Anda di halaman 1dari 19

InIeksi saluran kemih (ISK)

Written by Administrator
Tuesday, 19 January 2010 21:02
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah inIeksi bakteri yang terjadi pada saluran kemih. ISK
merupakan kasus yang sering terjadi dalam dunia kedokteran. Walaupun terdiri dari berbagai
cairan, garam, dan produk buangan, biasanya urin tidak mengandung bakteri. Jika bakteri
menuju kandung kemih atau ginjal dan berkembang biak dalam urin, terjadilah ISK. Jenis InIeksi
Saluran Kemih yang paling umum adalah inIeksi kandung kemih yang sering juga disebut
sebagai sistitis. Gejala yang dapat timbul dari ISK yaitu perasaan tidak enak berkemih (disuria,
Jawa: anyang-anyangen). Tidak semua ISK menimbulkan gejala, ISK yang tidak menimbulkan
gejala disebut sebagai ISK asimtomatis.
!embagian ISK
Berdasar anatomi
O Bawah : uritritis, sistitis (inIeksi superIisialis vesika urinaria), prostatitis
O Atas : pieloneIritis (proses inIlamasi parenkim ginjal), abses ginjal
Berdasar Klinis
O %anpa komplikasi : sistitis pada wanita hamil kelainan neurologis atau struktural yang
mendasarinya
O engan Komplikasi : inIeksi saluran kemih atas atau setiap kasus ISK pada laki-laki,
atau perempuan hamil, atau ISK dengan kelainan neurologis atau struktural yang
mendasarinya
!emeriksaan Mikrobilogis
O ISK tanpa kompliksi : E. Coli (80), proteus, klebsiella, enterokokus
O ISK dengan komplikasi : E. Coli (30) enterokokus (20), pseudononas (20), S.
Epidermidis (15), batang gram negatiI lainya.
O ISK yang berhubungan dengan kateter : amur (30), E . coli (25), batang gram
negatiI lainya, enerokokus, S.epidermis
O Uritritis : chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoeae
Manifestasi klinis
O Sistitis : piuria urgensi, Irekuensi miksi meningkat perubahan warna dan bau urine,
nyeri suprapublik, demam biasanya tidak ada.
O Uretritis : mungkin mirip dengan sistitis kecuali adanya discharge uretra
O prostatitis: serupa dengan sistitis kecuali gejala obstruksi oriIisium uretra (cont:
hestansi, aliran lemah).
O PieloneIrritis : demam, menggigil, nyeri punggung atau bokong, mual, muntah, diare
O Abses ginjal (intrarenal atau perineIrik); serupa dengan pieloneIritis kecuali demam
menetap meskipun di obati dengan antibiotik.
!emeriksaan iagnostik
O &rinalisis : piuria + bakteriuria hematuria
Hitung bakteri bermakna:_10
5
unit koloni/ml pada perempuan yang asimtomatik _10
3
unit
koloni/ml pada laki-laki _10
2
unit koloni/ml pada pasien simtomatik atau dengan karakter piuria
steril uretritis , tuberkulosis ginjal, benda asing.
O Kultur dan pewarnaan gram urine ( dari urine porsi tengah atau spesimen lansung
dari katater)
O Pada perempuan hamil dan pasien yang menjalani pembedahan urologi lakukan skrining
terhadap bakteriuria asimtomatik
O Kultur darah : pertimbangkan pada ISK dengan komplikasi
O Deteksi DNA atau kultur terhadap C. Trachomatis, N.gonorrhoeae pada pasien yang
kegiatan seksualnya aktiI atau pada piuria steril
O Spesimen urine porsi pertama dan porsi tengah, pemijatan prostat, dan spesimen urine
Pasca pijatan prostat pada kasus-kasus kecurigaan prostatitis
O CT scan abdomen untuk menyingkirkan abses pada pasien pieloneIritis yang demamnya
tidak turun setelah 72 jam
O Tindakan diagnostik urologi (USG ginjal, CT abdomen, sistograIi berkemih) jiks ISK
berulang pada laki-laki
!enatalaksanaan ISK
Skenario
klinis
Pedoman pelaksanaan empiris
sistisis
TMP-SMX atau FQ PO selama 3 hari (tanpa komplikasi) atau selama 10-14 hari
(komplikasi)
Bakteriuria asimtomatik pada perempuah hamil atau pernah mengalami
pembedahan urologi sebelumnya antibiotik selama 3 hari
Uretritis
Tangani untuk Neisseria dan ChlaMydia
Neisseria; seItriakson 125 mg IM x 1 atau oIloksasin 400 mg PO x 1
Chlamydia; doksisiklin 100 mg PO x 7 d atau aztromisin 1 g PO x 1
Prostatitis TMP-SMX atau FQ PO x 14 28 hari (akut) atau 6-12 minggu (kronis)
PieloneIritis
Pasien rawat jalan; FQ atau amoksilin/klavulanat atau seIalosporin
generasi I PO selama 14 hari
Pasien rawat inap; |ampisilin IV gentamisin| atau
ampisilin/sulbaktam atau FQ selama 14 hari
(perubahan IV menjadi PO apabila pasien secara klinis membaik dan tidak
demam selama 24-48 jam dan kemudian diselesaikan dengan
pemberian selama 14 hari)
Abses ginjal Drainase antibiotik seperti pada pieloneIritis
apabila memungkinkan, terapi langsung ditunjukan pada organisme, dapat digunakan
panduan suseptibilitas in vitro dan pola resistensi obat setempat







Infeksi Saluran Kemih pada Anak
InIeksi saluran kemih (ISK) adalah penyakit yang sering ditemukan pada anak, di samping inIeksi
saluran cerna. ISK merupakan penyakit penting pada anak, karena menyebabkan gejala tidak
menyenangkan pada anak.
Bila tidak ditanggulangi secara serius, ISK dapat menyebabkan komplikasi berupa batu saluran kemih,
hipertensi, ataupun gagal ginjal yang memerlukan tindakan cuci darah atau cangkok ginjal. Karena itu,
perlu mengenal ISK sedini mungkin agar dapat ditata laksana dengan adekuat untuk menghindari akibat
yang lebih buruk.
ISK dapat mengenai semua orang, mulai bayi baru lahir sampai dengan orang dewasa, baik laki-laki
maupun perempuan. ISK lebih sering dtemukan pada bayi atau anak kecil dibandingkan dengan
dewasa. Pada bayi sampai umur tiga bulan, ISK lebih sering pada laki-laki daripada perempuan, tetapi
selanjutnya lebih sering pada perempuan daripada laki-laki.
ISK terjadi sebagai akibat masuknya kuman ke dalam saluran kemih. Biasanya kuman berasal dari tinja
atau dubur, masuk ke saluran kemih bagian bawah atau uretra, kemudian naik ke kandung kemih dan
dapat sampai ke ginjal. Kuman dapat juga masuk ke saluran kemih melalui aliran darah dari tempat lain
yang melebar, terdapat sumbatan saluran kemih, kandung kemih yang membesar dan lain-lain. Sama
seperti penyakit inIeksi lainnya, ISK akan lebih mudah terjadi pada anak dengan gizi buruk atau sistem
kekebalan tubuh anak rendah. Anak yang mengalami sembelit atau sering menahan-nahan air kemih
(kencing) pun dapat berisiko terkena ISK.
Geala:
- Kadang tanpa gejala, dan didiagnosis setelah terjadi komplikasi gagal ginjal. Pada bayi baru lahir,
gejalanya tidak khas, sehingga sering tidak terpikirkan, misalnya suhu tidak stabil (demam atau suhu
lebih rendah dari normal), tampak sakit, mudah terangsang atau irritable, tidak mau minum, muntah,
mencret, perut kembung, air kemih berwarna kemerahan atau tampak kuning.
Pada bayi lebih dari satu bulan, dapat berupa demam, air kemih berwarna kemerahan, mudah
terangsang, tampak sakit, naIsu makan berkurang, muntah, diare, perut kembung atau tampak kuning.
Pada anak usia prasekolah atau sekolah, gejala ISK dapat berupa demam dengan atau tanpa menggigil,
sakit di daerah pinggang, sakit waktu bermih, buang air kemih sedikit-sedikit tetapi sering, rasa ingin
berkemih, air kemih keruh atau berwarna kemerahan.
!engobatan:
Jika terdapat kecurigaan terhadap ISK, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu
pemeriksaan air kemih, rutin dan biakan air kemih. Hasil pemeriksaan urinalisis dapat segera diketahui,
sedangkan hasil biakan air kemih memerlukan waktu satu minggu.
Ada tiga hal yang penting yang biasa dilakukan jika pasien sudah didiagnosis sebagaii ISK, yaitu
pertama, memberantas inIeksi: kedua, mendeteksi, mencegah, dan mengobati inIeksi berulang dan
ketiga mendeteksi kelainan anatomi dan Iungsional saluran kemih serta menanggulanginya jika ada
Untuk memberantas inIeksi, diberikan obat pembunuh kuman (antimikroba atau antibiotik) selama 7-10
hari. Sedapat mungkin obat pembunuh kuman ini diberikan sesuai dengan hasil uji kepekaan kuman
yang diketahui dari hasil biakan air kemih. Untuk mendeteksi inIeksi berulang, perlu dilakukan
pemeriksaan biakan air kemih secara berkala, dan kalau terdapat inIeksi, maka inIeksi ini diobati
dengan antibiotik yang sesuai.
Untuk mendeteksi kelainan anatomi dan Iungsional saluran kemih, biasanya dokter melakukan
pemeriksaan Iisik yang lebih teliti dan kalau perlu dilakukan pemeriksaan pencitraan/radiologis seperti
USG atau pemeriksaan rontgen terhadap ginjal dan saluran kemih. Jika ditemukan kelainan pada
saluran kemih, maka tata laksana selanjutnya disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan apakah
memerlukan tindakan pembedahan atau tidak.
Kesimpulan
Dengan mengenali ISK sedini mungkin, mengatasi inIeksi serta mendeteksi dan menanggulangi
kelainan yang ditemukan, maka akibat yang lebih berat, yaitu gagal ginjal yang memerlukan cuci darah
atau cangkok ginjal dapat dicegah.


INFEKSI SALURAN KEMIH
Muhammad Sjaifullah Noer, Ninik Soemyarso
8A1ASAN
lnfeksl saluran alr kemlh adalah lnfeksl yang Ler[adl pada saluran alr kemlh mulal darl ureLra bullbull
ureLer plala gln[al sampal [arlngan gln[al
lnfeksl lnl dapaL berupa
lelonefrlLls akuL
lelonefrlLls kronlk
lnfeksl saluran alr kemlh berulang
8akLerlurla bermakna
8akLerlurla aslmLomaLls

ETIULUCI
uman penyebab lnfeksl saluran alr kemlh
uman gram negaLlf LColl (83) lebslela LnLerobakLer roLeus dan seudomonas
SLafllokokus Aureus SLrepLokokus fecalls kuman anaerob 18C [amur vlrus dan benLuk L
bakLerl proLoplas

PATUFISIULUCI
InIeksi dapat terjadi melalui penyebaran hematogen (neonatus) atau secara asending (anak-anak).
Faktor predisposisi inIeksi adalah Iimosis, alir-balik vesikoureter (reIluks vesikoureter), uropati
obstruktiI, kelainan kongenital buli-buli atau ginjal, dan diaper rash. Patogenesis inIeksi saluran
kemih sangat kompleks, karena tergantung dari banyak Iaktor seperti Iaktor pejamu (4st) dan
Iaktor organismenya. Bakteri dalam urin dapat berasal dari ginjal, pielum, ureter, vesika urinaria
atau dari uretra.
Beberapa Iaktor predisposisi ISK adalah obstruksi urin, kelainan struktur, urolitiasis, benda
asing, reIluks atau konstipasi yang lama. Pada bayi dan anak anak biasanya bakteri berasal dari
tinjanya sendiri yang menjalar secara asending. Bakteri uropatogenik yang melekat pada pada sel
uroepitelial, dapat mempengaruhi kontraktilitas otot polos dinding ureter, dan menyebabkan
gangguan peristaltik ureter. Melekatnya bakteri ke sel uroepitelial, dapat meningkatkan virulensi
bakteri tersebut.
,ukosa kandung kemlh dllaplsl oleh qlycoptotelo moclo loyet yang berfungsl sebagal anLl bakLerl
8obeknya laplsan lnl dapaL menyebabkan bakLerl dapaL melekaL membenLuk kolonl pada permukaan
mukosa masuk menembus eplLel dan selan[uLnya Ler[adl peradangan 8akLerl darl kandung kemlh
dapaL nalk ke ureLer dan sampal ke gln[al melalul laplsan Llpls calran (fllms of flolJ) apalagl blla ada
refluks veslkoureLer maupun refluks lnLrarenal 8lla hanya bull bull yang Lerlnfeksl dapaL mengaklbaLkan
lrlLasl dan spasme oLoL polos veslka urlnarla aklbaLnya rasa lngln mlksl Lerus menerus (otqeocy) aLau
mlksl berulang kall (ftepoeocy) saklL wakLu mlksl (Jysotl) ,ukosa veslka urlnarla men[adl edema
meradang dan perdarahan (hemaLurla)
lnfeksl gln[al dapaL Ler[adl melalul collectloq system elvls dan medula gln[al dapaL rusak balk aklbaL
lnfeksl maupun oleh Lekanan urln aklbaL refluks berupa aLrofl gln[al ada plelonefrlLls akuL dapaL
dlLemukan fokus lnfeksl dalam parenklm gln[al gln[al dapaL membengkak lnfllLrasl lekoslL
pollmorfonuklear dalam [arlngan lnLersLlLlal aklbaLnya fungsl gln[al dapaL Lerganggu ada plelonefrlLls
kronlk aklbaL lnfeksl adanya produk bakLerl aLau zaL medlaLor Lokslk yang dlhasllkan oleh sel yang
rusak mengaklbaLkan paruL gln[al (teool scottloq)

CE)ALA KLINIS
e[ala kllnls lnfeksl saluran alr kemlh baglan bawah secara klaslk yalLu nyerl blla buang alr kecll (dysurla)
serlng buang alr kecll (frequency) dan ngompol e[ala lnfeksl saluran kemlh baglan bawah blasanya
panas Llnggl ge[ala ge[ala slsLemlk nyerl dl daerah plnggang belakang namun demlklan sullL
membedakan lnfeksl saluran kemlh baglan aLas dan baglan bawah berdasarkan ge[ala kllnls sa[a
e[ala lnfeksl saluran kemlh berdasarkan umur penderlLa adalah sebagal berlkuL
01 8ulan angguan perLumbuhan anoreksla munLah dan dlare ke[ang koma
panas/hlpoLermla Lanpa dlkeLahul sebabnya lkLerus (sepsls)
1 bln2 Lhn anas/hlpoLermla Lanpa dlkeLahul sebabnya gangguan perLumbuhan anoreksla
munLah dlare ke[ang koma kollk (anak men[erlL keras) alr kemlh berbau/berubah
warna kadangkadang dlserLal nyerl peruL/plnggang
26 Lhn anas/hlpoLermla Lanpa dlkeLahul sebabnya Lldak dapaL menahan kenclng
polaklsurla dlsurla enuresls alr kemlh berbau dan berubah warna dlare munLah
gangguan perLumbuhan serLa anoreksla
618 Lhn nyerl peruL/plnggang panas Lanpa dlkeLahul sebabnya Lak dapaL menahan kenclng
polaklsurla dlsurla enuresls alr kemlh berbau dan berubah warna

DIACNUSIS
8|akan a|r kem|h
ulkaLakan lnfeksl poslLlf apablla
Alr kemlh Lampung porsl Lengah blakan kuman poslLlf dengan [umlah kuman 10
3
/ml 2 kall
berLuruLLuruL
Alr kemlh Lampung dengan pungsl bullbull suprapublk seLlap kuman paLogen yang Lumbuh pasLl
lnfeksl emblakan urln melalul pungsl suprapublk dlgunakan sebagal qolJ stooJot

uugaan lnfeksl
emerlksaan alr kemlh ada kuman plurla Lorak leukoslL
u[l klmla 11C kaLalase glukosurla lekoslL esLerase LesL nlLrlL LesL
,encar| faktor res|ko |nfeks| sa|uran kem|h
emerlksaan ulLrasonografl gln[al unLuk mengeLahul kelalnan sLrukLur gln[al dan kandung kemlh
emerlksaan ,lkslo SlsLo ureLrografl/,Su unLuk mengeLahul adanya refluks
emerlksaan plelografl lnLra vena (lv) unLuk mencarl laLar belakang lnfeksl saluran kemlh dan
mengeLahul sLrukLur gln[al serLa saluran kemlh

DIACNUSA BANDINC
ang penLlng adalah membedakan anLara plelonefrlLls dan slsLlLls lngaL akan plelonefrlLls apablla
dldapaLkan lnfeksl dengan hlperLensl dlserLal ge[alage[ala umum adanya fakLor predlsposlsl fungsl
konsenLrasl gln[al menurun respons Lerhadap anLlbloLlk kurang balk

Ada 3 prlnslp penaLalaksanaan lnfeksl saluran alr kemlh


,emberanLas lnfeksl
,enghllangkan fakLor predlsposlsl
,emberanLas penyullL

Neuikamentosa
enyebab Lerserlng lS lalah Lscherlchla coll Sebelum ada hasll blakan urln dan u[l kepekaan unLuk
eradlkasl lnfeksl akuL dlberlkan anLlbloLlk secara emplrlk selama 710 harl !enls anLlbloLlk dan dosls
dapaL dlllhaL pada lamplran
8edah
oreksl bedah sesual dengan kelalnan saluran kemlh yang dlLemukan unLuk menghllangkan fakLor
predlsposlsl
Suport|f
Selaln pemberlan anLlbloLlk penderlLa lS perlu mendapaL asupan calran cukup perawaLan hlglene
daerah perlneum dan perlureLra pencegahan konsLlpasl
La|n|a|n (ru[ukan subspes|a||s ru[ukan spes|a||sas| |a|nnya d||)
8u[ukan ke 8edah urologl sesual dengan kelalnan yang dlLemukan 8u[ukan ke unlL 8ehablllLasl ,edlk
unLuk bullbull neurogenlk 8u[ukan kepada SpA() blla ada fakLor rlslko

L,AN1AUAN
ualam 2 x 24 [am seLelah pengobaLan fase akuL dlmulal ge[ala lS umumnya menghllang 8lla
ge[ala belum menghllang dlplklrkan unLuk mengganLl anLlbloLlk yang laln sesual dengan u[l kepekaan
anLlbloLlk ullakukan pemerlksaan kulLur dan u[l reslsLensl urln ulang 3 harl seLelah pengobaLan fase akuL
dlhenLlkan dan blla memungklnkan seLelah 1 bulan dan seLlap 3 bulan !lka ada lS berlkan anLlbloLlk
sesual hasll u[l kepekaan
8lla dlLemukan ada kelalnan anaLomlk maupun fungslonal yang menyebabkan obsLruksl maka
seLelah pengobaLan fase akuL selesal dllan[uLkan dengan anLlbloLlk profllaksls (llhaL lamplran) AnLlbloLlk
profllaksls [uga dlberlkan pada lS berulang lS pada neonaLus dan plelonefrlLls akuL

KUMPLIKASI
lelonefrlLls berulang dapaL mengaklbaLkan hlperLensl paruL gln[al dan gagal gln[al kronlk (lelonefrlLls
berulang Llmbul karena adanya fakLor predlsposlsl)

Ien|s dan dos|s ant|b|ot|k untuk terap| ISk
%,-0 : Dosis ,39i-io9ik, p,7030907, (A), O7, (B), P7ofi,ksis (C)
Obat Dosis mg/kgBB/hari Frekuensi/ (umur bayi)
(A) P,703907,

Ampisilin

100

tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)

tiap 6-8 jam (bayi > 1 minggu)
Sefotaksim

150

dibagi setiap 6jam.

Gentamisin 5 tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
tiap 8 jam (bayi > 1 minggu)
Seftriakson 75 sekali sehari
Seftazidim

150

dibagi setiap 6 jam


Sefazolin

50

dibagi setiap 8 jam

Tobramisin

5

dibagi setiap 8 jam

Ticarsilin

100

dibagi setiap 6 jam

(B) O7,
Rawat jalan antibiotik oral (pengobatan standar)
Amoksisilin

20-40 mg/Kg/hari

q8h

Ampisilin

50-100 mg/Kg/hari

q6h

Amoksisilin-asam klafulanat 50 mg/Kg/hari

q8h

Sefaleksin 50 mg/Kg/hari q6-8h
Sefiksim

4 mg/kg

q12h

Nitrofurantoin*

6-7 mg/kg

q6h
Sulfisoksazole*

120-150

q6-8h
Trimetoprim*

6-12 mg/kg

q6h
Sulfametoksazole 30-60 mg/kg q6-8h
*
Tidak direkomendasikan untuk neonatus dan penderita dengan insufisiensi ginja
(C) %07,pi p7ofi,ksis


Nitrofurantoin*

1 -2 mg/kg

(1x m,,m h,7i)

Sulfisoksazole*

50 mg/Kg

Trimetoprim*

2mg/Kg

Sulfametoksazole 30-60 mg/kg



atu %raktus &rinarius
May 10, 2011
By admin
Gangguan pada saluran kemih selain karena inIeksi dan kelainan anatomis dapat karena
terbentuknya batu di dalam saluran kemih. Batu dapat timbul pada ginjal, ureter maupun pada
buli-buli. Bentuk batu dapat bermacam-macam, misalnya persegi, elips, seperti murbei dan
sebagainya. Batu dapat lunak keras sehingga sukar dihancurkan. Faktor-Iaktor yang menjadi
predisposisi terjadinya batu saluran kemih adalah hiperkalsiuria, pengeluaran piroIosIat di dalam
urinatau natrium dan magnesium. Perbandingan natrium dan kalsium atau magnesium dan
kalsium merupakan Iaktor terpenting dalam pembentukan batu ginjal. Pada beberapa keadaan
batu terjadi sekunder terhadap pembendungan air kemih atau inIeksi saluran air kemih juga
dipengaruhi Iaktor diet, iklim dan sebagainya.
efrolitiasis (batu ginal)
NeIrolitiasis ialah terbentuknya batu di dalam kaliks ginjal atau pelvis renalis. Lebih dari separuh
kasus batu ginjal ditemukan pada usia 20-50 tahun dan Irekuensinya pria lebih banyak daripada
wanita. NeIrolitiasis disebabkan oleh stasis urin di bagian distal, inIeksi traktus urinarius baik
spesiIik maupun non spesiIik, hiperparatiroid atau adenoma paratiroid, diet yang banyak
menagndung oksalat seperti bayam, kangkung, kopi, teh, nanas, coklat dan lain-lain, juga artritis
asam urat (gout), plak randal dan sebagainya.
Gambaran klinik
Batu ginjal kadang-kadang tidak menunjukkan gejala. Tanda pertama terjadi bila batu keluar
melalui kaliks atau piala ginjal ke ureta. Gejala klasik ialah nyeri dan hematuri.
a. Nyeri pinggang atau perut
1) Kolik, serangan sakit berat yang timbul mendadak, berlangsung sebentar dan kemudian hilang
mendadak pula untuk kemudian timbul kembali lagi. Nadi cepat, pucat, berkeringat dingin dan
tekanan darah turun. Biasanya diikuti muntah atau mual, perut kembung, dan gejala ileus
paralitik. Ditemukan pada 80 kasus batu ginjal.
2) Nyeri terus menerus, rasa panas atau terbakar di pinggang yang dapat berlangsung beberapa
hari sampai beberapa minggu.
b. Hematuria ditemukan pada 100 kasus. Darah dari ginjal berwarna coklat tua. Dapat terjadi
dengan atau tanpa kolik
c. Bila terjadi hidroneIrosis dapat diraba pembesaran ginjal.
&reterolitiasis (batu ureter)
Ureterolitiasis adalah terdapatnya batu pada ureter. Penyebab ureterolitiasis biasanya berasal dari
batu ginjal yang lepas dan turun ke distal.
Gambaran klinik
a. Nyeri dapat bersiIat kolik hebat sehingga pasien berteriak atau berguling-guling. Kadang-
kadang nyeri terus-menerus karena peregangan kapsul ginjal. Biasanya nyeri dimulai didaerah
pinggang kemudian menjalar ke arah testis disertai mual dan muntah, berkeringat dingin, pucat
dan dapat terjadi renjatan.
b. Hematuria.
c. Nyeri ketok di daerah pinggang.
2.2.13 Vesikolitiasis (batu buli-buli)
Batu buli-buli ialah suatu keadaan ditemukannya batu didalam buli-buli. Pada anak 75
ditemukan dibawah usia 12 tahun dan 57 pada usia 1-6 tahun. Batu buli-buli berasal dari batu
ginjal atau ureter yang turun akibat stasis pada striktur uretra, kontraksi leher buli-buli, sistokel,
buli-neurogenik dan diventrikel, inIeksi traktus urinarius, hiperparatiroid, diet yang mengandung
banyak kalsium dan oksalat.
Komplikasi
HidroneIrosis, pieloneIritis, uremia dan gagal ginjal akut.
Gambaran klinik
Rasa nyeri waktu miksi (disuria, stranguria). Hematuria kadang-kadang disertai urin keruh.
Pancaran urin tiba-tiba berhenti dan keluar lagi pada perubahan posisi. Sering miksi
(polakisuria). Pada anak nyeri miksi ditandai oleh kesakitan, menangis, menarik-narik penisnya.
Miksi kadang-kadang mengedan sering diikuti deIekasi atau prolapsus ani.
!emeriksaan diagnostik
Pemeriksaan laboratorium
Hematuria dapat terjadi makroskopis, sedimen urin mengandung eritrosit dan leukosit.
Ditemukan kristal yang spesiIik untuk setiap jenis batu. Pada batu ginjal kadang-kadang terdapat
proteinuria ringan. Pada buli-buli, leukosit lebih banyak daripada eritrosit dan terbesar.
Pemeriksaan radiologis
Foto polos abdomen berguna untuk melihat batu radioopak di kaliks atau di piala ginjal, ureter
dan buli-buli. Bila batu tidak tampak dapat dilakukan pemeriksaan pielograIi intravena (piv)
untuk melihat batu radiolusen sekaligus untuk menilai skresi ginjal. Bila dengan Ioto polos
abdomen dan PIV tidak dapat ditentukan adanya batu atau bila PIV merupakan indikasi kontra,
maka dapat dilakuka pielograIi retrograd.
Pemeriksaan khusus
Pada buli-buli selain pemeriksaan radiologis, dilakukan juga pemeriksaan ketok batu dan
perabaan rektum. Anak yang menderita batu pada saluran kemih pada umumnya mengeluh
kesakitan sekali (kolik) disamping berkemih yang tidak lancar atau justru terjadi hematuria. Bila
menjumpai keadaan demikian sebaiknya pasien langsung dikirim ke dokter. Nyeri hebat juga
dapat terjadi pada penyakit lain seperti apendisitis akut atau kolesistisis.
!enatalaksanaan
Pengobatan konservatiI diberikan spasmolitik untuk relaksasi otot ureter, banyak minum dan
olah raga, diuretika, analgetika, sedativ. Antibiotik diberikan bila terdapat inIeksi.
Operasi dilakukan untuk mengeluarkan batu ginjal, ureter dan buli-buli yang tidak mungkin
diharapkan dapat keluar sendiri (spontan), dan bila Iungsi ginjal masih baik. Jika Iungsi ginjal
telah buruk dilakukan neIrektomi. Batu buli-buli yang besar dapat dipecahkan dengan litotripsi.
Jika batu lebih besar dari 4 cm, biasanya dilakukan vesikolitotomi ($eksi4-Alta).

ISK
2.1. efinisi
InIeksi saluran kemih (ISK) adalah inIeksi yang terjadi akibat terbentuknya koloni kuman di
saluran kemih. Beberapa istilah penting yang sering dipergunakan dalam klinis mengenai ISK
adalah:
1. ISK sederhana, yaitu ISK pada pasien tanpa disertai kelainan anatomi maupun kelainan
struktur saluran kemih.
2. ISK kompleks, yaitu ISK yang terjadi pada pasien yang menderita kelainan anatomis/
struktur saluran kemih, atau adanya penyakit sistemik. Kelainan ini akan menyulitkan
pemberantasan kuman oleh antibiotika.
3. irst infecti4n (inIeksi pertama kali) atau is4lated infecti4n, yaitu ISK yang baru pertama
kali diderita atau inIeksi yang didapat setelah sekurangkurangnya 6 bulan bebas dari
ISK.
4. InIeksi berulang, yaitu timbulnya kembali bakteriuria setelah sebelumnya dapat dibasmi
dengan pemberian antibiotika pada inIeksi yang pertama. Timbulnya inIeksi berulang ini
dapat berasal dari re-inIeksi atau bakteriuria persisten. Pada re-inIeksi kuman berasal dari
luar saluran kemih, sedangkan bakteriuria persisten bakteri penyebab berasal dari dalam
saluran kemih itu sendiri.
2.2. Klasifikasi
InIeksi saluran kemih dapat diklasiIikasikan berdasarkan anatomi, yaitu:
a. InIeksi saluran kemih atas
1. PieloneIritis akut (PNA), adalah proses inIlamasi parenkim ginjal yang disebabkan oleh
inIeksi bakteri.
2. PieloneIritis kronis (PNK), mungkin terjadi akibat lanjut dari inIeksi bakteri
berkepanjangan atau inIeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih serta reIluks
vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti pembentukan jaringan
ikat parenkim ginjal yang ditandai pieloneIritis kronik yang spesiIik.
b. InIeksi saluran kemih bawah
1. Sistitis, adalah presentasi klinis inIeksi saluran kemih disertai bakteriuria bermakna.
2. Sindroma uretra akut (SUA), adalah presentasi klinis sistitis tanpa ditemukan
mikroorganisme (steril).
2.3. Etiologi
Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatiI termasuk bakteri yang biasanya menghuni usus
kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram negatiI tersebut, ternyata scericia c4li
menduduki tempat teratas kemudian diikuti oleh Pr4teus sp., Klebsiella sp., nter4bacter sp.,
dan Pseud424nas sp.,Bermacam-macam mikro organisme dapat menyebabkan ISK, antara lain
dapat dilihat pada tabel berikut:
%abel 1. Persentase biakan mikroorganisme penyebab ISK
o. Mikroorganisme !ersentase biakan
()
1. scericia c4li 50-90
2. Klebsiela sp. atau nter4bacter sp. 10-40
3. Pr4teus sp. 5-10
4. Pseud424nas aer4gin4sa 2-10
5. $tapyl4c4ccus epider2idis 2-10
6. nter4c4cci sp. 2-10
7. Candida albicans 1-2
8. $tapyl4c4ccus aureus 1-2
Jenis penyebab ISK non-bakterial adalah biasanya adenovirus yang dapat menyebabkan sistitis
hemoragik. Bakteri lain yang dapat menyebabkan ISK melalui cara hematogen adalah brusella,
n4cardia, actin42ises, dan Myc4bacteriu2 tubercul4sa . Candida sp merupakan jamur yang
paling sering menyebabkan ISK terutama pada pasien-pasien yang menggunakan kateter urin,
pasien dengan penyakit i2unn4c42pr42ised, dan pasien yang mendapat pengobatan antibiotik
berspektrum luas. Jenis Candida yang paling sering ditemukan adalah Candida albicans dan
Candida tr4picalis. Semua jamur sistemik dapat menulari saluran kemih secara hematogen .
Faktor predisposisi yang mempermudah untuk terjadinya ISK, yaitu :
1. Bendungan aliran urin, terdiri atas :
a. Anomali kongenital
b. Batu saluran kemih
c. Oklusi ureter (sebagian atau total)
2. ReIluks vesikoureter
3. Urin sisa dalam buli-buli karena :
a. Neur4genic bladder
b. Striktura uretra
5.Hygienitas
6. Instrumentasi
a. Kateter
b. Dilatasi uretra
c. Sitoskopi
2.4. !atogenesis & !atofisiologi
Saluran kemih merupakan area yang seharusnya bebas dari mikroorganisme atau steril. InIeksi
saluran kemih terjadi pada saat mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih dan berkembang
biak di dalam media urin. Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal dari
Ilora normal usus dan hidup secara komensal di introitus vagina, prepusium penis, kulit
perineum, dan sekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui 4 cara, yaitu:
1. ascending,
2. hematogen;
3. limIogen;
4. langsung dari organ sekitar yang sebelumnya sudah terinIeksi atau eksogen sebagai akibat dari
pemakaian instrumen.
Dua jalur utama terjadinya ISK adalah ascending dan hematogen. Namun, secara umum, inIeksi
paling sering terjadi dengan cara ascending, walapupun inIeksi secara hematogen dapat terjadi
pada anak usia infant.
Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih. (1)kolonisasi kuman di
sekitar uretra, (2)masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli, (3)penempelan kuman pada
dinding buli-buli, (4)masuknya kuman melaui ureter ke ginjal
6
.
2.4.1. Infeksi Ascending
InIeksi secara ascending (naik) dapat terjadi melalui 4 tahapan, yaitu:
a. Kolonisasi mikroorganisme pada uretra dan daerah introitus vagina;
b. masuknya mikroorganisme ke dalam buli-buli;
c. multiplikasi dan penempelan mikroorganisme dalam kandung kemih;
d. naiknya mikroorganisme dari kandung kemih ke ginjal.
Terjadinya inIeksi saluran kemih karena adanya gangguan keseimbangan antara mikroorganisme
penyebab inIeksi (uropatogen) sebagai agent dan epitel saluran kemih sebagai 4st. Gangguan
keseimbangan ini disebabkan oleh pertahanan tubuh dari host yang menurun atau karena
virulensi agent yang meningkat.
1. Faktor 4st
Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk ke dalam saluran kemih disebabkan
oleh beberapa Iaktor, antara lain :
a. Pertahanan lokal dari host;
b. Peranan sistem kekebalan tubuh yang terdiri dari imunitas selular dan humoral.
%abel 2. Pertahanan lokal terhadap inIeksi.
o !ertahanan lokal tubuh terhadap infeksi
1. Mekanisme pengosongan urin yang teratur dari buli-buli dan gerakan peristaltik ureter
(as 4ut 2ecanis2)
2. Derajat keasaman (pH) urin
3. Osmolaritas urin yang cukup tinggi
4. Panjang uretra pada pria
Pertahanan lokal sistem saluran kemih yang paling baik adalah mekanisme as 4ut urin, yaitu
aliran urin yang mampu membersihkan kuman-kuman yang ada di dalam urin. Gangguan dari
sistem ini akan mengakibatkan kuman mudah sekali untuk bereplikasi dan menempel pada
urotelium. Mekanisme as 4ut dapat berjalan dengan baik dengan aliran urin yang adekuat
adalah jika:
a. Jumlah urin cukup;
b. Tidak ada hambatan didalam saluran kemih.
Oleh karena itu, kebiasaan jarang minum dan gagal ginjal menghasilkan urin yang tidak adekuat,
sehingga memudahkan terjadinya inIeksi saluran kemih.
Keadaan lain yang dapat mempengaruhi aliran urin dan menghalangi mekanisme as 4ut
adalah adanya:
1. Stagnansi atau stasis urin (miksi yang tidak teratur atau sering menahan kencing,
obstruksi saluran kemih, adanya kantong-kantong pada saluran kemih yang tidak dapat
mengalir dengan baik misalnya pada divertikula, dan adanya dilatasi atau reIluks sistem
urinaria.
2. Didapatkannya benda asing di dalam saluran kemih yang dipakai sebagai tempat
persembunyian kuman.
2. Faktor agent (mikroorganisme)
Bakteri dilengkapi dengan pili atau Iimbriae yang terdapat di permukaannya. Pili berIungsi untuk
menempel pada urotelium melalui reseptor yang ada dipermukaan urotelium. Ditinjau dari jenis
pilinya terdapat 2 jenis bakteri yang mempunyai virulensi berbeda, yaitu :
a. Tipe pili 1, banyak menimbulkan inIeksi pada sistitis.
b. Tipe pili P, yang sering menimbulkan inIeksi berat pieloneIritis akut.
Selain itu beberapa bakteri mempunyai siIat dapat membentuk antigen, menghasilkan toksin
(hemolisin), dan menghasilkan enzim urease yang dapat merubah suasana urin menjadi basa.
2.4.2. Hematogen
InIeksi hematogen kebanyakan terjadi pada anak usia infant, anak dengan daya tahan tubuh yang
rendah karena menderita sesuatu penyakit kronis, atau pada anak yang mendapatkan pengobatan
imunosupresiI. Penyebaran hematogen bisa juga timbul akibat adanya Iokus inIeksi di tempat
lain, misalnya inIeksi $. aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari Iokus
inIeksi di tulang, kulit, endotel, atau tempat lain. M. Tubercul4sis, $al24nella sp., pseud424nas
sp., Candida albicans, dan Pr4teus sp termasuk jenis bakteri/ jamur yang dapat menyebar secara
hematogen. Walaupun jarang terjadi, penyebaran hematogen ini dapat mengakibatkan inIeksi
ginjal yang berat, misal inIeksi $tapyl4c4ccus dapat menimbulkan abses pada ginjal .
2.4. %anda dan Geala
1. Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah adalah :
4 Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih
4 Spasme pada area kandung kemih dan suprapubis
4 Hematuria
4 Nyeri punggung dapat terjadi
2. Tanda dan gejala ISK bagian atas adalah :
4 Demam
4 Menggigil
4 Nyeri panggul dan pinggang
4 Nyeri ketika berkemih
4 Malaise
4 Pusing
4 Mual dan muntah
Berdasarkan bagian saluran kemih yang terinIeksi, tanda dan gejala sebagai berikut:
O Sistitis : piuria urgensi, Irekuensi miksi meningkat perubahan warna dan bau urine, nyeri
suprapublik, demam biasanya tidak ada.
O Uretritis : mungkin mirip dengan sistitis kecuali adanya discarge uretra
O Prostatitis: serupa dengan sistitis kecuali gejala obstruksi oriIisium uretra (cont: hesitansi,
aliran lemah).
O PieloneIritis : demam, menggigil, nyeri punggung atau bokong, mual, muntah, diare.
O Abses ginjal (intrarenal atau perineIrik); serupa dengan pieloneIritis kecuali demam
menetap meskipun diobati dengan antibiotik.
2.5. iagnosis
Anamnesis : ISK bawah Irekuensi, disuria terminal, polakisuria, nyeri suprapubik. ISK atas:
nyeri pinggang, demam, menggigil, mual dan muntah, hematuria. Pemeriksaan Iisik: Iebris, nyeri
tekan suprapubik, nyeri ketok sudut kostovertebra. Laboratorium: lekositosis, lekosituria, kultur
urin (): bakteriuria ~ 10
5
/ml urin.
2.6. !emeriksaan !enunang
2.6.1. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk menunjang menegakkan diagnosis inIeksi
saluran kemih, antara lain :
2.6.1.1. &rinalisis
Untuk pengumpulan spesimen, dapat dipilih pengumpulan urin melalui urin porsi tengah, pungsi
suprapubik, dan kateter uretra. Secara umum, untuk anak laki-laki dan perempuan yang sudah
bisa berkemih sendiri, maka cara pengumpulan spesimen yang dapat dipilih adalah dengan cara
urin porsi tengah.Urin yang dipergunakan adalah urin porsi tengah (2idstrea2). Untuk bayi dan
anak kecil, spesimen didapat dengan memasang kantong steril pada genitalia eksterna. Cara
terbaik dalam pengumpulan spesimen adalah dengan cara pungsi suprapubik, walaupun tingkat
kesulitannya paling tinggi dibanding cara yang lain karena harus dibantu dengan alat USG untuk
memvisualisasikan adanya urine dalam ;esica urinaria.
Pada urinalisis, yang dinilai adalah sebagai berikut:
a. Eritrosit
Ditemukannya eritrosit dalam urin (hematuria) dapat merupakan penanda bagi berbagai penyakit
glomeruler maupun non-gromeruler, seperti batu saluran kemih dan inIeksi saluran kemih.
b. Piuria
Piuria atau sedimen leukosit dalam urin yang dideIinisikan oleh $ta22, bila ditemukan paling
sedikit 8000 leukosit per ml urin yang tidak disentriIus atau setara dengan 2-5 leukosit per
lapangan pandang besar pada urin yang di sentriIus. InIeksi saluran kemih dapat dipastikan bila
terdapat leukosit sebanyak ~ 10 per mikroliter urin atau ~ 10.000 per ml urin .
Piuria yang steril dapat ditemukan pada keadaan :
1. inIeksi tuberkulosis;
2. urin terkontaminasi dengan antiseptik;
3. urin terkontaminasi dengan leukosit vagina;
4. neIritis intersisial kronik (neIropati analgetik);
5. neIrolitiasis;
6. tumor uroepitelial
c. Silinder
Silinder dalam urin dapat memiliki arti dalam diagnosis penyakit ginjal, antara lain:
1. silinder eritrosit, sangat diagnostik untuk glomeruloneIritis atau vaskulitis ginjal;
2. silinder leukosit bersama dengan hanya piuria, diagnostik untuk pieloneIritis;
3. silinder epitel, dapat ditemukan pada nekrosis tubuler akut atau pada gromeruloneIritis akut;
4. silinder lemak, merupakan penanda untuk sindroma neIrotik bila ditemukan bersamaan
dengan proteinuria neIrotik.
d. Kristal
Kristal dalam urin tidak diagnostik untuk penyakit ginjal.
e. Bakteri
Bakteri dalam urin yang ditemukan dalam urinalisis tidak identik dengan inIeksi saluran kemih,
lebih sering hanya disebabkan oleh kontaminasi.
2.6.1.2. akteriologis
a. Mikroskopis, pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan urin segar tanpa diputar atau
pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positiI bila dijumpai satu bakteri lapangan pandang minyak
emersi.
b. Biakan bakteri, pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan diagnosis
ISK yaitu bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna, yaitu:
%abel 3. Kriteria untuk diagnosis bakteriuria bermakna
Pengambilan spesimen Jumlah koloni bakteri per ml urin
Aspirasi supra pubik ~ 100 cIu/ml dari 1 atau lebih organisme
patogen
Kateter ~ 20.000 cIu/ml dari 1 organisme patogen
&rine bag atau urin porsi tengah ~ 100.000 cIu/ml
Dalam penelitian Zorc et al. menyatakan bahwa ISK pada anak-anak sudah dapat ditegakkan
bila ditemukan bakteri lebih besar dari 10.000 cIu per ml urin yang diambil melalui kateter.
Namun, Hoberman et al. menyatakan bahwa ditemukannya jumlah koloni bakteri antara 10.000
hingga 49.000 cIu per ml urin masih diragukan, karena kemungkinan terjadi kontaminasi dari
luar, sehingga masih diperlukan biakan ulang, terutama bila anak belum diobati atau tidak
menunjukkan adanya gejala ISK.
2.6.1.3. %es Kimiawi
Beberapa tes kimiawi dapat dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya yang paling
sering dipakai adalah tes reduksi griess nitrate. Dasarnya adalah sebagian besar mikroba kecuali
enter4c4cci mereduksi nitrat
4
.
2.6.1.4. %es !lat - Celup (ip-Slide)
Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempengan plastik bertangkai dimana
pada kedua sisi permukaannya dilapisi pembenihan padat khusus. Lempengan tersebut
dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan digenangi urin. Setelah itu lempengan dimasukkan
kembali kedalam tabung plastik tempat penyimpanan semula, lalu diletakkan pada suhu 37
o
C
selama satu malam. Penentuan jumlah kuman/mL dilakukan dengan membandingkan pola
pertumbuhan kuman yang terjadi dengan serangkaian gambar yang memperlihatkan pola
kepadatan koloni antara 1000 hingga 10.000.000 cIu per mL urin yang diperiksa. Cara ini mudah
dilakukan, murah dan cukup adekuat. Kekurangannya adalah jenis kuman dan kepekaannya tidak
dapat diketahui .
2.6.2. Radiologis dan pemeriksaan penunang lainnya
Pemeriksaan radiologis pada ISK dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau kelainan
anatomis yang merupakan Iaktor predisposisi ISK. Pemeriksaan ini dapat berupa Ioto polos
abdomen, pielograIi intravena, demikian pula dengan pemeriksaan lainnya, misalnya
ultrasonograIi dan CT $can.
2.7. !enatalaksanaan
Pada ISK yang tidak memberikan gejala klinis tidak perlu pemberian terapi, namun bila sudah
terjadi keluhan harus segera dapat diberikan antibiotika.

Antibiotika yang diberikan berdasarkan
atas kultur kuman dan tes kepekaan antibiotika.
Banyak obat-obat antimikroba sistemik diekskresikan dalam konsentrasi tinggi ke dalam urin.
Karena itu dosis yang jauh dibawah dosis yang diperlukan untuk mendapatkan eIek sistemik
dapat menjadi dosis terapi bagi inIeksi saluran kemih. Bermacam cara pengobatan yang
dilakukan pada pasien ISK, antara lain:
- pengobatan dosis tunggal
- pengobatan jangka pendek (10-14 hari)
- pengobatan jangka panjang (4-6 minggu)
- pengobatan proIilaksis dosis rendah
- pengobatan supresiI
(1)

Prinsip umum penatalaksanaan ISK adalah :
1. eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai, dan
2. mengkoreksi kelainan anatomis yang merupakan Iaktor predisposisi
Tujuan penatalaksanaan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan
mengobati bakteriemia dan bakteriuria, mencegah dan mengurangi risiko kerusakan ginjal yang
mungkin timbul dengan pemberian obat-obatan yang sensitiI, murah, aman dengan eIek samping
yang minimal. Oleh karena itu, pola pengobatan ISK harus sesuai dengan bentuk ISK, keadaan
anatomi saluran kemih, serta Iaktor-Iaktor penyerta lainnya.
Pemilihan antibiotik sangat dipengaruhi oleh bentuk resistensi lokal suatu daerah. Amoksisilin
secara tradisional merupakan antibiotik lini pertama untuk ISK pada anak-anak. Namun,
peningkatan angka resistensi .c4li terhadap antibiotik ini menjadikan angka kegagalan
kesembuhan ISK yang diterapi dengan antibiotik ini menjadi tinggi
3
. Uji sensitivitas antibiotik
menjadi pilihan utama dalam penentuan antibiotik yang dipergunakan. Antibiotik yang sering
dipergunakan untuk terapi ISK, yaitu:
1. Amoxicillin 20-40 mg/kg/hari dalam 3 dosis. Sekitar 50 bakteri penyebab ISK resisten
terhadap amoxicillin. Namun obat ini masih dapat diberikan pada ISK dengan bakteri yang
sensitiI terhadapnya.
2. KloramIenikol 50 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4, sedangkan untuk bayi
premature adalah 25 mg/kg berat badan sehari dalam dosis terbagi 4.
3. Co-trimoxazole atau trimethoprim 6-12 mg trimethoprim/kg/hari dalam 2 dosis. Sebagian
besar ISK akan menunjukkan perbaikan dengan cotrimoxazole. Penelitian menunjukkan angka
kesembuhan yang lebih besar pada pengobatan dengan cotrimoxazole dibandingkan amoxicillin.
4. Cephalosporin seperti ceIixime atau cephalexin 1-2 gr dalam dosis tunggal atau dosis terbagi
(2 kali sehari) untuk inIeksi saluran kemih bagian bawah (sistitis) sehari. Cephalexin kira-kira
sama eIektiI dengan cotrimoxazole, namun lebih mahal dan memiliki spectrum luas sehingga
dapat mengganggu bakteri normal usus atau menyebabkan berkembangnya jamur (Candida sp.)
pada anak perempuan.
Obat-obatan seperti Asam nalidiksat atau NitroIurantoin tidak digunakan pada anak-anak yang
dikhawatirkan mengalami keterlibatan ginjal pada ISK. Selain itu nitroIurantoin juga lebih mahal
dari Cotrimoxazole dan memiliki eIek samping seperti mual dan muntah. Fluoroquinolon yang
sering dipergunakan pada pasien dewasa tidak pernah dipergunakan pada anak-anak karena
mengganggu perkembangan pada sistem muskuloskeletal dan sendi .
Lama pemberian antibiotik pada ISK umumnya masih menjadi kontroversi. Pada pasien dewasa,
pemberian antibiotik selama 1-3 hari telah menunjukkan perbaikan berarti, namun dari berbagai
penelitian, lamanya antibiotik diberikan pada anak adalah sebaiknya 7-14 hari.
Jika tidak ada perbaikan dalam 2 hari setelah pengobatan, contoh urin harus kembali diambil dan
diperiksa ulang. Kultur ulang setelah 2 hari pengobatan umumnya tidak diperlukan jika diperoleh
perbaikan dan bakteri yang dikultur sebelumnya sensitiI terhadap antibiotik yang diberikan. Jika
sensitivitas bakteri terhadap antibiotik yang diberikan atau tidak dilakukan tes
sensitivitas/resistensi sebelumnya, maka kultur ulang dilakukan setelah 2 hari pengobatan.
Antibiotik proIilaksis tidak dianjurkan diberikan pada anak penderita ISK. Dalam penelitiannya,
Conway et al. menyatakan bahwa pemberian antibiotik proIilaksis berkaitan erat dengan
meningkatnya risiko terjadinya resistensi dan tidak adanya pengurangan dalam risiko terjadinya
ISK berulang maupun renal scarring. Pada anak penderita reIluks vesiko-urinaria, antibiotik
proIilaksis tidak memberikan eIek berarti dalam pengurangan risiko terjadinya ISK berulang,
sehingga pemberian antibiotik proIilaksis tidaklah diperlukan.
2.7.1. Sulfonamide
SulIonamide dapat menghambat baik bakteri gram positiI dan gram negatiI. Secara struktur
analog dengan asam p-amino benzoat (PABA). Biasanya diberikan per oral, dapat dikombinasi
dengan Trimethoprim, metabolisme terjadi di hati dan di ekskresi di ginjal. SulIonamide
digunakan untuk pengobatan inIeksi saluran kemih dan bisa terjadi resisten karena hasil mutasi
yang menyebabkan produksi PABA berlebihan.
EIek samping yang ditimbulkan hipersensitivitas (demam, ras, Iotosensitivitas), gangguan
pencernaan (nausea, ;42iting, diare), He2at4t4icity (granulositopenia, (thrombositopenia,
aplastik anemia) dan lain-lain. Mempunyai 3 jenis berdasarkan waktu paruhnya :
- $4rt acting
- Inter2ediate acting
- L4ng acting
2.7.2. %rimethoprim
Mencegah sintesis THFA, dan pada tahap selanjutnya dengan menghambat enzim diydr4f4late
reductase yang mencegah pembentukan tetrahydro dalam bentuk aktiI dari f4lic acid. Diberikan
per oral atau intravena, di diabsorpsi dengan baik dari usus dan ekskresi dalam urine, aktiI
melawan bakteri gram negatiI kecuali Pseudomonas spp. Biasanya untuk pengobatan utama
inIeksi saluran kemih. Trimethoprim dapat diberikan tunggal (100 mg setiap 12 jam) pada
inIeksi saluran kemih akut
EIek samping : megaloblastik anemia, leukopenia, granulocytopenia.
2.7.3. %rimethoprim + Sulfamethoxazole (%M!-SMX):
Jika kedua obat ini dikombinasikan, maka akan menghambat sintesis Iolat, mencegah resistensi,
dan bekerja secara sinergis. Sangat bagus untuk mengobati inIeksi pada saluran kemih,
pernaIasan, telinga dan inIeksi sinus yang disebabkan oleh Hae24pilus influen:a dan
M4raella catarralis. Karena Trimethoprim lebih bersiIat larut dalam lipid daripada
SulIamethoxazole, maka Trimethoprim memiliki volume distribusi yang lebih besar
dibandingkan dengan SulIamethoxazole. Dua tablet ukuran biasa (Trimethoprim 80 mg
SulIamethoxazole 400 mg) yang diberikan setiap 12 jam dapat eIektiI pada inIeksi berulang pada
saluran kemih bagian atas atau bawah. Dua tablet per hari mungkin cukup untuk menekan dalam
waktu lama inIeksi saluran kemih yang kronik, dan separuh tablet biasa diberikan 3 kali
seminggu untuk berbulan-bulan sebagai pencegahan inIeksi saluran kemih yang berulang-ulang
pada beberapa wanita.
EIek samping : pada pasien AIDS yang diberi TMP-SMX dapat menyebabkan demam,
kemerahan, leukopenia dan diare.
2.7.4. Fluoroquinolones
Mekanisme kerjanya adalah memblok sintesis DNA bakteri dengan menghambat topoisomerase
II (DNA gyrase) topoisomerase IV. Penghambatan DNA gyrase mencegah relaksasi supercoiled
DNA yang diperlukan dalam transkripsi dan replikasi normal.
(9)
Fluoroquinolon menghambat
bakteri batang gram negatiI termasuk enter4bacteriaceae, Pseud424nas, Neisseria. Setelah
pemberian per oral, Fluoroquinolon diabsorpsi dengan baik dan didistribusikan secara luas dalam
cairan tubuh dan jaringan, walaupun dalam kadar yang berbeda-beda. Fluoroquinolon terutama
diekskresikan di ginjal dengan sekresi tubulus dan dengan Iiltrasi glomerulus. Pada insuIisiensi
ginjal, dapat terjadi akumulasi obat.
EIek samping yang paling menonjol adalah mual, muntah dan diare. Fluoroquinolon dapat
merusak kartilago yang sedang tumbuh dan sebaiknya tidak diberikan pada pasien di bawah
umur 18 tahun.
2.7.5. orfloxacin
Merupakan generasi pertama dari Iluoroquinolones dari nalidiic acid, sangat baik untuk inIeksi
saluran kemih.
2.7.6. Ciprofloxacin
Merupakan generasi kedua dari Iluoroquinolones, mempunyai eIek yang bagus dalam melawan
bakteri gram negatiI dan juga melawan g4n4c4ccus, 2yk4bacteria, termasuk Myc4plas2a
pneu24niae.
2.7.7. Levofloxacin
Merupakan generasi ketiga dari Iluoroquinolones. Hampir sama baiknya dengan generasi kedua
tetapi lebih baik untuk bakteri gram positiI.
2.7.8. itrofurantoin
BersiIat bakteriostatik dan bakterisid untuk banyak bakteri gram positiI dan gram negatiI.
NitroIurantoin diabsorpsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat di metabolisasi dan
diekskresikan dengan cepat sehingga tidak memungkinkan kerja antibakteri sistemik. Obat ini
diekskresikan di dalam ginjal. Dosis harian rata-rata untuk inIeksi saluran kemih pada orang
dewasa adalah 50 sampai 100 mg, 4 kali sehari dalam 7 hari setelah makan.
EIek samping : anoreksia, mual, muntah merupakan eIek samping utama. Neuropati dan anemia
hemolitik terjadi pada individu dengan deIisiensi gluk4sa-6-f4sfat deidr4genase.
2.7.9. Obat tepat digunakan untuk pasien ISK dengan kelainan fungsi ginal
Ginjal merupakan organ yang sangat berperan dalam eliminasi berbagai obat sehingga gangguan
yang terjadi pada Iungsi ginjal akan menyebabkan gangguan eliminasi dan mempermudah
terjadinya akumulasi dan intoksikasi obat.
Faktor penting dalam pemberian obat dengan kelainan Iungsi ginjal adalah menentukan dosis
obat agar dosis terapeutik dicapai dan menghindari terjadinya eIek toksik. Pada gagal ginjal,
Iarmakokinetik dan Iarmakodinamik obat akan terganggu sehingga diperlukan penyesuaian dosis
obat yang eIektiI dan aman bagi tubuh. Bagi pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis,
beberapa obat dapat mudah terdialisis, sehingga diperlukan dosis obat yang lebih tinggi untuk
mencapai dosis terapeutik. Gagal ginjal akan menurunkan absorpsi dan menganggu kerja obat
yang diberikan secara oral oleh karena waktu pengosongan lambung yang memanjang,
perubahan pH lambung, berkurangnya absorpsi usus dan gangguan metabolisme di hati. Untuk
mengatasi hal ini dapat dilakukan berbagai upaya antara lain dengan mengganti cara pemberian,
memberikan obat yang merangsang motilitas lambung dan menghindari pemberian bersama
dengan obat yang menggangu absorpsi dan motilitas.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian obat pada kelainan Iungsi ginjal adalah :
- penyesuaian dosis obat agar tidak terjadi akumulasi dan intoksikasi obat
-
pemakaian obat yang bersiIat neIrotoksik seperti aminoglikosida, Amphotericine B,
Siklosporin.
Pada pasien ISK yang terinIeksi bakteri gram negatiI scericia c4li dengan kelainan Iungsi
ginjal adalah dengan mencari antibiotik yang tidak dimetabolisme di ginjal. Beberapa jurnal dan
tet b44k dikatakan penggunaan %rimethoprim + Sulfamethoxazole (%M!-SMX) mempunyai
resiko yang paling kecil dalam hal gangguan Iungsi ginjal. Hanya saja penggunaanya
memerlukan dosis yang lebih kecil dan waktu yang lebih lama. Pada pasien dengan creatine
clearance 15 hingga 30 ml/menit, dosis yang diberikan adalah setengah dari dosis Trimethoprim
80 mg SulIamethoxazole 400 mg yang diberikan tiap 12 jam. Cara pemberiannya dapat
dilakukan secara oral maupun intravena.
Penghitungan creatine clearance: TKK (140 umur) x berat badan
72 x kreatinin serum
2.8. !encegahan
1. Beberapa hal paling penting untuk mencegah inIeksi saluran kencing, inIeksi kandung
kemih, dan inIeksi ginjal adalah menjaga kebersihan diri , bila setelah buang air besar
atau air kecil bersihkan dengan cara membersihkan dari depan ke belakang, dan mencuci
kulit di sekitar dan antara rektum dan vagina setiap hari. Mencuci sebelum dan sesudah
berhubungan seksual juga dapat menurunkan resiko seorang wanita dari ISK.
2. Minum banyak cairan (air) setiap hari akan membantu pengeluaran bakteri melalui sistem
urine.
3. Mengosongkan kandung kemih segera setelah terjadi dorongan untuk buang air kecil juga
bisa membantu mengurangi risiko inIeksi kandung kemih atau ISK.
4. Buang air kecil sebelum dan setelah melakukan hubungan seks dapat Ilush setiap bakteri
yang mungkin masuk ke uretra selama hubungan seksual.
5. Vitamin C membuat urin asam dan membantu mengurangi jumlah bakteri berbahaya
dalam sistem saluran kemih.
6. Hindari pemakaian celana dalam yang dapat membuat keadaan lembab dan berpotensi
berkembang biaknya bakteri. Hindari sandal jepit.
2.9. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada inIeksi saluran kemih antara lain batu saluran kemih,
obstruksi saluran kemih, sepsis, inIeksi kuman yang multisistem, dan gangguan Iungsi ginjal.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi ISK yang terjadi jangka panjang adalah
terjadinya renal scar yang berhubungan erat dengan terjadinya hipertensi dan gagal ginjal
kronik. ISK pada kehamilan dengan BAS (Basiluria Asimtomatik) yang tidak diobati:
pieloneIritis, bayi prematur, anemia, Pregnancy-induced hypertension
ISK pada kehamilan: retardasi mental, pertumbuhan bayi lambat, Cerebral palsy, fetal deat.
Sistitis emIisematosa : sering terjadi pada pasien DM.
PieloneIritis emIisematosa a syok septik dan neIropati akut vasomotor.
Abses perineIrik
2.10. !rognosis
Prognosis inIeksi saluran kemih adalah baik bila dapat diatasi Iaktor pencetus dan penyebab
terjadinya inIeksi tersebut.