Anda di halaman 1dari 3

Nur Aziz Ardiantono 09412141034 Akuntansi A 2009 __________________________________________________________________

Hari Bumi atau Earth Day. Mendengar kata itu terlintas pasti akan teringat dengan apa yang namanya Earth Hour. Earth Hour yang menjadi salah satu hal yang cukup spektakuler karena dilakukan oleh jutaan manusia di berbagai belahan dunia. Earth Hour menjadi salah satu perayaan memperingati Hari Bumi itu sendiri. Suatu perayaan yang ditandai dengan mematikan lampu selama 60 menit dan mengurangi penggunaan daya listrik pada jam tersebut. Memang dampak positif dari Earth Hour tersebut adalah mengurangi penggunaan daya listrik hingga beberapa persen. Dan pengurangan penggunaan daya listrik juga berdampak kepada berkurangnya zat karbon dioksida yang dikeluarkan akibat produksi listrik itu sendiri. Hanya itukah bentuk perayaan atau kepedulian kita terhadap Bumi yang telah memberikan banyak manfaat untuk kehidupan kita?? Sering kita saksikan banyaknya pegunungan, perbukitan yang sudah tidak lagi hijau. Aliran air yang sudah tidak lagi lancar dan sangat sering tersumbat. Apa itu tidak patut untuk diperhatikan? Indonesia yang sejatinya disebut sebagai Paru Paru Dunia dengan banyaknya Hutan yang dimiliki nyatanya mengalami sesuatu hal yang bisa dikatakan cukup tragis. Hal tersebut sudah menjadi rekor yang dipegang Indonesia dan dicatat dalam Guinness World Record. Dimana tercatat 1,8 juta hektare hutan dihancurkan per tahun antara 2000 hingga 2005. Ini setara dengan kehancuran hutan 2 persen setiap tahun, atau 51 kilometer persegi per hari. Cukup tragis bukan, hal itu menandakan berkurangnya kinerja Paru Paru Dunia karena pekerjanya dalam hal ini pepohonan tersebut semakin lama semakin hilang menjadi korban keserakahan umat manusia. Tidak heran kan dengan banyaknya berita bencana longsor yang belakangan sering kita dengar di media cetak maupun media elektronik. Salah satu penyebanya

adalah kurangnya pepohonan yang bertugas menyerap air air hujan yang turun. Tanpa adanya penyerap itu tadi air hujan akan mengikis lereng lereng perbukitan maupun pegunungan yang dapat berakhir kepada bencana tanah longsor. Loh kan banyak even dengan tema penghijauan, penanaman pohon dan

sebagainya? Memang banyak sekali event event yang mengadakan penanaman pohon pohon. Mau penanaman sejuta pohon lah, seribu pohon lah akan terasa percuma juga apabila hal tersebut hanya merupakan suatu formalitas belaka. Dalam artian penanaman itu hanya sekadar agenda penanaman saja dan dipublikasikan ke public sebagai suatu bentuk kepedulian kepada bumi namun tindak lanjut kedepannya tidak ada kan sama saja? Ambil contoh begini saja. Misalkan saja saya memiliki suatu perusahaan dan dalam rangka memperingati hari berdirinya perusahaan tersebut diadakanlah program menanam pohon dengan tema satu orang = satu pohon. Pelaksanaannya sih ok dimana tiap peserta yang ikut dalam program tersebut ( anggap saja karyawan dan pemilik perusahaan beserta jajaran pemimpin perusahaan ) Pada saat pelaksanaan memang setiap orang menanam satu bibit pohon dengan diliput oleh berbagai media sehingga menimbulkan kesan kepedulian perusahaan akan lingkungan sangat tinggi. Namun setelah itu apa yang terjadi? Akankah setiap orang yang menanam tadi masih aktif untuk merawat bahkan untuk sekedar menyiramnya paling tidak satu hari satu kali? Rasa rasanya kemungkinan tersebut sangat kecil sekali. Lantas dimana makna penanaman kembali itu? Dimana spirit peduli lingkungannya? Jadi sejatinya yang diperlukan adalah kekonsistenan kita merawat bumi itu sendiri. Sejuta pohon yang ditanam tanpa ada perawatan akan percuma saja. Tentu berbeda dengan sejuta pohon yang ditanam dan dirawat secara rutin sehingga akan menimbulkan suatu dampak positif. Sejatinya tak perlulah ada peringatan Earth Day maupun Earth Hour itu sendiri. Karena sejatinya dan seharusnya manusia itu menjaga lingkungannya karena manusia telah diberikan sangat banyak sekali manfaat dari alam itu sendiri. Sumber Daya Air, Sumber Daya Mineral, Sumber Daya Udara dan lain lain telah banyak dinikmati masyarakat. Tinggal bagaimana sumber daya tersebut dirawat dan dilestarikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, mudah sekali kita temukan saat

ini pencemaran pencemaran air baik yang dilakukan secara besar maupun dalam skala yang sangat kecil Tak perlulah menyebutkan pencemaran pencemaran yang dilakukan oleh pabrik pabrik besar. Cukuplah kita tengok kedalam diri kita sendiri. Pernahkah kita secara sengaja maupun tidak sengaja, secara sadar maupun tidak sadar membuang sampah kedalam saluran air bahkan kedalam sungai? Sebagian besar jawabannya pasti saya yakin pernah, karena saya sendiri pun pernah melakukan itu baik secara sadar maupun tidak. Nah perilaku tersebut merupakan suatu hal yang menyia nyiakan sumber daya yang telah diberikan oleh alam kepada kita. Nanti saat tiba musim hujan dan banjir melanda mulailah banyak yang menyalahkan kondisi alam. Menyalahkan curah hujan yang tinggi merupakan salah satu sifat manusia tanpa mereka sadari mereka sendirilah yang mengundang banjir tersebut datang dengan membuang sampah ke aliran sungai maupun aliran resapan air ( selokan ) sehingga menghambat laju air dan juga mendangkalkan sungai itu sendiri. Lalu siapakah yang sebenarnya pantas disalahkan ? Belum lagi kalau kita lihat bagaimana eksploitasi alam dalam bentuk penggalian kandungan yang ada di perut bumi seperti minyak bumi, batu bara dan lain - lain. Sudahkah pengambilan kandungan minyak bumi ini sesuai peruntukkannya dan tidak menyakiti bumi itu sendiri ? Cuma bumi yang tahu. Seandainya bumi dapat berbicara, mungkin kita bisa ketahui apa yang menjadi keluh kesahnya sebagai pengayom milyaran manusia dibumi. Suka dan duka yang ia rasakan dan mungkin saran bagi para manusia untuk bisa memperlakukannya dengan lebih baik. Mungkin bencana bencana alam seperti tanah longsor, banjir, gempa, dan lain lain menjadi salah satu cara bumi berkomunikasi dengan kita tinggal bagaimana cara kita menangkap makna akan peristiwa tersebut dan memberikan umpan balik yang diinginkan oleh bumi, terlepas dari segala bencana memang sudah ada takdirnya. Mungkin ini saatnya kita menggunakan sumber daya yang ada dengan bijaksana. Karena sejatinya kita tidak memiliki sumber energy, kita hanya meminjamnya dari calon anak, cucu dan cicit kita.