Anda di halaman 1dari 3

PIIuI-PIIII BIbIL UngguI SupI PeruI

Muy qLI, zooq


400 ekor sapi perah asal Australia masuk ke Indonesia melalui bandara Soekarno Hatta, bulan
April lalu. Sapi perah ini di import oleh perusahaan peternakan dalam negeri untuk
menanggulangi kekurangan suplai susu nasional.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi lahan yang luas untuk pengembangan peternakan sapi,
baik sapi perah ataupiun sapi potong. Namun kekayaan lahan ini tidak diimbangi dengan
kekayaan bibit sapi. Kondisi ini berdampak pada produksi nasional yang rendah sehingga negara
ini harus menanggulangi kekurangan dengan melakukan import bibit ataupun hasil produksinya
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

IrIesIen IoIsLeIn
Bibit sapi perah yang berhasil di import berjenis Friesien Holstein (FH). Sapi FH memang salah
satu jenis sapi perah yang unggul dalam menghasilkan susu. Sapi FH terkenal dengan produksi
susunya yang tinggi, bisa mencapai lebih dari 6350 kg/tahun dengan persentase kadar lemak susu
3-7. Selain itu, FH merupakan jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk
dibudidayakan di Indonesia.
Perlunya bibit sapi perah unggul dibudidayakan karena sapi perah yang ada di Indonesia masih
memiliki tingkat produksi susu yang rendah. Rata-rata produksi sapi perah di Indonesia masih
kurang dari 10 liter/hari, padahal standar normalnya seekor sapi perah dapat menghasilkan susu
sekitar 12 liter/hari. Hal ini menunjukkan bahwa sapi perah yang kita miliki masih jauh di bawah
standar normal.
Import bibit sapi perah dianggap cara yang paling tepat untuk memperbaiki kualitas produksi
yang ada saat ini. Namun, tidak sembarang import saja. Bibit sapi perah yang di import pun
harus melalui tahapan seleksi yang panjang untuk dinyatakan sebagai bibit unggul. Sistem pilah-
pilih bibit sapi perah pun dilakukan dengan ketat agar menghasilkan bibit unggul yang
diinginkan.
Selain jenisnya, yang menjadi perhatian penting dalam pilah-pilih bibit sapi perah adalah
pemilihan bibit dara (calon induk), pemilihan bibit sapi perah betina dewasa dan pemilihan bibit
pejantan.
Pemilihan bibit dara dianggap penting karena akan menentukan hasil produksi susu di masa yang
akan datang. Seekor sapi perah dara yang akan dijadian bibit unggul calon induk sebaiknya
berasal dari induk dan pejantan yang menghasilkan produksi susu tinggi.
Selain itu, perIorma atau penampilan sapi perah dara harus baik, misalnya memiliki kepala dan
leher yang sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata,
dada dalam dan pinggul lebar, jarak antara kaki depan dan kaki belakang cukup lebar.
Pertumbuhan ambing dan puting baik, jumlah puting tidak lebih dari 4 buah yang letaknya
simetris. Calon induk unggul ini tentunya memiliki tubuh yang sehat dan tidak cacat.
Memilih sapi perah betina dewasa sebagai bibit, perIormanya tidak jauh berbeda dengan
pemilihan bibit dara. Sebaiknya, bibit sapi perah betina dewasa ini sudah pernah beranak, umur
sekitar 3,5-4,5 tahun, produksi susu tinggi dan berasal dari induk dan pejantan yang memiliki
kemampuan produksi susu tinggi. Bentuk tubuhnya seperti baji, mata bercahaya, punggung
lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan dan kaki belakang cukup lebar dan kuat.
Bentuk ambing pun mendapatkan perhatian besar. Sebaiknya ambing yang dimiliki cukup besar,
pertautan pada tubuh pun cukup baik. Ambing apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu
banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari empat dan simetris, namun
tidak telalu pendek. Sebagai bibit unggul, sapi ini harus sehat dan tidak membawa penyakit
menular.
Setelah menyeleksi sapi perah betina, pemilihan bibit pejantan juga mendapatkan porsi yang
sama besar. Seekor pejantan juga menentukan peningkatan mutu genetik ternak yang
bersangkutan. Oleh sebab itu, seekor pejantan harus memenuhi kriteria sebagai pejantan unggul.
Kriteria tersebut antara lain, umur sekitar 4-5 tahun dan memiliki kesuburan tinggi. Daya
menurunkan siIat produksi susu yang tinggi wajib dinilikinya. Sama seperti betina, pejantan juga
berasal dari induk dan pejantan yang memiliki perIorma atau produksi yang tinggi.
Penampilan seekor pejantan harus baik, besar badan yang dimilikinya harus sesuai dengan umur.
Pejantan unggul juga mempunyai siIat-siIat pejantan yang baik. Secara Iisik, pejantan memiliki
tubuh yang kuat, muka sedikit panjang, kepala lebar, leher besar, punggung kuat, pinggang lebar,
pundak sedikit tajam dan lebar. Paha yang dimilikinya rata dan cukup terpisah, dada lebar dan
jarak antar tulang rusuk cukup lebar. Badan panjang, dada dalam, lingkar perut dan lingkar dada
besar. Pejantan tentu saja harus sehat dan bebas dari penyakit menular dan pastinya tidak
menurunkan cacat pada keturunannya.
Sebaik apapun perIorma yang diperoleh dalam pemilihan, hasil produksi yang dihasilkan juga
ditentukan oleh Iaktor lingkungan. Pemeliharaan bibit sapi perah menjadi salah satu kunci
keberhasilan dalam budidaya. Bibit sapi perah yang baru datang sebaiknya dikarantina agar
mencegah penularan penyakit. Ketersediaan sarana dan prasarana yang baik menjadi perhatian
penting dalam proses budidaya. Kebersihan kadang dan kesehatan ternak harus terus dijaga.
Peternak pun harus selalu memberikan pakan yang cukup dan berkualitas, air minum bersih
harus tersedia setiap saat. (*berbagai sumber)
Asal dan 1enis Bangsa Sapi Perah
Negara Eropa (Skotlandia, Denmark, Inggris, Perancis, Belanda dan Switzerland), Italia,
Amerika, Australia, AIrika dan Asia (India dan Pakistan) merupakan sentra peternakan sapi
perah di dunia. Maka tidak heran bila banyak negara berusaha mengimport dan
membudidayakan bibit unggul sapi perah dari negara tersebut.
Bicara tentang bibit unggul sapi perah, selain Friesien Holstein, banyak jenis sapi perah lain yang
terkenal dengan produksi susu yang tinggi. Misalnya, sapi perah jenis Shorhorn yang berasal dari
Inggris, sapi perah jenis Brown Swiss dari Switzerland, sapi perah jenis Red Danish dari
Denmark, sapi perah jenis Droughtmaster dari Australia dan tidak ketinggalan sapi perah jenis
Jersey dari selat Channel, antara Inggris dan Perancis.
(hLLp//wwwgooglecold/lmgres?lmgurlhLLp//roLllslcoklaLdagdlgdugcom/flles/2009/03/sapl
perah[pglmgrefurlhLLp//roLllslcoklaLdagdlgdugcom/2009/03/09/pllahplllhblblLunggulsapl
perah/usg__vPCy48xeCoxPu3lWMkLlLuknAh89w129sz4hlldsLarL3zoom1lLbs
1Lbnldlzf8u2yuuASuzMLbnh63Lbnw91prev/lmages3lq3usapl28perah28lP26hl
3uld26blw3u102426blh3u30926gbv3u226Lbs3ulsch1eluPZe1?z_C8[kcLCPlMu!)
18 feb 2011