Anda di halaman 1dari 6

Asuhan Kebidanan Bayi baru lahir "Labioskizis dan palatoskizis"

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Asuhan kebidanan adalah perawatan yang diberikan oleh bidan. Jadi asuhan kebidanan
pada neonatus, bayi, dan balita adalah perawatan yang diberikan oleh bidan pada bayi baru lahir,
bayi, dan balita. Neonatus, bayi, dan balita dengan kelainan bawaan adalah suatu penyimpangan
yang dapat menyebabkan gangguan pada neonatus, bayi, dan balita apabila tidak diberikan
asuhan yang tepat dan benar. Ada beberapa kelainan bawaan diantaranya adalah labioskizis,
labiopalatoskizis, atresia esoIagus, atersia rekti dan ani, obstruksi biliaris, omIalokel, hernia
diaIragmatika, atresia duodeni, meningokel, enseIalokel, hidroseIalus, Iimosis, dan hipospadia.
Salah satu kelainan bawaan yang akan di jelaskan lebih jauh disini adalah labioskizis dan
labiopalatoskizis.

1.2 Tujuan
a. Mengetahui salah satu kelainan bawaan yang terjadi pada Bayi Baru Lahir yaitu Labioskizis dan
labiopalatosskizis
b. Memahami asuhan yang diberikan pada neonatus dengan kelainan bawaan dan
penatalaksanaannya.
c. Merupakan salah satu tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir.


BAB II
ISI

2.1 Definisi
Labioskizis adalah kelainan congenital sumbing yang terjadi akibat kegagalan Iusi atau
penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis medial yang dilikuti disrupsi kedua
bibir, rahang dan palatum anterior. Sedangkan Palatoskizis adalah kelainan congenital sumbing
akibat kegagalan Iusi palatum pada garis tengah dan kegagalan Iusi dengan septum nasi. (sumber
: Asuhan Kebidanan Neonatu, Bayi, dan Anak Balita, 2010)
Labioskizis dan labiopalatoskizis merupakan deIormitas daerah mulut berupa celah atau
sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa perkembangan embrional di mana
bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. (sumber : )

2.2 Klasifikasi
Jenis belahan pada labioskizis atau labiopalatoskizis dapat sangat bervariasi, bisa
mengenai salah satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus dan
palatum durum, serta palatum molle. Suatu klasiIikasi membagi struktur-struktur yang terkena
menjadi beberapa bagian berikut.
1. palatum primer meliputi bibir, dasar hidung, alveolus, dan palatum durum di belahan
Ioramen insisivum.
2. palatum sekunder meliputi palatum durum dan palatum molle posterior terhadap
Ioramen.
3. suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum primer dan palatum
sekunder dan juga bisa berupa unilateral atau bilateral.
4. terkadang terlihat suatu belahan submukosa. Dalam kasus ini mukosanya utuh dengan
belahan mengenai tulang dan jaringan otot palatum.
2.3 Etiologi
Penyebab terjadinya labioskizis dan labiopalatoskizis adalah sebagai berikut.
O Kelainan-kelainan yang dapat menimbulkan hipoksia.
O Obat-obatan yang dapat merusak sel muda (mengganggu mitosis), misalnya sitostatika dan
radiasi.
O Obat-obatan yang mempengaruhi metabolisme, misalnya deIisiensi vitamin B6, asam Iolat, dan
vitamin C.
O Faktor keturunan.
O Syndrome atau malIormasi yang disertai adanya sumbing bibir, sumbing palatum atau keduanya
disebut kelompok syndrome cleIt dan kelompok sumbing yang berdiri sendiri non syndromik
cleIts.
O Beberapa syndromik cleIt adalah sumbing yang terjadi pada kelainan kromosom (trysomit 13,
18 atau 21) mutasi genetik atau kejadian sumbing yang berhubungan dengan akibat toksikosis
selama kehamilan (kecanduan alkohol, terapi Ienitoin, inIeksi rubella, sumbing yang ditemukan
pada syndrome peirrerobin.
O Penyebab non syndromik cleIts dapat bersiIat multiIaktorial seperti masalah genetik dan
pengaruh lingkungan.

2.4 Faktor Resiko
Angka kejadian kelalaian kongenital sekitar 1/700 kelahiran dan merupakan salah satu
kelainan kongenital yang sering ditemukan, kelainan ini berwujud sebagai labioskizis disertai
palatoskizis 50, labioskizis saja 25 dan palatoskizis saja 25. Pada 20 dari kelompok ini
ditemukan adanya riwayat kelainan sumbing dalam keturunan. Kejadian ini mungkin disebabkan
adanya Iaktor toksik dan lingkungan yang mempengaruhi gen pada periode Iesi ke-2 belahan
tersebut; pengaruh toksik terhadap Iusi yang telah terjadi tidak akan memisahkan lagi belahan
tersebut.

2.5 Patofisiologi
Labioskizis terjadi akibat kegagalan Iusi atau penyatuan Irominem maksilaris dengan
Irominem medial yang diikuti disrupsi kedua bibir rahang dan palatum anterior. Masa krisis Iusi
tersebut terjadi sekitar minggu keenam pascakonsepsi. Sementara itu, palatoskizis terjadi akibat
kegagalan Iusi dengan septum nasi. Gangguan palatum durum dan palatum molle terjadi pada
kehamilan minggu ke-7 sampai minggu ke-12.



2.6 Risiko Kejadian Sumbing Pada Keluarga

Risiko sumbing pada Risiko labioskizis dengan Risiko palatoskizis
anak berikutnya atau tanpa palatoskizis () ()
- bila ditemukan satu anak
menderita sumbing
- Suami istri dan dalam
keturunan tidak ada yang
sumbing.
2-3 2
- dalam keturunan ada yang
sumbing
4-9 3-7
- Bila ditemukan dua anak
menderita sumbing
14 13
- salah satu orangtuanya
menderita sumbing
12 13
- Kedua orangtuanya
menderita sumbing.
30 20


2.7 Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada kelainan ini adalah :
O Otitis media
O Faringitis
O Kekurangan gizi.
O 10 penderita palatoskizis akan Menderita masalah bicara, misalnya suara sengau.

2.8 Penatalaksanaan
1. Pemberian ASI secara langsung dapat pula diupayakan jika ibu mempunyai reIleks
mengeluarkan air susu dengan baik yang mungkin dapat dicoba dengan sedikit menekan
payudara.
2. bila anak sukar mengisap sebaiknya gunakan botol peras (squeeze bottles). Untuk mengatasi
gangguan mengisap, pakailah dot yang panjang dengan memeras botol maka susu dapat
didorong jatuh di belakang mulut hingga dapat diisap. Jika anak tidak mau, berikan dengan
cangkir dan sendok.
3. dengan bantuan ortodontis dapat pula dibuat okulator untuk menutup sementara celah palatum
agar memudahkan pemberian minum, dan sekaligus mengurangi deIormitas palatum sebelum
dapat dilakukan tindakan bedah.
4. tindakan bedah, dengan kerja sama yang baik antara ahli bedah, ortodontis, dokter anak, dokter
THT, serta ahli wicara.

2.9 Syarat Labioplasti (Rule of Ten)
O umur 3 bulan atau ~ 10 minggu.
O Berat badan kira-kira 4,5 kg/10 pon
O Hemoglobin ~ 10 gram/dl
O Hitung jenis leukosit 10.000

2.10 Syarat Palatoplasti
Palatoskizis ini biasanya ditutup pada umur 9-12 bulan menjelang anak belajar bicara, yang
penting dalam operasi ini adalah harus memperbaiki lebih dulu bagian belakangnya agar anak
bisa dioperasi umur 2 tahun. Untuk mencapai kesempurnaan suara, operasi dapat saja dilakukan
berulang-ulang. Operasi dilakukan jika berat badan normal, penyakit lain tidak ada, serta
memiliki kemampuan makan dan minum yang baik. Untuk mengetahui berhasil tidaknya operasi
harus ditunggu sampai anak tersebut belajar bicara antara 1-2 th.
1. jika sengau harus dilakukan tetapi bicara (Iisioterapi otot-otot bicara)
2. jika terapi bicara tidak berhasil dan suara tetap sengau, maka harus dilakukan Iaringoplasti saat
anak berusia 8 tahun.

Faringoplasti ialah suatu pembebasan mukosa dan otot-otot yang kemudian didekatkan satu
sama lain. Pada Iaringoplasti hubungan antara Iaring dan hidung dipersempit dengan membuat
klep/memasang klep dari dinding belakang Iaring ke palatum molle. Tujuan pembedahan ini
adalah untuk menyatukan celah segmen-segmen agar pembicaraan dapat dimengerti.
Perawatan yang dilakukan pasca dilakukannya Iaringoplasti adalah sebagai berikut.
O menjaga agar garis-garis jahitan tetap bersih
O bayi diberi makan atau minum dengan alat penetes dengan menahan kedua tangannya.
O Makanan yang diberikan adalah makanan cair atau setengah cair atau bubur saring selama 3
minggu dengan menggunakan alat penetes atau sendok.
O Kedua tangan penderita maupun alat permainan harus dijauhkan.

BAB 111
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Labioskizis dan labiopalatoskizis merupakan kelainan congenital atau bawaan yang
terjadi akibat kegagalan Iusi atau penyatuan Irominem maksilaris dengan Irominem medial yang
diikuti disrupsi kedua bibir rahang dan palatum anterior. Masa krisis Iusi tersebut terjadi sekitar
minggu keenam pascakonsepsi. Sementara itu, palatoskizis terjadi akibat kegagalan Iusi dengan
septum nasi. Gangguan palatum durum dan palatum molle terjadi pada kehamilan minggu ke-7
sampai minggu ke-12.
Penanganan yang dilakukan adalah dengan tindakan bedah eIektiI yang melibatkan
beberapa disiplin ilmu untuk penanganan selanjutnya. Penutupan labioskizis biasanya dilakukan
pada usia 3 bulan, sedangkan palatoskizis biasanya ditutup pada usia 9-12 bulan menjelang anak
belajar bicara.

3.2 Saran
Untuk Labioskizis dan Labiopalatoskizis sangat penting diperlukan pendekatan
kepada orang tua agar mereka mengetahui masalah tindakan yang diperlukan untuk perawatan
anaknya.

DAFTAR PUSTAKA

Sudarti, M.Kes, Khoirunnisa Endang, SST.Keb, Asuhan Kebidanan Aeonatus, Bayi, dan Anak
Balita.