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Pedang yang dipegangnya terarah ke bawah, ujung pedang mengenai papan batu yang ada di bawah dan mengeluarkan suara TANG. Matanya mengikuti ujung pedang, sorot matanya melihat mayat sepasang laki-laki dan perempuan itu, mereka mengenakan sepasang sepatu yang bertuliskan huruf 'Fu' (rejeki). Dia hampir tidak berani menggeser pandangan matanya ke atas karena sepasang kaki yang mengenakan sepatu bertuliskan huruf 'Fu' itu berdiri tegak. "Apakah di sini masih ada seseorang yang hidup?" Dengan kaku dia melangkah mundur, tapi sorot matanya pelan-pelan melihat ke atas Seseorang dengan badan kurus tinggi dan berbaju putih, menempel di tiang pondok yang berwarna merah, sepasang telapak tangannya yang kurus, kelima jarinya seperti kaitan mencengkram ke tiang itu, jari-jarinya menancap ke tiang kayu berwarna merah tapi kepalanya tertunduk dengan lemas ke sisi pundaknya. "Dia juga sudah mati," Guan Ning menarik nafas, "Hanya dia yang tidak jatuh dan roboh ke bawah." Melihat mayat yang tidak roboh itu, dia bengong dan tidak sadar sepasang sepatunya menginjak genangan darah itu. Awan menutupi sinar bulan, membuat bumi yang gelap bertambah gelap dan sedih. 16

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Sinar bintang berwarna putih, cahaya bulan putih seperti angin, hanya genangan darah di tanah.... Seharusnya genangan darah berwarna apa? Tangan Nang Er tetap memegang erat wadah tinta, sorot matanya mengikuti gerakan tuannya, dia bengong melihat mayat yang belum roboh itu, melihat baju putih yang melekat di badannya, di pinggangnya tampak tali pinggang berwarna putih terbuat dari sutra. "Mungkinkah sebelum orang ini mati dia adalah lakilaki tampan? Sayangnya kepalanya menunduk, sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya." Guan Ning pun tidak berani mendekati mayat itu untuk melihat dengan jelas seperti apa wajah laki-laki itu. Guan Ning memikirkan masalah lainnya. ".... pendeta berbaju biru, pengemis pincang, pasangan pengantin berbaju merah, ditambah dengan pelajar berbaju putih, semuanya berjumlah 15 orang, sedangkan cangkir yang ada di ruangan itu berjumlah 17.... berarti masih ada dua mayat yang belum kutemukan, apakah kedua orang itu adalah pembunuhnya? Siapakah mereka? Apakah pembunuhnya adalah tuan rumah ini? Ataukah tamu yang bertandang ke sini? Haisekarang mereka semua sudah mati, tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan ini." Dia melihat lagi keadaan sekeliling dan berpikir, "Mayat-mayat yang ada di sini pasti jago-jago dunia 17

Dewi KZ http://kangzusi.com/ persilatan, mereka mati tanpa sebab di sini, sekarang orang yang menguburkan mayat mereka saja tidak adakelak kalau aku bisa mencari tahu siapa yang telah membunuh mereka dan alasannya membunuh mereka, entah siapa yang benar dan siapa yang salah orang itu adalah orang yang kejam." Walaupun semua ini tidak ada hubungannya dengan Guan Ning tapi pemuda jujur ini merasa sangat marah, dia terus memikirkan hal yang tidak ada hubungan dengannya. Bulan semakin tinggi bayangan pondok itu semakin gelap, angin malam berhembus dari timur dan berhembus ke belakangnya, tiba-tiba Bersamaan datangnya angin itu terdengar tawa seseorang yang dingin dari tempat gelap, suara tawa ini seperti ujung jarum yang menusuk punggungnya, begitu dingin menusuk tulang, hanya dalam waktu singkat menyerang ke seluruh tubuhnya. Dia merasa kaget tiba-tiba dia membalikkan badan, dia melihat di luar pondokan di atas tangga tampak ada seorang pak tua pelan-pelan berjalan ke arahnya, pak tua itu sangat kurus seperti tiang bambu, rambutnya disanggul dan ditusuk oleh sebuah tusuk konde, tulang pipinya tinggi, wajahnya cekung ke dalam, sepasang matanya seperti mata burung elang, dia menatap lurus ke arah Guan Ning. Dalam keadaan seperti itu, sekalipun Guan Ning adalah seorang yang pemberani, di dalam hatinya tetap 18

Dewi KZ http://kangzusi.com/ terasa dingin, tanpa terasa dia mundur beberapa langkah, ujung pedangnya mengenai tanah menimbulkan suara yang tidak enak didengar bercampur dengan sebuah tawa yang seram, benarbenar sangat menusuk telinga. Pak tua kurus itu berjalan ke arahnya, tapi dari tubuh bagian atas hingga ke bawah tidak tampak ada gerakan, tubuhnya yang kurus berjalan pelan masuk ke dalam pondokan. Guan Ning berusaha menahan gejolak hatinya, dia membentak, "Siapa kau? Apakah kau yang telah membunuh mereka semua?" Sudut mulut pak tua itu tampak sedikit terangkat tampak hawa membunuh dari matanya, dia siap mencengkram ke dada Guan Ning. Tampak telapak tangannya hitam dan kering, ujung jarinya bengkok, dan kukunya yang panjang tampak menggulung menjadi lingkaran kecil, Guan Ning terkejut, tangannya sedikit terangkat, pedang diletakkan di dadanya. Pak tua itu tertawa dingin lagi. Tiba-tiba kuku yang menggulung itu secepat kilat terbuka, kukunya putih seperti giok, dingin seperti besi, juga seperti 5 pedang pendek yang sangat menyeramkan. Guan Ning kaget, dia mundur beberapa langkah, tampak sepasang tangan itu datang sangat pelan, tapi tangan ini terus mengikutinya walaupun dia berusaha 19

Dewi KZ http://kangzusi.com/ untuk menghindar, ke manapun dia menghindar jari seperti pedang itu terus mengikutinya. Saat mencekam itu, dia memikirkan semua jurus ilmu silat yang pernah dipelajarinya, tapi tidak terpikir olehnya jurus apa yang bisa menahan jurus telapak yang bergerak lambat itu. Dalam keadaan bahaya itu, tiba-tiba dia membentak, pedang panjangnya menusuk ke depan kearah pak tua yang kurus kering seperti setan itu. Tapi begitu pedang Guan Ning baru saja sampai di tengah-tengah, dia merasa badan bergetar, pergelangan tangannya terasa sakit, kemudian pedang yang dipegangnya tanpa sadar telah berpindah tangan. Pak tua yang kurus kering itu sekarang telah memegang pedangnya, hanya dengan sedikit gerakan pedang itu patah menjadi dua. Pedang patah itupun dilemparkannya ke atas dan menancap ke tiang kayu pondokan itu, hanya tersisa sedikit bagian pedang dan mengeluarkan cahaya hijau. Guan Ning selalu iri kepada para pendekar, beberapa tahun yang lalu dengan bersusah payah dia berguru pada seseorang, mempelajari ilmu pedang, dia menganggap ilmu pedangnya sudah lumayan, tapi sekarang di depan pak tua yang kurus kering itu, dia baru tahu apa yang selama ini dipelajarinya hanyalah setitik air yang ada di lautan, tidak ada satu sepersepuluh ribu dari kemampuan pak tua itu. 20

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Tapi sayang, dia terlambat mengetahuinya, sepasang tangan pak tua itu pelan-pelan mencengkramnya, walaupun dia sadar dia tidak akan bisa melawan pak tua itu, tapi dia juga tidak mau menutup mata menunggu kematiannya, karena itu dia berusaha melawan pak tua itu. Tapi sewaktu dia bersiap-siap mengeluarkan tenaganya, terdengar dari sisinya ada yang membentak, kemudian terdengar kelepak angin yang membawa bayangan seseorang lalu menyerang pak tua yang kurus kering itu. Pak tua itu tampak mengerutkan alisnya, dia seperti kaget, kemudian bayangan hitam itu disambutnya, benda yang dipegangnya terasa dingin dan basah. Dia merasa kaget, senjata rahasia jenis apakah ini? Begitu dia melihatnya, ternyata benda yang disambutnya adalah sebuah tempat tinta, dia marah, di depan mata tampak ada telapak tangan yang menyerangnya, walaupun angin yang dihasilkan telapak tangan tidak begitu kencang tapi jurus yang dikeluarkan sangat aneh, walaupun ilmu silatnya tinggi, serangan tadi tetap harus dihindari. Perubahan yang terjadi begitu tiba-tiba membuat Guan Ning juga terkejut, begitu melihat lebih jelas, dia lebih terkejut lagi karena orang yang menyerang pak tua itu dengan cepat tidak lain adalah Nang Er, yang biasa membantunya membawa buku. 21

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Begitu pak tua itu menghindar, lengan bajunya tampak melambai, dia berhasil menggetarkan orang yang menyerangnya dan orang ini terpelanting ke atas, begitu melihat orang yang menyerangnya hanya seorang bocah, dia merasa aneh dan terpaku. Serangan Nang Er sudah tergetar oleh angin dari lengan baju pak tua itu. Nang Er merasa kaget, "Ilmu silat pak tua ini benar-benar tinggi." Karena itu dia mundur beberapa langkah, setelah tubuhnya mantap dia membentak, "Siapa sebenarnya dirimu! Mengapa kau menyerang tuan mudaku?" Dia membusungkan dadanya dan berjalan ke depan pak tua itu. Nang Er tampak melotot, sikapnya yang penakut tadi sekarang sudah tidak tampak lagi. Guan Ning merasa kaget juga malu, tidak disangka bocah yang ditolongnya dari hujan salju di ibukota beberapa waktu lalu, mempunyai ilmu silat lebih tinggi darinya. Tapi Nang Er tidak pernah menonjolkan keahliannya, sedangkan dia yang baru belajar beberapa jurus ilmu pedang saja sudah menganggap dirinya seperti seorang pendekar hebat, dia merasa malu dan membuat tidak berani mengangkat kepala. Sorot mata pak tua itu melihat Guan Ning lalu melihat Nang Er, dia diam tidak bersuara. Nang Er berkata lagi, "Tuan mudaku hanya seorang pelajar, tidak ada dendam dengan kalian, mengapa kau harus membunuhnya? Umurmu sudah tua, tapi masih 22

Dewi KZ http://kangzusi.com/ ingin membunuh seorang anak muda, apakah kau tidak merasa malu?" Pak tua yang kurus kering itu tertawa dingin, dengan suara tajam dia berkata, "Jurus Long Fei Feng Wu (Naga terbang Phoenix menari) dari mana kau mempelajarinya? Ada hubungan apa antara kau dan Jin Wan Tie Chang Tu Chang?" Suaranya terdengar tajam seperti teriakan serigala. Wajah Nang Er berubah, segera dia menenangkan dirinya dan menjawab, "Kau tidak perlu menanyakan asal usul guruku, walaupun kau terus bertanya aku tidak akan mengatakannya kepadamu, yang terpenting tuan mudaku bukan orang persilatan, dia hanya sedang tamasya ke gunung ini dan tidak sengaja datang ke sini, dendam permusuhan di antara kalian tidak ada hubungannya dengan kami. Walaupun kau membunuh semua orang yang ada di sini, kami tidak akan mengatakannya kepada orang lain, kalau hari ini kau melepaskan kami, maka kami akan merasa sangat berterima kasih, kami tidak akan menutup mulut untuk masalah ini." "Bocah, kau benar-benar sangat lucu, tadinya aku tidak mau melukaimu, tetapi" kata pak tua itu sambil tertawa dingin. Telapak tangan kirinya melayang, wadah tinta yang tadi disambutnya sekarang secepat kilat meluncur ke arah Nang Er, Nang Er hanya melihat ada bayangan hitam meluncur ke arahnya tapi dia tidak sempat 23

Dewi KZ http://kangzusi.com/ menghindar lagi, wadah tinta itu tepat mengenai wajahnya. Pak tua yang kurus dan kering itu tanpa ekspresi melihat Nang Er yang berteriak kesakitan lalu pelan-pelan ambruk. "Kalian telah salah memilih tempat," kata pak tua itu. Pak tua itu melihat ke arah Guan Ning yang sudah berlari ke arah Nang Er. "Aku harus bertindak lebih sadis lagi," kata pak tua itu. Pelan-pelan dia mendekati Guan Ning, telapak tangannya yang kurus seperti cakar elang itu mulai terjulur ke depan. Guan Ning melihat Nang Er yang sedang tumbuh besar, karena dirinya Nang Er kehilangan nyawanya, dia benar-benar merasa sedih, dia berdiri dengan tatapan penuh dengan kebencian dia melihat setan kejam itu. Kalau orang itu menyerangnya dia akan melawan dengan sekuat tenaga. Begitu pak tua itu melihatnya, tampak tubuhnya bergetar, wajahnya tampak menyiratkan ketakutan, pundaknya bergoyang, lalu dia meloncat tinggi dan secepat kilat berlalu dari sana, hanya tampak baju yang dipakainya tampak berkibar, tubuhnya yang kurus seperti tiang bambu dengan cepat menghilang di dalam kegelapan malam. Guan Ning terpaku, dia tidak percaya dengan mata kepalanya sendiri walaupun dia adalah seorang yang pintar, tapi karena dia baru berkelana di dunia 24

Dewi KZ http://kangzusi.com/ persilatan dan baru bertemu dengan hal seperti itu, dia hanya bisa merasa aneh, jangankan dirinya, orang yang berpengalaman di dunia persilatanpun tidak akan mengerti apa yang telah terjadi. Dia hanya berdiri dengan terpana dan merasa aneh, lalu diapun membalikkan badannya, dia benar-benar kaget, darah yang mengalir di tubuhnya sekarang seperti berhenti mengucur. Mayat yang tadi sempat dilihatnya berdiri dengan posisi kepala menunduk, sekarang kepalanya terangkat dan telapak tangan yang menancap di tiang pondok itu sekarang secara perlahan terlepas dari tiang itu. Di dalam kegelapan tampak tulang pipi orang itu sangat tinggi, wajahnya pucat seperti ukiran giok, darah yang keluar dari rambutnya melewati alisnya yang hitam, ke kelopak mata, hidung, dan merembes masuk ke dalam janggutnya. Wajahnya tampak pucat dan wajah itu seperti diukir, baju sutranya panjang dan putih, dia tampak seperti patung orang suci. Tapi darah merah yang mengalir itu membuatnya tampak sangat menyedihkan. Mata Guan Ning membelalak sangat besar, tampak laki-laki setengah baya dan berbaju putih itu dengan perlahan membuka matanya, kemudian dia melihat ke sekelilingnya, akhirnya berhenti di tubuh Guan Ning, lalu dia berjalan menghampiri Guan Ning. 25

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Hati Guan Ning segera menciut, dia sadar kalau dia sudah masuk ke dalam lingkaran masalah yang rumit dan misterius. Apakah dia beruntung atau rugi? Walaupun belum tahu jawabannya tapi sudah tampak kalau hal ini tidak menguntungkannya, begitu tersadar dari pikirannya, tampak laki-laki berbaju putih itu sudah berjalan mendekatinya pasti ini tidak menguntungkan baginya, dia hanya bisa berdiri tanpa bergerak menanti apa yang akan menimpa dirinya. Tapi begitu laki-laki berbaju putih itu hanya tinggal 2 langkah lagi dekatnya, dia berhenti lalu menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Guan Ning merasa aneh. "Siapakah aku? Siapakah aku.... terdengar dia berkata pada dirinya sendiri. Dia menjulurkan tangannya lalu memukul kepalanya sendiri sambil terus berkata, "Siapakah aku? Siapakah aku.... Suaranya semakin membesar, akhirnya dia berlari keluar dari pondokan itu dan berlari ke tangga, masih terdengar dia terus berteriak, "Siapakah aku.... siapakah aku.... Suaranya semakin lama semakin menjauh, akhirnya lenyap ditelan kegelapan. Guan Ning yang tadinya kebingungan sekarang seperti masuk ke dalam kabut tebal dan hitam, sedikitpun tidak terpikir olehnya semua kejadian ini, 26

Dewi KZ http://kangzusi.com/ dia yang biasanya berpikiran tajam sekarang tidak bisa memikirkan apapun, dia hanya merasa sedih, menyesal, aneh, dan hatinya diliputi oleh banyak pertanyaan, semua seperti merobek perasaannya menjadi berkeping- keping. Sebenarnya apa yang terjadi di sini tidak ada hubungan dengannya sama sekali tapi sekarang malah mengubah nasibnya, saat dia menyeberangi jembatan kecil itu dia tidak menyangka akan terjadi semua peristiwa ini. Tiba-tiba Terdengar rintihan dari sisinya, segera dia membalikkan badan dan mulai mencari sumber suara itu. Nang Er tadi terjatuh di sisi pasangan suami istri berbaju merah, sekarang dia merintih wajahnya penuh dengan darah, hidungnya yang mancung sekarang berdarah dan hancur. Dia berusaha membuka matanya untuk melihat keadaan Guan Ning, dia ingin melihat apakah tuan mudanya selamat atau tidak, wajahnya berlumuran darah tapi dia tertawa senang dia merasa senang karena semua pengorbanannya tidak sia-sia. Perasaan Guan Ning dalam waktu yang singkat berubah menjadi kesedihan yang sangat dalam, dua butir air mata keluar dari sudut matanya

27

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Air mata yang dingin jatuh di wajahnya yang panas dan mengalir ke dalam hatinya yang panas. Guan Ning membiarkan air matanya terus mengalir. "Nang Er, kau.... untuk apa kau berbuat begitu baik kepadaku, sekarang bagaimana aku bisa membalas budi kepadamu?" tanya Guan Ning sambil menghapus air matanya. Senyum di wajah Nang Er belum menghilang dengan terbata-bata dia berkata, "Tuan Muda sangat baik terhadap Nang Er.... Walaupun Nang Er mati dan tidak sempat membalas budi, ini.... ini, kalau tidak ada Tuan Muda.... Nang Er dan kakak sudah mati kedinginan dan kelaparan." Dengan menahan sakit dia memutar badannya, dia merasa hatinya tenang, "Asalkan Tuan Muda bisa terus hidup, Nang Er matipun tidak apa-apa, hanya saja.... Nang Er mempunyai keinginan yang belum tercapai." Guan Ning menahan rasa sedihnya dan bertanya, "Apa yang kau khawatirkan, sekalipun itu adalah hal yang sulit.... tapi Nang Er, kau tidak perlu merasa khawatir, Nang Er tidak akan mati, kau orang baik, kalau kau mati dunia ini benar-benar tidak adil." Nang Er tertawa dan menutup matanya, kemudian dengan nada sedih dia berkata, "Kalau Nang Er mati, aku berharap Tuan Muda bisa mengurus kakakku, kakak perempuanku sangat baik, kalau Tuan Muda sudah,menikah suruhlah kakakku.... membantu istri 28

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Tuan Muda, kakakku sangat baik, tapi Nang Er sudah tidak bisa melihat kakak lagi, apakah kakak akan sedih?" Air mata Guan Ning terus menetes. Kesedihan yang sangat membuatnya tidak bisa bicara, Nang Er membuka matanya, dia mengangguk dan tersenyum, lalu dengan suara kecil dia berkata lagi, "Masih ada satu hal yang ingin Nang Er mohon kepada Tuan Muda, Nang Er berharap Tuan Muda menyetujuinya, Nang Er mempunyai.... Suaranya berhenti, walaupun tadi dia mengatakannya dengan cepat, tapi baru saja diucapkan separuh dia sudah berhenti. Mulut Nang Er masih menyunggingkan senyum, walaupun hidupnya pendek tapi begitu bercahaya dan berkilau, walaupun dia hidup sengsara tapi dia mati dengan tenang dan senang, dia tidak berhutang kepada kehidupan ini, melainkan kehidupan ini yang berhutang kepadanya.... Kehidupan. Bukankah hidup ini sering tidak adil? Dia menelungkupkan tubuh Nang Er, Guan Ning menangis dengan sedih, apa yang tersimpan di dalam hatinya keluar bersama dengan air matanya, siapa yang mengatakan hanya orang lemah yang menangis? Orang yang kuat tidak akan meneteskan air mata tapi begitu dia meneteskan air mata, air matanya lebih banyak dari pada orang lemah! 29

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Lama dia menangis, tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang, dia merasa kaget, tampak laki-laki berbaju putih tadi sudah berdiri di belakangnya,, dia masih tampak kebingungan, dia bertanya, "Siapakah aku? Apakah kau tahu?" Hatinya terasa kosong, setelah menangis sekarang Guan Ning kebingungan dia hanya menggelengkan kepala, "Siapa dirimu, aku tidak tahu, siapapun dirimu, apakah ada hubungannya denganku?" Laki-laki setengah baya yang mengenakan baju putih itu terpaku lalu mengangguk, "Aku tidak berhutang denganmu, kalau begitu semua ini berhubungan dengan siapa?" tanyanya. "Ada hubungannya dengan siapa? Kau kepadaku, aku pun tidak tahu jawabannya." tanya

Tiba-tiba laki-laki itu mencengkram leher Guan Ning dari bawah dan berteriak, "Kau tidak tahu, akupun tidak tahu, lalu siapa yang tahu? Di sini hanya ada orang mati, kalau aku tidak bertanya kepadamu apa aku harus bertanya kepada orang-orang mati itu?" Pundak Guan Ning yang dicengkram terasa sakit menusuk hingga ke tulang, dia memberontak dan melepaskan diri dari cengkrarnan itu, tapi tangan lakilaki berbaju putih itu seperti terbuat dari besi. Walaupun sudah mengerahkan seluruh kekuatannya tetap saja Guan Ning tidak bisa lepas, dia marah dan membentak, "Siapa dirimupun, kau tidak tahu, untuk 30

Dewi KZ http://kangzusi.com/ apa kau masih terus hidup di dunia ini? Lebih baik kau mati saja!" Kedua alis laki-laki berbaju putih itu tampak berkerut, dia menunduk dan berkata, "Siapa diriku, akupun tidak tahu, untuk apa aku hidup di dunia ini?" Tiba-tiba dia melepaskan tangannya, Guan Ning didudukkannya di bawah, "Benar,benar, lebih baik aku mati saja!" Begitu dia membalikkan badan dia melihat tongkat besi yang menancap di tanah, dia berlari menghampiri tongkat itu lalu dicabutnya dan dia berlari ke depan Guan Ning, diberikannya tongkat itu kepada Guan Ning, "Mohon Tuan memukulku dengan tongkat ini ke kepalaku hingga aku mati!" Lalu diberikannya tongkat itu, badannya bergerak secepat setan, Guan Ning merasa sedih mendengar kata-kata laki-laki itu, dia hanya terpaku dan berpikir, "Apakah orang ini sudah gila? Mengapa di dunia ini ada orang yang tidak tahu siapa dirinya? Kalau dia gila dia tidak akan berkata seperti itu." Laki-laki setengah baya itu menunggu dengan lama, dia melihat Guan Ning masih menunduk dan sedang berpikir. "Walaupun tongkat ini sangat berat, tapi kau mempunyai tenaga 2000-3000 kg untuk mengangkatnya, karena itu aku yakin kalau Tuan bisa mengangkatnya, mohon Tuan segera bertindak!" 31

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Dia memberikan tongkat itu dengan kedua tangannya, segera Guan Ning menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa membunuh orang, kalau Tuan benar-benar ingin mati, lebih baik lakukan sendiri!" Laki-laki itu melotot dan tampak dia sangat marah, "Kau menyuruhku mati tapi kau sendiri tidak mau membunuhku, apakah aku harus membunuh diriku sendiri? Orang sepertimu begitu plin plan, lebih baik aku yang membunuhmu!" Guan Ning berpikir, "Tadi aku hanya memberontak sedikit tapi dia sudah bisa menebak kekuatanku, berarti dia bukan orang gila!" Dia berpikir lagi, "Orang ini ingin aku membunuhnya, pasti dia sedang berpura-pura, ilmu silatnya begitu tinggi, mana mungkin dia akan membiarkan ku tanpa alasan membunuhnya?" Terpikirkan hal ini dengan dingin Guan Ning berkata, "Kalau Tuan benar-benar ingin mati, aku akan melakukannya untuk Tuan." Guan Ning merebut tongkat hitam itu dan mengangkat tinggi-tinggi, sewaktu dia bersiap memukul laki-laki itu, dia melihat laki-laki itu memejamkan matanya, seakan-akan menunggu maut menjemputnya, tongkat yang sudah terangkat tidak bisa diturunkan lagi.

32

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Pikiran Guan Ning seperti gelombang air, dia berpikir banyak untuk persoalan ini. Tongkat hitam masih terangkat tinggi-tinggi, dia berpikir, "Sewaktu kecil aku pernah membaca sebuah buku rahasia, di dalam buku itu tertulis seorang manusia normal karena shok berat terkadang dia akan melupakan semua peristiwa yang berhubungan dengannya, semua berusaha dilupakannya" Dengan pelan dia memperhatikan kepala laki-laki yang tampak terpelajar itu, tampak di kepalanya ada bekas luka, itu adalah bekas luka yang dipukul dengan tenaga besar. Guan Ning berpikir lagi, "Mungkin karena luka berat itu maka membuatnya melupakan siapa diri yang sebenarnya. Sepertinya dia bukan sengaja mempermainkanku, tapi dia benar-benar ingin mati." Tampak wajah pelajar itu kebingungan, seperti hidup tidak mau mati pun segan, semua * tidak ada hubungan dengan Guan Ning. Guan Ning menarik nafas dan berpikir, "Pak tua kurus tadi ilmu silatnya tinggi, buat orang lain tidak akan mempercayainya, saat dia melihat si baju putih dia langsung ketakutan dan melarikan diri, artinya lakilaki setengah baya ini adalah orang penting di dunia persilatan, hidupnya pasti penuh dengan prestasi, semua pasti didapatkan dengan usaha kerasnya dengan keadaan seperti sekarang apapun tidak akan diingatnya, sampai-sampai namanya sendiripun tidak ingat. Tentunya hal ini sangat menyedihkan untuknya, suatu waktu bila hal ini terjadi padaku, mungkin 33

Dewi KZ http://kangzusi.com/ akupun akan rela membiarkan orang lain memukulku hingga mati." Terpikir sampai di sana tiba-tiba dia merasa kasihan kepada laki-laki berbaju putih itu, tongkat besi hitam itupun diturunkannya. Tiba-tiba laki-laki itu membuka matanya dia melihat Guan Ning sedang bengong melihatnya, dia marah dan berteriak, "Untuk apa kau terus melihatku? Cepat bunuh aku!" Guan Ning menarik nafas, "Walaupun nyawa bukan masalah yang penting dan berharga di dunia ini tapi untuk apa menyia- nyiakan nyawamu begitu saja?" Laki-laki itu menarik nafas, "Aku sudah bosan dengan hidup, aku hanya ingin mati "Alisnya berkerut dan dia mulai marah lagi, "Kau sangat aneh tadi kau menyuruhku mati sekarang kau menyuruhku jangan menyia-nyiakan hidup, apakah hidup dan matiku diatur olehmu?" Guan Ning berpikir diam-diam, "Dia masih , ingat dengan kata-kataku tadi, walaupun sekarang pikirannya belum normal tapi belum mencapai tahap yang tidak bisa diobati, ilmu silatnya membuktikan kalau dia bukan orang yang tidak bernama, p 1 banyak orang yang mengenalnya, kalau aku bisa mengetahui masa lalunya, aku bisa membantunya memulihkan ingatannya."

34

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Guan Ning sudah mengambil keputusan, dia akan membantu laki-laki ini, seseorang karena ingin membantu kesulitan orang lain, dia malah bisa melupakan kesulitan dan kesedihannya sendiri. "Walaupun aku hanya seorang yang sederhana, tapi aku mengerti keadaan Tuan sekarang, kalau Tuan mempercayaiku, dalam waktu satu tahun aku akan membantu Tuan mengembalikan ingatan" Laki-laki berbaju putih itu tampak berpikir dan berkata, "Apakah kau bersungguh- sungguh?" Guan Ning membusungkan dadanya, "Walaupun kita belum kenal tidak ada alasan bagiku untuk berbohong, tapi kalau Tuan tidak percaya, apa boleh buat aku tidak akan memaksa, tapi kalau Tuan memaksaku untuk membunuh Tuan, aku tidak sanggup melakukannya." Tongkat besi yang dipegangnya dilemparkannya jauh-jauh, dia berjalan menghampiri tubuh Nang Er yang sudah mulai membeku, dia tidak peduli kepada laki-laki berbaju putih itu lagi. Laki-laki berbaju putih itu menundukkan kepalanya, dia terus melihat ke bawah, tidak bergerak sama sekali, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Guan Ning menggendong mayat Nang Er. Setengah hari yang lalu anak ini masih penuh semangat, tapi sekarang sudah menjadi mayat yang dingin. Guan Ning benar-benar marah juga sedih, dia membalikkan badan menuruni tangga. 35

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Di pekarangan suasana sepi juga menyedihkan, bintang di langit terus berkurang, bulan mulai tenggelam, Guan Ning menarik nafas dengan berat, mayat Nang Er diletakkannya di bawah, dengan bantuan beberapa ranting, Guan Ning mulai menggali lubang, dia ingin menguburkan Nang Er dengan cara sederhana, tanah di sana memang tidak keras tapi ranting-ranting pohon itu sangat rapuh. Beberapa kali dia mencoba menggali ranting itu selalu patah, terpaksa dia menurunkan sarung pedangnya dan mulai menggali lagi. Tiba-tiba di belakangnya ada yang berkata, "Tidakkah caranya terlalu sulit?" Ternyata laki- laki berbaju putih itu sudah ada di belakangnya. Dia mengambil sarung pedang yang ada di tangan Guan Ning lalu membantunya menggali, tanah tergali cukup banyak, hanya dalam waktu singkat tanah itu sudah tergali. Guan Ning diam-diam berpikir, "Ilmu silat orang ini kemanpuannya benar-benar tidak terukur, tapi siapakah dia? Siapa yang telah memukulnya hingga terluka parahluka yang ada di puluhan mayat itu semuanya sama. Siapakah yang dalam waktu yang begitu pendek bisa membunuh orang-orang itu? Benarbenar tidak terbayangkan olehku dan orang-orang itu datang kemari dan dalam waktu bersamaan dibunuh, di antara mereka pasti ada hubungannya dengan hal-hal misterius ini. Siapakah dia? Siapakah orang-orang yang telah mati itu? Rumah ini berdiri di tempat yang begitu 36

Dewi KZ http://kangzusi.com/ terpencil, tuan rumahnya pasti bukan orang biasa. Siapakah tuan rumahnya? Apakah dia ada di antara mayat-mayat itu? Apakah tamu-tamu itu memang sengaja diundang oleh tuan rumah dan bersama-sama datang kemari? Ada 17 cangkir teh, sedangkan mayat yang kuhitung hanya ada 15, kemanakah dua orang lagi? Jika aku bisa menemukan dua orang ini, mungkin aku bisa mengetahui apa yang telah terjadi di sini, tapi sekarang aku tidak tahu siapa kedua orang itu? Orang yang ada di sini semua sudah menjadi mayat. Keadaan pelajar berbaju putih ini juga tidak bisa diharapkan. Haiapakah masalah ini selamanya tidak akan bisa terungkap? Apakah orang-orang yang sudah dibunuh itu hanya akan terkubur begitu saja di dalam tanah?" Guan Ning terus memikirkan pertanyaan- pertanyaan itu. Semakin dipikir semakin kacau, semakin tidak bisa dijelaskandi sebelah sana tampak pelajar berbaju putih sudah selesai menggali lubang, dengan dingin dia melihat Guan Ning. Guan Ning menarik nafas lagi. Mayat Nang Er dikuburkannya, kemudian dia membakar puisi-puisi yang dibuatnya tadi pagi. Abu kertas berjatuhan di atas jenasah Nang Er. Tiba-tiba dia merasa sangat benci kepada puisi-puisi yang tersimpan di dalam tas, saat menurunkan tas itu, air matanya mengalir lagi. Bersujud di undakan tanah yang agak tinggi, dengan sedih dia melihat gundukan tanah itu, diam-diam dia bersumpah kalau dia akan terus mencari pembunuh 37

Dewi KZ http://kangzusi.com/ yang telah membunuh Nang Er dan membalaskan dendamnya. Walaupun ilmu silatnya berada di bawah pak tua yang kurus kering dan misterius itu, tapi tekadnya sangat kuat dan keras, semua masalah akan menjadi mudah kalau seorang manusia sudah bertekad keras. Pelajar berbaju putih itu dengan diam berdiri di sisi Guan Ning, wajahnya tampak sedih, begitu Guan Ning berdiri, dengan suara berbisik dia berkata, "Sekarang kemana kita akan pergi?" Kaki Guan Ning dengan berat berjalan, dia berjalan keluar dari semak-semak, dia juga tahu maksud lakilaki ini bertanya, yang pasti laki- laki itu akan mengikuti dirinya, mencari tahu pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Sekarang mereka akan ke mana, dia sendiripun tidak tahu. Setelah keluar dari semak-semak, di ufuk timur mulai tampak cahaya terang, mengusir kegelapan yang pekat, membuat pekarangan yang gelap itu mulai tampak sedikit terang, angin subuh terasa lebih dingin dan meniup ke tubuhnya. Di jalanan kecil berwarna putih dan berliku tampak banyak mayat yang bergelimpangan, situasi ini terasa lebih mencekam dan dingin. Dia hanya diam berdiri, dia ingin membuat otaknya yang kacau itu sedikit sadar dan dia membalikkan

38

Dewi KZ http://kangzusi.com/ kepala bertanya, "Apakah Tuan mengenali mayat-mayat ini?" Suara Guan Ning berhenti, dia melihat pelajar berbaju putih itu tampak bingung dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingat." "Walau bagaimanapun kita tidak bisa membiarkan mayat-mayat ini terjemur matahari dan terkena hujan, kalau keluarga mereka tahu bagaimana cara mati mereka, tentunya mereka akan sedih, sayangnya, aku tidak tahu nama mereka, kalau tidak aku akan memberitahukan kepada mereka, mereka akan ke sini untuk mengambil mayat-mayat ini," kata Guan Ning sambil menarik nafas. Nada suara Guan Ning terdengar sedih. Pelajar berbaju putih terpaku, dia menundukkan kepala dan bicara kepada dirinya sendiri, "Siapakah keluargaku? Aku tidak tahu apakah aku masih mempunyai keluarga atau tidak." Mereka terdiam dan hanya saling memandang, matahari mulai muncul dari ufuk timur. Guan Ning tampak sedang menggotong mayat-mayat itu, benda-benda yang tertinggal di balik baju mereja dikeluarkannya lalu dibungkus dengan sobekan kain dari baju mereka, walaupun itu hanya barang-barang tidak berharga tapi untuk keluarga mereka tentunya benda-benda ini sangat besar artinya. Guan Ning berharap suatu hari dia bisa mengantarkan benda39

Dewi KZ http://kangzusi.com/ benda ini kepada keluarga mereka. Karena dia tahu hal kecil seperti ini sangat menghibur keluarga yang ditinggalkan. Ilmu silat pelajar berbaju putih ternyata betul sangat tinggi, dia membantu Guan Ning menguburkan mayatmayat itu, sampai tampak matahari mulai tenggelam di barat, menandakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan sangat berat. > Walaupun mereka menguburkan mayat- mayat itu tapi Guan Ning dan pelajar berbaju putih tidak tahu siapa saja nama-nama mereka, dan hal ini sangat menyedihkan. Mereka diam tanpa berkata-kata karena merasa sangat sedih, tapi hubungan mereka sekarang terasa lebih dekat, walaupun hanya sekedar bertukar pandang tapi mereka mulai saling mengerti. Persahabatan di antara mereka mulai tumbuh! Mereka tidak sengaja menginjak genangan darah yang terdapat di jalan kecil itu, mereka kembali ke ruangan besar yang ada di depan Begitu melihat keadaan di sana, hati Guan Ning terasa dingin, karena kaget dia sampai tidak bisa bicara. Laki-laki berbaju putih itu tampak bingung melihat sorot mata Guan Ning, Guan Ning melihat kursi dan meja sudah tersusun rapi, lukisan terpasang di dinding, pintu ruangan setengah terbuka, kertas jendela 40

Dewi KZ http://kangzusi.com/ berwarna kuning muda, tidak tampak ada keanehan, laki- laki berbaju putih itu merasa aneh melihat Guan Ning hanya diam membeku. Karena sekarang dia kehilangan ingatan, kalau dia masih ingat dengan peristiwa yang dulu tentunya diapun akan merasa lebih kaget lagi dibandingkan dengan Guan Ning. Ternyata benda-benda yang ada di atas meja yang,pertama kali dilihat oleh Guan Ning sudah tidak ada, begitu pula dengan 17 cangkir teh. Hati Guan Ning diliputi olefa banyak pertanyaan, dia hanya berdiri dengan diam dan bengong melihat semua yang terjadi di ruangan itu. Lalu dia berpikir, "Siapa yang telah mengambil cangkir-cangkir itu? Mengapa orang itu mengambilnya? Apakah di dalam cangkir teh itu tersimpan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?" Pertanyaan itu terus berkutat di otaknya, Guan Ning sadar dengan cara apapun dia berusaha mencari jawabannya, tetap tidak akan mendapatkannya. Karena itu dia berjalan keluar dari ruangan itu. Di dalam ruangan itu tampak ada mayat, Guan Ning melihat laki-laki itu dan mereka tertawa kecut, kemudian merekapun memindahkan mayat-mayat itu ke kamar kosong. Guan Ning berkata dengan suara kecil, "Apakah di kamar lain ada orangnya?" 41

Dewi KZ http://kangzusi.com/ "Tadi aku sudah memeriksa kamar-kamar yang ada di sini, selain kita tidak ada orang lain lagi," jawab lakilaki itu. Harapan Guan Ning pupus lagi. Keluar dari pintu bercap hitam, Guan Ning melihat ke sekelilingnya. Tampak padi yang baru ditanam dan keadaannya masih tetap seperti tadi hanya saja orang yang telah menanam padi itu tidak bisa menunggu padinya bertumbuh. Tiba-tiba terdengar suara jernih mengikuti arah angin, mereka berdua terkejut dan segera menaiki tangga untuk melihat, tampak di seberang jurang berdiri seorang gadis berbaju hijau, tangan kirinya memegang sebuah lonceng sebesar kepalan tangan, dia terus menggoyang- goyangkan lonceng itu, tangan kanannya membereskan rambutnya yang berantakan, matanya terus melihat atap rumah ini. "Aneh, mengapa lampu-lampu yang telah terbakar masih terpasang di tempat yang sama, bukankah pelayan-pelayan yang ada di sini semua sudah mati?" tanya gadis itu penuh dengan kecurigaan. Di bawah sinar matahari tampak rambut gadis itu panjang, dan kecantikannya seperti bunga, pinggang yang kecil, hanya selebar dua telapak tangan orang dewasa, suaranya merdu seperti kicauan burung nuri, sangat enak didengar.

42

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Melihat keadaan itu, Guan Ning merasa terkejut, dalam waktu satu malam dia selalu menemukan hal misterius, kejam, dan menyedihkan, sekarang dia melihat seorang gadis muncul di gunung terpencil seperti ini, apakah dia harus merasa kaget atau aneh? Tapi wajah laki-laki berbaju putih itu tampak biasabiasa saja, setelah mengalami goncangan berat dan kehilangan ingatan, perubahan perasaan yang terjadi pada dirinya tidak sama seperti orang lain. Segera Guan Ning berlari ke jembatan dan ingin bertanya pada gadis berbaju hijau, dia ingin menanyakan dari mana datangnya gadis itu. Baru saja dia berjalan, tampak gadis itu mulai menyeberangi jembatan kecil itu, dan dia sudah berada di depan Guan Ning, dia menggoyangkan lonceng emasnya dan berkata, "Minggir kau!" Lebar jembatan itu hanya 1 kaki lebih, di bawah jembatan adalah jurang terjal, tidak ada tempat untuk dua orang. Guan Ning terpaku, "Mengapa gadis ini begitu galak? Aku lebih dulu menyeberang, seharusnya aku yang lewat dulu, mengapa sekarang dia menyuruhku minggir, apakah dia adalah tuan rumah itu?" Tampak gadis itu mulai marah, "Apakah kau tuli? Aku menyuruhmu minggir!" Gadis berbaju hijau itu menunjuk Guan Ning dengan jarinya yang lentik, "Mundur kembali ke tempatmu 43

Dewi KZ http://kangzusi.com/ tadikau sudah dewasa, apakah kau tidak mengerti dengan aturan ini?" Guan Ning terpaku, dalam hati dia berpikir, "Gadis ini begitu cantik, tapi sekali bicara sangat galak dan tidak masuk akal." Guan Ning merasa sangat marah, dia ingin balas membantak, tapi jari gadis itu telah menunjuk hidungnya. Dia lahir dari keluarga pelajar, seumur hidupnya kecuali keluarganya, belum pernah dia bicara dengan perempuan, sekarang ada gadis di hadapannya, dia mencium bau harum seorang gadis, walaupun dia marah tapi dia berpikir, "Untuk apa aku ribut dengan perempuan ini?" Pelan-pelan dia membalikkan badan dan berjalan ke tempatnya tadi, tampak laki-laki berbaju putih itu seperti sedang menertawakan dirinya. Gadis berbaju hijau itu tersenyum, dari sorot matanya tampak kalau dia merasa senang, satu tangannya menggoyangkan lonceng, lalu dia berkata, "Apakah orang-orang yang ada di sini tuli semua? Mendengar suara lonceng ini tidak seorangpun yang menyambut Shen Jian Niang Niang (Nyonya berpedang sakti)?" Guan Ning berpikir, "Siapa yang disebut Shen Jian Niang Niang? Apakah diapun adalah orang dunia persilatan yang diundang oleh tuan rumah di sini? 44

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Mungkin karena terlambat datang ke sini dia bisa terhindar dari bencana ini?" Dia berpikir lagi, "Gadis ini pasti tahu mengapa tuan rumah ini mengundang orang- orang dunia persilatan datang ke sini, dan mungkin juga dia tahu siapa lakilaki berbaju putih itu." Terpikirkan hal ini diapun bertanya kepada gadis itu, "Yang mana Shen Jian Niang Niang? Apakah aku boleh" Ucapan Guan Ning belum selesai, gadis berbaju hijau itu suda menyela, "Siapa Shen Jian Niang Niang? Kau ternyata tidak tahu" dia menunjuk hidungnya sendiri dan berkata lagi, "Shen Jian Niang Niang berada di depanmu, aku katakan kepadamu, nona ini adalah Shen Jian Niang Niang." Guan Ning terpaku, kalau bukan karena banyak urusan mungkin sejak tadi dia sudah tertawa. Umur gadis itu paling-paling hanya 17-18 tahun, masih tampak polos, tapi dia menamakan dirinya sendiri Shen Jian Niang Niang, benar- benar kurang ajar. Tapi melihat gadis itu sangat serius, sepertinya namanya memang seperti itu, tangannya terus membunyikan lonceng, dan dia melihat laki-laki berbaju putih itu, lalu melihat Guan Ning, "Siapa kau? Cepat beritahu nyonya rumahmu, bahwa Shen Jian Niang Niang sudah datang dari Huang Shan, sengaja 45

Dewi KZ http://kangzusi.com/ datang ke sini untuk melakukan kunjungan. Tidak disangka Wisma Si Ming yang sangat terkenal tidak tahu sopan santun, menyuruh seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa menyambut kedatangan tamu." Guan Ning melihat gadis itu berdiri dengan tegak sambil menatap langit, benar-benar seperti seseorang yang sudah tua, dia ingin tertawa tapi juga ingin memarahi gadis ini, diam- diam dia berpikir lagi, "Ternyata di sini adalah wisma yang sangat terkenal di dunia persilatan, mungkin karena aku jarang berkenalan dengan orang di dunia persilatan, sampaisampai tidak tahu ada wisma yang bernama Wisma Si Ming, juga tidak mengenal ketua pemimpin wisma ini -siapakah pemimpin wisma ini?" "Siapakah nyonya wisma ini?" Guan Ning bertanya. Dia belum selesai bicara, gadis itu dengan kaget berseru, "Apa! Kau tidak mengenal suami istri pemimpin Wisma Si Ming yang berbaju merah? Sekarang aku tanya, siapa dirimu yang sebenarnya? Kau harus tahu kalau kau memasuki Wisma Si Ming tanpa ijin, kau harus siap-siap kehilangan nyawamu!" Mata Guan Ning tampak berputar dan berpikir, "Ternyata sepasang laki-laki dan perempuan berbaju merah yang cantik dan tampan itu adalah pemimpin Wisma Si Ming mereka adalah sepasang pendekar yang terkenal, tapi sayangnya mereka berdua sudah meninggal." 46

Dewi KZ http://kangzusi.com/ Sikap Guan Ning selalu kasihan kepada orang lain, walaupun dia tidak mengenal suami istri pemimpin Wisma Si Ming tapi dia tetap merasa sedih, kemudian dia berpikir, "Kelihatannya gadis ini dan pemimpin Wisma Si Ming mempunyai hubungan teman, kalau dia tahu mreka mati terbunuh, mungkin dia akan merasa sangat sedih." Guan Ning menghela nafas panjang, "Ada keperluan apa Nona mencari nyonya Wisma Si Ming? Apakah Nona dan beliau bersahabat? Tapi" ucapan Guan Ning baru separuh dikatakan, gadis itu sudah marah dan berkata, "Kau sama sekali tidak mengenal mereka tapi kau malah bertanya kepadaku ada keperluan apa mencari mereka, benar-benar tidak dewasa!" Guan Ning memandang gadis yang disebut-sebut sebagai Shen Jian Niang Niang, dia ingin marah tapi juga ingin tertawa, dia berpikir, "Gadis ini menyebut dirinya sebagai Shen Jian Niang Niang, ilmu silatnya pasti sangat tinggi, walaupun begitu tapi dia tetap seorang perempuan, melihat keadaan wisma yang penuh dengan darah dan mayat yang bertumpuk, apalagi kalau dia melihat ke pekarangan, dia akan terkejut melihat keadaan yang begitu menyeramkan." Karena itu Guan Ning berteriak, "Nona, jangan pergi dulu!" Nona berbaju hijau itu berhenti melangkah dan membalikkan badannya, dengan sepasang mata yang bening seperti air, dia menatap Guan Ning, tiba-tiba dia 47

Dewi KZ http://kangzusi.com/ maju beberapa langkah sambil menarik nafas, dia berkata, "Aku tidak mengenalmu, sejak tadi aku sudah bicara denganmu beberapa kata dan itu sudah cukup, kalau kau ingin terus bicara, awas, aku bisa membunuhmu!" Maksudnya tidak lain adalah Guan Ning hanya seorang pemuda asing baginya dia tidak mau bicara panjang lebar dengan Guan Ning. Guan Ning sebagai seorang pemuda pintar dia tahu apa yang dimaksud dengan gadis itu, Guan Ning benar-benar marah dan berpikir, "Mengapa gadis ini begitu galak? Sama sekali tidak tampak kelembutan seorang perempuan, kalau aku menikah dengan perempuan semacam ini, bisabisa hidupku akan tersiksa selamanya." "Memang kita sama sekali tidak saling kenal, dan akupun tidak bermaksud ingin bicara terus dengan Nona." Dia melihat gadis itu yang tampak sudah mengangkat alisnya, tampak dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu bisa bicara tidak sopan kepadanya. Guan Ning merasa sangat puas, dia merasa senang karena telah membalas penghinaan nona itu tadi, dengan sikap angkuh kembali dia berkata, "Nona sudah datang ke sini dengan tujuan untuk mengunjungi suami istri pemimpin Wisma Si Ming, aku akan memberi tahu kepada Nona, Nona datang terlambat" --oodwkz-lav-oo-48

Dewi KZ http://kangzusi.com/

49