Anda di halaman 1dari 29

1

LEMBAR PENGESAHAN




Artikel yang berjudul 'Penyakit Lupus ini dibuat oleh Ika Permata Sari yang
bertujuan untuk menyelesaikan tugas semester akhir, selain itu artikel ini
memberikan inIormasi tersirat bagi siswa-siswi yang ingin mempelajarinya.
Artikel ini dibuat atas persetujuan Bapak Pdt. Timotius Bakti Sarono M.Pd










Mengetahui, Jakarta, .........................
Kepala Sekolah
SMP Negeri 10 Jakarta Pembimbing





Drs.Sagi Silalahi, M.Pd Pdt. Timotius Bakti Sarono, M.Pd.



2
ATA PENGANTAR
Segala puja dan puji syukur kepda Tuahan Yang Maha Esa karena berkat
anugrah, rahmat dan hidayah-nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan artikel ini meskipun sangat jauh dari kesempurnaan.
Semoga makalah ini diperlukan karena di dalamnya terdapat inIormasi
mengenai penyakit ini, cara pencegahan dan pengobatnya. Oleh karena itu,
adanya makalah ini untuk menanggulangi bertambahnya masyarakat yang
terjangkit penyakit lupus ini.
Sewajarnya manusia adalah makhluk sosial, maka dari itu, manusia tidak
akan pernah lepas dari bantuan orang lain begitu pula halnya dengan penulis. Oleh
sebab itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantunya yaitu :
1. Bapak Drs. Sagi Silalahi M.Pd. selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Jakarta
yang selalu memberi pengarahan dan motivasi kepada siswa-siswanya untuk
lebih optimis dalam mencapai pendidikan yang lebih tinggi.
2. Bapak Pdt.Timotius Bakti Sarono M.Pd. guru TIK yang juga tiada bosan-
bosannya memberikan dorongan dan semangat yang besar kepada siswa-
siswanya.
3. Bapak dan Ibu Guru semua yang kucintai, Penulis mengucapkan terima kasih
atas bimbingan dan ilmu yang telah diberikan kepada penulis dengan rasa
kasih sayang.
Penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan artikel
ini. Namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca demi
kesempurnaan artikel Penulis.







3
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. 1
KATA PENGANTAR ......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ....................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 4
A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 4
B. Rumusan Masalah ...................................................................... 6
C. Tujuan dan ManIaat ................................................................... 7
D. Metode Penelitian ...................................................................... 8
E. Sistematika Penulisan ................................................................ 9
BAB II KAJIAN TEORI ............................................................................... 10
A. Pengertian Penyakit Lupus ......................................................... 10
B. Gejala-gejala atau Diagnosa Penyakit Lupus ............................. 12
C. Macam-macam Penyakit Lupus.................................................. 20
D. Penyebab Penyakit Lupus ........................................................... 22
E. Pengobatan Penyakit Lupus ........................................................ 24
BAB III MENGENAI PENYAKIT LUPUS, PENYAJIAN DATA, ANALISIS
DAN PEMECAHAN MASALAH ...................................................
A. Mengenai Penaykit Lupus ..........................................................
B. Penyajian Data ...........................................................................
C. Analisis dan Pemecahan Masalah.......... ......
BAB IV PENUTUP ........................................................................................
A. Kesimpulan ................................................................................
B. Saran ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................



4
BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Lupus Eritematosus sistemik atau Systemic Lupus Erythematosus
(SLE) adalah penyakit radang multi sistem yang sebabnya belum diketahui,
dengan perjalanan penyakit yang mungkin akut dan Iulminan atau kronik
remisi dan ekuaserbasi, disertai oleh terdapatnya berbagai macam auto
antibodi dalam tubuh. (http://www.medicastore.com : 2004)
SLE merupakan prototipe penyakit autoimun multisistem. Berbeda
dengan penyakit autoimun organ spesiIik (misalnya diabetes mellitus tipe 1,
miastenia gravis, penyakit graver, dsb) dimana suatu respon autoimun tunggal
mempunyai sasaran terhadap suatu jaringan tertentu dan menimbulkan gejala
klinis yang karakteristik, SLE ditandai oleh munculnya sekumpulan reaksi
imun abnormal yang menghasilkan beragam maniIestasi klinis.
Dalam keadaan normal, sistem kekebalan berIungsi mengendalikan
pertahanan dalam melawan inIeksi. Pada penyakit lupus dan penyakit auto
imun lainnya, sistem pertahanan tubuh ini berbalik melawan tubuh, dimana
antibodi yang dihasilkan menyerang sel tubuhnya sendiri.
Lupus bisa berdampak pada semua organ tubuh dari kulit, paru-paru,
jantung, ginjal, saraI, otak maupun sendi dan menimbulkan kematian. Lupus
bisa mengenal siapa saja dari berbagai usia dan kalangan. Bahkan lupus sama
bahayanya dengan kanker, jantung maupun AIDS.
Penyakit lupus memang belum sepopuler penyakit jantung, kanker,
dan lainnya. Padahal penderita lupus di Indonesia ini cukup banyak dan
semakin meningkat. Hingga kini, lupus memang belum diketahui secara pasti
penyebabnya.
Selain itu, lupus sering disebut sebagai penyakit 1000 wajah karena
penyakit ini menyerupai penyakit lain. Sayangnya, bagi masyarakat penyakit
lupus ini masih sangat awam.
5
Untuk itu penulis tertarik mengambil judul 'Bahaya Penyakit Lupus
Terhadap Kesehatan Tubuh Manusia agar dapat mengungkap tentang
seberapa aneh dan bahayanya penyakit lupus ini bagi seseorang yang
menderitanya. Di samping itu, dalam penulisan paper ini penulis berharap agar
masyarakat menjadi lebih mengenal tentang penyakit lupus. Sehingga
masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan mereka.


























6
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan
masalahnya sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan penyakit lupus ?
2. Apa saja diagnosa dan gejala-gejala dari penyakit lupus ?
3. Apa saja macam-macam penyakit lupus ?
4. Apa yang menyebabkan timbulnya penyakit lupus ?
5. Bagaimana penyembuhan dan pencegahan penyakit lupus ?
























7
. Tujuan dan Manfaat
Dalam rumusan masalah di atas terdapat beberapa tujuan dan manIaat
diantaranya :
1. Memberikan inIormasi kepada masyarakat tentang bahaya yang
ditimbulkan lupus.
2. Memberi inspirasi pada masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menjaga
kesehatan sejak dini.
3. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat terutama bagi
penulis sendiri tentang penyakit lupus.























8
D. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah dengan
menggunakan metode studi teks (studi kepustakaan) dimana dalam penulisan
paper ini, penulis melakukan kegiatan penelusuran dan penelaahan literatur
dari hasil data-data yang diperoleh dari buku-buku, internet, koran, maupun
majalah sehingga metode ini sangat menuntut ketekunan dan kecermatan
pemahaman penulis.

























9
E. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan paper yang berjudul Bahaya Penyakit Lupus bagi
Kesehatan Tubuh Manusia, penulis menyusun sistematika pembahasannya
sebagai berikut :
Bab Satu merupakan pendahuluan yang terdiri dari latar belakang
masalah dan identiIikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan manIaat
penulisan, metode penelitian dan sistematika penulisan.
Bab dua merupakan kajian teori yang membahas tentang pengertian
penyakit lupus, gejala-gejala dan diagnosa dari penyakit lupus, macam-macam
penyakit lupus, penyebab timbulnya penyakit lupus serta pencegahan
timbulnya penyakit lupus.
Bab tiga merupakan penyajian data, analisis serta pemecahan masalah
dari suatu rumusan masalah yang telah dibahas.
Bab empat merupakan penutup yang berisi tentang kesimpulan yang
memuat tentang pokok-pokok hasil pembahasan mulai bab dua sampai tiga
dan berisi saran-saran, baik dari penulis itu sendiri maupun kepada pembaca.

10
BAB II
A1IAN TEORI


A. Pengertian Penyakit Lupus
Penyakit Lupus adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan
kanker. Tidak sedikit pengidap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia
terdeteksi cheap prescription drugs without prescription penyandang penyakit
lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi tiap
tahunnya.
Lupus dalam bahasa latin berarti 'Anjing Hutan. Istilah ini mulai
dikenal sekitar satu abad lalu. Gejala penyakit ini dikenal sebagai Lupus
Eritomatosus Sistemik (LES) alias Lupus Eritomatosus, artinya kemerahan.
Sedangkan sistemik bermakna menyebar luas ke berbagai organ tubuh.
Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir
seluruh organ yang ada di dalam tubuh.
(http://www.nusaindah.tripod.2004.com)
Lupus atau istilah kesehatannya disebut systemic lupus erythematosus
adalah sejenis penyakit auto-imun. Tak seperti penderita penyakit HIV/AIDS
yang kehilangan sistem kekebalan tubuh akibat virus HIV. Sistem kekebalan
tubuh atau antibodi penderita justru hiperaktiI dan balik menyerang organ
tubuh yang sehat. (Suara Karya, 21 Mei 2006)
Lupus juga dikenal dengan penyakit seribu wajah, karena gejalanya
bermacam-macam, dari satu penderita ke penderita lainnya tidak sama
sehingga sulit dikenali. Akibatnya, seringkali terlambat mendiagnosanya.
Penyakit yang dijuluki "peniru ulung" ini biasa menyerang wanita
produktiI dan penderitanya disebut odapus. Meski kulit wajah penderita Lupus
dan sebagian tubuh lainnya muncul ruam-ruam merah dan bercak-bercak
merah, penyakit itu tidak menular.
Sistem imunitas yang normal biasanya akan menghasilkan protein yang
disebut antibodi yang berguna menjaga tubuh terhadap serangan virus, bakteri,
dan benda asing lainnya. Benda tersebut disebut antigen. Dalam suatu
11
ketidaknormalan Iungsi auto imun seperti lupus, sistem tubuh ini kehilangan
kemampuan untuk membedakan benda asing (antigen) dan jaringan tubuh itu
sendiri.
Sistem imunitas ini kemudian membuat antibodi yang akan menyerang
terhadap jaringan tubuh itu sendiri. Antibodi ini disebut auto antibodi, yang
akan bereaksi dengan antigen dan akan membentuk sistem imun kompleks.
Sistem imun kompleks terjadi di dalam jaringan tubuh akan mengakibatkan
inIlamasi, luka atau inIeksi jaringan dan sel serta sakit.
Penyakit lupus tidak bisa dikatakan sebagai penyakit keturunan. Hingga
kini, tingkat jumlah nilai penderita lupus akibat Iaktor genetik hanya mencapai
10.





















12
B. Gejala-gejala atau Diagnosa Penyakit Lupus
Gejala-gejala penyakit dikenal sebagai Lupus Eritomatosus Sistemik
(LES) alias Lupus. Eritomatosus artinya kemerahan. sedangkan sistemik
bermakna menyebar luas keberbagai organ tubuh. Istilahnya disebut LES atau
Lupus. Gejala-gejala yang umum dijumpai adalah:
O Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan
pencernaan.
O Gejala umumnya penderita sering merasa lemah, kelelahan yang
berlebihan, demam dan pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada
masa aktiI, sedangkan pada masa remisi (nonaktiI) menghilang.
O Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi,
mirip kupu-kupu. Kadang disebut (butterIly rash). Namun ruam merah
menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan
kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka
wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai
mengidap Lupus.
O Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh
penyakit LUPUS ini
O Rambut yang sering rontok dan rasa lelah yang berlebihan
Dr. Rahmat Gunadi dari Fak. Kedokteran Unpad/RSHS menjelaskan,
penyakit lupus adalah penyakit sistem imunitas di mana jaringan dalam tubuh
dianggap benda asing. Reaksi sistem imunitas bisa mengenai berbagai sistem
organ tubuh seperti jaringan kulit, otot, tulang, ginjal, sistem saraI, sistem
kardiovaskuler, paru-paru, lapisan pada paru-paru, hati, sistem pencernaan,
mata, otak, maupun pembuluh darah dan sel-sel darah.
Penyakit ini dapat mengenai semua lapisan masyarakat, 1-5 orang di
antara 100.000 penduduk, bersiIat genetik, dapat diturunkan. Wanita lebih
sering 6-10 kali daripada pria, terutama pada usia 15-40 tahun. Bangsa AIrika
dan Asia lebih rentan dibandingkan kulit putih. Dan tentu saja, keluarga
Odapus. Timbulnya penyakit ini karena adanya Iaktor kepekaan dan Iaktor
pencetus yaitu adanya inIeksi, pemakaian obat-obatan, terkena paparan sinar
matahari, pemakaian pil KB, dan stres, ujarnya. Penyakit ini justru
kebanyakaan diderita wanita usia produktiI sampai usia 50 tahun sekalipun
ada juga pria yang mengalaminya. Oleh karena itu dianggap diduga penyakit
ini berhubungan dengan hormon estrogen.
Pada kehamilan dari perempuan yang menderita lupus, sering diduga
berkaitan dengan kehamilan yang menyebabkan abortus, gangguan
perkembangan janin atau pun bayi meninggal saat lahir. Tetapi hal yang
berkebalikan juga mungkin atau bahkan memperburuk geja LUPUS. Sering
dijumpai gejala Lupus muncul sewaktu hamil atau setelah melahirkan.
Tubuh memiliki kekebalan untuk menyerang penyakit dan menjaga
tetap sehat. Namun, dalam penyakit ini kekebalan tubuh justru menyerang
organ tubuh yang sehat. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem
imunologi yang berlebih. Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang
berIungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh.
Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul
berlebihan. Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh
13
yang sehat. Kelainan ini disebut autoimunitas . Antibodi yang berlebihan ini,
bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara yaitu :
O Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh,
seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan selnya akan hancur.
Inilah yang mengakibatkan penderitanya kekurangan sel darah merah atau
anemia.
O Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang
pembentukan antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks
imun.Gabungan antibodi dan antigen mengalir bersama darah, sampai
tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan.
Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang
(Iagosit) Tetapi, dalam keadaan abnormal, kompleks ini tidak dapat
dibatasi dengan baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil
mengeluarkan enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks.
Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak
organ tubuh dan mengganggu Iungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat
sebagai gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang
Iungsi organ tubuh akan terganggu.
Kesembuhan total dari penyakit ini, tampaknya sulit. Dokter lebih
berIokus pada pengobatan yang siIatnya sementara.Lebih diIokuskan untuk
mencegah meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh.


























14
O Cejala-gejala penyakit lupus
1.1.Cejala Klinis
Gejala klinis dan perjalanan penyakit SLE sangat bervariasi.
Penyakit dapat timbul mendadak disertai tanda-tanda terkenanya
berbagai sistem dalam tubuh. Dapat juga menahun dengan gejala pada
satu sistem yang lambat laun diikuti oleh gejala terkenanya sistem
imun. Pada tipe menahun terdapat remisi dan eksaserbasi. Remisinya
mungkin berlangsung bertahun-tahun.
Onset penyakit dapat spontan atau didahului oleh Iaktor
presipitasi seperti kontak dengan sinar matahari, inIeksi virus/bakteri.
Obat misalnya golongan sulIa, penghentian kehamilan dan trauma
Iisik/psikis. Setiap serangan biasanya disertai gejala umum yang jelas
seperti demam, malaise, kelemahan, naIsu makan berkurang, berat
badan menurun, dan iritabilitas. Yang paling menonjol adalah demam
yang kadang-kadang disertai menggigil.


















15
1.2.Cejala Muskuloskeletal
Gejala yang sering pada SLE adalah gejala muskuloskeletal,
berupa artritis atau artralgia (93) dan seringkali mendahului gejala-
gejala lainnya. Yang paling sering terkena ialah sendi interIalangeal
proksimal diikuti oleh lutut, pergelangan tangan, metakorpoIalangeal,
siku dan pergelangan kaki. Selain pembengkakan dan nyeri mungkin
juga terdapat eIusi sendi yang biasanya termasuk kelas I (non-
inIlamasi); kadang-kadang termasuk kelas II (inIlamasi). Kaku pagi
hari jarang ditemukan. Mungkin hanya nyeri otot dan miositis.
Artritis biasanya simetris, tanpa menyebabkan deIormitas,
kontraktur dan antitosis. Ada kalanya terdapat nodul reumatoid.
Nekrosis avaskular dapat terjadi pada berbagai tempat, terutama
ditemukan pada pasien yang mendapat pengobatan dengan steroid
dosis tinggi. Tempat yang paling sering terkena ialah kaput Iemoris.


















16
1.3.Cejala Mukokutan
Pada gejala ditemukan adanya kelainan kulit, rambut atau
selaput lendir ditemukan pada 85 kasus SLE. Lesi kulit yang paling
sering ditemukan pada SLE ialah lesi kulit akut, subakut, diskoid dan
livido retikularis.
Ruam kulit yang dianggap khas dan banyak menolong dalam
mengarahkan diagnosis SLE ialah ruam kulit berbentuk kupu-kupu
(butterIly-rash) berupa eritema yang agak edamatus pada hidung dan
kedua pipi. Dengan pengobatan yang tepat, kelainan ini dapat sembuh
tanpa bekas. Pada bagian tubuh yang terkena sinar matahari dapat
timbul ruam kulit yang terjadi karena hipersensitivitas (photo
hypersensitivity). Lesi ini termasuk lesi kulit akut.
Lesi kulit sub akut yang khas berbentuk anular. Lesi diskoid
berkembang melalui 3 tahap yaitu eritema, hiperkeratosis dan atroIi.
Biasanya tampak sebagai becak eritematosa yang meninggi, tertutup
oleh sisik keratin disertai adanya penyubatan Iolikel. Kalau sudah
berlangsung lama akan terbentuk sikatriks.
(http://www.medicastore.com.2004)
Ada belasan gejala yang bisa dialami penderita lupus. Ini
tergantung organ tubuh yang terkena, antara lain nyeri sendi, tulang
dan otot, demam berkepanjangan, cepat lelah, lesu, dan lemas,
penurunan berat badan, serta sakit kepala.
Gejala lain sering sariawan, ruam pada kulit yang memburuk
saat terkena sinar matahari, jika di wajah berbentuk kupu-kupu,
anemia, kebocoran ginjal, sakit dada jika menghirup naIas dalam,
rambut rontok, ujung jari berwarna biru pada udara dingin (fenomena
Ray Nauats), kejang, stroke, dan keguguran.
Lupus diduga terkait dengan hormon estrogen, mengingat gejala
lupus meningkat menjelang masa haid. (Kompas, 11 Mei 2007)



17
1. iagnosa Penyakit Lupus
Pada tahun 1982, para dokter di 'The American Rheumatism
Association (ARA) menemukan terdapat 11 gejala serta tanda yang akan
membedakan lupus dari penyakit lainnya. Untuk seorang dokter dapat
mendeteksi lupus, seorang pasien harus memiliki paling tidak 4 atau lebih
gejala-gejala di bawah ini selama suatu waktu dari masa penyakitnya itu
berjangkit, diantaranya :
2.1. Ruam (rash) di daerah malar
Ruam berupa eritema terbatas, rata atau meninggi, letaknya di daerah
malar, biasanya tidak mengenai lipat nasolabialis.
2.2. Lesi diskoid
Lesi ini berupa bercak eritematora yang meninggi dengan sisik
keratin yang melekat disertai penyumbatan Iolikel. Pada lesi yang
lama mungkin terbentuk sikatriks.
2.3. Fotosensitivitas
Terjadi lesi kulit sebagai akibat reaksi abnormal terhadap cahaya
matahari. Hal ini diketahui melalui anamnesis atau melalui
pengamatan dokter.
2.4. Ulserasi mulut
Ulserasi di mulut atau nasoIaring, biasanya tidak nyeri, diketahui
melalui pemeriksaan dokter.
2.5. Artritis
Artritis non-erosiI yang mengenai 2 sendi periIer ditandai oleh nyeri,
bengkak atau eIusi.
2.6. Serositis
a. Pleuritis : adanya riwayat nyeri pleural atau terdengarnya bunyi
gesekan pleura oleh dokter atau adanya eIusi pleura.
b. Perikarditis : diperoleh dari gambaran EKG atau terdengarnya
bunyi gesekan perikard atau adanya eIusi perikard.



18
2.7. Kelainan ginjal
a. Proteinuria yang selalu ~ 0,5 g/hari atau ~ 3
b. Ditemukan silinder sel, mungkin eritrosit, hemoglobulin granular,
tubular atau campuran
2.8. Kelainan neurologis
a. Kejang yang timbul spontan tanpa adanya obat-obat yang dapat
menyebabkan atau kelainan metabolik seperti uremia,
ketosidosis, dan gangguan keseimbangan elektrolit.
b. Psikosis yang timbul spontan tanpa adanya obat-obat yang dapat
menyebabkannya atau kelainan metabolik seperti uremia,
ketosidosis dan gangguan keseimbangan elektrolit.
2.9. Kelainan hematologik
a. Anemia hemolitik dengan retikulositosis
b. Leukopenia, kurang dari 400/mm
3
pada 2 kali pemeriksaan atau
lebih.
c. LimIopenia, kurang dari 1500/mm
3
pada 2 kali pemeriksaan atau
lebih.
d. Trombositopenia, kurang dari 100.000/mm
3
, tanpa adanya obat
yang mungkin menyebabkannya.
2.10.Kelainan imunologi
a. Adanya sel LE.
b. Anti DNA : antibodi terhadap native DNA (anti-ds DNA) dengan
titer abnormal.
c. Anti-Sm : adanya antibodi terhadap antigen inti otot polos.
d. Uji serologi untuk siIilis yang positiI semu selama paling sedikit
6 bulan dan diperkuat oleh uji imobilisasi treponemapallidum
atau uji Iluoresensi absorpsi antibodi treponema.
2.11.Antibodi antinuklean
Titer abnormal antibodi anti nuklean yang diukur dengan cara
imunoIluoresensi atau cara lain yang setara pada waktu yang sama
dan dengan tidak adanya obat-obat yang berkaitan dengan sindrom
lupus karena obat. (http://www.medicastore.com.2004)
19

Diagnosis luput tidak mudah dan tidak ada tes tunggal. Jika penderita
mengeluhkan sejumlah gejala yang mengarah ke lupus, dokter akan minta
pemeriksaan laboratorium terhadap kadar hemoglobin, leukosit dan trombosit
juga antibodi seperti antinuclear antibodi (ANA), anti double stranded DNA
(anti-ds DNA), protein C
3
dan C
4
, serta pemeriksaan urine.
(Kompas, 11 Mei 2007)

























20
. Macam-macam Penyakit Lupus
Menurut jenisnya, lupus dibagi menjadi 3 macam yaitu :
3.1. Lupus Eritematosus Sistemik
Lupus eritematosus sistemik (upus eritematosus disseminata)
adalah penyakit auto imun menahun yang menimbulkan peradangan dan
bisa menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, persendian, dan
organ dalam.
SLE biasanya lebih parah dibandingkan dengan diskoid. Tipe lupus
ini dapat menyebabkan inIlamasi pada beberapa macam organ. Organ
yang terkena tidak terbatas pada gangguan kulit dan sendi, tetapi juga
pada organ yang lain seperti sendi, paru-paru, ginjal, darah ataupun
organ atau jaringan lain yang terkena. SLE pada sebagian orang dapat
memasuki masa dimana gejalanya tidak aktiI (remisi) dan pada saat yang
lain penyakit ini dapat menjadi aktiI (Ilare).
3.2. Lupus Eritematosus iskoid
Lupus eritematosus diskoid adalah suatu penyakit kulit menahun
yang ditandai dengan peradangan dan pembentukan jaringan parut yang
terjadi pada wajah, telinga, kepala, dan kadang pada bagian tubuh
lainnya.
Lesi (kelainan) kulit ini tampak sebagai bercak kemerahan yang
bersisik dan berkeropeng, yang jika membaik akan meninggalkan
jaringan parut berwarna putih. Bagian tengahnya berwarna lebih terang
dan bagian pinggirnya berwarna lebih gelap dari kulit yang normal.
Jika lesi timbul di daerah yang berambut (misalnya dagu atau kulit
kepala), maka bisa terjadi pembentukan jaringan parut yang permanen
dan kerontokan rambut.

3.3. Lupus Obat
Lupus obat umumnya berkaitan dengan pemakaian obat
hydralazine (obat hipertensi) dan procarnamide (untuk mengobati detak
jantung yang tidak teratur). Hanya saja, Cuma 4 dari orang yang
21
mengkonsumsi obat-obat itu yang bakal membentuk antibodi penyebab
lupus. Dari 4 itu pun sedikit sekali yang kemudian menderita lupus.
(http://www.newsindosiar.com)





























22
D. Penyebab Penyakit Lupus
Penyebab timbulnya penyakit lupus masih belum diketahui dengan jelas.
Meskipun demikian, terdapat banyak bukti bahwa penyebabnya bersiIat
multiIaktor, dan ini mencakup pengaruh Iaktor genetik, lingkungan, dan
hormonal terhadap respon imun.
Faktor genetik memegang peran penting dalam kerentanan serta ekspresi
penyakit. Di samping itu, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa banyak
gen yang berperan, terutama gen yang mengkode unsur-unsur sistem imun.
Setelah diteliti penyebab lupus karena Iaktor keturunan dan lingkungan.
Penyakit ini justru diderita wanita usia produktiI sampai usia 50 tahun. Namun
begitu, ada juga pria yang mengalaminya. Ahli menduga penyakit ini
berhubungan dengan hormon estrogen.
Beberapa Iaktor lingkungan yang dapat memicu timbulnya lupus adalah :
1. InIeksi
2. Antibiotik (terutama golongan sulIa dan penisilin)
3. Sinar ultraviolet
4. Stress yang berlebihan
5. Obat-obatan tertentu
6. Hormon
7. Pemanis buatan
Meskipun lupus diketahui merupakan penyakit keturunan, tetapi gen
penyebabnya belum diketahui. Penemuan terakhir menyebutkan tentang gen
dari kromosom 1. Hanya 10 dari penderita yang memiliki kerabat (orangtua
maupun saudara kandung yang telah maupun akan menderita lupus, statistik
menunjukkan bahwa hanya sekitar 5 anak dari penderita lupus yang
menderita penyakit ini.
Lupus seringkali disebut sebagai penyakit wanita walaupun juga bisa
diderita oleh pria. Lupus bisa menyerang usia berapapun, baik pada pria
maupun wanita, meskipun seringkali lebih sering ditemukan pada wanita.
Faktor hormonal mungkin bisa menjelaskan mengapa lupus lebih sering
menyerang wanita. Meningkatnya gejala penyakit ini pada masa sebelum
menstruasi dan selama kehamilan mendukung keyakinan bahwa hormon
23
(terutama estrogen) memang berperan dalam timbulnya penyakit ini.
Meskipun demikian, penyebab yang pasti dari lebih tingginya angka kejadian
pada masa pra-menstruasi masih belum diketahui.
Kadang-kadang obat jantung tertentu (hidralazin, prokarnamid dan beta-
blocker) menyebabkan sindroma mirip lupus, yang akan menghilang bila
pemakaian obat dihentikan. (http://www.medicastore.com.2004)


























24
E. Pengobatan Penyakit Lupus
Sampai sekarang, SLE (Systemic Lupus Erythematosus) memang belum
dapat disembuhkan secara sempurna. Meskipun demikian, pengobatan yang
tepat dapat menekan gejala klinis dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Program pengobatan yang tepat bersiIat sangat individual tergantung
gambaran klinis dan perjalanan penyakitnya. Pada umumnya, penderita SLE
yang tidak mengancam nyawa dan tidak berhubungan dengan kerusakan organ
vital dapat diterapi secara konservatiI.
Bila penyakit ini mengancam nyawa dan mengenai organ-organ vital,
maka dipertimbangkan pemberian terapi agresiI. Terapi konservatiI maupun
agresiI sama-sama menggunakan terapi obat yang digunakan secara tunggal
ataupun kombinasi. Terapi konservatiI biasanya menggunakan anti-inIlamasi
non-steroid (indometasin, asetaminoIen, ibuproIen), salisilat, kortikosteroid
(prednison, prednisolon) dosis rendah, dan antimalaria (klorokuin). Terapi
agresiI menggunakan kortikosteroid dosis tinggi dan imunosupresiI
(azatioprin, sikloIoshamid).
Selain itu, penderita SLE perlu diingatkan untuk selalu menggunakan
krem pelindung sinar matahari, baju lengan panjang, topi atau payung bila
akan bekerja di bawah sinar matahari karena penderita sangat sensitiI terhadap
sinar matahari. InIeksi juga lebih mudah terjadi pada penderita SLE, sehingga
penderita dianjurkan mendapat terapi pencegahan dengan antibiotika bila akan
menjalani operasi gigi, saluran kencing, atau tindakan bedan lainnya. Salah
satu bagian dari pengobatan SLE yang tidak boleh terlupakan adalah
memberikan penjelasan kepada penderita mengenai penyakit yang dideritanya,
sehingga penderita dapat bersikap positiI terhadap terapi yang akan
dijalaninya. Saat ini di beberapa negara telah tersedia penjelasan mengenai
penyakit SLE dalam bentuk brosur, bahkan telah berdiri perkumpulan
penderita SLE.
Sebelum tahun 1950, SLE merupakan penyakit yang Iatal. Namun saat
ini dengan pemakaian kortikosteroid yang tepat serta adanya kombinasi
dengan obat lain dapat memberikan hasil yang baik. Kematian paling sering
disebabkan komplikasi gagal ginjal, kerusakan jaringan otak, dan inIeksi
sekunder.











25
BAB III
PENYA1IAN DATA, ANALISIS DAN PEMEAHAN MASALAH


A. Penyajian Data
Di Indonesia mulai banyak ditemukan orang yang menderita penyakit
lupus. Misalnya di kota Bandung, jumlah penderita penyakit lupus berkisar
650 700 orang. Data sementara dari RS Hasan Sadikin, pada tahun 1999-
2004 jumlah penderita lupus sebanyak 286 orang.
(http://www.Republika.co.id)
Sementara itu di kota lain di Indonesia yaitu di Surabaya, dalam tiga
tahun terakhir mulai tahun 2003 hingga 2006, jumlah penderita lupus yang
berobat di RSUD Dr. Soetomo mencapai 215 pasien. Dan tiap bulannya
terdapat 10 hingga 15 pasien baru.
Di Jakarta, beberapa rumah sakit melakukan pa tentang lupus, misalnya
RS Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran UI. Pada tahun 1969
1970 ditemukan 5 kasus SLE. Tahun 1972-1976 ditemukan 1 kasus SLE dan
setiap 666 insidensi (kasus yang dirawat) sebesar 15/10.000 perawatan. Pada
tahun 1988-1990 insidensi I 37,7/10.000 perawatan.
(http://www.nusaindah.tripod.2004.com)
Data lain, menurut ProI. Dr. Zubairi Djoerban Sp.Pd. yang diperkirakan
menderita lupus di Indonesia 1,5 juta jiwa. Dan saat ini penderita lupus di
seluruh dunia berjumlah sekitar 5 juta dengan 100.000 kasus baru setiap
tahun. (Kompas, 11 Mei 2007)








26
B. Analisis dan Pemecahan Masalah
Dari data di atas menunjukkan bahwa penderita lupus di Indonesia setiap
tahunnya meningkat. Meningkatnya penderita lupus disebabkan oleh beberapa
hal antara lain :
1. Penelitian tentang lupus sangat jarang dilakukan terutama tentang
penyebab penyakit lupus dan obat untuk menyembuhkannya.
2. Masih kurangnya dokter ahli untuk menangani penyakit lupus.
Maka dari itu pemerintah memberikan lebih banyak dana bagi riset
medis dan jasa pelayanan kesehatan untuk membantu odapus dan keluarga
yang terkena dampak lupus, baik dalam bentuk pengobatan maupun
pencegahan.
Bentuk pengobatan tersebut adalah dengan mengkonsumsi obat anti
radang non steroid, krtikosteroid, NSAID dan solisilat obat anti malaria, obat
imunosupresiI, azatioprin (obat pendamping kortikosteroid) dan obat penekan
kekebalan tubuh.
Sedangkan untuk pencegahannya, odapus harus melakukan monitoring
yang teratur, penghematan energi, Ioto proteksi, mengatasi inIeksi, dan
merencanakan kehamilan.
Pemerintah sendiri juga menghimbau bagi odapus untuk menerapkan
pola hidup sehat seperti olahraga, makan dan istirahat teratur, mengelola stres,
serta menghindari rokok dan sinar matahari, sehingga dengan tips seperti itu,
para odapus bisa hidup normal dan produktiI.
(http://www.medicastore.com.2004)



27
BAB IV
PENUTUP


A. esimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Seseorang dapat dikatakan menderita penyakit lupus erythematolosus saat
tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri.
2. Tanda dan gejala penyakit lupus bervariasi, tidak khas, dapat timbul
mendadak atau perlahan, spontan maupun dengan Iaktor pencetus.
3. Bentuk penyakit lupus ada tiga macam yaitu cutaneus lupus atau diskoid
yang mempengaruhi kulit, Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) yang
menyerang organ tubuh, Drug Induced Lupus (DIL) yang timbul karena
menggunakan obat-obat tertentu.
4. Faktor penyebab timbulnya lupus adalah adanya Iaktor kepekaan dan
Iaktor pencetus.
5. Untuk mencegah timbulnya penyakit lupus diperlukan monitoring yang
teratur, Ioto proteksi dan lain sebagainya.
6. Pengobatan penyakit lupus dengan menggunakan obat anti radang, non
steroid, kortikosteroid, dan obat penekan kekebalan tubuh.












28
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas tentang judul 'Bahaya Lupus
Terhadap Kesehatan Tubuh Manusia penulis dapat memberi saran kepada :
1. Penderita agar melakukan berbagai upaya untuk mengobati penyakit lupus
meskipun membutuhkan waktu yang lama untuk kesembuhan penyakit
tersebut.
2. Pembaca agar lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatannya serta
menghindari Iaktor penyebab timbulnya penyakit lupus dengan cara
monitoring teratur, Ioto proteksi, dan lain sebagainya.
Akhir kata, semoga saran yang penulis sampaikan dapat bermanIaat
bagi pembaca maupun penderita. Amin.

29
DAFTAR PUSTAA


Yuliasih, 'Lupus si Penyakit Seribu Wajah (www.medicastore.com/13/9/2007)
, 'Lupus Antibody yang Menyerang 1ubuh Sendiri
(www.nusaindah.tripod.com/13/9/2007)
Wahyuni, Tri, 'Waspadai Bila Ayeri Sendi dan 1erjadi Kelainan Kulit. Suara
Karya, 21 Mei 2006, hlm. 2.
, 'Lupus Eritematosus Sistemik (www.medicastore.com/13/9/2007)
Djoerban, Zubairi, 'Lupus Penyakit dengan Seribu Wajah, Kompas, 11 Mei
2007, hlm. 48.
, 'Odapus, (www.newsindosiar.com/13/9/2007)
Rachmat Gunadi, '1umlah Pasien Lupus Aaik
(www.Republika.com/13/9/2007)
http://doktersehat.com/2007/09/24/lupus-apa-itu-penyakit-
lupus/#ixzz1H3dwMwVa

http://doktersehat.com/2007/09/24/lupus-apa-itu-penyakit-
lupus/#ixzz1H3Iyj2TR