Anda di halaman 1dari 58

MODIFIKASI TATA LETAK FASILITAS PRODUKSI JAMUR MERANG PADA INDUSTRI LATANSA AGRIBISNIS KABUPATEN ACEH BESAR

SKRIPSI

Diajukan Untuk Menempuh Ujian Akhir Sarjana Program Strata Satu Jurusan Teknik Industri

OLEH KHAIROL MIZAN. US 0714010005

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI - FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH BANDA ACEH, 2011

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Saya Datang, Saya Bimbingan, Saya Ujian, Saya Revisi dan Saya Menang
Niscaya Allah SWT meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah SWT mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujaadilah, ayat 11) Syukur Alhamdulillah Walaupun tersandung dan terjatuh, akhirnya sebuah perjalanan telah ku tempuh jua Ya Rabbi sujudku pada-Mu, sepercik ilmu telah kudapat Semoga hari-hari yang cerah, membentang di depanku Bersama Rahmad dan Ridha-Mu yaa Allah Ayah. . . Bunda. . . Dari cucuran keringatmu, ku raih apa yang dulu ku dambakan Dengan belaian kasih sayangmu, ku rasakan indahnya kehidupan Hanya dalam nasehat mu aku selalu merasa tenang Tempat ku berbagi perasaan suka maupun duka Ayah Selama hidup ku belum pernah ku temui laki-laki setegar dan sekuat dirimu, Dalam menerima cobaan dari Allah SWT, baik suka maupun duka Semoga dalam darah ku ini juga mengalir sifat tegar dan kekuatan mu, Agar ku dapat menjalankan kehidupan ini Bunda Kasih sayang mu telah menghantar ku kegerbang kesuksesan, Aku sadar ini semua tak mungkin aku dapatkan tanpa restu mu Dalam dekap mu ku lihat dunia dan dalam pengawasan mu aku jadi sukses, Dalam cinta ku ada doa tulus mu Ayah Bunda Bila ini mewakili satu persembahan, maka atas rasa cinta dan terima kasih, Ananda persembahkan karya kecil ini kepada yang mulia Ayahanda Usman Amin dan Ibunda tersayang Nilawati Ibrahim, kakanda Setia Murni yang baru saja mendapat gelar S.Pd nya, serta yang ku sayangi dan ku cintai adinda Hera Masroni, yang selalu memotifasi dan meluangkan waktunya untuk bersama, selamat ya sayang atas gelar A.Md nya. Akhirnya ucapan terima kasih kepada sahabat-sahabat setia ku, Terima kasih atas segalanya dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kesilapan Sebuah langkah usai sudah, satu cita kuraih telah Namun Ini bukan akhir dari petualangan ku, Melainkan awal dari suatu perjuangan ku.

By. Khairol Mizan. Us

Banda Aceh, 01 Oktober 2011

Perihal : Plagiat Tugas Akhir

Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama NPM Judul Tugas Akhir : Khairol Mizan. Us : 0714010005 : Modifikasi Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Merang Pada Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar.

Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa, skripsi ini merupakan karya saya sendiri (ASLI), dan isi dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademis di suatu Institusi Pendidikan, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis dan/atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila saya terbukti melakukan kegiatan tersebut, maka saya bersedia untuk menerima sanksi yang diberikan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dan berlaku di Jurusan Teknik Industri Universitas Serambi Mekkah.

Yang memberikan pernyataan

Khairol Mizan. Us

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh ABSTRAK

Tata letak pabrik atau fasilitas produksi merupakan pengaturan untuk menetapkan letak fasilitas dengan mempertimbangkan jarak antar bangunan, biaya pemindahan bahan dan waktu proses produksi. Hasil dari penelitian yang penulis lakukan pada Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar menunjukkan kurang tepatnya penempatan fasilitas produksi dan aliran bahan sehingga menyebabkan jarak material handling menjadi panjang dan akhirnya menyebabkan upah yang diterima pekerja lebih sedikit, karena pekerja mendapatkan upah Rp 50.000,00 dalam sehari. Perbaikan tata letak fasilitas produksi dilakukan dengan program Microsoft Office Visio 2003 untuk membuat sketsa tata letak awal dan tata letak modifikasi. Hasil analisa dan modifikasi tata letak fasilitas produksi ialah tata letak baru dengan model Rectilinear Distance, yaitu jarak tempuh perpindahan bahan yang semula 10 meter dari bak perendaman dengan tempat fermentasi 1, telah terjadi pengurangan jarak sebesar 9 meter, serta dari tempat fermentasi 1 ke kumbung 1 sebelumnya 4,50 meter juga terjadi pengurangan jarak sebesar 3,10 meter. Untuk biaya pemindahan bahan per meter pada tata letak awal dengan jarak 19,55 meter adalah Rp 2.557,00, sedangkan setelah modifikasi jarak pemindahan bahannya 7,45 meter biaya pemindahan bahan per meternya mencapai Rp 6.711,00. Sedangkan waktu proses produksi dari tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi 1 juga terjadi penurunan selama 20 menit dari pada waktu proses produksi sebelumnya 40 menit untuk menyelesaikan fermentasinya. Dengan demikian, tata letak model Rectilinear Distance diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi perusahaan dalam memodifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang pada Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar. Kata Kunci : Tata Letak Fasilitas, Material Handling, Jamur Merang

iv

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh ABSTRACT

The layout of the plant or production facility is a setting to specify the location of the facility by considering the distance between the buildings, removal costs of materials and production process time. Results of research by the author on Latansa Agribusiness Industry Aceh Besar district shows less precise placement of production facilities and the flow of material causing the material handling into a long distance and eventually led to the wages received fewer workers, because workers get a wage of Rp 50.000,00 in a day. Improvement of production facilities layout done with the program Microsoft Office Visio 2003 to create the initial layout sketch and layout modifications. The results of the analysis and modification of the layout of production facilities is a new layout with Rectilinear Distance model, ie the distance the material displacement which was originally 10 meters from the soaking tub with a fermentation 1, there has been a reduction in distance of 9 meters, as well as from the fermentation of 1 to kumbung 1 previous 4,50 meters also a reduction in distance of 3,10 meters. For the cost of removal of material per meter in the initial layout with a distance of 19,55 meters was Rp 2.557,00, while after modification of the transfer distance of 7,45 meters of fabric per meter material removal costs Rp 6.711,00. While the production process from the time of immersion into a fermentation raw material 1 is also a decline for 20 minutes of the previous production process at 40 minutes to complete fermentation. Thus, the layout model Rectilinear Distance expected to be used as consideration for the company to modify the layout of mushroom production facility in the Agribusiness Industry Latansa Aceh Besar district. Keywords : Facility Layout, Material Handling, Mushroom

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, dengan berkat Rahmat dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Modifikasi Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Merang Pada Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar. Selawat beriring salam penulis sanjung pujikan kepada janjungan Alam Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa ummat manusia dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Skripsi yang penulis susun ini merupakan salah satu tugas akhir mata kuliah wajib bagi setiap mahasiswa yang menjalankan studi di Teknik Industri dalam rangka mencapai gelar Strata Satu (S-1) pada Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh. Hal ini dimaksudkan sebagai wujud implementasi akhir dari ilmu-ilmu teori dan praktek yang telah didapatkan dari perkuliahan. Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang sangat berharga sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada: 1. Ibu Ir. Hj. Elvitriana, M.Eng selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh. 2. Bapak Muzafar, ST. SE. MM selaku Ketua Jurusan Teknik Industri Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh. 3. Bapak Muzafar, ST. SE. MM selaku Pembimbing I dan Ibu Ir. Dewi Mulyati selaku Pembimbing II yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan saran-saran dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Seluruh Dosen dan Staff Pegawai dalam jajaran Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh, yang telah memberikan ilmu dan jasanya kepada penulis, semoga segala kebaikannya menjadi amal disisi Allah SWT. 5. Bapak Hendri Mulia selaku Pimpinan Industri Latansa Agribisnis Budidaya Jamur Merang Kabupaten Aceh Besar, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengumpulkan data serta arahan-arahannya.

vi

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com 6.

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Kakanda Amiruddin Usman Daroy, Ayah Cek Zainal Arifin serta Adun Al Munzir As-Salami yang selalu membimbing serta motifasinya sehingga penulis dapat menyelesaikan study strata satu ini.

Seluruh teman-teman mahasiswa Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh seperjuangan. Khusus Teknik Industri 07 trimks atas jabatan komting abadinya, Rahmad, Bizir, Fahrol, Amin, Bang Cut serta teman-teman lain cepat nyusul ya,,, ? Teman-teman Tim Sukses Capres USM No. urut 2 periode 2009-2010, Cek Bush & Muksalmina. Cs serta seluruh pendukung, trimks atas kepercayaannya. Teman-teman yang sering nongkrong di kantin si Boss Gampong Loen juga yaaa,,, trimks atas support dan doanya. Dari lubuk hati yang dalam penulis juga sampaikan rasa hormat dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Ayahanda Usman Amin dan Ibunda Nilawati Ibrahim yang telah bersusah payah serta dengan penuh kesabaran membesarkan, mendidik penulis dan telah banyak memberikan dukungan baik secara moril maupun materil yang tidak ternilai harganya. Terima kasih juga turut penulis hanturkan kepada kakanda Setia Murni dan suaminya, tetap rukun ya,,, he he heeee. Keponakan semata wayang M. Furqan, yang rajin belajar moga cepat jadi sarjana juga. Spesial My Lovely Hera Masroni mudah-mudahan cepat bersama ya sayang, serta keluarganya yang selalu memberikan dukungan dan masukan sampai skripsi ini selesai. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritikan yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi penyempurnaannya dimasa yang akan datang. Semoga saja skripsi ini dapat bermanfaat terutama bagi penulis sendiri dan juga bagi pembacanya. Segala bantuan yang telah diberikan kepada penulis semoga mendapatkan imbalan yang sesuai dari Allah SWT, Amin. Banda Aceh, 01 Oktober 2011

Khairol Mizan. Us

vii

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh DAFTAR ISI

Halaman LEMBARAN PENGESAHAN............................................................... i LEMBARAN PERSEMBAHAN ........................................................... ii PLAGIAT TUGAS AKHIR ................................................................... iii ABSTRAK ............................................................................................... iv KATA PENGANTAR ............................................................................. vi DAFTAR ISI ............................................................................................ viii DAFTAR GAMBAR ............................................................................... x DAFTAR TABEL ................................................................................... xi BAB I PENDAHULUAN ................................................................. 1.1 Latar Belakang Penelitian ............................................... 1.2 Batasan Penelitian ........................................................... 1.3 Perumusan Masalah ........................................................ 1.4 Tujuan Penelitian ............................................................ 1.5 Manfaat Penelitian .......................................................... 1 1 2 2 2 3 4 4 4 5 5 8 8 10 11 12 13 13 14 15 15 16 17 17 17 17 17

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................ 2.1 Pengertian Modifikasi Tata Letak ................................... 2.2 Tujuan Modifikasi Tata Letak Fasilitas .......................... 2.3 Faktor-Faktor Terjadinya Modifikasi.............................. 2.4 Pengertian Tata Letak Fasilitas ....................................... 2.5 Tipe-Tipe Tata Letak Fasilitas ........................................ 2.5.1 Tata Letak Produk (Product Layout) ..................... 2.5.2 Tata Letak Proses (Process Layout) ...................... 2.5.3 Tata Letak Lokasi Tetap (Fixed Position Layout) . 2.5.4 Tata Letak Group Technology (Group Technology Layout) ................................................................... 2.6 Pola Aliran Bahan ........................................................... 2.6.1 Bentuk Garis Lurus (Straight line) ........................ 2.6.2 Bentuk Zig-zag (Serpentine atau S-Shaped) ......... 2.6.3 Bentuk U (U-Shaped) ............................................ 2.6.4 Bentuk Melingkar (Circular)................................. 2.6.5 Bentuk Tak Menentu (Odd angle) ......................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN ......................................... 3.1 Lokasi Penelitian ............................................................. 3.2 Objek Penelitian .............................................................. 3.3 Metode Pengumpulan Data ............................................. 3.4 Jadwal Penelitian............................................................. viii

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh 18 18 19 20 21 21 22 22 23 24 28 30 31 31 35 35 36 37

3.5 Metode Analisis Data ...................................................... 3.5.1 Analisis Sistem Tata Letak .................................... 3.5.2 Modifikasi Tata Letak............................................ 3.5.3 Asumsi Sistem Tata Letak ..................................... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................ 4.1 Proses Produksi Pembuatan Media Tanam Jamur Merang 4.2 Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Merang Latansa Agribisnis ........................................................................ 4.2.1 Jarak Pemindahan Bahan ....................................... 4.2.2 Aliran Bahan .......................................................... 4.2.3 Pemindahan Bahan ................................................ 4.2.4 Biaya Pemindahan Bahan ...................................... 4.2.5 Peta Aktivitas Aliran Bahan (Flow Activity Chart) 4.2.6 Modifikasi Tata Letak Produksi Jamur Merang .... 4.3 Hasil Modifikasi Tata Letak Produksi ............................ BAB V PENUTUP ............................................................................. 5.1 Kesimpulan ..................................................................... 5.2 Saran ................................................................................

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. LAMPIRAN

ix

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Tata Letak Produk (Product Layout) .................................... 9 Gambar 2.2 Tata Letak Proses (Process Layout) ...................................... 10 Gambar 2.3 Tata Letak Lokasi Tetap (Fixed Position Layout) ................ 11 Gambar 2.4 Tata Letak Group Technology (Group Technology Layout) 12 Gambar 2.5 Pola Aliran Bahan Garis Lurus (Straight line) ...................... 14 Gambar 2.6 Pola Aliran Bahan Zig-Zag (Serpentine atau S-Shaped) ...... 14 Gambar 2.7 Pola Aliran Bahan Bentuk U (U-Shaped) ............................. 15 Gambar 2.8 Pola Aliran Bahan Bentuk Melingkar (Circular).................. 15 Gambar 2.9 Pola Aliran Bahan Bentuk Tak Menentu (Odd angle) .......... 16 Gambar 4.1 Tata Letak Awal Produksi Jamur Merang............................. 21 Gambar 4.2 Tata Letak Hasil Modifikasi Produksi Jamur Merang .......... 32

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian....................................................................... Tabel 4.1 Jarak Pemindahan Bahan Sebelum di Modifikasi .................... Tabel 4.2 Jarak Pemindahan Bahan Setelah di Modifikasi .......................

Halaman 17 23 33

xi

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Penelitian Budidaya jamur merang (Volvariella volvacea) mempunyai panen yang

relatif singkat yaitu sekitar satu sampai dengan tiga bulan sehingga perputaran modal yang ditanam pada usaha ini, berlangsung cukup cepat. Selain itu, bahan baku untuk produksi jamur merang relatif mudah didapat, dan pengusahaannya tidak membutuhkan lahan yang luas. Oleh sebab itu, jamur merang ini dapat memberikan lebih banyak kesempatan kerja dalam upaya peningkatkan ekonomi masyarakat petani jamur, jamur merang merupakan salah satu komoditas pertanian yang mempunyai masa depan baik untuk dikembangkan sehingga dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani secara umum. Krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak tahun 1997 hingga sekarang banyak berbagai usaha yang mengalami kegagalan atau kandas di tengah jalan. Salah satu alternatif dari banyak solusi yang ditawarkan adalah usaha budidaya jamur merang karena permintaan pasar sangat luas sekali dan masih belum dapat dipenuhi, akibatnya agribisnis jamur merang tumbuh sebagai wujud mencari lapangan usaha baru yang menjanjikan. Industri Latansa agribisnis sudah memproduksikan jamur merang sejak tahun 2009 hingga saat ini masih terus berproduksi dengan produksinya yang kurang meningkat. Untuk itu perlu adanya modifikasi tata letak fasilitas produksi guna meningkatkan hasil produksi jamur merang. Melihat peluang usaha yang begitu besar tetapi mengapa kebutuhan jamur merang ini masih belum terpenuhi, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan produksi tidak efektif dan efisien. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang sudah dilakukan oleh penulis, tata letak produksi di Industri Latansa Agribisnis masih belum efektif dan efisien, karena masih banyak proses bolak-balik melewati jalur yang sama pada proses pengomposan, dimana seharusnya tidak terjadi jalur bolak-balik (back tracking).

Berbagai persoalan yang terjadi dan dengan melihat pertimbangan masalah yang terjadi sebagaimana telah dipaparkan di atas, maka penulis lebih cenderung membuat penelitian ini dengan judul: Modifikasi Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Merang Pada Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar.

1.2

Batasan Penelitian Agar pembahasan penelitian yang dilakukan terarah dan tidak menyimpang

dari tujuan yang ingin dicapai, maka penelitian yang dilakukan pada modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang.

1.3

Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang dan batasan masalah pada penelitian

ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah caranya memodifikasi tata letak alternatif untuk fasilitas produksi jamur merang yang lebih baik ? 2. Kendala apa saja yang dihadapi oleh Industri Latansa Agribisnis dalam memodifikasi tata letak fasilitas produksi ?

1.4

Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui bagaimana caranya memodifikasi tata letak alternatif untuk fasilitas produksi jamur merang yang lebih baik ? 2. Untuk mengetahui kendala apa saja yang dihadapi oleh Industri Latansa Agribisnis dalam memodifikasi tata letak fasilitas produksi ?

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

1.5

Manfaat Penelitian Adapun manfaat penulis dalam penelitian ini adalah Sebagai berikut:

1.

Perusahaan Manfaat bagi perusahaan adalah sebagai bahan pertimbangan dan masukan serta sebagai bahan informasi dan rekomendasi untuk selanjutnya menjadi referensi bagi perusahaan untuk mengambil keputusan.

2.

Perguruan Tinggi Manfaat bagi perguruan tinggi adalah sebagai bahan kajian penelitian selanjutnya dan juga sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian selanjutnya mengenai fasilitas produksi.

3.

Mahasiswa Manfaat bagi mahasiswa adalah sebagai pengalaman dibidang akademis dalam pemecahan masalah yang dihadapi perusahaan dan sebagai bahan wacana keilmuan dalam penerapan teori yang ada.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Modifikasi Tata Letak Modifikasi adalah cara merubah bentuk sebuah barang dari yang kurang

menarik menjadi lebih menarik tanpa menghilangkan fungsi aslinya, serta menampilkan bentuk yang lebih bagus dari aslinya. Menurut Karl (2001:313), Modifikasi paling umum yang diinginkan pada rencana dasar adalah memanfaatkan jadwal. Menurut Hendrarto (2008), Modifikasi tata letak dilakukan untuk mendapatkan hasil tata letak yang terbaik dan layak secara teknis maupun ekonomi. Untuk mendapatkan modifikasi tata letak yang terbaik maka dilakukan dengan cara membangkitkan alterntatif-alternatif tata letak yang mungkin terjadi.

2.2

Tujuan Modifikasi Tata Letak Fasilitas Produksi

Secara rinci Karl (2001:313) menjelaskan bahwa tujuan modifikasi tata letak fasilitas produksi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Menaikkan Output Produksi, suatu tata letak pabrik yang baik akan memberikan keluaran (output) yang lebih besar dengan ongkos yang sama atau lebih sedikit dengan jam kerja manusia dan mesin yang lebih kecil. 2. Mengurangi Waktu Tunggu (delay), tata letak yang terkoordinir dan terencana dengan baik akan dapat mengurangi waktu tunggu yang diakibatkan jarak ataupun waktu tempuh antar departemen. 3. Mengurangi Proses Pemindahan Bahan (material handling), untuk merubah bahan baku menjadi produk jadi, akan memerlukan aktifitas pemindahan (movement) sekurang-kurangnya satu dari tiga elemen dasar sistem produksi yaitu: bahan baku, orang/pekerja, dan mesin/peralatan produksi. Menurut Yunirwan (2007:30), Pada sebagian besar proses produksi, bahan baku akan lebih sering dipindahkan dibandingkan dengan dua elemen dasar produksi lainnya. Pada beberapa kasus, biaya untuk proses pemindahan material bisa mencapai 30% sampai 90% dari total biaya produksi. Mengingat besarnya 4

persentase biaya pemindahan material ini, maka suatu perencanaan tata letak fasilitas yang baik sangat diperlukan untuk mengurangi biaya akibat pemindahan material.

2.3

Faktor-Faktor Terjadinya Modifikasi Pada umumnya perencanaan tata letak dan modifikasi akan senantiasa

diperlukan di setiap perusahaan. Modifikasi disebabkan oleh beberapa faktor berikut: 1. 2. 3. 4. Adanya perubahan volume permintaan Penggantian fasilitas agar selalu baru (up to date) Kebutuhan akan penghematan biaya Mendukung pergeseran/perluasan lokasi pasar produk perusahaan

2.4

Pengertian Tata Letak Fasilitas Fasilitas produksi adalah sesuatu yang dibangun, diadakan atau

diinvestasikan guna melaksanakan aktivitas produksi. Menurut Wignjosoebroto (2000), Tata letak pabrik dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi. Pengaturan tersebut akan memanfaatkan luas area (space) untuk penempatan mesin atau fasilitas penunjang produksi lainnya, kelancaran gerakangerakan material, penyimpanan material (storage) baik yang bersifat temporer maupun permanen, personil pekerja dan sebagainya. Tata letak pabrik adalah suatu landasan utama dalam dunia industri. Perancangan tata letak pabrik atau tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi. Pengaturan tersebut akan coba memanfaatkan luas area untuk penempatan mesin atau fasilitas penunjang produksi lainnya, kelancaran gerakan perpindahan material, penyimpanan material baik yang bersifat temporer maupun permanen, personel pekerja, dan sebagainya. Menurut Yenny (2007), Tata Letak Fasilitas adalah suatu pekerjaan, perencanaan, atau pelaksanaan untuk mengkombinasikan manusia, peralatan, bahan baku, dan semua pelayanan pembantu (supporting service) dalam usaha
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

mencapai susunan yang optimal agar dapat menghasilkan penempatan yang efektif dan efesien. Tata letak (layout) merupakan salah satu keputusan strategis operasional yang turut menentukan efesiensi operasional perusahaan dalam jangka panjang, tata letak yang baik akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan produktivitas perusahaan. Tata letak juga menentukan daya saing perusahaan dalam hal kecukupan kapasitas, kelancaran proses, fleksibilitas produksi, dan biaya pemeliharaan bahan, serta untuk kenyamanan kerja. Menurut Haming (2007:285), bahwa Tata letak yang efektif adalah dapat membantu perusahaan dalam mencapai : pemanfaatan yang efektif atas ruangan, peralatan dan manusia; arus informasi, bahan baku dan manusia yang lebih baik; lebih memudahkan konsumen; dan peningkatan moral karyawan dan kondisi kerja yang lebih aman. Menurut Assauri (2008:82), bahwa Lay Out yang baik dapat diartikan sebagai penyusunan yang teratur dan efesien semua fasilitas pabrik dan buruh (personnel) yang ada di dalam pabrik. Menurut Hadiguna, Rika Ampuh (2008:7), Tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai kumpulan unsur-unsur fisik yang diatur mengikuti aturan atau logika tertentu. Tata letak fasilitas merupakan bagian perancangan fasilitas yang lebih fokus pada pengaturan unsur-unsur fisik. Unsur-unsur fisik dapat berupa mesin, peralatan, meja, bangunan dan sebagainya. Aturan atau logika pengaturan dapat berupa ketetapan fungsi tujuan misalnya total jarak atau total biaya perpindahan bahan. Dalam tata letak pabrik ada 2 (dua) hal yang diatur letaknya yaitu pengaturan mesin (machine layout) dan pengaturan departemen yang ada dari pabrik (department layout). Bilamana kita menggunakan istilah tata letak pabrik, sering kali hal ini kita artikan sebagai pengaturan peralatan/fasilitas produksi yang sudah ada (the existing arrangement) ataupun bisa juga diartikan sebagai perencanaan tata letak pabrik yang baru sama sekali (the new layout plan). Menurut Kusumah S. Yolanda Mieke (2008), Dalam sebuah pabrik, tata letak merupakan suatu landasan utama. Tata letak yang terencana dengan baik akan ikut menentukan efisiensi dan efektivitas kegiatan produksi. Karena aktivitas
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

produksi suatu industri secara normal harus berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dengan tata letak yang tidak berubah-ubah, maka kekeliruan yang terjadi dalam perencanaan tata letak ini akan menyebabkan kerugian yang sangat besar. Tujuan tata letak fasilitas, yaitu untuk menentukan bagaimana aktivitasaktivitas dan fasililtas-fasilitas produksi dapat diatur sedemikian rupa sehingga mampu menunjang upaya pencapaian tujuan pokok produksi secara efektif dan efisien. Selain itu, tujuan tata letak pabrik untuk mendapatkan keuntungankeuntungan diantaranya: 1) Memudahkan proses manufaktur Penyusunan mesin, peralatan, dan ruang kerja yang baik menghasilkan kemudahan proses produksi 2) Meminimumkan pemindahan barang Pengaruh jarak terhadap material handling akan mempengaruhi biaya yang dikeluarkan. Selain itu pemindahan barang yang semakin dekat akan berdampak pada pengurangan waktu produksi. 3) Menjaga fleksibilitas (keluwesan) Ada kalanya suatu pabrik menuntut adanya perubahan tata letak akibat adanya perubahan (penambahan/pengurangan fasilitas. Keadaan ini

menuntut adanya fleksibilitas dalam melakukan proses produksi. 4) Memelihara perputaran barang setengah jadi yang tinggi Kelancaran aktivitas material handling mengurangi terjadinya penumpukan barang di stasiun kerja. Waktu peredaran total yang kecil akan mengurangi jumlah barang setengah jadi yang berakibat pula menurunnyabiaya produksi. 5) Menurunkan cost of capital Suatu penggunaan fasilitas produksi yang tepat akan mengurangi biaya pemakaian fasilitas yang kurang perlu serta menghindarkan adanya duplikasi peralatan. 6) Menghemat pemakaian ruang Ketepatan dalam hal tata letak peralatan yang digunakan akan menghemat (efisisensi) ruangan yang dipakai.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

7) Memudahkan pengawasan Dengan tata letak yang baik akan memudahkan dalam hal pengawasan terhadap aktivitas produksi yang dilakukan. 8) Meningkatkan safety bagi produk maupun karyawan Mesin dan peralatan yang diletakkan pada tempat yang tepat akan mengurangi terjadinya kecelakaan kerja maupun kerusakan barang.

2.5

Tipe-Tipe Tata Letak Fasilitas Berdasarkan aliran materialnya, layout dapat dibedakan menjadi empat

bentuk dasar yaitu: Fixed Product Layout, Production Line Product Layout, Product Family Layout, dan Process Layout. Menurut Purnomo (2004), Salah satu keputusan penting yang perlu dibuat adalah keputusan menentukan Tipe tata letak yang sesuai akan menjadikan efisiensi proses manufakturing untuk jangka waktu yang cukup panjang. Tipe-tipe tata letak secara umum adalah Product Layout, Process Layout dan Group Technology Layout. Menurut Hadiguna, Rika Ampuh (2008:27), bahwa Secara umum ada empat tipe tata letak, yaitu : tata letak produk, tata letak proses, tata letak lokasi tetap dan tata letak group technology.

2.5.1 Tata Letak Produk (Product Layout) Tata letak produk umumnya digunakan untuk pabrik yang memproduksi satu macam produk atau kelompok produk dalam jumlah yang besar dan waktu produksi yang lama. Dengan tata letak berdasarkan aliran produksi, mesin dan fasilitas produksi lainnya akan diatur menurut prinsip mechine after machine. Mesin disusun menurut urutan proses yang ditentukan pada pengurutan produksi. Setiap komponen berjalan dari satu mesin ke mesin berikutnya melewati seluruh daur operasi yang dibutuhkan.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Secara grafis, prinsip tata letak berdasarkan aliran produksi dapat dilihat pada gambar 2.1.
Mesin Bubut Mesin Bor Mesin Gerinda Mesin Bor

Gudang Bahan Baku (Material)

Mesin Perata

Mesin Bor

Mesin Bubut

Mesin Perata

Mesin Bor

Gambar 2.1 Tata Letak Produk

Tujuan utama tata letak produk adalah mengurangi proses pemindahan bahan dan memudahkan pengawasan dalam aktivitas produksinya. Keuntungan tata letak berdasarkan aliran produk, yaitu: 1) Tata letak sesuai dengan urutan operasi. 2) Kerja dari satu proses ke proses berikutnya langsung dikerjakan. 3) Waktu total produksi per unit kecil. 4) Mesin-mesin yang berurutan diletakkan sedekat mungkin. 5) Pekerja yang memiliki skill tinggi tidak diperlukan. 6) Perencanaan produksi sederhana dan sistem kontrol mungkin dilakukan. 7) Ruang yang dibutuhkan untuk penyimpanan sementara sedikit. Kelemahan yang dimiliki oleh tata letak berdasarkan aliran produk ini adalah: 1) Gangguan pada satu mesin dapat mengakibatkan terganggunya keseluruhan proses. 2) Perubahan desain produk menyebabkan perubahan tata letak. 3) Waktu produksi ditentukan oleh mesin yang paling lambat. 4) Proses memerlukan mesin yang khusus dan umumnya mahal. 5) Penambahan produk baru hanya dapat dilakukan untuk urutan yang sama atau membutuhkan jenis mesin yang telah ada.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Gudang Produk Jadi

Proses Perakitan (Assembly)

Mesin Press

Mesin Pelengkung

Mesin Bor

10

2.5.2 Tata Letak Proses (Process Layout) Tata letak berdasarkan proses merupakan metode pengaturan dean penempatan fasilitas dimana fasilitas yang memiliki tipe dan spesifikasi sama ditempatkan kedalam satu departemen. Tata letak berdsarkan proses umumnya digunakan pada perusahaan yang beroperasi dengan menerima order dari pelanggan. Secara grafis, prinsip tata letak berdasarkan aliran proses dapat dilihat pada gambar 2.2.

Mesin Bubut

Mesin Bubut

Mesin Bor

Pengelasan

Pengelasan

Gudang Bahan Baku (Material)

Mesin Perata

Mesin Perata

Mesin Gerinda

Perakitan

Mesin Perata

Mesin Gerinda

Perakitan

Gambar 2.2 Tata Letak Proses

Keuntungan tata letak berdasarkan aliran proses adalah: 1) Utilisasi mesin umumnya sangat baik, sehingga mesin yang dibutuhkan sedikit. 2) Fleksibilitas yang tinggi sehubungan dengan peralatan atau alokasi tenaga kerja untuk tugas yang spesifik. 3) Mesin yang digunakan tidak memerlukan investasi yang tinggi. 4) Perubahan tugas yang dikerjakan oleh operator dapat memberikan kepuasan bagi operator. 5) Memungkinkan untuk supervisor khusus. Kelemahan yang dimiliki oleh tata letak berdasarkan aliran proses ini adalah: 1) Aliran material yang lebih panjang menyebabkan biaya pemindahan bahan tinggi.
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Gudang Produk Jadi

Mesin Bubut

Mesin Bubut

Mesin Bor

Pengelasan

Pengelasan

11

2) Perencanaan produksi dan sistem kontrol lebih banyak dilakukan. 3) Total waktu produksi umumnya lebih lama. 4) Proses memerlukan lebih banyak inventori. 5) Ruangan dan modal lebih banyak pada work in process. 6) Proses membutuhkan keterampilan kerja yang tinggi untuk mengoperasikan berbagai mesin.

2.5.3 Tata Letak Posisi Tetap (Fixed Position Layout) Tata letak tipe demikian mengondisikan bahwa yang tetap pada posisinya adalah material, sedangkan fasilitas produksi seperti mesin, peralatan, serta komponen-komponen pembantu lainnya bergerak menuju lokasi material atau komponen produk utama. Secara grafis, prinsip tata letak berdasarkan lokasi tetap dapat dilihat pada gambar 2.3.
Mesin Las Mesin Gerinda Mesin Keling

Gudang Bahan Baku (Material, Komponen, Spare Parts, dll)

Mesin Gergaji

Mesin Gerinda

Mesin Pengecatan

Gambar 2.3 Tata Letak Posisi Tetap

Tata letak berdasarkan lokasi material tetap digunakan untuk produk yang ukurannya besar seperti kapal dan pesawat terbang. Keuntungan tata letak berdasarkan lokasi tetap adalah: 1) Pergerakan material dapat dikurangi. 2) Peluang mendapat penghargaan atas pekerjaan tim atau individu cukup terbuka. 3) Tanggung jawab tim tinggi.
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Gudang Produk Jadi

12

4) Sangat fleksibel atas perubahan produk desain maupun perubahanvolume produksi. 5) Bebas menentukan jadwal dan dapat mencapai waktu produksi total minimum. Kelemahan yang dimiliki oleh tata letak berdasarkan lokasi tetap ini adalah: 1) Pergerakan opertor dan material sangat banyak. 2) Duplikasi peralatan sering terjadi. 3) Operator membutuhkan skill tinggi. 4) Supervisor umum dibutuhkan. 5) Utilisasi peralatan rendah.

2.5.4 Tata Letak Group Technology (Group Technology Layout) Tata letak tipe demikian mengelompokkan produk atau komponen yang akandibuat berdasarkan kesamaan dalam proses. Pengelompokkan produk mengakibatkan mesin dan fasilitas produksi lainnya ditempatkan dalam sebuah sel manufaktur karena setiap kelompok memiliki urutan proses yang sama. Tujuan tipe tata letak adalah menghasilkan efisiensi yang tinggi dalam proses manufakturnya. Secara grafis, prinsip tata letak berdasarkan kelompok produk dapat dilihat pada gambar 2.4.
Mesin Bubut Mesin Bor Mesin Gerinda Perakitan

Gudang Bahan Baku (Material)

Mesin Press

Mesin Bubut

Mesin Bor

Mesin Press

Perakitan

Mesin Gerinda

Mesin Bor

Perakitan

Mesin Bor

Mesin Gerinda

Gambar 2.4 Tata Letak Group Technology

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Gudang Produk Jadi

Mesin Perata

Perakitan

Mesin Las

Pengecatan

13

Keuntungan tata letak berdasarkan group technology adalah: 1) Meningkatkan utilisasi mesin. 2) Gabungan antara product layout dan process layout dengan beberapa keuntungan. 3) Mendukung penggunaan peralatan yang umum. 4) Aliran material lebih pendek dari pada process layout. Kelemahan yang dimiliki oleh tata letak berdasarkan group technology ini adalah: 1) Membutuhkan supervisor umum. 2) Membutuhkan skill pekerja yang tinggi. 3) Gabungan antara product layout dan process layout dengan beberapa batasan. 4) Tergantung pada keseimbangan aliran material antar sel serta membutuhkan buffer dan ruangan barang work in process. 5) Utilisasi mesin rendah. Tipe tata letak group technology merupakan kombinasi tipe tata letak produk dan proses. Tujuan model tata letak demikian adalah menjawab keterbatasan tata letak proses dan mengeksplorasi kelebihan tata letak produk.

2.6

Pola Aliran Bahan Menurut Hadiguna, Rika Ampuh (2008:33), Dalam lingkungan aliran

bahan, pertimbangan kritis yang perlu diperhatikan adalah pola umum aliran bahan. Pola umum aliran bahan dapat dipandang dari beberapa perspektif, yaitu aliran bahan pada stasiun kerja mandiri, aliran bahan pada departemen dan aliran bahan antar departemen. Pola umum aliran bahan untuk proses produksi umumnya dibedakan atas lima pola, yaitu:

2.6.1 Bentuk Garis Lurus (Straight line) pola garis lurus paling mudah dikenali. Umumnya, pola sangat jelas terlihat pada sistem pemindahan bahan yang menggunakan konveyor lurus. Pola aliran
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

14

garis lurus dapat dipakai jika proses produksi berlangsung singkat, relatif sederhana, jarak perpindahan pendek dan hanya terdiri atas beberapa komponen atau peralatan produksi sedikit. Polanya terkesan sederhana. Kegiatan supervisi pun akan lebih mudah berlangsung. Namun, pola demikian memberikan konsekuensi penggunaan luas lantai yang cukup besar. Pola aliran demikian dapat terjadi bila tempat penerimaan bahan baku dengan tempat pengiriman produk jadi tidak berada pada satu tempat. Keuntungan yang dapat diperoleh dengan menerapkan pola aliran garis lurus adalah jarak antara dua mesin dapat diatur, sehingga dapat mencapai jarak yang paling pendek. Pola aliran bahan garis lurus dapat dilihat pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Pola Aliran Bahan Garis Lurus

2.6.2 Bentuk Zig-zag (Serpentine atau S-Shaped) Pola aliran zig-zag disebut pula aliran berbentuk ular dan sangat baik diterapkan bila aliran proses produksi lebih panjang dari pada panjang area yang tersedia. Panjangnya proses produksi diatasi dengan membelokkan aliran produksi, sehingga garis aliran produksi bertambah panjang tanpa harus memperluas area produksi. Pola aliran demikian dapat mengatasi keterbatasan area serta bentuk dan ukuran bangunan pabrik yang ada. Pola aliran bahan zig-zag dapat dilihat pada gambar 2.6.

Gambar 2.6 Pola Aliran Bahan Zig-Zag

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

15

2.6.3 Bentuk U (U-Shaped) Keterbatasan luas lantai yang tersedia dapat diantisipasi dengan menerapkan pola aliran bentuk U. Pola aliran bentuk U akan diterapkan jika akhir proses produksi akan berada pada lokasi yang sama dengan awal proses produksinya karena keadaan fasilitas transportasi maupun pemakaian mesin bersama. Pola material dan produk jadi serta mempermudah fasilitas transportasi. Pola aliran bentuk U tidak efesien jika aliran proses produksi relatif panjang. Pola aliran bahan bentuk U dapat dilihat pada gambar 2.7.

Gambar 2.7 Pola Aliran Bahan Bentuk U

2.6.4 Bentuk Melingkar (Circular) Pola aliran bentuk melingkar dapat diterapkan bila bertujuan mengambilkan material atau produk pada titik awal aliran produksi berlangsung. Kemudian, kondisi yang sebaiknya menggunakan pola demikian adalah bila ada penggunaan mesin dengan rangkaian yang sama untuk kedua kalinya. Pola aliran bahan bentuk Melingkar dapat dilihat pada gambar 2.8.

Gambar 2.8 Pola Aliran Bahan Bentuk Melingkar

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

16

2.6.5 Bentuk Tak Menentu (Odd angle) Pola tak tentu sering ditemui pada pabrik-pabrik yang ada dengan tujuan memeroleh lintasan produksi yang pendek antar kelompok dari wilayah berdekatan, proses material handling dilakukan secara mekanis, keterbatasan ruangan yang tidak memungkinkan pola lain, atau lokasi permanen fasilitas yang menuntut pola seperti ini. Pola aliran bahan bentuk tak menentu dapat dilihat pada gambar 2.9.

2 1 4 5
Gambar 2.9 Pola Aliran Bahan Bentuk Tak Menentu

3 6

Pada praktiknya, tidak ada pola aliran bahan secara murni satu tipe, tetapi merupakan kombinasi. Kita dapat memahaminya karena aliran bahan secara keseluruhan didalam pabrik bisa bermacam-macam pula, tergantung pada penataan fasilitas yang tentunya spesifik.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Industri Latansa Agribisnis Budidaya Jamur

Merang Gampong Menasah Baro Kecamatan Ingin Jaya Kabupaten Aceh Besar.

3.2

Objek Penelitian Objek pada penelitian ini yang berhubungan dengan tata letak fasilitas

produksi jamur merang pada Industri Latansa Agribisnis.

3.3

Metode Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam membahas permasalahan ini, penulis

melakukan pengumpulan data melalui: 1. Metode Pengamatan (Observasi) Pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki. 2. Metode Wawancara (Interviu) Wawancara adalah proses tanya-jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.

3.4

Jadwal Penelitian Pelaksanaan penelitian ini penulis membuat sebuah jadwal penelitian yang

dapat dilihat pada tabel 3.1.


Tabel 3.1 Jadwal Penelitian Bulan No 1. 2. Kegiatan Survey Keperusahaan Pengumpulan Data Perusahaan
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Minggu 5 Minggu 6

17

18

3. 4. 5. 6.

Wawancara Dengan Pimpinan Perusahaan Pengolahan Data Evaluasi Hasil Pengolahan Data Sidang

3.5

Metode Analisis Data Pada hakekatnya sebuah penelitian adalah pencarian jawaban dari

pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya oleh peneliti. Untuk menghasilkan jawaban tersebut dilakukan pengumpulan, pengolahan dan analisis data dengan menggunakan metode tertentu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa satu ciri khas penelitian adalah bahwa penelitian merupakan proses yang berjalan secara terus-menerus hal tersebut sesuai dengan kata aslinya dalam bahasa inggris yaitu research, yang berasal dari kata re dan search yang berarti pencarian kembali. Menurut Suharsimi Arikunto (2005), Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang ini adalah metode deskriptif yang analisisnya dilakukan dengan teknik rekayasa. Metode penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran baik dari segi sosial ataupun ekonomi mengenai situasi dan kejadian dari tata letak fasilitas produksi jamur merang yang sudah ada. 3.5.1 Analisis Sistem Tata Letak Sistem tata letak yang sudah ada akan diamati dengan tiga kriteria pengamatan yaitu: 1) Jarak antar departemen 2) Biaya pemindahan bahan 3) Waktu proses produksi
Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

19

Ke tiga kriteria pengamatan tersebut saling mempengaruhi dalam efektivitas dan efisiensi produksi, jika ketiga kriteria tersebut dijadikan sebagai pembangkit alternatif, maka alternatif yang terjadi akan sangat banyak oleh karena itu diambil sebuah kriteria dominan dalam modifikasi tata letak ini yaitu jarak antar departemen. Pendekatan dengan memodifikasi jarak antar departemen ini didasari juga dengan tipe proses dari produksi jamur merang ini tipe garis lurus (serial) tidak ada bahan yang diproses ulang.

3.5.2 Modifikasi Tata Letak Modifikasi tata letak dilakukan untuk mendapatkan hasil tata letak yang terbaik dan layak secara teknis maupun ekonomi. Untuk mendapatkan modifikasi tata letak yang terbaik maka dilakukan dengan cara membangkitkan alterntatifalternatif tata letak yang mungkin terjadi. Pelaksanaan penelitian modifikasi tata letak dengan cara membangkitkan alternatif yang mungkin dapat digambarkan adalah sebagai berikut: 1) Penelitian pemahaman sistem tata letak, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran tata letak yang sudah ada pada saat sekarang ini untuk dievaluasi apakah sudah layak secara teknis dan ekonomis. 2) Mengevaluasi dan memodifikasi tata letak pabrik, yaitu: a) Menentukan kriteria dominan dari tata letak yang akan dievaluasi, kriteria dominan ini adalah kriteria yang dapat membangkitkan alternatif-alternatif tata letak yang terbaik (optimal). b) Menentukan total jumlah departemen yang ada untuk menunjukkan bahwa terdapat beberapa alternatif modifikasi tata letak. c) Menentukan jarak antar departemen yang saling berhubungan untuk dianalisis jarak. d) Menghitung jumlah aliran bahan sebagai faktor pertimbangan dalam modifikasi tata letak.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

20

e) Hasil akhir dari modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang didapatkan ongkos yang terkecil yang nantinya menjadi tata letak yang terbaik.

3.5.3 Asumsi Sistem Tata Letak Asumsi-asumsi yang digunakan dalam evaluasi dan modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang adalah sebagai berikut : 1) Tidak ada proses pemindahan bahan dalam satu area kerja. 2) Hasil evaluasi dari tata letak yang sudah ada, akan dijadikan sebagai dasar modifikasi tata letak selanjutnya. Hasil modifikasi tata letak yang telah jadi merupakan tata letak dengan evaluasi hasil terbaik yang layak secara teknis dan ekonomis.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Proses Produksi Pembuatan Media Tanam Jamur Merang Analisis tata letak pabrik dimulai pada tata letak yang sudah ada. Proses

analisis dilakukan pada petani jamur merang Latansa Agribisnis. Kapasitas produksi yang telah dicapai oleh petani jamur Latansa Agribisnis sampai saat ini belum stabil, panen pertama pada setiap kumbung biasanya mencapai 10 20 Kg per hari, selanjutnya hasil panen meningkat mencapai 25 35 Kg per hari dan di akhir-akhir masa panen, hasil panen kembali menurun mencapai 20 10 Kg per hari. Untuk menghasilkan jamur merang harus melewati proses produksi yang dibagi dalam beberapa tahap. Sketsa dapat dilihat pada gambar 4.1.
Jembatan Cot Iri Saluran Pembuangan
Tempat Penumpukan Bahan Baku

2
Bak Perendaman

4 3
Jembatan Cot Iri
Tempat Fermentasi 3

KUMBUNG 4

Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

4
Saluran Pembuangan

KUMBUNG 3

3
Tempat Fermentasi 2

3
Tempat Fermentasi 1

KUMBUNG 2
Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

Jembatan Lambaro

KUMBUNG 1

Saluran Pembuangan

Saluran Pembuangan

Jembatan Siron

Tempat Tinggal Tenaga Kerja

Sumber : Industri Latansa Agribisnis budidaya jamur merang Kabupaten Aceh Besar (2010). Gambar 4.1 Tata Letak Awal Produksi Jamur Merang Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar

21

22

Uraian tahapan proses produksi jamur merang di Industri Latansa Agribisnis

Kabupaten Aceh Besar pada sketsa tata letak awal adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tempat Penumpukan Bahan Baku Bak Perendaman Merang Tempat Fermentasi Tempat Penanaman Jamur Penguapan (Pasterisasi) Tempat Tinggal Karyawan

4.2

Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Merang Latansa Agribisnis Layout pabrik atau disebut juga tata letak pabrik adalah suatu landasan

utama dalam dunia industri dan dapat diartikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas fisik pabrik seperti area kerja yang ada dalam pabrik agar proses produksi menjadi lancar. Tata letak suatu pabrik yang terencana dengan baik akan menentukan efisiensi dan menjaga kelangsungan hidup ataupun kesuksesan dalam bekerja. Tata letak pada usaha budi daya jamur di daerah Aceh Besar belum terencana dengan baik sehingga akan menimbulkan permasalahan. Jika dilihat dari sketsa tata letak tersebut banyak aktivitas-aktivitas yang jaraknya cukup jauh dari aktivitas sebelumnya sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk memperbaiki tata letak fasilitas produksi jamur merang pada petani Jamur Latansa Agribisnis dilakukan analisis tata letak yang dimulai dengan analisis jarak antar bangunan, biaya pemindahan bahan dan waktu proses produksi. Berdasarkan analisis tersebut kemudian dilakukan evaluasi untuk memperbaiki tata letak fasilitas produksi yang sudah ada (existing layout).

4.2.1 Jarak Pemindahan Bahan Jarak pemindahan bahan pada tata letak awal belum terencana dengan baik, sehingga waktu dan biaya pemindahan bahan masih banyak terbuang percuma.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

23

Jarak aliran bahan dari satu area ke area yang lain sebelum di modifikasi pada Industri Latansa Agribisnis budi daya jamur merang dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.1 Jarak Pemindahan Bahan Sebelum di Modifikasi No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Sumber Aliran Pemindahan Bahan Tempat Bahan Baku ke Bak Perendaman Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 1 Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 2 Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 3 Tempat Fermentasi 1 ke Kumbung 1 Tempat Fermentasi 1 ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 3 ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 3 ke Kumbung 4 Jarak (m) 1 10 6 1 4,50 1,40 3,50 1,40 2 1,40 Ket

: Industri Latansa Agribisnis budidaya jamur merang Kabupaten Aceh Besar (2011)

4.2.2 Aliran Bahan Pengaturan departemen-departemen dalam sebuah pabrik didasarkan pada aliran bahan diantara fasilitas-fasilitas produksi atau departemen-departemen tersebut. Masalah aliran keseluruhan muncul dari kebutuhan untuk memindahkan unsur (bahan, komponen dan orang) dari permulaan proses (penerimaan) sampai akhir (pengiriman) sepanjang lintasan yang paling efesien. Dalam situasi industry, tiap unsur digambarkan dengan cetak biru atau sebuah masukan pada dokumen barang atau senarai komponen, Apple, James M (1990:100). Proses aliran bahan yang selama ini masih berbentuk pola aliran bentuk S (S-Shape) pola aliran proses ini sangat baik diterapkan bila aliran proses produksi lebih panjang dibandingkan dengan luas area kerja yang tersedia dan dapat
Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

24

mengatasi segala keterbatasan area kerja dan ukuran bangunan yang sudah ada, Apple, James M (1990:122). Jumlah aliran bahan yang terjadi selama proses produksi terdapat 3 buah yaitu dari tempat penumpukan bahan baku ke bak perendaman, dari bak perendaman ke tempat fermentasi, dari tempat fermentasi ke tempat penanaman jamur.

4.2.3 Pemindahan Bahan (Material Handling) Pemindahan bahan dalam kegiatan produksi sangat mempengaruhi waktu penyelesaian produk. Waktu penyelesaian produk akan mempengaruhi

kemampuan perusahaan untuk menyediakan produk dengan tepat waktu pada konsumen. Selain itu, pemindahan bahan yang efektif dan efesien secara langsung mengurangi biaya produksi, yang akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Salah satu masalah penting dalam produksi ditinjau dari segi

kegiatan/proses produksi adalah bergeraknya material dari satu tingkat ke tingkat proses produksi berikutnya. Untuk memungkinkan proses produksi dapat berjalan dibutuhkan adanya kegiatan pemindahan material yang disebut dengan material handling. Secara umum material handling dapat didefinisikan dalam dua cara, yaitu: 1) Material Handling adalah seni dan ilmu pengetahuan dari perpindahan, penyimpanan, perlindungan, dan pengawasan material. a) Seni Material handling dapat dinyatakan sebagai seni, karena masalahmasalah material handling tidak dapat secara eksplisit diselesaikan semata-mata dengan formula atau model matematika. Material handling membutuhkan sebuah penilaian benar atau salah, dimana di perusahaan-perusahaan benar-benar berpengalaman di bidang material handling akan menilainya. b) Ilmu Pengetahuan Material handling dapat dinyatakan sebagai ilmu pengetahuan karena menyangkut metode engineering. Mendefinisikan masalah,

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

25

mengumpulkan dan menganalisis data, membuat alternatif solusi, evaluasi alternatif, memilih dan mengimplementasikan alternatif terbaik, merupakan bagian integral dari penyelesaian masalah material handling dan proses perancangan sistem. Analisis model matematis dan teknik-teknik kualitatif sangat berarti sebagai bagian dari proses ini. c) Perpindahan (moving) Perpindahan material membutuhkan waktu dan memerlukan

penggunaan tempat (yaitu penanganan material digunakan pada waktu yang tepat dan tempat yang benar). Perpindahan material memerlukan kesesuaian antara ukuran, bentuk, berat, dan kondisi material dengan lintasannya dan analisis frekuensi gerakan. d) Penyimpanan (storing) Penyimpanan material sebagai penyangga antar operasi, memudahkan dalam pekerjaan manusia dan mesin. Yang perlu dipertimbangkan dalam penyimpanan material antara lain adalah ukuran, berat, kondisi dan kemampuan tumpukan material, keperluan untuk mengambil dan menempatkan material, kendala-kendala bangunan seperti misalnya beban lantai, kondisi lantai, jarak antar kolom, dan tinggi bangunan. e) Perlindungan Yang termasuk dalm perlindungan material antara lain pengawasan, pengepakan, dan pengelompokan material; untuk melindungi kerusakan dan kehilangan material. Perlindungan material sebaiknya

menggunakan alat pengaman yang dihubungkan dengan sistem informasi. Termasuk perlindungan terhadap material yang salah penanganan, salah penempatan, salah pengambilan, dan urutan proses yang salah. Sistem material handling harus dirancang untuk meminimasi keperluan pengawasan, dan untuk menurunkan biaya. f) Pengawasan (controlling) Pengawasan material terdirir dari pengawasan fisik dan pengawasan status material. Pengawasan fisik adalah pengawasan yang berorientasi pada susunan dan jarak penempatan antar material. Pengawasan status
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

26

adalah pengawasan tentang lokasi, jumlah, tujuan, kepemilikan, keaslian, dan jadwal material. Ketelitian harus dilakukan untuk menjamin bahwa jangan sampai terlalu banyak pengawasan yang dilakukan pada sistem material handling. Melakukan pengawasan yang tepat merupakan suatu tantangan, karena pengawasan yang tepat sangat tergantung atas budaya organisasi dan orang yang mengatur dan menjalankan fungsi penanganan material. g) Material Secara luas, material dapat berbentuk bubuk, padat, cair, dan gas. Sistem penanganan diantara bentuk material mempunyai perlakuan yang berbeda diantara bentuk material.

2) Material Handling mempunyai arti penanganan material dalam jumlah yang tepat dari material yang sesuai dalam waktu yang baik pada tempat yang cocok, pada waktu yang tepat dalam posisi yang benar, dalam urutan yang sesuai dan biaya yang murah dengan menggunakan metode yang benar.

Berdasarkan hasil analisis jarak dan pemindahan bahan dapat diketahui bahwa pemindahan bahan yang paling banyak adalah pada saat pemindahan bahan baku ke tempat fermentasi misalnya untuk pemindahan merang dari tempat perendaman diangkut dengan gerobak sorong yang kapasitasnya 400 Kg yang dikerjakan oleh 1 orang pekerja dengan kemampuan angkut gerobak 150 Kg, maka untuk mencapai 1200 Kg / 400 ikat jerami kering, pekerja tersebut harus melakukan pemindahan bahan sebanyak 8 kali dengan jarak 10 meter dari tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi 1 dan memakan waktu selama 40 menit untuk menyelesaikan. Sedangkan untuk pemindahan bahan yang paling lama adalah pemindahan bahan dari tempat fermentasi ke tempat penanaman jamur karena selain beban yang berat, media tanam yang diletakkan pada ketinggian rak 4,05 meter dan membutuhkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan peletakan media pada rak-rak penanaman jamur. Proses pemindahan bahan merupakan satu hal yang penting
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

27

karena aktifitas ini akan menentukan hubungan atau keterkaitan antara satu departemen dengan departemen yang lain. Tujuan utama perencanaan material handling adalah untuk mengurangi biaya produksi. Selain itu, material handling sangat berpengaruh terhadap operasi dan perancangan fasilitas yang diimplementasikan.

Beberapa tujuan dari sistem material handling, yaitu: 1) Menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan, dan memberikan perlindungan terhadap material. 2) Meningkatkan keamanan dan mengembangkan kondisi kerja. 3) Meningkatkan produktivitas: a) Material akan mengalir pada garis lurus

b) Material akan berpindah dengan jarak sedekat mungkin c) Perpindahan sejumlah material pada satu kali tertentu

d) Mekanisasi penanganan material e) Otomasi penanganan material

4) Meningkatkan tingkat penggunaan fasilitas: a) Meningkatkan penggunaan bangunan

b) Pengadaan peralatan serbaguna c) Standardisasi peralatan material handling

d) Menjaga dan menempatkan seluruh peralatan sesuai kebutuhan dan mengembangkan program pemeliharaan preventif. e) Integrasi seluruh peralatan material handling dalam suatu system

5) Mengurangi bobot mati 6) Sebagai pengawasan persediaan

4.2.4 Biaya Pemindahan Bahan (Material Handling Cost) Faktor-faktor yang sangat perlu diperhatikan pada biaya material handling, adalah: a. Material a) Harga pembelian dari mesin/peralatan
Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

28

b) Biaya seluruh material yang digunakan c) Maintenance cost dan repair-part inventory

d) Direct power cost (kilo watt hour, bahan bakar dan lain-lain) e) f) Biaya untuk oli Biaya untuk peralatan bangku (pelengkap)

g) Biaya instalasi, termasuk di sini seluruh material dan biaya upah pekerja dan pengaturan kembali. b. Salary dan Wages a) Direct Labor Cost (seluruh personel yang terlibat di dalam pengoperasian peralatan-peralatan material handling) b) Training Cost untuk menjalankan peralatan material handling tersebut. c) c. Indirect Labor Cost (staff dan service departemens) dan lain-lain.

Finansial Charge a) Interest untuk investasi peralatan material handling

b) Biaya asuransi, depresiasi dan lain-lain.

Biaya pemindahan bahan terbagi dalam tiga klasifikasi, yaitu: 1) Biaya yang berkaitan dengan transportasi raw material dari sumber asalnya menuju pabrik dan pengiriman finished goods product ke konsumen yang membutuhkannya. Biaya transportasi di sini merupakan fungsi yang berkaitan langsung dengan pemilihan lokasi pabrik dengan memperhatikan tempat di mana sumber material berada serta lokasi pada tujuannya. 2) In-Plant Receiving and Storage, yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk pemindahan material dari satu proses ke proses berikutnya sampai ke pengiriman produk akhir. 3) Handling materials yang dilakukan oleh operator pada mesin kerjanya serta proses perakitan yang berlangsung di atas meja perakitan. Kita harus dapat melihat

Menurut

Assauri,

Sofjan

(2008:121)

kemungkinan-kemungkinan yang ada untuk mengurangi pemborosan-pemborosan

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

29

(inefesiensi) dan melakukan usaha-usaha agar biaya material handling dapat diperkecil. Biaya pemindahan bahan pada tiap meter didapat dari total biaya tenaga kerja per hari yaitu sebesar Rp 50.000,00 dengan perhitungan waktu kerja 8 jam per harinya. Berdasarkan data hasil pengamatan diatas bahwa pada Industri Latansa Agribisnis budi daya jamur merang, terdapat departemen/area kerja yang menunjukkan terjadinya masalah pemindahan bahan yang relative panjang pada bak perendaman menuju tempat fermentasi 1 dengan jarak 10 meter. Menurut Andriantantri, Emmalia (2008:C-46) Untuk menyelesaikan permasalahan material handling pada tata letak awal, maka model jarak yang dipergunakan untuk menghitung jarak material handling adalah model Rectilinier Distance. Biaya pemindahan bahan yang terjadi pada tata letak awal (intial layout) Industri Latansa Agribisnis ini dapat dihitung dengan rumus:

Tenaga kerja yang ada pada saat ini dan bekerja aktif di Industri Latansa Agribisnis yaitu 3 orang. Pemindahan bahan yang dihitung hanya pada saat bahan dipindahkan ke proses yang selanjutnya, tetapi jika proses selanjutnya berada pada area kerja yang sama besarnya pemindahan tidak dihitung karena terlalu kecil pengaruhnya.

4.2.5 Peta Aktivitas Aliran Bahan (Flow Activity Chart) Peta aktivitas proses aliran bahan dari tata letak awal dan hasil modifikasi digambarkan dalam sebuah peta aliran. Pada peta aliran ini dapat dilihat perbedaan antara peta aktivitas aliran bahan tata letak awal dengan tata letak hasil modifikasi. Peta proses adalah catatan tentang langkah-langkah proses dalam bentuk tabel. Peta ini merupakan salah satu teknik yang paling umum dan paling tua
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

30

dalam perencanaan atau penganalisisan aliran barang. Untuk perencanaan, diperlukan pengetahuan lebih banyak tentang kegiatan yang akan dilaksanakan dibandingkan peta rakitan atau peta proses operasi, karena peta ini memberi ciri tentang langkah-langkah perpindahan barang.

Peta proses sangat berguna untuk menentukan beberapa hal, diantaranya: 1) Memberi suatu metode pencatatan seluruh langkah dalam sebuah proses. 2) Memaksa pengujian yang rinci tentang proses. 3) Menjadi dasar bagi penganalisisan proses, seperti: a) Melihat seluruh perpindahan, penyimpanan atau kelambatan.

b) Menunjukan kesempatan perbaikan. c) Menunjukkan jarak, peralatan, tenaga kerja, dan sebagainya.

d) Memunculkan pertanyaan tentang proses. 4) Membuat analisis lebih mengenal proses dengan dekat.

5) Membentuk suatu dasar pembentukan biaya. 6) Membentuk suatu dasar bagi pembandingan metode pengganti.

Lambang-lambang yang dipergunakan dalam peta proses, yaitu: 1) Operasi, suatu operasi terjadi jika sebuah objek diubah sifat fisik atau sifat kimianya, dirakit atau diuraikan dari objek lain, atau diubah untuk operasi yang lain, pengangkutan, pemeriksaan atau penyimpanan. Suatu operasi dapat juga terjadi jika informasi diberikan atau diterima, atau jika perencanaan atau perhitungan dilakukan. Lambing operasi juga digunakan untuk menunjukkan orang yang sedang bekerja. 2) Pengangkutan, suatu pengangkutan terjadi jika sebuah objek dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, kecuali jika perpindahan ini merupakan baagian dari operasi atau disebabkan oleh operator pada sebuah tempat kerja selama suatu operasi atau pemeriksaan.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

31

3)

Pemeriksaan, sebuah pemeriksaan terjadi jika suatu objek diuji atau diperiksa untuk pencirian atau untuk pemeriksaan mutu atau jumlah sesuai sifat-sifatnya.

4)

Kelambatan, ini terjadi pada suatu objek jika keadaan tidak mengijinkan atau sifat proses yang menurut pelaksanaan kegiatan selanjutnya tidak boleh segera.

5)

Penyimpanan, sebuah penyimpanan terjadi jika sebuah objek disimpan dan juga dari pemindahan yang tidak dibenarkan.

6)

Kegiatan gabungan, jika diinginkan untuk menunjukkan kegiatankegiatan yang dilaksanakan baik kebersamaan maupun operator yang sama pada satu tempat kerja yang sama, lambang untuk kegiatan-kegiatan seperti ini digabungkan seperti yang ditunjukkan dengan lingkaran dalam kubus menunjukkan gabungan antara operasi dan pemeriksaan.

4.2.6 Modifikasi Tata Letak Produksi Jamur Merang Modifikasi tata letak pada penelitian ini dilakukan dengan bantuan komputer. Program yang digunakan adalah Microsoft Office Visio 2003, untuk membuat sketsa tata letak awal serta sketsa tata letak modifikasi.

4.3

Hasil Modifikasi Tata Letak Produksi Permasalahan yang berkaitan dengan layout adalah kurang tepatnya

penempatan fasilitas produksi sehingga menyebabkan jarak material handling menjadi relative panjang dan akhirnya menyebabkan biaya material handling menjadi mahal. Perbandingan tata letak akan dilihat pada jarak antar bangunan dan waktu, serta kelancaran pergerakan perpindahan material sehingga diperoleh suatu aliran bahan dan kondisi kerja yang teratur, aman dan nyaman, sehingga mampu menunjang upaya pencapaian tujuan pokok perusahaan. Pada akhir penelitian ini maka dihasilkanlah modifikasi tata letak yang lebih baik dari tata letak awal yang sudah ada, walaupun tata letak hasil modifikasi ini
khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

32

belum diaplikasikan tetapi sebagian besar sudah dapat kita prediksikan kelebihan dan kekurangannya. Efektif dan efisiennya hasil modifikasi tata letak ini nantinya akan menjadi referensi khususnya pada petani jamur di Industri Latansa Agribisnis dan juga pada petani jamur di Kabupaten Aceh Besar umumnya. Untuk mendapatkan tata letak ideal tanpa melihat faktor bentuk lahan dan luas lahan yang ada pada tempat penelitian, hasil modifikasi tata letak fasilitas produksi jamur merang dapat dilihat pada gambar 4.2.
Saluran Pembuangan
Jembatan Cot Iri

4
Tempat Fermentasi 2

KUMBUNG 4
Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

Tempat Penumpukan Bahan Baku

Jembatan Cot Iri

4
Bak Perendaman

KUMBUNG 3

4
Tempat Fermentasi 1 Jembatan Lambaro Saluran Pembuangan

KUMBUNG 2
Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

KUMBUNG 1

Saluran Pembuangan

Saluran Pembuangan

Jembatan Siron

Tempat Tinggal Tenaga Kerja

Gambar 4.2 Tata Letak Hasil Modifikasi Produksi Jamur Merang Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar

Pengaturan tata letak pabrik yang optimal akan memberikan kemudahan didalam proses supervisi serta menghadapi rencana perluasan pabrik kelak di kemudian hari. Tata letak hasil modifikasi ini menggunakan pola aliran bentuk Garis Lurus karena proses produksinya pendek, relatif sederhana dan mengandung sedikit komponen atau beberapa peralatan produksi, Apple, James M (1990:121).

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

33

Untuk membuat tata letak yang baik jarak pemindahan bahan harus seminimal mungkin. Jarak aliran bahan dari satu area ke area yang lain pada Industri Latansa Agribisnis budi daya jamur merang setelah dimodifikasi dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Jarak Pemindahan Bahan Setelah di Modifikasi No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Aliran Pemindahan Bahan Tempat Bahan Baku ke Bak Perendaman Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 1 Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 2 Tempat Fermentasi 1 ke Kumbung 1 Tempat Fermentasi 1 ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 2 ke Kumbung 4 Jarak (m) 1 1 1 1,40 1,40 1,40 1,40 Ket

Setelah dimodifikasi pekerja melakukan pemindahan bahan sebanyak 16 kali dengan jarak 1 meter antara tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi dan memakan waktu selama 20 menit untuk menyelesaikan. Berdasarkan data hasil modifikasi pada Industri Latansa Agribisnis terdapat suatu penurunan atau pengurangan jarak pemindahan bahan pada bak perendaman menuju tempat fermentasi dengan jarak 1 meter dan dari tempat fermentasi ke kumbung dengan jarak 1,40 meter.

Biaya pemindahan bahan yang terjadi pada tata letak fasilitas produksi Industri Latansa Agribisnis setelah dimodifikasi dapat dihitung dengan rumus:

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

34

Dari hasil modifikasi jarak material handling antara bak perendaman dengan tempat fermentasi 1 telah terjadi pengurangan jarak sebesar 9 meter, serta dari tempat fermentasi 1 ke kumbung 1 juga terjadi pengurangan jarak sebesar 3,10 meter dari tata letak awal. Hasil perhitungan biaya pemindahan bahan pada tata letak awal, upah yang didapat oleh pekerja per meter yaitu: Rp 2.557,00. Sedangkan pada perhitungan biaya pemindahan bahan tata letak modifikasi, upah yang didapat oleh pekerja per meternya lebih besar yaitu: Rp 6.711,00. Waktu proses produksi dari tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi 1 juga terjadi penurunan selama 20 menit dari pada waktu proses produksi sebelumnya 40 menit untuk menyelesaikan fermentasinya.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Penelitian yang penulis lakukan pada Industri Latansa Agribisnis studi kasus

tentang petani jamur merang di Kabupaten Aceh Besar adalah tata letak fasilitas produksi jamur merang pada Industri Latansa Agribisnis masih dapat dimodifikasi menjadi tata letak yang lebih baik dari segi teknis maupun ekonomis. Dari hasil modifikasi tersebut menghasilkan perbedaan-perbedaan selisih yang signifikan antara tata letak awal dengan tata letak hasil modifikasi pada: 1. Jarak material handling antara bak perendaman dengan tempat fermentasi 1 telah terjadi pengurangan jarak sebesar 9 meter, serta dari tempat fermentasi 1 ke kumbung 1 juga terjadi pengurangan jarak sebesar 3,10 meter dari tata letak awal. 2. Biaya pemindahan bahan per meter pada tata letak awal dengan jarak 19,55 meter adalah Rp 2.557,00, setelah modifikasi jarak pemindahan bahannya 7,45 meter perhitungan biaya pemindahan bahan per meter mencapai Rp 6.711,00. Jadi upah yang diterima oleh pekerja per meter pemindahan bahannya lebih besar dari tata letak awal yaitu: Rp 6.711,00. 3. Waktu proses produksi dari tempat perendaman bahan baku ke tempat fermentasi juga terjadi penurunan selama 20 menit dari pada waktu proses produksi sebelumnya 40 menit untuk menyelesaikan fermentasinya. 4. Pola aliran bahan pada tata letak awal berbentuk S (S-Shape), pola ini lebih panjang aliran proses produksinya dibandingkan dengan pola aliran bahan pada tata letak hasil modifikasi yang berbentuk Garis Lurus, pola ini proses produksinya lebih pendek, relatif sederhana.

Dari hasil evaluasi diatas maka dapat disimpulkan tata letak hasil modifikasi yang baru lebih efektif dan efesien dari tata letak sebelumnya.

35

36

5.2

Saran Saran yang dapat penulis sampaikan pada penelitian ini khususnya pada

petani jamur di Industri Latansa Agribisnis dan juga pada petani jamur di Kabupaten Aceh Besar umumnya adalah: 1. Sistem kerja harus dibenahi guna menyeimbangi efektif dan efesiensi tata letak fasilitas yang baru sehingga mampu menunjang upaya pencapaian tujuan pokok perusahaan. 2. Perusahaan juga harus membangun jaringan dengan Lembaga-lembaga terkait dan dengan Pemerintah Daerah khususnya. 3. Perusahaan harus membuat perkiraan bahan baku yang akan dipergunakan dalam satu periode proses produksi agar dapat menyediakan produk jamur dalam waktu atau periode tertentu secara kontinue. 4. Limbah hasil produksi jamur merang belum banyak dimanfaatkan, biasanya digunakan sebagai pupuk organik oleh para petani, jika memungkinkan ada penelitian lebih lanjut untuk mengolah hasil limbah tersebut.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

DAFTAR PUSTAKA

Ampuh Hadiguna, R. Setiawan, H (2008), Tata Letak Pabrik. Penerbit : ANDI. Jakarta.
Andriantantri, Emmalia (2008), Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas Produksi Guna Meminimumkan Jarak Dan Biaya Material Handling Menggunakan Aplikasi Quantitative System Version 3.0 Pada PT. Industri Sandang Nusantara Unit Patal Grati Pasuruan, ISBN : 978-979-3980-15-7. Institut Teknologi Nasional Malang. Jawa Timur. http://journal.uii.ac.id/index.php/ (diakses tanggal 16 September 2011).

Apple, James M, (1990), Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Penerbit : ITB Bandung Press. Arikunto, S (2005), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Penerbit : Rineka Cipta. Jakarta. Assauri, S (2008), Manajemen Produksi dan Operasi, edisi revisi. Penerbit : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Haming, M. Nurnajamuddin, M (2007), Manajemen Produksi Modern, Operasi Manufaktur dan Jasa. Penerbit : PT. Bumi Aksara. Jakarta. Hendrarto, M. Kastaman, R. dan Pujianto, T (2008), Modifikasi Tata Letak Fasilitas Produksi Jamur Tiram, Studi Kasus Pada Petani Jamur Cita Lestari Cisarua Kabupaten Bandung, Jurnal Teknotan, ISSN 1978-1067 Vol. 1 No. 3, Januari 2008. FTIP UNPAD. Bandung. http://resources.unpad.ac.id.pdf (diakses tanggal 21 Februari 2011). Juragan. Pengertian Modifikasi. http://all-about-modif.blogspot.com/2010/11/pengertian-modifikasi.html (diakses tanggal 30 Februari 2011). Tarigan, H. Bab I Pendahuluan. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18767/5/Chapter%20I.pdf (diakses tanggal 16 September 2011). Sirait, RH. Bab I Pendahuluan. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/27355/4/Chapter%20I.pdf (diakses tanggal 16 September 2011). Sri Wahyudi, E. Perancangan Ulang Tata Letak Fasilitas Produksi Di CV Dimas Rotan Gatak Sukoharjo. https://www.skripsi-indonesia.com.pdf (diakses tanggal 30 Februari 2011). Karl T. Ulrich. Steve D. Eppinger (2001), Perencanaan dan Pengembangan Produk. Edisi pertama. Penerbit : Salemba Teknika. Jakarta. 37

38

Kusumah S, Yaya. Yolanda, Mieke (2008), Operasi Penyisipan dan Reposisi Simpul Dalam Menyelesaikan Masalah Desain Tata Letak Mesin Dan Robot, FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. http://file.upi.edu/Direktori.pdf

Moore, JM (1962), Plant Layout and Design, The Macmillan Company. New York. Narbuko, C. Achmadi, A (2008), Metodelogi Penelitian, cetakan kesembilan. Penerbit : PT. Bumi Aksara. Jakarta. Purnomo, Hari (2004), Perencanaan dan Perancangan Fasilitas, edisi ke satu. Penerbit : Graha Ilmu. Yogyakarta. Wignjosoebroto, S (2000), Tata Letak Pabrik dan Pemindahan, edisi 3. Penerbit : Guna Widya. Surabaya. Yunirwan, Roni (2007), Ususlan Perbaikan Tata Letak Fasilitas Dan Pemindahan Bahan Untuk Meningkatkan Kapasitas Produksi Di PT Altransindo Overseas, Fakultas Teknik Universitas Indonesia Esa Unggul. Jakarta. www.esaunggul.ac.id/INDONUSA/uploads/dirfile pdf (diakses tanggal 16 September 2011).

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

LAMPIRAN
Jembatan Cot Iri Saluran Pembuangan

: 1

Tempat Penumpukan Bahan Baku

2
Bak Perendaman

4 3
Jembatan Cot Iri
Tempat Fermentasi 3

KUMBUNG 4

Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

4
Saluran Pembuangan

KUMBUNG 3

3
Tempat Fermentasi 2

3
Tempat Fermentasi 1

KUMBUNG 2
Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

Jembatan Lambaro

KUMBUNG 1

Saluran Pembuangan

Saluran Pembuangan

Jembatan Siron

Tempat Tinggal Tenaga Kerja

Gambar 4.1 Sketsa Tata Letak Awal Produksi Jamur Merang Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tempat Penampungan Baha Baku Bak Perendaman Merang Tempat Fermentasi Tempat Penanaman Jamur Penguapan Tempat Tinggal Karyawan

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

LAMPIRAN
Saluran Pembuangan
Jembatan Cot Iri

: 2

4
Tempat Fermentasi 2

KUMBUNG 4
Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

Tempat Penumpukan Bahan Baku

Jembatan Cot Iri

4
Bak Perendaman

KUMBUNG 3

4
Tempat Fermentasi 1 Jembatan Lambaro Saluran Pembuangan

KUMBUNG 2
Drum Penguapan Drum Penguapan Drum Penguapan

KUMBUNG 1

Saluran Pembuangan

Saluran Pembuangan

Jembatan Siron

Tempat Tinggal Tenaga Kerja

Gambar 4.2 Sketsa Tata Letak Modifikasi Produksi Jamur Merang Industri Latansa Agribisnis Kabupaten Aceh Besar

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tempat Penampungan Baha Baku Bak Perendaman Merang Tempat Fermentasi Tempat Penanaman Jamur Penguapan Tempat Tinggal Karyawan

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

LAMPIRAN
PETA PROSES
Hal. 1 dari 1
NAMA KOMPONEN URAIAN DEPARTEMEN PABRIK DICATAT OLEH : Proses Tata Letak Awal : Penyiapan Media Tanam Jamur Merang : : Industri Latansa Agribisnis : Khairol Mizan. Us TANGGAL : 20 Sept 2011

: 3

RINGKASAN OPERASI PENGANGKUTAN PEMERIKSAAN PENUNDAAN PENYIMPANAN JUMLAH LANGKAH JARAK PERPINDAHAN Jml 3 6 1 0 6

Operasi Pengangkutan Pemeriksaan Penundaan Penyimpangan

LANGKAH

URAIAN TENTANG METODE SEKARANG

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.


3 6 2 1 4 1 2 1

Di gudang bahan baku Untuk diletakkan pada bak perendaman Berjalan 1 meter

Pada bak perendaman Dalam bak perendaman Perendaman merang Dengan tangan

Ke gerobak
3

Dengan tangan

Dalam gerobak Ke tempat fermentasi Berjalan 10 meter

Pada tempat fermentasi Penyusunan merang Fermentasi Dengan tangan

Ke gerobak
5

Dengan tangan

Dalam gerobak Ke tempat penanaman / kumbung Pada tempat penanaman / kumbung Penyusunan merang / media tanam pada rak Berjalan 4,50 meter

Dengan tangan

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

LAMPIRAN
PETA PROSES
Hal. 1 dari 1
NAMA KOMPONEN URAIAN DEPARTEMEN PABRIK DICATAT OLEH : Proses Tata Letak Modifikasi : Penyiapan Media Tanam Jamur Merang : : Industri Latansa Agribisnis : Khairol Mizan. Us TANGGAL : 20 Sept 2011

: 4

RINGKASAN OPERASI PENGANGKUTAN PEMERIKSAAN PENUNDAAN PENYIMPANAN JUMLAH LANGKAH JARAK PERPINDAHAN Jml 3 5 1 0 5

Operasi Pengangkutan Pemeriksaan Penundaan Penyimpangan

LANGKAH

URAIAN TENTANG METODE SEKARANG

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.


3 5 2 1 1 2 1

Di gudang bahan baku Untuk diletakkan pada bak perendaman Berjalan 1 meter

Pada bak perendaman Dalam bak perendaman Perendaman merang Dengan tangan

Ke tempat fermentasi
3

Berjalan 1 meter

Pada tempat fermentasi Penyusunan merang Fermentasi Dengan tangan

Ke gerobak
4

Dengan tangan

Dalam gerobak Ke tempat penanaman / kumbung Pada tempat penanaman / kumbung Penyusunan merang / media tanam pada rak Berjalan 1,40 meter

Dengan tangan

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

LAMPIRAN

: 5

Tabel 4.1 Jarak Pemindahan Bahan Sebelum Modimodifikasi No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Aliran Pemindahan Bahan Tempat Bahan Baku ke Bak Perendaman Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 1 Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 2 Bak Perendaman ke Tempat Fermentasi 3 Tempat Fermentasi 1 ke Kumbung 1 Tempat Fermentasi 1 ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 ke Kumbung 2 Tempat Fermentasi 2 ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 3 ke Kumbung 3 Tempat Fermentasi 3 ke Kumbung 4 Jarak (m) 1 10 6 1 4,50 1,40 3,50 1,40 2 1,40 Ket

Biaya pemindahan bahan yang terjadi pada tata letak awal (intial layout) Industri Latansa Agribisnis ini dapat dihitung dengan cara sebagai berikut : 1. Dari bak perendaman 1 meter ke tempat fermentasi satu (1) 10 meter ke kumbung satu (1) 4,50 meter lalu diletakkan pada rak, ketinggian rak 4,05 meter.

2.

Dari bak perendaman 1 meter ke tempat fermentasi satu (1) 10 meter ke kumbung satu (2) 1,40 meter lalu diletakkan pada rak, ketinggian rak 4,05 meter.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

3.

Dari bak perendaman 1 meter ke tempat fermentasi dua (2) 6 meter ke kumbung dua (2) 3,50 meter lalu diletakkan pada rak, ketinggian rak 4,05 meter.

4.

Dari bak perendaman 1 meter ke tempat fermentasi dua (2) 6 meter ke kumbung tiga (3) 1,40 meter lalu diletakkan pada rak, ketinggian rak 4,05 meter.

5.

Dari bak perendaman 1 meter ke tempat fermentasi tiga (3) 1 meter ke kumbung satu (3) 2 meter lalu diletakkan pada rak, ketinggian rak 4,05 meter.

6.

Dari bak perendaman 1 meter ke tempat fermentasi tiga (3) 1 meter ke kumbung empat (4) 1,40 meter lalu diletakkan pada rak, ketinggian rak 4,05 meter.

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

khai.roel@yahoo.com http://raja-penawa.blogspot.com

Khairol Mizan. Us / 0714010005 / 01 Okt 2011 Teknik. Industri USM Banda Aceh

Anda mungkin juga menyukai