Anda di halaman 1dari 14

PERMASALAHAN RUU KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA

DALAM KEDAULATAN INDONESIA



Disusun Guna Memenuhi Nilai Ujian Kompetensi Dasar III
Mata Kuliah Ilmu Perundang-undangan




Disusun oleh :
PRADITYA ARDHIANTO E0009262
RIFQI ROMDLONI E0009288





FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
eberapa waktu lalu sempat ada kisruh antara Presiden Susilo ambang
Yudhoyono dengan warga Yogyakarta mengenai kekhususan yang seharusnya
di dapat oleh Yogyakarta. ahkan warga Yogyakarta sempat mengancam
untuk keluar dari kedaulatan NKRI seperti apa yang di beritakan media
beberapa waktu lalu. Lebih lagi mengenai pernyataan Presiden SY yang
menilai Yogyakarta telah melanggar konstitusi juga menjadi salah satu
penyebab utama demonstrasi warga Yogyakarta. Dalam pernyataannya tersebut
SY mempermasalahkan soal keberadaan Gubernur dalam pemerintahan
Yogyakarta. Dengan tidak adanya gubernur di sana dan hanya ada
kepemimpinan sultan dipandang tidak memenuhi cita negara demokrasi
sehingga secara tidak langsung dicap melanggar konstitusi oleh beberapa
pihak.
Dalam perkembangannya masalah ini telah menempuh beberapa kali
pembahasan dan pada akhirnya Pemerintah tetap akan menempuh jalur
membuat Rancangan Undang Undang untuk mengatur Keistimewaan
Yogyakarta, bukan dalam bentuk peraturan pemerintah pengganti undang-
undang atau Perppu, seperti diusulkan sejumlah pihak. Jika ditilik lebih dalam
memang keistimewaan Yogyakarta selama ini terkesan bertabrakan dengan
konstitusi namun tidak dengan asas demokrasi. Lihat saja saat kisruh kemarin,
warga Yogyakarta serentak membela sultannya. Itu dapat diartikan bahwa
memang warga Yogyakarta sudah memilih Sultan Hamengku uwono sebagai
pemimpin mereka.

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dibahas permasalahan sebagai berikut :
1. Apa saja landasan keistimewaaan Yogyakarta?
2. agaimana kedudukan kekhususan Yogyakarta dalam hierarki
pemerintahan Indonesia?
3. Apa saja yang dirumuskan dalam draIt UU Kekhususan DI Yogyakarta?

. Tinjauan Pustaka
Monarki, berasal dari bahasa Yunani monos (ovo) yang berarti satu,
dan archein (upciv) yang berarti pemerintah. Monarki merupakan sejenis
pemerintahan yang dipimpin oleh seorang penguasa monarki. Monarki atau
sistem pemerintahan kerajaan adalah sistem tertua di dunia. Pada awal kurun
ke-19, terdapat lebih 900 tahta kerajaan di dunia, tetapi menurun menjadi 240
dalam abad ke-20. Sedangkan pada dekade kedelapan abad ke-20, hanya 40
takhta saja yang masih ada. Dari jumlah tersebut, hanya empat negara
mempunyai penguasa monarki yang mutlak dan selebihnya terbatas kepada
sistem konstitusi. Monarki demokratis berbeda dengan konsep penguasa
monarki yang sebenarnya. Pada kebiasaannya penguasa monarki itu akan
mewarisi tahtanya. Tetapi dalam sistem monarki demokratis, tahta penguasa
monarki akan bergilir-gilir di kalangan beberapa sultan.
(id.wikipedia.org/wiki/Monarki)
Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang mengutamakan musyawarah
muIakat tanpa oposisi dalam doktrin Manipol USDEK disebut pula sebagai
demokrasi terpimpin merupakan demokrasi yang berada dibawah komando
Pemimpin esar Revolusi kemudian dalam doktrin repelita yang berada
dibawah pimpinan komando apak Pembangunan arah rencana pembangunan
daripada suara terbanyak dalam setiap usaha pemecahan masalah atau
pengambilan keputusan, terutama dalam lembaga-lembaga negara. Prinsip
dalam demokrasi Pancasila sedikit berbeda dengan prinsip demokrasi secara
universal.
iri demokrasi Pancasila:
- Pemerintah dijalankan berdasarkan konstitusi
- Adanya pemilu secara berkesinambungan
- Adanya peran-peran kelompok kepentingan
- Adanya penghargaan atas HAM serta perlindungan hak minoritas.
Demokrasi Pancasila merupakan kompetisi berbagai ide dan cara untuk
menyelesaikan masalah. Ide-ide yang paling baik akan diterima, bukan
berdasarkan suara terbanyak. (id.wikipedia.org/wiki/DemokrasiPancasila)



BAB II
PEMBAHASAN

A. Landasan Keistimewaaan Yogyakarta
Pada tanggal 26 November 2010 kemarin Presiden Susilo ambang
Yudhoyono (SY) menggelar rapat terbatas di Kantor Presiden. Agendanya,
mendengarkan pemaparan dari Mendagri Gamawan Fauzi tentang
perkembangan empat RUU yang akan segera dirampungkan oleh pemerintah,
di antaranya RUU Keistimewaan DIY yang telah lama terbengkalai. Ternyata
rapat itu menuai kontroversi saat SY mengungkapkan pandangannya
mengenai RUU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam
sambutannya Presiden menyebut tidak mungkin sistem monarki dapat
diterapkan di negara demokrasi seperti Indonesia. 'Tidak mungkin ada sistem
monarki yang bertabrakan baik dengan konstitusi maupun nilai demokrasi,
kata Presiden SY. eliau lalu menjelaskan Indonesia adalah negara hukum
dan demokrasi, sehingga nilai demokrasi tidak boleh diabaikan. Oleh
karenanya terkait penggodokan RUU Keistimewaan DIY, pemerintah akan
memprosesnya bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mendapatkan
satu UU yang tepat.
Pernyataan Presiden Susilo ambang Yudhoyono yang mengibaratkan
kondisi keistimewaan Yogyakarta sebagai bentuk monarki adalah sebuah
pernyataan yang tidak berdasarkan sejarah. Selama ini Sultan menjabat sebagai
kepala daerah bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah menjalankan
tugas, kewajiban, peran, dan Iungsi sebagaimana kepala daerah lainnya.
Perangkat Pemerintahan DIY sebagai provinsi pun tidak berbeda, ada
sekretaris daerah, kepala dinas, pengawasan DPRD, adanya peraturan daerah
sebagai produk legislatiI, dan penyusunan APD. Jadi, DIY sama sekali bukan
sebuah monarki` DIY, tapi sebuah provinsi.
erikut ini adalah landasan keistimewaan Yogyakarta :
1. Landasan Historis
Dasar kewenangan dan kedaulatan Yogyakarta dapat ditelusuri dari beberapa
Iakta sejarah. Pertama, pada masa pemerintahan kolonial elanda, dibuat
Perjanjian Politik antara elanda dengan Kasultanan Yogyakarta. Walau
Perjanjian Politik itu banyak mengurangi kewenangan pemerintahan, namun
pemerintah kolonial elanda tidak dapat mengeliminir arti penting dan
eksistensi kepemimpinan Kasultanan Yogyakarta (Soedarisman, 1985: bab III
dan IV).
Kedua, Kasultanan Yogyakarta memiliki struktur pemerintahan yang diakui
oleh pemerintah kolonial elanda maupun Jepang. Struktur itu bermula dari
keraton (parentah jero atau pemerintahan dalam) sampai ke pemerintah di luar
wilayah keraton, yang meliputi nagara, nagaragung, mancanegara dan pesisir.
Ketiga, sekalipun pada prinsipnya menganut sistem monarki, namun
modernisasi dan demokratisasi dilaksanakan di lingkungan Kasultanan
Yogyakarta, sekalipun dengan langkah-langkah yang 'membingungkan.
eberapa langkah modernisasi dan demokratisasi yang penting dicatat adalah:
dihilangkannya jabatan Patih Sultan, rekrutmen terbuka bagi semua kelas dan
kelompok dalam masyarakat, serta mulai dikenalkannya spesialisasi dalam
jajaran birokrasi.

2. Landasan Sosial-Budaya

Sekalipun telah terjadi perubahan yang cukup mendasar, dari
akulturasi budaya-sinkretisme agama Hindu-Jawa menjadi Islam-
Jawa, namun penerimaan masyarakat Yogyakarta terhadap
Kasultananan dan Kadipaten Pakualaman sebagai pusat budaya Jawa
dan simbol kepemimpinan tetap tidak berubah. Hal ini bisa dilihat dari
antusiasme masyarakat untuk hadir dan terlibat dalam acara-acara
ritual yang dilakukan baik oleh Kasultanan maupun Kadipaten
Pakualaman, mulai dari aktivitas di lereng Gunung Merapi sampai ke
tepi pantai Laut Selatan. Penghargaan masyarakat terhadap
Kasultanan dan Kadipaten dapat dilihat dari penerimaan masyarakat
terhadap konsep Dwi Tunggal, yang sekalipun secara juridis-Iormal
tidak dirumuskan namun secara realitas sosiologis diakui oleh
masyarakat. Dalam pandangan masyarakat, mengubah (apalagi
menghapus) Dwi Tunggal diidentikan dengan menghapus
keistimewaan Yogyakarta. Pandangan seperti ini pernah diekspresikan
secara demonstratiI saat terjadi kemelut pengisian jabatan Gubernur
dan Wakil Gubernur masing-masing pada tahun 1998 dan 2001.

. Landasan Hukum
Pertama, pasal 18 UUD 1945 yang memberi pengakuan Iormal
terhadap daerah-daerah yang memiliki keistimewaan. Pengaturan
tentang daerah istimewa ditetapkan dengan sebuah Undang-undang,
dengan mengingat hak-hak asal-usul yang berlaku di daerah istimewa
itu.
Kedua, sebenarnya secara de jure pengakuan terhadap keistmewaan
Yogyakarta sudah dilakukan melalui Undang-undang Nomor 3 juncto
Undang-undang nomor 19 tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah
Istimewa Yogyakarta, yang ditetapkan pada tanggal 4 Maret 1950.
Undang-undang nomor 3 tahun 1950 berlandaskan pada UUDS 1950.
erdasarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, kita kembali menggunakan
UUD 1945 hingga kini.
Ketiga, maklumat Sri Sultan Hamengku uwono IX (sebagai penguasa
Kasultanan Yogyakarta) dan Sri Paku Alam VIII (sebagai penguasa
Kadipaten Pakualaman menegaskan bahwa Yogyakarta adalah bagian
dari wilayah Republik Indonesia yang berstatus istimewa, karenanya
keduanya bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik
Indonesia.
Keempat, keluarnya Amanat Seri Padoeka Ingkeng Sinoewoen
Kandjeng Soeltan Hamengkoe oewana IX dan Seri Padoeka
Kandjeng Goesti Pangeran Adipati Arja Pakoealam VIII tanggal 30
Oktober 1945 yang menyatakan proses penyelenggaraan pemerintahan
di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dilakukan oleh Sri Sultan, Sri
Paku Alam dan adan Pekerja Komite Nasional daerah Yogyakarta.
Kelima, keluarnya Maklumat nomor 18 tanggal 18 Mei 1946 tentang
Dewan-dewan Perwakilan Rakyat di Daerah Istimewa Yogyakarta
yang merupakan persetujuan antara Sri Sultan, Sri Paku Alam, dan
adan Pekerja Dewan Daerah layak dinilai sebagai satu langkah yang
lebih maju untuk membangun pemerintahan yang stabil dan eIektiI.

. Landasan Politik.
Landasan ini berhubungan dengan peran politik yang dilakukan oleh
Kasultanan (khususnya Sultan Hamengku uwono IX) maupun
Pakualaman (khususnya Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII).

B. Kedudukan Kekhususan Yogyakarta dalam Hierarki Pemerintahan
Indonesia
Peraturan Daerah merupakan salah satu jenis Peraturan Perundang-
undangan dan merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan
Pancasila. Pada saat ini Peraturan Daerah mempunyai kedudukan yang sangat
strategis karena diberikan landasan konstitusional yang jelas sebagaimana
diatur dalam Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. erdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 10 Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan
Daerah mencakup Peraturan Daerah Provinsi dan/atau Peraturan Daerah
Kabupaten/Kota. Peraturan Menteri, walaupun tidak secara tegas dicantumkan
dalam hierarki Peraturan Perundang-undangan, namun keberadaannya diakui
sebagai salah satu jenis Peraturan Perundang-undangan sebagaimana dijelaskan
dalam penjelasan Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Sebelum bergabung dengan Republik Indonesia, Yogyakarta adalah
sebuah negara merdeka yang berbentuk kerajaan dengan rajanya Sri Sultan
Hamengkubuwono IX, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sri Sultan
H IX menyatakan diri bergabung ke Republik, dan kemudian disusul dengan
Maklumat Sri Sultan H IX dan Pakulam VIII poda tanggal 5 September 1945.
Atas dasar itulah Presiden Soekarno mengeluarkan Piagam yang menetapkan
Yogyakarta sebagai daerah Istimewa dengan kepala daerahnya Sri Sultan dan
paku Alam, sejak itu Gubernur Daerah istimewa Yogyakarta dipegang secara
turun temurun oleh Raja. Kini ketetapan itu agak terganggu dengan hadirnya
Undang-undang No. 32/2004, yang salah satu isinya menetapkan bahwa
Kepala Daerah ditetapkan melalui pemilihan umum atau yang biasa disebut
dengan istilah pemilukada. Jadi dengan adanya UU No.32 Tahun 2004 tersebut
di atas membuat keistimewaan yang dimiliki Yogyakarta menjadi kabur.
Logikanya adalah adanya tuntutan untuk mengadakan pemilihan secara
langsung di daerah dengan maksud demokratis namun Yogyakarta tidak
melakukannya karena sudah ada Sultan yang memerintah di sana. Hal ini
sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan terlalu lama mengingat warga
Yogyakarta lebih percaya kepada Sultan dan keluarganya untuk memimpin
Yogyakarta.
Sesungguhnya, jika dilakukan pemilihan langsung oleh rakyat maka dapat
dipastikan bahwa Sultan masih mencalonkan diri tak satupun diantara
masyarakat Yogyakarta yang mampu menyainginya, eliau berpeluang besar
untuk terpilih menjadi Gubernur kembali, karena kesetiaan warga Yogyakarta
terhadap Sultannya adalah kesetiaan yang tak berbelah bagi, disamping itu juga
Sri Sultan H X memang pantas untuk dipilih sebagai pemimpin, bukan hanya
sebatas memimpin Negeri Yogyakarta saja, tapi bahkan pimpinan Nasional.
Namun jika itu dilakukan, pertanyaannya adalah dimana letaknya
keistimewaan Yogyakarta, karena selama ini yang membedakan DIY dengan
propinsi lain hanyalah pada jabatan Gubernur yang dipegang oleh rajanya,
sementara daerah lain dipilih langsung oleh rakyat. Tapi jika jabatan tersebut
tetap diserahkan kepada Sultan secara turun temurun seperti sekarang ini, maka
ini akan melanggar nilai-nilai konstitusi dan demokrasi, dimana prinsip
demokrasi tersebut adalah dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat. Kebetulan saja
saat ini Sultan yang memimpin negeri itu orang tepat dan bijaksana, memenuhi
unsur yang terkandung dalam nilai-nilai luhur dan kepribadian masyarakat
Yogya, dan dicintai oleh rakyatnya, bagaimana pula jika sebaliknya, meskipun
masih jauh kedepan sebaiknya diantisipasi dari sekarang. Itulah sebabnya
diperlukan UU, yang mengatur tentang hak-hak istimewa Yogyakarta itu, agar
nasib DI Yogyakrta menjadi jelas dan tidak mengambang seperti sekarang.
Sekarang jelas bahwa Yogyakarta berkedudukan sama seperti provinsi lain
di Indonesia, yang membedakannya hanya pada keistimewaan pemegang kuasa
pemerintahan yang diberikan pada Sultan. Sebenarnya tak beda dengan
keistimewaan yang didapat oleh Nangroe Aceh Darussalam dengan penerapan
hukum Islam dalam pemerintahannya, dan ini seharusnya tidak menjadi
masalah yang berlarut-larut agar posisi keistimewaan Yogyakarta semakin jelas
dalam pemerintahan di Indonesia.

. Draft UU Kekhususan DI Yogyakarta
RUU tersebut terdiri-dari 12 bab dan 40 pasal. Poin krusial menyangkut
status dan kedudukan Sri Sultan Hamengku uwono dan Sri Paku Alam serta
mekanisme pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur sebagian besar
sudah dijelaskan pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi
kepada publik dalam berbagai kesempatan. (okezone.com)
erikut ini adalah beberapa pengaturan mengenai kepala pemerintahan DI
Yogyakarta :
Pasal 1 Nomor 8
Gubernur Utama dan Wakil Gubernur Utama adalah lembaga yang terdiri-dari
Sri Sultan Hamengku uwono dan Sri Paku Alam sebagai satu-kesatuan yang
mempunyai Iungsi sebagai simbol, pelindung, dan penjaga budaya, serta
pengayom pemersatu Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pasal 1 Nomor 10
Gubernur Provinsi Daerah Istimewa, selanjutnya disebut Gubernur adalah unsur
penyelenggara Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang
berkedudukan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Pemerintah.

Pasal 10
Gubernur dan Wakil Gubernur Utama berwenang :
- Memberikan arah umum kebijakan dalam penetapan kelembagaan
Pemerintah Daerah Provinsi, kebudayaan, pertanahan, penataan ruang
dang penganggaran;
- Memberikan persetujuan terhadap rancangan Perdais yang telah
disetujui bersama oleh DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dan Gubernur;
- Memberikan saran dan pertimbangan terhadap rencana perjanjian
kerjasama yang dibuat oleh Pemerintah Daerah Provinsi dengan pihak
ketiga yang membebani masyarrakat.



Pasal 11
Gubernur dan Wakil Gubernur Utama berhak;
- Menyampaikan usul dan/atau pendapat kepada Pemerintah dalam
rangka penyelenggaraan Kewenangan Istimewa;
- Mendapatkan inIormasi mengenai kebijakan dan/atau inIormasi yang
diperlukan untuk perumusan kebijakan menyangkut keistimewaan
Daerah Istimewa Yogyakarta;
- Mengusulkan perubahan dan/atau penggantian Perdais;
- Memiliki Hak protokoler; dan
- Kedudukan keuangan yang diatur dengan peraturan daerah.

Pasal 12
1. Apabila Sri Sultan Hamengku uwono sebagai Gubernur Utama
berhalangan tetap, pengisian Gubernur Utama dilakukan Sri Sultan
Hamengku uwono yang baru naik tahta.
2. Apabila Sri Paku Alam sebagai Wakil Gubernur Utama berhalangan tetap,
pengisian Wakil Gubernur Utama dilakukan setelah Sri Paku Alam yang
baru naik tahta.

Pasal 1
1. Pemerintah Daerah Provinsi dipimpin oleh Gubernur.
2. Dalam hal Sri Sultan Hamengku uwono dan Sri Paku Alam sebagai
Gubernur dan Wakil Gubernur, Pemerintah Daerah dipimpin oleh
Gubernur dibantu Wakil Gubernur

Pasal 1
Dalam hal Gubernur Utama tidak menjabat sebagai Gubernur, Gubernur wajib:
- Mengikuti arah umum kebijakan yang ditetapkan oleh Gubernur
Utama dan Wakil Gubernur Utama;
- Melakukan konsultasi dengan Gubernur Utama dan Wakil Gubernur
Utama untuk urusan-urusan pemerintahan yang diatur dalam undang-
undang tentang Pemerintahan Daerah;
- Melakukan konsultasi kepada Gubernur Utama dan Wakil Gubernur
Utama dalam penyusunan anggaran;
- Memberikan laporan penyelenggaraan kewenangan istimewa kepada
Gubernur Utama dan Wakil Gubernur Utama setiap tahun; dan
- Memberikan tembusan laporan penyelenggaraan pemerintah daerah
dan laporan keuangan pemerintah daerah sesuai perundang-undangan
kepada Gubernur Utama dan Wakil Gubernur Utama.

Pasal 16
Dalam melaksanakan keistimewaan, DPRD Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta wajib:
- Mengikuti arah umum kebijakan yang ditetapkan oleh Gubernur
Utama dan Wakil Gubernur Utama;
- Melakukan konsultasi dengan Gubernur Utama dan Wakil Gubernur
Utama untuk urusan-urusan istimewa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (2)
- Melakukan konsultasi kepada Gubernur Utama dan Wakil Gubernur
Utama dalam penyusunan anggaran

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan, antara lain sebagai
berikut :
1. Sebagai suatu daerah yang menyandang statuss istimewa, Yogyakarta
memiliki landasan dalam keistimewaan tersebut, yaitu landasan historis,
landasan yuridis, landasan sosial budaya, dan landasan politik.
2. Kedudukan kesitimewaan Yogyakarta dianggap tidak bertentangan
dengan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (6)
UUD 1945 dan UU No.32 Tahin 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
3. Dalam pengaturan lebih lanjut melalui pengaturan tersendiri sepertinya
belum terlaksana karena dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta masih
terdapat beberapa pasal yang dimasalahkan antara lain Pasal 1 Nomor 8, 1
Nomor 10, Pasal 10, 11, 12, 13, 14, dan Pasal 16.

B. Saran
Agar tercipta suatu kondisi yang kondusiI antara pemerintah dengan
masyarakat sebaiknya segera diselesaikan pembuatan UU Keistimewaan
Yogyakarta dan tanpa ada perbincangan yang dapat menimbulkan
ketidaknyamanan masyarakat Yogyakarta seperti beberapa waktu yang lalu.
Keistimewaan Yogyakarta sepatutnya tidak dipermasalahkan pemerintah
karena dalam pelaksanaan pemerintahan Yogyakarta tidak keluar dari nilai-
nilai dan norma-norma bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

- id.wikipedia.org/wiki/Monarki
- id.wikipedia.org/wiki/DemokrasiPancasila
- ttp.//news.oke:one.com/play/4848/draft-ruu-keistimewaan-
yogyakarta

- Jurnal Hukum . Naska Akademik Rancangan Undang-Undang
Tentang Keistimewaan Provinsi Daera Istimewa Yogyakarta
- Jurnal Hukum : Titik Triwulan Tutik . $istem Penetapan Gubernur
Kepala Daera Istimewa Yogyakarta Dalam $istem Pemilian Kepala
daera Berdasarkan Pasal 18 ayat (4) UUD 1945
- Undang-Undang Dasar 1945
- Undang-Undang Nomor 32 Taun 2004 Tentang Pemerintaan
Daera