Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu proses kelahiran atau dalam istilah medis dikenal dengan partus ditandai dengan
pecahnya lapisan ketuban dan mengakibatkan mengalirnya cairan ketuban (cairan amnion)
melalui vagina.Dan biasanya pecahnya lapisan ketuban adalah normal jika pada kelahiran aterm
atau masa gestasi ~ 37 minggu, dan itu merupakan tanda awal dari persalinan.
Tetapi jika ketuban pecah sebelum waktunya atau biasa disebut ketuban pecah dini
(KPD) merupakan masalah penting dalam bidang obstetric berkaitan dengan penyulit kelahiran
premature dan terjadinya inIeksi korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas
dan mortilitas perinatal dan menyebabkan inIeksi ibu.
Ketuban pecah dini atau premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya
selaput ketuban sebelum adanya tanda tanda persalinan, jika ketuban pecah sebelum umur
kehamilan mencapai 37 minggu.
Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai PROM, bagaimana terjadinya dan
mengetahui penanganan yang dapat diberikan kepada ibu maupun terhadap janin yang
dikandung.





1.2 Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu sebagai berikut :
a.) Memenuhi tugas Problem Based Learning dalam blok 25
b.) Mengetahui apa yang dimaksud dengan ketuban pecah dini (KPD)
c.) Mengenal berbagai penyebab yang dapat mengakibatkan KPD
d.) Memahami bagaimana timbulnya KPD pada ibu hamil
e.) Mengetahui berbagai penatalaksanaan untuk janin dan ibunya













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anamnesis
Dalam anamnesis pada bidang obstetric dan ginekologi perlu ditanyakan hal hal berikut
- Identitas pasien (nama, umur, pekerjaan dsb)
- Keluhan utama pasien
Contoh pada kasus : 'keluhan keluar cairan banyak dari vagina sejak 8 jam yang lalu
disertai nyeri perut dan pinggang bawah
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat antenatal care
Pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalisasikan kesehatan mental dan Iisik ibu
hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, niIas, persiapan memberikan ASI
dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar
- Riwayat penyakit dahulu
- Riwayat penyakit keluarga
- Riwayat obstetric (keadaan kehamilan, persalinan, keguguran, dan niIas)
- Riwayat haid
- Riwayat perkawinan

2.2 Pemeriksaan Fisik
a.) Status Generalis
- Keadaan umum
- Kesadaran (compos mentis, somnolen, delirium)
- Tanda tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, Irekuensi pernapasan)
- Berat dan tinggi badan

b.) Status Obstetrik
- Inspeksi : Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina,
bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan
lebih jelas.

- Palpasi (Pemeriksaan Leopold)
Leopold I
Mengetahui letak presentasi kepala dan bokong, dengan kedua tangan tentukan tinggi
Iundus
- Pasien tidur telentang dengan lutut ditekuk
- menghadap ke kepala pasien gunakan ujung jari kedua tangan untuk mempalpasi Iundus
uteri.
- apabila kepala janin teraba di bagian Iundus, yang akan teraba adalah keras, bulat dan
mudah digerakkan dan 'ballotable.
- apabila bokong janin teraba di bagian Iundus, yang akan terasa adalah lembut, tidak
beraturan, tidak rata, melingkar dan sulit digerakkan.

Leopold II
Maneuver ini untuk mengidentiIikasi hubungan bagian tubuh janin ke depan, belakang
atau sisi pelvis ibu, untuk menentukan dimana letak punggung janin
- menghadap ke kepala pasien, letakkan kedua tangan pada kedua sisi abdomen,
pertahankan uterus dengan tangan yang satu dan palpasi sisi lain untuk menentukan
lokasi punggung janin.
- bagian punggung akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan. bagian-
bagian kecil (tangan dan kaki) akan teraba kecil, bentuk / posisi tidak jelas dan menonjol,
dan mungkin bisa bergerak pasiI atau aktiI.
Leopold III
Maneuver ini mengidentiIikasikan bagian janin yang paling dekat dengan serviks, untuk
menentukan apa yang menjadi bagian bawah (kepala atau bokong), dan mengetahui
apakah kepala sudah masuk pintu atas panggul atau tidak.
- letakkan tiga ujung jari kedua tangan pada kedua sisi abdomen pasien tepat diantara
simphisis dan minta pasien untuk menarik naIas dan menghembuskannya. Pada saat
pasien menghembuskan naIas, tekan jari tangan ke bawah secara perlahan dan dalam di
sekitar bagian presentasi.
- bagian bawah coba digoyangkan, apabila masih bisa, berarti bagian tersebut belum
terpegang oleh panggul (bagian terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul)
Leopold IV (hanya pada presentasi kepala)
Maneuver ini mengidentiIikasi bagian terbesar dari ujung kepala janin yang sudah masuk
ke dalam panggul
- menghadap ke kaki pasien. Secara perlahan gerakkan jari tangan ke sisi bawah abdomen
ke arah pelvis hingga ujung jari salah satu tangan menyentuh tulang terakhir. Inilah ujung
kepala
- Bila posisi tangan konvergen, berarti baru sebagian kecil masuk panggul
- Bila posisi tangan sejajar, berarti separuh dari kepala masuk ke dalam rongga panggul
- Bila posisi tangan divergen, berarti sebagian besar kepala sudah masuk panggul
http://www.lenterabiru.com/2010/02/pemeriksaan-leopold.htm
- Auskultasi
Pemeriksaan ini dengan mendengarkan bunyi jantung janin dengan menggunakan
stetoskop atau dapat juga dengan menggunakan fetal heart detector (Doppler). Berguna
untuk mengetahui apakah denyut jantung janin normal dan teratur atau tidak. Caranya
dengan menghitung denyut jantung janin 5 detik pertama lalu istirahat 5 detik kemudian,
lakukan hal yang sama sampai 3 kali penghitungan. Setelah itu hasil denyut jantung janin
dikali 4.

3. Pemeriksaan dengan spekulum.
pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari oriIisium uteri
eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, Iundus uteri ditekan, penderita diminta
batuk, megejan atau megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan
tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada Iornik anterior.

4. Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan
dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang
belum dalam persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu
pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan Ilora
vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan
dalam vagina hanya diulakaukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan
induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.



2.3 Pemeriksaan Penunjang
a.) Pemeriksaan laboraturium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya. Cairan
yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret vagina. Sekret
vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning.
- Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan inIeksi
vagina dapat mengahsilakan tes yang positiI palsu.
- Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan
dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
b.) Pemeriksaan ultrasonograIi (USG)
pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri. Pada
kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering terjadi kesalahan pada
penderita oligohidromnion.
(10,12)

Gambar 1.1 Gambaran USG




2.4 Working Diagnosis (Ketuban Pecah Dini)

a.) DeIinisi
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda mulai
persalinan dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu. Ketuban pecah dini merupakan
pecahnya selaput janin sebelum proses persalinan dimulai.
- KPD saat preterm adalah KPD pada usia kehamilan 37 minggu
- KPD memanjang merupakan KPD selama ~24 jam yang berhubungan dengan
peningkatan risiko inIeksi intra-amnion
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban
pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya
tekanan intra uterin atau oleh kedua Iaktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran
disebabkan adanya inIeksi yang dapat berasal dari vagina serviks.
Ketuban pecah dini atau spontaneous/ early/ premature rupture of the membrane (PROM)
adalah pecahnya ketuban sebelum partu : yaitu bila pembukaan pada primigravida dari 3 cm dan
pada multipara kurang dari 5 cm.


Gambar 1.2 Ketuban Pecah


b.) Etiologi
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun penyebabnya masih belum diketahui
dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan Iaktor-Iaktor
yang berhubungan erat dengan KPD, namun Iaktor-Iaktor mana yang lebih berperan sulit
diketahui. Kemungkinan yang menjadi Iaktor predesposisi adalah:

1. InIeksi
InIeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari
vagina atau inIeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena
kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi
uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa ahli disepakati
sebagai Iaktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat
misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis
menyebabakan terjadinya KPD karena biasanya disertai inIeksi.
4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah yang
menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah.
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Faktor lain
6.1.Faktor golongan darah
6.2.Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat menimbulkan
kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit ketuban.
6.3.Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
6.4.Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
6.5.DeIisiesnsi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).


c.) Epidemiologi
Insidensi ketuban pecah dini lebih kurang 10 dari semua kehamilan. Pada kehamilan
aterm insidensinya bervariasi 6-19. Sedangkan pada kehamilan preterm insidensinya 2 dari
semua kehamilan. Hampir semua KPD pada kehamilan preterm akan lahir sebelum aterm atau
persalinan akan terjadi dalam satu minggu setelah selaput ketuban pecah. Sekitar 85 morbiditas
dan mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas. Ketuban pecah dini berhubungan dengan
penyebab kejadian prematuritas dengan insidensi 30-40. Neonatologis dan ahli obstetri harus
bekerja sebagai tim untuk memastikan perawatan yang optimal untuk ibu dan janin.
http://belibis-a17.com/2009/08/28/penatalaksanaan-kpd-preterm/
d.) Faktor Resiko
Beberapa Iaktor risiko yang memicu terjadinya ketuban pecah dini ialah :
1. Kehamilan multiple : kembar dua ( 50) , kembar tiga ( 90 )
2. Riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2-4x
3. Tindakan segama : tidak berpengaruh kepada risiko, kecuali jika hygiene buruk , predisposisi
terhadap inIeksi.
4. perdarahan pervaginam : trimester pertama ( risiko 2x ) , trimester kedua/ketiga ( 20x )
5. Bakteriuria : risiko 2x ( prevalensi 7 )
6. PH vagina di atas 4,5 : risiko 32
7. Servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25
8. Flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9. Fibronectin ~ 50 mg/ml : risiko 83
10. Kadar CRH ( corticotropoin releasing hormone ) maternal tinggi misalnya pada stress
psikologis , dsb. Dapat menjadi stimulasi persalinan preterm.
http://www.indogamers.com/showthread.php?t12429&page1
e.) PatoIisiologi
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan
janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian
pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang
terdapat di sebelah luar disebut chorion.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ketuban
ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Cairan ini
dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing
janin, serta cairan otak pada anenseIalus. Pada ibu hamil, jumlah cairan ketuban ini
beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter. Namun bisa juga kurang dari jumlah
tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5 liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-
10 cc air ketuban atau 1 persen dari seluruh volume dalam tiap jam.
ManIaat air ketuban Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna untuk
mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari benturan yang
diakibatkan oleh lingkungannya` di luar rahim. Selain itu air ketuban bisa membuat
janin bergerak dengan bebas ke segala arah. Tak hanya itu, manIaat lain dari air ketuban
ini adalah untuk mendeteksi jenis kelamin, memerikasa kematangan paru-paru janin,
golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan), susunan genetiknya, dan
sebagainya. Caranya yaitu dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang
dimasukkan melalui dinding perut ibu.
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :
O Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi
Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah
dengan mengeluarkan air ketuban.
O Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, Iibroblas, jaringan retikuler korion
dan troIoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem
aktiIitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada inIeksi dan
inIlamasi, terjadi peningkatan aktiIitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan
kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion /
amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

O PatoIisiologi Pada inIeksi intrapartum :
1) ascending inIection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung
antara ruang intraamnion dengan dunia luar.
2) inIeksi intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan
penjalaran inIeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang
intraamnion.
3) mungkin juga jika ibu mengalami inIeksi sistemik, inIeksi intrauterin menjalar
melalui plasenta (sirkulasi Ietomaternal).
4) tindakan iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam
yang terlalu sering, dan sebagainya, predisposisi inIeksi.

I.) Penatalaksanaan

Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau umur kehamilan tidak
diketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaann ultrasonograIi (USG) untuk mengetahui
umur kehamilan dan letak janin. Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan
adalah Respiratory Distress Syndrome (RDS) dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada
kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal untuk
persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah matang,
Kasus KPD yang cukup bulan, kalau segera mengakhiri kehamilan akan menaikkan
insidensi bedah sesar, dan kalau menunggu persalinan spontan akan menaikkan insidensi
chorioamnionitis. Kasus KPD yang kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktiI harus
dipastikan bahwa tidak akan terjadi RDS, dan kalau menempuh cara konservatiI dengan maksud
untuk memberi waktu pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan inIeksi yang
akan memperjelek prognosis janin.


!enatalaksanaan K! pada kehamilan preterm (< 37 minggu)

Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang kurang bulan tidak dijumpai
tanda-tanda inIeksi pengelolaanya bersiIat koservatiI disertai pemberian antibiotik
yang adekuat sebagai proIilaksi
Penderita perlu dirawat di rumah sakit, untuk mencegah terjadinya inIeksi dan
kehamilan diusahakan bisa mencapai 37 minggu, obat-obatan uterorelaksan atau
tocolitic agent diberikan juga tujuan menunda proses persalinan.
Tujuan dari pengelolaan konservatiI dengan pemberian kortikosteroid pada
penderita KPD kehamilan kurang bulan adalah agar tercapainya pematangan paru,
jika selama menunggu atau melakukan pengelolaan konservatiI tersebut muncul
tanda-tanda inIeksi, maka segera dilakukan induksi persalinan tanpa memandang
umur kehamilan.
Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan mulai berlangsung dengan jalan
merangsang timbulnya his ternyata dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi yang
kadang-kadang tidak ringan. Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi gawat janin
sampai mati, tetani uteri, ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga mungkin terjadi
intoksikasi.
Kegagalan dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan tindakan bedah
sesar. Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang cukup bulan, tindakan bedah sesar
hendaknya dikerjakan bukan semata-mata karena inIeksi intrauterin tetapi
seyogyanya ada indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan letak, gawat janin,
partus tak maju, dan lain lain.

!enatalaksanaan K! pada kehamilan aterm (>37 minggu)

Pada hakekatnya kulit ketuban yang pecah akan menginduksi persalinan dengan
sendirinya. Sekitar 70-80 kehamilan genap bulan akan melahirkan dalam waktu 24
jam setelah kulit ketuban pecah.bila dalam 24 jam setelah kulit ketuban pecah belum
ada tanda-tanda persalinan maka dilakukan induksi persalinan,dan bila gagal
dilakukan bedah caesar.
Pemberian antibiotik proIilaksis dapat menurunkan inIeksi pada ibu. Walaupun
antibiotik tidak berIaeadah terhadap janin dalam uterus namun pencegahan terhadap
chorioamninitis lebih penting dari pada pengobatanya sehingga pemberian antibiotik
proIilaksis perlu dilakukan. Waktu pemberian antibiotik hendaknya diberikan segera
setelah diagnosis KPD ditegakan dengan pertimbangan : tujuan proIilaksis, lebih dari
6 jam kemungkinan inIeksi telah terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung
lebih dari 6 jam.
Induksi persalinan segera diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan alasan
penderita akan menjadi inpartu dengan sendirinya. Dengan mempersingkat periode
laten durasi KPD dapat diperpendek sehingga resiko inIeksi dan trauma obstetrik
karena partus tindakan dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan yang sangat ketat terhadap
keadaan janin, ibu dan jalannya proses persalinan berhubungan dengan
komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan komplikasi yang
Iatal bagi bayi dan ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan menjadi semakin
kepanjangan (his kurang kuat).

Medikamentosa
Kortikosteroid
Pemberian kortikosteroid dapat menekan morbiditas dan mortalitas perinatal pasca
ketuban pecah dini preterm. Kortikosteroid juga menekan risiko terjadinya sindrom distress
pernaIasan ( 20 35,4 ), hemoragi intraventrikular ( 7,5 15,9 ), enterokolitis nekrotikans (
0,8 4,6 ). Rekomendasi sebagian besar menggunakan betamethason ( celestone )
intramuscular 12 mg setiap 24 jam selama 2 hari. National Institute oI Health merekomendasikan
pemberian kortikosteroid sebelum masa gestasi 30 23 minggu, dengan asumsi viabilitas Ietus
dan tidak ada inIeksi intra amniotik. Pemberian kortikosteroid setelah masa gestasi 34 minggu
masih controversial dan tidak direkomendasikan kecuali ada bukti immaturitas paru melalui
pemeriksaan amniosentesis.

W ntibiotik
Pemberian antibiotic pada pasien ketuban pecah dini dapat menekan inIeksi neonatal dan
memperpanjang periode latensi. Sejumlah antibiotik yang digunakan meliputi ampisilin 2 gram
dengan kombinasi eritromisin 250 mg setiap 6 jam selama 48 jam, diikuti pemberian amoksisilin
250 mg dan eritromisin 333 mg setiap 8 jam untuk lima hari. Pasien yang mendapat kombinasi
ini dimungkinkan dapat mempertahankna kandungan selama 3 minggu setelah penghentian
pemberian antibiotik setelah 7 hari.
W gen Tokolitik
Pemberian agent tokolitik diharapkan dapat memperpanjang periode latensi namun tidak
memperbaiki luaran neonatal. Tidak banyak data yang tersedia mengenai pemakaian agen
tokolitik untuk ketuban pecah dini. Pemberian agen tokolitik jangka panjang tidak diperkenankan
dan hingga kini masih menunggu hasil penelitian lebih jauh.

Gambar 1.3 Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini
g.) Komplikasi
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom
distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40 bayi baru lahir. Risiko inIeksi meningkat pada
kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan
terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion), resiko chorioamnionitis meningkat
5 kali bila persalinan belum mulai dalam 24 jam setelah ketuban pecah.
Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusat dapat terjadi pada KPD. Oligohidramnion,
bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis dapat pula menjadi komplikasi
KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan
komplikasi Iatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100 apabila
KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.

Gambar 1.4 Keluarnya Tali Pusar





h.) PreventiI
Beberapa penelitian menyatakan bahwa mengkonsumsi Vitamin C selama kehamilan
penting untuk pemeliharaan membran chorioamniotic. kekurangan asam askorbat selama
kehamilan telah ternyata merupakan Iaktor risiko pecahnya ketuban yang terlalu dini (PROM).
Dan Konsumsi Harian suplementasi dengan vitamin C 100 mg setelah umur kehamilan 20
minggu ternyata eIektiI mengurangi kejadian PROM.
Dari hasil penelitian dari National Institute oI Perinatology di Meksiko City, pada 120
wanita hamil yang secara acak diberikan 100 mg vitamin C, pada saat kehamilan memasuki usia
20 minggu.
Vitamin C telah diketahui berperan penting dalam mempertahankan keutuhan membran
(lapisan) yang menyelimuti janin dan cairan ketuban. Walaupun penelitian sebelumnya telah
menghubungkan kadar yang rendah dari vitamin C pada ibu dengan meningkatnya resiko
terjadinya pecahnya membran secara dini atau yang disebut dengan ketuban pecah dini
("premature rupture oI membranes", PROM), tapi penelitian itu tidak menjelaskan tentang
penggunaan suplemen vitamin C dalam menurunkan risiko terjadinya KPD.

http://bidankita.com/index.php?optioncomcontent&viewarticle&id216:ketuban-pecah-dini-
kpd-atau-premature-rupture-oI-the-membrane-prom&catid47:all-about-childbirth&Itemid2








2.5 Diagnosis Banding

ejala & Tanda Selalu da ejala & Tanda Kadang-
Kadang da
iagnosis Kemungkinan
Keluar cairan ketuban Ketuban pecah tiba-tiba
Cairan tampak di introitus
Tidak ada his dalam 1 jam
Ketuban pecah dini
Cairan vagina berbau
Demam / menggigil
Nyeri perut
Riwayat keluarnya cairan
Uterus nyeri
Denyut jantung janin cepat
Perdarahan per vaginam sedikit
Amnionitis
Cairan vagina berbau
Tidak ada riwayat ketuban
pecah
Gatal
Keputihan
Nyeri perut
Disuria
Vaginitis / servisitis
Cairan vagina berdarah Nyeri perut
Gerak janin berkurang
Perdarahan banyak
Perdarahan antepartum
Cairan berupa darah-lendir Pembukaan & pendataran
serviks
Ada his
Awal persalinan aterm atau
preterm
Tabel 1.1 Perbandingan macam macam kemungkinan diagnosis





BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ketuban pecah dini (KPD) memiliki deIinisi pecahnya lapisan ketuban dan
mengakibatkan keluarnya cairan ketuban yang mengalir melalui vagina sebelum waktunya
melahirkan atau usia kehamilan 37 minggu. Pengaruh inIeksi bakteri pada lapisan ketuban
merupakan penyebab yang paling besar dari KPD, karena mengakibatkan membrane dari
ketuban menjadi tipis. Meskipun masih ada beberapa penyebab yang mengakibatkan ketuban
pecah dini seperti inkompeten dari cervix, tekanan intrauterine yang tinggi dan sebagainya
Untuk memastikan cairan yang mengalir dari vagina itu adalah berasal dari ketuban yang
pecah, dapat dilakukan beberapa test penunjang seperti Test Nitrazin (Lakmus) dimana jika
benar cairan ketuban maka kertas lakmus akan berubah menjadi biru. Atau dapat dilakukan
pemeriksaan mikroskopik dimana akan terlihat gambaran daun pakis.
Dalam penatalaksanaan KPD, terbagi menjadi dua berdasarkan usia kehamilan yaitu
- Usia kehamilan preterm ( 37 minggu)
Biasa dilakukan pemberian antibiotic untuk mencegah inIeksi (chorioamnionitis), dan
diberi agen tokolitik, uterorelaksan dan kortikosteroid agar persalinan dapat ditunda
untuk mematangkan paru bayi dalam rahim supaya. Jika keadaan tidak
memungkinkan harus dilakukan bedah sesar
- Usia kehamilan aterm ( ~ 37 minggu)
Jika ketuban sudah pecah, maka akan sendirinya bayi akan keluar pervaginam bila
sudah cukup bulan. Tetapi jika tidak lahir selama 24 jam beri antibiotic untuk
mencegah inIeksi. Selain itu dapat diberi obat induksi persalinan seperti oksitosin