Anda di halaman 1dari 3

Bagram Detainee Threadment Introduction Bagram adalah fasilitas penjara yang di miliki oleh Amerika Serikat, bertempat di lapangan

udara yang dulu dibangun oleh soviet saat menginvasi Afganistan.Bagram mulai digunakan sejak tahun 2002 sebagai tempat untuk memenjarakan tawanan perang Afganistan dari invasi Amerika ke Afganistan. Bangunan yang digunakan sebagai penjara di Bagram adalah hangar yang disulap menjadi sebuah penjara besar yang bersekat-sekat. Bagram dapat disamakan dengan Abu Ghraib, dan Guantanamo Bay sebagai penjara bagi tawanan perang hasil Amerika melawan Terorisme. Tidak jauh berbeda dengan Gantanamo Bay dan Abu Ghraib, Bagram juga menyimpan sejumlah kisah kelam tentang penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi terhadap para tawanan. Selain itu sama seperti Guantanamo Bay dan Abu Ghraib Amerika berdalih bahwa para tawanan di Bagram tidak memiliki legal status sebagai tawanan perang yang dilindungi oleh Konvensi Jenewa 1949. Menurut Amerika para tawanan tersebut berstatus Unlawful Combatant, artinya mereka tidak memenuhi syarat sebagai kombatan yang dilindungi oleh hukum. Banyak dari tawanan di Bagram adalah rakyat sipil yang tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah ataupun memiliki hubungan dengan kelompok terorisme manapun. Sebagai contoh ada seorang tawanan yang hanya supir taksi yang kebetula lewat lalu ditangkap dan disiksa di Bagram. Legal Status Untuk mengetahui pelanggaran hukum humaniter yang terjadi di Bagram maka kita harus terlebih dahulu mencari tahu legal status dari para tawanan di Bagram, apakah mereka termasuk orang-orang yang dilindungi berdasarkan Konvensi Jenewa atau tidak. Para tawanan di Bagram terdiri dari milisi Taliban, Al-Qaeda dan beberapa orang warga sipil yang sebenarnya tidak tau apapun dan tidak ada hubungannya dengan perang yang dilakukan oleh Amerika. Atas dasar tersebut maka kita dapat mengkategorikan legal status dari para tawanan. Al-Qaeda : karena Al-Qaeda adalah sebuah organisasi terorisme internasional dan tidak dianggap memiliki status sebagai milisi negara manapun yang meratifikasi konvensi jenewa maka mereka tidak mendapat perlindungan dari konvensi ini Taliban : Pasal 4 ayat 1 Konvensi Jenewa III 1949 mengenai siapa-siapa saja yang dapat dikategorikan sebagai tawanan perang dan mendapatkan pelindungan dari konvensi jenewa., yang dimana didalam pasal itu dinyatakan bahwa anggota-anggota angkatan perang reguler yang tunduk pada suatu pemerintahan yang tidak diakui oleh negara penahan tetap harus dikategorikan sebagai tawanan perang dan tetap berhak mendapatkan hak sebagai tawanan perang menurut Konvensi jenewa 1949 Dalam hal ini Taliban dianggap sebagai milisi gerilyawan dari Afganistan sebagai negara yang meratifikasi konvensi jenewa.

Sipil

Dalam kasus Bagram ini status warga sipil adalah mereka di tuduh sebagai anggota dari milisi Taliban ataupun Al-Qaeda namun pada kenyataannya mereka hanyalah sipil sehingga penawanan terhadap mereka dapat dikategorikan sebagai penyanderaan yang dilarang dalam pasal 34 Konvensi Jenewa IV 1949 dan mereka harus mendapat perlindungan sesuai dengan pasal 6 Konvensi Jenewa IV 1949 .

Pelanggaran-pelanggaran terhadap konvensi Kondisi yang terjadi di Bagram -Tawanan disiksa secara fisik -Tawanan disiksa secara Mental -Tawanan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan -Ada tawanan yang terbunuh akibat penyiksaan -Terjadi perkosaan atas kehormatan pribadi, terutama perlakuan yang menghina dan merendahkan martabat tawanan -Disanderanya warga sipil Penerapan Konvensi - Bagi warga sipil yang tertangkap dapat mengajukan habeas corpus untuk meminta pembebasan dan mendapat perlindungan dari konvensi jenewa 1949. Sehingga pasal yang akan dikenakan kepada pelaku penyiksaan terhadap mereka bukan lah terdapat di Konvensi Jenewa III 1949 namun pada Konvensi Jenewa IV 1949. yakni 1. Pasal 34 tentang tidak diperbolehkannya penyanderaan terhadap warga sipil 2. Pasal 31-34 tentang tidak diperbolehkannya kekerasaan fisik, siksaan mental, pembunuhan, dan kekerasan jenis apapun terhadap protected person -Berdasarkan pada pasal 13 Konvensi Jenewa III 1949, yang menyatakan Tawanan perang harus diperlakukan dengan perikemanusiaan. dan pasal 14 Tawanan perang dalam segala keadaan berhak akan penghormatan terhadap pribadi dan martabatnya. Hal ini terkait dengan pemberlakuan yang tidak manusiawi dan penyiksaan terhadap tawanan -Selain itu berdasarkan dari pasal 17 paragraf 5 Konvensi Jenewa III 1949, yang menyatakan Penganiayaan jasmani atau rohani atau paksaan lain dalam bentuk apapun, tidak boleh dilakukan atas diri tawanan perang untuk memperoleh dari mereka keteranganketerangan jenis apapun. Tawanan perang yang menolak menjawab, tidak boleh diancam, dihina, atau dikenakan perlakuan yang tidak menyenangkan atau merugikan dalam bentuk apapun.. Hal ini terkait dengan pemaksaan yang dilakukan oleh Amerika dalam mencari informasi dari tawanan perang dengan menggunakan siksaan mental maupun fisik terhadap tawananan. -Pada pasal 4 ayat 2 Protokol Tambahan II Konvensi Jenewa 1977 dilarang adanya kekerasan terhadap jiwa, perlakuan kejam, penganiayaan, hukum kolektif, perkosaan

terhadap kehormatan pribadi terutama perlakuan yang merendahkan martabat, dan perkosaan terhadap wanita. -Mengenai tawanan yang meninggal maka harus diadakan pemeriksaan seperti tercantum dalam Pasal 121 Paragraf 1 Konvensi Jenewa III 1949 dan dijenazahnya diperlakukan sebagaimana tercantum dalam Pasal 120 Konvensi Jenewa III 1949 Kesimpulan Banyak terjadi pelanggaran terhadap hukum humaniter di penjara Bagram dengan pelanggaran-pelanggaran terhadap konvensi-konvensi, untuk itu Amerika Serikat selaku negara yang bertanggung jawab sesuai dengan Pasal 129 Konvensi Jenewa III 1949 maka diharuskan mengambil tindakan untuk mengadili para pelaku pelanggar konvensi ini terutama bagi pelanggaran-pelanggaran berat sebagai mana tercantum didalam pasal 130 Konvensi Jenewa III 1949. Maka dari itu Amerika Serikat seharusnya tidak lepas dari tanggung jawab karena sesuai dengan pasal 131 Konvensi Jenewa III 1949 tentang kewajiban tanggung jawab. Dan Amerika harus melakukan pemeriksaan sebagaimanan diperintahkan dalam pasal 132 Konvensi Jenewa 1949. Demi terciptanya suatu keadilan maka dalam kasus ini hukum harus ditegakan.