Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA PANGAN

ABU DAN MINERAL


Pembimbing : Riniati, S. Pd, M. Si

Disusun Oleh :
Dewi Siti Nurfazriah 091431004
Kelompok 1

Tanggal praktikum : 3 Oktober 2011
Tanggal penyerahan : 17 Oktober 2011











POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
1urusan Teknik Kimia
Program Studi Analis Kimia
Tahun Ajaran 2011/2012

1. TU1UAN PRAKTIKUM
1.1 Menentukan kadar abu dalam sampel biscuit susu.
1.2 Menentukan kadar kalsium dalam sampel biskuit susu.

2. PRINSIP
2.1 Penetapan Total Abu
Abu dalam bahan pangan ditetapkan dengan menimbang sisa mineral hasil pembakaran
bahan organik pada suhu sekitar 550
0
C.
2.2 Penetapan Kalsium
Kalsium diendapkan sebagai kalsium oksalat. Endapan dilarutkan dalam H
2
SO
4
encer
panas dan dititrasi dengan KMnO
4
.

3. DASAR TEORI
Selain mengandung bahan organik dan air, bahan pangan mengandung senyawa
anorganik yang disebut mineral atau abu. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, namun
keberadaan mineral pada bahan pangan sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.
Mengingat beragamnya sumber mineral yang ada, analisis abu dan mineral sangat
penting dilakukan untuk mengetahui kualitas gizi suatu bahan pangan. Selain dapat
mengetahui kualitas gizi, analisis abu dan mineral sering digunakan sebagai indikator mutu
pangan lain. Dari analisis abu dan mineral dapat diketahui:
a. Tingkat kemurnian produk tepung atau gula
b. Adanya pemalsuan pada produk selai buah, sari buah dan cuka
c. Tingkat kebersihan pengolahan suatu bahan
d. Terjadinya kontaminasi mineral yang bersiIat toksik
e. Data dasar pengolahan yang pada beberapa bahan pangan dipengaruhi oleh keberadaan
mineral

3.1 Persiapan sampel
Sampel yang akan digunakan untuk pengabuan jumlahnya sangat sedikit. Oleh
karena itu sampel harus diambil secara hati-hati agar dapat mewakili sampel yang ada.
Dalam mempersiapkan sampel tersebut biasanya dilakukan perlakuan pendahuluan
seperti pengecilan ukuran dan penghancuran dengan hammer mill, grinder, atau blender
serta perlakuan pendahuluan lainnya. Perlakuan pendahuluan yang digunakan pada
penetapan sampel tergantung pada jenis bahan yang akan dianalisis.
Tahap persiapan sampel untuk analisis pengabuan harus dilakukan dengan cermat
agar tidak terjadi kontaminasi selama proses persiapan. Kontaminasi terutama harus
dicegah dalam analisis mineral-mineral mikro (trace element). Kontaminasi dapat
ditimbulkan oleh berbagai sebab misalnya penggunaan alat- alat dari logam seperti
blender atau ayakan dari logam. Kontaminasi dapat dicegah dengan menggunakan
mortar porselen sebagai alat penggiling sampel dan ayakan nilon atau plastik untuk
mengayak sampel. Proses pengeringan dengan menggunakan oven pada persiapan
sampel juga dapat menyebabkan kontaminasi. Korosi yang terjadi pada oven-oven dan
rak-rak di dalamnya sangat berpotensi sebagai sumber kontaminasi.

3.2 Kadar Abu dan Mineral
Kadar abu atau mineral merupakan bagian berat mineral dari bahan yang
didasarkan atas berat keringnya. Abu yaitu zat organik yang tidak menguap, sisa dari
proses pembakaran atau hasil oksidasi. Penentuan Kadar Abu ada hubungannya dengan
mineral suatu bahan.
Mineral yang terdapat dalam bahan pangan terdiri dari 2 jenis garam, yaitu garam
organik misalnya asetat, pektat, mallat, dan garam anorganik, misalnya karbonat, IosIat,
sulIat, dan nitrat. Selain kedua garam tersebut, kadang-kadang mineral berbentuk
sebagai senyawaan komplek yang bersiIat organis. Apabila akan ditentukan jumlah
mineralnya dalambentuk aslinya sangatlah sulit,oleh karena itu biasanya dilakukan
dengan menentukan sisa-sisa pembakaran garam mineral tersebut,yang dikenal dengan
pengabuan.
Kandungan dan komposisi abu atau mineral pada bahan tergantung dari jenis
bahan dan cara pengabuannya.

3.3 Pengabuan dan Pengarangan
Pengarangan merupakan salah satu tahapan dalam analisis kadar abu.
Pengarangan dilakukan sebelum bahan uji diabukan. Pengarangan dilakukan dengan
cara memanaskan bahan uji dalam cawan porselen di atas api. Hal ini dilakukan untuk
menguapkan zat organik dalam bahan pangan (Khopkar 2003).
Pengabuan adalah tahapan utama dalam proses analisis kadar abu suatu bahan. Pada
tahap ini menggunakan tanur.
Metode pengabuan terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Pengabuan kering
b. Pengabuan basah
c. Pengabuan plasma suhu rendah
Metode pengabuan dipilih berdasarkan pada tujuan analisis, jenis makanan yang
dianalisis, dan peralatan yang tersedia. Pengabuan juga digunakan sebagai langkah
pertama dalam mempersiapkan sampel untuk analisis mineral tertentu. Umumnya kadar
abu dalam bahan pangan kurang dari 5, walaupun beberapa makanan olahan dapat
memiliki kadar abu mencapai 12, misalnya daging sapi kering.

3.4 Analisis Kadar Abu
Abu dalam bahan dibedakan menjadi abu total, abu terlarut dan abu tidak
terlarut. Bentuk mineral dalam abu sangat berbeda dari bentuk asalnya dalam bahan
pangan. Sebagai contoh kalsium oksalat dalam makanan berubah menjadi kalsium
karbonat dan bila dipanaskan lebih lama lagi akan menjadi kalsium oksida. Meskipun
demikian analisis kadar total abu dan pengabuan pada suatu bahan menjadi sangat
penting karena berbagai alasan. Kadar abu total adalah bagian dari analisis proksimat
yang digunakan untuk mengevaluasi nilai gizi suatu bahan pangan.
Pada analisis kadar abu dan serat seringkali digunakan jenis pengabuan dalam
tanur. Pengabuan sering memerlukan waktu yang lama untuk mempercepat proses
pengabuan dapat dilakukan beberapa cara yaitu menambah bahan dengan kwarsa murni
sebelum pengabuan untuk memperluas permukaan dan menambah porositas,
menambahkan gliserol-alkohol sehingga akan terbentuk kerak yang porosus dan proses
oksidasi semakin cepat, dan menambahkan hydrogen peroksida untuk mempercepat
oksidasi (Khopkar 2003).
Prinsip penentuan kadar abu didasarkan pada :
a. mineral tidak hancur dengan pemanasan
b. mineral memiliki volatilitas yang rendah dibandingkan dengan komponen makanan
lainnya.
3.4.1 Pengabuan kering
Analisis kadar abu dengan metode pengabuan kering dilakukan dengan cara
mendestruksi komponen organik sampel dengan suhu tinggi di dalam suatu tanur
pengabuan (Iurnace), tanpa terjadi nyala api, sampai terbentuk abu berwarna putih
keabuan dan berat konstan tercapai. Oksigen yang terdapat di dalam udara
bertindak sebagai oksidator. Residu yang didapatkan merupakan total abu dari
suatu sampel.
Sampel yang digunakan pada metode pengabuan kering ditempatkan dalam
suatu cawan pengabuan yang dipilih berdasarkan siIat bahan yang akan dianalisis
serta serta jenis analisis lanjutan yang akan dilakukan terhadap abu.
Apabila pengabuan yang berkepanjangan tidak dapat menghasilkan abu
bebas karbon, residu harus dibasahi lagi dengan air, dikeringkan dan kemudian
diabukan sampai didapat abu berwarna putih keabuan. Jika penambahan air belum
juga berhasil memecahkan masalah ini, residu dapat pula diperlakukan dengan
hydrogen peroksida, asam nitrat, atau asam sulIat, tetapi perlu diingat bahwa
perlakuan ini akan mengubah bentuk mineral yang ada di dalam abu.
3.4.2 Pengabuan basah
Proses pengabuan basah dilakukan dengan cara mengoksidasi komponen
organic sampel menggunakan oksidator kimiawi seperti asam kuat. Pengabuan ini
biasanya lebih banyak digunakan untuk persiapan sampel mineral-mineral mikro
atau mineral-mineral toksik.

3.5 Analisis Kadar Mineral
Jenis dan jumlah mineral yang menyusun total abu pada bahan pangan dapat
ditentukan dengan beberapa metode antara lain metode gravimetri, titrimetri, dan
kalorimetri.
3.5.1Metode Gravimetri
Analisis mineral dengan menggunakan metode gravimetri ini dilakukan
dengan cara mengendapkan mineral yang terdapat dalam sampel secara selektiI.
Pada proses pengendapan ini, dimungkinkan terjadi kontaminasi, tetapi hal ini
dapat diminimalisir dengan melakukan pembilasan terhadap endapan. Endapan
yang diperoleh kemudian dikeringkan dan ditimbang hingga mendapatkan berat
yang konstan. Perhitungan kadar mineral didasarkan pada perbandingan berat
masing-masing atom yang menyusun suatu komponen dengan berat molekul
komponen tersebut.
Analisis mineral dengan metode gravimetric mempunyai keterbatasan yaitu
hanya dapat digunakan untuk menganalisis mineral makro.
3.5.2Metode Titrimetri
Metode titrimetri yang biasanya digunakan untuk menentukan kadar mineral
adalah titrasi yang melibatkan reaksi redoks. Mineral dalam bahan ditentukan
dengan melibatkan reaksi reduksi yaitu penambahan electron pada suatu atom dan
reaksi oksidasi yaitu pengurangan electron pada suatu atom. Reaksi redoks dapat
digunakan untuk menganalisis beberapa jenis mineral seperti kalsium, besi,
tembaga, dan iodium.
3.5.3Metode Kalorimetri
Analisis mineral dengan metode kalorimetri didasarkan pada reaksi
pembentukan warna yang dapat menyerap atau meneruskan sinar pada panjang
gelombang tertentu. Reaksi ini harus menghasilkan produk berwarna tunggal yang
dibentuk dengan cepat dan bersiIat stabil. Metode kalorimetri dapat diaplikasikan
untuk menentukan magnesium, IosIor, dan besi pada sampel.

3.6 Kadar Abu dalam Sampel.
Kadar abu biskuit dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah mg. Biskuit
merupakan salah satu kue kering yang popular dan digemari. Inti pembuatan kue kering
adalah pencampuran antara tepung dan air yang dijadikan adonan, kemudian ditambah
dengan bahan yang mengandung lemak agar renyah. Jumlah dan jenis lemak yang
dipakai tergantung pada jenis biskuit atau kue kering yang akan dibuat (Muaris 2007).

4. METODOLOGI PRAKTIKUM
4.1 Alat dan Bahan
4.1.1 Alat
Penetapan Total Abu
Cawan penguapan 2 buah
urnace 1 buah
umpang alu 1 buah
Neraca analitik 1 buah
Penjepit cawan 1 buah
Spatula 1 buah
Penetapan Kalsium
Batang pengaduk 2 buah
Botol aquadest 1 buah
Buret 50 m 1 buah
Corong gelas 2 buah
Gelas piala 250 m 2 buah
Hot plate 2 buah
Kaca arloji 2 buah
abu Erlenmeyer 250 m 2 buah
abu takar 100 m 2 buah
Pipet tetes 3 buah
Pipet ukur 10 m 1 buah
Pipet ukur 25 m 1 buah
Statip klem 1 buah
4.1.2 Bahan
Penetapan Total Abu
Sampel biskuit (biskuat susu coklat)
Penetapan Kalsium
arutan HCl encer (14)
Abu dari sampel biskuit
Pereaksi (amonium oksalat jenuh, indikator metil merah, NH
4
OH (14), asam
sulIat encer (14), KMnO
4
0,1 N, KMnO
4
0,01 N)
arutan HNO
3
encer dan pekat
arutan AgNO
3

Indikator universal
Kertas saring
Aquadest
















4.2 Prosedur Kerja
4.2.1 Penetapan Total Abu

Llmbang beraL abu dalam sampel
masukkan dalam deslkaLor
L I10 menlL
cawan dan abu sampel dldlnglnkan dalam udara Lerbuka
L 3 menlL
masukkan kedalam furnace
1 330
C
C L 6 [am
sampel yang Lelah dlhaluskan dlLlmbang (I3gram) dalam cawan yang sudah mempunyal beraL
kosnLan
cawan dlLlmbang hlngga dlperoleh beraL konsLan
masukkan dalam deslkaLor
L I10 menlL
cawan dldlnglnkan dl udara Lerbuka
L I3 menlL
cawan pengabuan dlpanaskan dalam oven
1 130
C
C L 13 menlL
4.2.2 Penetapan Kalsium
Pembuatan arutan Abu
























lllLraL
lndahkan ke labu Lakar
100 mL
1ambahkan dengan PCl lalu
Landa baLaskan dengan
aquadesL
LaruLan
abu 100 mL
kerLas sarlng
+ abu
endlnglnan

emanasan dalam enangas
alr
1 mendldlh L 30 menlL
30 mL PCl
encer
Cawan yang berlsl
abu lalu LuLup
dengan kaca arlo[l
emanasan dalam
enangas alr
1 mendldlh L 30 menlL
1ambah 10 mL PCl

enyarlngan dengan
kerLas sarlng WhaLman

8||as dengan
nC| 12x
engabuan dalam furnace
1 430
C
C L hlngga men[adl abu
kadar Slllka
Penetapan Kalsium












lllLraL

engu[lan dengan
menggunakan AgnC
3
lllLraL bebas
Cl
kerLas
sarlng

enyarlngan dengan
kerLas sarlng whaLman
10 mL Amonlum
CksalaL + 2 LeLes
lndlkaLor meLll
merah

30 mL laruLan
abu

kondlslkan pP laruLan men[adl 3 (laruLan
berwarna merah muda)
emanasan hlngga
mendldlh
endlnglnan
1kamar L4[am
kerLas sarlng
+ endapan

Lubangl kerLas sarlng
dengan baLang pengaduk
8llas dan plndahkan endapan dengan P
2
SC
4
encer
dalam laruLan panas dan bllas dengan alr panas
1lLrasl dengan laruLan kMnC
4
001 n sampal laruLan
berwarna merah [ambu
kadar Ca

. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
5.1 Data Pengamatan
5.1.1 Penetapan Abu Total
Cawan ke-
Berat cawan
kosong konstan
(gram) a
Berat sampel
Sebelum
Iurnace (gram)
b
Berat
sampelcawan
Setelah Iurnace
(gram) c
Berat abu (gram)
c-a
1 80,6590 5,0309 80,8338 0,1748
2 73,9619 5,0292 74,1575 0,1956

5.1.2Penetapan Kalsium
Sampel
Warna merah jambu
permanen ke-1
Warna merah jambu
permanen ke-2
Volume total hasil
titrasi
Volume titran 1 (m) Volume titran 2 (m)
Ke-1 (titran
KMnO
4

0,01 N)
22,1 1,1 23,2
Ke-2 (titran
KMnO
4

0,1 N)
2,1 0,15 2,25

5.1.3Penetapan Silika
Cawan ke
Berat cawan
konstan (gram)
a
Berat
CawanResidu
sebelum di
Iurnace (gram)
b
Berat Cawan
Residu setelah
di Iurnace
(gram) c
Berat silika (gram)
c-a
1 80,6590 81,97 80,6763 0,0173
2 73,9619 75,35 73.9934 0,0315









5.2 Perhitungan
5.2.1Penetapan Total Abu



Kadar Abu
1

%b
1
=
bcrat abu (gr)
bcrat sampcI (gr)
%
%b
1
=
0,1748 gram
5,0309
%
%b
1
= 3, 47%

Kadar Abu
2

%b
2
=
bcrat abu (gr)
bcrat sampcI (gr)
%
%b
2
=
0,1956 gram
5,0292 gram
%
%b
2
= 3, 89%
IIJ Ib JII JII =
kudu ubu
1
+kudu ubu
2
2

=
3,47+3,89
2

= 3, 8%
5.2.2Penetapan Kalsium
a. Perhitungan kadar kalsium yang terdapat dala sampel biskuit secara teoritis
Kadar kalsium per sajian 8
Jumlah sajian per kemasan 4 keping
Takaran saji 5 keping (17,5 g)

5 keping 17,5 g
1 keping
17,5 g
5
3,5 g
4 keping , g = giam

Dalam 14 gram biskuit mengandung 8 kalsium
Kandungan kalsium dalam 1 gram
8 %
14 g
0,571



%Abu =
beiat abu (gi)
beiat sampel (gi)
%
b. Perhitungan hasil praktikum



Biskuat 1 (titran KMnO
4
0,01 N)
Perhitungan kadar kalsium dalam sampel
I sIJ =
23,2 mL x 0,01 N x 20 x 100 mL x 100
50 mL x 5,0309gr

184,460mg Ca/100 g sampel
9,279 mg Ca/,0309 g sampel
IIJ Is II % =
9,279mg Cu
5,0309 g sumpcI
%
IIJ Is II % =
0,009279g Cu
5,0309 g sumpcI
%
IIJ Is II % = , 18%
Perhitungan kadar kalsium yang seharusnya
Dalam 1 gram sampel biskuit mengandung 0,571 kalsium
Jika dalam 5,0309 gram sampel 5,0309 0,571 Jika dalam 5,0309 gram
sampel 2,873
Jadi dalam 5,0309 gram sampel seharusnya mengandung 2,873 kalsium.

Biskuat 2 (titran KMnO
4
0,1 N)
Perhitungan kadar kalsium dalam sampel
I sIJ =
2,25 mL x 0,1 N x 20 x 100 mL x 100
50 mL x 5,0292gr

178,954mg Ca/100 g sampel
8,999mg Ca/,0292 g sampel


Cu
100g
sIJ =
hasil titiasi x N KNn0 x BE Ca x vol total laiutan abu x
vol laiutan abu yg uigunakan x beiat sampel yg uiabukan

IIJ Is II % =
8,999mg Cu
5,0292 g sumpcI
%
IIJ Is II % =
0,008999g Cu
5,0292 g sumpcI
%
IIJ Is II % = , 179%
Perhitungan kadar kalsium yang seharusnya
Dalam 1 gram sampel biskuit mengandung 0,571 kalsium
Jika dalam 5,0292 gram sampel 5,0292 0,571
Jika dalam 5,0309 gram sampel 2,872
Jadi dalam 5,0292 gram sampel seharusnya mengandung 2,872 kalsium.

5.2.3 Penetapan Kadar Silika
Cawan 1
kadar silika
bcrat sIIIka
bcrat sampcI
%

0,0173 gram
5,0309 gram
%
0,344
Cawan 2
kadar silika
bcrat sIIIka
bcrat sampcI
%

0,0315 gram
5,0292 gram
%
0,626
kadar silika rata rata
kadar silika rata rata
kadar 1+kadar 2
2

Kadar abu rata rata
0,344 %+0,626 %
2

Kadar abu rata rata 0,48




6. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dlakukan penentuan kadar Abu dan Mineral dalam sampel
suatu bahan pangan. Sampel yang digunakan yaitu biskuit cokelat yang diduga mengandung
mineral-mineral seperti Kalsium, Magnesium, dan Seng.
Sampel biskuit ini pertama-tama di haluskan dan ditimbang yang kemudian dipijarkan
untuk ditentukan total abunya.
6.1 Penetapan total abu
Penentapan total abu dilakukan dengan metode pengabuan kering, dimana sampel
yang telah ditimbang dipijarkan didalam Iurnace pada suhu 550-600
o
C dengan
menggunakan cawan penguapan yang telah mempunyai berat konstan. Komponen-
komponen organik yang terdapat dalam sampel biskuit ini akan menguap pada saat
pemanasan berlangsung dan hanya akan menyisakan senyawa-senyawa anorganik
mineral dalam bentuk oksidanya. Misalnya saja jika dalam sampel mengandung kalsium
maka setelah pemanasan kalsium itu akan menjadi CaO, dengan reaksi :
2Ca O
2
2CaO
Begitupun dengan mineral-mineral lainnya yang terkandung dalam sampel biskuit.
Kadar abu dari suatu bahan menunjukan kandungan mineral yang terdapat dalam
bahan tersebut, kemurnian, serta kebersihan suatu bahan yang dihasilkan. Berdasarkan
praktikum penetapan kadar abu ini didapatkan total dari sampel biskuit yang pertama
yaitu sebesar 3,47 sedangkan total dari sampel biskuit yang pertama yaitu sebesar
3,89 dan rata-rata total abu adalah 3,68.
6.2 Pembuatan larutan abu
Abu hasil pembakaran (pengabuan) ditambahkan sejumlah larutan HCl encer.
Penambahan larutan HCl encer ini bertujuan agar mineral-mineral yang terdapat dalam
abu larut. Adapun reaksi yang terjadi antara lain :
CaO HCl CaCl
2

Kemudian larutan ini dipanaskan selama 30 menit, dan selama proses pemanasan,
cawan harus ditutup dengan menggunakan kaca arloji. Hal ini dilakukan untuk
mencegah muncratnya campuran. Kemudian ditambahkan kembali 10 m HCl encer
untuk melarutkan garam-garam didalam abu dan larutan abu dipanaskan kembali selama
30 menit untuk mendehidrasi silika yang tidak larut dalam HCl.
arutan disaring dengan menggunakan kertas saring Whatman, sehingga Iiltrat
yang dihasilkan bebas dari silika, dan Iiltrat dimasukkan kedalam labu takar 100 m
kemudian ditandabataskan menggunakan aquadest. Jika ingin menentukan kadar silika
dalam sampel, kertas saring bekas penyaringan larutan abu dipijarkan dalam Iurnace
selama 1,5 jam.
6.3 Penetapan Kalsium
arutan abu yang telah dibuat, dipipet sebanyak 50 m dan ditambahkan larutan
ammonium oksalat untuk membentuk endapan kalsium oksalat. Adapun reaksi yang
terjadi antara lain:
Ca
2
(NH
4
)
2
C
2
O
4
CaC
2
O
4
2NH
4

Endapan kalsium oksalat mengendap pada pH 5 dan suasana asam, oleh karena itu
pH larutan diatur agar menjadi 5. pH larutan dicek dengan penambahan indikator
indikator universal atau indikator metil merah, karena indikator metil merah mempunyai
rentang pH antara 3-4. Untuk menaikkan nilai pH dilakukan penambahan ammonia
encer dan untuk menurunkan nilai pH dilakukan penambahan asam sulIat hingga pH
yang diinginkan tercapai.
arutan yang telah mempunyai pH 5 ini dipanaskan agar partikel-partikel oksalat
semakin besar dan memudahkan proses pengendapan. Kemudian larutan didinginkan
selama 4 jam agar semua endapan yang terbentuk turun. Hanya saja pada saat
praktikum, larutan ini didiamkan selama beberapa hari karena kurangnya waktu saat
praktikum.
Setelah didiamkan, endapan disaring, dan dibilas dengan menggunakan aquadest
hingga Iiltrat bebas ion Cl
-
. Untuk mengecek apakah Iiltrat telah bebas dari Cl
-
atau
tidak, maka diteteskan larutan AgNO
3
pada Iiltrat. Jika setelah diteteskan larutan
AgNO
3
terbentuk endapan putih maka Iiltrat belum terbebas dari Cl
-
dan pembilasan
dengan aquadest dilakukan kembali hingga tidak terbentuk endapan putih saat
diteteskan larutan AgNO
3
.
Endapan yang bersih, dipindahkan kedalam labu Erlenmeyer dengan melubangi
kertas saring menggunakan batang pengaduk. Kertas saring dibilas dengan
menggunakan H
2
SO
4
encer (14) hingga semua endapan turun, dan terakhir dibilas
dengan air panas. Adapun reaksi yang terjadi :
CaC
2
O
4
H
2
SO
4
CaSO
4
C
2
O
4
2-

Setelah itu, dilakukan titrasi dengan larutan KMnO
4
0,01 N atau KMnO
4
0,1 N
dan titrasi dilakukan dalam keadaan panas. Titrasi akan berlangsung dengan cepat
dalam kondisi panas. Adapun reaksi yang terjadi :
MnO
4
-

+ 8H
+
+ e
-
Mn
2+
+ 4H
2
O X2
H
2
C
2
O
4
2CO
2
+ 2H
+
+ 2e
-
X
2MnO
4
-
+ 16H
+
+ 10e
-
2Mn
2+
+ 8H
2
O
H
2
C
2
O
4
10CO
2
+ 10H
+
+ 10e
-

2MnO
4
-
+ H
2
C
2
O
4
+ 16H
+
2Mn
2+
+ 10CO
2
+ 8H
2
O
Pada titrasi ini tidak ditambahkan indikator, karena KMnO
4
itu sendiri sudah
berIungsi sebagai indikator. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari
bening menjadi warna merah muda yang permanen. Kemudian titrasi dilanjutkan
kembali dengan memasukkan kembali kertas saring kedalam Erlenmeyer. arutan yang
sudah berwarna merah muda, akan kembali menjadi berwarna bening ketika kertas
saring dimasukkan. Hal ini dikarenakan masih terdapat kalsium yang menempel pada
kertas saring. Erlenmeyer yang telah berisi kertas saring tersebut dititrasi dengan larutan
KMnO
4
hingga warna larutan kembali berwarna merah muda yang permanen. Dari
volume KMnO
4
hasil titrasi ini dapat ditentukan kadar Ca dalam sampel. Adapun kadar
Ca dalam sampel yang ditentukan dengan menggunakan larutan KMnO
4
0,01 N adalah
sebesar 9,279 mg Ca/5,0309 g sampel (0,18), sedangkan kadar Ca yang ditentukan
dengan menggunakan larutan KMnO
4
0,1 N adalah sebesar 8,999mg Ca/5,0292 g
sampel (0,179).
Dalam bungkus sampel tertera kadar kalsium per sajian sebesar 8 dan jumlah
sajian perkemasan sebanyak 4 keping. Dari data ini dapat diperkirakan bahwa
kandungan kalsium dalam 1 gram biskuit sebesar 0,571. Kadar kalsium pada sampel
biskuit yang pertama sebesar 0,18 untuk 5,0309 gram dan kadar kalsium yang
seharusnya untuk 5,0309 gram sampel adalah 2,87. Sama halnya dengan sampel
pertama, pada sampel kedua pun mengalami perbedaan antar kadar kalsium hasil
praktikum dengan kadar kalsium yang seharusnya. Hal ini dikarenakan pada saat
praktikum adanya kalsium-kalsium yang secara tidak sengaja terbuang, misalnya saja
batang pengaduk yang telah digunakan tidak dibilas, dan ada sebagian zat-zat yang
menempel pada batang pengaduk tersebut.
6.4 Penetapan kadar silika
Kertas saring hasil penyaringan pada pembuatan larutan abu, ditimbang dan dipijarkan
selama 1,5 jam untuk menentukan kadar silika. Adapun kadar silika yang terdapat
sampel biskuit ini adalah sebesar 0,485.

7. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum kali ini dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain :
a. Kadar abu yang terdapat dalam sampel biskuit
1
(biskuat cokelat) sebesar 3,47.
b. Kadar abu yang terdapat dalam sampel biskuit
2
(biskuat cokelat) sebesar 3,89.
c. Rata-rata total abu sebesar 3,68.
d. Kadar kalsium yang terdapat dalam sampel biskuit (biskuat cokelat) dengan titran
KMnO
4
0,01 N adalah 9,279 mg Ca/5,0309 g sampel (0,18).
e. Kadar kalsium yang terdapat dalam sampel biskuit (biskuat cokelat) dengan titran
KMnO
4
0,1 N adalah 8,999mg Ca/5,0292 g sampel (0,179).
I. Kadar silika pada sampel sebesar 0,485.

DAFTAR PUSTAKA
Adi irman (2011). Analisis Abu. rom http://adiIirman.wordpress.com/2011/02/22/analisis-
abu/ , 15 Oktober 2011
Anonim (2011). analisis kadar abu dan mineral dalam bahan pangan. rom
http://www.scribd.com/doc/51894185/ANAISIS-KADAR-ABU-DAN-
MINERA-DAAM-BAHAN-PANGAN, 15 oktober 2011.
Anonim (2011). Laporan Penentuan Kadar Abu. rom
http://www.scribd.com/doc/14098247/aporan-praktikum-Penentuan-
Kadar-Abu, 15 Oktober 2011
irmansyah (2011). laporan praktikkum analisis kadar abu. rom http://Iirmansyah-04-01-
1990.blogspot.com/2011/05/analisa-hasil-pertanian-kadar-abu-
total14.html, 15 oktober 2011
Rahayu Martha Jaya (2010). rom http://eremjezone.blogspot.com/2010/05/kadar-abu.html,
15 Oktober 2011
Rizky Wiryadi (2007). Kadar Abu. rom http://www.smkdarunnajah.sch.id/2011/07/kadar-
abu.html , 15 Oktober 2011
Wawan Junaidi (2010). kadar abu. rom http://wawan-satu.blogspot.com/2010/12/kadar-
abu.html, 15 0KT0BER 2011
Winarno, . G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama