Anda di halaman 1dari 13

STATUS OBSTETRI I. IDENTITAS Nama Usia Pendidikan Pekerjaan Alamat Masuk RS tanggal : : : : : : Ny.

An 22Tahun SMA IRT Bj Geureuh 12/06 Bogor 20/12/10

Suami Nama

Tn. B

II. PEMERIKSAAN AWAL Keluhan Utama : Mual dan muntah sejak 7 hari yang lalu Riwayat Penyakit sekarang : G1 P0 A0 merasa hamil 3 bulan mengeluh mual dan muntah sejak 7 hari SMRS. Mual dan muntah dirasakan setiap makan. Dalam satu hari pasien mengatakan dapat muntah hingga >5kali. Isi muntahan makanan dan air, tidak ada darah pada muntahnya. Gejala muntah mengganggu aktivitas rutin sehari-harinya. Keluhan nafsu makan berkurang diakui pasien. Riwayat penurunan berat badan disangkal oleh pasien. Riwayat penyakit dahulu : Pasien menyangkal mempunyai riwayat seperti ini sebelumnya Riwayat pengobatan : Pasien belum pernah mencoba untuk mengobati keluhan diatas Riwayat Menstruasi : Pertama Lama haid : 14 tahun : 7 hari 1

Siklus Riwayat Menstruasi : Pernikahan pertama Status sekarang masih menikah Lama pernikahan 1 tahun

: 28 hari

III. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu IV. PEMERIKSAAN UMUM
Kepala : Normocephal Mata :

: Tampak lemah : Composmentis

: 120 / 80 mmHg : 84 x/mnt : 20 x/mnt : 36,8 C

Konjungtiva : anemis - / Sclera : ikterik - / Reflex cahaya : + / + Pupil : + / + Hidung : Secret : - / Epistaksis : - / Septum deviasi : Mukosa hiperemis : - / Telinga : Secret : - / Heliks sign : - / -

Tragus sign : - / Membrane tympani : intake + / + Mulut : Lidah Kotor : Faring hiperemis : Tonsil T1 T1 Leher : Kelenjar getah bening : pembesaran KGB ( - ) Tiroid : Pembesaran ( - ) Thoraks Inspeksi : Simetris Pengembangan dada : simetris Spider nevi : ( - ) Retraksi dinding dada : ( - ) Palpasi : Nyeri tekan : ( - ) Krepitasi ( - ) Vokal fremitus : ( + / + ) Perkusi : Sonor diseluruh lapangan paru Auskultasi : 4

Vesikuler ( + / + ) Rhonki ( - / - ) Wheezing ( - / - ) Jantung Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak Palpasi : Iktus cordis tidak teraba Perkusi : Tidak di lakukan Auskultasi : Bunyi jantung I & II murni regular Murmur ( - ) Gallop ( - )

Abdomen
Inspeksi Palpasi : Datar lembut : Nyeri tekan epigastrium (+) TFU: Belum teraba jelas Perkusi Auskultasi : Timpani : Bising usus (+)

Ekstremitas Akral hangat 5

Edema ( - / - ) V. LABORATORIUM ( Tanggal 20-12-10 ) HEMATOLOGI Hemoglobin Leukosit Hematokrit Trombosit URINALISIS Aceton Urine : ++ : 10,8 (12-16 gr %) : 13900 (4800-10800 /mm3) : 37,6 (37-47 %) : 299 (150-450 ribu/mm3)

VI. DIAGNOSIS DIAGNOSIS KERJA Ibu : G1 P0 A0 gravida 8 minggu dengan HEG

VII. PENGOBATAN/TINDAKAN Infuse Dextrose 10% Neurobion 5000 IU Primveran inj. Diet : makan dalam porsi kecil tapi sering

TINJAUAN PUSTAKA Pendahuluan Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasanya terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu ( sinopsis OBGYN ) Mual dan muntah dengan intensitas sedang sering terjadi sampai gestasi sekitar 16 minggu. Keduanya merupakan keluhan yang sangat sering selama paruh pertama kehamilan. Bisanya mual dan muntah dimulai antara terlambat haid pertama dan kedua dan berlanjut sampai sekitar 14 minggu. Mual dan muntah biasanya lebih parah pada pagi hari tetapi mungkin berlanjut sampai sekitar 14 minggu. Lacroix dkk. (2002) mendapatkan bahwa mual muntah dilaporkan oleh tiga perempat wanita hamil dan rata-rata berlangsung selama 35 hari. Separuh dari mereka membaik pada minggu ke 14 gestasi dan 90 % pada minggu ke 22. Menurut penelitian ini, morning sickness merupakan istilah yang salah karena 80% wanita melaporkan bahwa mual berlangsung sepanjang hari. DEFINISI Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi dehidrasi. Sindrom ini secara longgar didefinisikan sebagai muntahmuntah yang cukup berat sehingga menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, asidosis akibat kelaparan, alkalosis akibat keluarnya asam hidroklorida dalam muntahan dan hipokalemia. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60 % multigravida. Klebanoff dkk. (1985) melaporkan bahwa lebih separuh dari 9000 wanita mengalami muntah pada awal kehamilan. Jewell dan Young (2000) mensurvei Cochrane Database System dan memastikan adanya efek menguntungkan dari obat-obatan antiemetik. Apabila parah dan tidak responsif terhadap terapi maka kelainannya disebut hiperemesis gravidarum, yang untungnya jarang terjadi. Satu diantara seribu kehamilan, gejala-gejala ini menjadi lebih berat. Perasaan mual ini disebabkan oleh karena meningkatnya kadar hormon esterogen dan 7

HCG dalam serum ( Goodwin dkk., 1994; van den Ven, 1997).

Walaupun kadar

gonadotropin korionik yang tinggi diduga menjadi penyebabnya utama namun mual mungkin sebenarnya dipicu oleh kadar esterogen yang mengimbangi kadar gonadotropin. Pengaruh fisiologik kenaikan hormon ini belum jelas, mungkin karena sistem saraf pusat atau pengosongan lambung yang berkurang. Frigo dkk., (1998) melaporkan adanya keterkaitan dengan seropositivitas terhadap Helicobacter pylori - penyebab penyakit ulkus peptikum. Flaxman dan Sherman (2000) berpendapat bahwa mual dan muntah pada awal kehamilan muncul sebagai mekanisme untuk melindungi janin yang sedang tumbuh dengan mendorong ibunya menghindari makanan-makanan yang berbahaya. Belum ada bukti ilmiah untuk mendukung pandangan ini. Pada umumnya wanita dapat menyesuaikan dengan keadaan ini, meskipun demikian gejala mual dan muntah yang berat dapat berlangsung sampai 4 bulan. Masalah serius dapat berupa dehidrasi, gangguan keseimbangan asam-basa dan kelaparan. Pekerjaan sehari-hari menjadi terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Keadaan inilah yang disebut hiperemesis gravidarum. Keluhan gejala dan perubahan fisiologis menentukan berat ringannya penyakit. INSIDENS USA 0,3-2% dari seluruh kehamilan atau 5 dari 1000 kehamilan Internasional lebih sering ditemukan di daerah perkotaan Ras tidak ada dominasi ras tertentu Umur lebih sering terjadi pada wanita muda ETIOLOGI Sebab pasti belum diketahui. Frekuensi kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang telah di temukan oleh beberapa penulis : 1. Faktor predisposisi yg sering di kemukakan adalah primigravida,mola hidatidosa dan kehamilan ganda.frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan gandamenimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peran peranan,karena pada keadaan tersebut hormon chorionic gonadotropin di bentuk berlebihan. 2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yg menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini merupakan faktor organik. 8

3. Alergi sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anak,juga disebut sebagai salah satu faktor organik. 4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini,rumah tangga yg retak,kehilangan pekerjaan dll. PATOLOGI Bedah mayat pada wanita yang meninggal akibat hiperemesis gravidarum menunjukkan kelainan kelainan pada berbagai alat dalam tubuh, yang juga dapat di temukan pada malnutrisi oleh bermacam sebab : 1. Hati . pada hiperemesis gravidarum tanpa komplikasi hanya di temukan degenerasi lemak tanpa nekrosis,degenerasi lemak tersebut terletak sentrilobuler. Kelainan lemak ini nampaknya tidak menyebabkan kematian dan dianggap sebagai akibat muntah yang terus menerus. Dapat di tambahkan bahwa separuh penderita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum menunjukkan gambaran mikroskopis hati yang normal. 2. Jantung. Jantung menjadi lebih kecil dari pada biasa dan beratnya atrofi,ini sejalan dengan lamanya penyakit,kadang-kadang di temukan perdarahan sub-endokardial. 3. Otak. Adakalanya terdapat bercak bercak perdarahan pada otak dan kelainan seperti pada ensefalopati Wernicke dapat di jumpai (dilatasi kapiler dan perdarahan kecilkecil di daerah korpora mamilaria ventrikel ke tiga dan ke empat). 4. Ginjal. Ginjal tampak pucat dan degenerasi lemak dapat di temukan pada tubuli kontorti. PATOFISIOLOGI Ada yang menyatakan bahwa, perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual dan muntah dapat nerlangsung berbulan-bulan. Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremi. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, di samping pengaruh hormonal. Yang jelas, wanita yang sebelum kehamilan sudah menderita lambung spastik 9

dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat. Hiperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton-asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah-muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati, dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan. Di samping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss), dengan akibat perdarahan gastro intestinal. Pada umumnya robekan ini ringan dan perdarahan dapat berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfusi atau tindakan operatif. GEJALA DAN TINGKAT Batas mual muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan, bisa lebih dari 10 kali muntah; akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis. Tingkat I = Ringan Mual muntah terus menerus menyebabkan penderita lemah, tidak mau makan, berat badan turun dan rasa nyeri di epigastrium, nadi sekitar 100 kali per menit, tekanan darah turun, turgor kulit kurang, lidah kering, dan mata cekung. Tingkat II = Sedang Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah antara lain lebih lemah, apatis, turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan kotor, nadi kecil dan cepat, suhu badan naik (dehidrasi), ikterus ringan, berat badan turun, mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oligouri dan konstipasi. Dapat pula terjadi asetonuri, dan dari nafas keluar bau aseton. Tingkat III = Berat 10

Keadaan umum jelek atau lebih parah, muntah berhenti, kesadaran sangat menurun dari somnolen sampai koma, nadi kecil, halus dan cepat; dehidrasi hebat, suhu badan naik, dan tensi turun sekali, ikterus. Komplikasi yang dapat berakibat fatal terjadi pada susunan syaraf pusat pusat (ensefalopati Wernicke) dengan adanya: nistagmus, diplopia, perubahan mental. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, tetrmasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus menunjukkan adanya payah hati. DIAGNOSIS Harus ditentukan adanya kehamilan muda dan muntah yang terus menerus, sehingga mempengaruhi keadaan umum. Namun demikian harus dipikirkan kehamilan muda dengan penyakit pielonefritis, hepatitis, ulkus ventrikuli dan tumor serebri yang dapat pula memberikan gejala muntah. Hiperemesis gravidarum yang terus menerus dapat menyebabkan kekurangan makanan yang dapat mempengaruhi perkembangan janin, sehingga pengobatannya perlu segera diberikan. PENANGANAN Pencegahan Dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu-ibu dengan maksud menghilangkan faktor psikis rasa takut. Juga tentang diit ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak; tetapi dalam porsi sedikit-sedikit namun sering. Jangan tiba-tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa goyang, mual, dan muntah. Defekasi hendaknya diusahakan teratur. Terapi obat Dapat menggunakan sedativa (Luminal, Stesolid); vitamin (B1 dan B6); anti-muntah (Mediamer B6, Drammamin, Avopreg, Avomin, Torecan); antasida dan anti mulas. Hiperemis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap di rumah sakit. Kadangkadang pada beberapa wanita, hanya tidur di rumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual muntahnya. Dilakukan isolasi. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Kadang kala hal ini saja, tanpa pengobatan khusus telah mengurangi mual dan muntah.

11

Terapi psikologik Berupa pemberian pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal, dan fisiologis, jadi tidak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan faktor psikologis seperti keadaan sosio ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan. Cairan parenteral Penambahan cairan, dapat diberikan infus dekstrosa atau glukosa 5 % sebanyak 2-3 liter dalam 24 jam. Bila perlu dapat ditambah kalium, dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secara intravena. Berikan obat-obatan seperti telah dikemukakan di atas. Penghentian kehamilan Pada beberapa kasus dan bila terapi tidak dapat dengan cepat memperbaiki keadaan umum penderita, dapat dipertimbangkan suatu abortus buatan. Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bakan mundur. Usaakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takhikardi, ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi oranik. Dalam keadaan demikian perlu pertimbangan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena di satu pihak tidak boleh dilakukan terlalu cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala ireversibel pada organ vital. Prognosis Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri,namun demikian pada tingkatan yang berat,penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Beck AC,rosenthal,AH.Obstetrical Practice,7th Ed,Williams & Wilkins,Baltimore,641,1985


2. Benson RC Medical & surgical Complications During Pregnance. In Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment. RC Benson, 827 Maruzen Asia Ed,3nd, 1980

3. Chamberlain G Lecture notes on Obstetrics. Blakwell Scientific Publication,PG Asian


Economic Edition,5th Ed,1985;57

4. Clayton

SG,Fraser

D,Lewis

TLT

Obstetric,12th

Ed,ELBS

&

Edward

Arnold,Aberden,1972;160

5. Eastman NJ,Hellman LM. Williams Obsetrics,12th Ed,Appleton Century-Crofts,New


York,1961;706 6. Farkas G,Farkas Jr G. The psychogenic etiology of hyperemesis gravidarum. Proc IIIrd intern Congr psychosomatic Med Obstet Gynaec,London,1972 (Abstract No.84) 7. Friederich MA. Emotional Aspect of pregnancy.in : Current Obstetric & Gynecologic Diagnosis & Treatment,RC Benson,Maruzen-Asia Ed. 3nd Ed,1980 ; 94 8. Hart BF,Mc Connell WT,Pickett AN. Vitamin and endocrine therapy in nausea and vomiting of pregnancy,1944 9. Hudono ST. peranan psikomatik pada hiperemesis gravidarum. Naskah lengkap Kongr Obstet Ginek Indon Ketua Surabaya,1973 10. Spasberg M. Gastro intestinal complications of pregnancy,maternal and fetal medicine,in: Sciarras Gynecology and Obstetrics,1987 11. Hiperemesis Gravidarum. Dalam: Mochtar R. SINOPSIS OBSTETRI Obstertri fisiologi Obstertri patologi. Jakarta: EGC; 1998. h. 195-197. 12. Hiperemsis Gravidarum. Dalam: Wiknjosastro H, Saifudin AB, Rachimhadhi T, editor. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007. h. 275-279.

13