Anda di halaman 1dari 3

LEMAHNYA PENEGAKKAN HUKUM LINGKUNGAN

Friday, 29 April 2011 17:01 Rizki Ardhani

Ketika kita berbicara mengenai usaha penegakkan hukum yang saat ini lagi diupayakan di Indonesia, pastinya yang akan tersirat adalah upaya penegakkan hukum terhadap perkara korupsi, pencurian, pembunuhan, penipuan dan sebagainya. Semua kejadian tersebut merupakan permasalahan klasik yang sering terjadi di negeri ini. Semua pihak bisa menjadi subjek pelaku tindak pidana. Mulai dari masyarakat umum bahkan sampai dengan aparatur negara. Lihatlah sudah berapa kasus pemidanaan yang melibatkan mereka aparatur negara. Mulai dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Kabareskrim Komjen Susno Duadji dan salah satu tokoh pesohor Sumatera Utara Syamsul Arifin. Ironisnya semua tindak pidana mereka selalu mendapatkan sorotan yang tajam. Indonesia menjadi ricuh dikarenakan tindak tanduk mereka. Semua prtaktisi menghujat dan mengkritisi kesalahan mereka. Tak menutup kemungkinan sedikit banyaknya ada yang merasa terpukul atas itu semua. Akan tetapi, pernahkah kita mendapatkan pemberitaan yang aktual mengenai permasalahan lingkungan hidup? Fokusnya terhadap kerusakkan lingkungan hidup seperti kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo dan penambangan Newmont di Teluk Buyat, Sulawesi. Melalui media masa kita hanya sekadar mengetahui suka duka mereka warga yang bertempat tinggal di daerah Sidoarjo dan Teluk Buyat Sulawesi. Kita tak pernah mendapatkan pemberitaan secara eksplisit mengapa bencana-bencana tersebut bisa terjadi. Kita juga tidak pernah mendapatkan pemberitaan yang pasti mengenai kepastian hukum atas perusakan lingkungan hidup itu. Mayarakat yang menjadi korban perusakkan lingkungan hidup tersebut banyak melakukan penuntutan hak. Ormas-ormas yang mengatasnamakan peduli lingkungan hidup melakukan orasi untuk meminta perhatian pemerintah untuk lebih tegas terhadap tindak perusakkan lingkungan hidup. Sayangnya, Indonesia belum bisa mengindahkannya. Hukum Lingkungan di Indonesia

Jika ingin menegakkan hukum khususnya terhadap permasalahan lingkungan hidup, sebisanya kita harus mengerti apa dan bagaimana hukum lingkungan tersebut. Indonesia telah mengalami beberapa amandemen terhadap peraturan konstitusi mengenai lingkungan hidup. Ini merupakan salah satu poin plus bagi pemerintah Indonesia. Berarti mereka masih memperhatikan keberadaan lingkungan hidup di Indonesia. Berlakunya UU No 32/2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bisa berlaku dikarenakan adanya ketidaknyamanan terhadap produksi industri seperti produksi limbah, yang membuat banyak masyarakat menjadi resah. Hak atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak asasi setiap Warga Negara Indonesia sebagaimana yang di amanatkan pada pasal 28H UUD 1945. Oleh karena itu sudah sepantasnya jika hukum lingkungan ini bisa bersifat holistik. Tapi yang menjadi permasalahan saat ini adalah lingkungan tidak akan pernah selesai jika tidak diimbangi dengan upaya penindakan pemidanaan secara tegas kepada pelaku perusak lingkungan hidup. Dirasakan UU No 32/2009 masih belum bisa dijadikan sebagai final solution mengingat korporasi yang ada di negeri ini masih sangat kental. Mafia pajak saja yang sudah jelas terbukti mengakibatkan kerugian besar kepada negara hanya divonis tujuh tahun penjara. Apalagi ini hanya sekadar permasalahan lingkungan hidup, yang sedikit banyaknya belum terlalu mendapat perhatian penuh dari masyarakat Indonesia.

Pidana

Biasa

atau

Luar

Biasa

??

Yoyo Darusman selaku pengamat hukum lingkungan di Tanggerang melalui Radar Banten online mengatakan penegakkan hukum pidana lingkungan di Indonesia masih lemah. Hal ini dikarenakan kultur yang berkembang pada masyarakat Indonesia dalam menyikapi perbuatan yang merusak lingkungan dianggap sebagai tindak pidana biasa. Sehingga menjadi kebiasaan bagi aparat keamanan baru akan menyikapi permasalahan tersebut ketika adanya delik aduan yang mereka pihak yang dirugikan karena rusaknya lingkungan- ajukan. Hendaknya aparat keamanan lebih bertindak tegas dan juga cekatan dalam menyikapi segala suatu hal yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Kerusakkan yang terjadi pada lingkungan hidup lebih pantas dikatakan sebagai tindak pidana luar biasa. Pelaku kerusakkan tersebut tak hanya merusak potensi lingkungan hidup tetapi turut serta menghancurkan kehidupan manusia lainnya baik dari segi finansial, kesejahteraan dan juga kesehatan. Bumi juga ikut mengalami kerugian besar. Salah satu sumber daya alamnya rusak hingga berakibat tak memiliki fungsi yang bisa di manfaatkan manusia. Eksploitasi besar-besaran terhadap lingkungan membuat ketidakberpihakkan kepada rakyat kecil. Pelanggaran-pelanggaran atas Hak Asasi Manusia (HAM) banyak terjadi. Penebangan hutan secara liar atau illegal logging juga semakin marak. Lantas, rakyat kecil-lah yang pada akhirnya menerima dampak buruk daripada itu semua. Permasalahan akan lingkungan akan terus berkembang jika saja tak ada upaya penindakan pidana secara tegas. Dalam Undang-undang Dasar 1945 sendiri, Indonesia belum mampu untuk menyuarakan mengenai lingkungan hidup secara khusus hanya sebatas pada pasal 28H saja. Permasalahan lingkungan hidup adalah suatu kasus yang sangat serius dan bahkan sangat luar biasa. Rusaknya estetika lingkungan sejatinya akan mengakibatkan kerugian yang cukup besar kepada kesejahteraan seluruh rakyat. Selama ini kasus terkait lingkungan hidup pencemaran lingkungan yang disengaja- tidak pernah mendapat perhatian yang penuh. Kalaupun ada sanksi pidana yang diberlakukan hanya sebatas pada permasalahan ganti rugi dan mendapat penginapan gratis di hotel prodeo. Singkatnya sanksi tersebut masih tidak seberapa jika dibandingkan dengan kerusakan alam yang terjadi. Belum lagi tindak pidana lingkungan hidup baru akan berlaku jika adanya perbuatan yang sengaja mengakibatkan dilampauinya baku mutu baik udara ambien, air, air laut dan bahkan terhadap perbuatan yang mengakibatkan orang luka berat atau mati. Sanksi penjara dengan masa kurungan 10 sampai dengan 15 tahun sudah sangat jelas dipaparkan dalam UU. Tetapi, sudah tak menjadi rahasia umum teori dan praktek bisa tak sejalan. Karena realitanya masih banyak kasus perusakkan lingkungan yang tak diadili dalam pengadilan. Hal ini dikarenakan minimnya alat bukti yang tidak kuat sehingga sering sekali vonis yang dibacakan oleh hakim terkesan biasa saja. Sehingga banyak sekali yang merasakan bahwa perlakuan hakim tersebut seakan memberikan gambaran masih banyak hakim yang tak mengerti tentang hukum lingkungan. Dan berakibat dengan mudahnya sang hakim memberikan sanksi yang ringan dan bahkan bisa memberikan kebebasan karena tak terbukti adanya kesalahan. Sudah sepantasnya empat upaya penegakkan hukum lingkungan di Indonesia lebih dipertegas kembali. Keempatnya adalah menegakkan dalam hal instrument administrasi, penyelesaian sengketa di luar pengadilan, instrument hukum perdata dan juga hukum pidana. Metode pemidanaan dalam hal double track system harus bisa menjadi dasar ataupun fondasi awal agar terciptanya keadilan dalam hal penegakkan masalah lingkungan hidup. Negara Indonesia adalah negara hukum (isi pasal 1 ayat 3 UUD 1945). Jangan sampai dikarenakan pemahaman akan kesadaran hukum lingkungan hidup masih sangat rendah membuat keadaan lingkungan kita semakin rusak. Sudah saatnya masyarakat Indonesia turut serta dalam hal pengawasan dan pelestarian lingkungan hidup.

Hendaknya porsi terhadap kepdulian akan lingkungan hidup sudah kita biasakan menjadi pandangan hidup sehari-hari. Hal ini untuk memacu kesadaran akan lingkungan sebagai bagian daripada hak setiap manusia yang bersifat asasi dan menerapkan segala sesuatu perbuatan ataupun kegiatan yang mengakibatkan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup sebagai salah satu bentuk kejahatan yang melanggar Hak Asasi Manusia (ekoside). Indonesia yang saat ini merupakan salah satu bagian daripada negara sedang berkembang seyogianya melakukan penyeimbangan antara sektor pembangunan sosial dan juga ekonomi. Hal ini bisa berjalan jika menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup sesuai isi pasal 33 ayat 4 UUD 1945. Semua hal tersebut akan dapat terlaksana jika saja peran serta masyarakat lebih ditingkatkan dalam hal pelestarian dan juga perlindungan terhadap lingkungan yang merupakan warisan leluhur untuk dilanjutkan oleh generasi penerus yang akan datang. Dan untuk sistem pembuktiannya sendiri mulailah menerapkan sistem pembuktian berasaskan terbalik guna menegakkan hukum lingkungan di Indonesia. Asas pencemar membayar dan juga asas tanggung jawab terhadap pencemaran lingkungan hidup (vicarius liability) juga dirasakan perlu. Setidaknya dengan berlakunya asas-asas tersebut akan membuat para pelaku pencemaran dan atau perusakkan lingkungan untuk bisa berfikir panjang sebelum bertindak.***