Anda di halaman 1dari 10

Makalah Agama Islam

PENDAHULUAN I. LATAR BELAKANG Dilihat dari segi Agama dan Budaya yang masing masing memiliki keeratan satu sama lain, sering kali banyak di salah artikan oleh orang orang yang belum memahami bagaimana menempatkan posisi Agama dan posisi Budaya pada suatu kehidupan. Penulis masih sering menyaksikan adanya segelintir masyarakat yang mencampur adukkan nilai nilai Agama dengan nilai nilai Budaya yang padahal kedua hal tersebut tentu saja tidak dapat seratus persen disamakan, bahkan mungkin berlawanan. Demi terjaganya esistensi dan kesucian nilai nilai agama sekaligus memberi pengertian, disini penulis hendak mengulas mengenai Apa itu Agama dan Apa itu Budaya, yang tersusun berbentuk makalah dengan judul Agama dan Budaya. Penulis berharap apa yang diulas, nanti dapat menjadi paduan pembaca dalam mengaplikasikan serta dapat membandingkan antara Agama dan Budaya. II. PERUMUSAN Adapun hal hal yang akan penulis bahas disini antara lain: A. Pengertian Agama dan Budaya B. Unsur unsur Agama dan Budaya C. Bentuk bentuk Agama dan Budaya D. Hubungan Agama dan Budaya III. PEMBAHASAN PENGERTIAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN Pengertian Agama : Dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata din ( ) dari bahasa Arab dan kata religi dari bahasa Eropa. Agama berasal dari kata Sanskrit. Satu pendapat mengatakan bahwa kata itu tersusun dari dua kata, a yang berarti tidak dan gama yang berarti pergi, maka kata Agama dapat diartikan tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun. Sedangkan kata Din itu sendiri dalam bahasa Semit berarti undang undang atau hukum. Dalam bahasa Arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Adapula kata Religi yang berasal dari bahasa Latin. Menurut satu pendapat asalnya ialah relegere yang mengandung arti mengumpulkan, membaca dan dapat juga kata relegare juga bisa diartikan mengikat. Oleh karena itu agama adalah suatu ketetapan yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa secara mutlak atau tanpa adanya campur tangan siapa saja. Pengertian Kebudayaan : ditinjau dari sudut Bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa Sansakerta Buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Pendapat lain megatakan juga bahwa kata budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budidaya, yang mempunyai arti daya dan budi. Karena itu mereka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Sedangkan budaya sendiri adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa; dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.[1]

UNSUR UNSUR AGAMA DAN KEBUDAYAAN 1. Unsur unsur penting yang terdapat dalam Agama ialah : - Unsur Kekuatan Gaib : Manusia merasa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong. Oleh karena itu, manusia merasa harus mengadakan hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut. Hubungan baik ini dapat diwujudkan dengan mematuhi perintah dan larangan kekuatan gaib itu sendiri. - Keyakinan Manusia : bahwa kesejahteraannya di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaib yang dimaksud. Dengan hilangnya hubungan baik itu, kesejahteraan dan kebahagiaan yang dicari akan hilang pula. - Respons yang bersifat Emosionil dari manusia : Respons itu bisa mengambil bentuk perasaan takut, seperti yang terdapat dalam agama agama primitif, atau perasaan cinta, seperti yang terdapat dalam agama agama monoteisme. Selanjutnya respons mengambil bentuk penyembahan yang terdapat dalam agama primitif, atau pemujaan yang terdapat dalam agama agama monoteisme. Lebih lanjut lagi respons itu mengambil bentuk cara hidup tertentu bagi masyarakat yang besangkutan. - Paham adanya yang kudus (saered) dan suci : dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang mengandung ajaran ajaran agama bersangkutan dan dalam bentuk tempat tempat tertentu. 2. Adapun Unsur Kebudayaan yang bersifat universal yang dapat kita sebut sebagai isi pokok tiap kebudayaan di dunia ini, adalah sebagai berikut : 1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia sehari hari misalnya : pakaian, perubahan, alat rumah tangga, senjata dan sebagainya. 2. Sistem mata pencaharian dan sistem ekonomi. Misalnya : Pertanian, peternakan, sitem produksi. 3. Sistem kemasyarakatan, misalnya : kekerabatan, sistem perkawinan, sistem warisan. 4. Bahasa sebagai media komunikasi, baik lisan maupun tertulis. 5. Ilmu Pengetahuan 6. Kesenian, misalnya : seni suara, seni rupa, seni gerak. 7. Sistem Regili.[2] BENTUK BENTUK AGAMA DAN KEBUDAYAAN (1) Pada dasarnya bentuk Agama ada yang bersifat primitif dan ada pula yang dianut oleh masyarakat yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Agama agama yang terdapat dalam masyarakat primitif ialah Dinamisme, Animisme, Monoteisme dll, adapun pengertiannya adalah sebagai berikut : Pengertian Agama Dinamisme ialan : Agama yang mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Dalam faham ini ada benda benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari hari. Kekuatan gaib itu ada yang bersifat baik dan ada pula yang bersifat jahat. Dan dalam bahasa ilmiah kekuatan gaib itu disebut mana dan dalam bahasa Indonesia tuah atau sakti. Pengertian Agama Animisme ialah : Agama yang mengajarkan bahwa tiap tiap benda, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, mempunyai roh. Bagi masyarakat

primitif roh masih tersusun dari materi yang halus sekali yang dekat menyerupai uap atau udara. Roh dari benda benda tertentu adakalanya mempunyai pengaruh yang dasyat terhadap kehidupan manusia, Misalnya : Hutan yang lebat, pohon besar dan ber daun lebat, gua yang gelap dll. Pengertian Agama Monoteisme ialah : Adanya pengakuan yang hakiki bahwa Tuhan satu, Tuhan Maha Esa, Pencipta alam semesta dan seluruh isi kehidupan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. (2) Bentuk bentuk Kebudayaan. 1. Kebudayaan Islam Islam berkembang sejak diutusnya seorang Rasul yang bernama Nabi Muhammad SAW, dimana Ajaran ajaran Islam sendiri masih sangat kental dan suci, namun sejalan dengan perkembangan dunia dan perubahan zaman, Ajaran ajaran Islam pun kian marak dijadikan sebuah Budaya, yang akhirnya masyarakat sendiri sulit membandingkan antara Agama dengan Budaya.[3] Contohnya : Masalah busana muslim Jilbab, di zaman dahulu busana muslim atau jilbab adalah pakaian yang menutup aurat, pakaian longgar dan panjang, seperti yang difirman Allah SWT dalam Al Quran An Nur : 31 ( Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakka perhiasannya kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra putra mereka atau putra putra suami mereka . ).[4] Sedangkan zaman sekarang jilbab menjadi sebuah model atau gaya yang mana tidak lagi melihat pada tuntunan Islam. Contoh lain : Pernikahan dahulu pernikahan cukup hanya dengan sebuah Aqad nikah (Ijab qobul) kemudian untuk memberitakan sebuah pernikahan hanyalah mengundang para tetangga atau saudara terdekat, itupun dalam suasana yang cukup sederhana, tetapi sekarang pernikahan bak sebuah pesta hajat yang besar, penggunaan adat istiadat pun dalam pernikahan kian marak terjadi dan akhirnya menjadi sebuah budaya yang sulit dihilangkan. 2. Kebudayaan Romawi Timur Kerajaan Romawi didirikan pada tahun 753. Budaya Romawi pada umumnya beragama Nasrani. Dalam Kebudayaannya dikenal 3 muhzab yang termasyur yaitu : 1. Mazhab Yaaqibah, yang bertebaran di Mesir, Habsyah Mazhab ini berkeyakinan bahwa Isa Almasih adalah Allah. 2. Mazhab Nasathirah yang betebaran di Mesir, Irak, Persia 3. Mazhab Mulkaniyah, Kedua Mazhab ini berkeyakinan bahwa dalam diri Al Masih terdapat 2 tabiat yaitu : 1) Tabiat ketuhanan. 2) Tabiat kemanusiaan.[5] 3. Kebudayaan Persia Dalam sejarah kebudayaan Persia, masyarakatnya banyak yang menyembah berbagai alam nyata, seperti langit, cahaya, udara, air dan api. Api dilambangkan sebagai Tuhan

baik, sehingga mereka menyembah api yang selalu dinyalakan didalam rumah rumah. [6] 4. Persia Kebudayaan Arab Jahilliyah Disebut Arab Jahilliyah karena sebelum Islam datang mereka adalah pembangkang kepada kebenaran. Budaya orang orang Arab Jahilliyah adalah menyembah berhala karena itulah mereka terus menentang kebenaran meski di ketahui dan didasari kebenarannya oleh mereka.[7] HUBUNGAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN Agama dalam pengertian Addien, sumbernya adalah wahyu dari Tuhan khususnya agama Islam. Seorang ahli sejarah dan kebudayaan dunia barat bernama Prof. H.A. Gibb menulis dalam bukunya : Wither Islam : Islam is indeed much more than a system of thologi, it is a complete civilization (Islam adalah lebih daripada suatu cara cara peribadatan saja, tetapi merupakan suatu kebudayaan dan peradaban yang lengkap). Kelebihan Islam dari agama agama lain, bahwa Islam memberikan dasar yang lengkap bagi kebudayaan dan peradaban.[8] Oleh karena itu agama Islam agama fitrah bagi manusia, agama hakiki yang murni, terjaga dari kesalahan dan tidak berubah ubah. Ingatlah ayat suci Al Quran yang artinya Hadapkanlah mukamu kepada agama yang benar : fitrah Tuhan yang telah menjadikan manusia atasnya, tidak dapat mengganti kepada makhluk Tuhan. Demikianlah Agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. ArRuun : 30).[9] Berdasarkan sumber suber tersebut maka penulis dapat menegaskan bahwa Agama mutlak ciptaan Allah SWT dan kebudayaan itu sendiri hasil pemikiran manusia yang tingkat kebenarannya/kefitrahannya tidak mungkin melebihi Agama.

IV. PENUTUP Dari uraian tentang Agama dan Budaya yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Agama adalah mutlak ciptaan Allah SWT yang hakiki oleh karena itu agama dijamin akan kefitrahannya, kemurniannya, kebenarannya, kekekalannya, dan konstanta atau tidak dapat dirubah oleh manusia sampai kapanpun. Sedangkan kebudayaan adalah hasil cipta, karya, rasa, karsa dan akal buah budi manusia untuk mencapai kesempurnaan hidupnya, dimana kebudayaan itu sendiri akan mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan jaman. Oleh karena itu, penulis menekankan kepada pembaca bahwa antara agama dan budaya meski memiliki hubungan namun tidak dapat dicampur adukan. Demikian makalah ini disususun, semoga dapat menjadi satu dari budaya sarana dalam menerangkan antara agama dan budaya.

MAKALAH AGAMA ISLAM TENTANG PENDIDIKAN AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA


September 16, 2008 Dadan Wahidin

4 Votes MUQODIMAH Pada kesempatan ini penulis mencoba membahas tentang pendidikan agama di lingkungan keluarga dengan mengacu dan berorientasi kepada firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Luqman ayat 12 s/d 19. Nasihat Luqman kepada anak-anaknya: . )21(. . )31(. . )41(. . )51(. .(16) . , , . )71(. . )81(. 19) ..) Artinya: Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur; maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (12). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya. Di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar. (13). Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (14) Dan jika keduanya untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu. Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,

dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (15). Luqman (berkata): Hai anakku sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (16). Hai Anakku dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (17). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (18). Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. (19).PENDIDIKAN AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA A.Arti dan pentingnya pendidikan agama di lingkungan keluarga 1.Arti Pendidikan Agama di Lingkungan Keluarga Pada prinsipnya pendidikan agama yang dilaksanakan di lingkungan sekolah, masyarakat dan keluarga itu sama saja, hanya sistem pendidikan dan pengajarannya yang berbeda, kalau di lingkungan sekolah menggunakan sistem pendidikan persekolahan yang segalanya serba formal, sedang di lingkungan masyarakat dan keluarga menggunakan sistem pendidikan yang ada di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pendidikan pada umumnya terbagi pada dua bagian besar, yakni pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah. Hal ini berdasar pada: Maka proses belajar itu bagi seseorang dapat terus berlangsung dan tidak terbatas pada dunia sekolah saja. Oleh karena itu proses belajar bagi seseorang itu menjadi life long process.1 Dengan dasar di atas, maka arti pendidikan luar sekolah adalah sebagai berikut: Pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan di mana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkatan keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negaranya.2 Selanjutnya Philips H. Combs, mengungkapkan bahwa: Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formil. baik tersendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.3 Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang pendidikan agama yang dilakukan di lingkungan keluarga maka akan penulis kemukakan pendapat; Drs. H. M. Arifin M.Ed sebagai berikut: Bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dalam uraian selanjutnya kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.4

Dengan memperhatikan serangkaian pendapat-pendapat tentang pendidikan luar sekolah dan pendidikan Agama Islam dapat ditarik kesimpulan tentang pendidikan Agama Islam di lingkungan keluarga sebagai berikut; interaksi yang teratur dan diarahkan untuk membimbing jasmani dan rohani anak dengan ajaran Islam, yang berlangsung di lingkungan keluarga. Dalam pelaksanaannya, maka proses pendidikan Agama Islam di lingkungan keluarga berlangsung antara orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan agama, dan anak-anak sebagai sasaran pendidikannya. Sedang ibu dalam kaitannya dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga, maka kedudukannya sebagai pendidik yang utama dan pertama, dalam kedudukannya sebagai pendidik, maka seorang ibu tidak cukup hanya memanggil seorang guru agama dari luar untuk mendidik anaknya di rumah, dan bukan dalam pengertian yang demikianlah yang dimaksud dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga. Akan tetapi lebih ditekankan adanya bimbingan yang terarah dan berkelanjutan dari orang-orang dewasa yang bertanggung jawab di lingkungan keluarga untuk membimbing anak. Bimbingan yang dimaksud bisa dalam berbagai bentuk dan interaksi kehidupan seharihari antara anak dengan orang dewasa, hanya interaksi tersebut selalu dilandasi dengan interaksi edukatif ke arah pendidikan agama, bahkan kalau mungkin berusaha menciptakan suasana kehidupan beragama di lingkungan keluarga Sekali lagi bahwa yang dimaksud dengan pendidikan agama Islam di lingkungan keluarga itu merupakan pemberian sejumlah pengetahuan keagamaan dengan berbagai teori keagamaan, akan lebih ditekankan pada praktek hidup sehari-hari di lingkungan keluarga itu dilandasi dengan ajaran agama, sehingga hasilnya pendidikan agama itu sendiri akan betul-betul melekat dalam pribadi anak. 2.Pentingnya Pendidikan Agama di Lingkungan keluarga Untuk memperoleh jawaban apakah penting pendidikan agama di lingkungan keluarga? Dan dalam hal apakah pentingnya pendidikan agama di lingkungan keluarga? Untuk menjawabnya, maka akan penulis kutip pendapat Umar Hasyim berikut ini: .. Sejak kecil anak-anak seharusnya telah menerima didikan agama. Sejak anak dalam kandungan, setelah lahir hingga dewasa, masih perlu kita bimbing. Dan menurut hasil penelitian ilmu pengetahuan modern mengatakan bahwa yang dominan membentuk jiwa manusia adalah lingkungan, dan lingkungan pertama yang dialami oleh sang anak adalah asuhan Ibu dan ayah. Disinilah pula pentingnya mengapa mendidik anak dimulai sejak dini, karena perkembangan jiwa anak telah mulai sejak kecil, sesuai dengan fitrahnya. Dengan demikian maka fitrah manusia itu kita salurkan, kita bimbing dan kita juruskan kepada jalan yang seharusnya sesuai dengan arahnya.5 Dan pendapat Drs. Noor Syam, berikut ini: Kelahiran dan kehadiran seorang anak dalam keluarga secara ilmiah memberikan adanya tanggung jawab dari pihak orang tua. Tanggung jawab ini didasarkan atas motivasi cinta kasih, yang pada hakekatnya juga dijiwai oleh tanggung jawab moral. Secara sadar orang tua mengemban kewajiban untuk memelihara dan membina anaknya sampai ia mampu berdikari sendiri (dewasa) baik secara fisik, sosial, ekonomi maupun moral. Sedikitnya orang tua meletakan dasar-dasar untuk mandiri itu.6 Selanjutnya ia mengatakan bahwa:

Dorongan / motivasi kewajiban moral, sebagai konsekwensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai religius spiritual yang dijiwai Ketuhanan Yang Maha Esa dan agama masing-masing, di samping didorong oleh kesadaran memelihara martabat dan kehormatan keluarga.7 Dalam kutipan yang pertama di atas dikemukakan bahwa lingkungan keluarga itu amat dominan dalam memberikan pengaruh-pengaruh keagamaan terhadap anak-anak, sehingga dapat dikatakan bahwa lingkungan keluarga dalam kaitannya dengan pendidikan agama sangat menentukan baik keberhasilannya. Sehingga amat disayangkan kalau kesempatan yang baik dari lingkungan pertama yaitu keluarga itu disia-siakan atau dilalui anak tanpa pendidikan agama dari pihak ibu dan bapak serta orang-orang yang bertanggung jawab di sekitarnya. Dalam kutipan selanjutnya, yaitu dari Drs. Noor Syam di sana ditekankan bahwa pentingnya pendidikan orang tua terhadap anak di lingkungan keluarga itu karena didorong oleh beberapa kewajiban, kewajiban moral, kewajiban sosial dan oleh dorongan cinta kasih dari seseorang terhadap keturunannya. Dalam hubungannya dengan kelanjutan pendidikan atau kehidupan anak di masa mendatang, maka pendidikan di lingkungan keluarga, termasuk di dalamnya pendidikan agama, hal itu merupakan sebagai tindakan pemberian bekal-bekal kemampuan dari orang tua terhadap anak-anaknya, dalam menghadapi masa-masa yang akan dilaluinya. Dalam hubungannya dengan pendidikan di sekolah maka sebagai persiapan untuk mengikuti pendidikan atau sebagai pelengkap dari pendidikan yang berlangsung di bangku sekolah. Dan dalam hubungannya dengan kehidupan bermasyarakat, maka sebagai upaya untuk mempersiapkan diri agar anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. B.Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama di Lingkungan Keluarga Secara sepintas pembahasan tentang dasar pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga ini telah disebutkan di atas, yaitu atas dasar cinta kasih seseorang terhadap darah dagingnya (anak), atas dasar dorongan sosial dan atas dasar dorongan moral. Akan tetapi dorongan yang lebih mendasar lagi tentang pendidikan agama di lingkungan keluarga ini bagi umat Islam khususnya adalah karena dorongan syara (ajaran Islam), yang mewajibkan bagi orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, lebih-lebih pendidikan agama. Sebagaimana firman Allah dalam surat At Tahrim, ayat enam sebagai berikut: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya Malaikat-Malaikat yang keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkannya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkannya.8 Juga surat An-Nisa, ayat 9 berikut ini: . Artinya:

Dan hendaklah mereka takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.9 Dan hadits Rasulullah saw, sebagai berikut: . Artinya: Dari Abu Huraerah radhiallahu anha, sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda: Tiada seorang anak pun dilahirkan, melainkan dilahirkan dalam atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (Hadits Riwayat Bukhory).10 Dari ayat-ayat di atas, yang diikuti oleh sabda Rasulullah saw, memberikan isyarat bahwa ibu dan bapak mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka baik dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar yang sedang dialaminya di lingkungan sekolah maupun dalam upaya memberikan kesiapan untuk menghadapi pendidikan di sekolah atau sebagai upaya sosialisasi terhadap anak-anak, sehingga masyarakat yang berguna dan mampu menyesuaikan diri. Selain hal-hal yang telah disebutkan di atas, yang dapat mendorong orang tua agar mendidik anak-anak di lingkungan keluarga, ada lagi satu hal yang perlu diperhatikan yaitu; mengingat kondisi anak itu sendiri, baik secara fisik maupun mental ia mutlak memberikan bimbingan dan pengembangan ke arah yang positif. Kalau tidak maka dikhawatirkan fitrah yang tersimpan, yang merupakan benih-benih bawaan itu akan terlantar atau akan menyimpang. Perlu diingat bahwa pada diri anak itu terdapat kecenderungan-kecenderungan ke arah yang baik, akan tetapi dilengkapi dengan kecenderungan ke arah yang jahat. Maka tugas pendidik dalam hubungan ini adalah menghidup-suburkan kecenderungan ke arah yang baik. Dan menjinakan kecenderungan ke arah yang jahat. Drs. H. M. Arifin, E. Ed. Mengatakan bahwa: Suatu pengaruh pendidikan yang paling pundamental dan fungsional dalam pribadi, bilamana pengaruh tersebut ditanamkan dalam pribadi anak yang masih berada pada awal perkembangannya. Pengaruh tersebut akan menjadi benih utama yang dapat berpengaruh dalam perkembangannya lebih lanjut. Oleh karena itu benih-benih potensial yang mampu mendorong anak untuk mengembangkan pribadinya dalam alternatif pemilihan lapangan hidup manusia di masa dewasanya sesuai bakat dan kemampuan11 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dasar pelaksanaan pendidikan agama di lingkungan keluarga adalah karena didorong oleh beberapa hal yaitu: 1.Karena dorongan cinta kasih terhadap keturunan 2.Karena dorongan atau tanggung jawab sosial 3.Karena dorongan moral 4.Karena dorongan kewajiban agamis Dan dorongan agama inilah yang membuat kedudukan orang tua lebih besar tanggung jawabnya dalam pendidikan karena dorongan kewajiban ini langsung diperintahkan Allah. KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN

Dalam hal ini penulis menyimpulkan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga itu penting sekali artinya dengan berorientasi kepada firman Allah SWT dalam surat Al Luqman ayat 12 s/d 19, sebab pendidikan di lingkungan keluarga itu adalah pendidikan pertama dan yang utama, bisa memberi warna dan corak kepribadian anak seandainya orang tua tidak menyempatkan diri untuk mendidik anak-anaknya di keluarga sehingga terabai begitu saja karena kesibukan orang tua. Maka hal ini akan membawa pengaruh yang tidak baik terhadap perkembangan dan pendidikan anak Demikianlah makalah ini penulis akhiri mudah-mudahan bermanfaat khususnya bagi penulis dan pembaca kritik dan saran yang membangun yang sangat diharapkan penulis dari semua pihak.