Anda di halaman 1dari 22

Alhamdulillah segala puji syukur selalu kita panjatkan dan sanjungkan kehadirat Allah SWT

yang selalu memberi kenikmatannya kepada kita tiada henti-hentinya. Salah satu kenikmatannya
ialah terselesaikannya tugas makalah yang diberikan kepada kami. Shalawat serta salam selalu
kita haturkan kepada baginda kita nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari
jaman keterpurukan ke jaman yang penuh perdamaian yaitu Islam.
Dalam menyusun makalah ini, Penulis telah banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak sehingga Penulis mengucapkan banyak terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan kami kesehatan dan kelancaran dalam mengerjakan
makalah ini sampai selesai.
2. Kedua orang tua kami yang selalu berjuang keras mendoakan kami dan memberikan
dorongan baik moril maupun materil.
3. Bpk rulam selaku dosen pengantar pendidikan III
4. Teman-teman yang selalu meberi motivasi dan supportnya kepada kami.
Semoga dengan makalah yang kami susun ini dapat memberi banyak pengetahuan kepada kita
tentang Pendidikan Formal, Non Iormal dan InIormal. Tentu dalam penulisan makalah ini tidak
terlepas dari kesalahan dan kekhilaIan, baik dalam penulisan ataupun materinya. Oleh karena itu,
dengan kerendahan hati penulis mohon saran dan masukannya untuk pembetulannya karena
penulis hanyalah manusia biasa yang tidak terlepas dari salah dan lupa.
Semoga makalah ini banyak memberikan manIaat dan berkah kepada orang yang membacanya
terutama bagi penulis sendiri.
DAFTAR ISI
Halaman Judul................................ i
Kata Pengantar................................ ii
DaItar Isi....................................
iii
BAB I PENDAHULUAN.......................... 1
A. Latar Belakang Masalah......................... 1
B. Rumusan Masalah............................. 2
C. Tujuan Pembahasan............................ 3
BAB II PEMBAHASAN........................... 4
A. Pengertian Pendidikan .......................... 4
1. Batasan tentang pendidikan....................... 4
2. Tujuan Pendidikan.......................... 5
B. Pendidikan Formal........................... .. 8
1. Pengertian Pendidikan Formal..................... 8
2. ManIaat dan Fungsi Pendidikan Formal................. 8
C. Pendidikan NonIormal......................... .. 11
1. Pengertian Pendidikan NonIormal................... 11
2. Dukungan Pemerintah untuk Pendidikan NonIormal........... 13
D. Pendidikan InIormal......................... .. 14
1. Pengertian Pendidikan InIormal..................... 14
2. Pembelajaran pada Pendidikan InIormal................ 15
BAB III PENUTUP............................. 17
A. Kesimpulan ...............................
17
B. Saran...................................
18
DaItar Pustaka................................. 19
ATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji syukur selalu kita panjatkan dan sanjungkan kehadirat Allah SWT
yang selalu memberi kenikmatannya kepada kita tiada henti-hentinya. Salah satu kenikmatannya
ialah terselesaikannya tugas makalah yang diberikan kepada kami. Shalawat serta salam selalu
kita haturkan kepada baginda kita nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari
jaman keterpurukan ke jaman yang penuh perdamaian yaitu Islam.
Dalam menyusun makalah ini, Penulis telah banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak sehingga Penulis mengucapkan banyak terima kasih sebesar-besarnya kepada:
5. Allah SWT yang telah memberikan kami kesehatan dan kelancaran dalam mengerjakan
makalah ini sampai selesai.
6. Kedua orang tua kami yang selalu berjuang keras mendoakan kami dan memberikan
dorongan baik moril maupun materil.
7. Bpk rulam selaku dosen pengantar pendidikan III
8. Teman-teman yang selalu meberi motivasi dan supportnya kepada kami.
Semoga dengan makalah yang kami susun ini dapat memberi banyak pengetahuan kepada kita
tentang Pendidikan Formal, Non Iormal dan InIormal. Tentu dalam penulisan makalah ini tidak
terlepas dari kesalahan dan kekhilaIan, baik dalam penulisan ataupun materinya. Oleh karena itu,
dengan kerendahan hati penulis mohon saran dan masukannya untuk pembetulannya karena
penulis hanyalah manusia biasa yang tidak terlepas dari salah dan lupa.
Semoga makalah ini banyak memberikan manIaat dan berkah kepada orang yang membacanya
terutama bagi penulis sendiri.
DAFTAR ISI
Halaman Judul................................ i
Kata Pengantar................................ ii
DaItar Isi....................................
iii
BAB I PENDAHULUAN.......................... 1
D. Latar Belakang Masalah......................... 1
E. Rumusan Masalah............................. 2
F. Tujuan Pembahasan............................ 3
BAB II PEMBAHASAN........................... 4
E. Pengertian Pendidikan .......................... 4
1. Batasan tentang pendidikan....................... 4
2. Tujuan Pendidikan.......................... 5
F. Pendidikan Formal........................... .. 8
1. Pengertian Pendidikan Formal..................... 8
2. ManIaat dan Fungsi Pendidikan Formal................. 8
G. Pendidikan NonIormal......................... .. 11
1. Pengertian Pendidikan NonIormal................... 11
2. Dukungan Pemerintah untuk Pendidikan NonIormal........... 13
H. Pendidikan InIormal......................... .. 14
1. Pengertian Pendidikan InIormal..................... 14
2. Pembelajaran pada Pendidikan InIormal................ 15
BAB III PENUTUP............................. 17
C. Kesimpulan ...............................
17
D. Saran...................................
18
DaItar Pustaka................................. 19
A I
PENDAHULUAN
A. Latar 0akang Masaah
Pendidikan Iormal yang sering disebut pendidikan persekolahan berupa rangkaian jenjang
pendidikan yang telah baku. Mulai dari jenjang sekolah dasar (SD) sampai dengan perguruan
tinggi (PT). sementara pendidikan taman kanak-kanak masih dipandang sebagai pengelompokan
belajar yang menjembatani anak dalam dalam suasana hidup keluarga biasa juga disebut
pendidikan pra sekolah (Pra-Elementary School).
Dalam UU Ao 2 tahun 1989 tentang system pendidikan Aasional, dinyatakan bahwa setiap
warga Aegara diwajibkan mengikuti pendidikan formal minimal sampai tamat SMP.
Bagi warga Negara yang tidak sempat mengikuti ataupun menyelesaikan pendidikan pada
jenjang tertentu dalam pendidikan Iormal (putus sekolah) disediakan pendidikan nonIormal,
untuk memperoleh bekal guna terjun ke masyarakat. Pendidikan Non Iormal sebagai mitra
pendidikan Iormal semakin hari semakin berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat
dan ketenagakerjaan. Dilihat dari segi wujud dan penyelenggaraan semakin beraneka ragam
mulai dari paguyuban, sarasehan, kursus-kursus, paket A, B sampai kepada gerakan-gerakan
seperti PKK dengan aneka ragam programnya. Disamping ragamnya yang bertambah, juga
kualitasnya mengalami peningkatan. Hal-hal yang menjadi Iactor pendorong perkembangan
pendidikan nonIormal ialah:|
O Semakin banyaknya jumlah angkatan muda yang tidak melanjutkan sekolah. Sedangkan
mereka terdorong untuk memasuki lapangan kerja dengan harus memiliki keterampilan
tertentu yang dipersyaratkan oleh lapangan kerja.
O Lapangan kerja, khususnya sector swasta mengalami perkembangan cukup pesat dan
lebih pesat daripada perkembangannya di sector pemerintah. Masing-masing lapangan
kerja tersebut menuntut persyaratan-persyaratan khusus yang lazimnya perlu
dipersiapakan oleh pendidikan Iormal.
Sebagaimana diketahui bahwa sector swasta memiliki ciri umum yaitu keharusan adanya
kemampuan mandiri tanpa subsidi. Ciri umum yang khas ini menuntut adanya bahwa setiap
pekerja harus memiliki keterampilan yang dipersyaratkan agar dapat menunjang kelestarian
hidup dan perkembangan pekerjaan/usaha. Ciri umum tersebut juga sejalan dengan siIat dari
badan-badan usaha pendidikan nonIormal itu sendiri, yang pada umumnya diselenggarakan oleh
pihak swasta.
Dari uraian tersebut semakin terlihat betapa eratnya kerja sama antara pendidikan Iormal dan
pendidikan nonIormal, yang satu sama lainnya bersiIat komplementer sebagai sebuah system
yang terpadu.
Selanjutnya ada juga pendidikan inIormal sebagai suatu Iase pendidikan yang berada disamping
dan di dalam pendidikan pendidikan Iormal dan non Iormal sangat menunjang keduanya.
Sebenarnya tidak sulit untuk dipahami karena sebagian besar waktu pesrta didik adalah justru
berada di dalam ruang lingkup yang siIatnya inIormal.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan Iormal, nonIormal, dan inIormal ketiganya hanya dapat
dibedakan tetapi tidak bisa dipisah-pisahkan karena keberhasilah pendidikan dalam arti
terwujudnya keluaran pendidikan yang berupa sumber daya manusia sangat tergantung kepada
sejauh mana ketiga sub system tersebut berperanan.
. Rumusan Masaah
Mengingat cukup luasnya makalah tentang Pendidikan Formal, NonFormal dan InIormal, maka
penulis membatasi pembahasan makalah ini yaitu:
1. Apa pengertian, dan tujuan pendidikan secara umum?
2. Apa Pendidikan InIormal ?
3. Apa Pendidikan NonIormal?
4. Apa Pendidikan InIormal?
. Tujuan P0mbahasan
1. Mampu menjelaskan pengertian, dan tujuan pendidikan secara umum.
2. Dapat menjelaskan tentang Pendidikan Formal
3. Dapat memaparkan Pendidikan NonIormal
4. Mampu mendeskripsikan tentang Pendidikan InIormal
A II
PEMAHASAN
A. P0ng0rtian P0ndidikan
1. Batasan tentang pendidikan
Pendidikan seperti siIat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan siIatnya
sangat kompleks. Karena siIatnya yang kompleks itu maka tidak sebuah batasan pun yang cukup
memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Batasan tentang pendidikan yang
dibuat oleh para ahli beraneka ragam dan kanduangannya pun berbeda antara yang satu dengan
yang lainnya. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan,
aspek yang menjadi tekanan, atau karena IalsaIah yang mendasarinya. Di bawah ini
dikemukakan beberapa batasan pendidikan yang berbeda, yaitu:
a. Pendidikan sebagai TransIormasi Budaya
Sebagai proses transIormasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya
dari satu generasi ke generasi yang lain. Seperti bayi lahir sudah berada di dalam suatu
lingkungan budaya tertentu. Di dalam lingkungan masyarakat dimana seorang bayi dilahirkan
telah terdapat kebiasaan-kebiasaan tertentu seperti yang dikehendaki oleh masyarakat. Hal-hal
tersebut mengenai banyak hal seperti bahasa, cara menerima tamu, makanan, istirahat, bekerja,
perkawinan, bercocok tanam, dan seterusya.
Nilai-nilai kebudayaan tersebut mengalami proses transIormasi dari generasi tua ke generasi
muda. Ada 3 bentuk transIormasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok untuk diteruskan misalnya
nilai-nilia kejujuran, rasa tanggung jawab, dan yang lain-lain.
Disini tampak bahwa proses pewarisan budaya tidak semata-mata mengekalkan budaya secara
estaIet. Pendidikan justru mempunyai tugas meyiapkan peserta didik ke masa depan yang lebih
mapan.
b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan di artikan sebagai suatu kegiatan yang
sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya keperibadian peserta didik.
Sistematis oleh karena proses pendidikan berlangsung melalui tahap-tahap bersinambungan
(prosedural) dan sistemik oleh karena berlangsung dalam kondisi, di semua lingkungan yang
saling mengisi. Bagi mereka yang sudah dewasa tetap dituntut adanya pengembangan diri agar
kualitas kepribadian meningkat serempak dengan meningkatnya tantangan hidup yang selalu
berubah. Dalam hubungan ini dikenal apa yang disebut dengan pendidikan sepanfang hidup.
Pembentukan pribadi mencakup pembentukan cipta, rasa, dan karsa (kognitiI, aIektiI dan
psikomotorik) yang sejalan dengan perkembanga Iisik.
c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga Negara
Pendidikan sebagai penyiapan warga Negara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana
untuk membekali peserta didik agar menjadi warga Negara yang baik. Tentu saja istilah baik di
sini bersiIat relatiI, tergantung kepad tujuan nasional dari masing-masing bangsa, oleh kerena
masing-masing bangsa mempunyai IalsaIah hidup yang berbeda-beda.
Bagi kita warga Negara yang baik diartikan selaku pribadi yang tahu hak dan kewajiban sebagai
warga Negara, hal ini ditetapkan dalam UUD 1945 pasal 27 yang menyatakan bahwa segala
warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tak ada terkecualinya.
d. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan pembimbing peserta didik
sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja. Pembekalan dasar berupa sikap, pengetahuan, dan
keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja
menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia. Bekerja menjadi penopang hidup
seseorang dan keluarga sehingga tidak bergantung dan mengganggu orang lain. Melalui kegiatan
bekerja seseorang mendapat kepuasan bukan saja karena menerima imbalan melainkan juga
karena seseorang dapat memberikan sesuatu kepada orang lain (jasa ataupun benda), bergaul,
berkreasi, dan bersibuk diri. Kebenaran hal tersebut menjadi jelas kita melihat yang sebalikya,
yaitu ketika seseorang mengaggur dan tidak tau apa yang harus dikerjakan.
e. DeIinisi Pendidikan Menurut GBHN
GBHN memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: Pendidikan nasional
yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila serta UUD 1945
diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan
manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME,
berkualitas, dan mandiri sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya
serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa.
2. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan memuat tentang gambaran nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan
indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua Iungsi yaitu memberikan
arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai.oleh
segenap kegiatan pendidikan.
Sebagai suatu komponen pendidikan, tujuan pendidikan menduduki posisi penting diantara
komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa segenap komponen dari seluruh kegiatan
pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan
tersebut. Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan yang tidak relevan dengan tujuan tersebut
dianggap menyimpang, tidak Iungsional, bahkan salah sehingga harus dicegah.
Tujuan pendidikan yang dimaksud disini adalah tujuan akhir yang akan dicapai oleh semua
lembaga pendidikan, baik Iormal, nonIormal maupun inIormal yang berada dalam masyarakat
dan Negara Indonesia. Telah dikatakan bahwa rumusan tujuan pendidikan selalu mengalami
perubahan sesuai dengan tuntutan perkembangan kehidupan masyarakat dan Negara yang
bersangkutan. Berikut ini beberap contoh rumusan tujuan pendidikan yang dikemukakan dalam
ketetapan MPRS dan MPR serta UUSPN No. 2 Tahun 1989:
Di dalam Tap MPRS No. XXVII/MPRS/1966 Bab II Pasal 3 dicantumkan: 'Tujuan
pendidikan membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang
dikehendaki Pembukaan dan Isi Undang-Undang Dasar 1945
Tap MPR No. IV/MPR/1978 menyebutkan: 'Pendidikan Nasional berdasarkan pancasila
dan bertujuan meningkatkan ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa, kecerdasan, ketrampilan,
mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan
agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya
sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Yang terakhir, di dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang system pendidikan
nasional Bab II pasal 4 dikemukakan: 'Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman bertakwa
terhadap tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan
ketramplilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, cerdas,
terampil serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
. P0ndidikan Forma
1. Pengertian Pendidikan Formal
Pendidikan Iormal adalah kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat, berjenjang, dimulai
dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraI denganya; termasuk ke
dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan
latihan proIesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus.
..... ....
A III
PENUTUP
A. 0simpuan
1. Pendidikan seperti siIat sasarannya yaitu manusia, mengandung banyak aspek dan siIatnya
sangat kompleks. Karena siIatnya yang kompleks itu maka tidak sebuah batasan pun yang cukup
memadai untuk menjelaskan arti pendidikan secara lengkap. Di bawah ini dikemukakan
beberapa batasan pendidikan yang berbeda, yaitu:
a. Pendidikan sebagai Proses TransIormasi Budaya
b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warga Negara
d. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Tenaga Kerja
e. Pendidikan Menurut GBHN.
Sedangkan Tujuannya adalah memuat tentang gambaran nilai-nilai yang baik, luhur, pantas,
benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki dua Iungsi yaitu
memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin
dicapai.oleh segenap kegiatan pendidikan.
2. Pendidikan Iormal adalah kegiatan yang sistematis, berstruktur, bertingkat, berjenjang,
dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setaraI denganya; termasuk
ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi,
dan latihan proIesional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. ManIaat dari
Pendidikan Formal antara lain:
Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri
dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.



Pendidikan Iormal
Pendidikan Iormal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada
umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan
dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

Pendidikan non Iormal
Pendidikan non Iormal meliputi pendidikan dasar, dan pendidikan lanjutan.
Pendidikan dasar mencangkup pendidikan keaksaraan dasar, pendidikan Iungsional, dan
keaksaraan lanjutan paling banyak ditemukan dalam pendidikan usia dini (PAUD), Taman
Pendidikan Al-Qur`an (TPA), maupun pendidikan lanjut usia. Pemberabtasan Buta Aksara
(PBA), serta program paket A (setara SD), paket B (setara SMP) adalah pendidikan dasar.

Pendidikan lanjutan meliputi program paket C (setara SMA), kursus, pendidikan Vokasi, latihan
keterampilan lain baik di laksanakan secara terorganisasi maupun tidak terorganisasi.
Pendidikan Non Formal mengenal pula Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)sebagai
pangkalan program yang dapat berada di dalam suatu kawasan setingkat atau lebih kecil dari
kelurahan/desa. PKBM dalam istilah yang berlaku umum merupakan pendanaan dari
Community Learning Center (CLC) yang menjadi bagian komponen dari community center.

Pendidikan inIormal
Pendidikan inIormal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkunganm berbentuk kegiatan
belajar secara mandiri.

Pendidikan Iormal seringkali disebut pendidikan persekolahan. Menurut UU No. 2 Tahun 1989
tentang sistem pendidikan nasional, dinyatakan setiap warga negara di wajibkan mengikuti
pendidikan Iormal minimal sampai tingkat SMP. Pendidikan non-Iormal sbagai mitra pendidikan
Iormal untuk memperoleh guna terjun ke masyarakat. Sedangkan pendidikan inIormal sebagai
suatu Iase pendidikan yang berada di sampiPendidikan InIormal Akan Diintegrasikan

Untuk menyesuaikan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, Departemen Pendidikan
Nasional berencana mengintegrasikan pendidikan inIormal dengan pendidikan Iormal pada
tingkat sekolah menengah.
Pendidikan inIormal, menurut Mendiknas Bambang Sudibyo, lebih memenuhi kebutuhan
masyarakat (demand driven). Karena itu, jika lulusan sekolah menengah juga dibekali dengan
pendidikan inIormal, mereka akan lebih memenuhi kebutuhan dunia kerja.
Demikian disampaikan Mendiknas Bambang Sudibyo seusai membuka rapat kerja nasional
Lembaga Pendidikan dan Pengembangan ProIesi Indonesia (LP3I) di Jakarta, Senin (20/12).
Pelan-pelan, sekolah menengah kita dorong untuk menerapkan sistem kredit supaya hasil-hasil
kursus pendidikan inIormal bisa ditransIer ke pendidikan Iormal. anak-anak SMA kita dengan
demikian bisa memiliki keterampilan, kecakapan hidup yang bisa mereka peroleh dari
pendidikan inIormal, ujar Bambang Sudibyo.
Sebagai langkah awal, pemerintah akan mengeluarkan peraturan pemerintah yang berisi
pengakuan terhadap pendidikan inIormal dan mengatur bagaimana mentransIer hasil pendidikan
inIormal kepada pendidikan Iormal.

Akreditasi
Lembaga-lembaga pendidikan inIormal yang bisa diintegrasikan ke dalam pendidikan Iormal,
lanjut Bambang, sebelumnya harus melalui proses akreditasi melalui badan-badan yang ditunjuk
oleh Depdiknas. Saat ini, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) Depdiknas sudah
memiliki sejumlah badan yang bisa dikembangkan menjadi lembaga yang menangani akreditasi.
Tentunya, nanti ada proses akreditasi. Kalau pemerintah bermaksud mentransIer pendidikan
inIormal ke pendidikan Iormal, pemerintah memiliki kebutuhan untuk mengontrolnya melalui
akreditasi. Kita sudah memiliki beberapa lembaga yang selama ini mengembangkan program
kecakapan hidup. Saya kira itu bisa menjadi embrio lembaga yang akan menangani akreditasi,
katanya.
Mengenai pendidikan inIormal seperti apa yang akan diintegrasikan ke dalam pendidikan Iormal,
Bambang mengatakan bahwa hal itu terserah pada ma-sing-masing sekolah. Sesuai UU
Sisdiknas, kurikulum eIektiI diramu oleh masing-masing sekolah sedangkan pemerintah hanya
memberikan garis besarnya saja.
Bambang dalam kesempatan sama juga mengatakan bahwa pendidikan inIormal yang saat ini
kualitasnya sudah bagus dan bisa langsung diintegrasikan dengan pendidikan Iormal antara lain
adalah pendidikan inIormal yang diberikan oleh lembaga-lembaga yang berada di bawah Dirjen
PLSP Depdiknas. Jumlah lembaga pendidikan inIormal di bawah Dirjen PLSP saat ini 2500,
dengan jenis kursus 131. (rhu)


Artikel 2:
Pendidikan InIormal Perlu Diperhatikan

Singkawang,- Anggota DPRD Kota Singkawang, Nurindrawati SH menyatakan, anggaran
pendidikan tahun 2006 diharapkan tidak saja dipergunakan untuk pendidikan Iormal. Tapi juga
inIormal yang sepertinya mulai dilupakan.
Selama ini, anggaran pendidikan lebih banyak dialokasikan untuk pendidikan Iormal. Sementara
inIormal tidak ada, padahal inIormal juga sangat penting untuk menunjang peningkatan SDM
berkualitas di Kota Singkawang.
"Masih banyak pendidikan inIormal yang belum tersentuh. Khususnya pendidikan inIormal
terhadap kaum perempuan. Seperti pelatihan-pelatihan, seminar dan sebagainya yang bisa
mengangkat SDM kaum perempuan di Kota Singkawang ini," kata Iin, panggilan akrab
Nurindrawati belum lama ini. Menurut dia, jika Pemerintah Kota Singkawang tidak mampu
untuk melaksanakan kegiatan dibidang inIormal, bisa diserahkan kepada organisasi terkait untuk
melaksanakannya. Seperti GOW, Dharma Wanita Persatuan dan organisasi lainnya yang juga
memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan itu semua. Organisasi-organisasi seperti itu kata
dia bisa diberdayakan dalam upaya meningkatkan pendidikan inIormal di Kota Singkawang.
Dengan begitu keberadaan mereka lebih berperan dan berarti di tengah-tengah masyarakat Kota
Singkawang. Tidak seperti yang terjadi selama ini, organsiasi-organisasi tersebut hanya muncul
dalam moment-moment tertentu saja. Sementara program rutinitas untuk meningkatkan SDM
nyaris tidak kelihatan di permukaan. Legislator dari PAN ini mengaku tidak tahu persis
mengenai kondisi anggaran di organisasi-organisasi tersebut. "Yang jelas dana untuk program
kegiatan di setiap organisasi itu ada," ujarnya. Besar atau tidaknya anggaran yang ada di
organisasi, Iin berharap agar pemerintah terkait dapat menggandeng organisasi tersebut untuk
melancarkan kegiatan pendidikan inIormal di Kota Singkawang. Apakah itu dalam bentuk
pelatihan, seminar, diskusi dan sebagainya yang bisa meningkatkan kualitas SDM masyarakat
kota, khususnya SDM kaum perempuan. Dia yakin dengan adanya kegiatan pendidikan inIormal
yang dianggarkan melalui APBD nanti dapat menunjang program pemerintah untuk menjadi
kota berkualitas. Masyarakat berstatus ekonomi lemah yang tidak mampu mengenyam
pendidikan Iormal pun bisa merasakan sentuhan pendidikan.
Anggota DPRD Kota Singkawang, Nurindrawati SH menyatakan, anggaran pendidikan tahun
2006 diharapkan tidak saja dipergunakan untuk pendidikan Iormal. Tapi juga inIormal yang
sepertinya mulai dilupakan.
Selama ini, anggaran pendidikan lebih banyak dialokasikan untuk pendidikan Iormal. Sementara
inIormal tidak ada, padahal inIormal juga sangat penting untuk menunjang peningkatan SDM
berkualitas di Kota Singkawang.
"Masih banyak pendidikan inIormal yang belum tersentuh. Khususnya pendidikan inIormal
terhadap kaum perempuan. Seperti pelatihan-pelatihan, seminar dan sebagainya yang bisa
mengangkat SDM kaum perempuan di Kota Singkawang ini," kata Iin, panggilan akrab
Nurindrawati belum lama ini. Menurut dia, jika Pemerintah Kota Singkawang tidak mampu
untuk melaksanakan kegiatan dibidang inIormal, bisa diserahkan kepada organisasi terkait untuk
melaksanakannya. Seperti GOW, Dharma Wanita Persatuan dan organisasi lainnya yang juga
memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan itu semua. Organisasi-organisasi seperti itu kata
dia bisa diberdayakan dalam upaya meningkatkan pendidikan inIormal di Kota Singkawang.
Dengan begitu keberadaan mereka lebih berperan dan berarti di tengah-tengah masyarakat Kota
Singkawang. Tidak seperti yang terjadi selama ini, organsiasi-organisasi tersebut hanya muncul
dalam moment-moment tertentu saja. Sementara program rutinitas untuk meningkatkan SDM
nyaris tidak kelihatan di permukaan. Legislator dari PAN ini mengaku tidak tahu persis
mengenai kondisi anggaran di organisasi-organisasi tersebut. "Yang jelas dana untuk program
kegiatan di setiap organisasi itu ada," ujarnya. Besar atau tidaknya anggaran yang ada di
organisasi, Iin berharap agar pemerintah terkait dapat menggandeng organisasi tersebut untuk
melancarkan kegiatan pendidikan inIormal di Kota Singkawang. Apakah itu dalam bentuk
pelatihan, seminar, diskusi dan sebagainya yang bisa meningkatkan kualitas SDM masyarakat
kota, khususnya SDM kaum perempuan. Dia yakin dengan adanya kegiatan pendidikan inIormal
yang dianggarkan melalui APBD nanti dapat menunjang program pemerintah untuk menjadi
kota berkualitas. Masyarakat berstatus ekonomi lemah yang tidak mampu mengenyam
pendidikan Iormal pun bisa merasakan sentuhan pendidikan.


Artikel 3:
Pendidikan InIormal Banyak Gagal

Pontianak,- Anggota DPRD Kalbar Katherina Lies meminta penyelenggaraan pendidikan
inIormal perlu evaluasi dan audit lembaga independen. Menurut dia, program yang dilaksanakan
dinilainya banyak gagal daripada berhasil. Seperti program penuntasan buta aksara atau program
Kejar Paket A, kepala daerah jangan hanya menerima hasil di atas kertas saja. Tetapi coba turun
ke lapangan melihat secara langsung kondisinya, tegas dia, kemarin, di ruang kerjanya.
Anggota Komisi D DPRD Kalbar ini mengatakan menemukan lokasi program Kejar Paket A di
dapilnya, dimana pertemuan antara penyelenggara atau instruktur dengan peserta didik hanya
satu kali setahun. Sebut dia, sedangkan hasil yang dilaporkan kepada pemerintah daerah
kabupaten/kota selalu baik-baik saja.
'Penyelenggaraan program pendidikan inIormal ini dilakukan oleh instansi terkait dengan
mitranya. Dana yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memberantas buta aksara maupun program
pendidikan inIormal seperti sistim paket, ungkap Katherina.
Legislator dari PDS ini menyebutkan mengaudit berhasil atau tidak cukup gampang. Jelas dia,
dimana dilaksanakan program disitulah tim mengaudit apakah peserta bisa membaca atau tidak,
mengenal huruI atau tidak.
'Semuanya akan dapat dilihat apakah instansi terkait melaksanakan tugas bersama mitranya
secara serius atau tidak. Makanya, saya berpendapat perlu ada sebuah evaluasi dan audit untuk
itu, tegas legislator perempuan ini.
Secara terpisah, aktivis PMII, NurIitriansyah mengatakan beberapa rekan yang sempat KKN di
kawasan pedalaman beberapa waktu lalu memang sempat menemukan masyarakat buta aksara.
Sebut dia, mahasiswa yang KKN sempat memberikan pelajaran kepada warga di sekitar mereka
praktek lapangan. 'Kita sangat mendukung jika ada audit penyelenggaraan pendidikan inIormal
yang hanya berhasil menurunkan buta aksara beberapa persen selama lima tahun. Uang negara
yang dikeluarkan cukup besar untuk itu, tegasnya.
Dia mengharapkan ada lembaga independen dapat mendorong pengauditan tersebut. Sehingga,
kata dia, ada transparansi penyelenggaraan pendidikan. 'Mudah-mudahan, pemerintah daerah
mau melakukan hal itu, harap dia.
Anggota DPRD Kalbar Katherina Lies meminta penyelenggaraan pendidikan inIormal perlu
evaluasi dan audit lembaga independen. Menurut dia, program yang dilaksanakan dinilainya
banyak gagal daripada berhasil. Seperti program penuntasan buta aksara atau program Kejar
Paket A, kepala daerah jangan hanya menerima hasil di atas kertas saja. Tetapi coba turun ke
lapangan melihat secara langsung kondisinya, tegas dia, kemarin, di ruang kerjanya.
Anggota Komisi D DPRD Kalbar ini mengatakan menemukan lokasi program Kejar Paket A di
dapilnya, dimana pertemuan antara penyelenggara atau instruktur dengan peserta didik hanya
satu kali setahun. Sebut dia, sedangkan hasil yang dilaporkan kepada pemerintah daerah
kabupaten/kota selalu baik-baik saja.
'Penyelenggaraan program pendidikan inIormal ini dilakukan oleh instansi terkait dengan
mitranya. Dana yang dikeluarkan tidak sedikit untuk memberantas buta aksara maupun program
pendidikan inIormal seperti sistim paket, ungkap Katherina.
Legislator dari PDS ini menyebutkan mengaudit berhasil atau tidak cukup gampang. Jelas dia,
dimana dilaksanakan program disitulah tim mengaudit apakah peserta bisa membaca atau tidak,
mengenal huruI atau tidak.
'Semuanya akan dapat dilihat apakah instansi terkait melaksanakan tugas bersama mitranya
secara serius atau tidak. Makanya, saya berpendapat perlu ada sebuah evaluasi dan audit untuk
itu, tegas legislator perempuan ini.
Secara terpisah, aktivis PMII, NurIitriansyah mengatakan beberapa rekan yang sempat KKN di
kawasan pedalaman beberapa waktu lalu memang sempat menemukan masyarakat buta aksara.
Sebut dia, mahasiswa yang KKN sempat memberikan pelajaran kepada warga di sekitar mereka
praktek lapangan.
'Kita sangat mendukung jika ada audit penyelenggaraan pendidikan inIormal yang hanya
berhasil menurunkan buta aksara beberapa persen selama lima tahun. Uang negara yang
dikeluarkan cukup besar untuk itu, tegasnya.
Dia mengharapkan ada lembaga independen dapat mendorong pengauditan tersebut. Sehingga,
kata dia, ada transparansi penyelenggaraan pendidikan. 'Mudah-mudahan, pemerintah daerah
mau melakukan hal itu, harap dia.


Artikel 4:
PENDIDIKAN INFORMAL TAK TERSENTUH, ANGGARAN 20 PERSEN TIMPANG

(Jakarta) - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) menilai alokasi anggaran
pendidikan sebesar 20 persen ada ketimpangan. Pasalnya, seluruh dana tersebut hanya
dikucurkan pada sektor pendidikan Iormal, padahal pendidikan tidak serta merta ada di struktur
Iormal. "Semangatnya UUD 1945, 20 persen alokasi anggaran diterjemahkan untuk pendidikan,
jadi sepenuhnya untuk depdiknas. Padahal struktur pendidikan ada Iormal, inIormal dan non
Iormal," jelas Erman pada wartawan dalam Rakor Nasional Depnakertrans tahun 2008 di Jakarta,
Selasa (26/8). Menteri menguraikan, untuk pendidikan Iormal memang menjadi tanggung jawab
departemen pendidikan nasional, sedangkan inIormal ada di depnakertrans. "Dan untuk sektor
pendidikan nonIormal biasanya ada di masyarakat," ujarnya. Untuk itu, lanjutnya, sektor
pendidikan yang perlu dibantu adalah pendidikan inIormal. Misalnya, ada pelatihan untuk
pengangguran, tapi dananya tidak ada yang dialokasikan untuk pendidikan semacam ini.
Kemudian, ada sekelompok masyarakat yang ingin mengadakan pelatihan jurnalistik proIesional,
anggaran dana juga tidak ada.
Jika semua anggaran 20 persen hanya dialokasikan untuk depdiknas, Erman menegaskan, "Itu
artinya politik anggaran UUD 1945 tidaklah tepat," tandasnya. (Mimie/IOT-03)


Artikel 5:
Pendidikan InIormal Untuk Semua

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat anak-anak atau adik kita pulang sekolah, setelah
jam sekolah usai, mereka kembali ke keluarga mereka di rumah, tetapi apakah anda pernah
menyadari bahwa pendidikan terus berjalan, meskipun mereka telah pulang ke rumah?
Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan inIormal, dimana pendidikan tersebut berlangsung
sejak anak tersebut dilahirkan dan mulai mengenal lingkungan sampai mereka beranjak dewasa.
Pendidikan inIormal lebih menitikberatkan pada perkembangan aIeksi, moral dan emosional.
Secara biologis perkembangan aIeksi dikendalikan oleh otak kanan yang banyak berperan pada
kecerdasan spiritual, emosional, sosial, estetika dan kinestika, sehingga jika pendidikan inIormal
benar-benar dilaksanakan dengan baik akan membentuk manusia yang mempunyai
keseimbangan dalam 3 ranah, yaitu aIeksi, kognisi dan psikomotor. Dalam perkembangannya,
banyak keluarga moderen yang lebih mementingkan perkembangan anak dari sisi kognisi, yang
ditandai dengan diikutkannya anak mengikuti pelajaran tambahan (les) mata pelajaran tertentu
yang dianggap bergengsi atau kursus-kursus ketrampilan lain.
Sejatinya, perkembangan ketiga ranah tersebut harus seimbang, sehingga tercapai keselarasan
dalam hidup manusia, dan tidak ada lagi hacker, koruptor, atau teroris, karena mereka pada
dasarnya adalah orang yang diberi kelebihan kognisi tetapi kurang (tidak punya) aIeksi, sehingga
cenderung merugikan dan membahayakan orang lain.
Diposkan oleh Indra's blog
kom0ntar:
ng dan dl dalam pendldlkan formal dan nonformal yang sangaL menun[ang keduanya
Kesulitan Dan tantangan dalam kehidupan manusia baik yang diakibatkan oleh lingkungan
maupun alam yang kurang bersahabat, sering memaksa manusia untuk mencari cara yang
memungkinkan mereka untuk keluar dari kesulitan yang dialaminya. Masih banyaknya warga
yang tidak melanjutkan pendidikan ke taraI yang memungkinkan mereka menggeluti proIesi
tertentu, menuntut upaya-upaya untuk membantu mereka dalam mewujudkan potensi yang
dimilikinya agar dapat bermanIaat bagi pembangunan bangsa.
Sejauh ini, anggran yang berkaitan dengan pendidikan mereka masih terbatas, sehingga berbagai
upaya untuk dapat terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam membangun pendidikan terus
dilakukan oleh pemerintah. Hal ini dimaksudkan agar makin tumbuh kesadaran akan pentingnya
pendidikan dan mendorong masyarakat untuk terus berpartisipasi aktiI di dalamnya.
Bertitik tolak dari permasalahan yang dihadapi, pendidikan luar sekolah berusaha mencari
jawaban dengan menelusuri pola-pola pendidikan yang ada, seperti pesantren, dan pendidikan
keagamaan lainnya yang keberadaannya sudah jauh sebelum Indonesia merdeka, bertahan hidup
sampai sekarang dan dicintai, dihargai dan diminati serta berakar dalam masyarakat.
Kelanggengan lembaga-lembaga tersebut karena tumbuh dan berkembang, dibiayai dan dikelola
oleh dan untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain, masyarakat merasakan adanya
kebermaknaan dari program-program belajar yang disajikan bagi kehidupannya, karena
pendidikan yang diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat.
Dalam hubungan ini pendidikan termasuk pendidikan nonIormal yang berbasis kepentingan
masyarakat lainnya, perlu mencermati hal tersebut, agar keberadaannya dapat diterima dan
dikembangkan sejalan dengan tuntutan masyarakat berkaitan dengan kepentingan hidup mereka
dalam mengisi upaya pembangunan di masyarakatnya. Ini berarti bahwa pendidikan nonIormal
perlu menjadikan masyarakat sebagai sumber atau rujukan dalam penyelenggaaraan program
pendidikannya.
Hasil kajian Tim reIormasi pendidikan dalam konteks Otonomi daerah (Fasli Jalal, Dedi
Supriadi. 2001) dapat disimpulkan bahwa apabila pendidikan luar sekolah (pendidikan
nonIormal) ingin melayani, dicintai, dan dicari masyarakat, maka mereka harus berani meniru
apa yang baik dari apa yang tumbuh di masyarakat dan kemudian diperkaya dengan sentuhan-
sentuhan yang sistematis dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan lingkungan
masyarakatnya. Strategi itulah yang perlu terus dikembangkan dan dilaksanakan oleh pendidikan
luar sekolah dalam membantu menyediakan pendidikan bagi masyarakat yang karena berbagai
hal tidak terlayani oleh jalur Iormal/sekolah.
Bagi masyarakat yang tidak mampu, apa yang mereka pikirkan adalah bagaimana hidup hari ini,
karena itu mereka belajar untuk kehidupan; mereka tidak mau belajar hanya untuk belajar, untuk
itu masyarakat perlu didorong untuk mengembangkannya melalui Pendidikan nonIormal
berbasis masyarakat, yakni pendidikan nonIormal dari, oleh dan untuk kepentingan masyarakat
B. PENDIDIKAN NONFORMAL BERBASIS MASYARAKAT
Pendidikan berbasis masyarakat (communihy-based education) merupakan mekanisme yang
memberikan peluang bagi setiap orang untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi
melalui pembelajaran seumur hidup. Kemunculan paradigma pendidikan berbasis masyarakat
dipicu oleh arus besar modernisasi yang menghendaki terciptanya demokratisasi dalam segala
dimensi kehidupan manusia, termasuk di bidang pendidikan. Mau tak mau pendidikan harus
dikelola secara desentralisasi dengan memberikan tempat seluas-luasnya bagi partisipasi
masyarakat.~
Sebagai implikasinya, pendidikan menjadi usaha kolaboratiI yang melibatkan partisipasi
masyarakat di dalamnva. Partisipasi pada konteks ini berupa kerja sama antara warga dengan
pemerintah dalam merencanakan, melaksanakan, menjaga dan mengembangkan aktivitas
pendidikaan. Sebagai sebuah kerja sama, maka masvarakat diasumsi mempunyai aspirasi yang
harus diakomodasi dalam perencanaan dan pelaksanaan suatu program pendidikan.
1. Konsep Pendidikan Berbasis Masyarakat
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan perwujudan demokratisasi pendidikan melalui
perluasan pelayanan pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Pendidikan berbasis masyarakat
menjadi sebuah gerakan penyadaran masyarakat untuk terus belajar sepanjang hayat dalam
mengsi tantangan kehidupan yang berubah-ubah.
Secara konseptual, pendidikan berbasis masyarakat adalah model penyelenggaraan pendidikan
yang bertumpu pada prinsip 'dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Pendidikan dari masyarakat artinya pendidik memberikan jawaban atas kebutuhan masyarakat.
pendidikan oleh masyarakat artinya masyarakat ditempatkan sebagai subyek/pelaku pendidikan,
bukan objek pendidikan. Pada konteks ini, masyarakat dituntut peran dan partisipasi aktiInya
dalam setiap program pendidikan. Adapun pengertian pendidikan untuk masyarakat artinya
masyarakat diikutsertakan dalam semua program yang dirancang untuk menjawab kebutullan
mereka. Secara singkat dikatakan, masyarakat perlu diberdayakan, diberi Peluang dan kebebasan
untuk merddesain, merencanakan, membiayai, mengelola dan menilai sendiri apa yang
diperlukan secara spesiIik di dalam, untuk dan oleh masyarakat sendiri.
Di dalam Undang-undang no 20/2003 pasal 1 ayat 16, arti dari pendidikan berbasis masyarakat
adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan
potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Dengan
demikian nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat pada dasarnya merupakan suatu
pendidikan yang memberikan kemandirian dan kebebasan pada masyarakat untuk menentukan
bidang pendidikan yang sesuai dengan keinginan masyarakat itu sendiri.
Sementara itu dilingkungan akademik para akhli juga memberikan batasan pendidikan berbasis
masyarakat. Menurut Michael W. Galbraith, community-based education could be deIined as an
educational process by which individuals (in this case adults) become more corrtpetent in their
skills, attitudes, and concepts in an eIIort to live in and gain more control over local aspects oI
their communities through democratic participation. Artinya, pendidikan berbasis masvarakat
dapat diartikan sebagai proses pendidikan di mana individu-individu atau orang dewasa menjadi
lebih berkompeten dalam ketrampilan, sikap, dan konsep mereka dalam upaya untuk hidup dan
mengontrol aspek-aspek lokal dari masyarakatnya melalui partisipasi demokratis. Pendapat lebih
luas tentang pendidikan berbasis masyarakat dikemukakan oleh Mark K. Smith sebagai berikut:
. as a process designed to enrich the lives oI individuals and groups by engaging with people
living within a geographical area, or sharing a common interest, to develop voluntar-ily a range
oI learning, action, and reIlection opportunities, determined by their personal, social, econornic
and political need.
Artinya adalah bahwa pendidikan berbasis masyarakat adalah sebuah proses yang didesain untuk
memperkaya kehidupan individual dan kelompok dengan mengikutsertakan orang-orang dalam
wilayah geograIi, atau berbagi mengenai kepentingan umum, untuk mengembangkan dengan
sukarela tempat pembelajaran, tindakan, dan kesempatan reIleksi yang ditentukan oleh pribadi,
sosial, ekonomi, dan kebutuhan politik mereka.
Dengan demikian, pendekatan pendidikan berbasis masyarakat adalah salah satu pendekatan
yang menganggap masyarakat sebagai agen sekaligus tujuan, melihat pendidikan sebagai proses
dan menganggap masyarakat sebagai Iasilitator yang dapat menyebabkan perubahan menjadi
lebih balk. Dari sini dapat ditarik pemahaman bahwa pendidikan dianggap berbasis masyarakat
jika tanggung jawab perencanaan hingga pelaksanaan berada di tangan masyarakat. Pendidikan
berbasis masyarakat bekerja atas asumsi bahwa setiap masyarakat secara Iitrah telah dibekali
potensi untuk mengatasi masalahnya sendiri. Baik masyarakat kota ataupun desa, mereka telah
memiliki potensi untuk mengatasi masalah mereka sendiri berdasarkan sumber daya vang
mereka miliki serta dengan memobilisasi aksi bersama untuk memecahkan masalah yang mereka
hadapi.
Dalam UU sisdiknas no 20/2003 pasal 55 tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat disebutkan
sebagai berikut :
1. Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan
Iormal dan nonIormal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial, dan budaya untuk
kepentingan masyarakat.
2. Penyelenggara pendidikan berbasis masyarakat mengembangkan dan melaksanakan
kurikulum dan evaluasi pendidikan, serta manajemen dan pendanannya sesuai dengan standar
nasional pendidikan.
3. Dana penyelenggaraan pendidikan berbasis masyarakat dapat bersumber-dari penyelenggara,
masyarakat, Pemerintah, pemerintah daerah dan/atau sumber lain yang tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan-yang berlaku.
4. Lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat memperoleh bantuan teknis, subsidi dana, dan
sumber daya lain secara adil dan merata dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
5. Ketentuan mengenai peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2),
ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Dari kutipan di atas nampak bahwa pendidikan berbasis masyarakat dapat diselenggarakan
dalam jalur Iormal maupun nonIormal, serta dasar dari pendidikan berbasis masyarakat adalah
kebutuhan dan kondisi masyarakat, serta masyarakat diberi kewenangan yang luas untuk
mengelolanya. Oleh karena itu dalam menyelenggarakannya perlu memperhatikan tujuan yang
sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat.
Untuk itu Tujuan dari pendidikan nonIormal berbasis masyarakat dapat mengarah pada isu-isu
masyarakat yang khusus seperti pelatihan karir, perhatian terhadap lingkungan, budaya dan
sejarah etnis, kebijakan pemerintah, pendidikan politik dan kewarganegaraan, pendidikan
keagamaan, pendidikan bertani, penanganan masalah kesehatan serti korban narkotika, HIV/Aids
dan sejenisnya. Sementara itu lembaga yang memberikan pendidikan kemasyarakat bisa dari
kalangan bisnis dan industri, lembaga-lembaga berbasis masyarakat, perhimpunan petani,
organisi kesehatan, organisasi pelayanan kemanusiaan, organisi buruh, perpustakaan, museum,
organisasi persaudaraan sosial, lembaga-lembaga keagamaan dan lain-lain .
2. Pendidikan NonIormal Berbasis Masyarakat
Model pendidikan berbasis masyarakat untuk konteks Indonesia kini semakin diakui
keberadaannya pasca pemberlakuan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Keberadaan lembaga ini diatur pada 26 ayat 1 s/d 7. jalur yang digunakan bisa Iormal dan atau
nonIormal.
Dalam hubungan ini, pendidikan nonIormal berbasis masyarakat adalah pendidikan nonIormal
yang diselenggarakan oleh warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan dan
berIungsi sebagai pengganti, penambah dan/pelengkap pendidikan Iormal dalam rangka
mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonIormal berIungsi mengembangkan
potensi peserta didik dengan penekanan pengetahuan dan keterampilan Iungsional serta
pengembangan sikap dan kepribadian Iungsional. Pendidikan nonIormal meliputi pendidikan
kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan
perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan
kesetaraan serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik. Satuan pendidikan nonIormal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok
belajar, pusat kegiatan masyarakat, majelis taklirn serta satuan pendidikan yang sejenis.
Dengan demikian, nampak bahwa pendidikan nonIormal pada dasarnya lebih cenderung
mengarah pada pendidikan berbasis masyarakat yang merupakan sebuah proses dan program,
yang secara esensial, berkembangnya pendidikan nonIormal berbasis masyarakat akan sejalan
dengan munculnya kesadaran tentang bagaimana hubungan-hubungan sosial bisa membantu
pengembangan interaksi sosial yang membangkitkan concern terhadap pembelajaran berkaitan
dengan masalah yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sosial, politik,, lingkungan,
ekonomi dan Iaktor-Iaktor lain. Sementara pendidikan berbasis masyarakat sebagai program
harus berlandaskan pada keyakinan dasar bahwa partisipasi aktiI dari warga masyarakat adalah
hal yang pokok. Untuk memenuhinya, maka partisipasi warga harus didasari kebebasan tanpa
tekanan dalam kemampuan berpartisipasi dan keingin berpartisipasi.
3. Pinsip-prinsip Pendidikan Berbasis Masyarakat
Menurut Michael W. Galbraith pendidikan berbasis masyarakat memiliki prinsip-prinsip sebagai
berikut:
SelI determination (menentukan sendiri). Semua anggota masyarakat memiliki hak dan
tanggung jawab untuk terlibat dalam menentukan kebutuhan masyarakat dan mengidentiIikasi
sumber-sumber masyarakat yang bisa digunakan untuk merumuskan kebutuhan tersebut.
SelI help (menolong diri sendiri) Anggota masyarakat dilayani dengan baik ketika kemampuan
mereka untuk menolong diri mereka sendiri telah didorong dan dikembangkaii. Mereka menjadi
bagian dari solusi dan membangun kemandirian lebih baik bukan tergantung karena mereka
beranggapan bahwa tanggung jawab adalah untuk kesejahteraan mereka sendiri.
Leadership development (pengembangan kepemimpinan) Para pemimpin lokal harus dilatih
dalam berbagai ketrampilan untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, dan proses
kelompok sebagai cara untuk menolong diri mereka sendiri secara terus-menerus dan sebagai
upaya mengembangkan masyarakat.
Localization (lokalisasi). Potensi terbesar unhik tingkat partisipasi masyarakat tinggi terjadi
ketika masyarakat diberi kesempatan dalam pelayanan, program dan kesempatan terlibat dekat
dengan kehidupan tempat masyarakat hidup.
Integrated delivery oI service (keterpaduan pemberian pelayanan) Adanya hubungan
antaragensi di antara masyarakat dan agen-agen yang menjalankan pelayanan publik dalam
memenuhi tujuan dan pelayanan publik yang lebih baik.
Reduce duplication oI service. Pelayanan Masyarakat seharusnya memanIaatkan secara penuh
sumber-sumber Iisik, keuangan dan sumber dava manusia dalam lokalitas mereka dan
mengoordinir usaha mereka tanpa duplikasi pelayanan.
Accept diversity (menerima perbedaan) Menghindari pemisahan masyarakat berdasarkan usia,
pendapatan, kelas sosial, jenis kelamin, ras, etnis, agama atau keadaan yang menghalangi
pengembangan masyarakat secara menyeluruh. Ini berarti pelibatan warga masyarakat perlu
dilakukan seluas mungkin dan mereka dosorong/dituntut untuk aktiI dalam pengembangan,
perencanaan dan pelaksanaan program pelayanan dan aktiIitas-aktiIitas kemasyarakatan.
Institutional responsiveness (tanggung jawab kelembagaan) Pelayanan terhadap kebutuhan
masyarakat yang berubah secara terus-menerus adalah sebuah kewajiban dari lembaga publik
sejak mereka terbentuk untuk melayani masyarakat. Lembaga harus dapat dengan cepat
merespon berbagai perubahan yang terjadi dalam masyarakat agar manIaat lembaga akan terus
dapat dirasakan.
LiIelong learning (pembelajaran seumur hidup) Kesempatan pembelajaran Iormal dan inIormal
harus tersedia bagi anggota masyarakat untuk semua umur dalam berbagai jenis latar belakang
masyarakat.
Dalam perkembangannya, community-based education merupakan sebuah gerakan nasional di
negara berkemang seperti Indonesia. community-based education diharapkan dapat menjadi
salah satu Iondasi dalam mewujudkan masyarakat madani (civil society). Dengan sendirinya,
manajemen penndidikan yang berdasarkan pada community-based education akan menampilkan
wajah sebagai lembaga pendidikan dari masyarakat. Untuk melaksanakan paradigma pendidikan
berbasis masyarakat pada jalur nonIormal setidak-tidaknva mempersyaratkan lima hal (Sudjana.
1984). pertama, teknologi yang digunakan hendaknya sesuai dengan kondisi dan situasi nyata
yang ada di masyarakat. Teknologi yang canggih yang diperkenalkan dan adakalanya dipaksakan
sering berubah menjadi pengarbitan masyarakat yang akibatnva tidak digunakan sebab kehadiran
teknologi ini bukan karena dibutuhkan, melainkan karena dipaksakan. Hal ini membuat
masyarakat menjadi rapuh. Kedua, ada lembaga atau wadah yang statusnya jelas dimiliki atau
dipinjam, dikelola, dan dikembangkan oleh masyarakat. Di sini dituntut adanya partisipasi
masyarakat dalam peencanaan, pengadaan, penggunaan, dan pemeliharaan pendidikan luar
sekolah. Ketiga, program belajar yang akan dilakukan harus bernilai sosial atau harus bermakna
bagi kehidupan peserta didik atau warga belajar dalam berperan di masyarakat. Oleh karena itu,
perancangannya harus didasarkan pada potensi lingkungan dan berorientasi pasar, bukan
berorientasi akademik semata.
Keempat, program belajar harus menjadi milik masyarakat, bukan milik instansi pemerintah. Hal
ini perlu ditekankan karena bercermin pada pengalaman selama ini bahwa lembaga pendidikan
yang dimiliki oleh instansi pemerintah terbukti belum mampu membangkitkan partisipasi
masyarakat. Yang terjadi hanyalah pemaksaan program, karena semua program pendidikan
dirancang oleh instansi yang bersangkutan. Kelima, aparat pendidikan luar sekolah/nonIormal
tidak menangani sendiri programnya, namun bermitra dengan organisasi-organisasi
kemasyarakatan. Organisasi-organisasi kemasyarakatan ini yang menjadi pelaksana dan mitra
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan belajar mereka dan dalam berhubungan dengan sumber-
sumber pendukung program.
4. Pendidikan Berbasis Masyarakat untuk pembangunan masyarakat
Dalam upaya mendorong pada terwujudnya pendidikan nonIormal berbasis masyarakat, maka
diperlukan upaya untuk menjadikan pendidikan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun
masyarakat. Dalam hal ini diperlukan pemahaman yang tepat akan kondisi dan kebutuhan
masyarakat.
Pembangunan/pengembangan masyarakat, khususnya masyarakat desa merupakan suatu Iondasi
penting yang dapat memperkuat dan mendorong makin meningkatnya pembangunan bangsa,
oleh karena itu pelibatan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan nonIormal dapat
menjadi suatu yang memberi makna besar bagi kelancaran pembangunan.
Pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau pembangunan masyarakat sebagai istilah-
istilah yang dimaksud dalam pembahasan ini mengandung arti yang bersamaan. Pengembangan
masyarakat, terutama di daerah pedesaan, bila dibandingkan dengan daerah perkotaan jelas
menunjukan suatu ketimpangan, sehingga memerlukan upaya yang lebih keras untuk mencoba
lebih seimbang diantara keduanya. pengembangan masyarakat, pengembangan sosial atau
pembangunan masyarakat tersebut menunjukkan suatu upaya yang disengaja dan diorganisasi
untuk memajukan manusia dalam seluruh aspek kehidupannya yang dilakukan di dalam satu
kesatuan Wilayah. Kesatuan wilayah itu bisa terdiri dari daerah pedesaan atau daerah perkotaan.
Upaya pembangunan ini bertujuan untuk terjadinya perubahan kualitas kehidupan manusia dan
kualitas wilayahnya atau lingkungannya ke arah yang lebih baik. Agar pembangunan itu berhasil,
maka pembangunan haruslah menjadi jawaban yang wajar terhadap kebutuhan perorangan,
masyarakat dan Pemerintah baik di tingkat desa, daerah ataupun di tingkat nasional. Dengan
demikian maka isi, kegiatan dan tujuan pengembangan masyarakat akan erat kaitannya dengan
pembangunan nasional.
TR Batten menjelaskan bahwa pengembangan masyarakat ialah proses yang dilakukan oleh
masyarakat dengan usaha untuk pertama-tama mendiskusikan dan menentukan kebutuhan atau
keinginan mereka, kemudian merencanakan dan melaksanakan secara bersama usaha untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka itu (Batten, 1961). Dalam proses tersebut maka
keterlibatan masyarakat dapat digambarkan sebagai berikut. Tahap pertama, dengan atau tanpa
bimbingan Iihak lain, masyarakat melakukan identiIikasi masalah, kebutuhan, keinginan dan
potensi-potensi yang mereka miliki. Kemudian mereka mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan
mereka, menginventarisasi kebutuhan-kebutuhan itu berdasarkan tingkat keperluan, kepentingan
dan mendesak tidaknya usaha pemenuhan kebutuhan. Dalam identiIikasi kebutuhan itu
didiskusikan pula kebutuhan perorangan, kebutuhan masyarakat dan kebutuhan Pemerintah di
daerah itu. Mereka menyusun urutan prioritas kebutuhan itu sesuai dengan sumber dan potensi
yang terdapat di daerah mereka. Tahap kedua, mereka menjajagi kemungkinan-kemungkinan
usaha atau kegiatan yang dapat mereka lakukan, untuk memenuhi kebutuhan itu. apakah sesuai
dengan sumber-sumber yang ada dan dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan
hambatan yang akan dihadapi dalam kegiatan itu. Selanjutnya mereka menentukan pilihan
kegiatan atau usaha yang akan dilakukan bersama. Tahap ketiga, mereka menentukan rencana
kegiatan, yaitu program yang akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ini
dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa memiliki dikalangan masyarakat. Rasa pemilikan
bersama itu menjadi prasarat timbulnya rasa tanggung jawab bersama untuk keberhasilan usaha
itu. Tahap keempat ialah melaksanakan kegiatan. Dalam tahap keempat ini motivasi perlu
dilakukan. Di samping itu komunikasi antara pelaksana terus dibina. Dalam tahap pelaksanaan
ini akan terdapat masalah yang menuntut pemecahan. Pemecahan masalah itu dilakukan setelah
dirundingkan bersama oleh masyarakat dan para pelaksana. Tahap kelima, penilaian terhadap
proses pelaksanaan kegiatan, terhadap hasil kegiatan dan terhadap pengaruh kegiatan itu. Untuk
kegiatan yang berkelanjutan, hasil evaluasi itu dijadikan salah satu masukan untuk tindak lanjut
kegiatan atau untuk bahan penyusunan program kegiatan baru. Semua tahapan kegiatan itu
dilakukan oleh masyarakat secara partisipatiI. Pengembangan masyarakat yang bertumpu pada
kebutuhan dan tujuan pembangunan nasional itu memiliki dua jenis tujuan. Tujuan-tujuan itu
dapat digolongkan kepada tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dengan sendirinya
mengarah dan bermuara pada tujuan nasional, sedangkan tujuan khusus yaitu perubahan-
perubahan yang dapat diukur yang terjadi pada masyarakat. Perubahan itu menyangkut segi
kualitas kehidupan masyarakat itu sendiri setelah melalui program pengembangan masyarakat.
Perubahan itu berhubungan dengan peningkatan taraI hidup warga masyarakat dan
keterlibatannya dalam pembangunan. Dengan kata lain tujuan khusus itu menegaskan adanya
perubahan yang dicapai setelah dilakukan kegiatan bersama, yaitu berupa perubahan tingkah
laku warga masyarakat. Perubahan tingkah laku ini pada dasarnya merupakan hasil edukasi
dalam makna yang wajar dan luas, yaitu adanya perubahan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan
aspirasi warga masyarakat serta adanya penerapan tingkah laku itu untuk peningkatan kehidupan
mereka dan untuk peningkatan partisipasi dalam pembangunan masyarakat. Partisipasi dalam
pembangunan masyarakat itu bisa terdiri dari partisipasi buah Iikiran, harta benda, dan tenaga
(Anwas Iskandar, 1975). Dalam makna yang lebih luas maka tujuan pengembangan masyarakat
pada dasarnya adalah pengembangan demokratisasi, dinamisasi dan modernisasi (Suryadi, 1971).
Prinsip-prinsip pengembangan masyarakat yang dikemukakan di sini ialah keterpaduan,
berkelanjutan, keserasian, kemampuan sendiri (swadaya dan gotong royong), dan kaderisasi.
Prinsip keterpaduan memberi tekanan bahwa kegiatan pengembangan masyarakat didasarkan
pada program-program yang disusun oleh masyarakat dengan bimbingan dari lembaga-lembaga
yang mempunyai hubungan tugas dalam pembangunan masyarakat. Prinsip berkelanjutan
memberi arti bahwa kegiatan pembangunan masyarakat itu tidak dilakukan sekali tuntas tetapi
kegiatannya terus menerus menuju ke arah yang lebih sempurna. Prinsip keserasian diterapkan
pada program-program pembangunan masyarakat yang memperhatikan kepentingan masyarakat
dan kepentingan Pemerintah. Prinsip kemampuan sendiri berarti dalam melaksanakan kegiatan
dasar yang menjadi acuan adalah kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat sendiri.
Prinsip-prinsip di atas memperjelas makna bahwa program-program pendidikan nonIormal
berbasis masyarakat harus dapat mendorong dan menumbuhkan semangat pengembangan
masyarakat, termasuk keterampilan apa yang harus dijadikan substansi pembelajaran dalam
pendidikan nonIormal. Oleh karena itu, upaya untuk menjadikan pendidikan nonIormal sebagai
bagian dari kegiatan masyarakat memerlukan upaya-upaya yang serius agar hasil dari pendidikan
dapat dimanIaatkan oleh masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas hidup mereka
Dalam hal ini perlu disadiri bahwa pengembangan masyarakat itu akan lancar apabila di
masyarakat itu telah berkembang motivasi untuk membangun serta telah tumbuh kesadaran dan
semangat mengembangkan diri ditambah kemampuan serta ketrampilan tertentu yang dapat
menopangnya, dan melalui kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan nonIormal diharapkan
dapat tumbuh suatu semangat yang tinggi untuk membangun masyarakat desanya sendiri sabagai
suatu kontribusi bagi pembangunan bangsa pada umumnya.
C. K E S I M P U L A N
Dari apa yang telah diuraikan terdahulu dapatlah ditarik beberapa kesimpulan berkaitan dengan
Pendidikan NonIormal berbasis Masyarakat sebagai berikut :
Pendidikan berbasis masyarakat merupakan upaya untuk lebih melibatkan masyarakat dalam
upaya-upaya membangun pendidikan untuk kepentingan masyarakat dalam menjalankan
perannya dalam kehidupan.
Pendidikan nonIormal berbasis masyarakat merupakan suatu upaya untuk menjadikan
pendidikan nonIormal lebih berperan dalam upaya membangun masyarakat dalam berbagai
bidangnya, pelibatan masyarakat dalam pendidikan nonIormal dapat makin meningkatkan peran
pendidikan yang dapat secara langsung dirasakan oleh masyarakat.
Untuk mencapai hal tersebut pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan pendidikan
nonIormal menjadi suatu keharusan, dalam hubungan ini diperlukan tentang pemehaman kondisi
masyarakat khususnya di desa berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam rangka
meningkatkan kualitas hidupnya, serta turut bertanggungjawab dalam upaya terus
mengembangkan pendidikan yang berbasis masyarakat, khususnya masyarakat desa
D. DAFTAR PUSTAKA
Faisal, Sanapiah, (tt). Sosiologi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.
Nasution, S. (1983). Sosiologi Pendidikan,Jemmars, Bandung.
Soelaiman JoesoeI dan Slamet Santosa, (1981). Pendidikan Sosial, Usaha Nasional,Surabaya
Sudjana SF, Djudju. (1983). Pendidikan NonIormal (Wawasan-Sejarah-Azas), Theme, Bandung.
Tilaar, H.A.R (1997) Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi, Grasindo,
Jakarta, Cetakan Pertama.
Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Undang-undang no 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
umaL 30 SepLember 2011 0914 LAMANDAU8N D pendldlkan non formal yang dlselenggarakan
oleh pemerlnLah cenderung dl[adlkan a[ang unLuk mendapaLkan l[azah asalnya para peserLa program
pendldlkan non formal khususnya peserLa program pakeL (seLara Su) dan peserLa program pakeL 8
(seLara SM) kebanyakan mengabalkan kewa[lban mereka menglkuLl proses keglaLan bela[ar
menga[ar
kondlsl lnl dlakul kepala 8ldang endldlkan nonformal ulnas endldlkan dan enga[aran amandau
u[lansyah dl amandau kemarln
MenuruL u[lansyah darl delapan usaL keglaLan 8ela[ar MasyarakaL (k8M) dl Llap kecamaLan se
kabupaLen amandau hanya ada saLu k8M yang akLlf menyelenggarakan proses bela[ar menga[ar
yaknl k8M dl 1apln 8lnl kecamaLan amandau dapun k8M dl kecamaLan laln leblh banyak
menganggur Lanpa keglaLan
kendala pengelola k8M dl Lu[uh kecamaLan lLu adalah rendahnya mlnaL peserLa menglkuLl proses
bela[ar menga[ar adahal mereka mesLlnya akLlf menglkuLl keglaLan bela[ar menga[ar dua kall dalam
semlnggu
1erleblh maLerl pela[aran yang dlberlkan Lak berbeda dengan maLerl pendldlkan formal sehlngga
[adwal perLemuan yang mlnlm lLu harusnya dlmanfaaLkan semakslmal mungkln unLuk menyerap semua
maLerl yang dla[arkan
MellhaL fakLa lLu u[lansyah Lldak menamplk moLlvasl para peserLa program pendldlkan nonformal
cenderung menge[ar l[azah keLlmbang llmu ul slsl laln la Lak blsa berbuaL banyak Sebab peserLa
program pendldlkan nonformal kebanyakan adalah sudah beker[a aLau berumah Langga dan bahkan
berusla lan[uL ''kaml [elas Lak blsa memaksa mereka ke sekolah seperLl memaksa anakanak mereka''
kllahnya

Menungguu[|an
DnLuk Lahun lnl kaLa u[lansyah [umlah peserLa program pakeL ada 63 orang dan program pakeL 8
ada 273 orang
SaaL lnl plhak dlnas sedang menunggu [adwal penyelenggaraan u[lan darl pemerlnLah pusaL ''adwalnya
dan peLun[uk Leknlsnya darl pemerlnLah pusaL serlng daLang LerlambaL sehlngga kaml kesullLan
mengkoordlnaslkan dengan plhak pengelola k8M dl kecamaLan DnLuk lLu kaml mlnLa [adwal u[lan
[angan daLang LerlambaL'' kaLa u[lansyah (P2)